Showing posts with label Tausyiah. Show all posts
Showing posts with label Tausyiah. Show all posts

Thursday, January 3, 2013

Dari Individu ke Masyarakat


Bismillahirrahmaanirrahiim.

……al Insanu madaniyyun bith tabh’i…...
Manusia adalah bermasyarakat secara tabi’atnya.

Manusia diciptakan dengan fitrah bermasyarakat.

“wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…..” (Q.S Al-Hujurat : 13)

…menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku… memang pada dasarnya manusia hidup berkelompok, membentuk komunitas sesuai dengan jati dirinya, menemukan zona yang dirasa nyaman untuknya. Untuk itu, manusia akan senantiasa melakukan pengenalan dengan dunia sosial dimana dia hidup. Tidak ada manusia yang bisa survive hidup sendiri. Orang jomblo pun butuh orang lain *untuk menghapus kejombloannya. *Ah, fokus det, fokuuss.

Pengenalan.  Kenal—mengenal-dikenal. Untuk menuju “berkelompok” manusia harus melawati proses mengenal orang lain. Taaruf. Proses saling mengenal tidak hanya sebatas, oke-saya-tahu-nama-Anda—Anda-tahu-nama-saya. Ada 3 tahap yang harus dilewati agar proses Taaruf kita sempurna ; pertama, taaruf Jasadiyah : kita tidak bisa mengelak bahwa untuk mengenal, kita wajib -pake banget- untuk tahu wujud orang yang ingin dikenal seperti apa. Saat kita mengenal, kita harus tahu seperti apa wajah Ina dan seperti apa wajah Ani, karena Ina bukanlah Ani dan Ani bukanlah Ina (?) di tahap ini, kita akan mulai mengetahui siapa namanya, pekerjaannya apa, umurnya berapa, dsb, dsb. Segala yang berhubungan dengan dirinya, kita tahu, entah secara superfisial, maupun mendalam.

Kedua, adalah taaruf fiqriyah. Saat kita sudah mengenal jasadiyah, otomatis, kita akan lebih sering berinteraksi. Menuangkan pola pikir dalam percakapan. Bertukar pandangan. Maka saat proses itu berlangsung, secara sadar maupun tidak sadar, sebenarnya kita sedang mengenal seseorang secara fiqriyah. Saat berhasil melewati tahap ini, kita bisa membuktikan bahwa serigala akan berkumpul dengan serigala lainnya, bukan dengan harimau-kambing-kucing-ayam-kerbau-sapi. Kita akan mampu menilai, bahwa ternyata sekelompok orang disatukan oleh kesamaan pola pikir mereka. Jarang sih ya, orang sholeh berkelompok dengan tukang mabuk. Secara sendirinya, mereka akan memisahkan diri, mengeliminasi diri, menjadi bagian marginal yang menyusut mencari pribadi-pribadi lain yang dirasa sama….secara fiqriyah.

Ketiga, adalah taaruf qolbiyah. Inilah pengikat segala jenis taaruf. Saling mengenal secara batin, dari hati ke hati. Qalbu kita memiliki radar sendiri, memiliki kecenderungan sendiri. Bagaimana kita yang sudah menyatu hatinya dengan orang sholeh, akan merasakan kerinduan tersendiri untuk kembali berkumpul, pun dengan orang pecinta geng motor -misalnya, mereka akan merindukan perkumpulan dengan kelompok mereka. Itu fitrah. Saat kita sudah mengenal seseorang secara qolbiyah, kita sudah tidak perlu lagi menanyakan : kamu orangnya gimana sih? Karena keterikatan hati kita sudah mampu menilai, oh ternyata orang ini sifatnya begini begini begini, istilahnya tafahum. Kita bisa merasakan karakter orang tersebut. Inilah pentingnya menjaga keterikatan hati lewat pengenalan. Untuk masuk dalam kehidupan seseorang adalah dengan menyentuh hatinya, dan hati hanya bisa disentuh oleh hati.

Lalu setelah taaruf-tafahum, kita memasuki fase Ta’awun. Tolong menolong. Kita yang sudah saling mengenal saudara kita akan cenderung lebih memprioritaskan dalam tolong menolong, dalam bekerja sama. Ruh manusia itu ibarat pasukan yang berkelompok-kelompok. Dengan kesadaran ini, kerja-kerja kita seharusnya tersalurkan menjadi sebuah ikatan yang mengumpulkan “kayu-kayu” terserak.

Setelah kita bisa saling menolong, maka kita bisa saling Takaful, senasib sepenanggungan. Inilah hakikat UKHUWAH. Tingkatan dimana setiap muslim merasakan saudara sesama muslim sebagai satu tubuh. Disini kita bisa melihat bahwa lingkungan mencerminkan kepribadian seseorang. Teman-teman sepergaulan yang senasib sepenanggungan akan mendeskripsikan siapa kita. Beritahukan siapa temanmu, maka aku akan tahu siapa dirimu, begitu kata pepatah. Inilah ukhuwah. Ikatan ukhuwah adalah ikatan yang menjembatani keshalihan individu menuju keshalihan masyarakat.

Dari keshalihan pribadi menuju keshalihan masyarakat.

Allah menurunkan agama Islam bukan hanya untuk manusia sebagai pribadi tetapi juga untuk manusia sebagai masyarakat, karena itu Islam bukan hanya membangun keshalihan pribadi melainkan juga membangun keshalihan masyarakat. Keshalihan pribadi berhubungan dengan kedekatan seseorang denganAllah yang diwujudkan dalam ketaatan dalam beribadah (Hablum minallah). Sedang keshalihan masyarakat adalah hubungan harmonis manusia dengan sesame manusia (Hablum minannas), yang ditunjukkan dengan perilaku dan akhlak yang baik. Dua sisi keshalihan ini wajib untuk dilaksanakan secara bersamaan dan seimbang.

Keshalihan individu datang ketika seseorang mampu memurnikan tauhid kepada Allah. Dan puncak dari ketauhidan adalah IHSAN.
Ihsan berarti berlaku baik,  merasa diawasi oleh Allah dalam setiap gerak-gerik. Muruqubatullah. Seseorang yang ihsan akan melakukan aktivitas semata mencari penilaian Allah, bukan sekedar penilaian makhluk. Allah menyuruh kita untuk berbuat ihsan dalam segala hal.

