Wednesday, December 19, 2018

ambivalensi

setiap manusia (sepertinya) pernah mengalami pergolakan batin antara takut sekaligus berharap. 

congkaknya manusia, seringkali lupa pada apa yang dipunya, terlampau ambisius terhadap apa yang belum dimiliki. 

saya pikir saya cukup kebal dan memiliki imun yang berlapis-lapis sehingga bisa dengan mudah melewati fase membingungkan tapi bingung apa yang sebenarnya saya bingungkan. Bingun kan ya? 

nyatanya... saya terjangkit penyakit itu juga. Penyakit para milenial.

Hah! ternyata, melewati quarter life crisis benar-benar menguras emosi.
Ketakutan dan harapan adalah dua garis jiwa yang berlawanan tetapi berada pada sudut yang saling berhadapan.

Lalu rasanya ingin nangis di pojokan, kenapa waktu cepat sekali berlalu, padahal saya bahkan belum memutuskan pilihan.
menikmati si waktu beserta setiap detik-detiknya yang berdenging, atau melaju sambil takut-takut dan (sudah pasti) melelahkan.




ini saya lagi curhat, lho. Kamu ngerti, kan? 
Iya aja biar cepet.


-detin, si tukang ngomong sendiri-

Friday, December 7, 2018

fanlar.

Saya, seperti kebanyakan wanita yang tidak begitu peduli dengan keadaan, cenderung sulit untuk dibuat kagum.. Tapi begitu ada yang menyentil perasaan, mencolok pupil mata dan menghujam ulu hati, hempasan kekaguman itu menyeruak ke dalam setiap bagian tubuh saya yang rapat tertutup lemak..

Andaikata saya jatuh hati pada seseorang yang bahkan belum pernah bertemu,  ke-nge-fans-an itu bisa saja  dengan  diam-diam berkembang biak dalam diri saya, hanya melalui tulisan dan kemisteriusan dirinya. Semakin saya terjun menyelami siapa dia, semakin imajinasi tentang dia tergambar jelas dalam memori, seperti hendak menguasai isi hipokampus saya, si kuda laut dengan tugas kerennya itu, pengolahan memori. Iya, memang tidak bertemu, cukup dengan hanya mengingat kata-katanya dan kisah hidupnya yang sepenggal-penggal itu dari jari-jarinya, seolah-olah seperti saya menjelajahi dunia spasial-temporal (?)

Dia. Sosok wanita dengan kemampuan mencengangkan dan kecintaan mendalamnya  terhadap buku-buku. Menuliskan siapa dirinya dengan begitu misterius, seolah bumi ini bukan kandidat yang layak untuk jadi tempat memperkenalkan dirinya. Semakin misterius dirinya, semakin saya terobsesi. Dia mendefinisikan ketertutupannya dengan memberikan seuprit teka-teki tentang siapa dia, bagaimana dia menjalani hidup, perannya sebagai anak, istri, ibu, tetangga, pekerja, dan sebagai dirinya sendiri. Saya bisa habiskan waktu untuk mengagumi kemisteriusannya, keahliannya mencerna buku-buku dan kemampuannya mengilhami saya tentang bagaimana melihat ketidakteraturan dari sudut pandangnya.

Dia... memikat saya, tanpa dapat dimengerti.

Lalu tiba-tiba semuanya berubah ketika negara api menyerang. Entah bagaimana, dia menjadi seterbuka itu. Dia menjadi seorang ibu-ibu kebanyakan-- ibu-ibu pada umumnya. Teori parenting itu, semakin kesini membuat saya semakin muak. Banyak ibu yang terlalu mengkhawatirkan anaknya untuk suatu hal yang tidak perlu dikhawatirkan--bahkan tidak perlu dipikirkan. Bagaimana mungkiiinn oh whyy.. dia jadi termasuk yang rajin afirmasi dan kampanye untuk menjadi ibu-rumah-tangga-yang-baik-pandai-mengatur-keuangan-dan-tidak cacingan-dengan-kegemaran-membagikan-ilmu-parenting-bertubi-tubi-di-media-sosialnya. Haaaaah!

