Tuesday, August 12, 2014

dan jika waktu

Agustus 2014. 21 tahun 3 bulan usia saya.

Saya tidak tahu ada dalam fase apa sebenarnya usia 21 tahun itu. Fase mencari atau menemukan atau menjalankan? Tapi, dalam fase apapun saya -seharusnya- berada, saya mensyukuri nikmat Allah yang Allah beri pada saya selama 21 tahun saya hidup.

Disaat sebagian orang memutuskan untuk menikmati indahnya dunia, pertemanan, dan lingkungan belajar kehidupan, saya secara anomali -namun benar menurut sebagian orang- memutuskan sejak lama untuk mengambil sebuah keputusan besar.

Keputusan menemukan dan ditemukan. Bukannya tidak mau lama berlayar mencari kesempurnaan versi makhluk, hanya saja berlayar tak tahu arah seringkali hanya akan berakhir pada kebuntuan. Apalagi singgah di banyak tempat, bermukim sementara, lalu bila tidak sesuai kehendak hati, pergi meninggalkan.

Saya tidak ingin banyak terlibat dalam lingkaran permainan, maka sedari awal saya berusaha untuk berhenti mencari dan berusaha teguh ikhtiar agar jiwa jiwa perindu kebaikan dengan mudah saling bertemu. Menemukan dan ditemukan.

Jalan masih panjang. Akhir tidak pernah ada yang mampu menaksir. Jika Allah berkehendak memampukan, semoga setiap keputusanNya menjadi kebahagiaan bagi setiap kita yang menerima. Jika kekuatan ini bersumber dari Illahi, maka celoteh mereka biarkan redup seiring waktu. Biarkan setiap prosesnya menjadi keindahan tersendiri; semoga mimpi kian terealisasi.

Dan jika waktu berbicara siap atau tidak siap, mampu atau tidak mampu, bumipun akan bertanya, kapankah kiranya tiba waktu itu?




Sunday, July 13, 2014

Tuesday, July 1, 2014

spectrum Laila


Saya -pada jamannya- adalah gadis polos (?) sehingga saya membiarkan diri saya dimasuki berbagai informasi kehidupan. 

Saya adalah wanita yang tidak pandai bergaul, tapi kadang mudah melebur~ terbawa arus, karena kebodohan dan kemiskinan prinsip yang dianutnya. Beberapa tahun lalu, kehidupan di mata saya adalah tentang bagaimana saya lulus ke jenjang pendidikan yang memadai. Kerja. Punya uang. Selesai.

Beberapa tahun yang lalu saya mengamati pola kehidupan sekitar saya. Murid-murid berkelas, strata sosial menengah ke atas. Berbanding dengan kelompok-kelompok minimalis, serba sederhana. Mereka semua -tentu saja- memilih untuk bergerombol, membentuk kelompok; strategi untuk dapat memenuhi kebutuhan Maslow,"merasa dianggap eksistensi hidupnya". Kemudian, satu kesimpulan yang saya dapat; saya pun harus masuk dalam kelompok, karena saya memiliki "kebutuhan dasar" yang sama; rasa nyaman.

Manusia dengan sendirinya akan mencari "kelompok" yang membuat dirinya menjadi nyaman. Ada beberapa kemungkinan dari proses seseorang memilih suatu kelompok. Ada yang mempertahankan pemikirannya hingga kelompok sebelumnya mengikuti dirinya. Ah, ini sungguh "kharismatik". Ada yang memaksakan untuk meninggalkan pemikirannya karena tidak cocok dengan pemikiran kelompok yang ada, menyerah begitu saja  tanpa mengkritisi dan membiarkan dirinya "jatuh". Ini sungguh menyedihkan. Ada yang mencari, terus mencari, hingga akhirnya menemukan, dimana ia harus berlabuh. Ini namanya perjuangan.

Singkat cerita, saya pun mencari. Secara garis besar, memang selalu ada banyak blok. Blok depan-blok belakang, sayap kanan-sayap kiri. Karena jika sebelah saja, burungpun tidak akan bisa terbang. *terus kenapa* 

Kemudian, sekelompok orang yang saya namakan Spectrum Laila, karena terdiri dari wanita-wanita perkasa   -meskipun tidak ada satupun diantara mereka yang bernama Laila- yang menarik perhatian saya. 

Petualangan pun dimulai.

Saya seperti masuk dalam istana yang dicat warna-warni. Penuh warna. Di samping kiri ada Kemewahan tak terjaga, menggoda. Begitu mudah diraih, begitu mudah untuk dirasakan. Di samping kanannya, banyak bebatuan, pualam, dan membentang hingga balkon istana, terlihat sulit dan banyak larangan serta perintah.....

ah sudahlah, ini bukan kisah barbie dan istananya.

