Showing posts with label Movies and Books. Show all posts
Showing posts with label Movies and Books. Show all posts

Sunday, January 20, 2013

Diorama


Melancong yuk.  Saya mau jalan-jalan ke masa dimana saya masih jadi gadis imut berseragam putih-biru, masa-masa SMP. Nostalgia ini disponsori oleh ke-excited-an saya terhadap sebuah novel yang kembali saya baca setelah bertahun-tahun lalu sering saya baca, kemudian sang novel dipinjam oleh oknum yang tidak jelas identitasnya (?) lalu hilang.

Novel pertama yang saya baca, kalau boleh saya bilang, cukup berat untuk dijadikan bacaan anak kelas 1 SMP. itu buku kakak saya. Ceritanya saya ingin sok gaul nan keren, baca novel biar terlihat sedikit intelek. Cover bukunya pink, bergambar sketsa seorang wanita berjilbab panjang memegang kusen jendela. Yang menarik perhatian saya, selain judulnya yang unik, juga karena tebal bukunya tidak terlalu membuat anak kecil ketakutan ketika harus membacanya, hanya sekitar 300an lembar. 

Yah, judul novel pertama yang saya baca adalah “Diorama Sepasang AlBanna”. Jadi, latarbelakang, maksud dan tujuan yang sebenarnya saya tidak sedang membuat proposal (?) bermula ketika saya sedang belajar untuk ujian Dental Science Program, dalam case ada istilah dilatasi vascular bla bla bla bla… dan saya seketika ingat judul buku “Dilatasi Memori” seri ke 2 dari Diorama. Saya sempet cari e-book nya siapa tahu ada, sayang tidak dapat, atau lebih tepatnya tidak ngerti cara mendonlotnya. Akhirnya tadi pagi ketika saya bersilaturahim-lari minggu pagi bareng temen-temen SD, yang niatnya untuk membakar lemak tubuh, karena ibu saya berkata, "de, ko gendutan? makan aja ya?"---hati panas, ah masa ma??? ciyuss??miyapaahh??? frustasi---, lari sekitar 5 menit, sisanya jalan santai, lalu setelah itu makan bubur dan minum 500ml susu murni. Iya, iya..saya tau saya tau...anda akan berpikir, input lebih besar dari output, apa tetap akan diberi nama olahraga? saya sendiri ragu. hiks.

Nah, lupakan sejenak dengan olahraga semi gagalnya, kembali pada pernovelan. Saya jadi ingat kalau Hilda dulu beli buku Diorama dan Dilatasi atas recommend dari saya. Akhirnya, saya pinjem novel ini tadi pagi. Nah kan, silaturahim selalu membawa rezeki J


cover buku Diorama Sepasang AlBanna


Dalam waktu 4 jam, saya lahap isi novel karya Ari Nur itu. Dan setelahnya saya baru sadar sepenuhnya maksud dari novel tersebut. Dulu jaman saya masih mirip Dulce Maria nya Carita de Angel (?) saya belum ngerti maksud utama novel ini, yah namanya juga anak SMP. Sekedar ngerti ini novel roman, kisah cinta, dsb dsb. Tapi, kesan pertama selalu menempel menancap mengakar meng-adhesi-kohesi (?) di hati. kesan pertama buku ini waktu itu : ceritanya bagus.

Sadar ga sadar, saya ngerasa banyak kesamaannya dengan Inda Maharani (Rani), pemeran utama dalam novel. Seorang wanita asal kampung, yang serba biasa-biasa saja. Mencari penghidupan di ibukota sebagai arsitek junior di sebuah biro arsitektur ternama di Jakarta. Bertemu dengan seorang Ryan Fikri, seorang eksekutif muda, bos Rani, yang jenius, tampan, cool, arogan, dan sombong.  

