Tuesday, July 10, 2012

trisula


Biarkan saja..
Biarkan perkutut dan belalang saling berkasih-kasih
Saling bersahutan, girang gemirang.
Biarkan saja, seruling ditiupkan di tengah-tengah perkumpulan wanita-wanita tua,
Yang  saling menyisir rambut-rambut halus sembari mendendangkan suka duka masa silam
Bercerita, berkisah..
Biarkan saja.
Biarkan saja, bakul-bakul terisi penuh butir-butir penghidupan mereka,
Tanah menyerap berkah hujan, petak-petak sawah menyuburkan perut-perut orang cinta kesederhanaan.
Kerbau miliki tuannya, tuan miliki kerbaunya.
Cinta miliki tempatnya, kasih tempati jiwanya.
Biarkan,
Biarkan, anak-anak berlari mengejar ayam-ayam kampung saat langit sore mulai menyuruh ternak-ternak memasuki kandang mereka
Gadis-gadis akan menutup  jendela rumah ibunya, menyalakan lampu pekarangan, menyuguhkan air hangat dan membersihkan diri.
Biarkan..

Sementara,
Untuk khias, 
asap-asap menyebar saling menyelimuti rumah-rumah damai dalam kepenatan kota besar
Saling meniadakan aroma nafas budak-budak pesawahan yang menjaga bijih tetap mekar.
Untuk maya, 
tembok tinggi buang jauh bayang-bayang nyata, yang mencakar langit, menghujam perut bumi.
Darinya lahir percakapan kosong, senyuman dingin, cipta fatamorgana di ujung jalan beraspal.
Untuk malam, 
trisula-trisula dengan tiga mata tajam
menunggu di persimpang jalan.
ibu kehilangan anak, anak kehilangan ibu.
istri tak lagi bersuami, suami tak lagi beristri.
majikan menganjingkan manusia, majikan memanusiakan anjing.
lama-lama
Burung-burung  kian menggali kuburnya sendiri
Penat-penat bergantian memberikan salam.
Kebosanan mulai meraja,
Mengendus,
Mengakar,
Lalu masuk di portal hidup segerombol besar insani.

aku mau pulang.
disini banyak orang jahat.

Wednesday, June 27, 2012

EMBARA


Suatu hari, sesampainya di laut, kuda mencari tuannya, dan semut semut hitam besar menertawakan sikap kuda

Di pasak tiang menggantung jubah-jubah tua tak bertuan, pohon-pohon kelapa tak henti melambaikan diri dan pasir-pasir kecoklatan menggigil terhempas ombak yang membuncah ruah senja itu.  si kuda setia menjaga jubah tuannya. Yang ditunggu tak kunjung datang.

Angin malam lantas menggoda, sebab sinar matahari sudah ingin beristirahat. Desir ombak kian jelas, hingga ujung sepatu kudanya terkikis air asin itu, tapi hatinya terasa sudah lebih dahulu membeku.

“tetaplah disini menunggu kedatanganku” adalah sabda si tuan ketika terakhir kali meninggalkan kudanya sendirian. Tuan tahu akan ada badai, dia memberi kesempatan kudanya untuk memilih. Menunggunya atau mempersilakan  berlari mencari naungan.

Dan kesetiaan kini butuh pengujinya. Si kuda dengan harap-harap cemas masih menanti kembalinya si tuan. Ketika alam kian memberi isyarat, hatinya mulai goyah, kini ia payah. Hatinya bergemericik, tenggorokannya kian mencekik. Ia hampir pada putusan untuk berlari.

Namun, ia mengingat apa yang telah dilakukan dan diberikan tuannya selama ini, mengingat bagaimana ia dibesarkan dan dihidupkan, nuraninya tidak bisa bergeming, menolak fakta, apalagi membalikan sejarah. Bahwa rasa berterimakasih akan melekat erat dalam memori seseorang, butuh pengorbanan memang, bagaimana hari-hari si tuan disibukan oleh kebutuhan kudanya, namun ganjaran atas apa yang diberi adalah lebih bertingkat untuk setiap apa yang didapat kembali. Bahkan terkadang, diluar ekspektasi seorang makhluk.

