Showing posts with label Refleksi. Show all posts
Showing posts with label Refleksi. Show all posts

Thursday, May 16, 2013

Kepala Dua

Dari Bahasa kepada Jiwa.
“Saya tak tahu, berapa waktu yang tersisa untuk saya. Satu jam, satu hari, satu tahun, sepuluh, lima puluh tahun lagi? Bisakah waktu yang semakin sedikit itu saya manfaatkan untuk memberi arti keberadaan saya sebagai hamba Allah di muka bumi ini? Bisakah cinta, kebajikan, maaf dan syukur selalu tumbuh dari dalam diri, saat saya menghirup udara dari Yang Maha?” - Helvy Tiana Rosa

Teruntuk Jiwa, ketahuilah bahwa Bahasa telah melantunkan sajak terindahnya sebagai hadiah doa bagi pelampauan. Waktu berbilang, satu demi satu detik berdenting, dan kumpulan hari kemudian memudar beralih, berganti wajah yang semakin mendewasa. 

Dan dengan tidak terasa umur manusia pun lenyap sedetik demi sedetik ditelan siang dan malam. Kiranya jika berkenan, semoga usia-lalu yang telah terlewati dan bilangan waktu-kemudian yang akan membersamai, selalu ada berkah disetiap jejak langkahnya. 

Saatnya merevolusi diri, berbenah hingga tidak mengenal lelah. Memperbaiki segala sisi dimensi diri yang perlahan rapuh terbakar percikan keburukan. Akan ada masa, dimana alam meminta kontribusi dari bertambahnya usia. Maka, belajar dan memberi adalah Bahasa yang selayaknya Jiwa miliki.

Saya tiada berucap selamat, sebab nyata bahwa umur semakin berkurang. Saya berucap semoga, sebab perjalanan waktu memberi arti untuk merancang bahagia, menambah kawan,dan merencanakan hidup mulia. 

"Count your age by friends, not years. Count your life by smiles, not tears." - John Lennon

Semoga berkah tiap langkah, istiqomah hingga husnul khatimah.
Allah, limpahi umurku dengan ketaatan. 
aamiin.

Salam, kepada Duapuluh.

Bahasa menulis untuk Jiwa, Dari doa menuju Arsyi-Nya.
Detin Nitami, Duapuluh tahun lebih satu hari :)  



Thursday, January 3, 2013

Dari Individu ke Masyarakat


Bismillahirrahmaanirrahiim.

……al Insanu madaniyyun bith tabh’i…...
Manusia adalah bermasyarakat secara tabi’atnya.

Manusia diciptakan dengan fitrah bermasyarakat.

“wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…..” (Q.S Al-Hujurat : 13)

…menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku… memang pada dasarnya manusia hidup berkelompok, membentuk komunitas sesuai dengan jati dirinya, menemukan zona yang dirasa nyaman untuknya. Untuk itu, manusia akan senantiasa melakukan pengenalan dengan dunia sosial dimana dia hidup. Tidak ada manusia yang bisa survive hidup sendiri. Orang jomblo pun butuh orang lain *untuk menghapus kejombloannya. *Ah, fokus det, fokuuss.

Pengenalan.  Kenal—mengenal-dikenal. Untuk menuju “berkelompok” manusia harus melawati proses mengenal orang lain. Taaruf. Proses saling mengenal tidak hanya sebatas, oke-saya-tahu-nama-Anda—Anda-tahu-nama-saya. Ada 3 tahap yang harus dilewati agar proses Taaruf kita sempurna ; pertama, taaruf Jasadiyah : kita tidak bisa mengelak bahwa untuk mengenal, kita wajib -pake banget- untuk tahu wujud orang yang ingin dikenal seperti apa. Saat kita mengenal, kita harus tahu seperti apa wajah Ina dan seperti apa wajah Ani, karena Ina bukanlah Ani dan Ani bukanlah Ina (?) di tahap ini, kita akan mulai mengetahui siapa namanya, pekerjaannya apa, umurnya berapa, dsb, dsb. Segala yang berhubungan dengan dirinya, kita tahu, entah secara superfisial, maupun mendalam.

Kedua, adalah taaruf fiqriyah. Saat kita sudah mengenal jasadiyah, otomatis, kita akan lebih sering berinteraksi. Menuangkan pola pikir dalam percakapan. Bertukar pandangan. Maka saat proses itu berlangsung, secara sadar maupun tidak sadar, sebenarnya kita sedang mengenal seseorang secara fiqriyah. Saat berhasil melewati tahap ini, kita bisa membuktikan bahwa serigala akan berkumpul dengan serigala lainnya, bukan dengan harimau-kambing-kucing-ayam-kerbau-sapi. Kita akan mampu menilai, bahwa ternyata sekelompok orang disatukan oleh kesamaan pola pikir mereka. Jarang sih ya, orang sholeh berkelompok dengan tukang mabuk. Secara sendirinya, mereka akan memisahkan diri, mengeliminasi diri, menjadi bagian marginal yang menyusut mencari pribadi-pribadi lain yang dirasa sama….secara fiqriyah.

Ketiga, adalah taaruf qolbiyah. Inilah pengikat segala jenis taaruf. Saling mengenal secara batin, dari hati ke hati. Qalbu kita memiliki radar sendiri, memiliki kecenderungan sendiri. Bagaimana kita yang sudah menyatu hatinya dengan orang sholeh, akan merasakan kerinduan tersendiri untuk kembali berkumpul, pun dengan orang pecinta geng motor -misalnya, mereka akan merindukan perkumpulan dengan kelompok mereka. Itu fitrah. Saat kita sudah mengenal seseorang secara qolbiyah, kita sudah tidak perlu lagi menanyakan : kamu orangnya gimana sih? Karena keterikatan hati kita sudah mampu menilai, oh ternyata orang ini sifatnya begini begini begini, istilahnya tafahum. Kita bisa merasakan karakter orang tersebut. Inilah pentingnya menjaga keterikatan hati lewat pengenalan. Untuk masuk dalam kehidupan seseorang adalah dengan menyentuh hatinya, dan hati hanya bisa disentuh oleh hati.