Ryan yang kering ruhiyahnya, setelah sebelumnya menghilang dan menenggelamkan diri dari dunia dakwah, seakan menemukan telaga di tengah padang pasir ketika bertemu Rani. Memang bukan selera eksekutif muda, wanita pas-pasan, tampil ke lapangan dengan jilbab lebar dan kaos kedodoran. Tidak menunjukan smart, ataupun classy. Tapi Rani membawa idealisme yang terpupuk baik dalam dirinya. Ia menumbuhkan sebuah kehidupan tanpa menghancurkan kehidupan yang sudah ada. Di biro tempatnya bekerja, yang jauh dari kesan agamis, suasana penuh sekularisme, kemewahan, dan profit oriented.

Novel tentang kisah cinta para AlBanna, para pembangun. Ah Rani, wanita sederhana, bahkan sangat sederhana mampu menarik hati seorang Ryan. Di sisi lain, yang paling ditunjukkan dalam novel ini adalah tentang dakwah fardhiyah, tarbiyah islamiah…yang zzzzzzzzz banget waktu saya baca SMP, setelah saya baca lagi tadi, subhanallah, ceritanya mirip dengan cerita yang saya inginkan di masa depan nanti *hatsyaaahh.

Tentang membangun sebuah biro arsitektur independen, berbasis islam, dengan maksud mencetak arsitek muslim berkualitas dan berdaya saing dunia. Kisah Rani yang seorang aktivis dakwah kampus, merindukan jalan kembali, masa-masa dimana ia bebas berdakwah, dan tentang Ryan yang mantan ketua bidang kaderisasi dakwah kampus yang hanya bertahan 2 tahun untuk kemudian tenggelam bersama keterpurukan latarbelakang keluarga.

Mirip. Tentang saya yang sederhana dan biasa-biasa saja, seperti halnya Rani. Memiliki seorang Ryan yang tampan, jenius adalah harapan dan impian  meski dingin dan arogan. Tentang visi misi hidupnya, mirip. Tentang keinginan mendirikan sebuah usaha yang bergerak berbasis islam, menggerakkan roda-roda mesin para muslim yang sempat terhenti, menciptakan lapangan kerja, membentuk idealisme yang berfokus pada Illah, memiliki power untuk menggerakan, mengonsep, membuat kebijakan. Mirip mirip mirip.

Ah Rani, Ryan….. kita adalah seorang AlBanna, yang sedang berkelana untuk satu tujuan yang sama…

Terimakasih atas kisahnya, Ari Nur dan dioramanya :)

Tuesday, August 28, 2012

Hayat


Namanya Hayat. Gadis cantik lagi pintar. Untuk gadis seusianya, hidup di bawah bayang-bayang paham wanita Iran benar-benar mengerikan, paham bahwa seorang gadis tidak perlu menuntut ilmu terlalu tinggi, mereka hanya perlu mengatur  kepastian esok dapurnya  bisa berasap.

Hari itu, segalanya terasa lebih berat. Ayahnya sakit, ibunya harus mengantar ayahnya menemui dokter. Dengan segala tanggung jawab yang melekat, Hayat disuruh menjaga rumah dan adik-adiknya serta dilarang pergi ke sekolah, sekalipun ia telah berteriak bahwa hari itu ia ada ujian penting. Hayat tidak melupakan tugasnya untuk memberi pakan sapi dan ayam ternak keluarganya, memeras susu sapi untuk adiknya, menimba air, dan membereskan rumah.

Dengan segala payah yang ada, satu per satu pintu rumah ia ketuk untuk sekadar menitipkan adiknya yang bayi selama satu jam, sebab ia harus mengikuti ujian. Tapi justru, satu per satu pula kekecewaan ia dapatkan. Sebagian telah pergi ke ladang, sebagian justru menasihatinya untuk tidak perlu bersekolah, gadis seusianya harusnya sudah dilamar. Terpaksa Hayat membawa adik yang paling kecilnya ke sekolah, meminta izin pada penjaga ujian untuk membawa serta Nabat saat ujian. Jelas permintaannya ditolak. Ujian akan tetap dimulai beberapa menit lagi. Hayat dipastikan telat.