Masa penantian itu berakhir sudah, saat tuannya telah kembali. Perjuangan sang kuda melawan dinginnya malam dan derasnya ombak membuahkan hasil : bahwa sang tuan kini lebih mempercayainya. Setiap kelelahan, akan ada ganjarannya. Dalam bentuk apapun. Bahwa hati nurani yang paling bening sejatinya akan menolak penghianatan. Bahwa keistiqomahan dalam segala masa, butuh sisi pengujinya…


Saturday, June 9, 2012

Mencari Pahlawan Indonesia

Tantangan adalah stimulant yang disediakan oleh Allah untuk merangsang munculnya naluri kepahlawanan dalam diri manusia.

Naluri Kepahlawanan lahir dari rasa kagum yang dalam dari kepahlawanan itu sendiri. Hal ini akan menggoda sang pengagum untuk melihat dirinya sembari bertanya, Apa engkau dapat melakukan hal yang sama? 
Naluri kepahlawanan adalah kekuatan yang mendorong munculnya potensi-potensi tersembunyi dalam diri seseorang, kekuatan yang berada dibalik pertumbuhan ajaib kepribadian seseorang.

Keberanian adalah kekuatan yang tersembunyi dalam kehendak jiwa, yang mendorong seseorang untuk maju menunaikan tugas, baik tindakan maupun perkataan, demi kebenaran dan kebaikan, atau untuk mencegah suatu keburukan dan dengan menyadari sepenuhnya semua kemungkinan risiko yang akan diterima.
Sebagian dari keberanian itu adalah fitrah yang tertanam dalam diri seseorang dan sebagian lagi biasanya diperoleh melalui latihan.
Nasehat Umar, “Ajarkan sastra kepada anak-anakmu , karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.”
Roh kebenranian itu dapat mematikan semangat perlawanan musuh.

Kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya sebuah keberanian bertahan dalam diri seorang pahlawan.
Keberanian adalah aspek ekspansif dari kepahlawanan, akan tetapi kesabaran adalah aspek defensifnya. Kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan sejauh apa kita membawa beban idealism kepahlawanan dan sekuat apa kita mampu selamat dalam menghadapi tekanan hidup.
“Sesungguhnya kesabaran itu hanya pada benturan pertama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Qayyim berkata, “Sampai akhirnya kesabaran itu sendiri yang gagal mengejar kesabarannya.”

‘Amr bin ‘Ash memaknai keterampilan berpolitik seorang pemimpin: “jika seorang pemimpin tahu bagaimana memasuki suatu urusan, maka ia harus tahu juga bagaimana cara keluar dari urusan itu, sesempit apapun jalan keluar yang tersedia.

Strategilah yang menentukan nilai dari sebuah pekerjaan.
Nasehat Abu Bakar untuk tentara yang akan berperang, “Carilah kematian, niscaya kalian akan mendapatkan kehidupan.”

Kata Sayyid Quthb dalam sebait puisi:
Saudaraku, kalau kau teteskan air matamu
Kau basahi pula nisanku dalam sunyi
Nyalakan lilin-lilin dari tulang belulangku
Jalanlah terus ke kemenangan abadi

Imam Syahid Hasan al Banna berkata: “jangan pernah melawan sunatullah pada alam, sebab ia pasti mengalahkanmmu. Tapi, gunakan sebagiannya untuk menundukkan sebagian yang lain, niscaya kamu akan sampai tujuan.”


Harapan, seperti kata Rasulullah saw, adalah rahmat Allah bagi umatku.jika bukan karena harapan, tak kan ada orang yang mau menanam pohon dan tidak ada seorang ibu yang mau menyusui anaknya. Harapan adalah buah dari dari kepercayaan akan rahmat Allah dan juga kepada kemampuan Allah SWT melakukan semua yang Ia kehendaki. 

Krisis adalah takdir semua bangsa. Ia tidak perlu disesali. Apalagi dikutuk. Kita hanya perlu meyakini sebuah kaidah, bahwa masalah kita bukan pada krisis itu. Tapi pada kelangkaan pahlawan saat krisis itu terjadi. Itu tanda kelangsungan hidup atau kehancuran sebuah bangsa. 




 Anis Matta dalam bukunya Mencari Pahlawan Indonesia (2004). 

