Saturday, May 19, 2012

sumdokgi


Ketika senyum merekah di bibir mereka, adalah tanda perjuangan yang menguras rasa cinta, emosi, waktu, mimpi dan citanya. Bukanlah hal yang lumrah ketika tigaperempat windu dihabiskan untuk mempelajari ilmu yang Allah selipkan diantara tataran ilmu-ilmu lain. Ketika mereka disumpah untuk mengabdi pada rasa kemanusiaan, kehormatan diri dan profesi, dalam satu momen sejarah hidup mereka, dalam sebuah prosesi sumpah dokter gigi.

Heee. Jangan terlalu serius, hehe.
Saya tidak berniat merunutkan setiap segmen acara, setiap bait kalimat pembicara, ataupun setiap bunyi lantuan suara. Karena saya tidak digaji untuk membuat notulensi acara. Baiklah, karena saya bermurah hati, saya mau berbagi sedikit kisah kasih (?) yang saya temukan di tempat kejadian perkara ketika mba-mba, mas-mas, bapak-bapak, dan ibu-ibu sedang menjalani prosesi sumpah dokter gigi dan spesialis.

Sip. Intinya, balik lagi ke prolog. *jadi tulisan ini tak berinti -___-*

Masih lama. Masih sekitar lima tahun lagi, baru merasakan bagaimana rasanya, sumpah setia kita digemakan di ruangan besar disaksikan oleh puluhan pasang mata dan tentu saja dicatat baik-baik oleh malaikat untuk kemudian dipertanggungjawabkan setiap kata yang terucap dalam sumpah tersebut kepada Allah Azza wa Jalla.

Ketika detik-detik sumpah itu disuarakan, lalu ditutup oleh isak tangis para wisudawan saat melewati momen persembahan untuk orang tua tercinta. Ketika mereka menciumi wajah ayah bundanya, mengenang perjuangan orang tuanya membesarkan diri mereka hingga detik itu, dunia mencatatnya sebagai lulusan dokter gigi. Seluruh ruangan mengharu biru, kendatipun saya tak mengerti bagaimana kuatnya rasa bahagia itu, setidaknya saya mencicipinya sedikit, ketika tiba-tiba ternyata air mata saya ikut menetes bahagia melihat kakak-kakak di tengah ruangan sana akhirnya memulai karir hidupnya yang baru, pun ketika teringat wajah mama dan ayah di rumah, bahwa suatu hari nanti, mereka pun akan berdiri disana, memandangi putrinya dengan rasa bangga, dan diri ini akan membaur menjatuhkan rasa suka gembiranya pada bahu-bahu perjuangan ayah dan belai-belai kasih sayang mama…

---------------------------------------------------------------------------------
Lalu…byar!!! Buyar. Rasa gundah nya kini berganti setting.

Ketika ruangan telah steril dari rasa haru yang melanglang buana, kini sesi nya hepi-hepi. Foto sana foto sini, gaya sana gaya sini. Ruangan mendadak seperti sedang hujan lebat, banyak petir buatan kamera terpancar menuju mata-mata penikmat foto. Yah, bahagia.

Seorang wisudawan cantik dibalut kebaya anggun, berjalan menggendong seorang bayi kecil, mendekati seorang pria di ujung kursi sana yang sedang menikmati jamuan makan. Ceeees! Lamunan saya melayang-layang, sepertinya bahagia ya rasanya ketika disumpah menjadi seorang dokter gigi, sudah ada pasangan yang menunggui, yang ikut bahagia, merasakan perjuangan itu, karena senantiasa membersamai…

Maaf ya, jadi ga nyambung ceritanya. Jadi intinya, saya liat sudah ada yang berkeluarga saat jadi dokter gigi, terus saya jadi ingin cepet lulus. Iya begitu maksudnya. Huft. kalau tidak puas dengan ceritanya, ya itu bagus.

Sunday, May 6, 2012

Nostalgila

Widih, dahsyat! melihat foto-foto lama kembali, membuka catatan-catatan yang rapi tersimpan dalam locker otak sejak lama,dor! bercokol keluar.
Menemukan harta karun dari negeri tempat kuda delman bersahaja dipekerjakan dan batu-batu setia pada tuannya membuat undakan demi undakan, dari negeri dimana harga cumi asam manis hanya limaribu rupiah saja, dari negeri tempat bencong dengan leluasa memamerkan  jakun, bulu kaki, dan bulu dadanya, menyanyi dan menari di pinggir-pinggir pedagang  yang menjajakan batik-batik negeri atau dipinggir orang-orang yang melahap lapar makanannya, dari negeri yang katanya banyak berdiri perguruan tinggi, iya, dari Jogjakarta.