Kecerdasaan memang menjadi bagian dirinya, terberkahilah ia. Dengan mengaitkan tali temali, ia membuat ayunan di pepohonan besar dekat jendela kelas, talinya dikaitkan pada kursi Fatimeh, dan bila adiknya menangis, seseorang hanya perlu menarik talinya, maka ayunan itu akan bergerak naik turun. Hati penjaga ujian luluh, tangannya sendirilah yang menarik ulur temalinya. Dengan sisa waktu yang serba sedikit, Hayat mencoba memenuhi keinginannya untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.

Semangatnya memang sempat kering, sekering tanah Iran yang mengerikan. Tapi harapannya kembali bersinar, mematuk dan membangkitkan kembali semangat para kaum Hawa di seluruh muka bumi yang sempat mati suri, untuk menjadi Hayat-Hayat lain yang bermekaran.

Friday, August 24, 2012

The Third Day

Director : Mohammad Hossein Latifi
Stars : Puria Purksorkh (as Reza), Baran Kosari (as Samireh) and Hamed Behdad (as Foad)
Reza dan Samireh

Heart Touching. Unpredictable ending.

Di hari ketiga, barulah Reza menghampiri rumahnya yang kini porak-poranda terhujani bom-bom tak mengenal tuan, rumah dimana tanahnya menyimpan rahasia, bahwa adiknya yang pincang, ia kubur hidup-hidup untuk menyelamatkan nyawa sang adik dari teror membabi buta tentara musuh dalam perang Iran-Iraq.

Samireh, sang adik, menunggu dengan bekal beberapa mili air dan kentang dalam tanah. Menunggu janji abangnya untuk menyelamatkannya, membawanya ke tempat yang lebih aman. Rumah itu menjadi tujuan pengintaian, sebab perapiannya masih panas. Bukti bahwa beberapa saat, baru saja ada yang menyalakannya. Seseorang pastilah bersembunyi.

Cinta dan ambisi memang tidak bisa hidup berdampingan. Cinta bukan ambisi dan ambisi tidak melahirkan cinta. Tapi seorang Foad menginginkan keduanya dalam sekali waktu. Cintanya pada Samireh yang begitu dalam tidak bisa ia dapatkan ketika ia mengejar ambisinya untuk menjadi pemimpin tentara musuh. Karena ambisinya, kaki kekasihnya harus terpisah dari tubuhnya, karena ambisinya, orang tua sang kekasih harus mengakhirkan nafas duniawinya, karena ambisinya, maaf tidak bisa terlontarkan dari mulut sang kekasih, apapun cara yang ia tempuh.

Di hari ketiga, Reza kehilangan satu adiknya lagi, Rasool. Barak pengungsian di luluh lantahkan, penghuninya menemui ajalnya. Tinggal ia dan beberapa orang lainnya yang masih bertahan untuk menjemput Samireh.
Tidak ingin kehilangan, Foad mendatangi rumah itu. berjumpa dengan Samireh yang sudah merasa aman untuk keluar dari tanah yang menguburnya. Perjumpaan dengan sang kekasih yang kini sorot matanya menyiratkan kebencian, padahal dulu, mereka adalah guru di sekolah yang sama, dan Foad pernah mengajukan lamaran pada Reza untuk Samireh.

Cinta tidak untuk dipaksakan. Samireh, Reza, dan orang Iran yang masih bersisa memilih untuk menghadapi Foad dan pasukannya. Dengan kepungan di segala arah, Reza dengan gagah berani menepati janjinya dan melindungi sang adik. Hingga samireh harus merelakan, Reza dan yang lainnya berani untuk mati.

Danau-danau Iran dan rerumputannya menjadi saksi, kala itu mengantarkan Samireh seorang diri merasakan pahitnya kehilangan.

Saturday, June 9, 2012

Mencari Pahlawan Indonesia

Tantangan adalah stimulant yang disediakan oleh Allah untuk merangsang munculnya naluri kepahlawanan dalam diri manusia.

