Monday, April 27, 2015

Sunday, April 12, 2015

Jadi, jawabannya apa?

apa yah, jawab iya tapi sebenernya enggak, jawab enggak tapi sebenernya (menuju) iya. Dilema~

lagian, kenapa orang-orang harus bertanya satu pertanyaan keramat itu? kenapa gak pertanyaan lain yang simpel jawabannya, semacam "kapan nikahnya?" atau "dimana acaranya?"
yah, kenapa harus, "emang udah siap?"

terus saya harus jawab apa kalau ditanya itu-itu terus. Pertanyaan yang sering terlontar dari orang dengan muka yang -"You are so young! why in the world would you do that?"-banget. Huft!

simple answer, tapi sebenarnya sama sekali tidak menjawab adalah "why wouldn't I?"

Tapi, kalau lagi bijak, saya sering berusaha menjelaskan alasan kenapa saya (yang sebenarnya enggak pantas dibilang "so young" juga, karena usia saya bukan 16 tahun) memutuskan untuk menikah.

Disaat orang lain masih memikirkan bagaimana cara nembak cewek yang romantis ala-ala ABG, atau menghabiskan malam minggu berduaan jaman seragam putih abu, saya sudah memikirkan, "lebih seru naik kuda putih atau delman (?) aja untuk sampai ke gedung pernikahan ya?" urusan jodohnya siapa, itu belakangan aja.

Sampai akhirnya, keputusan ini dibuat; langit runtuh seketika, jantung berpacu lebih cepat dibanding saat ujian SOOCA atau OSCE. Maha suci Allah, saya akan menikah.

duapuluhsatutahun. Dan orang-orang masih tidak percaya bahwa saya mampu untuk mengemban amanah besar ini. Kemarin-kemarin, ayah saya juga bertanya, "emang Ade udah siap?" ceeeessss!! menohok nya tuh disini, Yah!

Saya yang masih sering merengek, manja, takut sama gelap, kabur kalau denger cerita hantu, gak bisa masak, gak bisa bersih-bersih ini harus berhadapan dengan seorang laki-laki mandiri dan imperfectly perfect. Saya berkali-kali bertanya, jangan-jangan dia lagi konslet waktu milih saya. Tapi ya begitulah, begini adanya, meski dia pernah bilang, "saya memperjuangkan kamu sungguh-sungguh"

Ya, dan ini adalah h-27 hari sebelum 9 Mei. Masih lama? relatif. Meski gedung sudah dibooking, catering sudah bolak-balik test food, panitia sudah terbentuk,...
tapi, pernikahan itu belum tentu terjadi. :)

Hanya Allah yang Maha Tahu skenario apa yang ada di balik 9 Mei nanti. Kita hanya bisa berdoa sambil terus berhati-hati, semoga Allah melancarkan dan memudahkan perjalanan ini.  Iya, ini adalah waktu-waktu terberat bagi kami dan bagi setan. Prinsipnya, kami harus kuat atau setan datang merusak segala. *lindungi saya dari keburukan diri saya, ya Allah... Ah, melow*

Dan saya minta maaf kepada teman-teman yang terguncang (?) karena berita ini. Bukan niat mau nutup-nutupin (yang akhirnya bocor juga), tapi memang sunnahnya demikian. "sembunyikan lamaran, dan umumkan pernikahan". Sejak 2 Desember lalu, saya sudah berusaha untuk menutup rapat kebahagiaan ini. Meskipun dalam beberapa peristiwa, orang-orang kepo dan akhirnya bablas juga. Bahkan awalnya baru ingin kasih tahu H-14 hari saja, tapi yah....jaman sekarang, daun dan dinding pun berbicara."kenapa berita bahagia disembunyikan?" sekali lagi, begitulah sunnahnya. Kita belum pasti menikah, meskipun H-1 jam sekalipun. "Gak usah ditutup-tutupin, dari gelagat kalian juga ketahuan kali..." yah gimana dong, harap maklum, saya masih pemula. Saya lebih suka dibilang aneh daripada tidak mengikuti nasihat kekasih jiwa raga, Rasulullah.

Ditengah-tengah kehectican perhelatan dunia, saya sebenarnya ingin menepi, menyingkir dari aura-aura berbau tugas, deadline, pekerjaan, skri*si, dan embel-embelnya. Dan hanya ingin berduaan dengan Tuhan. Mencurahkan semua rasa tidak percaya diri ini, menceritakan kronologis jantung berdebar ini. Atau sekedar kirim sms, "Ya Rasulullah, bagi tips n trick nya dong, supaya saya bisa tau cara membina rumah tangga yang baik"

Ah ya, ada satu perangkat bernama do'a yang menjadi obatnya. Entah bagaimana cara kerjanya, tapi semakin tinggi dosisnya, semakin cepat pulihnya. Tidak ada yang pernah overdosis karena doa, kan?
H-27, saat orang-orang dengan euforia nya "detin, nanti tema pernikahannya apa? baju nya model apa? abis nikah bulan madu dimana? rencana ambil cuti berapa lama?" saya lebih butuh kesunyian yang mengantarkan saya pada kontemplasi, ya Tuhan betapa buruknya hati ini, betapa berlumuran dosanya diri ini, betapa sering lalai nya jiwa ini. Di depan sana ada kehidupan baru, yang darinya, pintu-pintu surga terpancang, dan pintu-pintu neraka siap siaga.

akhirnya, selamat menikmati proses pacu jantung ini, iya kan?