Lalu setelah taaruf-tafahum, kita memasuki fase Ta’awun. Tolong menolong. Kita yang sudah saling mengenal saudara kita akan cenderung lebih memprioritaskan dalam tolong menolong, dalam bekerja sama. Ruh manusia itu ibarat pasukan yang berkelompok-kelompok. Dengan kesadaran ini, kerja-kerja kita seharusnya tersalurkan menjadi sebuah ikatan yang mengumpulkan “kayu-kayu” terserak.

Setelah kita bisa saling menolong, maka kita bisa saling Takaful, senasib sepenanggungan. Inilah hakikat UKHUWAH. Tingkatan dimana setiap muslim merasakan saudara sesama muslim sebagai satu tubuh. Disini kita bisa melihat bahwa lingkungan mencerminkan kepribadian seseorang. Teman-teman sepergaulan yang senasib sepenanggungan akan mendeskripsikan siapa kita. Beritahukan siapa temanmu, maka aku akan tahu siapa dirimu, begitu kata pepatah. Inilah ukhuwah. Ikatan ukhuwah adalah ikatan yang menjembatani keshalihan individu menuju keshalihan masyarakat.

Dari keshalihan pribadi menuju keshalihan masyarakat.

Allah menurunkan agama Islam bukan hanya untuk manusia sebagai pribadi tetapi juga untuk manusia sebagai masyarakat, karena itu Islam bukan hanya membangun keshalihan pribadi melainkan juga membangun keshalihan masyarakat. Keshalihan pribadi berhubungan dengan kedekatan seseorang denganAllah yang diwujudkan dalam ketaatan dalam beribadah (Hablum minallah). Sedang keshalihan masyarakat adalah hubungan harmonis manusia dengan sesame manusia (Hablum minannas), yang ditunjukkan dengan perilaku dan akhlak yang baik. Dua sisi keshalihan ini wajib untuk dilaksanakan secara bersamaan dan seimbang.

Keshalihan individu datang ketika seseorang mampu memurnikan tauhid kepada Allah. Dan puncak dari ketauhidan adalah IHSAN.
Ihsan berarti berlaku baik,  merasa diawasi oleh Allah dalam setiap gerak-gerik. Muruqubatullah. Seseorang yang ihsan akan melakukan aktivitas semata mencari penilaian Allah, bukan sekedar penilaian makhluk. Allah menyuruh kita untuk berbuat ihsan dalam segala hal.

“Sungguh, Allah wajibkan kamu berlaku IHSAN dalam segala hal.” (H.R Muslim)

“dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah (IHSAN) kepada kedua orang tua, kerabat karib, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (Q.S An-Nisa : 36)
Ihsan tercermin dalam perilaku, perbuatan dan perkataan. Dengan prinsip ihsan ini, kita akan memperlakukan sesama manusia sebagaimana mestinya, hablum minannas tercapai dengan baik.
Seperti halnya ihsan yang menjadi kunci keshalihan individu, maka keharmonisan hidup manusia dalam membangun peradabannya memiliki kuncinya tersendiri. 2 pilar untuk menciptakan peradaban IHSAN adalah sikap amanah dan adil.

“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu mendapatkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil…” (Q.S An-Nisa : 58)
Amanah berarti terpercaya, bertanggung jawab, sedang adil berarti meletakkan dan memberlakukan sesuatu sesuai dengan tempatnya (dalam koridor Islam).
Dengan sikap amanah dan adil, perlahan, generasi akan menyesuaikan keadaan, menyusun tumbukan batu pondasinya, menuju keshalihan sebuah peradaban. Dan itu hanya bisa dimulai dari diri sendiri, menuju generasi madani, peradaban Rabbani. Aamiin.

Kehancuran setiap bangsa terjadi manakala amanah telah dikhianati dan keadilan telah ditinggalkan.

Inilah pentingnya kita berkelompok, saling mengingatkan tujuan, menyamakan pemahaman, saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, dan saling menjaga amanah dan rasa adil agar tetap tumbuh dalam setiap kita.

Wallahualam bishawab.

CMIIW.
Sumber :
Alquran.
Catatan pengajian persistri, oleh Ust. Jeje Zaenudin, 3 Jan 2013.
Catatan liqo.


Saturday, October 6, 2012

pieroctobref


Demi Tuhan pemilik Ar-Rasyi, cabut, buang, atau jauhkan sifat sombong, dengki, sifat ingin dipuji, sifat merasa diri lebih baik dari dalam diri ini.

Saya mulai lelah dipermainkan oleh si kecewa karena kebodohan si tinggi hati.

Demi Tuhan pemilik Ar-Rasyi, ajarkan saya untuk memperkuat doa, mengisi amunisi....
 karena lelah-lelah, rasa rendah diri, kejenuhan, bosan, keluhkesah, telah mendadak menggerogoti hati.

Didik pribadi ini agar mengencangkan sabuk ikatan imannya, menggantungkan harap padaMu saja, bukan pada makhluk, bukan pada ciptaan, bukan pada manusia.

Jangan menyerah pada kefuturan. Jangan menyerah pada kefuturan. Jangan menyerah pada kefuturan

Terakhir,
Allah.. tetapkan hatiku dalam genggamMu..sibukkan daku dalam kebaikan selalu...
Allahumma aamiin...

Friday, June 1, 2012

BAHAGIA ITU SEDERHANA


Selamat siang J

Lapor, Jenderal. Hari ini aku mau berbagi kisah lagi denganmu.

Jadi begini, kalimat “bahagia itu sederhana” kini ramai mengisi hari-hariku. Awalnya aku tidak paham makna dahsyat dibalik kalimat yang tersusun dari tiga kata itu. Sampai pada waktu ketika aku harus membantu seorang teman mengatasi masalahnya, memberinya solusi, dan menawarkan pundak untuknya berbagi. Aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana rasa yang menguasai diri pada saat-saat seperti itu, tapi kalimat sederhana itu mampu, Jenderal. Dengarlah, rendahkan hatimu..… bahagia itu sederhana. Demikian bunyinya. Apa kamu suka? J

Laporanku sebelumnya tentang ketidakbersyukuran akan apa yang aku punya, nyata bisa diperbaiki karenanya.  Jadi, ternyata saat hujan tak mampu menyiramnya, gerimispun memadai aku korelasikan dengan bahagia itu sederhana, meskipun terdengar sedikit aneh. Tapi tak apalah.

