Showing posts with label DailyLife. Show all posts
Showing posts with label DailyLife. Show all posts

Saturday, May 11, 2013

biosphere


Seorang bayi manusia dirawat oleh sekelompok kera, si bayi tumbuh selayaknya kera tumbuh. Nama bayi itu kemudian terkenal sebagai Tarzan. Cerita ini menjadi fenomenal karena dikemas oleh sentuhan magic Disney yang membawa kita pada negeri imajinasi. Bukan karena Tarzan jatuh cinta pada Jane yang membuat cerita ini istimewa, karena soal cinta, toh Belle pun bisa jatuh cinta pada Beast. Ini soal lingkungan yang menumbuhkan tingkah laku Tarzan, anak manusia dibesarkan oleh sekelompok kera.


Saya bukan peneliti yang sedang membuktikan seberapa besar determinasi lingkungan terhadap perilaku seseorang. Saya hanyalah seorang manusia biasa *hadeuuh*. Tapi saya yakin, pengaruh lingkungan sangat amat besar dalam pembentukan karakter seseorang. seperti halnya dalam film animasi *ketauan tontonannya beginian* semisal Tarzan. Karakter Alex dalam Madagascar pun rupanya mengajari kita, dimana kita hidup, disitulah karakter kita terbentuk. Alex yang sedari kecil hidup terkurung dalam kebun binatang Central Park New York, merasa diri superstar, dan bukan menjadi se-superstar sebelumnya ketika dia harus  berhadapan dengan alam bebas Madagascar. Lingkungan kebun binatang membentuk kepribadian Alex. Dan lingkungan hutan membentuk kepribadian Tarzan. Meskipun hanya dalam film, tapi saya suka cerita ini *terus kenapa?* Dalam akhir film, mereka bisa berubah selayaknya manusia dan selayaknya singa yang sebenar-benarnya, seutuhnya. Tapi satu hal, mereka harus keluar dari zona lingkungan mereka dulu, belajar bertemu orang baru, mencari jati diri, dan akhirnya memutuskan bersikap *saya bukan psikolog, tapi menurut kesotoyan saya, kayanya sih teorinya gitu *


Posisikan diri kita sebagai Tarzan-Tarzan abad 21. Masih mencari jati diri, masih galau menentukan jalan hidup, masih suka plinplan, masih suka bingung memutuskan *dan ini malah jadi curhat* buatlah satu keputusan besar : keluar dari zona nyaman. Cari lingkungan yang kece, yang membawa pada kebaikan. Bergaul dengan orang-orang yang gemar menasehati dalam kebaikan dan kesabaran… yap, buatlah keputusan besar. Orang baik selalu menerima kehadiran orang yang berniat untuk mempelajari kebaikan. *kaya ustadzah gini -,-


Saya wanita dari kampung, dan terancam berpikir kampungan tulen kalau tidak terselamatkan oleh nasib. Alkisah, kakak saya karena kesalahan sistem *maaf lagi-lagi nyalahin sistem*dia engga bisa masuk SMP negeri, sekalipun SMP Negeri di Kabupaten. Nilai Ebtanasnya kecil. Akhirnya semua kebingungan, untung saya masih TK, jadi engga ikut-ikutan bingung. SMP swasta di kabupaten Bandung Timur belum ada yang bagus, terus mahal pula. Setelah nangis berkawan bantal berhari-hari, kakak saya mendapat secercah harapan. Kebetulan tetangga kami itu kepala sekolah SMP Darul Hikam Bandung, SMP Swasta yang cukup bagus lah ya. Melepas kebuntuan, ibu saya mendaftarkan kakak saya ke SMP tersebut, yaaaaang, jauhnya bukan main dari rumah.


Biasalah ya ibu-ibu tukang gossip di warung kasak kusuk. Katanya buat apa sekolah jauh-jauh, sekolah dimana aja sama. Catat baik-baik di ingatan Anda  pembaca yang setia, di pikiran kebanyakan orang tua ternyata masih kolot dengan mengatakan “sekolah dimana saja sama”. Saya sama seklai tidak setuju. Ada faktor X yang membedakan satu sekolah dengan sekolah lain. Faktor X itu bernama lingkungan. Iya, lagi-lagi lingkungan.


Kalau saya diizinkan berandai-andai, maka saya akan berandai-andai seandainya nilai ebtanas kakak saya bagus. Ibu saya akan mendaftarkan kakak saya di SMP Rancaekek, kemudian lanjut SMA Rancaekek, dan kuliah entah dimana. Adiknya tentu akan mengikuti jejak kakaknya, SMP SMA lalu kuliah entah dimana. Selalu ada makna dibalik semua pertanda *ßini lirik lagu*Allah punya maksud yang lebih indah, diluar nalar seorang manusia. Ternyata, karena nilai ebtanas kakak saya buruk, akhirnya dia ikut berjuang bersama tetangga pulang-pergi naik kereta api berangkat subuh pulang magrib, demi pendidikan. That’s life. Show must go on.  Dan karena lingkungan, akhirnya kakak memilih untuk masuk SMA 3 Bandung. Dan seperti kebanyakan anak 3 yang lain, kakak saya melanjutkan studi ke ITB. Otomatis, teori adik mengikuti kakak itu berlaku. Akan berbeda hasilnya jika teori “sekolah dimana saja sama” masih berlaku di otak kita. Beberapa kawan kecil saya ada yang hidupnya lunta-lunta, hilang arah, berandal, cinta dunia dan bangga pada dosa, main tindik tindik tubuh mirip sapi. Kawan saya lainnya kini visioner, optimis pada masa depan yang cerah, dan menghargai hidup, dan dengan segala kesotoyan saya, lagi-lagi saya melihat mereka pada background lingkungan dimana mereka dibentuk. Padahal sama-sama hidup dibawah langit Kabupaten Bandung Timur. Lingkungan membentuk saya, membentuk Anda, membentuk semua orang. Jadi menurut saya, keputusan untuk memilih lingkungan haruslah diutamakan.