“Sungguh, Allah wajibkan kamu berlaku IHSAN dalam segala hal.” (H.R Muslim)

“dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah (IHSAN) kepada kedua orang tua, kerabat karib, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (Q.S An-Nisa : 36)
Ihsan tercermin dalam perilaku, perbuatan dan perkataan. Dengan prinsip ihsan ini, kita akan memperlakukan sesama manusia sebagaimana mestinya, hablum minannas tercapai dengan baik.
Seperti halnya ihsan yang menjadi kunci keshalihan individu, maka keharmonisan hidup manusia dalam membangun peradabannya memiliki kuncinya tersendiri. 2 pilar untuk menciptakan peradaban IHSAN adalah sikap amanah dan adil.

“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu mendapatkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil…” (Q.S An-Nisa : 58)
Amanah berarti terpercaya, bertanggung jawab, sedang adil berarti meletakkan dan memberlakukan sesuatu sesuai dengan tempatnya (dalam koridor Islam).
Dengan sikap amanah dan adil, perlahan, generasi akan menyesuaikan keadaan, menyusun tumbukan batu pondasinya, menuju keshalihan sebuah peradaban. Dan itu hanya bisa dimulai dari diri sendiri, menuju generasi madani, peradaban Rabbani. Aamiin.

Kehancuran setiap bangsa terjadi manakala amanah telah dikhianati dan keadilan telah ditinggalkan.

Inilah pentingnya kita berkelompok, saling mengingatkan tujuan, menyamakan pemahaman, saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, dan saling menjaga amanah dan rasa adil agar tetap tumbuh dalam setiap kita.

Wallahualam bishawab.

CMIIW.
Sumber :
Alquran.
Catatan pengajian persistri, oleh Ust. Jeje Zaenudin, 3 Jan 2013.
Catatan liqo.


Monday, April 30, 2012

petirbadaigeledekduarduar

penasaran, sejungkirbalik dan seterjerumus apa saya, dua minggu tidak ikut liqo.
sore hari, mendung, selepas sholat ashar dan berbincang dengan teh Irma di kantin SMAN 3 Bandung tentang mekanisme coaching yang teranyar, dengan kondisi bibir serba bengkak, padahal tidak, sebut saja baru di anestesi, huiks sakit, gigi saya sedang dalam proses orthodontik *doakan cepat selesai ya*, saya berangkat menuju salman dengan rezeki dari Allah berupa tumpangan gratis dari teh Irma yang kebetulan ada acara di salman juga. aseek, lumayan hemat uang dan waktu hehe.


yah, singkat cerita berkumpullah kami. Materi kali ini tentang apa ya. Saya pasti udah ketinggalan jauh :( 
jadihoy, hari itu kami membahas tentang jeng jeng jeng jeng...pengantar (materi awal) Fiqih dakwah yeaaah *mana backsoundnya??*


kami membahas dengan sumber referensi *tentu saja Al-Quran dan As-Sunah* dan buku dengan judul yang sama, FIQIH DAKWAH karya Jum'ah Amin Abdul Aziz.
mari tengok sebentar pengantar ayatnya, Q.S Al-Anfal : 63


Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman).Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah lah yang telah mempersatukan hati mereka. Sungguh Dia Maha Perkasa,Maha bijaksana.


grrr, kami membahas tentang tugas kita yang "nahnu du'at qobla kulli syaiin" tentang tugas sebagai penyampai saja, sebab hasil Allah yang menentukan, sebab terbukanya hati, terikatnya hati, Allah lah yang punya kuasa :)


intermezzo, teringat kisah bagaimana rasa kasih Rasulullah terhadap pamannya yang tercinta, Abu Thalib, yang tak dapat Beliau selamatkan akhir hayatnya, membuktikan, manusia semulia Rasulullah saja tidak bisa mengubah hati seseorang, apalagi kita si manusia akhir zaman. Allahlah yang maha membulak-balikan hati hamba-Nya. titik ya, ga ada koma,kalau tanda seru masih boleh.(?)


nah tralalatrilili setelahnya, satu quotes yang keluar dari mulut Murabbi saya yang dengan seketika sukses mambuat badai topan petir geledek menyambar di telinga saya, 
jadi, kebanggaan terbesar bukan ketika kita mejadi ketua ini itu, ikut organisasi ini itu, koor ini itu, melainkan kebanggaan terbesar adalah ketika kamu membina, dan binaan kamu semuanya "JADI"
slek, jleb, ngeeeeeek......
dengan pandangan yang curi-curi Murabbi saya menatap salah satu teman saya yang hebat yang sedang memegang amanah sebagai ketua makrab di salah satu fakultas di unpad yang terkenal hedonnya. 


saya juga tersepet lah, hati saya seperti kesentil, seperti keserempet delman yang ditarik kuda pacu, seperti terpanah anak panah peringatan, bukan anak panah lamaran. eh. saya jadi ababil, nanya ke diri sendiri, sebenernya yang kamu cari di dunia ini apa mba?


binaan lepas-lepas, fokus mencar-mencar, amanah kocar-kacir, mau jadi apa? badut pengisi acara ultah? dunia kampus menyamarkan tujuan awal, jadi kamu nyalahin keadaan?ish ish ish...
ikut ini itu, rasanya detik itu juga semua yang saya lakukan terasa jet-o-en-ka. zonk.
sama-sama melonggarkan pertemuan dengan adik-adik. hayu ah terjun dari lantai tujuh.


masih sakit karena keserempet, dilanjut lagi dengan warning berikutnya dari Murabbi,
keberhasilan dakwah dilihat dari perubahan si da'i. dakwahnya berhasil jika ia mampu merubah dirinya sendiri ke arah yang lebih baik. jangan seperti lilin, yang memberi cahaya tapi sebenarnya dia memakan dan membinasakan dirinya sendiri
oy yeeeaaah. boleh bentur-benturin kepala ga? atau gigit laptop?




hayu hayu lurusin niat lagi, cukup dengan serempetnya, cukup dengan benturan kepala dan gigitan laptopnya. mari berbenah. kembali ke tujuan awal lagi sesuai jawaban dari pertanyaan : sebenernya yang kamu cari di dunia ini apa mba?



