Showing posts with label Opinion and Share. Show all posts
Showing posts with label Opinion and Share. Show all posts

Thursday, February 6, 2014

Oplosan-Man

so finally, I dicided to write this. 

Honestly, during the last semester, i felt so stressed. Well, I had a super busy time with a stack of exams consecutively. So, during at that time, I wonder if I was not a human (?) beside a robot which must has a brilliant brain. I became sleepless and I had to memorize all the words in the book which I don't understand why I have to do that. Seems like a robot? I guess yes.

I have to struggle passing this semester with 31 sks. As a good human being, education should be a part in my daily life. Those who give up on education, they must live in bitterness of ignorance.

In the middle of boredom with that campus-thingy, suddenly I watched  a news from television about young men who have drunk, something called "miras oplosan" just for having fun, and…experimenting (!) They mixed some dangerous chemicals into the water, like sprintus (?) -the material which I commonly use for my lab skill class- Oh, come on, you must be kidding. Those chemicals absolutely contain a total toxic for our body.

Can you guess what is the result? Yap yap. They were collapse, fainted. Well, I am interested in comparing these two contrasting conditions. First, my condition which is stressful with all the burden of education, with the hardest way hoping everything ends as soon as possible. Meanwhile, as the opposite condition, the “Miras-men” choose to enjoy their life in the shortest way with the simplest way.

I hate those people, who I called them “crum”. Don’t they think how if they die? If they survive, how much money is needed for the treatment? If they still alive, how is their family’s feeling? still care? Or neglecting…

How many more of young people who are thinking of killing himself by drinking cheap or “oplosan” alcohol? I think that It feels better if all the men who wasted his life should be wiped out, disappeared from this earth. The Earth is already crowded by humans. The occupants should be selected, whose brains are still sane and truly appreciate the life that could live here. While others (who don't appreciate their life) should go to Mars, or wherever...please don't fill my earth with your stupidity. Do not steal the oxygen (?) if it turns out you were reluctant to live. Just go !

What kind of thinking is this?

I just don’t like them. 

Monday, July 8, 2013

tongkosong

Ada orang yang jika berbicara, semua hal yang  terlintas di pikirannya akan ikut dibicarakan, sampai mulut berbusa, menyambung satu topik dan menyerempet topik-topik lain. Ada orang yang ketika berbicara, dengan semangat berapi-api berpetir-petir, tapi ditengah-tengah kehilangan kosakata, bingung mau melanjutkan apa. Ada orang yang ketika berbicara, kata-katanya tenang mencerminkan ketinggian ilmunya, seolah di otaknya ada brangkas kata yang tersusun rapi.

Tapi ada juga yang ketika berbicara, dia akan seperti ini :

Percaya atau tidak, tapi sebaiknya percaya saja,  setiap kali saya mau bicara di depan forum, saya akan berpikir berkali-kali tentang kata-kata yang akan saya ucapkan, kira-kira benar atau tidak? Nanti kalau tidak benar, apa kata orang? semua kalimat-kalimat yang acak-acakan itu terus-terusan dirangkai sebelum diucapkan, sampai-sampai waktu untuk berbicaranya sudah kadaluarsa, dan akhirnya tidak jadi bicara.
Atau ketika ragu berpendapat dalam tulisan, setelah tulisan di posting, dibaca ulang, kira-kira benar tidak ya tulisannya, kalau salah apa pendapat orang? apa sebaiknya di hapus saja? Maka akhirnya, tulisannya kemudian saya hapus. Cupu emang.

****

Hmmm, Akhir-akhir ini, dunia makin ribut ya. Debat udah jadi hobi. Mirisnya, yang jadi lawan bukan sebenar-benar lawan. Sometimes, kita mendebat kawan kita sendiri.

Mesir bergejolak, tapi ujung-ujungnya sesama muslim main tuding. Barat seneng tuh liat kita kaya gini. Apalagi yang ngaku muslim tapi otaknya udah ga sejalan sama Islam, namanya Liberal. Orang-orang liberal banyak yang jago nulis, jago ngomong, jago argumen. Masa “matahari yang sebenarnya pemberi kehidupan” aja bisa mereka argumenkan? Belum lagi mereka men-statement-kan kalau Islam itu agama oplosan. Iya kali emang minyak goreng. Dan segala kekacauan teori-teori mereka. Mereka jago loh berargumen, meskipun argumen mereka stupid nya minta ampun.