Berkawanlah. Itu salah satu prinsip menjalani hidup. Manusia butuh teman. Dan sahabat adalah deskripsi diri. Kalau mau menilai seseorang, lihat dari teman-teman terdekatnya. Lingkungan mendeskripsikan kita. Itu sebabnya Rasul mengibaratkan pertemanan dengan penjual minyak wangi dan pandai besi

Sesungguhnya kawan duduk dalam rupa orang yang shalih dan kawan duduk dalam rupa orang yang suka maksiat adalah seumpama tukang minyak wangi dan pandai besi. Tukang minyak wangi boleh jadi akan mencipratkan minyak wangi ke badanmu, atau engkau membeli minyak wangi dari dia, atau engkau mendapatkan bau harum dari dirinya. Adapun pandai besi boleh jadi memercikkan api ke bajumu atau engkau mendapati bau busuk dari dirinya.” (Mutaffaq ‘alaih). 

Seseorang itu bergantung pada agama  sahabatnya. Karena itu, hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia bersahabat.” (HR Abu Dawud).
Terimakasih untuk mereka yang menyadarkan saya teori ini. Selektif memilih adalah modal awal dalam berkawan. Pandai-pandai membawa diri, sebab kita tidak pernah tahu bagaimana arus akan membawa kita. Butuh gaya yang besar untuk memulai. Momen inersia manusia untuk bergerak itu sepertinya luar biasa besar. Benda akan cenderung mempertahankan posisi diamnya, itu kata guru fisika. Tapi, daya tarik lingkungan yang baik –harusnya- memberikan dorongan yang lebih kuat, sehingga kita bisa memutuskan untuk beranjak dari lingkaran gelap, menuju cahaya yang terang benderang. Percayalah, bahwa tidak ada yang kekal di dunia, orang jahat sejahat-jahatnya bisa menjadi baik sebaik-baiknya, dan orang baik bisa berubah 180derajat menjadi orang jahat sejahat-jahatnya. Lingkungan merubah mereka. Lingkungan merubah kita…

sekian

Salam Hangat & Jabat Erat.
DN


Thursday, August 16, 2012

Nomenclatur Ngelantur


Setiap Ramadhan punya cerita. Unik dan berbeda. Sarat kesan, asli, tak mengada-ada. Ia terjadi pada setiap kita. Dimulai saat diri mengikrarkan tekad untuk menyambut ramadhan dengan iman dan suka cita.
Inilah Ramadhan saya. sejak awal meniatkan diri untuk berpuasa penuh, setiap tahun, berganti edisi, namun tetap dengan segenap keistimewaan yang melekat erat padanya.

Inilah Ramadhan saya. Manusia itu spesial, makanya diberi nama. Anda akan memberi nama pada hewan peliharaan bukan hanya karena Anda berperikehewanan, tapi juga karena Anda sayang padanya. Bahkan saya menamai pensil-pensil saya, bukan hanya karena saya menyayanginya, juga karena saya tidak mau kehilangannya… (males beli lagi). (gapunya uang) (mending beli semangka)

Maka Ramadhan yang teristimewa pun, masing-masing punya ‘nama’. 
Belasan tahun yang lalu, menahan dahaga adalah ujian paling berat. Melihat air es lama-lama bisa membuatnya gerah. Bocah itu menamakan Ramadhan di usia dininya sebagai Ramadhan Uji Coba.

Ramadhan berganti Ramadhan. Sampailah kita pada Ramadhan dua tahun yang lalu. Beritikaf dan berbakti sosial ramai-ramai. Ramadhan cikal bakal mengenal manisnya cinta manusia karena Allah. Menggenapkan segala titik-titik yang ada di sepanjang garis lurus yang kokoh bernama ukhuwah islamiyah. Maka, Ramadhan kali itu saya beri nama Ramadhan Ukhuwah.

Ramadhan tahun lalu,ramadhan untuk merenda mimpi baru. Mengisi buku harian dengan menulis besar-besar “detin ingin sukses, detin mau sukses, detin harus sukses.” Menambahkan : ayo jadi anak yang sholehah, pelajar yang baik, istri yang berbakti, ibu yang teladan, dokter gigi yang cekatan. Maka Ramadhan kali itu diberi nama, Ramadhan Mimpi.

Tahun ini, pasti ada sesuatu yang baru. Dan itu terasa ketika Ramadhan hendak pamit meninggalkan. Di penghujung bulan suci, saya mulai merasa ada satu tema di Ramadhan kali ini. Entah karena seringkali dicekoki materi tentang al-quran, entah karena target tilawah yang ditingkatkan, entah karena melihat tulisan dan tayangan yang mengenyuhkan. Semuanya, serasa satu tema. Yaitu Al-Quran. Jadi Ramadhan tahun ini namanya, Ramadhan Al-Quran.

Saya tidak bermuluk-muluk, saya cuma ingin bercengkrama lebih akrab dengan al-quran.  Mengenalnya lebih dalam. Ta’aruf, lalu melamar. (???) ini quran atau jodoh -___-  baiklah, selama ini saya hanya bertemu dengannya sekali-sekali,sekali selepas magrib, selebihnya dia manis tertutup, tersimpan di tas yang saya bawa kemana-mana. Aneh, selalu dibawa tapi jarang dibuka. Grrrr

Kali ini ditegur habis-habisan. Habis saya sama teguran. Teguran menghabisi saya. saya teguran habis-habis. Tegur-tegur habis sama saya.  Habis-habis saya sama tegur. Aaaaakk, saya kenapa…  Ramadhan tahun ini, saya merasa dapat ilham (siapa diaaa??? Anak tetangga? :O ). Hidayah itu turun begitu saya menyadari di luar sana banyak sekali orang yang sedang tertatih-tatih berbanjir  peluh (?) menghafal alquran.

Rasulullah saw bersabda:”Bacalah al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat nanti memberi syafaat bagi orang yang membacanya.”(H. R. Muslim).

Rasulullah Saw bersabda, ”Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan yang mengajarkannya” (H.R. Bukhari).

Rasulullah saw bersabda : ”Orang yang pandai membaca Al-Qur’an akan ditempatkan bersama kelompok para Malaikat yang mulia dan terpuji. Adapun orang yang terbata-bata dan sulit membacanya akan mendapat dua pahala.” (H.R Bukhari & Muslim).