Naluri Kepahlawanan lahir dari rasa kagum yang dalam dari kepahlawanan itu sendiri. Hal ini akan menggoda sang pengagum untuk melihat dirinya sembari bertanya, Apa engkau dapat melakukan hal yang sama? 
Naluri kepahlawanan adalah kekuatan yang mendorong munculnya potensi-potensi tersembunyi dalam diri seseorang, kekuatan yang berada dibalik pertumbuhan ajaib kepribadian seseorang.

Keberanian adalah kekuatan yang tersembunyi dalam kehendak jiwa, yang mendorong seseorang untuk maju menunaikan tugas, baik tindakan maupun perkataan, demi kebenaran dan kebaikan, atau untuk mencegah suatu keburukan dan dengan menyadari sepenuhnya semua kemungkinan risiko yang akan diterima.
Sebagian dari keberanian itu adalah fitrah yang tertanam dalam diri seseorang dan sebagian lagi biasanya diperoleh melalui latihan.
Nasehat Umar, “Ajarkan sastra kepada anak-anakmu , karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.”
Roh kebenranian itu dapat mematikan semangat perlawanan musuh.

Kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya sebuah keberanian bertahan dalam diri seorang pahlawan.
Keberanian adalah aspek ekspansif dari kepahlawanan, akan tetapi kesabaran adalah aspek defensifnya. Kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan sejauh apa kita membawa beban idealism kepahlawanan dan sekuat apa kita mampu selamat dalam menghadapi tekanan hidup.
“Sesungguhnya kesabaran itu hanya pada benturan pertama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Qayyim berkata, “Sampai akhirnya kesabaran itu sendiri yang gagal mengejar kesabarannya.”

‘Amr bin ‘Ash memaknai keterampilan berpolitik seorang pemimpin: “jika seorang pemimpin tahu bagaimana memasuki suatu urusan, maka ia harus tahu juga bagaimana cara keluar dari urusan itu, sesempit apapun jalan keluar yang tersedia.

Strategilah yang menentukan nilai dari sebuah pekerjaan.
Nasehat Abu Bakar untuk tentara yang akan berperang, “Carilah kematian, niscaya kalian akan mendapatkan kehidupan.”

Kata Sayyid Quthb dalam sebait puisi:
Saudaraku, kalau kau teteskan air matamu
Kau basahi pula nisanku dalam sunyi
Nyalakan lilin-lilin dari tulang belulangku
Jalanlah terus ke kemenangan abadi

Imam Syahid Hasan al Banna berkata: “jangan pernah melawan sunatullah pada alam, sebab ia pasti mengalahkanmmu. Tapi, gunakan sebagiannya untuk menundukkan sebagian yang lain, niscaya kamu akan sampai tujuan.”


Harapan, seperti kata Rasulullah saw, adalah rahmat Allah bagi umatku.jika bukan karena harapan, tak kan ada orang yang mau menanam pohon dan tidak ada seorang ibu yang mau menyusui anaknya. Harapan adalah buah dari dari kepercayaan akan rahmat Allah dan juga kepada kemampuan Allah SWT melakukan semua yang Ia kehendaki. 

Krisis adalah takdir semua bangsa. Ia tidak perlu disesali. Apalagi dikutuk. Kita hanya perlu meyakini sebuah kaidah, bahwa masalah kita bukan pada krisis itu. Tapi pada kelangkaan pahlawan saat krisis itu terjadi. Itu tanda kelangsungan hidup atau kehancuran sebuah bangsa. 




 Anis Matta dalam bukunya Mencari Pahlawan Indonesia (2004). 

