Showing posts with label menjelajah dunia. Show all posts
Showing posts with label menjelajah dunia. Show all posts

Tuesday, June 28, 2016

Travelling ke Turki (1) : Persiapan


Mengabdikan perjalanan dan pengalaman menjelajah berbagai tempat lewat foto, video, atau tulisan sekarang menjadi viral . Sebuah momen yang sangat menyenangkan memang terlalu eksklusif jika hanya dinikmati sendiri. Perlahan mungkin saja hilang karena otak manusia toh punya kadar kadaluarsa. Mungkin itu salah satu alasan orang berbagi pengalaman melihat dunia di luar tempurungnya. Meskipun sudah banjir informasi tentang perjalanan ke Turki di internet, tapi pengalaman setiap orang tidak pernah ada yang sama. Pertanyaan klasik dari orang yang kepo tentang pengalaman backpackeran orang lain adalah : “BERAPA BUDGETNYA?”

Sebuah pertanyaan yang juga menjadi top list saya sebelum berangkat. Tentu saja, haha.

Saya penggemar Turki. Makanannya, Sejarahnya, bahkan TV series nya. Saya habiskan satu minggu streaming sinetron Turki 80 episode yang masing-masing episodenya berdurasi 2 jam, via youtube! 30 episode diantaranya tidak ada subtitle inggrisnya. Saya pura-pura mengerti saja.
Sebelum kami menikah, suami saya tahu betul saya suka Turki. Jadi, dia berbaik hati mengumpulkan sebagian rezekinya untuk mengantarkan saya melihat Turki. Alhasil, tepat 365 hari (satu tahun dikurangi 1 hari kabisat) setelah kami menikah, kami berangkat menuju Turki.

Pencarian tiket adalah hal pertama yang harus dilakukan. Berburu tiket murah adalah kewajiban bagi para istri yang semi pengangguran seperti saya dan ngebet kepingin traveling tapi dana pas-pasan. Mengikuti biro tur perjalanan adalah sebuah kemubaziran mutlak untuk mendatangi Turki jika hanya pergi berdua dengan pasangan. Percayalah. Selagi  muda dan jiwa berapi-api, backpacker adalah pilihan paling tepat. Turki adalah negara dengan pendapatan terbesarnya adalah dari sektor pariwisata, itulah mengapa Turki sangat tourist-friendly, semuanya dirancang mudah untuk para turis. Selain biaya yang sudah pasti jauh lebih murah, menikmati momen Turki semau kita tidak akan pernah didapat jika kita mengikuti tur.

Qatar Airways adalah pilihan kami. Saat itu Qatar Airways sedang membuka promo besar-besaran untuk terbang ke berbagai belahan bumi periode booking hanya dalam satu minggu, 11 Januari – 17 Januari 2016. Setelah mengetahui info ini, saya langsung terjun menyelami berbagai situs pencari penerbangan murah. Mulai dari wego, skyscanner, cheapflights, dan via. Keuntungan dan kelebihannya masing-masing situs silakan googling sendiri. Akhirnya kami membooking tiket pesawat memakai Via.com. Sudah hampir deal dengan skyscanner tapi kalau dihitung-hitung entah mengapa lebih mudah dan murah pakai Via.

Saya pantengin terus harga tiket Turki dari sejak 12 Januari 2016. Penerbangan paling murah harus dimulai dari Kuala Lumpur atau Singapura. Harga tiket kalau berangkat dari Indonesia lebih mahal, bisa beda sampai 2-3 juta. Harga saat itu masih 5,5 juta PP Kuala Lumpur-Doha-Istanbul // Istanbul-Doha-Jakarta. Tangan sudah mulai gemes kepingin beli. Harga asli Qatar Airways kelas ekonomi ke Turki berkisar 10-12 Juta PP. Karena suami saya di Jakarta dan saya di Bandung, komunikasi untuk pembelian tiket kami jadi terkendala. Sebenarnya lebih asik diskusi dan menentukan pilihan bersama sambil duduk bareng minum kopi ala-ala orang pacaran. Jadi, saya menunggu kepulangan suami ke Bandung hari Sabtu, 16 Januari, satu hari sebelum periode booking berakhir.