Rasulullah Saw bersabda: ”Barangsiapa yang membaca satu huruf Kitabullah maka ia mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tapi alif itu satu huruf(H.R at-Tirmizi)

Rasulullah saw bersabda: ”Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah (al-Qur’an) dan mempelajarinya, melainkan ketenangan jiwa bagi mereka, mereka diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan para Malaikat yang ada di sisi-Nya.” (H.R Muslim).

Jelas kan? Intinya, saya cuma mau lebih bersahabat dengan Al-Quran. Mambacanya, menghafalnya, terpenting, mengamalkannya. Semoga Allah memberikan kemudahan. Aamiin

Pada tulisan ini, saya resmikan : detin, sahabat Quran. *prokprokprok* *gunting pita* *potong tumpeng*  sah??? SAAAAAHHH…. *tandatangan surat nikah* (?????)

Thursday, August 9, 2012

Aterek-Aisunam

pada masanya, anak-anak kecil bergegas memakai baju koko atau mukena barunya. berlarian menuju masjid tercinta yang terselimuti jingganya kanvas langit senja. bedug mulai ditabuh. speaker berulang kali di tes,"tes..tes..satu..dua..satu..dua."
dan tinggal beberapa hari lagi, saya akan melihat fenomena itu lagi, jika Allah berkehendak. Setelah perjuangan sepuluh hari terakhir, dimana setoran tilawah digeder-geder, itikaf menjadi hal yang dinanti-nanti. maka setelah itu, di rumah sudah pasti akan ada kulit ketupat yang siap untuk diisikan beras, artinya, lebaran semakin mendesak keluar.

tentang lebaran, tentang mudik. sebelumnya saya tidak bisa terima hipotesis ibu saya yang menyatakan bahwa saya tidak pandai dalam permudikan.Saya yang masih kecil (?) dari awal sejarah mudik, hingga beberapa tahun lalu -menolak keras kalau hal ini terjadi sampai sekarang- selalu tertidur sepanjang perjalanan. Saya mulai menguji coba dan bereksperimen dengan hipotesis ibu saya (?)

ternyata, dalam catatan perjalanan hidup seorang detin nitami, tidak banyak momen romantis saat dalam perjalanan. Kecuali jika dalam perjalanan dengan teman-teman, yang itupun dipaksakan untuk tidak tidur, dengan alasan : m-a-l-u. Selebihnya, saya rasa tidak ada yang cukup menarik perhatian dalam perjalanan panjang selain, tidur.

satu jam awal, saya yang dengan kondisi baru mandi, segar, masih menikmati pemandangan jalanan yang monoton. Saat posisi kepala semakin nyaman dengan kursi, otot-otot mata saya mulai relaksasi, pusat rasa kantuk di otak saya aktif sekatif-aktifnya, dan akhirnya, tertidur. 

saya mulai semakin meyakini hipotesis ibu saya, saat saya berpergian dengan mobil, dengan angkot -tertidur dalam angkot (?)- dengan bis, dengan kereta, bahkan dengan pesawat yang notabene tidak setiap waktu saya bisa naiki, saya tetap tidur.

mungkin di dunia ini banyak hal yang mudah dilakukan, seperti membalikkan telapak tangan atau merangsang saya untuk tertidur. saya tidak pernah butuh obat tidur, saya tidur kapanpun saya mau...dan dimanapun -,-
tapi semakin dewasanya saya, saya mengurangi intensitas tersebut -pembelaan diri-
kalau dulu naik kereta, beberapa hal yang bisa saya lakukan adalah tidur, atau melihat barang bawaan orang lain, atau mengumpulkan tiket kereta yang orang buang sembarangan lalu mengumpulkannya ke dalam tas. Tas menjadi tidak jelas fungsinya :( sekarang, saya jadi senang naik kereta, sambil membaca buku, memberi garis bawah atau stabilo pada kata-kata yang menjadi inspirasi, kemudian merenung seperti seorang penyair yang hendak menuangkan kata, merenung......merenung....merenung...........kemudian tidur. aaaaakk &*^%$#@!*()&^

haha, interupsi! kalimat terakhir tidak (kurang) benar :p saya akan merenung, merefleksikan hari-hari saya kebelakang yang memang kering prestasi. Lalu mengajak ngobrol diri sendiri, terkadang seperti orang gila yang manggut-manggut sendiri.

memang kurang jelas korelasi antara kereta dan penyakit tidur. karena di kereta indonesia jarang ditemukan lalat tsetse. Dan sebagian kecil waktu saya memang habis di kereta. Ah, Saya memang manusia kereta.

sleep in the train :D

jadi, hipotesis ibu saya hanya berlaku sementara. saat ada eksperimen lebih lanjut yang menggugurkan si hipotesis. ternyata saya bisa tidak tertidur, kalau menemukan hal yang menyenangkan,
mungkin salah satunya, berbincang selama perjalanan, bersama.... kamu (?)

Sunday, May 6, 2012

Nostalgila

Widih, dahsyat! melihat foto-foto lama kembali, membuka catatan-catatan yang rapi tersimpan dalam locker otak sejak lama,dor! bercokol keluar.
Menemukan harta karun dari negeri tempat kuda delman bersahaja dipekerjakan dan batu-batu setia pada tuannya membuat undakan demi undakan, dari negeri dimana harga cumi asam manis hanya limaribu rupiah saja, dari negeri tempat bencong dengan leluasa memamerkan  jakun, bulu kaki, dan bulu dadanya, menyanyi dan menari di pinggir-pinggir pedagang  yang menjajakan batik-batik negeri atau dipinggir orang-orang yang melahap lapar makanannya, dari negeri yang katanya banyak berdiri perguruan tinggi, iya, dari Jogjakarta.