Tapi, Spectrum Laila memperlihatkan jalan itu dengan ramah tamah. Mereka tidak hanya berbicara, mereka menunjukannya dengan keteladanan. Saya terpesona, dan hampir-hampir terjerumus oleh cahayanya. Saya dengan kebodohan dan kemiskinan prinsip, diperkenalkan tentang makna diri. Mereka adalah guru kehidupan, yang membawa gelap kepada terang, menjadi tangan-tangan bertitah-penyambung kebahagiaan yang dijanjikan...

Spectrum Laila adalah mereka, Kakak-kakak kelas saya yang dengan wajah bercahaya, senyum menentramkan, dan perhatian yang mendamaikan, memperkenalkan saya pada sesuatu yang membuat saya mengerti tujuan untuk apa saya hidup. Saya yang terombang ambing pada kelompok-kelompok yang hanya sekedar berkelompok, akhirnya ditunjukkan sesuatu yang mengajarkan bahwa segala sesuatunya harus memiliki tujuan, sebab Tuhan tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia, termasuk dalam berkelompok. Sebatas kesamaan hobi? tapi ada sesuatu yang lebih dari sekedar kesamaan. Itulah tujuan.

Spectrum Laila mengajarkan saya tentang kebahagiaan, kenyamanaan. Sesuatu yang hanya bisa didapatkan jika saya tahu fungsi diri. Bagaimana saya bisa bahagia -dalam jangka panjang, bahkan hakiki- bila saya tidak tahu siapa diri saya, apa fungsi diri saya.

Dan  kebaikan hati para spectrum Laila harus menjadi tugas berulang bagi setiap yang merasakan. Sebab nikmat yang ditawarkan terlalu besar untuk dirasakan sendiri. Spectrum Laila menyebarkan sesuatu yang akhirnya saya tahu bagaimana satu kata itu disebut. 

itulah dakwah.

Sebab dakwah melahirkan ukhuwah, dan dari ukhuwah tercipta kenyamanan, kesejukan hati. Yang sampai detik ini terus saya syukuri. Bertemu kawan-kawan hebat dengan tujuan hidupnya yang hebat pula. Semuanya serba kebaikan. Menggerakan hidup saya dari gelap kepada terang, memotivasi saya untuk ikut membangun mimpi-mimpi kebaikan.

Terima kasih Spectrum Laila. Mereka-mereka yang namanya tidak perlu disebut, sebab bukan dengan pujian mereka menerima balasan, tapi dengan pahala yang mengalir terus menerus.

Ingin rasanya menjadi seperti Spectrum Laila, memperkenalkan manis dan indahnya ukhuwah. Demi Allah, ukhuwah itu indah. 

Sepanjang tulisan ini, tidak ada satu katapun yang mendeskripsikan keindahannya. Ia hanya bisa dirasakan...

Friday, June 27, 2014

Muawiyah

semua nya kebingungan, mengapa Hasan bin Ali menyerahkan posisi Khalifah setelah menjabat hanya 6 bulan selepas pembunuhan Ayahnya, Ali bin Abi Thalib…..
……
Hasan mengundurkan dari dari jabatan khalifah dan menyerahkannya kepada Muawiyah, Gubernur Syam, demi persatuan umat. Perpecahan dan penghasutan terjadi di kalangan umat Islam. Dan Hasan mencoba mengamalkan sabda Rasul, "Anakku ini (Hasan) adalah seorang sayyid. Melalui dia, Allah akan mendamaikan dua kelompok besar dari kaum muslimin" -karena cmiiw, Ada dua kelompok penghasut ketika khalifah Ali menjabat, dan Muawiyah termasuk yang tidak mau berbaiat kepada Ali jika pembunuh Utsman bin Affan tidak segera di qishas-
dan pembahasan menjadi meleber~
kembali pada Muawiyah. 
saat pengangkatan Muawiyah dari Bani Umayyah sebagai khalifah, masih banyak sahabat Rasul yang lain yang lebih paham agama dan lebih dahulu masuk Islam, diantaranya ada Abdullah bin Umar, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Amr, Abdurrahman bin Auf, dll.
lalu mengapa Muawiyah?
Sebagian ulama sepakat atas bolehnya mengangkat seseorang pemimpin yang masih ada orang yang lebih baik darinya. Keberadaan orang yang lebih baik tidak meghalangi terpilihnya seseorang menjadi pemimpin selama ia memenuhi syarat sebagai pemimpin. Keutamaan hanya dianggap sebagai nilai tambah dalam pemilihan, bukan syarat sah dalam kepemimpinan. 
meskipun banyak sahabat senior yang lebih dekat hidupnya dengan Rasulullah, lebih ahli dalam urusan agama dll, Muawiyah diangkat menjadi khalifah karena kapasitasnya sebagai seorang pemimpin.
Muawiyah adalah Gubernur Syam pada masa Umar bin Khathab sampai masa Utsman bin Affan. Dialah pendiri proyek pembentukan armada laut pertama dalam Islam pada masa kekhalifahan Utsman. Umar bin Khathab menilai Muawiyah sebagai seorang yang tanggung jawab, mampu membentuk pasukan perang dengan baik, mampu beradaptasi dan berpolitik dengan setiap orang. 
Jadi, mengapa Muawiyah?
—————————
tidak ada yang benar-benar meyakinkan saya dalam kriteria calon presiden negeri tempat saya hidup saat ini. Saya bukan orang yang ahli dalam perpolitikan, saya hanya melihat dari sisi saya sebagai warga negara yang berhak memilih siapa pemimpinnya. 
sama halnya seperti Muawiyah terpilih. Banyak yang jauuuuuh lebih baik pemahaman agamanya (atau bahkan pengetahuan politiknya) dari dua calon yang ada. Tapi kita tetap harus memilih satu orang yang cakap secara kapasitas. Sebab sulit menuntut mereka menjadi sesempurna impian siang bolong kita, simsalabim, semua rakyat sejahtera, perut kenyang, dan harta melimpah— tanpa perlu banyak kartu, tanpa ada kebocoran di banyak bidang (?)
kita sering bertanya, “kenapa Mr. X tidak maju jadi calon? Dia jauh lebih baik dari Om Bowo dan Mas Joko. Aku cuma mau milih kalau si Mr. X jadi calonnya” Hap, tetot. Saya rasa, kita tidak perlu bersikap sepesimis itu. 
Dan dari dua calon presiden yang ada, saya akan memilih orang yang saya rasa lebih mumpuni kapasitasnya dalam memimpin wilayah dalam skala besar. Cakap dalam politik dan pertahanan negara. 
dan tentu saja, dia - atau pihak pendukungnya- adalah orang-orang yang berafiliasi pada Islam. Campur aduk dunia politik, memang.. tapi saya tetap yakin, masih ada orang-orang berniat bersih untuk memperjuangakan daulah yang menegakkan syariat islam. Siapapun mereka…