Monday, January 23, 2012

Potensi Akhwat

Soekarno berkata, "Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia" maka seorang akhwat berkata, "Berikan negeri ini sepuluh wanita shalihah, niscaya dari rahimnya akan lahir manusia pengubah peradaban."


hmm, analogi yang keren.
dari rahim wanita akan hadir generasi-generasi penerus bangsa. Namun tidak semua generasi lahir sebagai "yang diharapkan bangsa" , tergantung dari  karakter dan prilaku yang dimiliki individunya. Jelas, pribadi yang diharapkan oleh bangsa adalah pribadi-pribadi yang menjunjung tinggi nilai kebenaran, kejujuran, dan rasa cinta pada Tuhannya, keluarganya, dan negaranya.

Lalu, siapa yang dapat melahirkan generasi yang demikian?
Arti "melahirkan" disini bukan sekedar konteks seorang ibu yang melahirkan anak yang dikandungnya. Melahirkan disini diartikan sebagai sebuah rangkaian proses mulai dari proses kelahiran, pendidikan, hingga pembentukan kepribadian anak.

itulah tugas utama seorang wanita, karena pada dasarnya potensi wanita adalah mendidik. men are born to lead, and women are born to teach. Pada dasarnya, ibu yang baik akan melahirkan anak-anak yang baik pula.

Dalam sebuah seminar muslimah, saya berkesempatan untuk mendengarkan kajian tentang wanita. dr. Tauhid Nur Azhar menjelaskan besarnya potensi wanita dalam mendidik. bahwa 70% kepribadian anak tercermin melalui kepriadian ibunya. Sebab anak mulai belajar pertama kali selama 9 bulan kandungan, ia merasakan apa yang ibunya rasakan. kekuatan antara ibu-anak itu begitu kuat, hingga bila si ibu cemas,gelisah, bahkan stress, anaknya akan belajar sebagaimana apa yang ibunya rasakan.

begitu besar potensi wanita dalam mendidik. Hingga sebuah kisah Nabi Musa dan Nabi Nuh  bisa menjadi perbandingan.
bagaimana seorang Musa yang diasuh dan dibesarkan oleh keluarga Firaun. Namun di tangan Asiah yang hanif lah, Musa tumbuh menjadi manusia terpilih untuk menyampaikan ketauhidan Allah SWT. Meskipun Lingkungannya adalah Firaun dan sekutunya, namun berkat didikan dan kasih sayang Asiah, Nabi Musa dapat tumbuh dengan baik.
pun lihatlah bagaimana kisah Nabi Nuh, yang pada suatu hari beliau alaihisalam, menyeru untuk bertauhid pada Allah SWT, memberi informasi bahwa akan ada banjir besar dan bagi mereka yang ingin selamat hendaknya naik ke perahunya. Titah ini tidak diindahkan oleh istrinya sendiri. Lalu lihatlah bagaimana anak-anaknya. Istri yang durhaka membawa diri anak-anaknya juga binasa. Mereka tenggelam dalam banjir besar itu karena membangkang seruan Nabi Nuh, kemudian mati dalam keadaan kafir. Naudzubillah.

wallahualambishawab.

Friday, January 13, 2012

Mengapa Harus Mereka?


Bismillah..
Terkadang banyak orang heran dan bertanya, mengapa dan kenapa harus mereka?
Yang bajunya panjang, tertutup rapat, dan malu-malu kalau berjalan..
Sering juga banyak yang bertanya.. mengapa harus mereka?
Yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dibanding ke salon, yang lebih sering menghabiskan harinya dari kajian ke kajian dibanding jalan-jalan ke mall, yang sebagian besar waktu tertunaikan untuk hajat orang banyak, untuk dakwah, untuk perubahan bagi lingkungannya, dibanding kumpul-kumpul bersama teman sebaya mereka sambil berdiskusi yang tak penting. Bagaimana mereka merawat diri mereka? bagaimana mereka bisa menjadi wanita modern?
..Jangan khawatir soal bagaimana mereka merawat dan menjaga diri, dan jangan takut mereka akan ketinggalan zaman. Tahukah kamu bahwa kesehariannya selalu bersama dengan ilmu pengetahuan.. Mereka tangguh menjadi seorang pembelajar, mereka tidak gampang menyerah jika harus terbentur dengan kondisi akademik. Mereka adalah orang-orang yang tahu dengan sikap profesional dan bagaimana menjadi orang-orang yang siap untuk sebuah perubahan. Perubahan bagi mereka adalah sebuah keniscayaan, untuk itu mereka telah siap dan akan selalu siap bertransformasi menjadi wanita-wanita hebat yang akan memberikan senyum bagi dunia.

Seberat itukah?
ya, perjuangan itu memang pahit, sebab surga itu manis.

Tuesday, January 10, 2012

Elo Keren?

waktu liburan ini dipakai untuk blogwalking, tumblrwalking.

banyak orang keren di luar sana ya ternyata.
semuanya berlomba-lomba jadi yang terbaik, semuanya ingin jadi bermanfaat. saling mengenalkan ke dunia, bahwa dirinya punya bibit, bobot, bebet untuk kemaslahatan banyak orang, bahwa dirinya punya potensi dan kharismatik untuk membawa orang melihatnya sebagai "orang keren".

Ya! be the best version of you. do the best you can.
sorry, versionnya saya cetak tebal. soalnya ini penting. ga semua orang punya kehebatan yang sama. setiap orang punya hebat-nya masing-masing, jangan diikur dari sudut pandang yang sempit dan parameter yang kecil. 
do the best we can :)
tiap hari, harusnya terus meng-keren-kan diri menuju kebaikan. tiap hari harusnya terus meyakinkan lingkungan, kalau indonesia ga rugi punya kamu.
itu alasan kenapa kita harus terus "bergerak" mencetak takdir sejarah yang baru.

 'Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving. 
  
 

Saturday, January 7, 2012

Eklipsis Palestina


Bismillahirrahmaanirrahiim.
Sebuah kisah yang jika kita hayati mendalam akan menjadi sebuah pembelajaran berharga betapa sulitnya berkorban dan mengikhlaskan. Saya utarakan dengan penuh rasa haru, dengan kata-kata yang saya rangkai seadanya, namun berharap penuh bahwa setiap kata adalah do’a bagi mereka para syuhada di negeri Palestina…


Gerakan-gerakan kecil itu, dari sudut-sudut kota di Palestina yang kini porak poranda. Dari tangan-tangan yang gemetar memegang batu-batu untuk dilontarkan pada musuh. Dari langkah yang mantap melangkah ke depan menuju pembalasan atas kehancuran negeri. Dari cucuran darah yang menetes deras di hidung, di pipi, di pelipis, di mulut. Gerakan intifada’ mewarnai indahnya perjuangan rakyat Palestina atas kedzaliman yahudi.
Tak seimbang. Manusia bisa berkata demikian, namun bagi Allah azza wa jalla, semuanya mungkin. Kun fayakun.
Di kerumunan pasar, rakyat Palestina melakukan kegiatan jual beli seperti biasa. Suatu hari, di kerumunan pasar itu, satu buah bom mendarat menyisakan ledakan api, abu dan bahan-bahan yang dikandungnya. Masyarakat di kerumunan berpencar menyelamatkan diri, namun satu jam setelah itu, mereka kembali untuk beraktifitas di kerumunan pasar. Analogi mengharukan memang. Saat di negara-negara merdeka satu saja ledakan –meskipun kecil- , akan ramai diberitakan. Namun bagi mereka, ini adalah hal yang biasa. Suara bising khas ledakan sudah menjadi santapan mereka sehari-hari.

Seorang ibu, sedang berada di dalam rumahnya dengan suami dan ke-9 orang anaknya. Mereka tidak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri dan keluarga mereka sekalipun mereka harus siap dengan kematian yang seolah membayang-bayangi semua hidup rakyat palestina.
Subhanallah, hari itu, rumah mereka terhantam bom yahudi, meruntuhkan tembok-tembok dan atap rumah mereka. Sang ibu tak sadarkan diri, pun dengan suaminya. Dan ketika beliau sadar, beliau sedang dalam perawatan seorang dokter. Beliau bertanya, “dokter, apa yang terjadi pada diriku dan keluargaku.” Sang dokter menjawab, “kau selamat, hanya terluka sedikit dan suamimu pun demikian.” Tak puas dengan jawaban dokter, ia pun kembali bertanya, “bagaimana dengan kondisi anak-anakku?”. Dengan muka sedih,dokter menjawab “kesembilan anakmu, insyaAllah, telah syahid.”

Bayangkan bila dirimu berada di posisi wanita Palestina tersebut? Mudahkah untuk mengikhlaskan kepergian anak-anak hasil didikan secara susah payah begitu saya direnggut nyawanya? Bisakah kita setegar wanita Palestina itu yang justru bertasbih “subhanallah, maha besar Allah yang menjadikan anak-anakku syahid.” dan menanyakan :
“dokter, dengan usiaku saat ini, berapa tahun lagi aku mampu untuk melahirkan?”
Dokter menjawab, “sekitar 10 tahun lagi kau masih mampu untuk melahirkan.”
Mendengar itu beliau berazzam, “demi Allah, dalam 10 tahun ini, aku akan melahirkan 10 orang anak, mengurus dan membesarkannya sebagai tentara-tentara Allah, manusia yang berjuang di jalan-Nya”

Subhanallah.

Begitulah wanita palestina. Yang dari rahimnya lah lahir manusia-manusia penggenggam batu, tentara intifada’, pejuang Hammas, dan pembela risalah Allah.
Dari didikannya lah terbentuk kepribadian berkarakter para mujahid.
Mereka tidak mau mengeluh atas keterbatasan, meski perbedaan kekuatan militer jelas mencolok. Batu memang tidak sebanding dengan bom. Tapi, Allah selalu punya kendali. Dia hembuskan rasa takut pada hati tentara Yahudi, meski lawan mereka bersenjatakan batu dan bom berbahan peledak kecil.
Semoga perjuangan didikan ibu luar biasa akan menghasilkan generasi-generasi yang luar biasa pula. Karena ibu adalah madrasah awal, tempat seorang manusia menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Belajar dari wanita Palestina, yang dengan kegigihannya mampu mendirikan madrasah tempat lahirnya manusia pengubah peradaban.



Tuesday, December 27, 2011

AL MAWANIU’ MIN MA’RIFATULLAH (PENGHALANG DARI MENGENAL ALLAH)



Bismillahirrahmanirrahim, Bada shalawat ala Rasulullah.
Assalamualaykum.


Ada banyak jenis penyakit di dunia ini, mulai dari penyakit fisik, penyakit psikologis atau kejiwaan, maupun penyakit hati atau kerohanian. Diantara ketiganya, ada satu jenis penyakit yang peluang paling besar untuk si penderita tidak sadar dirinya sedang sakit adalah penyakit hati. Penyakit jenis ini terlalu sering diremehkan dan dikesampingkan.

Penyakit-penyakit hati ini, dalam garis besar digolongkan pada dua katagori, yaitu penyakit syahwat (kesenangan) dan penyakit subhat (ketidaktahuan dan keragu-raguan). Penyakit ini secara langsung maupun tidak langsung akan berakibat pada jauhnya hati kita dengan Dzat yang menciptakannya. Penyakit inilah yang akan menghalangi penderitanya untuk mengenal Illah nya. Naudzubillah.
Yang paling ingin saya bahas kali ini adalah tentang penyakit syahwat, yang salah satunya adalah fasik.


“sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. adapun orang-orang yang beriman, mereka tahu bawa itu kebenaran dari Tuhan. Tetapi mereka yang kafir berkata, “Apa maksud Allah dengan perumpamaan ini?” dengan (perumpamaan) itu banyak orang yang dibiarkan-Nya sesat, dan dengan itu banyak (pula) orang yang diberi-Nya petunjuk. Tetapi tidak ada yang Dia sesatkan dengan (perumpamaan) itu selain orang-orang fasik. (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah setelah (perjanjian) itu diteguhkan, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk disambungkan, dan berbuat kerusakan di bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi” (Q.S Al-Baqarah : 26 – 27)

Di dalam hati setiap manusia, ada medan pertempuran yang sesungguhnya. Di salah satu rongganya diisi oleh sifat kefasikan dan disisi lain diisi oleh sifat takwa.
“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” (Q.S Asy-Syams : 8)
Sebenarnya fasik ini sering menggerogoti sistem imunitas iman kita. Dengan bahasa sendiri, saya mendeskripsikan fasik itu berarti bertahan pada pendapatnya padahal sudah punya ilmunya. Setiap diri kita, seringkali sadar hal-hal yang dilarang Allah untuk kita lakukan, kita punya ilmunya, kita tahu ilmunya. Tapi selanjutnya, dia melanggarnya. Melanggar setelah tahu hukum itu telah Allah teguhkan. Misalnya, kita tahu bahwa menyontek itu tidak boleh, kita tahu bahwa pacaran itu dilarang, kita tahu bahwa berzina itu didekati saja tidak boleh apalagi dilakukan. Mereka tahu itu. tapi, orang-orang fasik ini akan punya 1001 alasan untuk menepis pengetahuannya tentang hukum Allah ini. Mereka akan membutakan diri mereka dari kebenaran yang mereka ketahui sendiri. Ini tiada lain karena mereka enggan meninggalkan kesenangan (syahwat) mereka akan hal-hal yang dilarang Allah. Allah telah men-skenario-kan bahwa hal pembangkangan pada hukum-Nya dibuat dan dikemas semenarik dan semenyenangkan mungkin. Alih-alih untuk membuat manusia memilih jalan hidup mana yang akan mereka ambil. Setiap pilihan ada konsekuensi dan resikonya masing-masing. Dan Allah memberi kebebasan untuk memilih.

Orang berpenyakit syahwat jenis ini akan sulit sekali untuk diobati dan dinasehati dengan ilmu. karena pada dasarnya mereka telah memiliki ilmunya. Hal ini sering terjadi pada aktivis dakwah yang imannya kalah oleh syahwatnya. Saat kita mau berusaha menyembuhkan penyakitnya dengan mencekokinya dengan ilmu, ilmu itu mental begitu saja. Mereka sudah paham ilmunya, secara teori. Mungkin kita kalah dalam hal hafalnya mereka dengan ilmu-ilmu islam. Pengetahuannya sangat banyak. Tapi sayang, hanya sekedar teori. Mereka terjerumus pada hal duniawi yang mereka sendiri tahu mudharatnya tapi enggan mereka tinggalkan, sekali lagi, mereka punya 1001 alasan untuk membenarkan perbuatannya.

Penyembuhan penyakit jenis ini dengan Almujahadah (bersungguh-sungguh). Kesungguh-sungguhan itu muncul dari dalam dirinya, dari keinginannya untuk berubah dan meninggalkan perbuatan buruknya, juga muncul dari kesungguhan orang-orang di sekitarnya, lingkungannya. Kesungguhan kita untuk seringkali memberikannya contoh dan mendoakannya. Karena sesungguhnya Allahlah yang maha membalikkan hati hamba-Nya.


…maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun.” (Ar-Rum :29)

“ …Sekiranya tidak karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur : 21)

Wallahualam bishawab.
Best regards, Detin Nitami.

Sunday, October 9, 2011

Ilmu Jungkir Balik

Bismillahirrahmaanirrahiim.
Assalamualaikum..

setelah mendengar talim dari seorang ustadz waktu acara vol-D tentang pentingnya menolong orang lain, saya jadi teringat sebuah teori unik. teori ini saya beri nama, ilmu jungkir balik.

kenapa jungkir balik?

jadi gini. kemarin tuh ustadznya bilang, kalau kita mau ditolong oleh Allah, maka tolonglah sesamamu terlebih dahulu. jika ingin disayang Allah, sayangi dulu saudara seimanmu. jika ingin diberi kemudahan oleh Allah, bantu orang lain dulu melewati kesusahannya. itu hukum Allah.

…Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.” (Al Maidah: 2)

prinsipnya simpel : memberi dulu baru menerima.

dan itu berlaku untuk semuanya...

Ilmu Jungkir Balik : Syukur dulu, biar nikmatnya cepet berlimpah. Sedekah dulu, biar rezekinya cepet ngalir. Nikah dulu, biar hidupnya cepet mapan. Buka dulu usahanya, biar belajar managemennya makin cepet. Tulis aja dulu idenya, belajar teori kepenulisannya ntar otomatis nyusul. Kenali kematian, biar kau makin kenal makna kehidupan. Kenali dirimu, maka kau akan kenali Tuhanmu

kalau ilmu fisika sih bilangnya,
harus ada aksi dulu baru bakal ada reaksi
.


YO YO YO! ayo berbuat lebih!
semangat!!


Detin Nitami

Sunday, August 28, 2011

maka disebabkan oleh rahmat Allah lah...

assalamu'alaykum wr.wb.
ba'da shalawat 'ala Rosulullah.

sebelumnya, temans! mohon maaf lahir batin ya, taqobbalallahu minna wa minkum, taqobbal ya kariim..
sebelum Ramadhan benar-benar akan berakhir, saya minta maaf karena pasti punya salah sama kalian, baik sengaja maupun tidak sengaja, sadar maupun tidak sadar. semoga Allah berkenan menghimpun dan menyampaikan umur kita di Ramadhan taun depan,aamiin.

terimakasih sudah sudi meluangkan waktu temen-temen buat baca doc. yang agak random ini, semoga kegiatan membaca temen-temen tidak sia-sia. aamiin..

sebenernya ada satu pertanyaan kekanak-kanakkan di otak saya. simple, tapi butuh pemahaman yang unik kalau menurut saya. jawaban yang sederhana, tapi aplikasi yang luar biasa sulit,i sebenernya sih (harus) bisa,

kalian pernah denger kisah tentang seorang penzina yang memberi minum seekor anjing, dan dengan itu ia masuk surga? pernah kan?

pernah juga denger orang ahli dakwah tapi ternyata dia tidak ahli surga?

mendengar kedua kisah tadi saya langsung membandingkan. loh, ko bisa, yang satu penzina yang lainnya ahli dakwah, tapi kehidupan akhirat mereka berkebalikan???