Tidak pernah ke Jogjakarta dengan rencana liburan, selalu karena ada agenda hal perihal lain. diantaranya karena studi banding, atau karena perlombaan. Melihat foto yang satu ini, mengingatkan saya pada salah satu kejadian dan pengalaman paling menyenangkan selama sembilan belas tahun saya menghirup oksigen.
Hari itu, saya dipanggil teman saya untuk diikutsertakan dalam perlombaan tahunan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, yaitu NOMS (National Olympiade of Medical Science) –perlombaan medical science lingkup Nasional. Bengong! BINGO! Medical science? Are you kidding me??? Saya, seorang yang buta masalah dunia per-biologi-an apalagi per-kedokteran pada saat itu cuma bisa nanya, is that serious?
Jadi ternyata, perlombaan ini tidak murni 100% mengenai biologi kedokteran, sekitar 10% diantaranya membahas kimia dan 10% lagi membahas fisika. Saya yang notabene dulu di SMA adalah orang yang ikut (-ikutan) olimpiade fisika, diajak guru pembina, Bu Budi, untuk ikut lomba ini.
National Olympiad of Medical Science 2011
Syukur alhamdulillah ada yang mau menerima saya sebagai anggota kelompok, haha (padahal dipasang-pasangin sama Bu Budi sih -__-) saya sekelompok dengan Della dan Agustina. Mereka berdua memang spesialisasi olimpiade biologi. Setau saya, semua yang ikut memang ahli biologi (mungkin kecuali saya, marcel, tuba yang dari fisika dan gema yang dari kimia, tapi mereka semua kecuali saya udah master tingkat langit ketujuh)

Singkat cerita, SMAN 3 Bandung mengirimkan banyak tim. Seleksi awal dilaksanakan. Oh, biadab! sungguh terlalu. Seleksi awalnya bukan secara tim, melainkan individu. Setiap individu dari masing-masing tim akan di tes mengisi soal pilihan ganda sendiri-sendiri, yang nantinya nilainya akan diakumulasikan dengan anggota satu tim lainnya. Parahnya, itu soal tipe minus, kalau salah minus, kalau tak diisi kosong, kalau diisi ya dapat poin. Kalau sampai saya memberikan skor akhir minus, mau dibawa kemana pertanggungjawaban saya pada kelompok saya??? huuuh. Allah menakdirkan soal-soal yang saya isi benar. Keajaiban! Akhirnya tim saya lolos seleksi awal.

Ada lima tim dari SMAN 3 Bandung yang lolos ke Jogjakarta. Sekitar tiga hari kami menginap di Jogja. Kami pergi membawa amanah besar, sebab tahun lalu, SMAN 3 Bandung menjadi juara umum, dan membawa pulang piala bergilir. Tahun itu, harusnya kami mempertahankan piala besar itu menetap di ruang dimana piala-piala dikoleksi di sekolah kami.


dendra yang terobsesi membawa balik piala bergilir


pria-pria galauu




suasana di kereta
Sesampainya di stasiun Jogja, saya bingung, lho ini sebenarnya lomba atau pengajian? Kami pergi ke mushola stasiun untuk sholat ashar, kemudian membuka almatsurat dan membacanya bersama-sama. SUBHANALLAH! Ternyata MAYORITAS –tidak semua- dari kami yang lolos adalah anak DKM! Bravoooo!
membaca almatsurat selepas ashar :')

Mari saya perkenalkan mereka. Mereka semua calon orang-orang sukses, sungguh, insyaAllah
Tim 1 : tuba (STEI ITB), dendra (STEI ITB), Nucifera (SF ITB)
Tim 2 : Astika (FK Unpad), Iqbal (masih kelas 3), Marcel (FTSL ITB)
Tim 3 : Juan (HI Unpad), Citra (FK Unpad), Candra (STEI ITB)
Tim 4 : Della (FTI ITB), Agustina (masih kelas 3), detin (FKG Unpad)
Tim 5 : Lisha (FK Unpad), Gema (FTMD ITB), Fitri (Teknik Mesin National University of Singapore)
Aaaaah, keren kan merekaaaa..
Kami menginap di penginapan langganan SMA 3 kalau ikut NOMS (katanya), lupa apa nama penginapannya, tapi bagus hehe.

lobby nya kali ya
Nah, seleksi berikutnya, menjawab soal dengan batas waktu sekian detik di layar yang akan menghilang dengan sendirinya jika waktunya habis. Alhamdulillah saya setim dengan wanita lemah lembut cangkang keok, anggun gemulai bak putri solo. Mereka mengerti bahwa kompetensi saya bukan di biologi, saya akan menjawab sebisa saya, terutama dalam soal hitungan. Ketika ada soal biologi yang sulit, mereka akan mendiskusikannya berdua, saya manggut-manggut saja, giliran ada soal hitungan saya belepotan ngitung.

Dari lima puluh tim (kalau ga salah) yang lolos ke Jogjakarta senasional, akan diseleksi menjadi duabelas tim saja. Setelah ikhtiar dimaksimalkan kami tawakal, karena soalnya isian, bukan PG jadi ga bisa ngasal.  Lalu menunggu pengumuman membuat perut mulas. Tau? Tim kami pesimis lolos. Apalagi saya, mental awal aja datang kesana untuk memenuhi tuntutan tim, bukan karena ada passion untuk menang, sama sekali tidak. Sebab, Bu Budi sudah mendesain dua kelompok teratas (kelompoknya tuba sama marcel) sebagai tim unggulan, ya mungkin sisanya hanya beruntung lolos seleksi awal saja hahaha *miris* iya lah, secara, tim 1 tuba, nuci, dendra masteeer biologi semua, tim 2 marcel, astika, iqbal pinternya ga kebayang lagi.

Pengumuman ditempel di mading sore harinya, semua berkerumun, anak sekolah lain ada yang memanggil-manggil teman satu timnya melaporkan bahwa mereka lolos, ada juga yang dengan berbesar hati menerima nomor timnya tidak ada di list mading.

Suer, saya asli sakit perut mendengar bahwa ternyata : yang lolos itu adalah dua tim terakhir!! Tim yang sama sekali tidak pernah dibayangkan akan lolos dua belas besar. Artinya, tim saya lolos!! ALLAHUAKBAR!! Terlihat wajah kecewa jelas di wajah Bu Budi, mungkin beliau berfikir kami tidak bisa banyak diharapkan -___-. Apa ini? Ada konspirasi apa? mengapa dua tim jagoan tidak lolos??? Kenapa oh kenapa? Saya ingat sekali wajah dendra yang membawa misi kemenangan sejak keberangkatan ternyata gagal meraihnya. Cupp cup cupp.. dia jadi galau.