Daaaan..... jreeengjreeeng.............. saya harus hancur sebelum berperang  mengetahui bahwa hargan promo tiket terus berubah dibanding  awal periode. Saat itu, saya harus berpuas hati mendapat tiket 6,65 juta PP perorang. Hiks. Padahal awalnya 5,5 juta. Kan lumayan sejuta. Bisa buat beli beras berkilo-kilo. Huks

Pelajaran pertama : kalau ada tiket promo, langsung hajar saja. Perihal nanti gimana, kalau ke Turki semua bisa mudah dipersiapkan.
Tiket Jakarta-Kualalumpur kami menggunakan Air Asia seharga 390ribu perorang tanpa bagasi. Sialnya, kami tidak teliti kalau itu tanpa bagasi. Tentu saja kami harus bayar bagasi di bandara dengan harga yang lebih mantap. 370ribu.

Urusan tiket selesai. Selanjutnya?

Visa.
Turki berbaik hati menawarkan visa on arrival (VoA) pada turis-turisnya. Kabar lebih baiknya lagi, kita tidak perlu mengantri di bandara turki untuk mengurusnya, karena sudah ada e-visa turki. Dalam waktu 5 menit dengan duduk santai depan laptop, e-visa sudah bisa didapat, berlaku 5 bulan untuk masa kunjungan maksimal 30 hari. E-visa Turki dapat diakses melalui http://www.evisa.gov.tr/en/

Hati-hati dalam mengisi setiap data, karena saat sudah tercetak, kita tidak bisa mengedit data yang salah. Otomatis kita harus membuat evisa yang baru, itu sama saja dengan membeli baru. Harga satu evisa adalah 25USD. Waktu itu, suami saya entah terlalu cinta dengan kota kelahirannya atau berpikir saya dilahirkan dua kali, dia mengisi data tempat lahir saya di Balikpapan padahal saya lahir di Bandung. Tidak mau pusing belakangan kalau ketahuan petugas imigrasi turki, maka saya membuat e-visa baru.


Akomodasi.
Turki adalah surganya penginapan murah.  Hotel, Hostel, Apartemen,  Pension, Airbnb bertebaran dimana-mana. Saya memulai mencocokkan itinerary yang saya buat untuk membooking hotel. Ada banyak situs online pemesanan penginapan. Agoda, hotel.com, booking.com, kayak.com, hotelcombined.com, airbnb.com, dan lain sebagainya. Awalnya kami tertarik mencoba airbnb yang bisa menyediakan dapur kecil. Setidaknya kami bisa membuat makanan sendiri untuk menghemat pengeluaran. Tapi setelah dipikir-pikir, rasanya bawa bahan makanan kesana akan cukup menyulitkan. Dan benar saja, waktu kami bahkan tidak cukup untuk memenuhi seluruh itinerary yang dibuat karena keterbatasan waktu, apalagi untuk memasak. Makanan di turki melimpah ruah, kamu tidak akan kelaparan karena dengan uang 4TL (20.000IDR) kamu sudah bisa makan kenyang.

Akhirnya lewat booking.com kami memesan hostel  dan pension.

Di istanbul, kami menginap di Antique Hostel  3 malam (72Euro/3 nights);
 di Selcuk kami menginap di Tucay Pension (33Euro/night),
dan di Goreme kami menginap di Rock Valley Hotel (24Euro/night).

*review penginapan akan dibahas kapan-kapan (kalau lagi rajin) haha.