Tidak pernah ke Jogjakarta dengan rencana liburan, selalu karena ada agenda hal perihal lain. diantaranya karena studi banding, atau karena perlombaan. Melihat foto yang satu ini, mengingatkan saya pada salah satu kejadian dan pengalaman paling menyenangkan selama sembilan belas tahun saya menghirup oksigen.
Hari itu, saya dipanggil teman saya untuk diikutsertakan dalam perlombaan tahunan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, yaitu NOMS (National Olympiade of Medical Science) –perlombaan medical science lingkup Nasional. Bengong! BINGO! Medical science? Are you kidding me??? Saya, seorang yang buta masalah dunia per-biologi-an apalagi per-kedokteran pada saat itu cuma bisa nanya, is that serious?
Jadi ternyata, perlombaan ini tidak murni 100% mengenai biologi kedokteran, sekitar 10% diantaranya membahas kimia dan 10% lagi membahas fisika. Saya yang notabene dulu di SMA adalah orang yang ikut (-ikutan) olimpiade fisika, diajak guru pembina, Bu Budi, untuk ikut lomba ini.
National Olympiad of Medical Science 2011
Syukur alhamdulillah ada yang mau menerima saya sebagai anggota kelompok, haha (padahal dipasang-pasangin sama Bu Budi sih -__-) saya sekelompok dengan Della dan Agustina. Mereka berdua memang spesialisasi olimpiade biologi. Setau saya, semua yang ikut memang ahli biologi (mungkin kecuali saya, marcel, tuba yang dari fisika dan gema yang dari kimia, tapi mereka semua kecuali saya udah master tingkat langit ketujuh)

Singkat cerita, SMAN 3 Bandung mengirimkan banyak tim. Seleksi awal dilaksanakan. Oh, biadab! sungguh terlalu. Seleksi awalnya bukan secara tim, melainkan individu. Setiap individu dari masing-masing tim akan di tes mengisi soal pilihan ganda sendiri-sendiri, yang nantinya nilainya akan diakumulasikan dengan anggota satu tim lainnya. Parahnya, itu soal tipe minus, kalau salah minus, kalau tak diisi kosong, kalau diisi ya dapat poin. Kalau sampai saya memberikan skor akhir minus, mau dibawa kemana pertanggungjawaban saya pada kelompok saya??? huuuh. Allah menakdirkan soal-soal yang saya isi benar. Keajaiban! Akhirnya tim saya lolos seleksi awal.

Ada lima tim dari SMAN 3 Bandung yang lolos ke Jogjakarta. Sekitar tiga hari kami menginap di Jogja. Kami pergi membawa amanah besar, sebab tahun lalu, SMAN 3 Bandung menjadi juara umum, dan membawa pulang piala bergilir. Tahun itu, harusnya kami mempertahankan piala besar itu menetap di ruang dimana piala-piala dikoleksi di sekolah kami.


dendra yang terobsesi membawa balik piala bergilir


pria-pria galauu




suasana di kereta
Sesampainya di stasiun Jogja, saya bingung, lho ini sebenarnya lomba atau pengajian? Kami pergi ke mushola stasiun untuk sholat ashar, kemudian membuka almatsurat dan membacanya bersama-sama. SUBHANALLAH! Ternyata MAYORITAS –tidak semua- dari kami yang lolos adalah anak DKM! Bravoooo!
membaca almatsurat selepas ashar :')

Mari saya perkenalkan mereka. Mereka semua calon orang-orang sukses, sungguh, insyaAllah
Tim 1 : tuba (STEI ITB), dendra (STEI ITB), Nucifera (SF ITB)
Tim 2 : Astika (FK Unpad), Iqbal (masih kelas 3), Marcel (FTSL ITB)
Tim 3 : Juan (HI Unpad), Citra (FK Unpad), Candra (STEI ITB)
Tim 4 : Della (FTI ITB), Agustina (masih kelas 3), detin (FKG Unpad)
Tim 5 : Lisha (FK Unpad), Gema (FTMD ITB), Fitri (Teknik Mesin National University of Singapore)
Aaaaah, keren kan merekaaaa..
Kami menginap di penginapan langganan SMA 3 kalau ikut NOMS (katanya), lupa apa nama penginapannya, tapi bagus hehe.