Dengan berlandaskan kepercayaan bahwa latihan menulis setiap hari akan membuat kita terbisa-produktif-dan bermanfaat, maka sosok dirinya berubah. Dia mulai menuliskan apa saja. Apa saja. Benar-benar APA SAJA. Semuanya. Catatan kajian, resume seminar, hikmah kehidupan, resep makanan, temuan ilmu parenting, pendapat ahli, rangkuman livestory IG selebgram parenting........ *cryyy awak cry*

Iya iya iya. Kamu akan tidak sependapat dengan saya, kalau saya bilang saya tidak suka dia yang sekarang. Kamu akan bilang bahwa transformasinya menjadi ibu-ibu-muda kekinian itu adalah tren milenial. Berbagi dan eksistensi adalah identitas, itulah moto para mahmud gen Z, yaa atau gen Y mentok lah.

Tapi saya patah hati. Saya dikecewakan oleh kemunculan dirinya yang terlalu banyak menulis apa yang tidak ingin saya baca. Dia menjadi terbuka, tapi bukan keterbukaan tentang dirinya lagi, cara penyampaiannya yang terlalu notulensi benar-benar membosankan. Sekarang, apa bedanya membuka blognya dan membuka wikipedia :( Hatiku terpotek, *cakar-cakar tembok.

Sungguh disayangkan, saya kehilangan idola, padahal diidolai olah saya adalah sebuah kehormatan *yakali siapa lu*  intinya saya mulai risih dengan dia yang terlalu sering bercuit tentang ini itu. Dia kehilangan warna dan karakter di hati saya. hiks.

Tertanda, fans yang pundung.
detin












Friday, November 23, 2018

Nafas Naga

Sejak ribuan tahun sebelum masehi, sudah terkenal sebuah kutukan yang sangat mengganggu kehidupan manusia. Mitos dari berbagai bangsa bermunculan, mereka mencari banyak cara supaya terhindar dari sesuatu yang dianggap "kutukan" ini.

Kutukan itu bernama : Bau Mulut.

Jauh-jauh hari, sekitar 1000 tahun sebelum masehi, bangsa Yunani sudah berusaha menghilangkan bau mulut dengan menggunakan susu kambing dan kedelai sebagai obat kumur. Penduduk Irak memercayakan cengkeh, sedangkan orang-orang Cina buru-buru mengunyah cangkang telur untuk menetralisir bau mulut. Bahkaaaan, bangsa Romawi menambahkan urin manusia sebagai obat kumurnya. YAKS! Kreativitas manusia memang sungguh cemerlang. Kadang berlebihan.

Lalu, sebenarnya apa itu bau mulut? kenapa terdengar mengerikan, bahkan orang-orang Yahudi dahulu diperbolehkan menceraikan pasangannya jika ia kedapatan mengidap bau mulut. Sadis.

Bau mulut atau yang dikenal dengan istilah halitosis atau breath malodor atau fetor oris atau nafas naga, atau jungle mouth, atau apapun, you name it, sebenarnya hanyalah persepsi subjektif. Karena kesubjektifan yang seringkali membingungkan itulah, maka para pakar sepakat untuk membagi halitosis menjadi tiga kelompok.

Pertama, Genuine halitosis adalah halitosis yang benar-benar nyata, ada, tercium, bahkan terukur dengan parameternya sendiri, dengan alat ukur yang (sayangnya-sepertinya) hanya tersedia di negara-negara maju. Sepanjang sepak terjang di dunia kedokteran gigi, saya belum pernah lihat halimeter atau portable gas chromatograph terpampang cyantikk di klinik-klinik gigi Indonesia
Kedua, Pseudohalitosis adalah ketika orang-orang merasa sangat menderita karena merasa nafasnya bau, padahal setelah diperiksa, nafas mereka sebenarnya baik-baik saja.
Ketiga, Halitophobia, mereka menderita bau mulut, lalu diobati dan nafasnya sudah kembali normal, tapi pasien ini masih keukeuh merasa dia bau mulut. Seakan-akan bau itu menghantui hidupnya, dan mereka merasa menderita karena terlalu takut yang berlebihan. Jangan cari dokter gigi, sebaiknya cari psikolog saja.