 Di kota-kota lain kami hanya melakukan daytrip dan overnight buss. Mengambil bus malam adalah pilihan bijak.  Tempat wisata turki berada di kota yang berbeda-beda, perjalanan dari satu kota ke kota lain akan memakan banyak waktu. Selain tidak membuat mubazir waktu jalan-jalan di siang hari, pengeluaran untuk penginapan tentu akan berkurang. Penumpang akan sampai di kota tujuan pada pagi hari.

dan karena pertanyaan utama dari orang-orang kepo adalah "berapa budgetnya?" maka saya akan menguraikannya

total budget untuk persiapan :
Tiket Qatar Airways PP 2 orang : Rp 13.664.000
Tiket Air Asia CGK-KUL 2 orang : Rp 780.000
Bagasi Air Asia : Rp 370.000 (hiks)
E-Visa 2 orang : 50USD (anggap 1 USD = 13.000IDR) Rp 650.000
Akomodasi : 129 Euro (anggap 1Euro = 14.500IDR) Rp 1.870.500

total : Rp 17.334.500

Sebenarnya hanya tiga itu yang perlu dipersiapkan untuk travelling lalu. See? harga tiket memang selalu memakan porsi terbesar. Selamat berburu tiket promo J

Thursday, March 20, 2014

umroh (1)

“Maka, nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?”

Tahun 2012 lalu, keinginan itu datang. Sambil membaca sebuah brosur, saya kemudian membayangkan bulan depan saya menginjakkan kaki di tanah itu. Seenak jidat. Sayangnya, uang bukanlah daun yang betebaran. Judulnya ibadah, supporting system nya bernama ketersediaan financial. Maka entah bagaimana caranya, dengan kondisi tabungan mahasiswa tanpa beasiswa dan tanpa usaha apa-apa, saya beranikan diri menulis mimpi di buku agenda saya :



Sekali lagi, 6 Juni 2012 lalu saya menulis ini, tanpa tahu bagaimana caranya bisa sampai melihat kiblat seluruh muslim dipenjuru dunia. 

2013, hanya butuh satu tahun saja, Allah beri saya kabar menyenangkan. Hanya butuh satu tahun saja, Allah jawab keinginan saya. Dari arah yang tidak disangka-sangka, orang tua saya mengajak saya ikut umrah.  Lebih cepat dari apa yang saya impikan. Sebelumnya saya merasa tidak mampu, tapi ternyata Allah mampukan…

Kita meminta, Allah mendengar. Masalah dikabulkan? Kita lihat nanti.

Akhirnya, akhir 2013 saya mendaftar untuk pergi ke baitullah. Tempat impian seluruh muslim untuk melengkapi rukun islam nya. Semuanya dipermudah, sampai minggu-minggu keberangkatan, semuanya berubah… ketika negara api menyarang, ketika Jowoki akhirnya nyalon presiden (?)

Saya memilih berangkat bulan Februari 2014, ketika saya sedang libur semester. Awalnya travel berangkat tanggal 3 Februari, tapi dengan semelekete, karena satu dan lain hal, travel akhirnya mundur berangkat jadi tanggal 23 Februari, sedangkan saya masuk kuliah tanggal 17 Februari. Awalnya saya berpikir, yaudah lah ya, awal-awal kuliah biasanya belum terlalu efektif. Toh tahun lalu saya juga pernah izin kuliah waktu ke Malaysia dan Singapura meninggalkan tutorial dan praktikum, tapi berjalan lancar kemudian, tanpa ketinggalan perkuliahan.

Kali ini berbeda, dengan kaget bukan main-main, ada satu blok mata kuliah yang selesai dalam waktu 2 bulan saja. 2 bulan saja. Bukan main singkatnya. 8 kali tutorial, persentase kehadiran minimal 80%. Dalam satu minggu ada 2 kali pertemuan. Dan……….. itu artinya saya akan absen dalam 4 kali pertemuan tutorial. Yang artinya lagi, saya hanya hadir 50% dari total pertemuan.  Sesingkat itu, tapi sks nya 5. Kejam.

