Tuesday, August 7, 2012

GENTALA

dalam artikulasi sebuah pertemuan, ada frekuensi yang saling melemahkan.
tentang pelaku, tentang sistem, tentang para bayangkara
begitupun kesalahsasaran tentang objek yang menjadi tujuan perkara
manusia dituntut untuk menjadi hamba yang menghamba, menjadi insan yang bermanfaat
maka, sekali waktu, kita berlomba untuk menebar manfaat di muka bumi yang semakin tua dan bosan diperhambakan.
pemuda, adakalanya seperti kita, hidup dan merasa dihidupi oleh lingkungan luar,
oleh kampus, oleh organisasi, oleh kamar singgah, oleh tempat perkumpulan teman-teman dekat.
hingga dua puluh empat jam habis tersita dengan segudang aktivitas, kadang lupa bahwa diri punya tempat pulang bernama rumah.
dimana ibu merindu, ayah menunggu, adik kakak sanak saudara berharap mendengar monodrama tentang pagi hingga kembalimu.
kita merasa repot, merasa sibuk,
haa, sibuk bermanfaat untuk orang lain, untuk yang di kampus sana, di organisasi sana, di tempat perkumpulan sana.
terkadang,  ibu ayah saja masih terbengkalai
boleh jadi kita berlomba menjadi sebaik-baik manusia : yang paling bermafaat
tapi ada pemahaman yang harus kita pertanyakan, tentang objek yang menjadi tujuan utama
sudikah, bila yang terdekat terlalaikan haknya untuk diberi manfaat?
di batas waktu untuk mereka yang serba terhimpit, serba sempit, serba sedikit
seyogyanya kita meluangkan diri memenuhi tuntutan kebermanfaatan
untuk orang-orang terkasih terlebih dahulu
merekalah yang seharusnya merasakan hadirnya kita, lebih dari siapapun.

kita bukan gentala,
kita adalah nahkoda, kita adalah masinis, kita adalah pilot
kita yang menentukan, kemana saja arah kendaraan iman akan dimanfaatkan.

Saturday, July 14, 2012

baladabollybolly

Perkenalkan, saya adalah korban film bollywood. Sejak kecil, saya dan Inggi, sepupu saya suka mengoleksi film-film yang dibintangi Shahrukh Khan, Kajol Devgan, Rani Mukherjee, Salman Khan, Amir Khan, Preity Zinta, Aishwarya Rai, Amisha Patel, Juhi Cawla, Madhuri Dixit, Kareena Kapoor besarta Kapoor family, dan sederet artis bollywood jaman 'agak dulu' yang ngetren tahun90an -awal tahun2000an.

Saya ingat saya pernah berlari dengan semangat khas anak kecil lomba balap karung agustusan untuk menemui om saya yang sedang menawarkan film india teranyar pada waktu itu, judulnya Chori-Chori Chupke Chupke. Saya suka film india dengan tanpa alasan yang jelas. terlebih ketika melihat film Shahrukh Khan jaman duluuu banget, Jaman rambutnya masih gondrong. ceritanya si Shahrukh jadi bisu gegara dicekokin bara panas ke mulutnya oleh para pembunuh orang tuanya. Itu film... asliii rame banget, sayang saya ga inget judulnya.

Saya memfavoritkan film Lagaan. Karya Amir Khan, dan dibintangi oleh Amir sendiri. Berkisah tentang perjuangan rakyat india, pada sebuah desa dibawah jajahan Inggris, saling beradu permainan kasti. Para konglomerat Inggris yang kesehariannya memang berlatih kasti harus dipaksa mengakui kekalahan pada Amir en de geng. Lalu putri konglomerat inggris jatuh hati pada amir, sayang, amir sudah memiliki kekasih hati. Hiiiks. 

Dan masih banyak lagi judul film india yang saya sukai. Kalau jaman 2010 keatas, ada film Slumdog Millionaire, Three Idiots, Taare Zameen Par, dan kawan-kawannya.