di Amerika sendiri, orang berbondong-bondong menghabiskan satu juta dolar uang mereka demi membeli produk-produk "deodoran" untuk nafas mereka. Padahal produk-produk itu hanya menutupi secara superfisial, tidak efektif dan buang-buang uang, sungguh sebuah fenomena "inefficient masking attemps"

Sekarang, bayangkan bau-bauan yang paling busuk yang pernah kita cium, sampah? daging busuk? feses? 
semua bau-bauan busuk itu berasal dari aktivitas mikroorganisme, khususnya bakteri.  Bakteri-bakteri "bau busuknya sampah, daging busuk, dan feses" adalah bakteri-bakteri yang mirip dengan yang hidup lingkungan mulut. Faktanya, lingkungan mulut manusia sejatinya merupakan pabrik terbesar berpenduduk jutaan mikroba, baik virus, jamur, protozoa maupun bakteri. Tapi mereka bukanlah pengungsi, mereka adalah penduduk pribumi tubuh kita yang keberadaannya sangat vital diperlukan, benar-benar kita butuhkan, mulai dari proses mengunyah dalam mulut, sistem pencernaan, hingga pencegahan penyakit.

Jadi, bagaimana bau-bauan dari mulut itu diproduksi?

Bakteri, -tentu saja- memerlukan makanan. Untuk keberlangsungan hidupnya, bakteri memerlukan atktivitas metabolisme dengan memakan sisa-sisa makanan, lendir, maupun jaringan mati dalam mulut kita. Semua bahan makanan itu di absorpsi di membran sel bakteri, lalu mereka memecah komponen asal makanan berupa zat organik (misalnya protein) ke dalam bentuk molekul yang lebih kecil (misalnya asam amino). Serangkaian proses degenerasi proteolitik ini menghasilkan produk sampingan yaitu hydrogen sulfide yang terselundup di air liur, tumpukan epitel, cairan gusi, bahkan darah.

 Mari berkenalan terlebih dahulu dengan para bakteri yang secara normal dan damai hidup di mulut kita. Phorphyromonas gingivalis, Prevotella intermedia, Aa comitans, dan Fusobacterium nucleatum, mereka bakteri normal tapi sayangnya bersifat oportunis. Saat lingkungan mulut mulai tidak bersahabat, mereka menjadi sedikit liar. Mereka semua adalah bakteri yang memproduksi Volatile Sulfur Compound/VSC, si cikal bakal asal muasal bau itu berasal. Sebenarnya mereka sudah begitu baik menjaga iklim mulut kita tetap harmonis, seimbang, sehat bersahabat. Tapi tentu saja mereka akan marah dan mengubah diri mereka menjadi "bad guy" bila lingkungannya terganggu. Perubahan lingkungan ini  mayoritas diakibatkan oleh tindakan kita sendiri. Sedih ya. Beberapa penelitian mengatakan mayoritas bau mulut berasal dari gigi yang berlubang, 51% berasal dari lidah yang kotor, 13% karena gusi yang bermasalah dan hanya 4% yang diakibatkan oleh penyakit sistemik.

Iya iya. Bahasannya mulai terasa terlalu berat.  
Kamu pusing? saya jugaaa...

intinya... Hilangkan penyebab. 

Jika ada gigi yang berlubang, segera tambal sebelum terlambat. Karena kalau sudah kena saraf gigi, pilihannya hanya dilakukan perawatan saluran akar yang harganya jutaan itu, atau.. menunggu gigi mati membusuk. 
Karena lidah ibarat karpet luas tempat para bakteri leyeh-leyeh dan membentuk pasukan kolonisasi, maka lidah yang kotor adalah sumber bau mulut. Kita hanya perlu menyikat lidah, cukup menggunakan sikat gigi, disapukan ke arah luar.
Karang gigi adalah miniatur benteng cina dalam mulut, bakteri tumbuh dengan montok di suasana gigi yang kotor. Jangan tanya seberapa baunya nafas orang dengan karang gigi yang berdiri kokoh. Cukup lakukan pembersihan karang gigi, lalu maintain dengan sikat gigi rutin sehingga karang gigi tidak terbentuk lagi.
Jika perlu, tambahkan antimicrobial agent, misalnya obat kumur Chlorhexidine, gunakan tongue scraper, dental floss dan tentu saja, sarapan yang bergizi :)

itulah hal-hal sederhana yang bisa kita usahakan untuk menghilangkan bau mulut. Sebenarnya simpel, cuma keseringan malas. Jadinya bablas.