Monday, April 30, 2012

The Color of Paradise

Title : The Color of Paradise (in Iran : Rang-e khoda)
Director : Majid Majidi
Writer : Majid Majidi
Stars : Hossein Mahjoub, Mohsen Ramezani and Salameh Feyzi


10 wins and 8 nominations awards, more info, check here http://www.imdb.com/title/tt0191043/awards


jadi, kemarin saya sempet menghabiskan waktu dengan menjelajah youtube, dan berhasil menonton full film ini dengan subtitle bahasa inggris, aheey.
INI FILM RECOMMENDED BUAT DITONTON *eh sori ke caps lock*
di awal film diputar, sekitar sepuluh menit awal, saya sudah nangis bawang merah, dan setelah film hampir selesai, ternyata saya sudah nangis bombay. huhuhuhu


Mohammad Ramezani, actually he 's really blind
film ini bercerita tentang seorang anak tuna netra bernama Mohammad Ramezani yang dibintangi oleh Mohsen Ramezani yang bersekolah di sekolah asrama khusus anak-anak tuna netra di pusat kota. Mohammad adalah seorang anak dari desa di utara Iran, ibunya telah meninggal.


ketika liburan panas tiba, semua teman-temannya dijemput oleh orang tuanya untuk berlibur, namun ayah Mohammad tak kunjung datang menjemput. 


akhirnya ayahnya datang ke asrama itu, dengan niat bukan untuk membawa Mohammad pulang, melainkan untuk berbicara dengan kepala sekolah supaya Mohammad dititipkan seterusnya di sekolah itu, tak perlu pulang kembali. Namun kepala sekolah menolak dengan alasan, bangunan itu adalah sekolah bukan panti asuhan.
akhirnya ayahnya (diperankan oleh Hossein Mahjoub) dengan terpaksa membawa Mohammad ke rumah.
this is Mohammad's Father who always bring him take a walk through the woods with their horse.
di rumahnya, Mohammad telah ditunggu oleh neneknya, dan dua orang adiknya, Bahareh dan Hanieh 


she's Mohammad's granny. totally kind-hearted and humble
ayah Mohammad tidak menginginkan Mohammad tinggal bersamanya hanya karena Mohammad buta, beliau merisaukan masa tuanya tanpa seorang istri, dan khawatair bila tua renta nanti, siapa yang akan mengurusnya. maka dari itu, ayahnya mencari istri baru, namun tidak mengetahui bahwa Mohammad adalah anak dari pria yang melamarnya. dengan melawan nasihat si nenek, ayahnya mengirim Mohammad ke tempat seorang yang juga buta namun pandai mengukir kayu. Mohammad tinggal disana.

father : I dont know. they say there's a blind carpenter. it would be great if he could take him in and          
             train him. then he could become independent. i'm concerned about his future.
granny : his future or yours?

satu adegan paling sedih adalah ketika Mohammad menangis di depan carpenter, dan mengucapkan kalimat menyentuh hati
“Our teacher says that God loves the blind more because they can’t see. But I told him if it was so, He would not make us blind so that we can’t see Him. He answered ‘God is not visible. He is everywhere. You can feel Him. You see Him through your fingertips.’ Now I reach out everywhere for God till the day my hands touch Him and tell Him everything, even all the secrets in my heart.”
it's a role when Mohammad is crying, good acting surely, he brings us to feel what the blinds feel.

C : what's wrong? are you crying? a man never cries. do you already miss your family?
M : no
C : then what?
M : you know, nobody loves me. not even granny. they all run away from me because i'm blind. if i could     
       see, i would go to local school with other children, but now i have to go to school for the blind. on the  
       other side of the world, Our teacher says that God loves the blind more because they can’t see. But I 
       told him if it was so, He would not make us blind so that we can’t see Him. He answered ‘God is not 
       visible. He is everywhere. You can feel Him. You see Him through your fingertips.’ Now I reach out 
       everywhere for God till the day my hands touch Him and tell Him everything, even all the secrets in my   
       heart.
C : your teacher is right...

haaaaa... ini adegan bikin saya nangis bombay T.T

i just wanna say that you need to watch this movie, directed by the most popular iranian producer, Majid Majid who also directed a masterpiece movie, yang salah tiganya sangat saya fovoritkan,they are Children of Heaven, Turtles can Fly, and Baran. i've watched those movies, and all of them are heart touching, brilliant! extraordinary!  i dont know, why Majid Majidi's movies are truely deep, meaningfull and all about humanity.
Looked very grainy and colourful, highlighting the aesthetic of the movie. 
Mohsen Ramezani flawlessly performed his role as Mohammad. His monologue regarding the existence of God, accompanied by his tears, his sniffling, his shaky voice.. all undoubtedly contributed to the most memorable portion of the movie. Apparently Mohsen Ramezani is actually blind in real life...

aaaah, wanna watch it more and more, again and again. people said, cry is good for our health, sometimes. is that true?




