Tuesday, February 12, 2013

Lautan


Ada hikmah di balik mogoknya motor. Singkat cerita ya kurang lebih begitu. Siang itu, saya harus ke kampus padahal masih libur. Sehari sebelumnya, hujan besar, jalanan depan rumah banjir semata kaki. Khawatir hari itu kembali hujan, ibu saya sempat melarang. Tapi mana mungkin saya tinggalkan kegiatan hari itu; mengurusi kegiatan kemahasiswaan, janji bertemu teman, dan liqo.  Dan karena motornya mogok, saya harus pergi menggunakan angkutan umum.

Selesai semua agenda, hujan membasahi jatinangor. Untung sedia payung. Saya berjalan bersama Hansya menelusuri gerbang keluar Unpad. Lalu menaiki angkot, menuju rumah. Hujan belum juga berhenti. Makin lama makin deras. Saya sms ayah saya untuk menjemput di depan komplek perumahan, karena angkot tidak masuk jalur perumahan, sedang rumah saya jauh dari pintu awal komplek.

Saya tinggal di komplek Kencana, komplek perumahan yang terdiri dari sekitar 16 blok.  Cukup luas, dengan dua pintu keluar utama, orang sekitar menyebutnya “Pintu Satu” yang dekat arah Dangdeur dan “Pintu Dua” yang dekat arah Majalaya. Satu persatu penumpang angkot turun, bersisa 5 orang penumpang, satu ibu-ibu, empat remaja putri.

*****
From me,
To : Ayah (work)
Ayah jemput detin dong, udah di dangdeur ya.

From me,
To : Mama (work)
Ma, suruh Ayah jemput detin ya

From Ayah,
To : Detin Cute
Yah, nti klo udah smp pemasaran and hujan raat. Banjir,
Tunggulah dulu

Kringkringkring..
incoming call from Mama (work)
“ade udah dimana? Hujan besar de, banjir dalem di pemasaran.”
“banjir banget? Detin udah di deket rel kereta.”
“yaudah, coba ntar pelan-pelan kesana”
“oke”
Disconnect.

Hujan masih terus mengguyur. Jalanan banjir.
Ibu-ibu penumpang angkot, tinggal di blok 10 perum Kencana. Kebetulan tukang angkotnya hendak pulang ke arah Majalaya. Si Ibu-ibu menawarkan jika mengantar masuk ke perumahan, ongkos akan ditambah. Kebetulan kelima orang penumpang semua tinggal di Kencana.  Satu orang tinggal di blok 1, si ibu beserta 2 orang anak perempuannya di blok 10 dan saya di blok 12. Akhirnya supir angkot setuju. Masuk melalui Pintu Satu, nanti keluar di Pintu Dua, lanjut kea rah Majalaya.

Connect to Mama (Work)
“Ma, angkotnya masuk perum. Ga usah jemput”
“Alhamdulillah hehehe. Ntar turun di deket Lapang Liga aja.”
“oke”
Disconnect.

Melewati pemasaran…lulus.
Begitu belok ke Jalan Teratai Raya, yang menghubungkan pintu satu dan pintu dua, Nampak lautan. Banyak orang mendorong motornya. Tukang becak menarik becak dengan upah pasti diatas 15.000 meskipun dekat. Jalanannya berlubang di banyak titik. Sisa 4 orang penumpang, 1 orang sudah turun di blok 1. Karena takut angkotnya mogok, si Ibu-ibu menasehati agar belok ke blok 5 saja, Jalan Suplier. Supir menurut, karena dia tidak tahu medan di  wilayah itu.

