Showing posts with label Al-Furqon. Show all posts
Showing posts with label Al-Furqon. Show all posts

Monday, February 4, 2013

meracau


Jadi tiba-tiba bernostalgia ketika Ali bertanya di pagi cerah tapi menyengat. Pertanyaan Ali cukup memancing pikiran-pikiran yang pernah saya kubur hidup-hidup.

“Nah, apa?” Katanya.  A-P-A. APAAA?

“apa yang bisa meyakinkan saya kalau kalian memang sebuah keluarga?” kata Ali

Bocah kelas 2 SMA yang saya tidak kenal siapa namanya menjawab, “ya..karena kita satu nasib”

“saya di ITB, masa adik saya harus di sana juga? Itu maksudnya satu nasib?”

“bukan gitu kang….”

Ya..ya…yasudahlah adik baik, saya mengerti maksudmu. Bukan “nasib” kata yang cocok untuk diutarakan disini. Harusnya ada kata lain, tapi sebentar, saya cari dulu. Nanti kalau sudah ketemu, saya kasih tau.

Hatta, melanjutlah Ali memancing mereka dengan kail dan jala (?) membuat semua anak menunduk, entah lapar, mengantuk, atau berpikir. Sulit dibedakan.

Seorang anak yang lain mengacungkan lengannya, mengatakan salah satu dari sekian banyak yang ingin saya katakan. “……, ya itulah yang membedakan kita dengan organisasi lain. Keluarga”. Sayangnya Ali belum puas juga, saya juga tidak puas sebenarnya. Ya, pada akhirnya Ali lah yang harus menjelaskan maksudnya bertanya, untuk memuaskan dirinya juga, barangkali.

Dan karena saya tidak pandai mengingat apa yang dikatakan Ali, maka sekarang saya memutuskan untuk bermain dengan pikiran sendiri, saya sedang ber-senandika. Senarai panjang kata-kata yang akhirnya muncul meneror saya pada kondisi masa silam yang pernah saya pupuk dan siram baik-baik, lalu saya bakar dan bumihanguskan sendiri, kamudian saya coba Tanami lagi. Ah, ternyata saya pernah menjadi se-innocent anak kecil yang bermain dengan lego nya, mendirikan istana, dan karena bosan kemudian diacak-acak lagi.

Saya pernah bosan dengan satu kondisi, sebut saja kondisi seperti ini(?). Saya pernah menyamaratakan semua nilai organisasi, yah, semuanya event organizer. terus saya bosan, berencana mengubur hidup-hidup idealisme yang dulu pernah ada, eh taunya, yang namanya pemahaman emang ga bisa sembarang di kubur, harus ada surat izinnya dulu (?)

Jadi, tolong tanggung jawab ya, Gama, gara-gara kata-kata kamu, saya jadi kepikiran ini lagi. Ini bukan judul film, bukan juga sinyal suatu telepon selular, tapi 3G, Gara-Gara Gama, saya sedikit tersentil, dia bilang, tidak seperti organisasi lain. Dan kalau boleh menambahkan, saya-anak kemarin sore- yang belum juga sembuh dari tidur indah masa lalu, ini pun tidak seperti organisasi sejenisnya, yang pernah saya kenali. Yang mungkin Ali tekankan adalah bahwa keluarga itu senang sedih dirasa bersama, saling mengingatkan dalam kebaikan, saling men-support. Hingga akhirnya, setetes demi setetes air mata para adik akhwat menjelaskan unek-unek mereka. Salah seorang dari mereka menasihati yang lainnya, katanya dalam keluarga tidak ada yang tidak istimewa, ibu selalu menganggap semua anaknya istimewa, tidak ada anak yang tidak disayang ibu. Teman-teman kita yang jarang datang, berhusnudzon lah, bukan berarti mereka tidak ingin merapat, tapi mungkin karena kita seringkali tidak mengindahkan kehadiran mereka, mereka mungkin saja merasa tidak diistimewakan, tidak dianggap penting.

ukhuwah ^^
Karena hidayah datang dari mana saja, hikmah dipetik dari siapa saja, dari mereka pun saya diingatkan kembali dengan kata-kata yang pernah didaratkan untuk saya dan teman-teman 2011 lain. Tiba-tiba saya menjadi makhluk imbesil dan justru mereka mengakselerasi kedewasaan. Ini bisa saja terjadi. Dan saya hanya sebatas imago, mereka bermetamorfosis duluan. Sampai akhirnya saya sadar kembali setelah mengoonsumsi sebungkus roti coklat keju.