lobby nya kali ya
Nah, seleksi berikutnya, menjawab soal dengan batas waktu sekian detik di layar yang akan menghilang dengan sendirinya jika waktunya habis. Alhamdulillah saya setim dengan wanita lemah lembut cangkang keok, anggun gemulai bak putri solo. Mereka mengerti bahwa kompetensi saya bukan di biologi, saya akan menjawab sebisa saya, terutama dalam soal hitungan. Ketika ada soal biologi yang sulit, mereka akan mendiskusikannya berdua, saya manggut-manggut saja, giliran ada soal hitungan saya belepotan ngitung.

Dari lima puluh tim (kalau ga salah) yang lolos ke Jogjakarta senasional, akan diseleksi menjadi duabelas tim saja. Setelah ikhtiar dimaksimalkan kami tawakal, karena soalnya isian, bukan PG jadi ga bisa ngasal.  Lalu menunggu pengumuman membuat perut mulas. Tau? Tim kami pesimis lolos. Apalagi saya, mental awal aja datang kesana untuk memenuhi tuntutan tim, bukan karena ada passion untuk menang, sama sekali tidak. Sebab, Bu Budi sudah mendesain dua kelompok teratas (kelompoknya tuba sama marcel) sebagai tim unggulan, ya mungkin sisanya hanya beruntung lolos seleksi awal saja hahaha *miris* iya lah, secara, tim 1 tuba, nuci, dendra masteeer biologi semua, tim 2 marcel, astika, iqbal pinternya ga kebayang lagi.

Pengumuman ditempel di mading sore harinya, semua berkerumun, anak sekolah lain ada yang memanggil-manggil teman satu timnya melaporkan bahwa mereka lolos, ada juga yang dengan berbesar hati menerima nomor timnya tidak ada di list mading.

Suer, saya asli sakit perut mendengar bahwa ternyata : yang lolos itu adalah dua tim terakhir!! Tim yang sama sekali tidak pernah dibayangkan akan lolos dua belas besar. Artinya, tim saya lolos!! ALLAHUAKBAR!! Terlihat wajah kecewa jelas di wajah Bu Budi, mungkin beliau berfikir kami tidak bisa banyak diharapkan -___-. Apa ini? Ada konspirasi apa? mengapa dua tim jagoan tidak lolos??? Kenapa oh kenapa? Saya ingat sekali wajah dendra yang membawa misi kemenangan sejak keberangkatan ternyata gagal meraihnya. Cupp cup cupp.. dia jadi galau.

Nah, masalahnya, tim saya lolos. Itu masalah buat saya. mendadak ingin pulang saja. Ingin mengurung diri di kamar mandi, sebab seleksi selanjutnya adalah cepat tepat, dan ada bagian saat kita presentasi sendiri-sendiri dari satu kasus yang diberikan. Matilah kau det, mau ngomong apa nanti.

Malam harinya sebelum esok tanding, kami pergi "refreshing" sekadar mencari makan di pinggir jalan  Jogja


suasana makan-makan :)
suasana naik becak malam hari
Add caption

setelah pulang, di kamar, satu kamar diisi oleh dua orang, saya satu kamar dengan Astika. Beliau yang sudah ahli dalam biologi membantu saya menurunkan panas demam saya akan kekhawatiran nasib harga diri saya besok. Saya seperti tong kosong, tidak tahu menahu masalah biologi. Akhirnya pembagian bab diberikan, saya kebagian peredaran darah dan eeem apa ya lupa. Dengan buku campbell di tangan, semalaman saya belajar peredaran darah dan embel-embelnya. Saya sempat berbicara pada tika “Tik, bisa ga kamu aja yang gantiin aku besok? Aku ga siap, ga tau apa-apa” Tika bilang, saya pasti bisa.