Kita bisa mencari bahagia tidak hanya di ibu kota Kerajaan Mimpi dan Cita-Cita. Kita bisa menemuinya disudut bahkan di pelosok desa terpencil sekalipun. Semisal bahagianya ketika aku berhasil menemukan gunting kukuku lalu memotong pendek kuku jariku yang sebelumnya panjang dan kotor, ketika aku bisa mendapati salah satu jerawatku mengundurkan diri dari jabatannya di kancah mukaku, ketika mendapati kamar yang habis dibombardir bom buku dan makanan kini bersih mengkilat, ketika bisa menikmati buah semangka dingin tanpa biji malam tadi, ketika bisa bersama dengan orang tua dan melalui malam bercerita dengannya, atau ketika menyadari bahwa Allah masih menginginkanku ada dalam kebaikan… itu, membuatku gembira. Dan mereka adalah hal-hal kecil yang kadang kita lupakan.

Aku terlalu berfokus pada kebahagian “besar”, semisal cita-cita yang dibuat teoritis di atas kertas yang ditempelkan di kaca kamarku tercapai, barulah aku merasa bahagia itu ada. Ternyata, hal itu hanya akan membuat jatah umurku di dunia diisi oleh kebahagiaan sebanyak cita-cita yang tergapai saja. Lalu, setiap detiknya hambar terlalui.

Ah jenderal, aku mengerti bahwa hal besar lahir dari hal-hal kecil. Kebahagian-kebahagian yang sederhana itu membawaku untuk menikmati bahagianya bersyukur, lalu semuanya terbungkus manis dan indah selayaknya paket lebaran dari para menteri kepada presiden untuk menarik hatinya. Semuanya terbungkus rapi oleh bungkusan kebahagian tertinggi, yaitu kebahagiaan akan melekatnya iman dan islam dalam setiap nafas kita…

 Begitu kan, Jenderal?


Monday, April 30, 2012

petirbadaigeledekduarduar

penasaran, sejungkirbalik dan seterjerumus apa saya, dua minggu tidak ikut liqo.
sore hari, mendung, selepas sholat ashar dan berbincang dengan teh Irma di kantin SMAN 3 Bandung tentang mekanisme coaching yang teranyar, dengan kondisi bibir serba bengkak, padahal tidak, sebut saja baru di anestesi, huiks sakit, gigi saya sedang dalam proses orthodontik *doakan cepat selesai ya*, saya berangkat menuju salman dengan rezeki dari Allah berupa tumpangan gratis dari teh Irma yang kebetulan ada acara di salman juga. aseek, lumayan hemat uang dan waktu hehe.


yah, singkat cerita berkumpullah kami. Materi kali ini tentang apa ya. Saya pasti udah ketinggalan jauh :( 
jadihoy, hari itu kami membahas tentang jeng jeng jeng jeng...pengantar (materi awal) Fiqih dakwah yeaaah *mana backsoundnya??*


kami membahas dengan sumber referensi *tentu saja Al-Quran dan As-Sunah* dan buku dengan judul yang sama, FIQIH DAKWAH karya Jum'ah Amin Abdul Aziz.
mari tengok sebentar pengantar ayatnya, Q.S Al-Anfal : 63


Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman).Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah lah yang telah mempersatukan hati mereka. Sungguh Dia Maha Perkasa,Maha bijaksana.


grrr, kami membahas tentang tugas kita yang "nahnu du'at qobla kulli syaiin" tentang tugas sebagai penyampai saja, sebab hasil Allah yang menentukan, sebab terbukanya hati, terikatnya hati, Allah lah yang punya kuasa :)


intermezzo, teringat kisah bagaimana rasa kasih Rasulullah terhadap pamannya yang tercinta, Abu Thalib, yang tak dapat Beliau selamatkan akhir hayatnya, membuktikan, manusia semulia Rasulullah saja tidak bisa mengubah hati seseorang, apalagi kita si manusia akhir zaman. Allahlah yang maha membulak-balikan hati hamba-Nya. titik ya, ga ada koma,kalau tanda seru masih boleh.(?)


nah tralalatrilili setelahnya, satu quotes yang keluar dari mulut Murabbi saya yang dengan seketika sukses mambuat badai topan petir geledek menyambar di telinga saya, 
jadi, kebanggaan terbesar bukan ketika kita mejadi ketua ini itu, ikut organisasi ini itu, koor ini itu, melainkan kebanggaan terbesar adalah ketika kamu membina, dan binaan kamu semuanya "JADI"
slek, jleb, ngeeeeeek......
dengan pandangan yang curi-curi Murabbi saya menatap salah satu teman saya yang hebat yang sedang memegang amanah sebagai ketua makrab di salah satu fakultas di unpad yang terkenal hedonnya. 


saya juga tersepet lah, hati saya seperti kesentil, seperti keserempet delman yang ditarik kuda pacu, seperti terpanah anak panah peringatan, bukan anak panah lamaran. eh. saya jadi ababil, nanya ke diri sendiri, sebenernya yang kamu cari di dunia ini apa mba?


binaan lepas-lepas, fokus mencar-mencar, amanah kocar-kacir, mau jadi apa? badut pengisi acara ultah? dunia kampus menyamarkan tujuan awal, jadi kamu nyalahin keadaan?ish ish ish...
ikut ini itu, rasanya detik itu juga semua yang saya lakukan terasa jet-o-en-ka. zonk.
sama-sama melonggarkan pertemuan dengan adik-adik. hayu ah terjun dari lantai tujuh.


masih sakit karena keserempet, dilanjut lagi dengan warning berikutnya dari Murabbi,
keberhasilan dakwah dilihat dari perubahan si da'i. dakwahnya berhasil jika ia mampu merubah dirinya sendiri ke arah yang lebih baik. jangan seperti lilin, yang memberi cahaya tapi sebenarnya dia memakan dan membinasakan dirinya sendiri
oy yeeeaaah. boleh bentur-benturin kepala ga? atau gigit laptop?




hayu hayu lurusin niat lagi, cukup dengan serempetnya, cukup dengan benturan kepala dan gigitan laptopnya. mari berbenah. kembali ke tujuan awal lagi sesuai jawaban dari pertanyaan : sebenernya yang kamu cari di dunia ini apa mba?



Friday, March 23, 2012

sebatas awan nisbi


Maka, nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan?