Saturday, June 2, 2012

Signe de l'amour


-Di Bawah Naungan Cinta-

Dalam cinta ada tanda-tanda. Orang yang cerdik mampu mengenalinya, dan orang yang cerdas mampu menunjukkannya.

Tanda pertama dalam cinta adalah pandangan mata. Melalui pandangan mata rahasia-rahasia jiwa bisa diungkap, pesan-pesan jiwa beserta kedalaman isinya bisa disingkap.
Selanjutnya, tanda-tanda jatuh cinta bisa dilihat dari sebuah percakapan. Orang-orang yang jatuh cinta akan melayani percakapan orang yang dicintainya. Ia nyaris tak mau melayani pembicaraan orang lain, selain ia yang tercinta.

Tanda-tanda cinta lainnya bisa dilihat dari gerakan tubuh orang-orang yang jatuh cinta. Tanda berikutnya adalah keraguan sekaligus kegembiraan yang tergambar dari wajah kala tiba-tiba bertemu dengan sang pujaan atau ada kegugupan manakala berpapasan. Juga ia mengerjakan segala perbuatan yang biasa dilakukan sang pujaan.

Amboi! Cinta telah mengubah orang yang bakhil menjadi dermawan. Cinta telah mengubah sang pendiam menjadi banyak bicaranya. Cinta telah mengubah sang penakut menjadi sang pemberani luar biasa. Cinta telah mengubah sang buruk perangai menjadi berbudi mulia. Cinta telah mengubah yang tadinya malas berhias menjadi pesolek di depan kaca. Cinta telah mengubah si miskin berlagak kaya. Cinta telah mengubah si tua berlagak muda. Cinta telah mengubah sang pecundang menjadi pemenang. Dan itulah cinta!
Sesungguhnya, cinta merupakan sesuatu yang bersemayam dalam jiwa. Bisa jadi, seseorang jatuh cinta karena suatu “sebab”. Namun cinta jenis ini tidak akan abadi. Orang yang mencintai kita dengan  suatu “sebab”, cintanya akan berpaling seiring menghilangnya “sebab” itu. —semisal, kita mencintai seseorang hanya karena keindahan fisiknya semata, seiring bertambah usianya dan meluntur kecantikkan wajahnya, cinta itu bisa saja hilang.

Adapun cinta yang kekal, yang paling utama adalah cintanya dua orang yang saling mencintai karena Allah semata…


Ibnu Hazm El Andalusy

Friday, June 1, 2012

BAHAGIA ITU SEDERHANA


Selamat siang J

Lapor, Jenderal. Hari ini aku mau berbagi kisah lagi denganmu.

Jadi begini, kalimat “bahagia itu sederhana” kini ramai mengisi hari-hariku. Awalnya aku tidak paham makna dahsyat dibalik kalimat yang tersusun dari tiga kata itu. Sampai pada waktu ketika aku harus membantu seorang teman mengatasi masalahnya, memberinya solusi, dan menawarkan pundak untuknya berbagi. Aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana rasa yang menguasai diri pada saat-saat seperti itu, tapi kalimat sederhana itu mampu, Jenderal. Dengarlah, rendahkan hatimu..… bahagia itu sederhana. Demikian bunyinya. Apa kamu suka? J

Laporanku sebelumnya tentang ketidakbersyukuran akan apa yang aku punya, nyata bisa diperbaiki karenanya.  Jadi, ternyata saat hujan tak mampu menyiramnya, gerimispun memadai aku korelasikan dengan bahagia itu sederhana, meskipun terdengar sedikit aneh. Tapi tak apalah.

Kita bisa mencari bahagia tidak hanya di ibu kota Kerajaan Mimpi dan Cita-Cita. Kita bisa menemuinya disudut bahkan di pelosok desa terpencil sekalipun. Semisal bahagianya ketika aku berhasil menemukan gunting kukuku lalu memotong pendek kuku jariku yang sebelumnya panjang dan kotor, ketika aku bisa mendapati salah satu jerawatku mengundurkan diri dari jabatannya di kancah mukaku, ketika mendapati kamar yang habis dibombardir bom buku dan makanan kini bersih mengkilat, ketika bisa menikmati buah semangka dingin tanpa biji malam tadi, ketika bisa bersama dengan orang tua dan melalui malam bercerita dengannya, atau ketika menyadari bahwa Allah masih menginginkanku ada dalam kebaikan… itu, membuatku gembira. Dan mereka adalah hal-hal kecil yang kadang kita lupakan.