Nah, masalahnya, tim saya lolos. Itu masalah buat saya. mendadak ingin pulang saja. Ingin mengurung diri di kamar mandi, sebab seleksi selanjutnya adalah cepat tepat, dan ada bagian saat kita presentasi sendiri-sendiri dari satu kasus yang diberikan. Matilah kau det, mau ngomong apa nanti.

Malam harinya sebelum esok tanding, kami pergi "refreshing" sekadar mencari makan di pinggir jalan  Jogja


suasana makan-makan :)
suasana naik becak malam hari
Add caption

setelah pulang, di kamar, satu kamar diisi oleh dua orang, saya satu kamar dengan Astika. Beliau yang sudah ahli dalam biologi membantu saya menurunkan panas demam saya akan kekhawatiran nasib harga diri saya besok. Saya seperti tong kosong, tidak tahu menahu masalah biologi. Akhirnya pembagian bab diberikan, saya kebagian peredaran darah dan eeem apa ya lupa. Dengan buku campbell di tangan, semalaman saya belajar peredaran darah dan embel-embelnya. Saya sempat berbicara pada tika “Tik, bisa ga kamu aja yang gantiin aku besok? Aku ga siap, ga tau apa-apa” Tika bilang, saya pasti bisa.


 Yipppiiii. Entah kenapa, saya ingin mempelajari jantung lebih dalam saat membaca campbell. Akhirnya saya mendengarkan kuliah dari Tika tentang jantung, sesekali membaca keras-keras isi buku sampai tidak nafsu makan malam. Kami sholat Isya berjamaah (saya, tika, juan, citra, yang memang sudah biasa kalau nginep bareng di AF, berjamaah) kemudian malam harinya tahajud bareng tika. Aaah, so sweeeet :’)
ruang kamar saya

Hari berikutnya benar-benar tiba. khawatir binti degdegan. Cepat tepat, babak awal dimulai. Dengan sangat menyesal, saya tidak bisa membantu banyak, sebab soal-soalnya terdengar seperti soal yang turun dari planet merkurius, panas membara, suhunya tak pantas ada di bumi ini. Enyahkan!
when you can't say any single word





Alhasil, dari empat kelompok, (ada tiga sesi, satu sesi empat kelompok, dipilih satu kelompok terbesar nilainya, sehingga total ada tiga kelompok yang maju ke babak final) kelompok kami mendapat nilai terendah di babak cepat tepat. Maaf yaaa : (((

Berikutnya, babak presentasi, satu kelompok diberi kasus, untuk didiskusikan bersama tim, membuat alur, untuk kemudian dipresentasikan di depan juri dan penonton. Aduh, beri aku muka kulit badak!!!!

Akhirnya, tiba saatnya tim kami menerima kasus. Ketika melihat laptop, SUBHANALLAH!!!!!!!!!!!! Kasusnya tentang JANTUNG!!!!! Saya sempet shock. Sebab malam hari itu selain jantung, saya tidak belajar apa-apa lagi.  setidaknya saya tahu lah sedikit meski tidak se expert dua teman saya lainnya.

Waktu presentasi mulai. Saya bagian pembukaan, memberi salam, memperkenalkan diri kami pada juri, kemudian menjelaskan anatomi jantung. Seingat dan sebisa saya saja, benar-benar mengalir, meski mungkin tidak berbobot (?) dilanjutkan dengan presentasi dua teman saya lainnya yang meneruskan presentasi saya, tentang mekanisme kerja, tentang segala macam tek tek bengek nya.

DAAAAN, APAAAAA????? Alhamdulillah, kelompok kami mendapat nilai tertinggi dalam presentasi. Allahuakbar!!!! Ini keajaiban, tapi sayang, nilai kami tertinggal jauh dengan tim dari Jogja (kalau ga salah) saat cepat tepat tadi. Akhirnya, perjuangan kami berhenti sampai situ.dan tim kami yang satunya lagi pun tidak lolos tiga besar. Apa boleh buat, kami sudah berusaha, namun Allah yang menentukan hasilnya 

Meski tidak bisa membawa piala bergilir pulang, kami sudah senang mendapat pengalaman berharga luar biasa ini. Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin dan pertolongan Allah itu selalu dekat :’)
Miss that moment so bad!
terakhir, ini foto empat akhwat Furqoners yang sama-sama bermimpi menjadi seorang dokter. juan-detin-tika-citra

Sunday, March 11, 2012

GERIMIS


Hari itu hari kamis. Pagi gerimis. Saya tidak suka gerimis.
Tapi orang bilang cobalah menyukai apa yang tidak kamu sukai. Tapi rasanya…


Banyak orang suka gerimis, bilangnya sih romantis. Tapi saya mau jadi apatis saja,yang beranggapan bahwa gerimis adalah sebatas ketidakjelasan thermis, antara hendak turun hujan atau kembali pada terang. Gerimis adalah masa penuh penantian dan harapan dari dua pilihan yang tersedia. Tapi kebutuhan kita selalu berubah, satu saat inginkan cepat turun hujan, di saat yang lain berharap terang segera datang.

Ini, selama periode di usia seperti ini. Seperti mananti kelanjutan dari gerimis yang tidak pasti. Ayolah, kalau mau hujan, hujanlah sejadi-jadinya, cepat dan tuntaskan. Atau kalau mau terang, berhentilah membasahi bumi!! 

Begitulah, saya tidak suka menunggu, apalagi menunggu yang tidak pasti. Gerimis kecil, turun rintik saja, namun terlampau lama, seperti mempermainkan hati, iya! seperti ketidakpastian atas sebuah rasa, yang konteksnya tidak perlu dikerucutkan.

Rasanya seperti di tengah-tengah, bukan sebagai penengah tapi sebagai yang setengah-setengah. Iya,  kan? Hujan tidak, terang pun tidak. Aaaah, kembali membuat melow dengan segala ketidaktahuan apa yang harus dipikirkan, kecuali berharap semoga gerimis kali ini berakhir dengan terang secepat mungkin. Ada waktunya kapan harus hujan, tapi jangan sekarang. Lha, apa kuasamu, Det?

kita belajar dari gerimis. Rasanya dipermainkan oleh cuaca. Enak kah? Begitupun dengan keseharian, yang tidak pernah lepas dari komunikasi sebagai makhluk sosial. Jangan berikan apa-apa yang tidak pasti, jangan berikan yang setengah-setengah, baik itu janji, ucapan, harapan, atau apapun.....