Saya ingat, waktu SMA, saya harus mengorbankan tidur jam 1 malam setiap malam rabu untuk melihat film india di salah satu stasiun tv swasta. Dan saya ternyata punya teman satu kelas yang juga gila bollywood, maka keesokan harinya, saya dan dia akan menjadi alien yang sedang berdiskusi tentang rencana pembangunan rumah (?) Kami akan berkicau seperti semalam baru saja menonton konser artis luar negeri, padahal hanya menonton film yang sebenarnya sudah kami tonton berulang kali. Bahagia itu memang sederhana (?)

Kalau gerimis datang, ketika saya masih mengayuh sepeda mini untuk mengelilingi komplek perumahan, saya dan teman-teman akan berteduh. Tapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menari di bawah hujan. Saya ingat tarian chak dhoom dhoom di film dil to pagal hai, anak-anak menari di bawah hujan. Selagi saya tidak bisa bermain di film itu, karena saya bukan artis, karena saya tidak mirip artis, karena saya tidak tinggal di india, dan karena saya buruk dalam menari, maka saya mengizinkan tarian tersebut saya rusak sesuka hati saya. Yang jelas, teman saya jadi ikut membasahi dirinya, dan menari, memegang pohon, ketika saya memiringkan badan ke kanan, dia memiringkan badan ke kiri. Seperti bermain cilukbaa. Oh, India sekali.

tarian chak dhoom dhoom *HAHA*

Cukup, cukup. Karena setelah kegilaan itu, saya harus menghadapi ibu saya, menjelaskan bahwa anaknya heroik sekali, menerjang hujan demi cepat pulang, padahal.... ya begitulah.

Tuesday, July 10, 2012

trisula


Biarkan saja..
Biarkan perkutut dan belalang saling berkasih-kasih
Saling bersahutan, girang gemirang.
Biarkan saja, seruling ditiupkan di tengah-tengah perkumpulan wanita-wanita tua,
Yang  saling menyisir rambut-rambut halus sembari mendendangkan suka duka masa silam
Bercerita, berkisah..
Biarkan saja.
Biarkan saja, bakul-bakul terisi penuh butir-butir penghidupan mereka,
Tanah menyerap berkah hujan, petak-petak sawah menyuburkan perut-perut orang cinta kesederhanaan.
Kerbau miliki tuannya, tuan miliki kerbaunya.
Cinta miliki tempatnya, kasih tempati jiwanya.
Biarkan,
Biarkan, anak-anak berlari mengejar ayam-ayam kampung saat langit sore mulai menyuruh ternak-ternak memasuki kandang mereka
Gadis-gadis akan menutup  jendela rumah ibunya, menyalakan lampu pekarangan, menyuguhkan air hangat dan membersihkan diri.
Biarkan..

Sementara,
Untuk khias, 
asap-asap menyebar saling menyelimuti rumah-rumah damai dalam kepenatan kota besar
Saling meniadakan aroma nafas budak-budak pesawahan yang menjaga bijih tetap mekar.
Untuk maya, 
tembok tinggi buang jauh bayang-bayang nyata, yang mencakar langit, menghujam perut bumi.
Darinya lahir percakapan kosong, senyuman dingin, cipta fatamorgana di ujung jalan beraspal.
Untuk malam, 
trisula-trisula dengan tiga mata tajam
menunggu di persimpang jalan.
ibu kehilangan anak, anak kehilangan ibu.
istri tak lagi bersuami, suami tak lagi beristri.
majikan menganjingkan manusia, majikan memanusiakan anjing.
lama-lama
Burung-burung  kian menggali kuburnya sendiri
Penat-penat bergantian memberikan salam.
Kebosanan mulai meraja,
Mengendus,
Mengakar,
Lalu masuk di portal hidup segerombol besar insani.

aku mau pulang.
disini banyak orang jahat.