Aku terlalu berfokus pada kebahagian “besar”, semisal cita-cita yang dibuat teoritis di atas kertas yang ditempelkan di kaca kamarku tercapai, barulah aku merasa bahagia itu ada. Ternyata, hal itu hanya akan membuat jatah umurku di dunia diisi oleh kebahagiaan sebanyak cita-cita yang tergapai saja. Lalu, setiap detiknya hambar terlalui.

Ah jenderal, aku mengerti bahwa hal besar lahir dari hal-hal kecil. Kebahagian-kebahagian yang sederhana itu membawaku untuk menikmati bahagianya bersyukur, lalu semuanya terbungkus manis dan indah selayaknya paket lebaran dari para menteri kepada presiden untuk menarik hatinya. Semuanya terbungkus rapi oleh bungkusan kebahagian tertinggi, yaitu kebahagiaan akan melekatnya iman dan islam dalam setiap nafas kita…

 Begitu kan, Jenderal?


Saturday, May 19, 2012

sumdokgi


Ketika senyum merekah di bibir mereka, adalah tanda perjuangan yang menguras rasa cinta, emosi, waktu, mimpi dan citanya. Bukanlah hal yang lumrah ketika tigaperempat windu dihabiskan untuk mempelajari ilmu yang Allah selipkan diantara tataran ilmu-ilmu lain. Ketika mereka disumpah untuk mengabdi pada rasa kemanusiaan, kehormatan diri dan profesi, dalam satu momen sejarah hidup mereka, dalam sebuah prosesi sumpah dokter gigi.

Heee. Jangan terlalu serius, hehe.
Saya tidak berniat merunutkan setiap segmen acara, setiap bait kalimat pembicara, ataupun setiap bunyi lantuan suara. Karena saya tidak digaji untuk membuat notulensi acara. Baiklah, karena saya bermurah hati, saya mau berbagi sedikit kisah kasih (?) yang saya temukan di tempat kejadian perkara ketika mba-mba, mas-mas, bapak-bapak, dan ibu-ibu sedang menjalani prosesi sumpah dokter gigi dan spesialis.

Sip. Intinya, balik lagi ke prolog. *jadi tulisan ini tak berinti -___-*

Masih lama. Masih sekitar lima tahun lagi, baru merasakan bagaimana rasanya, sumpah setia kita digemakan di ruangan besar disaksikan oleh puluhan pasang mata dan tentu saja dicatat baik-baik oleh malaikat untuk kemudian dipertanggungjawabkan setiap kata yang terucap dalam sumpah tersebut kepada Allah Azza wa Jalla.

Ketika detik-detik sumpah itu disuarakan, lalu ditutup oleh isak tangis para wisudawan saat melewati momen persembahan untuk orang tua tercinta. Ketika mereka menciumi wajah ayah bundanya, mengenang perjuangan orang tuanya membesarkan diri mereka hingga detik itu, dunia mencatatnya sebagai lulusan dokter gigi. Seluruh ruangan mengharu biru, kendatipun saya tak mengerti bagaimana kuatnya rasa bahagia itu, setidaknya saya mencicipinya sedikit, ketika tiba-tiba ternyata air mata saya ikut menetes bahagia melihat kakak-kakak di tengah ruangan sana akhirnya memulai karir hidupnya yang baru, pun ketika teringat wajah mama dan ayah di rumah, bahwa suatu hari nanti, mereka pun akan berdiri disana, memandangi putrinya dengan rasa bangga, dan diri ini akan membaur menjatuhkan rasa suka gembiranya pada bahu-bahu perjuangan ayah dan belai-belai kasih sayang mama…

---------------------------------------------------------------------------------
Lalu…byar!!! Buyar. Rasa gundah nya kini berganti setting.

Ketika ruangan telah steril dari rasa haru yang melanglang buana, kini sesi nya hepi-hepi. Foto sana foto sini, gaya sana gaya sini. Ruangan mendadak seperti sedang hujan lebat, banyak petir buatan kamera terpancar menuju mata-mata penikmat foto. Yah, bahagia.