"Pemimpin kalian yang terbaik adalah pemimpin yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian; berhubungan baik dengan kalian dan kalian berhubungan baik dengan mereka. Pemimpin terburuk adalah pemimpin yang kalian benci dan mereka membenci kalian; kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian!" Shahih Bukhari dan Muslim.

Saturday, May 17, 2014

Sunday, May 11, 2014

Final Project

Sudah berjam-jam, hari ini saya duduk di hadapan laptop kesayangan. Laptop yang saya beli -tentu saja uang Ayah- sewaktu kelas 1 SMA dulu. Laptop yang sekarang mengalami degradasi mental dan kelumpuhan batre permanen membuat saya semakin mencintainya. Laptop yang 3 tahun lamanya menemani kesendirian dan kejombloan di kamar kosan Jalan Jawa no. 54. Laptop yang kemarin akhirnya mengalami pemugaran, dan kembali bisa difungsikan sedikit lebih layak lagi. Saya tahu seringkali saya berbuat dzolim padanya; ditinggal tidur, seharian lupa di matikan, di turn-off-kan dengan paksa, atau sedikit dibanting kalau ada indikasi lemah otak alias loading kebangetan. Maaf ya sayang. Terlebih lagi, saya minta maaf karena hingga detik ini, 6 tahun kebersamaan kita, rupanya saya belum memberimu nama. Hiks.

Saya memikirkan nama yang baik untuk si laptop. Tapi setelah mau diberikan nama, saya pikir nama itu bagusnya disimpan buat nama anak saya saja. Terlalu bagus untuk ukuran laptop. Dan hah! Baiklah, saya tidak cukup kreatif untuk mencarikan nama, jadi yasudahlah, saya akan memanggilnya dengan panggilan mesra ; topan. Singkatan dari lapTOP AN(tara kita saja yang tau apa kepanjangannya).

Dan kenapa malah bahas laptop ya -,-

Ngomong-ngomong, tahun ini, saya akan memperkerjakan Topan dengan sedikit rodi. Saya akan mulai mengerjakan skripsi (ciee). Sudah berkali-kali saya menyuruh Topan untuk kerja rodi, serodi otak saya yang gak maju-maju untuk dapat referensi. Huft.

Hari ini, bermenit-menit lamanya saya memandangi layar Topan. Putih, Bersih sekali. Ms. Word 2010.

Akhirnya saya berani menuliskan judul yang bergentayangan di imajinasi saya. Berkali kali keyboard ditekan, berkali-kali pula backspace dipencet-pencet. Delete!

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang.
-kemudian hening-

Dan hari ini, kembali satu dokumen yang berjudul "Skripsi Detin" harus puas dengan layar putih.
Semoga malam ini deretan huruf sudah bisa menghiasinya.
Saya sebagai makhluk nokturnal (what??!!) akan berusaha melewati malam dengan membaca lebih banyak jurnal.

Semoga Topan bisa jadi partner skripsi yang baik, meskipun sebenarnya saya tidak bisa banyak berharap pada Topan yang dibawa kemana-mana beratnya minta ampun dan tidak bisa hidup tanpa baterai.

Topan, semoga kamu bisa punya adik lebih cepat. Meskipun semesta sepertinya berkata untuk memperkerjakanmu saja.