Sebuah keluarga, dengan pentingnya sebuah penghargaan dari masing-masing anggota keluarga. Saling merasa dihargai. Punya tujuan yang sama,merasakan hal yang sama, kalau kakak sakit, semua ikut merasakan, kalau ibu demam, semua ikut merasakan.

Kita membangun sebuah komunitas bernama keluarga yang didalamnya tumbuh kesepahaman yang integral, meskipun berbeda cara menjalani hidup, semuanya tetap satu integritas. Mengalir bersama zaman, pragmatisme tumbuh untuk menyatakan bahwa segala sesuatu tidak tetap, melainkan tumbuh dan berubah. Kedinamisan untuk berlega hati menghargai perbedaan, menyikapi bahwa setiap orang adalah penting.

Terimakasih sudah diingatkan kembali.
Kontemplasi selesai.

Setelah berpanjang ria menulis ini, tahukah Anda, bahwa sebenarnya saya sedang menulis tentang organisasi dengan leadershipnya. Goalnya gak dapet ya? Yasudahlah, ga apa-apa.

"ibarat satu tubuh"
Dari dauroh pengurus Alfurqon 2014, pelajarannya saya ambil untuk fosikagi ya.

Terimakasih adik-adik 2014, alumni AF 2013-2009 yang sempat hadir. Titip AF ya 2014, dijaga dengan baik-baik, hikmahnya kalau belum berasa sekarang, pasti suatu saat akan benar-benar terasa.

Ohya, sampai lupa. Saya tadi kan mau ngasih tau, kata “satu nasib” kurang cocok, jadi kata yang seharusnya dipakai -minjem istilah popular- adalah “ibarat satu tubuh”.

aza aza fighting! ^^



Tuesday, September 4, 2012

zimzimzim

saat itu, usia saya masih belia, masih banyak digandrungi kaum muda (?) sebut saja saya, si anak ayam baru keluar kandang, lepas asuhan emaknya, hidup di kegelapan zaman jahiliyah. 
awal masuk SMA, saya bersama gerombolan anak bau kencur yang mulutnya tidak bisa ditutup lebih lama dari lima menit, gentayangan mencari cenayang yang bisa menenangkan arwah ke-berisik-an dan ke-tidak-mau-diam-an kita.

lima tahun lalu, saya adalah bocah yang tidak kenal apa itu mentoring. hingga tahun berikutnya, Allah mempertemukan seorang teteh yang ikhlas saya bully untuk menjadi seorang mentor. mulai dari awal, si teteh  kesusahan mengumpulkan kami satu kelompok karena jadwal kami sudah mirip jadwal artis. beliau yang jauh-jauh dari ITB yang sebenarnya tidak jauh dari sekolah kami datang menghampiri. lambat laun, karena beliau mampu mengikat hati, akhirnya kami yang menghampirinya, jauh-jauh dari sekolah yang sebenarnya tidak jauh dari ITB datang ke Salman untuk memulai curhat berjamaah. curhat?

kalau kami mentoring, bocah-bocah tak tahu diri ini suka merampok jam luang si teteh. mahasiswa tingkat 4 harusnya fokus TA, tapi, hari jumat atau sabtu, biasanya kami memenjarakan teteh di penjara melingkar dari bada dzuhur SAMPAI jam 5 sore. mabok ga tuh mentoring selama itu? engga dong. satu jam teori, sisanya curhat, yeah.


saat masih imutimut

akhirnya, masa bakti kami di SMA selesai. kami harus melanjutkan perjuangan mencari ilmu di perguruan tinggi masing-masing. dan tibalah mentoring wada' dengan teteh, sebelum akhirnya ditransfer ke kampus masing-masing meskipun sebagian masih ada yang di sekolah. 

akhirnya, setelah sekian lama tidak bertemu, dapat kabar mengejutkan jiwa raga, penantian berita tentang pernikahan teteh datang juga. 