Saya suka hujan, saya juga suka terang. Tapi ada porsinya. Saya suka “ya” bahkan saya suka “tidak”, tapi juga ada porsinya. Pertama, harus sesuai waktunya dan yang kedua, harus jelas kepastiannya. Dalam segala hal ya. Tidak semua orang –bahkan hampir tidak ada orang- yang suka diberi kabar abu-abu, antara ya dan tidak, antara hitam dan putih, antara benar dan salah. 

Kadang, yang dibutuhkan seseorang yang sedang menunggu hanyalah...kepastian.
Tentang suka dan tidak suka, tentang benar dan tidak benar.



I can’t understand why people love rain, because with sunshine I can feel free to enjoy the warm and do lot of outdoor activities, but sometime I say, anyone who says sunshine means everything, has never danced in the rain. It’s true that sunshine brings joyful and rain brings happiness.

See? Like and dislike are just about subjectivity. But true and false are exactly about objectivity.

Thursday, January 19, 2012

Eksodos


Kenapa begitu banyak orang yang bohongi diri melulu?
Kenapa dunia diliputi orang-orang yang tak kenal malu?
Kenapa untuk jujur pun, lidah kaku, bibir sembilu
........

Haha, yaaaa, permisi, orang awam mau berpendapat, sebab katanya di undang-undang dasar 45 ada poin tentang hak asasi untuk berpendapat (ya terus kenapa)
Saya sebenernya bingung, sekaligus mau curhat. Tapi bukan curhat yang bikin bingung (?)

Kalau ditanya, jujur pada diri sendiri, dengan jujur pada orang lain, susah yang mana?
Konteks keduanya sama. Sama-sama perihal kejujuran, mengatakan apa yang sebenarnya terjadi tanpa pengurangan, tanpa penambahan, tanpa pengubahan makna.
Tapi objek yang hendak di-jujur-i nya jauh berbeda. Sekarang, jawab! Jujur sama diri sendiri atau jujur sama orang lain yang lebih susah?
Hah? Apa? jujur itu gampang?
Masa?
(ini yang jawab gini imannya mantap, kalau gitu ceritanya saya nanyanya ke yang imannya belum begitu mantap, tapi baik, ya sedemikian rupa sehingga menjawab jujur itu sulit lah pokonya)
Seandainya jujur itu sulit, saya akan menjawab jujur pada diri sendiri itu jauh lebih sulit.
Mungkin kita bisa jujur, sebenarnya saya suka dengan baju yang dia pakai, saya bilang, “baju kamu bagus banget, kamu nya juga cantik abis.” Jujur ya ceritanya sama orangnya. Tapi, susah ya buat jujur sama diri sendiri, kalau ternyata sebenernya kita sirik, pengen punya baju sebagus itu, wajah secantik itu, body sesemapai itu….

Tapi apalah artinya manusia tanpa hati (etsaaah). Aforismenya adalah hati terdalam manusia mampu mengenali dan mendeteksi kebocoran pipa pertahanan kejujuran. Tapi, kehendak dan keinginan lebih mendominasi pemikiran sehingga sampai hati mengesampingkan urusan nurani. Iya kan? Kalau bukan, berarti ini namanya dekontekstualisasi (??) . Ga sinkron. Padahal nyatanya, memang begini, lebih baik membohongi hati daripada harus kehilangan apa yang ingin dimiliki. Manusiawi kah? Jelas tidak. Sebab manusia memiliki akal dan pikiran, punya acuan mana yang baik dan buruk, entah itu etika, hukum, maupun agama.

Hidup bukanlah melodrama, yang lebih mengutamakan kesan dari pada kebenaran. Hidup dengan jujur itu adalah ibadah, sebab Allah memerintahkannya. Bagaimana bisa seutuhnya jujur pada orang lain bila dalam proses penyampaiannya masih ada butir-butir ketidakjujuran pada diri sendiri?

Orang bijak bilang, kuncinya satu. Namanya ikhlas. Kenal? Kalau belum, segeralah berkenalan. Sebab waktu kita punya limit. Saat mampu mengikhlaskan, kejujuran itu muncul dengan hilangnya gelisah. Karena, gelisah akan menutupi hati. Apa jujur pada diri sendiri masih terlihat sulit? Apa disfonia akut sampai tak perlu bicara lebih baik daripada harus membohongi diri? Jawabnya, jujur itu mudah dan ia adalah jalan yang terbaik.
Jangan kotori perjalanan hidup dengan berjalan bukan sebagai diri sendiri. Jangan berlari meraih citra diri padahal sedang pakai topeng muka malaikat. Bila itu terjadi, hidup sia-sia. Apalagi matinya, lebih sia-sia. Lalu sejarah pribadi ditutup oleh eksodos mengerikan bernama : pembohongan diri.

Wednesday, January 11, 2012

Patronus Nona Luna

 Nona Luna yang baik hati, saya ingin bertanya, kenapa pagi ini begitu cerah? Padahal saya sedang menginjakkan kaki di tempat yang sama pada jam 04.45 pagi, percis sama seperti yang saya lakukan beberapa hari kebelakang.

Nona Luna, kenapa jiwa saya seperti meloncat-loncat, menari-nari, terbang melayang layaknya burung yang kemarin dibebaskan dari sangkarnya? Perut saya seolah kenyang lantaran diberi pizza big size, kebab turki, steak cordon bleu, soto ayam, dan perkedel jagung. Padahal sejak semalam, saya belum makan apapun. Tenggorokan saya seperti habis kemasukkan jus alpukat, tapi nyatanya saya hanya minum air putih.

Ngomong-ngomong, sebenarnya saya curiga, jangan-jangan ini karena Anda, Nona Luna. Jangan-jangan, ini karena saya mengenal Anda...  Ah, indah ya. Pagi ini luar biasa indah. Sebenarnya pagi kemarin pun indah, hanya saja, pagi hari ini punya pemanis yang berbeda. Saya curiga, pemanisnya itu dari Anda yang bawa. Pemanis bermerk “perkenalan” yang Nona bawa beberapa hari kemarin.