Wednesday, January 11, 2012

Patronus Nona Luna

 Nona Luna yang baik hati, saya ingin bertanya, kenapa pagi ini begitu cerah? Padahal saya sedang menginjakkan kaki di tempat yang sama pada jam 04.45 pagi, percis sama seperti yang saya lakukan beberapa hari kebelakang.

Nona Luna, kenapa jiwa saya seperti meloncat-loncat, menari-nari, terbang melayang layaknya burung yang kemarin dibebaskan dari sangkarnya? Perut saya seolah kenyang lantaran diberi pizza big size, kebab turki, steak cordon bleu, soto ayam, dan perkedel jagung. Padahal sejak semalam, saya belum makan apapun. Tenggorokan saya seperti habis kemasukkan jus alpukat, tapi nyatanya saya hanya minum air putih.

Ngomong-ngomong, sebenarnya saya curiga, jangan-jangan ini karena Anda, Nona Luna. Jangan-jangan, ini karena saya mengenal Anda...  Ah, indah ya. Pagi ini luar biasa indah. Sebenarnya pagi kemarin pun indah, hanya saja, pagi hari ini punya pemanis yang berbeda. Saya curiga, pemanisnya itu dari Anda yang bawa. Pemanis bermerk “perkenalan” yang Nona bawa beberapa hari kemarin.

Nona Luna yang berhati lembut, saya terkagum-kagum pada first impression Nona. Nona anggun sekali, Nona cantik sekali, Nona lembut sekali. Nona, saya terlalu bodoh rasanya, menghabiskan 18 tahun umur saya namun belum juga bisa seperti Nona. Saya sungguh beruntung mengenal Nona Luna dan nona-nona lain sejenis Nona. Tapi, percayalah, Anda pun sungguh beruntung mengenal saya, gadis tak punya apa-apa selain dua kaki yang dipakainya untuk melangkah, dua tangan yang dipakainya untuk menjinjing, dua telinganya yang dipakai untuk mendengar, dan anggota fisik  lainya yang saya gunakan sebagaimana mestinya mereka digunakan. Beruntunglah Nona mengenal saya, si mafia kepo ulung yang mencuri ilmu-ilmu nona tanpa Anda ketahui. Karena mungkin saja, berkat ulah pencurian mafia kepo ini, tabungan nona untuk akhirat akan bertambah. Nona, saya tahu benar, kita tidak pernah berbicara begitu lama dan bertemu begitu sering, tapi nona tidak perlu berbicara panjang lebar, karena saya sudah bilang, saya punya anggota tubuh yang akan saya usahakan untuk digunakan sebagaimana mereka diciptakan. Biarlah mata saya menangkap gerak-gerik keanggunan Nona, biarlah telinga saya mendengar kebaikan-kebaikkan Nona, biarkan otak saya mencerna goresan sejarah yang Nona buat. Anda tahu? Itu alasan saya bilang, nona beruntung mengenal saya, tapi saya sendiri pun tahu, kenal tidaknya nona dengan saya bukan perkara penting, yang lebih penting adalah bagaimana beruntungnya saya mengenal nona. Perkara nona hanya sampai pada mengalirnya beberapa amal yang karena lewat inspirasi nona, saya berbuat. Ah senangnya menjadi Anda, Nona Luna. Anda tanpa menyadari bahwa mungkin saja investasi anda bertambah. Anda bisa jadi pebisnis akhirat yang sukses. Ngomong-ngomong saya iri loh, saya juga ingin seperti nona dan nona-nona, tuan-tuan pebisnis lainnya.