mungkin angin terlalu besar, atau terjadi badai katrina, hingga berita ini sampai di kami terlalu mepet. banyak yang sudah ada janji terlebih dahulu, sehingga tidak semua dari kami bisa hadir :(

we love you, teh Nisaul Makhmudah
Barakallahu laka wa baaraka'alaika wa jama'a bainakuma fi khair


dari adik -adik mentor mu yang cantiknya sampai ke selubung myelin (?)
detinnitami :)

Sunday, May 6, 2012

Nostalgila

Widih, dahsyat! melihat foto-foto lama kembali, membuka catatan-catatan yang rapi tersimpan dalam locker otak sejak lama,dor! bercokol keluar.
Menemukan harta karun dari negeri tempat kuda delman bersahaja dipekerjakan dan batu-batu setia pada tuannya membuat undakan demi undakan, dari negeri dimana harga cumi asam manis hanya limaribu rupiah saja, dari negeri tempat bencong dengan leluasa memamerkan  jakun, bulu kaki, dan bulu dadanya, menyanyi dan menari di pinggir-pinggir pedagang  yang menjajakan batik-batik negeri atau dipinggir orang-orang yang melahap lapar makanannya, dari negeri yang katanya banyak berdiri perguruan tinggi, iya, dari Jogjakarta.

Tidak pernah ke Jogjakarta dengan rencana liburan, selalu karena ada agenda hal perihal lain. diantaranya karena studi banding, atau karena perlombaan. Melihat foto yang satu ini, mengingatkan saya pada salah satu kejadian dan pengalaman paling menyenangkan selama sembilan belas tahun saya menghirup oksigen.
Hari itu, saya dipanggil teman saya untuk diikutsertakan dalam perlombaan tahunan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, yaitu NOMS (National Olympiade of Medical Science) –perlombaan medical science lingkup Nasional. Bengong! BINGO! Medical science? Are you kidding me??? Saya, seorang yang buta masalah dunia per-biologi-an apalagi per-kedokteran pada saat itu cuma bisa nanya, is that serious?
Jadi ternyata, perlombaan ini tidak murni 100% mengenai biologi kedokteran, sekitar 10% diantaranya membahas kimia dan 10% lagi membahas fisika. Saya yang notabene dulu di SMA adalah orang yang ikut (-ikutan) olimpiade fisika, diajak guru pembina, Bu Budi, untuk ikut lomba ini.
National Olympiad of Medical Science 2011
Syukur alhamdulillah ada yang mau menerima saya sebagai anggota kelompok, haha (padahal dipasang-pasangin sama Bu Budi sih -__-) saya sekelompok dengan Della dan Agustina. Mereka berdua memang spesialisasi olimpiade biologi. Setau saya, semua yang ikut memang ahli biologi (mungkin kecuali saya, marcel, tuba yang dari fisika dan gema yang dari kimia, tapi mereka semua kecuali saya udah master tingkat langit ketujuh)

Singkat cerita, SMAN 3 Bandung mengirimkan banyak tim. Seleksi awal dilaksanakan. Oh, biadab! sungguh terlalu. Seleksi awalnya bukan secara tim, melainkan individu. Setiap individu dari masing-masing tim akan di tes mengisi soal pilihan ganda sendiri-sendiri, yang nantinya nilainya akan diakumulasikan dengan anggota satu tim lainnya. Parahnya, itu soal tipe minus, kalau salah minus, kalau tak diisi kosong, kalau diisi ya dapat poin. Kalau sampai saya memberikan skor akhir minus, mau dibawa kemana pertanggungjawaban saya pada kelompok saya??? huuuh. Allah menakdirkan soal-soal yang saya isi benar. Keajaiban! Akhirnya tim saya lolos seleksi awal.