Suatu ketika saya baca tulisan dari orang liberal. Bravo, bahasanya meyakinkan sekali. Ya orang-orang awam yang ga tau apa-apa bisa kemakan tuh sama “teori” nya doi. Tapi kalau kita kritis, akan jelas sekali terlihat subjektivitas menjadi tema besar dari tulisan sang penulis.

Semua penulis memang pada akhirnya akan membawa kepentingannya. Kepentingannya adalah tujuannya. Termasuk tulisan ini, saya punya tujuan untuk menulis, dan saya punya kepentingan mengapa saya menulis. Kepentingan menulis itu banyak, ada yang ingin menginspirasi, ada yang ingin berbagi, ada yang ingin kelihatan keren, ada yang ingin mengungkapkan perasan, ada yang ingin bersosial, berpolitik, berbisnis, bahkan ada yang ikhtiar cari jodoh lewat tulisan. Apa itu salah? Hei, Semua penulis melakukannya.

*****

Dengan argumen yang sedemikian beragam, kadang orang-orang yang tidak berilmu atau yang ilmunya salah arah alias gagal paham saja mampu mengungkapkan pendapat di khalayak. Maka, seorang saya yang dulu berpikir, “ilmu kamu masih sedikit, masih belum ngerti apa-apa, dari pada kamu salah, lebih baik kamu diam saja, wong diam itu emas” harusnya berpikir lagi.

Sampaikanlah walau hanya satu ayat. Kebenaran harus ditegakkan dengan segera, kebenaran adalah agenda yang mendesak. Kalau menunggu sampai ilmunya tinggi, siapa yang akan bertindak jika ketidakbenaran merajalela? Mereka yang jelas-jelas sudah salah paham dengan ilmunya, masih heboh berkoar-koar. Mereka toh tidak takut salah, meskipun memang salah. Memang belum tentu saya benar, tapi ketika apa yang saya ucapkan dibenarkan Alquran dan Sunah, tidak ada satu manusiapun yang bisa menyalahkannya. Termasuk oleh isme isme manapun. Jadi kiranya, saya tidak boleh lagi takut berpendapat.

Kalau pendapat saya salah?

Toh, saya manusia. Itu  ciri saya manusia, saya punya salah. Yang bikin dia bukan manusia, ya kalau dia salah, dia enjoy sama kesalahannya. Kalau pendapat saya salah, niat awal adalah belajar, saya berlindung pada Allah atas kesalahan ucapan dan pikiran. Orang akan mengkritik pendapat saya, dan dari kritik saya akan belajar apa yang benar. Jadi, meskipun ilmu saya sedikit, tapi yang sedikit itu sebaiknya dialirkan, biar tidak jadi keruh karena ditampung di otak sendiri saja.

Beda ya, antara berpendapat sama dominasi berbicara. You never learn when you talk, kata pepatah inggris. Jadi dear myself, jangan cuma berkoar-koar, tapi tidak banyak mendengarkan dan mengamati. When it happens,  you learn nothing.

Saturday, May 11, 2013

biosphere


Seorang bayi manusia dirawat oleh sekelompok kera, si bayi tumbuh selayaknya kera tumbuh. Nama bayi itu kemudian terkenal sebagai Tarzan. Cerita ini menjadi fenomenal karena dikemas oleh sentuhan magic Disney yang membawa kita pada negeri imajinasi. Bukan karena Tarzan jatuh cinta pada Jane yang membuat cerita ini istimewa, karena soal cinta, toh Belle pun bisa jatuh cinta pada Beast. Ini soal lingkungan yang menumbuhkan tingkah laku Tarzan, anak manusia dibesarkan oleh sekelompok kera.


Saya bukan peneliti yang sedang membuktikan seberapa besar determinasi lingkungan terhadap perilaku seseorang. Saya hanyalah seorang manusia biasa *hadeuuh*. Tapi saya yakin, pengaruh lingkungan sangat amat besar dalam pembentukan karakter seseorang. seperti halnya dalam film animasi *ketauan tontonannya beginian* semisal Tarzan. Karakter Alex dalam Madagascar pun rupanya mengajari kita, dimana kita hidup, disitulah karakter kita terbentuk. Alex yang sedari kecil hidup terkurung dalam kebun binatang Central Park New York, merasa diri superstar, dan bukan menjadi se-superstar sebelumnya ketika dia harus  berhadapan dengan alam bebas Madagascar. Lingkungan kebun binatang membentuk kepribadian Alex. Dan lingkungan hutan membentuk kepribadian Tarzan. Meskipun hanya dalam film, tapi saya suka cerita ini *terus kenapa?* Dalam akhir film, mereka bisa berubah selayaknya manusia dan selayaknya singa yang sebenar-benarnya, seutuhnya. Tapi satu hal, mereka harus keluar dari zona lingkungan mereka dulu, belajar bertemu orang baru, mencari jati diri, dan akhirnya memutuskan bersikap *saya bukan psikolog, tapi menurut kesotoyan saya, kayanya sih teorinya gitu *