Bismillah,
Ayat berulang dalam surah Ar-Rahman ini kembali mengingatkan saya akan satu kegiatan unik di rumah belajar Ciroyom. Malam hari, 17 Maret 2012, selepas magrib, saya dan seorang teman saya mengunjungi rumah belajar (rumbel) Ciroyom untuk memfiksasi satu kegiatan volunteer doctors berkenaan dengan rumbel ini. Sebelumnya, jujur, saya belum pernah datang ke tempat seperti ini, tempat perkumpulan anak-anak jalanan, terletak di parkiran atas gedung pasar Ciroyom yang fungsi aslinya sudah tak banyak digunakan lagi.
Lokasi yang lumayan asyik untuk kegiatan perkumpulan, sebuah masjid berukuran sedang berdiri disana juga terhampar halaman luas, khas tempat parkir. Memasuki ruang dalam masjid lalu disambut riuh anak-anak yang berlari-lari tak beraturan, saling mengejar, saling tertawa, mereka lepas, apa adanya. Meskipun saya sama sekali tidak terbiasa dengan penampilan mereka, manusiawi saya berhasil menuntun berfikir bahwa mereka sama dengan saya, mereka makhluk penyempurnaan ciptaan Sang Khalik, mereka manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Saya duduk, mengambil ancang-ancang mendekati relawan lain yang entah siapa dan darimana asalnya. Malam-malam begini, mereka masih setia menemani puluhan anak jalanan ini, membungkusi kue-kue dalam satu kardus kecil cantik, merapikannya lalu menyusunnya, ada apa sebenarnya? Selagi teman saya berdiskusi dan beradvokasi dengan si empunya rumbel terkait kegiatan kami esok harinya, saya yang sebenarnya hanya menemani, memilih untuk mendekati personal anak-anak jalanan itu.
Ketika duduk mendekat kearah pintu keluar, saya bertanya pada seorang anak rumbel itu, “ini mau ada apa de, banyak kue-kue?” mereka menjawab, “kita mau tampil, Ka.”Oh ya, saya ingat bahwa malam itu akan diadakan teater pementasan purnama, mereka akan menari dan bernyanyi. Menarik, sayang terlalu malam, rumah sudah memanggil-manggil minta segera pulang.
Dengan jalan menunduk, seorang anak laki-laki membuka lemari di sudut kiri masjid, membukanya dan mencari-cari sesuatu. Dia berhasil membawa keluar sebuah buku gambar dan pensil lalu kemudian berjalan mendekat. Seraya dia menghempaskan badannya, duduk dengan ringan tepat di hadapan saya. Saya tersenyum, tapi tidak dibalas. Dia kembali menunduk, membuka-buka halaman demi halaman buku gambar, mencari kertas yang masih kosong. Saya mengira umurnya sekitar 9 atau 10 tahun, rambutnya acak-acakan, saya tidak berani mengira kapan terakhir dia mandi.
Dengan perlahan, si anak menggoreskan pensilnya pada kertas membuat lima segitiga bersambung, saya mengira itu adalah gunung. Lalu dia menambahkan diujung segitiga yang kelima dua buah garis yang semakin lama semakin membesar kearah bawah, saya mengira itu adalah jalan. Lengkap dengan garis-garis tenganya. Setelahnya, dia menoleh ke arah saya, menyodorkan pensilnya dan menyuruh saya membuatkannya sebuah rumah dengan perkataan yang terbata-bata, belum lancar. Saya menggambarkan sebuah rumah dan berkata padanya,
“mau rumah tingkat berapa?”
“2 aja ka.”
“ini teteh contohin satu, kamu buat disebelahnya ya.” Tidak digubris, dia tidak mau.
“Yaudah, gambar gentengnya aja. Garis-garis kecil-kecil sini.”
“ga mau. Ka, bikinin kebun stroberi.”
“ga mau. Buat dulu gentengnya.”
“ah! Ga mau. Cepet ka buat kebun stroberinya.”
Hm, ini anak bandel ya, ga nurut. Kemudian saya membuat garis-garis horizontal dan vertikal membentuk atap rumah di lantai satu rumah gambaran saya.
“nih, tinggal gini. Tarik...tarik...sreeet...sreeet..” saya mencontohkan. Kemudian saya mengembalikan pensil kepadanya, dan dia akhirnya mau membuat garis-garis atap di lantai dua. Dengan perlahan dan lumayan acak-acakan, saya lega, setidaknya dia mau menurut.
Lalu dia minta dibuatkan kebun stroberi, saya bingung mau gambar apa. Akhirnya saya membuatkan sawah khas gambar anak sd, berpetak-petak lengkap dengan tanda ceklis yang melambangkan padi tumbuh. Saya dengan bangga memperkenalkan, bahwa gambaran itu adalah kebun stroberi.
“Ayo, kasih ceklis ceklis disini, garis-garis aja.”
Ya. Dia mau.
“O ya, namanya siapa de?” hening. Tidak ada jawaban. Dia khusyu membuat garis-garis. Menunggu dia selesai dengan garisnya, saya kembali bertanya namanya, dia jawab “Yudi”.
“ka, bikin matahari itu gimana?”
“bulet aja de.”
“gambarin ka.”
Akhirnya saya membuat lingkaran, lengkap dengan mata dan senyum melengkung di dalam lingkaran. Semakin melunjak, si anak menyuruh saya membuat awan. Saya membuatkan satu, kemudian menyuruhnya melanjutkan, dia tidak mau. Lagi-lagi menyuruh saya menggambarkan awan yang banyak untuknya. Ah, dia tidak akan belajar kalau begini. Saya berfikir dia anak malas, yang ingin gambarnya bagus tapi tidak mau mengerjakannya. Saya bilang agar dia yang melanjutkan, tapi dia malah acuh dan mendumel memaksa saya menggambar, dengan jawaban yang sama “ga mau, cepet gambar ka”
Saya menarik tangannya, membenarkan pegangan pensilnya, lalu menuntunnya membuat awan. “Teteh ajarin buat awan ya.” Dengan mata yang sepertinya tertarik, dia mengikuti setiap gerakan tangan saya diatas tangannya. Awan dengan enam lengkungan berhasil kami buat. Kami mencoba membuat awan lainnya.
“satu..dua...tiga...empat...lima...enam...” setiap lengkungan awan kami berhitung. Lalu setelahnya saya melepasnya dan membiarkannya menggambar sendiri.
“Ayo coba.”
Dan hasilnya... sebuah garis lurus, bukan lengkungan.
“eh ka, gimana tadi?”
Saya menuntunnya kembali menggambar satu lengkungan, dia melanjutkannya. Namun belum berhasil juga. Berkali-kali dia hapus garis yang dibuatnya. Saya menuntunnya kembali. Lama kelamaan, dia berhasil membuat lengkungan penuh awan. Hm, saya mulai berfikir.
Dia kembali meminta saya membuatkan burung. Hal yang sama saya lakukan seperti tahap membuat awan. Menuntun tangannya membuat burung, kemudian dia melanjutkan. Awalnya, lengkungan buruk yang dia buat. Tangannya menekan pensil, namun lengkungannya masih tetap buruk. Saya akhirnya sadar, dia bukan bandel dan tidak nurut ketika saya meyuruhnya membuat awan, dia hanya tidak bisa membuat lengkungan.
Pantas, dia menggambar gunung, jalan, dan atap rumah yang hanya bergaris lurus, namun sangat kesulitan saat membuat matahari, awan, atau burung. Saya menarik tangannya kembali, membiasakannya membuat lengkungan. Dia mau belajar. Sampai akhirnya dia asyik sendiri dengan lengkungan-lengkungannya.