Ooooh..setelah masuk blok 5..ternyata jalan ditutup.muter-muter sana-sini. Banyak mobil mengantre, membunyikan klakson. Penduduk sekitar tidak bergeming. Gerbang jalan tetap di tutup. Kami putar arah, setau saya masih ada jalan tembus dari blok 5, keluar Jalan Dahlia. Sebenarnya agak kurang setuju dengan usulan si ibu untuk  belok ke blok 5, pertama, karena ternyata si Ibu dan 2 anaknya ini tidak hapal jalanan blok 5. Jadi, otomatis semua bertanya pada  saya. Kedua, ironisnya, 19 tahun lebih saya tinggal di Kencana, saya ingat-tidak-ingat dengan seluk beluk Kencana, karena cukup luas dan karena saya bukan tukang Becak. TK-SD-SMP saya jadi anak rumahan, yang bermain hanya sekitar rumah, menelusuri perumahan hanya saat Ramadhan, selepas Kuliah Subuh. SMA jadi anak kosan, dan kuliah jadi rider amatiran. Juga karena kemampuan geografis saya buruk, yang bahkan pernah keukeuh bilang bahwa Riau ada di Kalimantan, ditambah, jalanan banyak yang ditutup, penghuni angkot marah-marah, si ibu mengutuk menyumpah serapahi warga yang menutup jalan, supir angkot kesal, saya jadi stress. Dan memilih berdoa saja.

Sudahlah, terjang saja banjir di Teratai Raya, karena itu jalan utama, tidak mungkin ditutup. Tapi Si Ibu kekeuh takut angkotnya mogok -,- jadi dia berinisiatif lagi untuk belok ke blok 6. Beberapa mobil juga ikut belok ke blok 6 karena ada beberapa bapak-bapak berdiri di gerbang bblok 6 dan menganjurkan lewat sana saja. Kami masuk…beberapa belokan, jalannya di tutup. Kami terus mencari jalan lain.
Saya ingat ada jalan lain, dan ternyata tinggal sekali belok menuju keluar…..jalannya ditutup -,- antrian mobil panjang. Semua membunyikan klakson. Debat dengan warga, semua isi angkot marah-marah. Saya mengambil payung, berinisiatif melihat apa yang terjadi di depan, angkot kami antre di agak belakang. Setidaknya bertanya pada warga, apa tidak bisa dibuka sebentar, ini jalan umum, sudah mencari-cari jalan sejak tadi, semua ditutup. Tapi si ibu-ibu melarang saya keluar. Oh baiklah, satu persatu mobil mundur, mencari jalan lain. Kami terpaksa ikut mundur. Padahal sudah dekat, tinggal sekali belok. Hiks.

Warga menutup jalan karena khawatir jika mobil masuk, air akan membludah, memasuki rumah mereka. Baru pertama kali pengalaman seperti ini. Rumah saya di blok 12, jarang banjir besar, juga bukan jalan alternative dari Teratai Raya untuk menuju blok lain. Jadi tidak banyak dilewati. Satu kali pun, belum pernah jalanan di rumah saya di tutup.

“ini jadi harus lewat mana jadinya?” Tanya supir.

Semua esmoseeh.

Semua berpendapat. Akhirnya kami memutuskan lewat Gradiul, jalan besar yang kemungkinan tidak ditutup.  Menabrak penutup jalan yang hanya sebuah kayu di atas sejenis grobak angkut semen (apa itu namanya -,-.) Dan waaaw. Banjir hampir masuk ke dalam angkot. Subhanallah.

Saking heboh dengan dalamnya banjir, tempat seharusnya saya turun, terlewati. Kalau turun di situ, meskipun bukan dekat Lapang Liga seperti yang ibu saya sarankan, banjirnya tidak terlalu dalam. Tapi karena kelewat, sadar sudah lumayan jauh, dengan kondisi Gradiul yang banjir besar, saya berencana turun di jalan Tanjung. Si ibu bersama dua anaknya turun di belokan blok 10, Jalan Bakung, member 25ribu untuk 3 orang pada supir angkot. Ah, gawat, uang di dompet saya Cuma ada 50.000 satu lembar, 100.000 satu lembar, koin 500 rupiah, dan 2000 dua lembar. Kalau dikasih 50.000, nanti takut dimahalin. Grasak-grusuk, mencari di setiap saku tas. Akhirnya menemukan 4000 di sela-sela tas. Total, berarti punya 8000. Akhirnya saya turun di Jalan Tanjung, karena tidak mungkin angkot memutar balik untuk mengantar saya ke dekat Lapang Liga. Kasihan juga supirnya, sudah tampak stress. Saya turun, dengan membayar seadanya, 8000.