Posisikan diri kita sebagai Tarzan-Tarzan abad 21. Masih mencari jati diri, masih galau menentukan jalan hidup, masih suka plinplan, masih suka bingung memutuskan *dan ini malah jadi curhat* buatlah satu keputusan besar : keluar dari zona nyaman. Cari lingkungan yang kece, yang membawa pada kebaikan. Bergaul dengan orang-orang yang gemar menasehati dalam kebaikan dan kesabaran… yap, buatlah keputusan besar. Orang baik selalu menerima kehadiran orang yang berniat untuk mempelajari kebaikan. *kaya ustadzah gini -,-


Saya wanita dari kampung, dan terancam berpikir kampungan tulen kalau tidak terselamatkan oleh nasib. Alkisah, kakak saya karena kesalahan sistem *maaf lagi-lagi nyalahin sistem*dia engga bisa masuk SMP negeri, sekalipun SMP Negeri di Kabupaten. Nilai Ebtanasnya kecil. Akhirnya semua kebingungan, untung saya masih TK, jadi engga ikut-ikutan bingung. SMP swasta di kabupaten Bandung Timur belum ada yang bagus, terus mahal pula. Setelah nangis berkawan bantal berhari-hari, kakak saya mendapat secercah harapan. Kebetulan tetangga kami itu kepala sekolah SMP Darul Hikam Bandung, SMP Swasta yang cukup bagus lah ya. Melepas kebuntuan, ibu saya mendaftarkan kakak saya ke SMP tersebut, yaaaaang, jauhnya bukan main dari rumah.


Biasalah ya ibu-ibu tukang gossip di warung kasak kusuk. Katanya buat apa sekolah jauh-jauh, sekolah dimana aja sama. Catat baik-baik di ingatan Anda  pembaca yang setia, di pikiran kebanyakan orang tua ternyata masih kolot dengan mengatakan “sekolah dimana saja sama”. Saya sama seklai tidak setuju. Ada faktor X yang membedakan satu sekolah dengan sekolah lain. Faktor X itu bernama lingkungan. Iya, lagi-lagi lingkungan.


Kalau saya diizinkan berandai-andai, maka saya akan berandai-andai seandainya nilai ebtanas kakak saya bagus. Ibu saya akan mendaftarkan kakak saya di SMP Rancaekek, kemudian lanjut SMA Rancaekek, dan kuliah entah dimana. Adiknya tentu akan mengikuti jejak kakaknya, SMP SMA lalu kuliah entah dimana. Selalu ada makna dibalik semua pertanda *ßini lirik lagu*Allah punya maksud yang lebih indah, diluar nalar seorang manusia. Ternyata, karena nilai ebtanas kakak saya buruk, akhirnya dia ikut berjuang bersama tetangga pulang-pergi naik kereta api berangkat subuh pulang magrib, demi pendidikan. That’s life. Show must go on.  Dan karena lingkungan, akhirnya kakak memilih untuk masuk SMA 3 Bandung. Dan seperti kebanyakan anak 3 yang lain, kakak saya melanjutkan studi ke ITB. Otomatis, teori adik mengikuti kakak itu berlaku. Akan berbeda hasilnya jika teori “sekolah dimana saja sama” masih berlaku di otak kita. Beberapa kawan kecil saya ada yang hidupnya lunta-lunta, hilang arah, berandal, cinta dunia dan bangga pada dosa, main tindik tindik tubuh mirip sapi. Kawan saya lainnya kini visioner, optimis pada masa depan yang cerah, dan menghargai hidup, dan dengan segala kesotoyan saya, lagi-lagi saya melihat mereka pada background lingkungan dimana mereka dibentuk. Padahal sama-sama hidup dibawah langit Kabupaten Bandung Timur. Lingkungan membentuk saya, membentuk Anda, membentuk semua orang. Jadi menurut saya, keputusan untuk memilih lingkungan haruslah diutamakan.