Ada lima tim dari SMAN 3 Bandung yang lolos ke Jogjakarta. Sekitar tiga hari kami menginap di Jogja. Kami pergi membawa amanah besar, sebab tahun lalu, SMAN 3 Bandung menjadi juara umum, dan membawa pulang piala bergilir. Tahun itu, harusnya kami mempertahankan piala besar itu menetap di ruang dimana piala-piala dikoleksi di sekolah kami.


dendra yang terobsesi membawa balik piala bergilir


pria-pria galauu




suasana di kereta
Sesampainya di stasiun Jogja, saya bingung, lho ini sebenarnya lomba atau pengajian? Kami pergi ke mushola stasiun untuk sholat ashar, kemudian membuka almatsurat dan membacanya bersama-sama. SUBHANALLAH! Ternyata MAYORITAS –tidak semua- dari kami yang lolos adalah anak DKM! Bravoooo!
membaca almatsurat selepas ashar :')

Mari saya perkenalkan mereka. Mereka semua calon orang-orang sukses, sungguh, insyaAllah
Tim 1 : tuba (STEI ITB), dendra (STEI ITB), Nucifera (SF ITB)
Tim 2 : Astika (FK Unpad), Iqbal (masih kelas 3), Marcel (FTSL ITB)
Tim 3 : Juan (HI Unpad), Citra (FK Unpad), Candra (STEI ITB)
Tim 4 : Della (FTI ITB), Agustina (masih kelas 3), detin (FKG Unpad)
Tim 5 : Lisha (FK Unpad), Gema (FTMD ITB), Fitri (Teknik Mesin National University of Singapore)
Aaaaah, keren kan merekaaaa..
Kami menginap di penginapan langganan SMA 3 kalau ikut NOMS (katanya), lupa apa nama penginapannya, tapi bagus hehe.

lobby nya kali ya
Nah, seleksi berikutnya, menjawab soal dengan batas waktu sekian detik di layar yang akan menghilang dengan sendirinya jika waktunya habis. Alhamdulillah saya setim dengan wanita lemah lembut cangkang keok, anggun gemulai bak putri solo. Mereka mengerti bahwa kompetensi saya bukan di biologi, saya akan menjawab sebisa saya, terutama dalam soal hitungan. Ketika ada soal biologi yang sulit, mereka akan mendiskusikannya berdua, saya manggut-manggut saja, giliran ada soal hitungan saya belepotan ngitung.

Dari lima puluh tim (kalau ga salah) yang lolos ke Jogjakarta senasional, akan diseleksi menjadi duabelas tim saja. Setelah ikhtiar dimaksimalkan kami tawakal, karena soalnya isian, bukan PG jadi ga bisa ngasal.  Lalu menunggu pengumuman membuat perut mulas. Tau? Tim kami pesimis lolos. Apalagi saya, mental awal aja datang kesana untuk memenuhi tuntutan tim, bukan karena ada passion untuk menang, sama sekali tidak. Sebab, Bu Budi sudah mendesain dua kelompok teratas (kelompoknya tuba sama marcel) sebagai tim unggulan, ya mungkin sisanya hanya beruntung lolos seleksi awal saja hahaha *miris* iya lah, secara, tim 1 tuba, nuci, dendra masteeer biologi semua, tim 2 marcel, astika, iqbal pinternya ga kebayang lagi.

Pengumuman ditempel di mading sore harinya, semua berkerumun, anak sekolah lain ada yang memanggil-manggil teman satu timnya melaporkan bahwa mereka lolos, ada juga yang dengan berbesar hati menerima nomor timnya tidak ada di list mading.

Suer, saya asli sakit perut mendengar bahwa ternyata : yang lolos itu adalah dua tim terakhir!! Tim yang sama sekali tidak pernah dibayangkan akan lolos dua belas besar. Artinya, tim saya lolos!! ALLAHUAKBAR!! Terlihat wajah kecewa jelas di wajah Bu Budi, mungkin beliau berfikir kami tidak bisa banyak diharapkan -___-. Apa ini? Ada konspirasi apa? mengapa dua tim jagoan tidak lolos??? Kenapa oh kenapa? Saya ingat sekali wajah dendra yang membawa misi kemenangan sejak keberangkatan ternyata gagal meraihnya. Cupp cup cupp.. dia jadi galau.

Nah, masalahnya, tim saya lolos. Itu masalah buat saya. mendadak ingin pulang saja. Ingin mengurung diri di kamar mandi, sebab seleksi selanjutnya adalah cepat tepat, dan ada bagian saat kita presentasi sendiri-sendiri dari satu kasus yang diberikan. Matilah kau det, mau ngomong apa nanti.