Perjuangan belum selesai. Saya harus menyebrang Jalan Teratai Raya untuk bisa masuk belokan blok 12. Dan subhanallah, cetar membahana sekali, beberapa senti di atas lutut saya terbenam air. Saya berjalan melawan arus, jadi tambah berat melangkah. Beberapa anak-anak bermain air di pinggiran. Kolam renang dadakan. Anggaplah begitu -,-

Akhirnya, saya sampai juga di belokan blok 12. Terharu. Saya masuk lewat Herbras 7, banjir hanya semata kaki. Menyebrang lapang, tidak banjir sama sekali. Lalu Alhamdulillah sampai di Herbras 4, rumah saya, jalannya hanya banjir se mata kaki.

Rumah. Damai. Sudah sangat sore. Ibu dan ayah saya hanya tertawa.

Untung Alhamdulillah saya tidak bawa motor. Tidak bisa dibayangkan kalau saya terjebak banjir membawa motor. Terus mogok. Nyeeeh.

Malam hari banjir sudah surut, dan pagi-pagi Teratai Raya sudah pulih. Tapi, kalau siang hujan lagi, pasti kami dapat banjir kiriman lagi. Cukup dua hari banjir begini. Kasian orang kantoran. Ayah saya jadi pulang sebelum jam 4, takut kena banjir lagi.

nasib tinggal di Bandung coret  :--((

Semoga, pihak yang berwenang mengurusi sarana, prasarana, infrastruktur, atau apapun itu istilahnya, cepat memulihkan kondisi ini.

Sebentar lagi saya kuliah soalnya.


Monday, February 11, 2013

Eudaemonis



Setoples keripik, ditemani selimut yang cukup tebal, di bawah temaram lampu neon 14 watt, menyaksikan acara-acara di televisi, memindahkan tombol remote sesering mungkin, mencari acara yang mendidik, atau setidaknya menghibur, atau kalau tidak ada yang seperti itu, minimal yang tidak membodohi.

Di samping saya, dengan wangi nya yang khas, lengannya yang bertimbun lemak, terduduk seorang wanita tengah baya, dia ibu saya. Sambil melingkarkan satu lengan saya pada lengannya, menempelkan pipi dan hidung di lengan atasnya, menyandarkan diri di bahunya, mirip seperti seorang anak yang sedang merajuk ibundanya untuk dibelikan es krim. Saya suka suasana seperti ini. Saling mengomentari isi acara televisi. Lalu sampai pada waktunya jemari saya berhenti menekan remote. Stasiun televisi swasta menayangkan sebuah acara berita.

Berita pertama yang kami tonton sore itu sedikit membuat ibu saya menegakkan sedikit punggungnya. Sebuah berita tentang kematian seorang mahasiswi Universitas Indonesia asal Bukittinggi karena melompat dari angkutan umum. Salah satu angkot Jakarta membawanya keluar dari jalur operasi angkot tersebut seharusnya. Setelah. Saksi mata di TKP menyatakan bahwa berusaha untuk keluar dari angkot, kemudian kepalanya terbentur trotoar. Wallahualam apa yang sebenarnya terjadi dalam angkot, sehingga korban nekad untuk melompat dari dalam.

Heyaahh. Saya dan ibu saya saling menggelengkan kepala. Mengekspresikan mimik muka yang ketakutan. Kemudian, entah berapa paragraf kalimat yang keluar mulut ibu saya, menasihati..kamu de, hati-hati kalau lagi di angkot. Jangan naik angkot yang kosong, cari yang udah hampir penuh, kalau bisa ada ibu-ibunya. Dan blablablabla.

Ngeri. Kota-kota besar sudah semarak tindak kriminalitas, korbannya kebanyakan gadis yang berpergian sendiri. Wajar kalau ibu saya khawatir.

Belum sempat reda keempatian terhadap berita pertama, pembaca berita melanjutkan isi berita tentang…lagi-lagi saya harus menghembuskan nafas dengan berat…tentang pemerkosaan seorang siswa SMK oleh 6 orang pemuda. Geleng-geleng kepala lagi. Sepakat untuk terus menonton berita tersebut, dengan komat-kamit nasihat ibu saya.