Seringkali penderita bau mulut justru tidak menyadari nafasnya bau.. ngegemesin banget :" 
sebenarnya mereka bisa saja melakukan tes dengan menutup mulut dengan tangan mereka lalu menghembuskan nafas, kemudian cium baunya. Tapi ternyata cara ini kurang efektif. Mungkin bau itu sudah teraklimatisasi dan familiar menyatu dengan aroma dirinya :)

Jadi, kita hanya perlu menarik nafas dalam-dalam.. lalu hembuskan... di depan orang lain. Lalu tanyakan reaksi orang tersebut. Itulah sebaik-baik dan semurah-murah tes yang tersedia :)
Jangan pernah lupakan bahwa penciuman adalah indera primitif yang didapat sejak lahir dan berperan dalam "menarik perhatian"

Bagaimana dengan bau dari jengkol dan petai yang termahsyur itu? Kita bisa sedikit lebih lega karena bau-bauan itu bersifat fisiologis, sehingga hanya hadir sementara. Tentu saja, seperti rindu, hanya waktu yang dapat mengobatinya :)


*note : akhirnya.... setelah ratusan purnama, saya mulai menulis yang agak serius dikit. Rasanyaaa seperti... terlahir kembali hakshakshaks... senangnyahatimamak :*












Tuesday, October 9, 2018

Terpegang di abu dingin

(Diklaim) maha benar kenyinyiran manusia..

Sudah dipejamkan mata rapat-rapat, nyatanya, apa yang ditakuti jauh-jauh hari justru terjadi.
Menulis ini, lalu dejavu... 
Seperti pernah terjadi, dan ternyata, memang sering dialami. Ditulis, lalu dihapus. Ditulis kembali, lalu dihapus lagi.

alamaaakkk.... pernah ga pernah ga siihh... ketika disebutkan satu hal (spesifik), mood langsung terjun bebas. Terdrama dalam sejarah hidup. Duh, 

Dia adalah Takdir. Dan kita (saya) tidak lagi bisa memilih. Seperti halnya memilih dari rahim siapa kita dilahirkan, karena tidak semua ibu benar benar menjadi ibu.

Tidak semua ibu, benar-benar menjadi ibu.

Berdamai dengan diri adalah satu-satunya teman perjalanan ini.


Tuesday, May 1, 2018

alter ego


adakalanya yang perlu kita lakukan adalah terus memperhatikannya tumbuh, mekar, berbunga. Meskipun dalam dirinya, ia menopang ranting yang rapuh, akar yang tidak cukup kuat menembus, tidak cukup banyak bekal, sebab ia tertanam dan terlahir dari tanah yang tidak begitu subur. 

Menyaksikannya tegar berdiri, terpogoh-pogoh menyatukan kepingan kekuatannya, sambil seringkali tertiup kencangnya angin, dengan akarnya yang hanya seadanya, sebab ia tidak mewarisi apapun... Mungkin saya berpikir pendek tentang "hanya sebatas itulah pemberian Tuhan untuknya", tapi betapa saya harus terkagum kagum kembali melihat daun-daunnya yang perlahan menghijau, membuat rindang tanahnya yang kering, dan menjadi payung teduh bagi tanaman liar yang justru menggerogoti dirinya. Meminta apapun yang ia punya termasuk materi dan waktunya, yang terus meminta pikirannya, yang selalu menjadi beban fokusnya.

Cukuplah menjadi pelancong yang singgah menyandar di batangnya yang kekar dan bersisik penuh kerja keras, jika tidak mampu menjadi air yang membantunya tegak dan bertumbuh pesat. Tanpa mengganggu pikirnya untuk menjadi sebaik-baik pohon yang menjulang. Cukuplah tidak menambah beban kerjanya, sebab sudah banyak yang perlu dipikirkannya; termasuk gulma yang menggerogotinya, tanah lahirnya yang kering dan akarnya yang rapuh tadi.