Seorang wisudawan cantik dibalut kebaya anggun, berjalan menggendong seorang bayi kecil, mendekati seorang pria di ujung kursi sana yang sedang menikmati jamuan makan. Ceeees! Lamunan saya melayang-layang, sepertinya bahagia ya rasanya ketika disumpah menjadi seorang dokter gigi, sudah ada pasangan yang menunggui, yang ikut bahagia, merasakan perjuangan itu, karena senantiasa membersamai…

Maaf ya, jadi ga nyambung ceritanya. Jadi intinya, saya liat sudah ada yang berkeluarga saat jadi dokter gigi, terus saya jadi ingin cepet lulus. Iya begitu maksudnya. Huft. kalau tidak puas dengan ceritanya, ya itu bagus.

Sunday, May 6, 2012

Nostalgila

Widih, dahsyat! melihat foto-foto lama kembali, membuka catatan-catatan yang rapi tersimpan dalam locker otak sejak lama,dor! bercokol keluar.
Menemukan harta karun dari negeri tempat kuda delman bersahaja dipekerjakan dan batu-batu setia pada tuannya membuat undakan demi undakan, dari negeri dimana harga cumi asam manis hanya limaribu rupiah saja, dari negeri tempat bencong dengan leluasa memamerkan  jakun, bulu kaki, dan bulu dadanya, menyanyi dan menari di pinggir-pinggir pedagang  yang menjajakan batik-batik negeri atau dipinggir orang-orang yang melahap lapar makanannya, dari negeri yang katanya banyak berdiri perguruan tinggi, iya, dari Jogjakarta.

Tidak pernah ke Jogjakarta dengan rencana liburan, selalu karena ada agenda hal perihal lain. diantaranya karena studi banding, atau karena perlombaan. Melihat foto yang satu ini, mengingatkan saya pada salah satu kejadian dan pengalaman paling menyenangkan selama sembilan belas tahun saya menghirup oksigen.
Hari itu, saya dipanggil teman saya untuk diikutsertakan dalam perlombaan tahunan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, yaitu NOMS (National Olympiade of Medical Science) –perlombaan medical science lingkup Nasional. Bengong! BINGO! Medical science? Are you kidding me??? Saya, seorang yang buta masalah dunia per-biologi-an apalagi per-kedokteran pada saat itu cuma bisa nanya, is that serious?
Jadi ternyata, perlombaan ini tidak murni 100% mengenai biologi kedokteran, sekitar 10% diantaranya membahas kimia dan 10% lagi membahas fisika. Saya yang notabene dulu di SMA adalah orang yang ikut (-ikutan) olimpiade fisika, diajak guru pembina, Bu Budi, untuk ikut lomba ini.
National Olympiad of Medical Science 2011
Syukur alhamdulillah ada yang mau menerima saya sebagai anggota kelompok, haha (padahal dipasang-pasangin sama Bu Budi sih -__-) saya sekelompok dengan Della dan Agustina. Mereka berdua memang spesialisasi olimpiade biologi. Setau saya, semua yang ikut memang ahli biologi (mungkin kecuali saya, marcel, tuba yang dari fisika dan gema yang dari kimia, tapi mereka semua kecuali saya udah master tingkat langit ketujuh)

Singkat cerita, SMAN 3 Bandung mengirimkan banyak tim. Seleksi awal dilaksanakan. Oh, biadab! sungguh terlalu. Seleksi awalnya bukan secara tim, melainkan individu. Setiap individu dari masing-masing tim akan di tes mengisi soal pilihan ganda sendiri-sendiri, yang nantinya nilainya akan diakumulasikan dengan anggota satu tim lainnya. Parahnya, itu soal tipe minus, kalau salah minus, kalau tak diisi kosong, kalau diisi ya dapat poin. Kalau sampai saya memberikan skor akhir minus, mau dibawa kemana pertanggungjawaban saya pada kelompok saya??? huuuh. Allah menakdirkan soal-soal yang saya isi benar. Keajaiban! Akhirnya tim saya lolos seleksi awal.