Berita selanjutnya, adalah tentang pembunuhan bayi oleh pembantu rumah tangga di kawasan Jakarta. Berdalih ada perampok masuk rumah, akhirnya sang pembantu harus mengakui bahwa dia yang membunuh bayi majikannya. Haaaaaah.

Kami setia menanti iklan berakhir, kemudian berita kembali dilanjutkan.

Kali ini tentang sindikat perdagangan bayi. Bayi-bayi dijual dengan seenak jidat. Manusia kini seharga tv 21 inchi atau kulkas dengan 2 pintu, barang yang mudah diperjuabelikan. Andai bayi tersebut bisa bicara, dia akan mempertanyakan tanggung jawab orang tuanya, mengapa ia diperlakukan seperti itu.  

Berita beralih pada masalah politik yang menggunjing partai besar berwarna biru dengan lambang segitiga. Prahara di dalamnya yang tidak selesai-selesai. Dan berita KPK yang menciduk para koruptor baru, dugaan korupsi impor daging sapi, penyelewengan dana arena PON, dsb,dsb. Saya sebagai rakyat bosan dengan semua berita ini. Bosan benar, jengah.

Saya berinisiatif untuk memindahkan channel tivi. Kenapa isi semua berita demikian?

Pembunuhan, penjambretan, tindak asusila, pemerkosaan. Orang-orang nekad mencuri, melecehkan wanita, hingga merenggut nyawa, dilatarbelakangi keterdesakkan kondisi. Lingkungan yang memaksa mereka demikian, ditambah dalam diri tidak ada penyelaras emosi, tidak ada kekuatan iman, hingga mereka tidak lagi mempedulikan bahwa sejatinya tindakannya tidak pernah luput dari pandangan Tuhan. Mereka hanya perlu tahu bagaimana caranya mengisi perut, bertahan hidup, sementara dirinya tidak pernah mau beranjak dari lemahnya keinginan untuk belajar, memperbaiki taraf hidup dengan cara terhormat. Menghalalkan segala cara, mencari alternatif se-instan mungkin, berujung merugikan orang lain.

Dan sialnya lagi, ini berlangsung turun temurun.

Paradigma untuk mencari jalan instan memenuhi kebutuhan hidup seperti virus yang menginvasi satu sel, kemudian menyebar ke sel-sel lainnya, atau sekedar seperti seorang yang melihat seseorang menguap, lantas tertular untuk ikut menguap. Menular.

Kriminalitas bukan hanya dilakukan oleh kaum marginal. Para elite pun punya trackrecord dalam mewarnai data kriminalitas Negara. Ironisnya, sering kali kejahatan yang mereka lakukan lebih menyiksa banyak pihak karena meliputi urusan kemaslahatan hajat hidup banyak orang. Kamiskinan bukan selalu menjadi DNA yang menentukan tingkat kriminalitas. Ketidakpuasan terhadap apa yang dimiliki, keinginan untuk memperkaya diri, tenggelam dalam kemewahan dunia, mengatasnamakan kekuasaan, menganaktirikan kepercayaan. Kenyataannya, agama tidak pernah lepas dari segala aspek. Termasuk kontrol diri.

Manusia memang tempat salah dan lupa. Tapi kalau keseringan salah, sampai terbiasa salah yang disadari, bukan manusia namanya. Tidak ada manusia yang tidak punya khilaf, tapi tentu ada keimanan yang mendidik manusia untuk mengetahui batasan.

Solusi klasik, tapi bukan klasik namanya jika belum kunjung diterapkan. Memang pendidikan selalu menjadi setitik cahaya di ujung terowongan panjang. Pendidikan science, teknologi, pembentukan karakter, pendidikan budaya, dan agama. Media yang terus menerus menginformasikan berita kejahatan tapi lupa menarik sisi optimis bahwa di ragam belahan bumi Indonesia, masih terkubur kisah inspiratif yang belum digali media. Masyarakat dibodohi dengan berita negative, seakan Indonesia ini memuakkan karena disana sini atmosfernya selalu suram. Hingga akhirnya terbiasa dengan kabar menyedihkan, ya seperti saya ini.


banyak yang memisah-misahkan nilai. mengotak-kotakkan pemikiran. terlebih tidak punya panduan. ke laut ajeee...

padahal ada Islam. Islam itu kaffah, menyeluruh. Semua unsur harus melibatkan agama. Politik pemerintahan sekalipun. Pandangan dan pemikiran diatas jangan-jangan sebatas sekulerisme yang ingin memisahkan agama dari aktivitas kehidupan. Berakhir dengan liberalisme yang membebaskan kehidupan. Berawal keraguan berakhir ketidakyakinan. Ngeri. Yang ini lebih ngeri.