Semoga Tuhan membimbingnya selalu. Memantapkan hatinya, mencurahkan harapan dan tidak pernah memadamkan semangatnya. Harum namanya, bersinar manfaatnya...

Izinkan terus berbenah agar menjadi sebaik-baik air yang mengalir, menyusuri sela-sela kuatnya dirimu.

Sunday, October 15, 2017

you dont have to eat less, you just have to eat right.

Akhir-akhir ini saya mulai gampang terserang jenuh. Aktifitas mulai berkurang karena beberapa requirement klinik alhamdulillah sudah rampung, tapi jangan pernah bilang 'tinggal', biasanya yang terlihat printilan justru adalah bagian tersulit dan  malah jauh lebih susah diselesaikan.

Seringkali, sendirian di rumah itu menyiksa. Seharian di rumah tanpa aktifitas yang jelas. Mulailah saya digrogoti derita keinginan yang sangat kuat untuk mulai memiliki anak. Akhirnya, keinginan kuat itu baru muncul di tahun kedua pernikahan. Telat ya? Biarin aja. yang penting mohon doa :)

Karena masih sendiri dan punya cukup banyak waktu untuk diisi, saya memutuskan untuk lebih sering menulis. Marilah kita buka tabir dan topeng saya selama ini, yang biasanya kalau mau menulis harus dipikir keras-keras dulu apakah tulisannya akan bagus, apakah akan ada yang baca, apakah akan menaikan image saya yang lucu polos dan berbakat ini... *plak! padahal nyatanya saya menyebalkan penuh dusta dan tanpa bakat :(

Sebulan terakhir ini saya mulai membongkar isi dapur, melihat betapa jijik dan berantakannya kulkas. Ada yang salah dengan diri saya (dan pak bos) karena timbangan beberapa bulan kebelakang selalu bersikap kurang sopan. Iya, berat bedan saya statis cenderung naik di angka 57-58 kg. Saya gampang lelah, buang air besar tidak teratur dan tinja berwarna cenderung gelap. Apalagi pak suami. Pulang weekend ke rumah energinya semacam habis karena kelelahan, berat badannya naik di angka 74-75kg dan beberapa celana kantornya sudah tidak muat lagi. Padahal kami lumayan suka olahraga meskipun waktunya cuma seiprit dalam seminggu.

Seperti biasanya, dalam satu bulan kami akan mengunjungi toko buku. Saat itu saya membeli satu buah novel dan satu buah buku tentang pola makan. Bukunya ibu Inge Tumiwa, judulya Eating Clean. maka mulailah saya membaca buku itu.

Awalnya saya pikir isi bukunya lebih seperti isi buku kesehatan / diet pada umumnya yang membosankan dan tidak banyak mengubah pola pikir kita. Misalnya buku-buku "sehat dengan madu, hidup bugar dengan alpukat, a-z khasiat kurma, hidup sehat dengan jus" dll dsb dkk yang sebenarnya bisa kita baca di internet. Buku Ibu Inge menceritakan pengalaman hidup dia dan keluarganya tentang pola makan. Dan mulai dari situ, pola pikir saya terbentuk. Kenapa saya cukup sering olahraga tapi berat badan masih begitu begitu saja? Kenapa buang air besar kami sering terganggu, dan.... kenapa saya sering berjerawat...

(Saya asumsikan) jawabannya adalah apa yang saya makan....

Saya adalah pecinta cemilan dan gorengan. Kamu bisa tanyakan pada ibu saya, manusia macam apa saya ini sampai sebegitu maniak nya dengan dua makanan itu. Alhamdulillahnya saya suka sayur, waktu kecil saya tidak bisa makan nasi kalau tanpa sayur. Rasanya kering dan susah ditelan. Saya makan sayur jenis apa saja. Itu mungkin salah satu alasan kenapa dulu muka saya kinclong ya :( Semenjak menikah, tidak ada lagi campur tangan mama dalam hal menyiapkan sayur untuk saya *hiks. Dan saya tidak bisa sangat malas masak. Saya berpikir untuk menyiapkan bahan-bahan memasak, kemudian proses masak, belum lagi cuci piring dan alat-alat lain setelahnya... butuh waktu yang lama. Padahal saya cuma sendiri di rumah, kalaupun weekend, cuma berdua --dan waktu dan tenaga yang terbuang -- kami pikir lebih baik cari makan di luar.