Alhamdulillah, pengantar jawaban tersebut saya dapat dari ceramah ustadz aam amiruddin
dalam salah satu kajian, beliau menjelaskan bahwa

"yang mengantarkan kita menuju surga illahi bukanlah amal kita, melainkan Rahmat dari Allah azza wa jalla..."

terus saya bingung, ko ga adil ya? kan orang ahli dakwah perjuangannya lebih besar dibanding si pezina tukang bikin dosa.

jawaban berikutnya saya dapat dari teteh saya bahwa

"semuanya tergantung dari rahmat Allah, keridhoan Allah semata. Allah yang punya kuasa atas kita dan Allah akan memperlakukan hamba-Nya seadil-adilnya. semua ibadah tergantung niatnya, dan Allah yang mengetahui niatan kita"

yap! dapet deh inti dari masalahnya. niat.

kalau kata Rose di film Titanic sih, hati manusia itu sedalam lautan biru untuk menyimpan rahasia..
kalau kata pepatah, dalamnya hati manusia tak ada yang tahu.
ya! hanya Allah lah yang mengerti hati kita, mengerti kemana arah hati kita berlabuh, mengerti kepada siapa hati kita tertunduk. niat berawal dari hati. amal ibadah dilihat dari niatnya, bahkan syaikh imam Nawawi yang membuat buku Riyadhus Shalihin plus membuat hadist Arba'in meletakkan hadits Rasulullah mengenai niat di urutan pertama, saking pentingnya arti sebuah niat.

Amirul Mukminin Abi Hafsah, Umar bin Khathab r.a. berkata : Saya mendengar Rosulullah Saw. bersabda : "Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan. barangsiapa hijrahnya menuju Allah dan Rasul-Nya, ia akan sampai kepada Allah dan rasul-Nya. barangsiapa hijrahnya menuju dunia yang akan diperolehnya atau menuju wanita yang akan dinikahinya, ia akan mendapatkan apa yang dituju (H.R. Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Mughirah bin Bardaubah Al- Bukhari dan Abu Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim Al-Quraisyi An- Naisaburi, dalam kedua kitab yang paling sahih diantara semua kitab hadits)

mungkin saja, tampak dari luar si fulan rajin sekali berdakwah. dia terkenal ahli ibadah. pakaiannya selalu mencerminkan kerendahhatian. tapi ternyata, dalam hati fulan sejak awal hanya ada niat untuk mencari perhatian orang lain, hanya ingin orang lain melihatnya dengan terkagum-kagum. atau mungkin hanya untuk menarik perhatian si akhwat incaran hati. kita ga pernah tau apa yang ada di dalam hatinya. kecuali dirinya dan Allah semata.

kita tidak bisa sekalipun membohongi Allah. saat kamu melakukan kebajikan disaat itulah hatimu akan tenang, dan saat kamu melakukan dosa, otomatis Allah meniupkan perasaan gelasah ke dalam setiap sudut hatimu. dan kamu tidak bisa menolak perasaan itu. khawatirlah bila saat kita melakukan dosa, namun rasa gelisah itu tidak muncul, barangkali dosa itu sudah menjadi suatu kebiasaan bagi kita, sehingga tanpa sadar kita kita tak lagi menganggap hal itu sebagai dosa. maka Allah telah mematikan hati kita. mintalah diberikan hati yang lain, berkawanlah dengan orang yang dapat membersihkan hati kita. karena noda di baju putih yang setitik lalu langsung dibersihkan akan menbuat nodanya hilang, sedang noda yang ditumpuk meski setitik demi setitik, membuat baju putih tersebut sulit dibersihkan, jangan tunggu hingga baju tersebut terkena noda hitam secara keseluruhan.

adapun si pezina, hatinya mungkin ingin bertobat, dan saat dia memberi minum seekor anjing, hatinya benar-benar mengharap ridho Allah. sekali lagi, kita tidak tahu isi hati manusia.

jadi temen-temen, dari sekarang mari kita luruskan niat lagi. untuk apa kita hidup. untuk apa kita beribadaha. untuk apa kita berdakwah. mintalah diberi Rahmat oleh Allah. maka disebabkan oleh rahmat Allah lah, kita dapat mendapat mencapai kehidupan akhirat yang baik.

jangan seperti debu yang tertiup angin. sia-sia belaka.tak ada bekas, hanya lelah yang didapat.

wallahualam bishawab.
yang salah datangnya dari saya, dan yang benar datangnya hanya dari Allah semata.
tolong koreksi kalau ada yang salah..
tolong perbaikii kalau ada yang berbeda pendapat.
jazakumullah.
wassalamualaykum wr.wb.

Detin Nitami

Saturday, January 17, 2009

SKBM Masuk Surga

Kalau kita bicara masalah SKBM SMAN 3 Bandung untuk masuk kelas IPA, kita bakal bilang kalau nilai Matematika, Fisika, Kimia, dan biologi harus lebih besar atau sama dengan 65. kalau nilai kita 65 berarti kita lulus masuk kelas IPA, kalau nilai kita kurang dari 65?????

nah, kalau pernyataannya saya ganti dengan SKBM masuk syurga. dan SKBM masuk surga adalah iman para pejuang Palestina. itu artinya syarat masuk syurga adalah imannya harus lebih besar atau sama dengan iman para pejuang palestina. kalau iman kita kurang, mau kemana kita berakhir???

oke, untuk kelas IPA kita bisa ikut remedial atau placement test, dengan remedial, kita bisa perbaiki nilia-nilai kita ynag kurang. ataupun kepentok, kita masih bisa ikut placement test, iya ga???seengganya kita masih bisa ngejar.

nah, kalo masalah SKBM masuk syurga, apa Allah bakal ngasih remedial atau placement test???

hmmm..ibarat harga les privat yang paling mahal, hanya orang2 yang punya uang lebih yang bisa ikut. syurga itu harga yang mahal!! yang hanya bisa ditebus oleh orang2 yang punya iman lebih. lalu bagaimana dengan kita????