Banyak yang tidak paham dengan agamanya, mereka adalah yang tidak mengerti. Tapi lebih banyak yang salah paham dengan agamanya, mereka adalah yang menafsirkan sesuatu dengan salah. Yang salah paham atau gagal paham ini yang bahaya. merasa diri mengerti, tapi menafsirkan dengan salah.

Ah, melebar kemana-mana ini bahasan.

Saya jadi pusing dengan apa yang saya tulis. Sudahi saja.

Saya berlindung pada Allah dari ketidaktahuan dan dari pendapat yang tidak benar.

Monday, February 4, 2013

meracau


Jadi tiba-tiba bernostalgia ketika Ali bertanya di pagi cerah tapi menyengat. Pertanyaan Ali cukup memancing pikiran-pikiran yang pernah saya kubur hidup-hidup.

“Nah, apa?” Katanya.  A-P-A. APAAA?

“apa yang bisa meyakinkan saya kalau kalian memang sebuah keluarga?” kata Ali

Bocah kelas 2 SMA yang saya tidak kenal siapa namanya menjawab, “ya..karena kita satu nasib”

“saya di ITB, masa adik saya harus di sana juga? Itu maksudnya satu nasib?”

“bukan gitu kang….”

Ya..ya…yasudahlah adik baik, saya mengerti maksudmu. Bukan “nasib” kata yang cocok untuk diutarakan disini. Harusnya ada kata lain, tapi sebentar, saya cari dulu. Nanti kalau sudah ketemu, saya kasih tau.

Hatta, melanjutlah Ali memancing mereka dengan kail dan jala (?) membuat semua anak menunduk, entah lapar, mengantuk, atau berpikir. Sulit dibedakan.

Seorang anak yang lain mengacungkan lengannya, mengatakan salah satu dari sekian banyak yang ingin saya katakan. “……, ya itulah yang membedakan kita dengan organisasi lain. Keluarga”. Sayangnya Ali belum puas juga, saya juga tidak puas sebenarnya. Ya, pada akhirnya Ali lah yang harus menjelaskan maksudnya bertanya, untuk memuaskan dirinya juga, barangkali.

Dan karena saya tidak pandai mengingat apa yang dikatakan Ali, maka sekarang saya memutuskan untuk bermain dengan pikiran sendiri, saya sedang ber-senandika. Senarai panjang kata-kata yang akhirnya muncul meneror saya pada kondisi masa silam yang pernah saya pupuk dan siram baik-baik, lalu saya bakar dan bumihanguskan sendiri, kamudian saya coba Tanami lagi. Ah, ternyata saya pernah menjadi se-innocent anak kecil yang bermain dengan lego nya, mendirikan istana, dan karena bosan kemudian diacak-acak lagi.

Saya pernah bosan dengan satu kondisi, sebut saja kondisi seperti ini(?). Saya pernah menyamaratakan semua nilai organisasi, yah, semuanya event organizer. terus saya bosan, berencana mengubur hidup-hidup idealisme yang dulu pernah ada, eh taunya, yang namanya pemahaman emang ga bisa sembarang di kubur, harus ada surat izinnya dulu (?)

Jadi, tolong tanggung jawab ya, Gama, gara-gara kata-kata kamu, saya jadi kepikiran ini lagi. Ini bukan judul film, bukan juga sinyal suatu telepon selular, tapi 3G, Gara-Gara Gama, saya sedikit tersentil, dia bilang, tidak seperti organisasi lain. Dan kalau boleh menambahkan, saya-anak kemarin sore- yang belum juga sembuh dari tidur indah masa lalu, ini pun tidak seperti organisasi sejenisnya, yang pernah saya kenali. Yang mungkin Ali tekankan adalah bahwa keluarga itu senang sedih dirasa bersama, saling mengingatkan dalam kebaikan, saling men-support. Hingga akhirnya, setetes demi setetes air mata para adik akhwat menjelaskan unek-unek mereka. Salah seorang dari mereka menasihati yang lainnya, katanya dalam keluarga tidak ada yang tidak istimewa, ibu selalu menganggap semua anaknya istimewa, tidak ada anak yang tidak disayang ibu. Teman-teman kita yang jarang datang, berhusnudzon lah, bukan berarti mereka tidak ingin merapat, tapi mungkin karena kita seringkali tidak mengindahkan kehadiran mereka, mereka mungkin saja merasa tidak diistimewakan, tidak dianggap penting.