 Yipppiiii. Entah kenapa, saya ingin mempelajari jantung lebih dalam saat membaca campbell. Akhirnya saya mendengarkan kuliah dari Tika tentang jantung, sesekali membaca keras-keras isi buku sampai tidak nafsu makan malam. Kami sholat Isya berjamaah (saya, tika, juan, citra, yang memang sudah biasa kalau nginep bareng di AF, berjamaah) kemudian malam harinya tahajud bareng tika. Aaah, so sweeeet :’)
ruang kamar saya

Hari berikutnya benar-benar tiba. khawatir binti degdegan. Cepat tepat, babak awal dimulai. Dengan sangat menyesal, saya tidak bisa membantu banyak, sebab soal-soalnya terdengar seperti soal yang turun dari planet merkurius, panas membara, suhunya tak pantas ada di bumi ini. Enyahkan!
when you can't say any single word





Alhasil, dari empat kelompok, (ada tiga sesi, satu sesi empat kelompok, dipilih satu kelompok terbesar nilainya, sehingga total ada tiga kelompok yang maju ke babak final) kelompok kami mendapat nilai terendah di babak cepat tepat. Maaf yaaa : (((

Berikutnya, babak presentasi, satu kelompok diberi kasus, untuk didiskusikan bersama tim, membuat alur, untuk kemudian dipresentasikan di depan juri dan penonton. Aduh, beri aku muka kulit badak!!!!

Akhirnya, tiba saatnya tim kami menerima kasus. Ketika melihat laptop, SUBHANALLAH!!!!!!!!!!!! Kasusnya tentang JANTUNG!!!!! Saya sempet shock. Sebab malam hari itu selain jantung, saya tidak belajar apa-apa lagi.  setidaknya saya tahu lah sedikit meski tidak se expert dua teman saya lainnya.

Waktu presentasi mulai. Saya bagian pembukaan, memberi salam, memperkenalkan diri kami pada juri, kemudian menjelaskan anatomi jantung. Seingat dan sebisa saya saja, benar-benar mengalir, meski mungkin tidak berbobot (?) dilanjutkan dengan presentasi dua teman saya lainnya yang meneruskan presentasi saya, tentang mekanisme kerja, tentang segala macam tek tek bengek nya.

DAAAAN, APAAAAA????? Alhamdulillah, kelompok kami mendapat nilai tertinggi dalam presentasi. Allahuakbar!!!! Ini keajaiban, tapi sayang, nilai kami tertinggal jauh dengan tim dari Jogja (kalau ga salah) saat cepat tepat tadi. Akhirnya, perjuangan kami berhenti sampai situ.dan tim kami yang satunya lagi pun tidak lolos tiga besar. Apa boleh buat, kami sudah berusaha, namun Allah yang menentukan hasilnya 

Meski tidak bisa membawa piala bergilir pulang, kami sudah senang mendapat pengalaman berharga luar biasa ini. Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin dan pertolongan Allah itu selalu dekat :’)
Miss that moment so bad!
terakhir, ini foto empat akhwat Furqoners yang sama-sama bermimpi menjadi seorang dokter. juan-detin-tika-citra

Monday, April 30, 2012

The Color of Paradise

Title : The Color of Paradise (in Iran : Rang-e khoda)
Director : Majid Majidi
Writer : Majid Majidi
Stars : Hossein Mahjoub, Mohsen Ramezani and Salameh Feyzi


10 wins and 8 nominations awards, more info, check here http://www.imdb.com/title/tt0191043/awards


jadi, kemarin saya sempet menghabiskan waktu dengan menjelajah youtube, dan berhasil menonton full film ini dengan subtitle bahasa inggris, aheey.
INI FILM RECOMMENDED BUAT DITONTON *eh sori ke caps lock*
di awal film diputar, sekitar sepuluh menit awal, saya sudah nangis bawang merah, dan setelah film hampir selesai, ternyata saya sudah nangis bombay. huhuhuhu


Mohammad Ramezani, actually he 's really blind
film ini bercerita tentang seorang anak tuna netra bernama Mohammad Ramezani yang dibintangi oleh Mohsen Ramezani yang bersekolah di sekolah asrama khusus anak-anak tuna netra di pusat kota. Mohammad adalah seorang anak dari desa di utara Iran, ibunya telah meninggal.


ketika liburan panas tiba, semua teman-temannya dijemput oleh orang tuanya untuk berlibur, namun ayah Mohammad tak kunjung datang menjemput. 