Pertanyaannya, apa yang kali beli saat makan di luar? Banyak pilihannya. Apa ada yang sehat? Gak yakin :( Silakan lihat sekeliling tempat makan, fast food dan gorengan dimana-mana.

Tidak heran, berat badan saya naik hampir 8 kg setelah menikah dan tidak tinggal lagi dengan ibu saya.

FYI, saya juga termasuk yang sering ikut-ikutan diet ini itu.. diet mayo, diet GM dll, berat badan turun sih, tapi tersiksa :( terus dengan cepat naik lagi. Saya mulai terpengaruh dan mengikuti saran Ibu Inge dalam bukunya. Gak perlu diet macem-macem, tapi dalam 3 minggu berat badan saya turun 4 kg dan sampai sekarang statis cenderung turun. yeaah!

Saya juga baca buku-buku pola makan lain yang mendukung buku sebelumnya. Kalau boleh saya rangkum, intinya kita punya 3 kewajiban dasar yang harus kita tunaikan untuk tubuh kita : Air, Nutrisi, dan Gerak.

Air. Saya ga berniat untuk bahas air, karena bisa dicari di internet. Yang penting saya minum cukup air, sekitar 2-2.5 L dalam sehari. Dulu saya sering kurang minum air, makanya kulit di tangan dan kaki saya kering parah. Warna air kencing juga kuning pekat, mendekati oranye. Saya jadikan kuantitas dan warna air kencing sebagai patokan apakah saya sudah cukup minum air. Saya lega jika warna air kencing saya mulai berubah menjadi kuning pudar, cenderung bening.

Nutrisi.
Saya akan coba rangkum apa yang sudah saya baca (baru dikit sih haha)
"you are what you eat" Bayangkan kita adalah makhluk berjalan yang bahan bakarnya adalah apa yang kita makan. Manusia adalah makhluk alami yang seharusnya diisi oleh 'bahan bakar' alami. Kita butuh makan yang sebenarnya (real food) bukan sekedar sesuatu yang diolah sedemikian rupa sehingga mirip seperti makanan manusia (fake food/processed food).

Kita mulai dari kebutuhan manusia akan 5 dasar kelompok gizi yang dibutuhkan : Karbohidrat, Protein, Lemak, Vitamin dan Mineral. Karena saya bukan ahli nutrisi atau ahli gizi, saya sama sekali tidak berminat untuk membahas apa itu mereka da bagaimana mereka bekerja bersama-sama dalam metabolisme tubuh kita. (Tapi saya akan sangat senang jika kita mau berdiskusi tatap muka langsung tentang hal ini, saya sangat suka ilmu tentang sistem kerja tubuh :D )

Apa yang saya ubah dari pola makan saya dan suami? Hampir semuanya saya ubah haha.

Tapi pada intinya, saya mengubah menu yang selalu saya makan selama ini -terlepas sebelumnya saya hindari sekuat hati nurani gorengan dan cemilan, meskipun kadang saya kebablasan juga- Pertama, saya mengganti nasi putih dengan nasi merah atau coklat. Sumpah, 24 tahun saya hidup, saya baru tau kalau warna nasi yang berbeda pun memiliki kandungan yang berbeda. Dulu sempat belajar biologi tentang karbohidrat, tapi gak sampai hati untuk mengetahui adanya kenyataan tidak semua karbohidrat itu baik untuk dikonsumsi. Jadi, sebisa mungkin kita kosumsi karbohidrat kompleks dan menghindari karbohidrat sederhana. Karena penasaran apa bedanya mereka berdua (terutama terhadap tubuh), saya sampai tonton youtube tentang biomolekul :( Saya menghindari segala jenis tepung proses dan makanan yang terbuat dari tepung. Termasuk roti putih. Nasi putih dan tepung olahan termasuk dalam karbohidrat sederhana. InsyaAllah lebih lengkapnya tentang karbohidrat bakal di tulis kapa-kapan (saya belajar dulu, takut salah. hahaha)