ukhuwah ^^
Karena hidayah datang dari mana saja, hikmah dipetik dari siapa saja, dari mereka pun saya diingatkan kembali dengan kata-kata yang pernah didaratkan untuk saya dan teman-teman 2011 lain. Tiba-tiba saya menjadi makhluk imbesil dan justru mereka mengakselerasi kedewasaan. Ini bisa saja terjadi. Dan saya hanya sebatas imago, mereka bermetamorfosis duluan. Sampai akhirnya saya sadar kembali setelah mengoonsumsi sebungkus roti coklat keju.

Sebuah keluarga, dengan pentingnya sebuah penghargaan dari masing-masing anggota keluarga. Saling merasa dihargai. Punya tujuan yang sama,merasakan hal yang sama, kalau kakak sakit, semua ikut merasakan, kalau ibu demam, semua ikut merasakan.

Kita membangun sebuah komunitas bernama keluarga yang didalamnya tumbuh kesepahaman yang integral, meskipun berbeda cara menjalani hidup, semuanya tetap satu integritas. Mengalir bersama zaman, pragmatisme tumbuh untuk menyatakan bahwa segala sesuatu tidak tetap, melainkan tumbuh dan berubah. Kedinamisan untuk berlega hati menghargai perbedaan, menyikapi bahwa setiap orang adalah penting.

Terimakasih sudah diingatkan kembali.
Kontemplasi selesai.

Setelah berpanjang ria menulis ini, tahukah Anda, bahwa sebenarnya saya sedang menulis tentang organisasi dengan leadershipnya. Goalnya gak dapet ya? Yasudahlah, ga apa-apa.

"ibarat satu tubuh"
Dari dauroh pengurus Alfurqon 2014, pelajarannya saya ambil untuk fosikagi ya.

Terimakasih adik-adik 2014, alumni AF 2013-2009 yang sempat hadir. Titip AF ya 2014, dijaga dengan baik-baik, hikmahnya kalau belum berasa sekarang, pasti suatu saat akan benar-benar terasa.

Ohya, sampai lupa. Saya tadi kan mau ngasih tau, kata “satu nasib” kurang cocok, jadi kata yang seharusnya dipakai -minjem istilah popular- adalah “ibarat satu tubuh”.

aza aza fighting! ^^



Friday, January 25, 2013

CONFUSIUS

setelah berjam-jam menaiki bus yang lumayan nyaman (jika dan hanya jika dibandingkan dengan bus Indonesia) membawa kami menyebrangi perbatasan malaysia-singapore. Tepat ketika langit mulai menjadi gelap, kami sampai di pemberhentian.

oo..semua hape lost signal, simcard yang digunakan masih simcard malaysia yang tidak aktif di luar negara. Bagaimana cara menelepon Uwa. Segera saya, mama, dan makcik Hasina berkeliling mencari tukang jual pulsa. Sayang, tidak seperti di jalanan Bandung, yang seringkali ditemukan penjual eceran pulsa, kali ini, dari toko ke toko kami masuki, sepanjang jalan kebanyakan toko makanan..lalu ingat sebenarnya perut lapar sangat. ribuan kilo jalan yang kami tempuh (tidak dalam jarak yang sebenarnya) akhirnya tersesatlah kami dalam sebuah mall, berkeliling..aaahh, kenapa sulit mencari toko jual simcard. Bertanya sana sini dengan modal bahasa Inggris yang belepotan, memimpin arah dua orang ibu-ibu yang hanya menguntit di belakang dan memberi semangat >> ibu dan makcik -_-