Malam harinya sebelum esok tanding, kami pergi "refreshing" sekadar mencari makan di pinggir jalan  Jogja


suasana makan-makan :)
suasana naik becak malam hari
Add caption

setelah pulang, di kamar, satu kamar diisi oleh dua orang, saya satu kamar dengan Astika. Beliau yang sudah ahli dalam biologi membantu saya menurunkan panas demam saya akan kekhawatiran nasib harga diri saya besok. Saya seperti tong kosong, tidak tahu menahu masalah biologi. Akhirnya pembagian bab diberikan, saya kebagian peredaran darah dan eeem apa ya lupa. Dengan buku campbell di tangan, semalaman saya belajar peredaran darah dan embel-embelnya. Saya sempat berbicara pada tika “Tik, bisa ga kamu aja yang gantiin aku besok? Aku ga siap, ga tau apa-apa” Tika bilang, saya pasti bisa.


 Yipppiiii. Entah kenapa, saya ingin mempelajari jantung lebih dalam saat membaca campbell. Akhirnya saya mendengarkan kuliah dari Tika tentang jantung, sesekali membaca keras-keras isi buku sampai tidak nafsu makan malam. Kami sholat Isya berjamaah (saya, tika, juan, citra, yang memang sudah biasa kalau nginep bareng di AF, berjamaah) kemudian malam harinya tahajud bareng tika. Aaah, so sweeeet :’)
ruang kamar saya

Hari berikutnya benar-benar tiba. khawatir binti degdegan. Cepat tepat, babak awal dimulai. Dengan sangat menyesal, saya tidak bisa membantu banyak, sebab soal-soalnya terdengar seperti soal yang turun dari planet merkurius, panas membara, suhunya tak pantas ada di bumi ini. Enyahkan!
when you can't say any single word





Alhasil, dari empat kelompok, (ada tiga sesi, satu sesi empat kelompok, dipilih satu kelompok terbesar nilainya, sehingga total ada tiga kelompok yang maju ke babak final) kelompok kami mendapat nilai terendah di babak cepat tepat. Maaf yaaa : (((

Berikutnya, babak presentasi, satu kelompok diberi kasus, untuk didiskusikan bersama tim, membuat alur, untuk kemudian dipresentasikan di depan juri dan penonton. Aduh, beri aku muka kulit badak!!!!

Akhirnya, tiba saatnya tim kami menerima kasus. Ketika melihat laptop, SUBHANALLAH!!!!!!!!!!!! Kasusnya tentang JANTUNG!!!!! Saya sempet shock. Sebab malam hari itu selain jantung, saya tidak belajar apa-apa lagi.  setidaknya saya tahu lah sedikit meski tidak se expert dua teman saya lainnya.

Waktu presentasi mulai. Saya bagian pembukaan, memberi salam, memperkenalkan diri kami pada juri, kemudian menjelaskan anatomi jantung. Seingat dan sebisa saya saja, benar-benar mengalir, meski mungkin tidak berbobot (?) dilanjutkan dengan presentasi dua teman saya lainnya yang meneruskan presentasi saya, tentang mekanisme kerja, tentang segala macam tek tek bengek nya.

DAAAAN, APAAAAA????? Alhamdulillah, kelompok kami mendapat nilai tertinggi dalam presentasi. Allahuakbar!!!! Ini keajaiban, tapi sayang, nilai kami tertinggal jauh dengan tim dari Jogja (kalau ga salah) saat cepat tepat tadi. Akhirnya, perjuangan kami berhenti sampai situ.dan tim kami yang satunya lagi pun tidak lolos tiga besar. Apa boleh buat, kami sudah berusaha, namun Allah yang menentukan hasilnya 

Meski tidak bisa membawa piala bergilir pulang, kami sudah senang mendapat pengalaman berharga luar biasa ini. Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin dan pertolongan Allah itu selalu dekat :’)
Miss that moment so bad!
terakhir, ini foto empat akhwat Furqoners yang sama-sama bermimpi menjadi seorang dokter. juan-detin-tika-citra

Friday, December 9, 2011

What I Feel…

Bismillah,

Sibuknya dunia perkuliahan akhir-akhir ini merampas waktu saya untuk bertemu adik-adik mentor saya di SMA. Jarak nangor-bandung lagi-lagi jadi tumbal untuk saya jadikan alasan. Tapi benar-benar apa daya, saya punya niat yang besar banget buat kembali ke sekolah, tapi jalannya ga selalu dimudahkan, banyak tantangannya –yang sukses membuat beban di pikiran saya-.

kenapa beban?