Nona Luna yang berhati lembut, saya terkagum-kagum pada first impression Nona. Nona anggun sekali, Nona cantik sekali, Nona lembut sekali. Nona, saya terlalu bodoh rasanya, menghabiskan 18 tahun umur saya namun belum juga bisa seperti Nona. Saya sungguh beruntung mengenal Nona Luna dan nona-nona lain sejenis Nona. Tapi, percayalah, Anda pun sungguh beruntung mengenal saya, gadis tak punya apa-apa selain dua kaki yang dipakainya untuk melangkah, dua tangan yang dipakainya untuk menjinjing, dua telinganya yang dipakai untuk mendengar, dan anggota fisik  lainya yang saya gunakan sebagaimana mestinya mereka digunakan. Beruntunglah Nona mengenal saya, si mafia kepo ulung yang mencuri ilmu-ilmu nona tanpa Anda ketahui. Karena mungkin saja, berkat ulah pencurian mafia kepo ini, tabungan nona untuk akhirat akan bertambah. Nona, saya tahu benar, kita tidak pernah berbicara begitu lama dan bertemu begitu sering, tapi nona tidak perlu berbicara panjang lebar, karena saya sudah bilang, saya punya anggota tubuh yang akan saya usahakan untuk digunakan sebagaimana mereka diciptakan. Biarlah mata saya menangkap gerak-gerik keanggunan Nona, biarlah telinga saya mendengar kebaikan-kebaikkan Nona, biarkan otak saya mencerna goresan sejarah yang Nona buat. Anda tahu? Itu alasan saya bilang, nona beruntung mengenal saya, tapi saya sendiri pun tahu, kenal tidaknya nona dengan saya bukan perkara penting, yang lebih penting adalah bagaimana beruntungnya saya mengenal nona. Perkara nona hanya sampai pada mengalirnya beberapa amal yang karena lewat inspirasi nona, saya berbuat. Ah senangnya menjadi Anda, Nona Luna. Anda tanpa menyadari bahwa mungkin saja investasi anda bertambah. Anda bisa jadi pebisnis akhirat yang sukses. Ngomong-ngomong saya iri loh, saya juga ingin seperti nona dan nona-nona, tuan-tuan pebisnis lainnya.

Ah, Nona Luna, patronus anda indah sekali, saya sendiri tidak tahu patronus milik saya bagaimana dilihat orang lain. Apakah juga indah? Atau malah mengecewakan? Nona tahu tidak, konon orang bilang patronus itu bisa diubah sebagaimana kita mau bentuk. Sebenarnya saya berharap berita itu benar adanya, tapi seseorang bilang, dalam alquran pun disebutkan demikian. Yah kalau begitu, saya semakin yakin. Hendak seperti apakah patronus yang akan saya buat dengan mantra "Expecto Patronum" ?

Mantra Patronus, seperti bentuk Animagus, mencerminkan kepribadian atau perasaan penyihir. Mereka adalah, bagaimanapun, dapat berubah jika kastor berjalan melalui pergolakan emosional dari beberapa macam. Jadi ingat Harry Potter ya, Patronus Nymphadora Tonks berubah dari bentuk sebelumnya menjadi seorang makhluk berkaki empat yang diduga adalah werewolf karena mungkin itu mencerminkan cintanya dari Remus Lupin. 
saya yakin, patronus Nona yang indah itu pun mencerminkan pribadi Anda.

Nona, nona... sampaikan pada nona-nona lainnya, sampaikan juga pada Cut Nyak Dien, Ibu Kartini, Ibu Siti Ainun, Ibu Fatmawati, Siti Fatimah r.a, Siti Sarah, Siti Hajar, Siti Aisyah r.a, juga pada Siti Khadijah r.a, dan sampaikan pula pada Siti Hawa, bahwa mereka tidak perlu menyesal memiliki salah satu anggota kaumnya yang seperti Nona....

PS : Nona Luna disini buka Luna Lovegood nya Harpot ya..

Tuesday, January 10, 2012

Sun and Wind

Pada suatu hari, matahari dan angin bertengkar untuk menentukan siapa yang lebih kuat. kemudian si angin berkata,


"saya akan buktikan bahwa saya yang terkuat. kau lihat lelaki tua disana dengan jaketnya? Saya bertaruh kalau saya mampu melepaskan jaketnya lebih cepat dibandingkan yang kau lakukan."


maka sang matahari pindah ke belakang si awan, kemudian sang angin meniup kencang hampir seperti tornado, namun semakin keras dia meniup, semakin erat lelaki tua itu mencengkeram jubahnya ke tubuhnya.


akhirnya, sang angin menjadi tenang dan menyerah, kemudian sang matahari muncul dari balik awan dan tersenyum ramah pada lelaki tua itu. kini, si lelaki tua menyeka alisnya dan menanggalkan jaketnya. sang matahari kemudian mengatakan pada angin bahwa keramahan dan kelembutan selalu lebih kuat daripada kekuatan dan kemarahan.


Matahari bisa membuat lelaki tua itu menanggalkan jaketnya lebih cepat daripada angin; dan kebaikan hati, pendekatan ramah dan penghargaan dapat membuat orang mengubah pikirannya lebih cepat daripada semua gertakan dan serangan di dunia ini.


ingatlah apa yang dikatakan Abraham Lincoln:


"Setetes madu menangkap lebih banyak lalat daripada segalon empedu."


jadi, mulailah hari ini dengan cara yang ramah :)


Thursday, October 13, 2011

Sepupu Never Die!

Assalamualaykum
Salam Super!

Salam Sepupuku yang Supeeer!
entah kenapa tiba-tiba malem ini saya kangen sama sepupu-sepupu saya yang rame dan menyenangkan.
jadi, ceritanya kami punya komunitas berjudul "Sepupu Never Die!"
berhubung di keluarga kami, perpaduan keluarga kakak ipar saya dan Kakak saya yang sudah menikah, terdapat belasan orang-orang super yang usianya berkisar 16-26 tahun. REMAJA!
dan saya mau menjelaskannya satu per satu :D

yang pertama, sang master. boss kami. orang paling gokil. hobinya bikin orang lain ketawa.
Bukhari Muslim
a.k.a Bang Raju :)

abang India saya yang satu ini sangat sangat sangat kocak. ingin orang manggil dia Bukhari Raju, bukan Bukhari Muslim.