akhirnya  sebelum memutuskan untuk menyerah, saya menghampiri satpam di meja costumer service, satpam, bukan wanita cantik berpakaian seksi seperti di pusat perbelanjaan kebanyakan.
 "where can i buy a simcard?"
"bxnjdklslkemmso"
"seveneleven? i've just been there , they don't sell it."
"xxxyyyzzzzabcd"
"i've walked so much far, and i'm tired already. show me the nearest store." (niatnya kalau jauh, mau pinjem telepon selular bapak satpam aja. saya mau nelepon saudara saya pak, atau nasib kami tidur malam itu tidak jelas)
"------xxxnmkajskdelemma" << akhirnya menuntun kami menjajaki toko penjual simcard.Thanks God, it still open, he said.

di sebuah toko elektronik beratmosfir cina, dengan penjual cina yang abusetdeh logat inggrisnya.
"singsing honghong langfiu chiiaaang"
"i wanna buy the cheapest simcard" << to the point banget : ga punya duit
"hialuuung fangfang liungsen hosyang hosyang"
"ten dollar??? is there any simcard..heem, about five dollar only?"
"cepawo ceci we caniiiiii"

kaluar dengan muka lega, sesegera mungkin menelopn Uwa.
"Wa...ini detin lalalala dududududu kami ada di.........(buta arah).............Golden"
"ya, uwa kesana ya."
--15 menit kemudian--
"Golden yang mana sih? ko Uwa nyari kalian ga ada? sekarang dimana? Jalan apa neng? Uwa udah di Mesjid Sultan"
"Ophir road."
"bentar uwa cari."
---15 menit kemudian--
"Uwa ga nemu. coba detin cari Mesjid Sultan, semua orang di situ pasti tau."

"excuse me, do you know where is Sultan Mosque?"
membuka gadget >>google maps >> menunjuk arah, dengan mimik muka -kayanya sih disitu, gue ga yakin-
bertanya pada 3 orang dengan melakukan hal yang sama, oh come on, jaman canggih ya, nanya alamat buka google map.

bondong-bondong kami berenam : saya, mama, mamak asmah, mami hajra, makcik Hasina, bang Bidin, mendorong-dorong koper menyusuri jalanan Singapore di malam hari dengan muka penuh minyak dan lelah yang tampak menguasai, yang jika tersenyumpun terlihat seperti seorang idiot.

desperate. di negeri orang, yang baru pertama kali kami jamah, dengan tanpa pemandu, tak seorangpun tahu..oh Allah, dimanakah mesjid sultan ituuu. hiks.

"Wa, ga nemu juga nih. sekarang kita di Beach road. harus kemana?"
"bentar uwa cari"
--15 menit kemudian--
"Uwa ga nemu" #hasyaaaaahhhh -___-
"Uwa kesini naik apa? sama siapa?"
"MRT, sendiri"
--MashaAllah, saya lupa, uwa baru beberapa bulan di sana, bahasa inggrisnya pun mana lancar. Saya pikir Uwa jemput sama tante. oalaaah, tante lagi kerja shift malem. mana naik MRT pulak, jalan kaki muterin jalanan Singapore buat bertemu kami? oh no kidding.mau berapa abad baru bertemu-__- well, sometimes you can feel so "small"

problem solving and decision making mu buruk det -,- gini aja lama banget mutusinnya. kasian yang lain nunggu berjam-jam, saling mencari. ah ribet. naik taksi aja deh, suruh Uwa tunggu di suatu tempat.
oke kesepakatan : kami naik taksi, Uwa tunggu di Raffles Hospital.

taksi kok tidak bersahabat, penuh semua. akhirnya saya tanya Bapak-bapak yang lagi nongkrong, dimana Raffles Hospital, jauh atau dekat, kira-kira kami bisa jalan atau cukup jauh?
"sorry, i dont know"<< oh meeeen.
ada dua orang pria mata sipit, mirip artis korea (?) sedang berjalan sambil memakan sejenis hotdog. Saya potong perjalanan mereka,bertanya dimana Raffles Hospital. si-pria-kaos-putih menutup mata, meletakkan telunjuk di dahinya, berucap..hmmmmm.
"there" << menunjuk satu arah.
"is it far?"
"far enough. just take a taxi.."
"can you help me....looking for the taxi?
sambil melahap hotdognya, si-pria-kaos-putih dan si-pria-kaos-abu, berjalan menyebrang jalanan besar dua arah. melambai-lambaikan tangan pada setiap taxi yang lewat. berlari sana-sini di setiap arah jalan. berhasil menyetop satu taxi berwarna silver.