akhirnya ayahnya datang ke asrama itu, dengan niat bukan untuk membawa Mohammad pulang, melainkan untuk berbicara dengan kepala sekolah supaya Mohammad dititipkan seterusnya di sekolah itu, tak perlu pulang kembali. Namun kepala sekolah menolak dengan alasan, bangunan itu adalah sekolah bukan panti asuhan.
akhirnya ayahnya (diperankan oleh Hossein Mahjoub) dengan terpaksa membawa Mohammad ke rumah.
this is Mohammad's Father who always bring him take a walk through the woods with their horse.
di rumahnya, Mohammad telah ditunggu oleh neneknya, dan dua orang adiknya, Bahareh dan Hanieh 


she's Mohammad's granny. totally kind-hearted and humble
ayah Mohammad tidak menginginkan Mohammad tinggal bersamanya hanya karena Mohammad buta, beliau merisaukan masa tuanya tanpa seorang istri, dan khawatair bila tua renta nanti, siapa yang akan mengurusnya. maka dari itu, ayahnya mencari istri baru, namun tidak mengetahui bahwa Mohammad adalah anak dari pria yang melamarnya. dengan melawan nasihat si nenek, ayahnya mengirim Mohammad ke tempat seorang yang juga buta namun pandai mengukir kayu. Mohammad tinggal disana.

father : I dont know. they say there's a blind carpenter. it would be great if he could take him in and          
             train him. then he could become independent. i'm concerned about his future.
granny : his future or yours?

satu adegan paling sedih adalah ketika Mohammad menangis di depan carpenter, dan mengucapkan kalimat menyentuh hati
“Our teacher says that God loves the blind more because they can’t see. But I told him if it was so, He would not make us blind so that we can’t see Him. He answered ‘God is not visible. He is everywhere. You can feel Him. You see Him through your fingertips.’ Now I reach out everywhere for God till the day my hands touch Him and tell Him everything, even all the secrets in my heart.”
it's a role when Mohammad is crying, good acting surely, he brings us to feel what the blinds feel.

C : what's wrong? are you crying? a man never cries. do you already miss your family?
M : no
C : then what?
M : you know, nobody loves me. not even granny. they all run away from me because i'm blind. if i could     
       see, i would go to local school with other children, but now i have to go to school for the blind. on the  
       other side of the world, Our teacher says that God loves the blind more because they can’t see. But I 
       told him if it was so, He would not make us blind so that we can’t see Him. He answered ‘God is not 
       visible. He is everywhere. You can feel Him. You see Him through your fingertips.’ Now I reach out 
       everywhere for God till the day my hands touch Him and tell Him everything, even all the secrets in my   
       heart.
C : your teacher is right...

haaaaa... ini adegan bikin saya nangis bombay T.T

i just wanna say that you need to watch this movie, directed by the most popular iranian producer, Majid Majid who also directed a masterpiece movie, yang salah tiganya sangat saya fovoritkan,they are Children of Heaven, Turtles can Fly, and Baran. i've watched those movies, and all of them are heart touching, brilliant! extraordinary!  i dont know, why Majid Majidi's movies are truely deep, meaningfull and all about humanity.
Looked very grainy and colourful, highlighting the aesthetic of the movie. 
Mohsen Ramezani flawlessly performed his role as Mohammad. His monologue regarding the existence of God, accompanied by his tears, his sniffling, his shaky voice.. all undoubtedly contributed to the most memorable portion of the movie. Apparently Mohsen Ramezani is actually blind in real life...

aaaah, wanna watch it more and more, again and again. people said, cry is good for our health, sometimes. is that true?




petirbadaigeledekduarduar

penasaran, sejungkirbalik dan seterjerumus apa saya, dua minggu tidak ikut liqo.
sore hari, mendung, selepas sholat ashar dan berbincang dengan teh Irma di kantin SMAN 3 Bandung tentang mekanisme coaching yang teranyar, dengan kondisi bibir serba bengkak, padahal tidak, sebut saja baru di anestesi, huiks sakit, gigi saya sedang dalam proses orthodontik *doakan cepat selesai ya*, saya berangkat menuju salman dengan rezeki dari Allah berupa tumpangan gratis dari teh Irma yang kebetulan ada acara di salman juga. aseek, lumayan hemat uang dan waktu hehe.


yah, singkat cerita berkumpullah kami. Materi kali ini tentang apa ya. Saya pasti udah ketinggalan jauh :( 
jadihoy, hari itu kami membahas tentang jeng jeng jeng jeng...pengantar (materi awal) Fiqih dakwah yeaaah *mana backsoundnya??*


kami membahas dengan sumber referensi *tentu saja Al-Quran dan As-Sunah* dan buku dengan judul yang sama, FIQIH DAKWAH karya Jum'ah Amin Abdul Aziz.
mari tengok sebentar pengantar ayatnya, Q.S Al-Anfal : 63


Dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman).Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah lah yang telah mempersatukan hati mereka. Sungguh Dia Maha Perkasa,Maha bijaksana.


grrr, kami membahas tentang tugas kita yang "nahnu du'at qobla kulli syaiin" tentang tugas sebagai penyampai saja, sebab hasil Allah yang menentukan, sebab terbukanya hati, terikatnya hati, Allah lah yang punya kuasa :)


intermezzo, teringat kisah bagaimana rasa kasih Rasulullah terhadap pamannya yang tercinta, Abu Thalib, yang tak dapat Beliau selamatkan akhir hayatnya, membuktikan, manusia semulia Rasulullah saja tidak bisa mengubah hati seseorang, apalagi kita si manusia akhir zaman. Allahlah yang maha membulak-balikan hati hamba-Nya. titik ya, ga ada koma,kalau tanda seru masih boleh.(?)


nah tralalatrilili setelahnya, satu quotes yang keluar dari mulut Murabbi saya yang dengan seketika sukses mambuat badai topan petir geledek menyambar di telinga saya, 
jadi, kebanggaan terbesar bukan ketika kita mejadi ketua ini itu, ikut organisasi ini itu, koor ini itu, melainkan kebanggaan terbesar adalah ketika kamu membina, dan binaan kamu semuanya "JADI"
slek, jleb, ngeeeeeek......
dengan pandangan yang curi-curi Murabbi saya menatap salah satu teman saya yang hebat yang sedang memegang amanah sebagai ketua makrab di salah satu fakultas di unpad yang terkenal hedonnya. 


saya juga tersepet lah, hati saya seperti kesentil, seperti keserempet delman yang ditarik kuda pacu, seperti terpanah anak panah peringatan, bukan anak panah lamaran. eh. saya jadi ababil, nanya ke diri sendiri, sebenernya yang kamu cari di dunia ini apa mba?


binaan lepas-lepas, fokus mencar-mencar, amanah kocar-kacir, mau jadi apa? badut pengisi acara ultah? dunia kampus menyamarkan tujuan awal, jadi kamu nyalahin keadaan?ish ish ish...
ikut ini itu, rasanya detik itu juga semua yang saya lakukan terasa jet-o-en-ka. zonk.
sama-sama melonggarkan pertemuan dengan adik-adik. hayu ah terjun dari lantai tujuh.


masih sakit karena keserempet, dilanjut lagi dengan warning berikutnya dari Murabbi,
keberhasilan dakwah dilihat dari perubahan si da'i. dakwahnya berhasil jika ia mampu merubah dirinya sendiri ke arah yang lebih baik. jangan seperti lilin, yang memberi cahaya tapi sebenarnya dia memakan dan membinasakan dirinya sendiri
oy yeeeaaah. boleh bentur-benturin kepala ga? atau gigit laptop?




hayu hayu lurusin niat lagi, cukup dengan serempetnya, cukup dengan benturan kepala dan gigitan laptopnya. mari berbenah. kembali ke tujuan awal lagi sesuai jawaban dari pertanyaan : sebenernya yang kamu cari di dunia ini apa mba?



Monday, April 23, 2012

dear, mama


Jangan pulang malam ya nak.
Iya dong, seorang anak perempuan, tidak baik pulang malam. Oke sip.

Begitu masuk pintu rumah, mulai muncul atmosfer ciptaan halusinasi pribadi, seperti halnya akan dieksekusi. Ini sudah malam, tuan putri. Kamu kemana saja? Ibu peri telah menunggu.

Melihat wajah mama, saya sama sekali tidak bisa memanipulasi laporan pertanggungjawaban saya.  Iya ma, anakmu pulang malam lagi. maaf.

Tapi, bukan berarti saya tidak sayang mama karenanya, bukan berarti saya benci rumah karenanya. Sama sekali bukan. Ada banyak hal yang harus dicari, dikumpulkan, dipelajari, lalu dibagi. Semata-mata karena saya sayang mama. Untuk beberapa hari ini, anakmu memang keterlaluan. Pulang malam, lalu lupa konfirmasi. Semoga Allah memaafkan khilaf, dan memberikan pahala untuk mama yang hatinya telah saya buat tak tenang.