Iya, ada banyak hal yang mungkin menurut kita sepele. Di saat usia kita menginjak 9 tahun, kita sudah pandai perkalian dua angka. Tapi sebagian orang bahkan belum bisa menambahkan angka. Dari malam itu, saya sangat bersyukur bahwa Allah telah limpahkan saya kemampuan belajar lebih cepat dibanding anak ini. Pengalaman langsung memang selalu membekas di memori kita, bagaimana rasanya tertampar karena sering mengeluhkan kekurangan diri, memandang keatas, membandingkannya dengan kelebihan orang lain, padahal tindakan tersebut merupakan sumber kepesimisan. Lalu lupa sebenarnya kita patut bersyukur atas kelebihan diri. Sempat tak bisa berkata-kata, hanya menyaksikan si anak membuat lengkungan demi lengkungan, lalu, nikmat Tuhan mana yang bisa saya dustakan?
Dunia sosial kemanusiaan memang ranah pembelajaran diri sebagai makhluk Tuhan. Dimana kelebihan dan kekurangan akan saling melengkapi. Ranah tempat kita menemukan banyak sarana untuk bersyukur, lalu merasakan sendiri nikmatnya rasa syukur itu. Sesekali, rasanya seperti dada terhimpit, dan mata mulai tak sanggup menahan laju air, mereka hanya belajar bagaimana cara untuk hidup dan mencari makan untuk kepastian esok perutnya bisa kenyang. Lalu kita lupa untuk berbagi. Manisnya berbagi didapatkan dengan memberi, hal itu adalah sebuah keniscayaan bahwa kita akan mendapatkan lebih banyak dari apa yang kita beri, mungkin tidak saat ini, tapi Allah tidak pernah lupa mencatatnya.
Pelayanan yang kita berikan kepada sesama itu sesungguhnya sewa yang kita bayar untuk tempat di bumi ini. Jelaslah bahwa maksud dunia ini bukanlah untuk memiliki dan mendapatkan, melainkan untuk memberi dan melayani.
                Kemudian saya meninggalkannya malam itu, si anak laki-laki kecil berpakaian kotor yang bahkan, tidak bisa membuat lengkung.

Monday, January 23, 2012

Potensi Akhwat

Soekarno berkata, "Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia" maka seorang akhwat berkata, "Berikan negeri ini sepuluh wanita shalihah, niscaya dari rahimnya akan lahir manusia pengubah peradaban."


hmm, analogi yang keren.
dari rahim wanita akan hadir generasi-generasi penerus bangsa. Namun tidak semua generasi lahir sebagai "yang diharapkan bangsa" , tergantung dari  karakter dan prilaku yang dimiliki individunya. Jelas, pribadi yang diharapkan oleh bangsa adalah pribadi-pribadi yang menjunjung tinggi nilai kebenaran, kejujuran, dan rasa cinta pada Tuhannya, keluarganya, dan negaranya.

Lalu, siapa yang dapat melahirkan generasi yang demikian?
Arti "melahirkan" disini bukan sekedar konteks seorang ibu yang melahirkan anak yang dikandungnya. Melahirkan disini diartikan sebagai sebuah rangkaian proses mulai dari proses kelahiran, pendidikan, hingga pembentukan kepribadian anak.

itulah tugas utama seorang wanita, karena pada dasarnya potensi wanita adalah mendidik. men are born to lead, and women are born to teach. Pada dasarnya, ibu yang baik akan melahirkan anak-anak yang baik pula.

Dalam sebuah seminar muslimah, saya berkesempatan untuk mendengarkan kajian tentang wanita. dr. Tauhid Nur Azhar menjelaskan besarnya potensi wanita dalam mendidik. bahwa 70% kepribadian anak tercermin melalui kepriadian ibunya. Sebab anak mulai belajar pertama kali selama 9 bulan kandungan, ia merasakan apa yang ibunya rasakan. kekuatan antara ibu-anak itu begitu kuat, hingga bila si ibu cemas,gelisah, bahkan stress, anaknya akan belajar sebagaimana apa yang ibunya rasakan.

begitu besar potensi wanita dalam mendidik. Hingga sebuah kisah Nabi Musa dan Nabi Nuh  bisa menjadi perbandingan.
bagaimana seorang Musa yang diasuh dan dibesarkan oleh keluarga Firaun. Namun di tangan Asiah yang hanif lah, Musa tumbuh menjadi manusia terpilih untuk menyampaikan ketauhidan Allah SWT. Meskipun Lingkungannya adalah Firaun dan sekutunya, namun berkat didikan dan kasih sayang Asiah, Nabi Musa dapat tumbuh dengan baik.
pun lihatlah bagaimana kisah Nabi Nuh, yang pada suatu hari beliau alaihisalam, menyeru untuk bertauhid pada Allah SWT, memberi informasi bahwa akan ada banjir besar dan bagi mereka yang ingin selamat hendaknya naik ke perahunya. Titah ini tidak diindahkan oleh istrinya sendiri. Lalu lihatlah bagaimana anak-anaknya. Istri yang durhaka membawa diri anak-anaknya juga binasa. Mereka tenggelam dalam banjir besar itu karena membangkang seruan Nabi Nuh, kemudian mati dalam keadaan kafir. Naudzubillah.

wallahualambishawab.