Kamar, 13 April 2015
pukul 01.35 tengah malam.
Sambil berpikir bahwa sebentar lagi akan hidup dengan orang yang tidak dikenal sebelumnya, dari dunia yang berbeda, yang beberapa kali sering  merasa  jatuh cinta, padahal nanti saja, simpan dulu, sampai ada waktunya untuk membangun cinta sekuat-kuatnya, setinggi-tingginya...

Friday, April 3, 2015

dua srigala

"maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan" (Q.S Asy Syams : 8)



hati manusia seperti dua lempeng uang logam. Maha Besar Allah yang telah memberi potensi dalam setiap makhlukNya dua kecenderungan hati. Satu lempeng kefasikan, satu lempeng kebaikan. 

lalu... sisi mana yang menjadi dominan? Srigala mana yang akan kita beri makan?

"Kemanusiaan hanya dapat dibina dengan mencinta, dan bukan dengan membenci. Orang yang membenci tidak saja hendak merusak manusia dirinya sendiri. Ingatlah hidup orang lain adalah hidup kalian juga... sebelum kalian membunuh harimau yang buas itu, bunuhlah lebih dahulu harimau dalam hatimu sendiri... mengertikah kalian... percayalah pada Tuhan. Tuhan ada... manusia perlu bertuhan.” - Mochtar Lubis dalam Harimau! Harimau!
Konsekuensinya telah Allah jelaskan dalam ayat selanjutnya...

Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Saturday, March 28, 2015

Tuesday, March 3, 2015

Apa yah




“Ada sesuatu yang ia miliki. Sesuatu yang berusaha ia pertahankan keberadaannya. Ia tersimpan di dasar jiwa. Hanya kecil, seperti bara api, tapi tak pernah padam...”

Bara api itu kadang redup, kadang bersinar terang. Dipelihara jangan sampai mati, itu yang menjadi tugas utama. Kebutuhan yang setiap minggu harus ditunaikan. Barang satu jam atau dua jam, dan energi itu kembali terisi. Ia adalah bahan bakar, persediaan untuk menjalani hari-hari dalam dunia yang hiruk pikuk dan heterogen ini.

Ketika sedang berada di pijakan terendah, ditambah malu, rasa munafik, iri dengki, malas, emosi, segudang pikiran yang menyesak, membuat lupa waktu... perasaan ingin ditampar supaya sadar adalah hal yang paling dibutuhkan. Sayangnya, moment penamparan datang itu bukan ditunggu, tapi harus dicari.

Dan disaat terasa amat sangat jauh dari rasa ketenangan, rasa aman, dan rasa dipeluk Allah, pesan seorang Murrabi adalah, “buka alquran secara acak, berdoa terlebih dahulu, semoga Allah memberikan jawaban atas pertanyaanmu”

Selepas membaca doa, semoga Allah menghilangkan perasaan khawatir, merasa tidak ada apa-apanya, perasaan tidak siap, jauh dari ilmu, kesibukan yang sia-sia, dan semoga ayat yang dibaca menjadi asy-syifaa nya.. maka Alquran dibuka secara random, di satu halaman terlihat ada tanda garis bawah warna kuning sepanjang satu kalimat di ayat 28.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (Q.S Ar-Ra’d : 28)

hmm, malu gak sama Allah? 

iya-lah gundah gulana, Allah nya dilupain, sih. Berdoa hanya seperlunya. Itu pun kalau lagi gak buru-buru.

padahal...


"by the quality of your prayers, you know the condition of your heart."

ruhiyah lowbatt -- charging strated!

Friday, February 27, 2015

Mati

Apa yang lebih menyeramkan dari "manusia yang tidak takut Tuhan?"
Mereka bisa jadi lebih buas dari singa yang kelaparan.

Sudah berapa banyak penduduk bumi yang bosan dengan hidup?

Seberapa sering kita melihat pemuda putus asa dengan kemiskinan dan kebodohan? Hidup dengan cara biadab, jelas tanpa etika,.... dan tanpa takut dosa.

Negara sedang sekarat. Penduduknya gerah dan lelah. Disaat lelah, memang sulit untuk mengalah. Kita terdidik untuk malas bekerja tapi ingin kaya. Angan-angan sekali.

Semuanya serba menghalalkan segala cara. Di negara yang sedang sakit ini, kepala sapi lebih mahal dari kepala manusia.

Pembegalan. Manusia dibacok, ditusuk, diseret sampai mati....hanya untuk uang! Bah! Orang kita sukanya meniru. Dikira merampok itu bisa menghasilkan duit, ramai-ramai daftar jadi rampok.

Pulang malam, taruhan nyawa. Kita melawan, jari lepas, kepala bocor. Tetangga saya koma, tangannya putus! Kurang biadab apa mereka?  baringas.

Seorang anak manusia sudah susah payah dibesarkan untuk bahagia. Dengan seenak jidat direnggut hak untuk hidup dengan aman.
Ya Allah, saya berlindung dari manusia-manusia terlaknat yang menghalalkan darah sesamanya. Semoga kami dijauhkan dari kebodohan dan kemiskinan.

Negara tidak aman. Oya kita lupa, kita memang belum sejahtera. Negara ini masih jauh dari bahagia.

Sunday, December 7, 2014

Televisi

Siapa dia?

Bukan bukan bukan. Saya bukan dia. Bukan bayangannya, bukan kembarannya, bukan reinkarnasinya, bukan arwahnya, bukan baunya, buka khasnya, bukan waktunya, bukan tempatnya, bukan gembiranya, bukan lucunya, bukan cahayanya.

Saya, diatas lamunan lalu tersadar.  Ternyata ini bukan sinetron atau film layar lebar.

Jadi siapa dia?

kita hidup di dua masa berbeda. Dan tentu saja, siapapun orang yang berpikir kami sama, rasanya perlu cuci otak.