Karena saya sayang mama, saya punya semangat untuk melangkahkan kaki menjajaki bumi, menerjang kalutnya negeri,mengejar titah bakti.  Meski saya tak berbuat banyak.

Tapi Ma, bukankah kita diperintahkan untuk terus berbakti pada kedua orang tua? Lelah ini, meski tak seberapa, setidaknya adalah persembahan untuk mama, karena saya yakin, amal dari seorang anak,tak pernah putus oleh masa , jarak, dan waktu.

Hidup itu pilihan kan Ma.

Memilih dua pilihan saja. Satu kebaikan , lainnya keburukan.  Itu saja. Bagi orang dewasa, iya. Itu saja. Sebab kita sudah dapat memperhitungkan konsekuensi dari pilihan yang diambil. Bukankah amal dilihat dari niatnya? Mama, semoga penjelajahan anakmu di muka bumi ini berawal dari niat murni, untuk ridha illahi. Dan pilihan atas setiap tindakan yang diambil putrimu ini, dilindungi Allah,karenanya selalu ditempatkan di lahan kebaikan. Mama bilang, Mama tak pernah lupa mendoakan anaknya, maka saya senang, setidaknya Allah akan mendengarkan doa dari seorang ibu yang dibawah telapak kakinya ada surga untuk mereka yang berbakti. Semoga seharian kemarin pun, Allah tetapkan sebagai nilai amal kebaikan, Ma. Semoga.

Tapi saya takut, jika tindakan ini melukai perasaan mama. Saya tahu pasti bagaimana sifat mama. Itu adalah karunia Tuhan agar kita dapat berkomunikasi dari hati ke hati. Hubungan ibu-anak. Karenanya saya takut hatinya terluka karena kebodohan pribadi…

Mama tidak pernah melarang saya mengikuti kegiatan yang saya suka. Sekalipun. Kecuali Mama melihat jelas mudharat yang akan terjadi. Saya tidak pernah dilarang bersosial, berorganisasi, dan mengembangkan diri..Mama selalu percaya anaknya akan menjaga dirinya baik-baik. Maka, modal yang Mama beri pada saya untuk pengukiran karya adalah kepercayaan. Jika, kepercayaan itu saya lunturkan dan nodai hanya karena khilaf yang memang manusiawi, saya takut ia kecewa.

Selama prinsip untuk berbuat baik itu melekat erat dalam sendi-sendi tubuh, tulang-tulang akan dengan senang hati berlari, karena segala ciptaan Tuhan akan dengan riang bergerak memenuhi perintah-perintah-Nya, pun mereka akan sedih tanpa kita sadari jika digunakan untuk berbuat dosa, sebab merekalah yang nantinya akan menjawab sebagai saksi hari akhir saat pertanyaan untuk apa saja waktumu digunakan selama di dunia…

 “Pikiran tak dapat dibatasi, lisan tak dapat dibungkam, anggota tubuh tak dapat diam. Karena itu jika kamu tidak disibukan dengan hal-hal besar maka kamu akan disibukan dengan hal-hal kecil”. (Abdul Wahab Azzam).

Iya Ma, saat waktu yang ada tidak diisi dengan kebaikan, ia akan terisi oleh keburukan. Lalu mati sebagai orang kerdil. Menyedihkan hati orang tua yang menaruh harapan besar pada darah dagingnya, padahal  mulai dari pembuahan telah diharapkan kebermanfaatannya

pulang, tak mengindahkan lailatunnisa untuk kesekian kalinya...
sekali lagi, bukan karena saya tak sayang mama. karena pada dasarnya, semuanya adalah bukti bakti anak perempuan untuk ibunya.
setiap anak, setiap individu, setiap muslim, wajib bergerak memenuhi kewajiban dan perannya di muka bumi untuk kemudian beristirahat dengan keindahan tak terlukiskan di hari akhir. Garis finish kita, ada di surga-Nya kelak kan Ma. Aamiin…

‘mengalirlah bersama amal-amal ini niscaya ia akan mengalirkan dirimu’.