Ada lima tim dari SMAN 3 Bandung yang lolos ke Jogjakarta. Sekitar tiga hari kami menginap di Jogja. Kami pergi membawa amanah besar, sebab tahun lalu, SMAN 3 Bandung menjadi juara umum, dan membawa pulang piala bergilir. Tahun itu, harusnya kami mempertahankan piala besar itu menetap di ruang dimana piala-piala dikoleksi di sekolah kami.


dendra yang terobsesi membawa balik piala bergilir


pria-pria galauu




suasana di kereta
Sesampainya di stasiun Jogja, saya bingung, lho ini sebenarnya lomba atau pengajian? Kami pergi ke mushola stasiun untuk sholat ashar, kemudian membuka almatsurat dan membacanya bersama-sama. SUBHANALLAH! Ternyata MAYORITAS –tidak semua- dari kami yang lolos adalah anak DKM! Bravoooo!
membaca almatsurat selepas ashar :')

Mari saya perkenalkan mereka. Mereka semua calon orang-orang sukses, sungguh, insyaAllah
Tim 1 : tuba (STEI ITB), dendra (STEI ITB), Nucifera (SF ITB)
Tim 2 : Astika (FK Unpad), Iqbal (masih kelas 3), Marcel (FTSL ITB)
Tim 3 : Juan (HI Unpad), Citra (FK Unpad), Candra (STEI ITB)
Tim 4 : Della (FTI ITB), Agustina (masih kelas 3), detin (FKG Unpad)
Tim 5 : Lisha (FK Unpad), Gema (FTMD ITB), Fitri (Teknik Mesin National University of Singapore)
Aaaaah, keren kan merekaaaa..
Kami menginap di penginapan langganan SMA 3 kalau ikut NOMS (katanya), lupa apa nama penginapannya, tapi bagus hehe.

lobby nya kali ya
Nah, seleksi berikutnya, menjawab soal dengan batas waktu sekian detik di layar yang akan menghilang dengan sendirinya jika waktunya habis. Alhamdulillah saya setim dengan wanita lemah lembut cangkang keok, anggun gemulai bak putri solo. Mereka mengerti bahwa kompetensi saya bukan di biologi, saya akan menjawab sebisa saya, terutama dalam soal hitungan. Ketika ada soal biologi yang sulit, mereka akan mendiskusikannya berdua, saya manggut-manggut saja, giliran ada soal hitungan saya belepotan ngitung.

Dari lima puluh tim (kalau ga salah) yang lolos ke Jogjakarta senasional, akan diseleksi menjadi duabelas tim saja. Setelah ikhtiar dimaksimalkan kami tawakal, karena soalnya isian, bukan PG jadi ga bisa ngasal.  Lalu menunggu pengumuman membuat perut mulas. Tau? Tim kami pesimis lolos. Apalagi saya, mental awal aja datang kesana untuk memenuhi tuntutan tim, bukan karena ada passion untuk menang, sama sekali tidak. Sebab, Bu Budi sudah mendesain dua kelompok teratas (kelompoknya tuba sama marcel) sebagai tim unggulan, ya mungkin sisanya hanya beruntung lolos seleksi awal saja hahaha *miris* iya lah, secara, tim 1 tuba, nuci, dendra masteeer biologi semua, tim 2 marcel, astika, iqbal pinternya ga kebayang lagi.

Pengumuman ditempel di mading sore harinya, semua berkerumun, anak sekolah lain ada yang memanggil-manggil teman satu timnya melaporkan bahwa mereka lolos, ada juga yang dengan berbesar hati menerima nomor timnya tidak ada di list mading.

Suer, saya asli sakit perut mendengar bahwa ternyata : yang lolos itu adalah dua tim terakhir!! Tim yang sama sekali tidak pernah dibayangkan akan lolos dua belas besar. Artinya, tim saya lolos!! ALLAHUAKBAR!! Terlihat wajah kecewa jelas di wajah Bu Budi, mungkin beliau berfikir kami tidak bisa banyak diharapkan -___-. Apa ini? Ada konspirasi apa? mengapa dua tim jagoan tidak lolos??? Kenapa oh kenapa? Saya ingat sekali wajah dendra yang membawa misi kemenangan sejak keberangkatan ternyata gagal meraihnya. Cupp cup cupp.. dia jadi galau.