Thursday, January 19, 2012

Eksodos


Kenapa begitu banyak orang yang bohongi diri melulu?
Kenapa dunia diliputi orang-orang yang tak kenal malu?
Kenapa untuk jujur pun, lidah kaku, bibir sembilu
........

Haha, yaaaa, permisi, orang awam mau berpendapat, sebab katanya di undang-undang dasar 45 ada poin tentang hak asasi untuk berpendapat (ya terus kenapa)
Saya sebenernya bingung, sekaligus mau curhat. Tapi bukan curhat yang bikin bingung (?)

Kalau ditanya, jujur pada diri sendiri, dengan jujur pada orang lain, susah yang mana?
Konteks keduanya sama. Sama-sama perihal kejujuran, mengatakan apa yang sebenarnya terjadi tanpa pengurangan, tanpa penambahan, tanpa pengubahan makna.
Tapi objek yang hendak di-jujur-i nya jauh berbeda. Sekarang, jawab! Jujur sama diri sendiri atau jujur sama orang lain yang lebih susah?
Hah? Apa? jujur itu gampang?
Masa?
(ini yang jawab gini imannya mantap, kalau gitu ceritanya saya nanyanya ke yang imannya belum begitu mantap, tapi baik, ya sedemikian rupa sehingga menjawab jujur itu sulit lah pokonya)
Seandainya jujur itu sulit, saya akan menjawab jujur pada diri sendiri itu jauh lebih sulit.
Mungkin kita bisa jujur, sebenarnya saya suka dengan baju yang dia pakai, saya bilang, “baju kamu bagus banget, kamu nya juga cantik abis.” Jujur ya ceritanya sama orangnya. Tapi, susah ya buat jujur sama diri sendiri, kalau ternyata sebenernya kita sirik, pengen punya baju sebagus itu, wajah secantik itu, body sesemapai itu….

Tapi apalah artinya manusia tanpa hati (etsaaah). Aforismenya adalah hati terdalam manusia mampu mengenali dan mendeteksi kebocoran pipa pertahanan kejujuran. Tapi, kehendak dan keinginan lebih mendominasi pemikiran sehingga sampai hati mengesampingkan urusan nurani. Iya kan? Kalau bukan, berarti ini namanya dekontekstualisasi (??) . Ga sinkron. Padahal nyatanya, memang begini, lebih baik membohongi hati daripada harus kehilangan apa yang ingin dimiliki. Manusiawi kah? Jelas tidak. Sebab manusia memiliki akal dan pikiran, punya acuan mana yang baik dan buruk, entah itu etika, hukum, maupun agama.

Hidup bukanlah melodrama, yang lebih mengutamakan kesan dari pada kebenaran. Hidup dengan jujur itu adalah ibadah, sebab Allah memerintahkannya. Bagaimana bisa seutuhnya jujur pada orang lain bila dalam proses penyampaiannya masih ada butir-butir ketidakjujuran pada diri sendiri?

Orang bijak bilang, kuncinya satu. Namanya ikhlas. Kenal? Kalau belum, segeralah berkenalan. Sebab waktu kita punya limit. Saat mampu mengikhlaskan, kejujuran itu muncul dengan hilangnya gelisah. Karena, gelisah akan menutupi hati. Apa jujur pada diri sendiri masih terlihat sulit? Apa disfonia akut sampai tak perlu bicara lebih baik daripada harus membohongi diri? Jawabnya, jujur itu mudah dan ia adalah jalan yang terbaik.
Jangan kotori perjalanan hidup dengan berjalan bukan sebagai diri sendiri. Jangan berlari meraih citra diri padahal sedang pakai topeng muka malaikat. Bila itu terjadi, hidup sia-sia. Apalagi matinya, lebih sia-sia. Lalu sejarah pribadi ditutup oleh eksodos mengerikan bernama : pembohongan diri.

Friday, January 13, 2012

Mengapa Harus Mereka?


Bismillah..
Terkadang banyak orang heran dan bertanya, mengapa dan kenapa harus mereka?
Yang bajunya panjang, tertutup rapat, dan malu-malu kalau berjalan..
Sering juga banyak yang bertanya.. mengapa harus mereka?
Yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dibanding ke salon, yang lebih sering menghabiskan harinya dari kajian ke kajian dibanding jalan-jalan ke mall, yang sebagian besar waktu tertunaikan untuk hajat orang banyak, untuk dakwah, untuk perubahan bagi lingkungannya, dibanding kumpul-kumpul bersama teman sebaya mereka sambil berdiskusi yang tak penting. Bagaimana mereka merawat diri mereka? bagaimana mereka bisa menjadi wanita modern?
..Jangan khawatir soal bagaimana mereka merawat dan menjaga diri, dan jangan takut mereka akan ketinggalan zaman. Tahukah kamu bahwa kesehariannya selalu bersama dengan ilmu pengetahuan.. Mereka tangguh menjadi seorang pembelajar, mereka tidak gampang menyerah jika harus terbentur dengan kondisi akademik. Mereka adalah orang-orang yang tahu dengan sikap profesional dan bagaimana menjadi orang-orang yang siap untuk sebuah perubahan. Perubahan bagi mereka adalah sebuah keniscayaan, untuk itu mereka telah siap dan akan selalu siap bertransformasi menjadi wanita-wanita hebat yang akan memberikan senyum bagi dunia.

Seberat itukah?
ya, perjuangan itu memang pahit, sebab surga itu manis.

Tuesday, January 10, 2012

Sun and Wind

Pada suatu hari, matahari dan angin bertengkar untuk menentukan siapa yang lebih kuat. kemudian si angin berkata,


"saya akan buktikan bahwa saya yang terkuat. kau lihat lelaki tua disana dengan jaketnya? Saya bertaruh kalau saya mampu melepaskan jaketnya lebih cepat dibandingkan yang kau lakukan."


maka sang matahari pindah ke belakang si awan, kemudian sang angin meniup kencang hampir seperti tornado, namun semakin keras dia meniup, semakin erat lelaki tua itu mencengkeram jubahnya ke tubuhnya.


akhirnya, sang angin menjadi tenang dan menyerah, kemudian sang matahari muncul dari balik awan dan tersenyum ramah pada lelaki tua itu. kini, si lelaki tua menyeka alisnya dan menanggalkan jaketnya. sang matahari kemudian mengatakan pada angin bahwa keramahan dan kelembutan selalu lebih kuat daripada kekuatan dan kemarahan.