Friday, January 16, 2009

Semakin Yakin Al-Qur'an itu Sempurna.....

Hari itu saya kumpul eksplosif. disana saya diberikan informasi tentang isi al-Quran yang sempurna, sebagai wahyu langsung yang diberikan Allah kepada Rosulullah.

beberapa perbedaan antara al-Quran dengan kitab-kitab yang lain ialah bahwa al-quran diwahyukan oleh Allah secara berangsur-angsur, tidak secara langsung menyeluruh. dari sini kita bisa mengetahui bahwa al-quran diturunkan untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang kala itu terjadi. berbeda dengan kitab allah yang lainnya yang langsung diturunkan sekaligus. maka kitab-kitab terdahulu tersebut hanya menjawab permasalahan yang muncul pada saat itu saja.

al-quran mencangkup semua. mulai dari sains, sejarah, sampai pada masa depan yang akan terjadi. terdapat dalam al-quran bahwa kejadian WTC, 11 sept merupakan kehendak allah, yang 14 abad yang lalu sudah dijelaskan bahwa akan runtuh suatu bangunan kafir bersama dengan orang-orang kafirnya...

selain itu, teori big bang, teori pembentukan muka bumi ini, telah dijelaskan pula dalam al-quran. sebelum Alan Guth mengusulkan, ternyata 1400 Allah telah menerangkannya dalam Q.S 21 : 30....SUBHANALLAH..

beberapa bukti maha sempurnanya firman Allah...
1. jumlah kata dunia dan akhirat dalam al-quran sama yaitu sebanyak 115 kata
2. jumlah kata malaikat dan setan sama yaitu sebanyak 88
3. jumlah katahidup dan mati sama yaitu sebanyak 145
4. jumlah kata wanita dan lelaki sama yaitu sebanyak 24
5. jumlah kata bulan sebanyak 12 buah, menandakan al-quran 14 abad yang lalu sudah menerangkan bahwa jumlah bulan dalam 1 tahun itu 12 bulan
6. jumlah kata hari sebanyak 365 kali, menandakan al-quran 14 abad yang lalu sudah menerangkan bahwa1 tahun itu ada 365 hari
7. jumlah kata laut sebanyak 32 kali dan tanah 13 kali. menghasilkan perbandingan persen yang sesuai dengan pernyataan bahwa jumlah lautan lebih luas daripada daratan.

sudah jelas keutamaan al-quran. tak ada keraguan padanya. satu-satunya kitab yang dibaca jutaan ummat pada setiap detiknya. Allah!
namun mengapa, saya masih enggan untuk sering membaca lembaran penyejuk iman itu?? antum???

Wednesday, January 7, 2009

mujahidah=Bidadari Surga

"Semalaman ia nyaris tak tidur, sampai tengah malam ia masih membaca Al Qur’an. Tatkala saya terjaga, dia sedang asyik sholat malam. Dia baca ayat-ayat An-Naba sambil menangis!” ujar sang ibu.

Usai Shubuh, Ayat Al-akhras (16), remaja sholihah itu kembali mambaca Al Qur’an. Ayat-ayat jihad dibacanya berulang-ulang dengan nada bergetar, sesekali ia berhenti menahan isak tangis.

Menjelang pukul 06.00 waktu Palestina, dia menulis sesuatu di meja belajar. Sejurus kemudian Ayat sudah berseragam dan bergegas ke dapur untuk menemui ibunya.

Kepada Ibunya, dia pamit hendak pergi ke sekolah. “Ada tugas tambahan, hari ini boleh jadi merupakan saat terpenting dalam hidup ini. Saya mohon doa restu ibu,” ucapnya dengan mata berbinar.

Ibunya tercekat, dia sedikit bingung, heran dan kaget melihat tingkah putrinya. “Semoga Allah selalu melindungi dan merahmatimu, anakku. Tapi, bukankah jum’at hari libur?

Hanya doa ibu yang nanda harap,” jawabnya. Ayat tak lagi berkata kata, dia hanya senyum dikulum, cium tangan, lalu memeluk erat ibunya yang masih kebingungan. Dan dengan tegap dia menarik tangan adiknya Samaah (10). Merekapun sama-sama bergegas pergi kesekolah.

Beberapa jam kemudian, pukul 10.00 waktu setempat, Radio Israel memberitakan ledakan Bom di Supermarket Nataynya, dekat Jerusalem. Peristiwa ini menyebabkan 3 orang tewas dan lebih dari 40 orang luka-luka. Jantung Ibunda Al Akrash berdegup kencang menyimak kabar itu. “Jangan, jangan dia….”bisiknya saat itu.

Firasatnya menguat manakala dia mendapatkan Samaah pulang sendirian sambil terisak-isak. Dia tak tahu persis kemana sang kakak pergi. Ayat, kata dia hanya berpesan, “Jangan cemas dan takut Allah selalu bersama orang-orang beriman, sampaikan salam buat semua dan berdoalah, mudah-mudahan Allah memberi pengampunan dan kemenangan!”.

Di Kamp pengungsian, Ibunda Al Akrash cemas dengan nasib anaknya. Batinnya bertanya-tanya, “Kemana dia pergi? Apakah dia sudah mewujudkan impiannya menjadi Syahidah?”, pertanyaan lain bermunculan di benaknya. “Bagiamana dengan impiannya yang lain? Soal pinangan, rencana pernikahan, gaun pengantin yang sudah dijahitnya sendiri? Bukankah dia juga bercita-cita untuk melahirkan anak-anak, kemudian membina mereka menjadi mujahid-mijahid tangguh?