Berkawanlah. Itu salah satu prinsip menjalani hidup. Manusia butuh teman. Dan sahabat adalah deskripsi diri. Kalau mau menilai seseorang, lihat dari teman-teman terdekatnya. Lingkungan mendeskripsikan kita. Itu sebabnya Rasul mengibaratkan pertemanan dengan penjual minyak wangi dan pandai besi

Sesungguhnya kawan duduk dalam rupa orang yang shalih dan kawan duduk dalam rupa orang yang suka maksiat adalah seumpama tukang minyak wangi dan pandai besi. Tukang minyak wangi boleh jadi akan mencipratkan minyak wangi ke badanmu, atau engkau membeli minyak wangi dari dia, atau engkau mendapatkan bau harum dari dirinya. Adapun pandai besi boleh jadi memercikkan api ke bajumu atau engkau mendapati bau busuk dari dirinya.” (Mutaffaq ‘alaih). 

Seseorang itu bergantung pada agama  sahabatnya. Karena itu, hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia bersahabat.” (HR Abu Dawud).
Terimakasih untuk mereka yang menyadarkan saya teori ini. Selektif memilih adalah modal awal dalam berkawan. Pandai-pandai membawa diri, sebab kita tidak pernah tahu bagaimana arus akan membawa kita. Butuh gaya yang besar untuk memulai. Momen inersia manusia untuk bergerak itu sepertinya luar biasa besar. Benda akan cenderung mempertahankan posisi diamnya, itu kata guru fisika. Tapi, daya tarik lingkungan yang baik –harusnya- memberikan dorongan yang lebih kuat, sehingga kita bisa memutuskan untuk beranjak dari lingkaran gelap, menuju cahaya yang terang benderang. Percayalah, bahwa tidak ada yang kekal di dunia, orang jahat sejahat-jahatnya bisa menjadi baik sebaik-baiknya, dan orang baik bisa berubah 180derajat menjadi orang jahat sejahat-jahatnya. Lingkungan merubah mereka. Lingkungan merubah kita…

sekian

Salam Hangat & Jabat Erat.
DN


Friday, October 19, 2012

Khalasa


ketika saya mulai menulis ini, langit sedang bersahabat. tidak terik, juga tidak terlihat muram. teduh. orang-orang bergegas menjemput rezekinya. semua berdamai pada alam, maka alam berdamai dengan semua. langit mengintip, lega, katanya.


ketika saya baru akan selesai menulis ini, dunia jadi kacau balau. orang-orang mulai naik pitam, udara memanas, ubun-ubun mereka mendidih. satu membentak, lainnya menggertak. kerut di atas mata saling beradu. Berbicara tidak lagi berlandaskan kebenaran, sebab agama sudah jadi komoditi yang diperjualbelikan. 

perang-perang dingin terjadi. kita bertempur dengan kebekuan hati masing-masing.


ketika saya benar-benar telah selesai menulis ini, saya merasa benar-benar muak oleh manusia-manusia yang ributnya lebih menyebalkan dari getah pohon yang menempel di lengan baju. 



******

banyak yang ternyata lupa kesederhanaan.
semuanya cari eksistensi. kebaikan tidak lagi jadi urusan antara dirinya dan tuhannya. sekarang, orang lain pun harus tahu.
padahal ikhlas bukan lagi bernilai ikhlas bila ia telah sampai pada bibir-bibir yang melisankan. Ikhlas bukan lagi bernilai ikhlas bila niatnya bukan lagi berlandaskan Tuhan.
popularitas yang kini diagungkan tanpa sadar telah dituhankan : menjadi tuhan-tuhan kecil.

sebagian haus pujian. Yang lainnya kikir memuji, merasa diri dewa dewi? 

dari mana lagi kita harus belajar ikhlas? bicara kebenaran saja harus diumbar-umbarkan. 

media publik yang ada dijadikan sasaran alasan, menipu diri, katanya menyebarkan kebaikan, faktanya sebatas pencitraan.
saya benar-benar ingin tertawa.

~
ternyata menertawakan diri sendiri

ikhlas bersemayam di hati, hati pemiliknya yang bersih, yang setidaknya mau berkaca jika hatinya mulai menjadi keruh. dan mau meminta hati yang baru, jika yang lama ternyata sudah mati

ah,

sebaiknya saya mulai menulis kembali, biar langit bersahabat lagi.