Matahari bisa membuat lelaki tua itu menanggalkan jaketnya lebih cepat daripada angin; dan kebaikan hati, pendekatan ramah dan penghargaan dapat membuat orang mengubah pikirannya lebih cepat daripada semua gertakan dan serangan di dunia ini.


ingatlah apa yang dikatakan Abraham Lincoln:


"Setetes madu menangkap lebih banyak lalat daripada segalon empedu."


jadi, mulailah hari ini dengan cara yang ramah :)


Elo Keren?

waktu liburan ini dipakai untuk blogwalking, tumblrwalking.

banyak orang keren di luar sana ya ternyata.
semuanya berlomba-lomba jadi yang terbaik, semuanya ingin jadi bermanfaat. saling mengenalkan ke dunia, bahwa dirinya punya bibit, bobot, bebet untuk kemaslahatan banyak orang, bahwa dirinya punya potensi dan kharismatik untuk membawa orang melihatnya sebagai "orang keren".

Ya! be the best version of you. do the best you can.
sorry, versionnya saya cetak tebal. soalnya ini penting. ga semua orang punya kehebatan yang sama. setiap orang punya hebat-nya masing-masing, jangan diikur dari sudut pandang yang sempit dan parameter yang kecil. 
do the best we can :)
tiap hari, harusnya terus meng-keren-kan diri menuju kebaikan. tiap hari harusnya terus meyakinkan lingkungan, kalau indonesia ga rugi punya kamu.
itu alasan kenapa kita harus terus "bergerak" mencetak takdir sejarah yang baru.

 'Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving. 
  
 

Saturday, January 7, 2012

Eklipsis Palestina


Bismillahirrahmaanirrahiim.
Sebuah kisah yang jika kita hayati mendalam akan menjadi sebuah pembelajaran berharga betapa sulitnya berkorban dan mengikhlaskan. Saya utarakan dengan penuh rasa haru, dengan kata-kata yang saya rangkai seadanya, namun berharap penuh bahwa setiap kata adalah do’a bagi mereka para syuhada di negeri Palestina…


Gerakan-gerakan kecil itu, dari sudut-sudut kota di Palestina yang kini porak poranda. Dari tangan-tangan yang gemetar memegang batu-batu untuk dilontarkan pada musuh. Dari langkah yang mantap melangkah ke depan menuju pembalasan atas kehancuran negeri. Dari cucuran darah yang menetes deras di hidung, di pipi, di pelipis, di mulut. Gerakan intifada’ mewarnai indahnya perjuangan rakyat Palestina atas kedzaliman yahudi.
Tak seimbang. Manusia bisa berkata demikian, namun bagi Allah azza wa jalla, semuanya mungkin. Kun fayakun.
Di kerumunan pasar, rakyat Palestina melakukan kegiatan jual beli seperti biasa. Suatu hari, di kerumunan pasar itu, satu buah bom mendarat menyisakan ledakan api, abu dan bahan-bahan yang dikandungnya. Masyarakat di kerumunan berpencar menyelamatkan diri, namun satu jam setelah itu, mereka kembali untuk beraktifitas di kerumunan pasar. Analogi mengharukan memang. Saat di negara-negara merdeka satu saja ledakan –meskipun kecil- , akan ramai diberitakan. Namun bagi mereka, ini adalah hal yang biasa. Suara bising khas ledakan sudah menjadi santapan mereka sehari-hari.

Seorang ibu, sedang berada di dalam rumahnya dengan suami dan ke-9 orang anaknya. Mereka tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri dan keluarga mereka sekalipun mereka harus siap dengan kematian yang seolah membayang-bayangi semua hidup rakyat palestina.
Subhanallah, hari itu, rumah mereka terhantam bom yahudi, meruntuhkan tembok-tembok dan atap rumah mereka. Sang ibu tak sadarkan diri, pun dengan suaminya. Dan ketika beliau sadar, beliau sedang dalam perawatan seorang dokter. Beliau bertanya, “dokter, apa yang terjadi pada diriku dan keluargaku.” Sang dokter menjawab, “kau selamat, hanya terluka sedikit dan suamimu pun demikian.” Tak puas dengan jawaban dokter, ia pun kembali bertanya, “bagaimana dengan kondisi anak-anakku?”. Dengan muka sedih,dokter menjawab “kesembilan anakmu, insyaAllah, telah syahid.”

Bayangkan bila dirimu berada di posisi wanita Palestina tersebut? Mudahkah untuk mengikhlaskan kepergian anak-anak hasil didikan secara susah payah begitu saya direnggut nyawanya? Bisakah kita setegar wanita Palestina itu yang justru bertasbih “subhanallah, maha besar Allah yang menjadikan anak-anakku syahid.” dan menanyakan :
“dokter, dengan usiaku saat ini, berapa tahun lagi aku mampu untuk melahirkan?”
Dokter menjawab, “sekitar 10 tahun lagi kau masih mampu untuk melahirkan.”
Mendengar itu beliau berazzam, “demi Allah, dalam 10 tahun ini, aku akan melahirkan 10 orang anak, mengurus dan membesarkannya sebagai tentara-tentara Allah, manusia yang berjuang di jalan-Nya”

Subhanallah.

Begitulah wanita palestina. Yang dari rahimnya lah lahir manusia-manusia penggenggam batu, tentara intifada’, pejuang Hammas, dan pembela risalah Allah.
Dari didikannya lah terbentuk kepribadian berkarakter para mujahid.
Mereka tidak mau mengeluh atas keterbatasan, meski perbedaan kekuatan militer jelas mencolok. Batu memang tidak sebanding dengan bom. Tapi, Allah selalu punya kendali. Dia hembuskan rasa takut pada hati tentara Yahudi, meski lawan mereka bersenjatakan batu dan bom berbahan peledak kecil.
Semoga perjuangan didikan ibu luar biasa akan menghasilkan generasi-generasi yang luar biasa pula. Karena ibu adalah madrasah awal, tempat seorang manusia menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Belajar dari wanita Palestina, yang dengan kegigihannya mampu mendirikan madrasah tempat lahirnya manusia pengubah peradaban.