Sementara pikiran liarnya bertanya tanya, qolbunya mendapat isyarat bahwa calon mempelai itu telah gugur dalam aksi Bom Syahid.

Inna liLLAAHI wainna ilaihi roji’un. Semoga Allah mencatatnya sebagai sebagai Syahidah. Mudah-mudahan dia juga bisa menjadi pengantin Palestina yang bisa melahirkan kehormatan dan kemerdekaan bagi umat dan bangsanya”, demikian ucapan sang ibu ketika mendapat kepastian beritanya.

Jum’at siang itu Ayat Al-Akhras pergi mengikuti jejak Issa Farah dan saa’id, dua sahabatnya yang gugur diterjang helikopter Israel.

Lahir 20 Februari 1985 di Kamp Dheishes. Di akhir hayatnya di tercatat sebagai siswa kelas tiga sekolah menengah atas. Ayat menurut ABC News, termasuk anak cerdas dan rajin belajar. Sampai saat-saat menjelang Syahidnya, dia masih rajin menasehati teman-temannya untuk terus belajar dan belejar. “Penguasaan ilmu dan teknologi amat penting dan diperlukan untuk mendukung perjuangan kita, apapun bentuknya.

Hayfaa teman baiknya berujar, “Dia selalu menasehati kami bahwa belajar harus tetap berjalan, meski bahaya dan rintangan mengancam di sekeliling kita.

Tentang Jihad Ayat selalu berkata, ”Jihad itu kewajiban setiap Muslim, termasuk wanita, mengapa kita harus membiarkan nyawa kita terenggut sia-sia oleh kebiadaban Zionis Israel?” Kematian seorang mujahid, kata dia, akan membangkitkan keberanian mujahid-mujahid lainnya, bukan sebaliknya.

Meski tahu bahwa syahidah adalah cita-cita tertinggi anaknya, Ibunda Al-Akhras tetap saja merasa kehilangan. Dengan air mata berlinang, dia mengulang kata-kata sang anak ketika berdiskusi soal kewajiban jihad bagi setiap muslim warga Palestina.

Apa nikmatnya hidup di dunia ketika kematian selalu mengintai kita? Mana yang lebih indah, mati dalam ketidakberdayaan dan kehinaan, atau gugur di medan Jihad?

Samaah, adik sekaligus teman terdekat Ayat, merasakan hal yang sama. Sambil menangis dia berkisah tentang saat-saat terakhir bertemu dengan kakaknya. “Saya lihat cahaya di mukanya dan rona kebahagiaan tak pernah dilihat sebelumnya.” Sambil memberi sepotong Coklat manis, lanjutnya, Ayat berkata lirih, ”Sholat dan doakan agar kakak sukses melaksanakan tugas suci ini.” “Tugas apa?” Samaah bertanya. “Hari ini kamu akan mendengar suatu berita baik. Mungkin inilah hari terbaik dalam hidup saya. Inilah hari yang lama saya nantikan. Tolong samapaikan salam hormat saya pada Akh Saadi,” tutur Ayat sambil memberikan secarik kertas.

Shaadi Abu Laan (20) calon suami ayat, termangu beberapa saat ketika kabar itu sampai kepadanya. Dia nyaris tak percaya Ayat pergi begitu cepat mendahului nya. Pada Juli ini, jelas Shaadi, “Kami sudah berencana untuk resmi berumah tangga, begitu Ayat lulus ujian, kami akan menempati rumah sederhana yang belum didekor.

Mereka sudah satu setengah tahun ber-Khitbah (saling meminang). Keduanya bahkan telah menyiapkan nama “Adiyy” untuk bayi pertamanya. “Allah ternyata punya rencana lain,” ucap Shaadi. “Semoga kami bisa berjumpa di surga kelak, dia mencintai agamanya lebih dari apapun.

Ya, ayat al akhras lebih memilih menjadi bidadari disurga. Semoga 4WI mengabulkannya... aamiin...

Sunday, January 4, 2009

Bidadari penyemangat pergerakan Islam

"Dunia ini penuh perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita shalihah" (H.R Muslim)

nabi Muhammad mengibaratkan wanita shalihah sebagai perhiasan yang terbaik di dunia, artinya tidak ada lagi perhiasan yang indahnya melebihi wanita shalihah, baik itu berupa emas sekalipun, tak akan mengalahkan indahnya wanita shalihah.

pertanyaannya adalah, apakah saya dan antum termasuk wanita shalihah?
bila kita menganggap diri kita adalah wanita shalihah, lalu bagaimana dengan Ummul mukminin kita Khadijah binti Khuwailid yang rela mengorbankan hartanya di jalan Allah dan setia pada Rosulullah???? bagaimana dengan Fatimah Az-Zahra yang menjadi ibu bagi ayahnya sepeninggal ibunya??? bagaimana dengan Aisyah binti Abu Bakar yang namanya di sucikan langsung dari langit ketujuh??? bagaimana dengan Asma binti Yazid al-Anshariah sang orator yang pemberani???atau Rufaidah al-Anshariah, sang juru rawat pertama dalam sejarah Islam?? atau Lathifah As Suri istri Hasan Al Banna seorang pendiri pergerakkan???

Allah telah memberikan pada wanita kelembutan hati, mereka acapkali memaknai sesuatu dengan perasaan mereka, emosi mereka. tapi itulah istimewanya wanita. terkadang ibu lebih mengerti perasaan anaknya, sekalipun anaknya tidak memberitahukan apa yang sedang dirasakannya, tapi seorang wanita, seorang ibu mengerti apa-apa yang terjadi pada anaknya. subhanallah!!

Allah juga telah menyiapkan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai indah yang belum pernah manusia lihat selama hidupnya di dunia, untuk wanita shalihah.

begitu beruntungnya mereka yang menjadi wanita shalihah. saya juga ingin seperti mereka. tapi, barrier yang ada menyulitkan saya untuk meraihnya. apa ukhti ingin menjadi wanita shalihah dengan berjuta keindahannya??? mari, kita bersama runtuhkan barrier yang ada di hadapan kita, kita songsong surga illahi......allahuakbar!!!!!!