Kedua, saya menambah porsi sayur yang saya konsumsi. Ternyata, keputusan untuk masak di rumah is such a big deal! buang jauh-jauh kalau masak itu capek dan lama. Setelah follow healthy selebgram, dan subscribe healthy vlogger, saya jadi tahu beberapa trik supaya masak dengan cepat, masak dengan benar, dan mengurus kulkas supaya jadi pusat penyimpanan terbaik. InsyaAllah (lagi) bahasan tentang ini akan di tulis kapan-kapan, hehe.

ketiga keempat kelima dst akan saya tulis di postingan selajutnya :D

Intronya sekian dulu. Maksud hati supaya bikin penasaran dan akhirnya mampir lagi ke laman ini. susuai sama quotes " when you change your eating habits to healthy, at first people will ask you WHY you are doing it. Later, they will ask you HOW you did it" Walaupun kenyataannya mungkin saja bahasan ini tidak menarik, ga apa-apa lah, saya nikmati aja sendiri.

Selalu ingat bahwa...

healthy eating is not a trend, it is just a way of life. It is not a short term diet, it is a long term lifestyle.

... dan

we can't control everything in our life, but we can control what we put into our body.

Wednesday, August 23, 2017

Pak dan Bu Dayawiah.

Betapa lemahnya manusia. Kalau diuji dia mengeluh, diberi nikmat dia lupa diri. Mungkin salah satu alasan mengapa Allah membuat skenario hidup manusia naik-turun : untuk menjelaskan apa fungsi syukur. Kadang-kadang, ada kebahagiaan yang lebih mewah yang bisa dirasakan melebihi kebahagiaan mendapatkan nikmat (karena seringnya kita lupa bahagia saat diberi nikmat) : yaitu kebahagiaan saat bangkit setelah terseok-seok. Kebahagiaan ketika jatuh setelah lama "hidup datar-datar ajah" itu sangatlah melegakan. Kita perlu ditampar dulu untuk tahu rasanya sakit di pipi (?) Kita perlu jatuh dulu supaya tau pentingnya meminta, merasa seakan-akan berdoa adalah satu-satunya pilihan yang kita punya. Kita merasakan sendiri proses berakit-rakit ke hulu. Dan ketika badai sudah usai, kemudian Allah memberikan sebuah nikmat yang kita pikir itu adalah hasil dari doa-doa selama fase jatuh, bahagia yang tidak terdefinisi tercipta. Kita bahagia merasa sudah melewati ujian hidup, saking bahagianya masuk keluar wc pun selalu membaca doa, padahal kalau sedang "hidup datar-datar ajah" seringnya lupa. ngaku!

Sialnya kita, tumbuh di Indonesia, belajar dari budaya turun temurun tentang arti syukur yang seringkali simpang siur dan tumpang tindih dengan pertunjukan riya. Sejak kapan istilah bersyukur pada Allah atas nikmat terbeli rumah baru, dilamar anak orang, diberi anak, anak sunatan, dan dipanggil naik haji identik dengan gelaran "syukuran" menjamu orang-orang dengan makanan, dekorasi, tenda dan foto-foto. Jawabannya : sejak menjadi budaya. Kita diajari budaya bahwa hal-hal yang dirasa perlu disyukuri haruslah membuat acara lengkap bertema "syukuran" dengan urutan MC pembukaan-pembacaan ayat alquran-tausyiah-lalu makan makan. Budaya mendefinisikan bahwa bentuk syukur kita atas nikmat yang Allah beri adalah dengan berlomba-lomba menjamu tamu dengan jamuan semaksimal yang kita bisa, dengan tampilan baju terbaik dan riasan wajah tercetar. Hanyalah Allah yang MahaTahu atas niatan hati setiap hambaNya. Berdoalah semoga kita selalu terhindar dari paket lengkap riya, sum'ah, ujub dan takabur.  Belum selesai sampai situ, canggihnya lagi, semakin hari berganti semakin banyak kita mendengar istilah-istilah acara yang diberi embel-embel islami, yang paling sering dan saking seringnya mereka ulangi setiap tahun, "syukuran milad" -yang entah darimana istilah itu lahir. Jaman saya kecil istilahnya masih "pesta ulang tahun" tapi karena katanya pesta ulang tahun itu adalah perbuatan tasyabbuh, maka orang-orang menggantinya dengan istilah "syukuran milad" yang tinggal ditambahkan pembacaan ayat alquran dan tausyiah di rangkaian acaranya. Apalah bedanya, manusia memang pintar dan ada-ada saja -,-. Jangan-jangan beli motor baru ajah perlu acara syukuran. Jangan salah, masih banyak orang-orang yang beranggapan bahwa jika mendapat nikmat, dengan menggelar acara syukuran maka kewajiban untuk bersyukurnya telah terpenuhi.