Dengan was-was, saya menghadap dosen ketua blok ini. Meminta izin untuk meninggalkan kelas. Apa hasilnya? Saya digantungin L jawabannya “ya, kita lihat nanti”. Ini membuat saya galau luar biasa. Masalahnya, kalau saya tidak diizinkan ikut ujian, artinya saya harus mengulang blok ini, sedangkan tahun depan harusnya saya sudah masuk koas, sudah harus selesai dengan semua materi di preklinik. Jika masih ada kendala dengan urusan preklinik, klinik (koas) saya bisa ditunda jadi tahun depannya lagi, naudzubillah. Tapi bismillah, dosennya baik koo.. baik bangeeet… baik super super baiiiik *positive thinking*insyaAllah saya boleh ikut ujian akhir (aamiin, aamiin, aamiin)

Selesai dengan urusan izin kuliah (tutorial dan praktikum) *meskipun masih digantungin* maka masalah yang kedua adalah masalah “ke-cewe-an”

Kalau dilihat dari track record nya, saya adalah wanita dengan siklus menstruasi yang normal. Dari bulan ke bulan berikutnya biasanya selalu tepat waktu, maju 2-3 hari dari bulan sebelumnya. bulan Januari, saya menstruasi tanggal 16, artinya, dengan perhitungan kalender menstruasi saya akan haid lagi tanggal 14-an, dan selesai sebelum berangkat umrah. Urusan selasai. Case closed.

Saya lega ketika memilTapi, tanggal 14 Februari berlalu begitu saja. Saya mulai was-was. Tidak biasanya. Saya tunggu, barangkali mundur. Sepupu dekat saya baru saja pulang umroh, saya tanya ini dan itu, dan katanya, dia konsultasi ke dokter karena tanggal keberangkatannya adalah waktu-waktu dimana doi menstruasi. Akhirnya dokter meresepkan obat perangsang menstruasi (primolut 5 mg norethisterone).  5 hari konsumsi obat, langsung haid. Hari itu juga saya ke dokter. Tapi kata dokternya primolut itu kerjanya penahan haid. Artinya dengan meminum obat itu haid ditunda keluar, jika konsumsi obat dihentikan, maka haid akan keluar. Saya galau. Mama ikut galau. Untungnya, persediaan obatnya sedang habis, saya pergi ke klinik praktek dokter, bukan rumah sakit, jadi kata dokternya obat itu biasa di stok di bulan-bulan Haji, karena Februari bukan bulan Haji, jadi habis. Saya dibuatkan resep untuk ditebus di biofarma.

Sampai di rumah, kegalauan itu berlanjut. Mama tidak setuju saya mengonsumsi obat itu. Mungkin pikiran orang tua yang masih awam dengan kinerja obat seperti mama saya, akan berpikir macam-macam. Memiliki anak gadis, mama bilang bahwa apapun yang berhubungan dengan peranakan itu sangat berharga. Meskipun saya mahasiswa yang belajar tentang obat-obatan, sulit meyakinkan mama tentang indikasi obat atau efek samping yang akan ditimbulkan. Mama tetap bersikeras, tunggu saja, insyaAllah keluar dengan sendirinya katanya.

Tanggal 16 berlalu. Artinya, seminggu lagi saya berangkat. Saya biasa selesai menstruasi dalam waktu 6 hari. Artinya, jika sampai tanggal 18 saya tidak haid, maka umroh saya akan sedikit terganggu dengan tidak bisanya saya beribadah. Sayang sebenernya, jauh-jauh kesana, mahal-mahal kesana, dengan waktu yang sebentar, tapi gak bisa sholat di masjidil haram, hiks..

Pada akhirnya saya pasrah, hiks. Tanggal 18 akhirnya datang juga.  Saya kuliah seperti biasa. Waktu duha datang, saya ambil wudhu, sholat duha, dan berdoa sekhusyu-khusyu nya. Saya cuma minta dimudahkan  dan dilancarkan. Allah menjawab, jam 11 siang (masih inget banget, haha) tanggal 18 Februari, saya izin ke toilet, dan Alhamdulillah haid nya keluar.

Seneng banget, artinya umroh saya tidak akan terganggu. Ini masalah cewe banget, dan saya tulis disini. Siapa tau jadi info bagi para wanita yang mau umroh tapi punya masalah seperti saya. hehehe, bisa kok konsumsi obat primolut, asal orang tuanya mengizinkan haha.

Tanggal 24 saya selesai haid, bahkan saya mandi besar nya di toilet bandara Yaman, sewaktu transit  sebelum ihram di pesawat perjalanan Sanaa – King Abdul Aziz. Alhamdulillah…