Semoga tidak lagi membuat hatimu khawatir, Ma. Menjaga diri baik-baik adalah ibadah. Memilih pilihan dengan mempertimbangkan konsekuensi juga adalah ibadah…

Sunday, April 15, 2012

AMALGAM

  bismillah, 
sedikit ingin berbagi tentang pengalaman mengikuti kegiatan Amalgam (Asiknya Mentoring Selagi Mahasiswa) yang diadakan oleh FOSIKAGI (Forum Silaturahmi Keluarga Islam Kedokteran Gigi) tanggal 14-15 April 2012 di Bandung Giri Gahana, Jatinangor.

Sabtu sore selepas ujian *ujian hari sabtu dong :((* saya kembali pulang berbenah diri karena jam 4 sudah harus mengikuti kegiatan ini. Sayang, saya datang telat karena bablas tertidur, maklum, malamnya begadang belajar buat ujian :p

yap, kajian pertama (ups, saya ga ikut) *jadi mari di skip :p*
kajian kedua tentang IQ, EQ, dan SQ. tentang sepuluh ciri pribadi muslim.
hm, saya suka dengan materi ini. meskipun sang pemateri tidak menyebutkan dengan jelas bahwa ini berbicara tentang ciri pribadi muslim, tapi karena sebelumnya saya pernah menghadiri majelis ta'lim yang membahas ini, saya tau, maksud dari alur pembicaraan sang pemateri tentang IQ, EQ, dan SQ akan bermuara pada ciri pribadi seorang muslim ;
1. Salimul Aqidah (aqidah yang bersih)
2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)
3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh)
4. Qowiyyul Jismi (jasmani yang kuat)
5. Mutsaqqoful Fikr (berpikir yang intelek)
6. Mujahadatun Linafsihi (melawan hawa nafsu)
7. Harishun ‘ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)
8. Munazhzhamun fi Syu’unihi (teratur dalam setiap urusan)
9. Qodirun ‘alal Kasbi (mandiri)
10. Naafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)
yap! beranjak ke materi ketiga, tentang peran pemuda islam ;
1. Mengangkat semangat dari problematika (Q.S Yunus : 83 - 84)
2. Sebagai Generasi Penerus (Q.S. Al-Furqon : 74)
3. Sebagai Generasi Pengganti (Q.S Al-Maidah : 54)
4. Pembaharu Moral Umat
5. Unsur Perbaikan
 tidak terasa sudah malam, larut, waktunya tidur. saya ehem ehem, tidur paling awal \m/

nah nah, agenda yang (sebenarnya) ditunggu-tunggu adalah OUTBOUND *everybody please say 'horeeee'*
keesokan harinya, pagi setelah beres-beres (tanpa mandi, slek) kami berangkat menuju kampus UNPAD, dibagi menjadi beberapa kelompok, kelompok kami (Anita, Detin, Grace, Galih) diberi nama Komposit (kelompok Amalgam Asik Tenan) dengan tagline  "wanna be istiqomah, wanna be a beautiful muslimah" 
haaaa,ckck.

Serangkaian games ZUPEEEERR ZERUUUU, mulai basah-basahan, kekompakan, nebak zonk, disemprot dan serentetan kegiatan lainnya...
ini saya sama Grace, menyebrangi lautan (?) pakai rakit, bukan Titanic

anita-grace-galih berjuang melawan gravitasi berat badan
yanti, detik-detik sebelum tenggelam
Yanti, bukan mony*t
Kelompok Komposit


Asyik, terimakasih Fosikagi :* :*
pulang dengan membawa kekucelan diri, tapi penuh pengalaman baru, tentunya dengan teman-teman baru :)
ayo semangat teman-teman yang akan meneruskan kegiatan fosi, menghidupkan masjid, Allah cinta sama pemuda yang menghidupkan masjid dengan kegiatan-kegiatannya :*
mari bergerak!

"Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu,
teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu,
teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamau,
teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur bersamamu,
tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menemanimu"
(Ust Rahmat Abdullah)

Friday, April 6, 2012

Forehead Kiss

it was sunday, when daddy came home from the mosque, he came toward, approached me as he stuck out his hand to my forehead then said :
ini investasi terbesar orang tua. kamu investasi terbesar ayah. sing jadi anak yang sholehah.
what will you do if you hear those words? 
i said, 
insyaAllah, Yah. doain
as usual, he did a thing he loves to do, kiss my forehead…
i always love that momment. 
do you know what does forehead kiss mean for me?
it means feel as comfortable around me  as I feel and he wants me to know how much he cares about me without words.



I love you, daddy :*