Ah, Nona Luna, patronus anda indah sekali, saya sendiri tidak tahu patronus milik saya bagaimana dilihat orang lain. Apakah juga indah? Atau malah mengecewakan? Nona tahu tidak, konon orang bilang patronus itu bisa diubah sebagaimana kita mau bentuk. Sebenarnya saya berharap berita itu benar adanya, tapi seseorang bilang, dalam alquran pun disebutkan demikian. Yah kalau begitu, saya semakin yakin. Hendak seperti apakah patronus yang akan saya buat dengan mantra "Expecto Patronum" ?

Mantra Patronus, seperti bentuk Animagus, mencerminkan kepribadian atau perasaan penyihir. Mereka adalah, bagaimanapun, dapat berubah jika kastor berjalan melalui pergolakan emosional dari beberapa macam. Jadi ingat Harry Potter ya, Patronus Nymphadora Tonks berubah dari bentuk sebelumnya menjadi seorang makhluk berkaki empat yang diduga adalah werewolf karena mungkin itu mencerminkan cintanya dari Remus Lupin. 
saya yakin, patronus Nona yang indah itu pun mencerminkan pribadi Anda.

Nona, nona... sampaikan pada nona-nona lainnya, sampaikan juga pada Cut Nyak Dien, Ibu Kartini, Ibu Siti Ainun, Ibu Fatmawati, Siti Fatimah r.a, Siti Sarah, Siti Hajar, Siti Aisyah r.a, juga pada Siti Khadijah r.a, dan sampaikan pula pada Siti Hawa, bahwa mereka tidak perlu menyesal memiliki salah satu anggota kaumnya yang seperti Nona....

PS : Nona Luna disini buka Luna Lovegood nya Harpot ya..

Monday, January 9, 2012

PRIORITAS


PRIORITAS
Prioritaskan kualitas daripada kuantitas. Lebih baik sedikit, tetapi berkualitas, daripada banyak tetapi tidak bisa diandalkan. Kunci sukses adalah keimanan dan kehendak yang kuat, bukan jumlah dan banyaknya orang.
Prioritaskan ilmu daripada amal. Ilmu datang mendahului amal dan ia adalah acuan dan penunjuk amal perbuatan. Ilmu itu pemimpin, sedangkan amal adalah pengikutnya. Orang yang tahu ilmunya, dia akan beramal dengan sebaik-baiknya. Utamakan pemahaman agama di atas pemahaman ilmu pengetahuan. Utamakan belajar dulu sebelum melakukan pekerjaan.
Prioritaskan pemahaman daripada menghafal. Prioritaskan yang pokok daripada yang cabang. Prioritaskan ijtihad daripada taklid (buta). Prioritaskan studi dan perencanaan dalam persoalan dunia. 
Ketika mengajarkan atau mendakwahkan sesuatu (terutama ke orang yang belum tahu…) Meringankan dan tidak memberatkan, memudahkan dan tidak mempersulit. Aisyah berkata, “Tidaklah dipilih oleh Rasulullah saw antara dua perkara kecuali yang paling mudah selagi tidak berdosa. Maka jika berdosa, beliaulah orang yang paling jauh darinya.”
Utamakan proses bertahap daripada perubahan drastis dan tergesa-gesa.
Prioritas dalam beramal. Prioritaskan amal yang tetap, senantiasa ditekuni dan dijalankan secara terus-menerus walaupun sedikit, daripada yang besar, berat, atau banyak tapi terputus-putus. Rasul bersabda, “Kerjakan amal sesuai kemampuan, sesungguhnya Allah tidak bosan sehingga kamu bosan.” Dan jangan memberat-beratkan diri. Dahulukan amal yang lebih banyak, besar, luas, dan langgeng manfaatnya. Utamakan amalan hati dan batin (cinta kebaikan, niat yang lurus, takwa hati, dan ikhlas) daripada amalan fisik.
Prioritas dalam bidang yang diperintahkan antara pokok dan cabang. Prioritaskan ibadah fardhu (fardhu ‘ain daripada fardhu kifayah) daripada ibadah sunnah. Prioritaskan fardhu yang berhubungan dengan hak-hak orang banyak atas hak-hak perorangan. Prioritaskan loyalitas terhadap masyarakat atas fanatisme suku, kelompok, keluarga, dan perorangan

resume buku Fiqih Prioritas, Dr. Yusuf Al Qardhawy


Tuesday, January 3, 2012

The Pianist

today I would like to share about one of my favorite movies. i watched it about 3 months ago, and i still remember the greatness of the movie. The sat, the act, the sound, etc.
here we go!