Nah, masalahnya, tim saya lolos. Itu masalah buat saya. mendadak ingin pulang saja. Ingin mengurung diri di kamar mandi, sebab seleksi selanjutnya adalah cepat tepat, dan ada bagian saat kita presentasi sendiri-sendiri dari satu kasus yang diberikan. Matilah kau det, mau ngomong apa nanti.

Malam harinya sebelum esok tanding, kami pergi "refreshing" sekadar mencari makan di pinggir jalan  Jogja


suasana makan-makan :)
suasana naik becak malam hari
Add caption

setelah pulang, di kamar, satu kamar diisi oleh dua orang, saya satu kamar dengan Astika. Beliau yang sudah ahli dalam biologi membantu saya menurunkan panas demam saya akan kekhawatiran nasib harga diri saya besok. Saya seperti tong kosong, tidak tahu menahu masalah biologi. Akhirnya pembagian bab diberikan, saya kebagian peredaran darah dan eeem apa ya lupa. Dengan buku campbell di tangan, semalaman saya belajar peredaran darah dan embel-embelnya. Saya sempat berbicara pada tika “Tik, bisa ga kamu aja yang gantiin aku besok? Aku ga siap, ga tau apa-apa” Tika bilang, saya pasti bisa.


 Yipppiiii. Entah kenapa, saya ingin mempelajari jantung lebih dalam saat membaca campbell. Akhirnya saya mendengarkan kuliah dari Tika tentang jantung, sesekali membaca keras-keras isi buku sampai tidak nafsu makan malam. Kami sholat Isya berjamaah (saya, tika, juan, citra, yang memang sudah biasa kalau nginep bareng di AF, berjamaah) kemudian malam harinya tahajud bareng tika. Aaah, so sweeeet :’)
ruang kamar saya

Hari berikutnya benar-benar tiba. khawatir binti degdegan. Cepat tepat, babak awal dimulai. Dengan sangat menyesal, saya tidak bisa membantu banyak, sebab soal-soalnya terdengar seperti soal yang turun dari planet merkurius, panas membara, suhunya tak pantas ada di bumi ini. Enyahkan!
when you can't say any single word





Alhasil, dari empat kelompok, (ada tiga sesi, satu sesi empat kelompok, dipilih satu kelompok terbesar nilainya, sehingga total ada tiga kelompok yang maju ke babak final) kelompok kami mendapat nilai terendah di babak cepat tepat. Maaf yaaa : (((

Berikutnya, babak presentasi, satu kelompok diberi kasus, untuk didiskusikan bersama tim, membuat alur, untuk kemudian dipresentasikan di depan juri dan penonton. Aduh, beri aku muka kulit badak!!!!

Akhirnya, tiba saatnya tim kami menerima kasus. Ketika melihat laptop, SUBHANALLAH!!!!!!!!!!!! Kasusnya tentang JANTUNG!!!!! Saya sempet shock. Sebab malam hari itu selain jantung, saya tidak belajar apa-apa lagi.  setidaknya saya tahu lah sedikit meski tidak se expert dua teman saya lainnya.

Waktu presentasi mulai. Saya bagian pembukaan, memberi salam, memperkenalkan diri kami pada juri, kemudian menjelaskan anatomi jantung. Seingat dan sebisa saya saja, benar-benar mengalir, meski mungkin tidak berbobot (?) dilanjutkan dengan presentasi dua teman saya lainnya yang meneruskan presentasi saya, tentang mekanisme kerja, tentang segala macam tek tek bengek nya.

DAAAAN, APAAAAA????? Alhamdulillah, kelompok kami mendapat nilai tertinggi dalam presentasi. Allahuakbar!!!! Ini keajaiban, tapi sayang, nilai kami tertinggal jauh dengan tim dari Jogja (kalau ga salah) saat cepat tepat tadi. Akhirnya, perjuangan kami berhenti sampai situ.dan tim kami yang satunya lagi pun tidak lolos tiga besar. Apa boleh buat, kami sudah berusaha, namun Allah yang menentukan hasilnya 

Meski tidak bisa membawa piala bergilir pulang, kami sudah senang mendapat pengalaman berharga luar biasa ini. Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin dan pertolongan Allah itu selalu dekat :’)
Miss that moment so bad!
terakhir, ini foto empat akhwat Furqoners yang sama-sama bermimpi menjadi seorang dokter. juan-detin-tika-citra