Wednesday, June 27, 2012

EMBARA


Suatu hari, sesampainya di laut, kuda mencari tuannya, dan semut semut hitam besar menertawakan sikap kuda

Di pasak tiang menggantung jubah-jubah tua tak bertuan, pohon-pohon kelapa tak henti melambaikan diri dan pasir-pasir kecoklatan menggigil terhempas ombak yang membuncah ruah senja itu.  si kuda setia menjaga jubah tuannya. Yang ditunggu tak kunjung datang.

Angin malam lantas menggoda, sebab sinar matahari sudah ingin beristirahat. Desir ombak kian jelas, hingga ujung sepatu kudanya terkikis air asin itu, tapi hatinya terasa sudah lebih dahulu membeku.

“tetaplah disini menunggu kedatanganku” adalah sabda si tuan ketika terakhir kali meninggalkan kudanya sendirian. Tuan tahu akan ada badai, dia memberi kesempatan kudanya untuk memilih. Menunggunya atau mempersilakan  berlari mencari naungan.

Dan kesetiaan kini butuh pengujinya. Si kuda dengan harap-harap cemas masih menanti kembalinya si tuan. Ketika alam kian memberi isyarat, hatinya mulai goyah, kini ia payah. Hatinya bergemericik, tenggorokannya kian mencekik. Ia hampir pada putusan untuk berlari.

Namun, ia mengingat apa yang telah dilakukan dan diberikan tuannya selama ini, mengingat bagaimana ia dibesarkan dan dihidupkan, nuraninya tidak bisa bergeming, menolak fakta, apalagi membalikan sejarah. Bahwa rasa berterimakasih akan melekat erat dalam memori seseorang, butuh pengorbanan memang, bagaimana hari-hari si tuan disibukan oleh kebutuhan kudanya, namun ganjaran atas apa yang diberi adalah lebih bertingkat untuk setiap apa yang didapat kembali. Bahkan terkadang, diluar ekspektasi seorang makhluk.

Masa penantian itu berakhir sudah, saat tuannya telah kembali. Perjuangan sang kuda melawan dinginnya malam dan derasnya ombak membuahkan hasil : bahwa sang tuan kini lebih mempercayainya. Setiap kelelahan, akan ada ganjarannya. Dalam bentuk apapun. Bahwa hati nurani yang paling bening sejatinya akan menolak penghianatan. Bahwa keistiqomahan dalam segala masa, butuh sisi pengujinya…


Saturday, June 9, 2012

Mencari Pahlawan Indonesia

Tantangan adalah stimulant yang disediakan oleh Allah untuk merangsang munculnya naluri kepahlawanan dalam diri manusia.

Naluri Kepahlawanan lahir dari rasa kagum yang dalam dari kepahlawanan itu sendiri. Hal ini akan menggoda sang pengagum untuk melihat dirinya sembari bertanya, Apa engkau dapat melakukan hal yang sama? 
Naluri kepahlawanan adalah kekuatan yang mendorong munculnya potensi-potensi tersembunyi dalam diri seseorang, kekuatan yang berada dibalik pertumbuhan ajaib kepribadian seseorang.

Keberanian adalah kekuatan yang tersembunyi dalam kehendak jiwa, yang mendorong seseorang untuk maju menunaikan tugas, baik tindakan maupun perkataan, demi kebenaran dan kebaikan, atau untuk mencegah suatu keburukan dan dengan menyadari sepenuhnya semua kemungkinan risiko yang akan diterima.
Sebagian dari keberanian itu adalah fitrah yang tertanam dalam diri seseorang dan sebagian lagi biasanya diperoleh melalui latihan.
Nasehat Umar, Ajarkan sastra kepada anak-anakmu , karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.”
Roh kebenranian itu dapat mematikan semangat perlawanan musuh.

Kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya sebuah keberanian bertahan dalam diri seorang pahlawan.
Keberanian adalah aspek ekspansif dari kepahlawanan, akan tetapi kesabaran adalah aspek defensifnya. Kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan sejauh apa kita membawa beban idealism kepahlawanan dan sekuat apa kita mampu selamat dalam menghadapi tekanan hidup.
“Sesungguhnya kesabaran itu hanya pada benturan pertama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Qayyim berkata, “Sampai akhirnya kesabaran itu sendiri yang gagal mengejar kesabarannya.”

‘Amr bin ‘Ash memaknai keterampilan berpolitik seorang pemimpin: “jika seorang pemimpin tahu bagaimana memasuki suatu urusan, maka ia harus tahu juga bagaimana cara keluar dari urusan itu, sesempit apapun jalan keluar yang tersedia.

Strategilah yang menentukan nilai dari sebuah pekerjaan.
Nasehat Abu Bakar untuk tentara yang akan berperang, “Carilah kematian, niscaya kalian akan mendapatkan kehidupan.”

Kata Sayyid Quthb dalam sebait puisi:
Saudaraku, kalau kau teteskan air matamu
Kau basahi pula nisanku dalam sunyi
Nyalakan lilin-lilin dari tulang belulangku
Jalanlah terus ke kemenangan abadi

Imam Syahid Hasan al Banna berkata: “jangan pernah melawan sunatullah pada alam, sebab ia pasti mengalahkanmmu. Tapi, gunakan sebagiannya untuk menundukkan sebagian yang lain, niscaya kamu akan sampai tujuan.”


Harapan, seperti kata Rasulullah saw, adalah rahmat Allah bagi umatku.jika bukan karena harapan, tak kan ada orang yang mau menanam pohon dan tidak ada seorang ibu yang mau menyusui anaknya. Harapan adalah buah dari dari kepercayaan akan rahmat Allah dan juga kepada kemampuan Allah SWT melakukan semua yang Ia kehendaki. 

Krisis adalah takdir semua bangsa. Ia tidak perlu disesali. Apalagi dikutuk. Kita hanya perlu meyakini sebuah kaidah, bahwa masalah kita bukan pada krisis itu. Tapi pada kelangkaan pahlawan saat krisis itu terjadi. Itu tanda kelangsungan hidup atau kehancuran sebuah bangsa. 




 Anis Matta dalam bukunya Mencari Pahlawan Indonesia (2004). 

Saturday, June 2, 2012

Signe de l'amour


-Di Bawah Naungan Cinta-

Dalam cinta ada tanda-tanda. Orang yang cerdik mampu mengenalinya, dan orang yang cerdas mampu menunjukkannya.

Tanda pertama dalam cinta adalah pandangan mata. Melalui pandangan mata rahasia-rahasia jiwa bisa diungkap, pesan-pesan jiwa beserta kedalaman isinya bisa disingkap.
Selanjutnya, tanda-tanda jatuh cinta bisa dilihat dari sebuah percakapan. Orang-orang yang jatuh cinta akan melayani percakapan orang yang dicintainya. Ia nyaris tak mau melayani pembicaraan orang lain, selain ia yang tercinta.

Tanda-tanda cinta lainnya bisa dilihat dari gerakan tubuh orang-orang yang jatuh cinta. Tanda berikutnya adalah keraguan sekaligus kegembiraan yang tergambar dari wajah kala tiba-tiba bertemu dengan sang pujaan atau ada kegugupan manakala berpapasan. Juga ia mengerjakan segala perbuatan yang biasa dilakukan sang pujaan.