Waktu terjadi fathu Mekkah, umat muslim sangat sangat sangat bahagia. Kebahagiaan mencuat, membuncah di hati rasul. Hari itu kaum muslim berhasil menaklukkan Mekah dari tangan Quraisy yang sudah berabad-abad mengakar dan beranak pinak. Kemenangan atas Mekkah  membuat Rasulullah menjadi sedikit berubah. Rasul tidak menggelar acara "syukuran Fathu Mekkah" (dan tidak pernah mengelar "syukuran" jenis lainnya) meskipun kenikmatan yang Allah beri pada hari itu luar biasa besar. Rasulullah justru berubah, dan membuat Aisyah kebingungan. Di akhir-akhir usianya setelah fathu Mekkah, Rasulullah justru semakin memperlama waktu sholat malamnya. Aisyah bingung mengapa sholat rasul menjadi lebih lama dibandingkan sholat-sholatnya sebelum fathu Mekkah, saking lama nya rasul duduk dahulu saat kakinya tidak kuat berdiri lalu kembali berdiri sambil terus melanjutkan sholatnya. Kata Rasul menjawab kebingungan Aisyah, apakah tidak boleh seseorang bersyukur padahal ia telah diberi kemenangan atas sebuah kota?

Definisi bersyukur bukan berarti wajib menggelar acara. Bersyukur berarti meningkatkan kualitas ibadah. Kita tidak bisa semena-mena mengatakan kita sudah bersyukur atas nikmat yang Allah beri dengan menggelar acara syukuran milad, pernikahan, kelahiran anak, naik haji, dll dsb dst. Semuanya hanyalah budaya, bentuk pemberitahuan bahwa : 'woy saya lagi ulang tahun nih"atau "alhamdulillah ya akhirnya saya dipinang anak orang" atau "Akhirnya daftar tunggu haji terlewati juga, saya berangkat haji nih bu ibu pak bapak". Bukan berarti menggelar acara-sejenis-yang-tersebut-diatas tidak boleh, sah sah saja, silakan menjamu tamu, memfasilitasi kerabat dengan kajian dan tausyiah, namun esensi syukurnya bukanlah terletak pada cara kita ber"sedekah makanan" dengan menggelar acara. Bentuk syukur yang diajarkan rasul (yang padahal sudah dijamin diampuni dosanya dan pasti masuk surga (kemudian saya baper..) adalah dengan meningkatkan kualitas ibadah. Sholatnya diperbaiki, sunnahnya dipersering, sedekahnya diperbanyak, silaturahimnya diperkencang. Itulah bersyukur. Bukan semerta-merta (atau semata-mata *mana yang bener?) dengan berbondong-bondong menggelar acara yang bersifat Budayawiah. Sekali lagi, hanyalah tradisi dan Bu-dayawiah, mohon maaf jika ada kesamaan nama dan kesalahan penulisan gelar (?)

Ini semata-mata hanyalah tulisan menggurui yang kalau dibaca sambil emosi pasti tidak akan jadi kebaikan apa-apa. Saya tulis, bukan bermaksud saya mau pamer kalau saya orangnya keren sholehah nan ahli syukur gitu *lah*, tapi justru saya ini orangnya cupu, sering khilaf dan terlena dengan "hidup yang datar-datar ajah" semoga jadi bahan pendongkrak bagi saya untuk tahu diri jika diberi nikmat berlebih.