Sebenarnya ini amanah yang saya sanggupi untuk memenuhinya. Amanah untuk kembali memantau perkembangan dakwah di sekolah. Sekali lagi, saya sanggupi untuk memenuhinya.
Tapi pada kenyataanya, saya tidak pernah berpikir sebelumnya kalau tantangannya akan amat dahsyat luar biasa. Jadwal akademik di fkg yang tidak jelas memperparah kondisi, rasanya pengen nangis aja liat jadwal yang serba bentrok. Amanah coaching pun telat untuk dimulai.
Hari jumat, tanggal 19 lalu saya meninggalkan kegiatan kaderisasi di fkg untuk memilih ikut acara lajur misi dan memulai coaching perdana dengan adik-adik kelas 3. Tapi lagi-lagi Allah menguji keimanan dan kesabaran saya. 3 kali jarkom, ga ada satupun adik coaching saya yang balas. Nihil. Setelah menjaga stand fkg di lajur misi, saya tidak berhasil memulai coaching. Terpaksa harus ditunda.

Minggu berikutnya, Allah menguji saya dengan sakit –yang semoga dengannya sebagian dari dosa saya gugur terhapus.aamiin- lagi-lagi saya tidak bisa memulai coaching spirit.
Minggu ini pun datang. Jumat, selepas kuliah jam 11, saya sudah menjanjikan akan hadir ke 3. Saya jarkom adik coaching, untuk berkumpul jam 12. Saya bingung, lha orang damri paling cepet nyampe itu 1,5 jam itu pun kalau ga macet. Bingung. Saya ga mau bikin adik-adik saya menunggu. untung ada temen yang mau ke bip, jadi saya ikut mobilnya. Alhamdulillah, dimudahkan..
Jam 12 saya tiba di 3. Lelah, baru saja ujian pagi harinya. Pokonya, saya bertekad mau ada satu, dua atau bahkan ga ada sama sekali adik yang datang, ga boleh bikin saya patah semangat!
Dan alhamdulillah dapet sms dari shanti, kalau dia sama sakya udah nunggu depan perpus. Senangnyaaaa :D

Ketika melihat, ada ice, shanti, sakya, mei, dan talita, rasanya….. semua cape dan lelah hilang seketika. Melihat wajah adik-adik itu membuat saya melupakan sakit, melupakan kalau suara saya sedang serak bahkan diwarnai oleh batuk yang sulit berhenti. Saya gembira. Ini hadiah dari Allah untuk kadar lelah saya di jalan-Nya. Perasaan untuk berbagi ilmu dan pengalaman dengan adik-adik yang tidak bisa dilukiskan kata-kata, sebab sudah lama sekali pertemuan jenis ini vakum semenjak saya berkuliah.

Allah memudahkan. Coaching perdana dengan adik-adik yang baru. Tugas untuk mengantarkan mereka menuju pintu perkuliahan dengan pembekalan iman, sudah terpapar lebar di benak saya. tinggal strategi dan aplikasikan. Nyatanya, mereka suka dengan saya, alhamdulillah. Meskipun suara habis karena terlalu banyak bicara, saya senang. Saya senang karena mereka senang. Saya senang karena mereka melupakan main dan belajarnya, dan memilih duduk berbincang 2 jam setengah. Semoga Allah memberkahi pertemuan pertama saya dengan mereka, juga memberkahi pertemuan-pertemuan selanjutnya. Semoga ilmu yang tersampaikan bermanfaat bagi mereka, juga bermanfaat bagi saya.

Terimakasih, Allah. Alhamdulillah…

Saturday, September 3, 2011

uhibukumfillah



what should i call them? friends? no. they are more precious than only friends.
family? it's the closest one to describe who they are.
my new family, consist of a mother, a father, sons, daughters, brothers, and sisters. yes, here we are, DKM AL FURQON 2011 :) proudly present :
A HAPPY FAMILY :)
for father, habib, because he's our main leader.
mother, athun, she's the lady's leader.
and all of the members are my sisters, my brothers. i love them all, for sure.
from the bottom of my heart, i love you because Allah.