Tuesday, August 7, 2012

GENTALA

dalam artikulasi sebuah pertemuan, ada frekuensi yang saling melemahkan.
tentang pelaku, tentang sistem, tentang para bayangkara
begitupun kesalahsasaran tentang objek yang menjadi tujuan perkara
manusia dituntut untuk menjadi hamba yang menghamba, menjadi insan yang bermanfaat
maka, sekali waktu, kita berlomba untuk menebar manfaat di muka bumi yang semakin tua dan bosan diperhambakan.
pemuda, adakalanya seperti kita, hidup dan merasa dihidupi oleh lingkungan luar,
oleh kampus, oleh organisasi, oleh kamar singgah, oleh tempat perkumpulan teman-teman dekat.
hingga dua puluh empat jam habis tersita dengan segudang aktivitas, kadang lupa bahwa diri punya tempat pulang bernama rumah.
dimana ibu merindu, ayah menunggu, adik kakak sanak saudara berharap mendengar monodrama tentang pagi hingga kembalimu.
kita merasa repot, merasa sibuk,
haa, sibuk bermanfaat untuk orang lain, untuk yang di kampus sana, di organisasi sana, di tempat perkumpulan sana.
terkadang,  ibu ayah saja masih terbengkalai
boleh jadi kita berlomba menjadi sebaik-baik manusia : yang paling bermafaat
tapi ada pemahaman yang harus kita pertanyakan, tentang objek yang menjadi tujuan utama
sudikah, bila yang terdekat terlalaikan haknya untuk diberi manfaat?
di batas waktu untuk mereka yang serba terhimpit, serba sempit, serba sedikit
seyogyanya kita meluangkan diri memenuhi tuntutan kebermanfaatan
untuk orang-orang terkasih terlebih dahulu
merekalah yang seharusnya merasakan hadirnya kita, lebih dari siapapun.

kita bukan gentala,
kita adalah nahkoda, kita adalah masinis, kita adalah pilot
kita yang menentukan, kemana saja arah kendaraan iman akan dimanfaatkan.

Sunday, January 29, 2012

FOLKLORE

Setelah mobil, rumah, handphone, uang bensin, biaya masuk tol semua gratis untuk mereka, kini rakyat harus menanggung biaya milyaran rupiah untuk kalender, kursi, dan wc bagi anggota dewan yang terhormat...
Miris ya?

Ditengah-tengah masyarakat yang serba berat sebelah, tuan-tuan masih saja bisa menggerogoti sisa-sisa dana yang bukan haknya. Bukan bermaksud untuk so tahu, sebab ilmu yang saya punya untuk urusan yang demikian rumit ini tidak cukup. Saya tidak begitu mengerti bahkan tidak tertarik untuk mempelajari segala sesuatu tentang ranah politik. Saya hanya ingin menilai dari sudut pandang orang awam, yang kesimpulannya hampir sama rata untuk seluruh orang awam di Indonesia : DPR banyak makan uang rakyat.

 Kata orang, sistem yang baik itu perlu ada  pemimpin dan ada yang dipimpin. Nih, ceritanya tuan-tuan disana bekerja sebagai pemimpin rakyat. Nah saya sebagai rakyat biasa akan bertindak sebagai orang yang dipimpin. Ga bagus kan kalau semua ingin memimpin, tapi tidak ada yang mau dipimpin. Kecuali memimpin disini diartikan sebagai seni untuk mencari kedudukan, materi, dan kehormatan. Maka semua orang akan berlomba untuk bisa memimpin. 

Saya sih kasihan sama mereka, setiap diberitakan media pasti tentang hal yang buruk-buruk. tentang korupsi suap sana suap sini, tentang minta naik gaji minta tunjangan baru, tentang kunjungan kenegaraan plus plus, plus main main  menjelajah lintas benua. Jangan-jangan pemberitaan berikutnya mereka minta sepatu dan baju dinas baru setiap lebaran datang (?).

Iwan Fals bilang, wakil rakyat seharusnya merakyat, jangan tidur waktu sidang soal rakyat. Kasian, mereka molor mungkin semaleman sibuk membereskan laporan hasil rapat, mungkin semaleman sibuk nonton Barcellona vs Madrid, mungkin semaleman sibuk main gapleh sama tetangga, atau mungkin semaleman sibuk sembahyang sepertiga malam (?). mungkin ga?