Thursday, November 3, 2011

islamic leader

hari ini lagi gencar-gencarnya kampanye pemilihan presiden BEM baik di fakultas maupun universitas. kemarin, ada kampanye salah satu capres dan cawapres BEM UNPAD, dan hari ini ada debat terbuka capres dan cawapres BEM FKG...

untuk kalian-kalian yang maju sebagai calon, semangat! dan semoga amanah.
sebenernya yang memikul amanah disini bukan hanya ada di pundak sang calon pemimpin, amanah itu salah satunya juga milik kita sebagai "yang dipimpin" yaitu amanah untuk memilih.

Pilihlah sosok pemimpin yang kiranya dapat meningkatkan potensi masing-masing orang yang dipimpinnya, pilihlah pemimpin yang mengerti keinginan orang yang dipimpinnya, pilihlah pemimpin yang seiman dengan kita, pilihlah pemimpin yang mementingkan kelompoknya dibanding dirinya sendiri, pilihlah pemimpin yang bisa menjadi penggerak, pilihlah pemimpin yang kharismanya mampu menggugah semangat, pilihlah pemimpin yang adil terhadap persoalan yang dianggap baik atau buruk.

....tapi, yang paling penting dari itu semua,
pilihlah pemimpin yang tahu fungsi dirinya terhadap tuhannya...

seorang muslim tidak bertanya "saya ingin menjadi apa?"namun seorang muslim akan bertanya,"Allah menginginkan saya menjadi apa?" -Anis Matta


kenapa harus memilih pemimpin yang islami?

berangkat dari ayat Al-Quran, Q.S Al Maidah : 57
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang menjadikan agama kamu sebagai ejek-ejekan dan permainan dari orang-orang yang telah diberikan Kitab sebelum kamu dan orang-orang kafir musyrik itu: Menjadi penolong-penolong dan bertakwalah kepada Allah, jika kamu benar-benar orang yang beriman.
kenyataannya, struktur pemikiran manusia mulai berubah. embel-embelnya, kata globalisasi menjadi tak asing lagi untuk disalahkan atas perubahan yang terjadi. dengan proses globalisasi pemikiran, sebenarnya masyarakat barat mencoba menjadikan dinding pertahanan terkuat kita runtuh, dinding itu bernama iman.Guzwul Fikr (perang pemikiran) sebenarnya dilakukan untuk mematikan hati manusia, karena tanpa iman, sejatinya hati manusia itu akan mati. dan tanpa hati, manusia adalah mayat yang berjalan.
dan itu yang diinginkan para musuh islam, mereka akan terus berupaya meng-sekular-kan islam. sadar atau tidak sadar, inilah perang yang sebenarnya, perang di era globalisasi, perang yang lebih menyeramkan daripada perang secara fisik.

kelemahan-kelemahan itu bisa terjadi salah satunya karena SALAH MEMILIH PEMIMPIN.

adalah tugas kita bersama untuk lebih cermat memilih pemimpin.
kenapa?
karena masyarakat awam masih menganut pemikiran "penokohan". dia yang berperangai baik, akan dicontoh. dia yang berperangai buruk, akan dikucilkan.

kalian tau betapa besar peran pemimpin dalam proses penokohan?
sangat besar.

maka, jadilah pemimpin yang memberi contoh. yang memberi teladan. yang mampu merubah peradaban dengan prilakunya, ketekuannya, kharismanya, dan integritasnya.

karena dakwah, bukan hanya menyeru dan mengajak. dakwah lebih dari itu. dakwah itu merubah

merubah segala sesuatu menuju arah koridor aturan Illahi...

Tuesday, December 28, 2010

Suti

Kali ini giliran Suti lagi. Tiap kali mereka cakap, ada saja yang ditertawakannya tentang Suti. Suti memang hanya gadis polos dengan wajah biasa-biasa saja. Kulit tubuhnya kuning langsat, dia asli pribumi. Matanya bundar dan bolanya berwarna hitam pekat. Kau lihat bulu matanya? Begitu lentik. Namun hidungnya pesek dan rambutnya panjang tak terurus. Tubuhnya semampai. Lalu apa yang mereka tertawakan?

Suti si gadis polos, tak banyak bicara. Tak banyak pula yang mengenalnya. Sifat pemalunya begitu besar. Aku salut, karena aku tak bisa seperti itu. Aku tak banyak mengenal dirinya.

Pagi yang cerah tampak dia bawa tiap hari saat mulai memasuki kelas. Tak berkata apapun. Suti hanya duduk, lalu sesekali tersenyum bila orang lain memerhatikannya. Keramahtamahan dan kemisteriusan akan dirinya sesekali membuatku ingin bertanya, apa gerangan yang dia pikirkan? Tak pernahkah dia berpikir untuk berkawan dengan banyak orang? Tak pernahkah dia berkeinginan menceritakan perasaan jatuh cintanya pada kawannya sebagaimana yang biasa mereka lakukan bila sedang dilanda cinta? Apa gerangan yang membuatnya menjadi pendengar setia ketimbang pembicara ulung?

Tapi ini lain. Lalu ada angin dari mana tiba-tiba Suti mendekatiku lalu memulai pembicaraan aneh ini? Dia memejamkan matanya, lalu mengatakan, “aku akan menanyakan padanya secara langsung”. Aku sama sekali tidak mengerti.

Dan benar. Mereka kembali menertawakannya. Tampilan luar Suti memang tidak begitu baik. Aku berfikir itulah alasan mengapa Suti ditertawakan. Tapi mereka tidak tahu bahwa dirinya memiliki hati yang lebih jernih dari apapun yang pernah mereka lihat. Kecantikan itu tersembunyi dalam-dalam dan enggan ia keluarkan. Mereka tidak tahu.

Inikah Suti? Berani ia bertanya pada mereka. “ada masalah?” dan mereka dangan senang hati menjawab “ya!”. ”apa?” yang paling besar menjawab “kau tanyakan saja pada kaca di rumahmu!”

“terimakasih” kembali Suti menyunggingkan senyum. “akan kulakukan”

Tak ada rasa marah apalagi bersedih hati. Ia tetap Suti yang biasa. Aku benci cara mereka memandang orang. Aku berdoa untuk seluruh Suti-Suti lain, agar kecantikan hati yang tak terlihat tetap terjaga. Tak peduli mereka bagaimana dan apadaya.