Muhammad Yusuf H

dipanggil Bang Ucup. sama gilanya sama Bang Raju. calon Ustadz! hahaha

Izzan Nur Aslam

Dipanggil Bang Ijan. Super pinter. Guru B. Inggris SSC Aceh loooh :)

Aufa Nur Istiqlal

paling gaul lah gayanya ni orang aceh-india. adiknya bang ijan.

Aulia Nur Zhahran

aulia ini yang paling kecil...

Sakinah Mawaddah Lubis

Kinaaah! cantik dan semampai :))

kak nabila, Azrina Khan,

calon ibu yang baik :D hahahaha. cantik-cantik sekali adik kakak ini.

Muhammad Razi

dipanggil momo razi :) kocaaaak

Muhammad Ravi

dipanggil amat. seumuran aku :D adiknya momo razi!

daaaaaan, yang berbahagia,

dian-husni.

yaaaah, sepupu yang menyenangkan, keep rock!

Sunday, September 4, 2011

international hijab solidarity day

i've never known there's a special day like that before. yeah, as usual, twitter tells me everything as soon as i open the application. someone who i followed said that today, September 5th is international hijab solidarity day. wooow! how cool...

let people around the world know, how important using hijab for ladies is. hijab is the best dress for covering womens' body from everything endangering herself.

Those who harass believing men and believing women undeservedly, bear (on themselves) a calumny and a grievous sin. O Prophet! Enjoin your wives, your daughters, and the wives of true believers that they should cast their outer garments over their persons (when abroad): That is most convenient, that they may be distinguished and not be harassed. [...] (Qur'an 33:58–59)

and according to Al-Quran, Q.S An-Nur : 31
And say to the believing women that they should lower their gaze and guard their modesty; that they should not display their beauty and ornaments except what (must ordinarily) appear thereof; that they should draw their khimār over their bosoms and not display their beauty....
it's an obligatory for Muslim women to use hijab when they are already an adult.

nowadays, young ladies are complaining when they are asked using hijab, the reason is : "i'm not ready, better hijabing my heart beforehand."

is that the real reason? sure? why must wait till your heart overall veiled? so when that time will come? it'll never come, except you start it know.

you still look beautiful even greater when you are using hijab. men say "it's 100x(even more) hijabian girls look more beautiful than unhijabian girls"

you can even more fashionable, cause today, hijab available in so many styles.

so don't worry of using hijab. from now on, just try it! enjoy it! and barakallah, keep istiqomah for you who already using hijab.

happy international hijab solidarity day, ladies :)

Monday, January 12, 2009

Ibu yang termakan zaman

Genap usia ibuku 44 tahun. hampir mendekati setengah abad. mahkotanya kini sudah banyak yang memutih. namun kuakui, wajahnya tetap cantik dimataku. keriput di sekitar matanya sudah muncul, dan kini beliau harus menggunakan kacamata plus-nya untuk membaca.
namun yang kulihat bukanlah wanita yang sudah menua, melainkan seorang wanita yang tetap teguh menjaga diri dan keluarganya.
hari itu, aku mulai ngekost, karena rumah jauh dari sekolah. mama mengizinkan. hari-hari pertama aku tinggal di kostan, rasanya seperti melakukan suatu yang luar biasa beratnya. 3 hari pertama tanpa mama, semuanya acak-acakan. ini baru 3 hari. disitu aku baru sadar bahwa pengorbanan seorang ibu itu melebihi apa yang aku bayangkan selama ini. baru 3 hari tanpa mama, rasanya seperti sudah 3 tahun saja.
lalu waktu mama dan kakakku pergi ke jakarta untuk 4 hari, aku terpaksa tinggal di rumah dengan ayah karena harus sekolah. selama itu, aku merasa kehilangan teman yang sangat aku rindu setiap waktu. ayahpun tidak mampu menggantikan sosok mama. aku merasa rumah sangat amat sepi. di situ aku tahu, tak ada keceriaan tanpa seorang ibu.
lain halnya dengan ayah yang pergi untuk beberapa hari, tak terlalu masalah bagiku. karena mama bisa mengganti sosoknya setiap saat aku mau. dia bisa menjadi siapapun yang aku butuhkan.
dan yang paling aku ingat adalah weaktu aku mau pulang ke kostan kesorean. karena aku menggunakan kendaraan umum, dan waktu itu sekitar jam 7 malam, aku belum sampai di kost. mama langsung menelpon, dimana aku berada, aku menjelaskan padanya, aku tejebak di jalan. mengetahui bahwa keadaan bandung pada malam hari tidak baik untuk aku, mama langsung mengganti bajunya, dan berangkat menyusulku, tanpa peduli pakaiannya serasi atau tidak. akhirnya mama menjemputku, padahal aku bisa pulang sendiri, karena jarak ke kostan tidak terlalu jauh, dan suasana jalan masih ramai sekali. tapi mama bilang "duh, bahaya de, kita ga tau hati orang kaya gimana, kalo ada yang jahat gimana?? astagfirullah"
mama menyusulku dengan pakaian benar2 tidak serasi. bajunya biru sedangkan jilbabnya merah muda. "mama ga kepikiran harus pake baju apa, pas detin nelepon, langsung mama ambil jilbab yang ada, nyisir juga engga kepikiran."
subhanallah....subhanallah....
itulah perjuangan seorang ibu...padahal aku tau, besoknya mama ada kerjaan, tapi malam itu, dia nginep di kost. meninggalkan pekerjaan demi aku, yang dia anggap masih belum bisa jaga diri.
ya allah... aku tau di telapak kakinya yang suci, terdapat surgaMu yang telah Kau janjikan. namun aku takut, bila pintu itu tertutup untukku karena untaian kata yang terlontar dari mulut ini menghujam dan menusuk hati ibunda. aku tahu ridhoMu adalah ridho ibuku. betapa Engkau mengistimewakan seorang ibu. subhanallah...
untuk para ibu, para muslimah calon ibu, berbahagialah...........