THE PIANIST


Director : Roman Polanski
Writers : Ronald Harwood, Wladyslaw
Stars : Adrien Brody, Thomas Kretschmann, and Frank Finlay
Rating : 8,5 of 10
cover cd nya
-ada translator disini-
ya, film karya Roman Polanski (yang saya ingat dari beliau itu adalah sutradara film Oliver Twist hehe) tahun 2002. sinopsis lebih lengkapnya mangga googling aja sendiri.

film based on true story ini berkisah tentang perang dunia II dan seputar per-Nazi-an. saya suka film-film yang latarnya tentang Hitler dan embel-embelnya, that's why i like most of Spielberg's movies hehe.

nah, disini si Adrien Brody yang berperan sebagai  Wladyslaw Szpilman, seorang pianis yahudi, diharuskan untuk bertahan hidup di tengah-tengah kota yang hampir mati karena serangan Jerman terhadap Polandia. serangkaian pembunuhan dan bom disana-sini akhirnya menyebabkan si Szpilman ini tinggal sendiri di "kota mati" itu. selama beberapa tahun (berapa tahun ya? lupa) dia harus bertahan hidup mencari makanan dari dapur-dapur rumah yang tidak kena bom. Digambarkan, awalnya tubuhnya bersih badannya bugar, setelah peristiwa itu, penampilannya menjadi super kurus, rambut kondrong, kucel, mirip gembel. yang kemudian terselamatkan setelah bertemu seorang kapten Jerman (Thomas Kretschmann) yang bernama Kapten Wilm Hosenfeld.

setelah mengaku sebagai seorang pianis dan memainkan lagu di depan si Kapten, akhirnya kapten menolongnya dengan memberikannya roti (rutin) dan mantel tentara jerman. tapi, setelah Jerman kalah di Polandia, keadaan terbalik. Kini si Kapten lah yang menjadi sandera, dan Szpilman terselamatkan hidupnya. si Kapten meminta tolong pada salah seorang yang melewati kamp konsentrasi untuk memberitahu bahwa ada dirinya di kamp tersebut dan minta dibebaskan oleh Szpilman (yang dia ingat kini menjadi pianis di sebuah radio). namun Szpilman terlambat datang, si Kapten sudah tidak ada.




Ya, intinya... hidup itu keras! haha
perjuangan untuk hidup bagi seseorang yang berada dalam sebuah peperangan adalah ibarat hidup di ujung tanduk, bersiap untuk mati kapanpun mereka di serang. mari refleksikan keadaan ini dengan keadaan di negara yang sampai saat ini porak-poranda khas peperangan masih tercium di rumah-rumah mereka.
setiap individu punya hati nurani yang mengajarkan tentang kemanusiaan, itu digambarkan oleh pribadi Kapten Jerman yang menolong Szpilman sekalipun ia seorang yahudi. diatas permusuhan bangsa, ras, agama, semua orang -harusnya- punya rasa kemanusiaan tinggi untuk setidaknya memanusiakan manusia.
dan ya, hm, film ini mengajarkan juga tentang betapa mahalnya hidup nyaman dan aman itu. alangkah baiknya kita mensyukuri hidup di kondisi saat ini -setidaknya lebih baik dari kondisi di film ini-
seperti tagline film ini :
music was his passion and survival was his masterpiece
bertahan hidup adalah karya terbesarnya, karena dia bisa bertahan disaat tak satupun bisa bertahan. dan dengan bakat yang dia miliki, dia bisa menyambung hidupnya.


film yang unpredictable ending, love it.