Kasihan. Semuanya buruk.

Kapan pemberitaan bagusnya?

Siapa yang harus disalahkan?

Media? Yang selalu memperbesar masalah, merunyamkan berita tentang prestasi dan menjelaskan berita tentang  kejahatan profesi. Sebab masyarakat awam seperti saya cuma bisa menilai kinerja mereka lewat pencitraan media. Lha kalau mau menilai langsung bagaimana caranya.

Eh orang awam, tau ga? Mereka untuk mendapatkan posisinya itu harus lewat perjuangan keras! Mereka harus jual sawah, jual tanah, jual rumah, bahkan jual harga diri(?). Bagaimana tidak, orang awam seperti kami yang menjadi sasaran empuk penjualan harga diri dan kebegoan mereka untuk menyuap limapuluh sampai seratus ribu perak demi memilihnya kelak. Lagian mau aja jadi orang bego, yang siap sedia disogok. Lama-kelamaan lingkaran setan ini kapan putusnya. Mereka kan dipilih ya sama kita juga. Jadi, siapa yang bego?

Ngomongin kaya gini ga ada abisnya ya? Maklum, judulnya aja lingkaran setan, lingkaran ga ada ujungnya. Kecuali ya ada yang MAU dan BISA untuk memutuskannya. jangan jadikan kisah ini menjadi sejarah yang dipertahankan, semacam folklore, cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun, dari kabinet terdahulu hingga sekarang.

Jangan langsung memvonis mereka yang salah, meski mereka memang pasti salah (?). kita nya sendiri yang bandel. Nonton bola aja mesti rusakin lapangan. Demonstrasi aja mesti bakar gedung. Hobinya tawuran, judi, mabuk saat nyetir, sama curi sendal polisi. lha, diajak sembahyang mengaji ditolak mentah-mentah.
Ga asik memang ngomongin ginian, susah ditebak siapa yang salah. Mending ngomongin masa depan, siapa tau 10 tahun 15 tahun kedepan, model anggota dewan yang sekarang bersih dari ranah perpolitikkan dengan digantikannya mereka oleh sosok pemuda seperti saya (?)

Mau melenceng dikit, everything happens for a reason kan ya? Kita harus tau, penyebab utama kenapa ga rakyat ga pemimpin kita itu bandel luar biasa, jangan-jangan waktu kecilnya juga emang bandel. Tugas siapa dong kalau gitu? Jelas, balik lagi ke tugas mendidik oleh orang tua. Hey calon ibu calon bapak, anak usia 0-5 tahun ada di masa golden age, pembentukan karakter, dan pembelajaran paling efektif. Setelahnya mereka akan belajar dari lingkungan, pengalaman, dan pemahaman sendiri. Fungsi orang tua bukan hanya kasih mereka makan, membayar uang sekolah, dan ngasih kamar 3x4m buat mereka tidur. Jauh lebih dari sekedar itu.

Buah jatuh ga jauh dari pohonnya. Like father like son. Untuk perubahan sistem, kontrol dulu perubahan perangkat-perangkatnya. Siapa yang bisa mengontrol pribadi seseorang selain dirinya sendiri dan orang terdekatnya? Siapa orang terdekatnya? Jelas keluarganya. Masa saya mau ngontrol perkembangan cucunya SBY, ya kan ga mungkin.

Jadi, tugas orang awam kaya kita apa? Pertama, ya jangan bangga jadi orang awam, sebab Allah menyukai dan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu. Kedua, jadi warga yang baik dan ga bandel, jangan hobi bela-belain Persib dan mengutuk wasit sempai titik darah penghabisan padahal ya emang mainnya mungkin lagi jelek. Ketiga, jadilah sosok calon orang tua yang mengerti urgensi mendidik dan membentuk karakter, sebab dari rahim ibu lah akan lahir sosok pembaharu dan dari didikan ayah lah akan hadir calon pemimpin yang diharapkan. Dan keempat, kelima, keenam, sapai ke berapapun, itu tugas masing-masing untuk membuat list. Tapi yang paling penting dari semuanya, jadilah pribadi yang dekat dengan Tuhannya, ini bukan tugas orang kita aja, ini tugas semua makhluk hidup, semua!

Udah, segitu doang tulisan panjang agak lumayan sedikit rada ga ada isinya ini. Semoga bermanfaat, yang salah jelas datangnya dari saya, yang benar selalu datang dari Allah azza wa jalla...