Amboi! Cinta telah mengubah orang yang bakhil menjadi dermawan. Cinta telah mengubah sang pendiam menjadi banyak bicaranya. Cinta telah mengubah sang penakut menjadi sang pemberani luar biasa. Cinta telah mengubah sang buruk perangai menjadi berbudi mulia. Cinta telah mengubah yang tadinya malas berhias menjadi pesolek di depan kaca. Cinta telah mengubah si miskin berlagak kaya. Cinta telah mengubah si tua berlagak muda. Cinta telah mengubah sang pecundang menjadi pemenang. Dan itulah cinta!
Sesungguhnya, cinta merupakan sesuatu yang bersemayam dalam jiwa. Bisa jadi, seseorang jatuh cinta karena suatu “sebab”. Namun cinta jenis ini tidak akan abadi. Orang yang mencintai kita dengan  suatu “sebab”, cintanya akan berpaling seiring menghilangnya “sebab” itu. —semisal, kita mencintai seseorang hanya karena keindahan fisiknya semata, seiring bertambah usianya dan meluntur kecantikkan wajahnya, cinta itu bisa saja hilang.

Adapun cinta yang kekal, yang paling utama adalah cintanya dua orang yang saling mencintai karena Allah semata…


Ibnu Hazm El Andalusy

Friday, June 1, 2012

BAHAGIA ITU SEDERHANA


Selamat siang J

Lapor, Jenderal. Hari ini aku mau berbagi kisah lagi denganmu.

Jadi begini, kalimat “bahagia itu sederhana” kini ramai mengisi hari-hariku. Awalnya aku tidak paham makna dahsyat dibalik kalimat yang tersusun dari tiga kata itu. Sampai pada waktu ketika aku harus membantu seorang teman mengatasi masalahnya, memberinya solusi, dan menawarkan pundak untuknya berbagi. Aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana rasa yang menguasai diri pada saat-saat seperti itu, tapi kalimat sederhana itu mampu, Jenderal. Dengarlah, rendahkan hatimu..… bahagia itu sederhana. Demikian bunyinya. Apa kamu suka? J

Laporanku sebelumnya tentang ketidakbersyukuran akan apa yang aku punya, nyata bisa diperbaiki karenanya.  Jadi, ternyata saat hujan tak mampu menyiramnya, gerimispun memadai aku korelasikan dengan bahagia itu sederhana, meskipun terdengar sedikit aneh. Tapi tak apalah.

Kita bisa mencari bahagia tidak hanya di ibu kota Kerajaan Mimpi dan Cita-Cita. Kita bisa menemuinya disudut bahkan di pelosok desa terpencil sekalipun. Semisal bahagianya ketika aku berhasil menemukan gunting kukuku lalu memotong pendek kuku jariku yang sebelumnya panjang dan kotor, ketika aku bisa mendapati salah satu jerawatku mengundurkan diri dari jabatannya di kancah mukaku, ketika mendapati kamar yang habis dibombardir bom buku dan makanan kini bersih mengkilat, ketika bisa menikmati buah semangka dingin tanpa biji malam tadi, ketika bisa bersama dengan orang tua dan melalui malam bercerita dengannya, atau ketika menyadari bahwa Allah masih menginginkanku ada dalam kebaikan… itu, membuatku gembira. Dan mereka adalah hal-hal kecil yang kadang kita lupakan.

Aku terlalu berfokus pada kebahagian “besar”, semisal cita-cita yang dibuat teoritis di atas kertas yang ditempelkan di kaca kamarku tercapai, barulah aku merasa bahagia itu ada. Ternyata, hal itu hanya akan membuat jatah umurku di dunia diisi oleh kebahagiaan sebanyak cita-cita yang tergapai saja. Lalu, setiap detiknya hambar terlalui.

Ah jenderal, aku mengerti bahwa hal besar lahir dari hal-hal kecil. Kebahagian-kebahagian yang sederhana itu membawaku untuk menikmati bahagianya bersyukur, lalu semuanya terbungkus manis dan indah selayaknya paket lebaran dari para menteri kepada presiden untuk menarik hatinya. Semuanya terbungkus rapi oleh bungkusan kebahagian tertinggi, yaitu kebahagiaan akan melekatnya iman dan islam dalam setiap nafas kita…

 Begitu kan, Jenderal?