mamak asmah berkata, "noo.. it's expensive. the silver one is expensive."
kemudian taksipun pergi meninggalkan.
si-pria-kaos-putih melongo. "noo, maam, it's cheap. do you see that lamp? (menunjuk tulisan  TAXI) it shows it is cheap.
si duo pria kembali berlari sana-sini, kami terpukau, berdiri dan duduk di tempatnya masing-masing, memperhatikan mereka berlarian.

alhamdulillah, mereka berhasil memberhentikan dua buah taksi. berbicara pada supir, meyuruh mengantar kami ke Raffles Hospital.
"thankyou so much."
dan ketika hendak menderek koper gaban itu, si-pria-kaos-putih bergegas mengambil koper, menaikkannya ke bagasi, diikuti si-pria-kaos-abu. Semua koper. sementara sopir taksi hanya duduk santai di dalam mobil. #hasyaaah.
"go in"
"thank you so much. really, big thanks"
"it's oke."
"hei anak muda, baik sekali..nanti semoga diganti dengan yang lebih baik ya." sambil senyum, kata mamak asmah kepada pemuda.
mereka melongo. mana ngerti.

-------
dan sampailah kami bertemu Uwa, menggelikan, Raffles Hospital tidak jauh dari tempat dimana kami menyetop taksi, hanya di bawa berputar sedikit.

ahhh...a simple hello could lead to a million things. Menjumpai orang baik, yang membantu orang-orang yang hampir gila, desperate, kesulitan. membantu sampai finsih, benar-benar finish itu...selalu mengukir kesan tersendiri di memori insan bernama manusia. Selalu. Because sometimes,the smallest things take up the most room in your heart.

perjuangan masih berlanjut.Menyusuri MRT, sebelum akhirnya sampai di gate Pasir Ris. Tempat dimana apartemen tante terletak. haaah, malam yang panjang..

well, someday you will look back to this moment, and realize how far you have gone.

Sunday, January 20, 2013

Diorama


Melancong yuk.  Saya mau jalan-jalan ke masa dimana saya masih jadi gadis imut berseragam putih-biru, masa-masa SMP. Nostalgia ini disponsori oleh ke-excited-an saya terhadap sebuah novel yang kembali saya baca setelah bertahun-tahun lalu sering saya baca, kemudian sang novel dipinjam oleh oknum yang tidak jelas identitasnya (?) lalu hilang.

Novel pertama yang saya baca, kalau boleh saya bilang, cukup berat untuk dijadikan bacaan anak kelas 1 SMP. itu buku kakak saya. Ceritanya saya ingin sok gaul nan keren, baca novel biar terlihat sedikit intelek. Cover bukunya pink, bergambar sketsa seorang wanita berjilbab panjang memegang kusen jendela. Yang menarik perhatian saya, selain judulnya yang unik, juga karena tebal bukunya tidak terlalu membuat anak kecil ketakutan ketika harus membacanya, hanya sekitar 300an lembar. 

Yah, judul novel pertama yang saya baca adalah “Diorama Sepasang AlBanna”. Jadi, latarbelakang, maksud dan tujuan yang sebenarnya saya tidak sedang membuat proposal (?) bermula ketika saya sedang belajar untuk ujian Dental Science Program, dalam case ada istilah dilatasi vascular bla bla bla bla… dan saya seketika ingat judul buku “Dilatasi Memori” seri ke 2 dari Diorama. Saya sempet cari e-book nya siapa tahu ada, sayang tidak dapat, atau lebih tepatnya tidak ngerti cara mendonlotnya. Akhirnya tadi pagi ketika saya bersilaturahim-lari minggu pagi bareng temen-temen SD, yang niatnya untuk membakar lemak tubuh, karena ibu saya berkata, "de, ko gendutan? makan aja ya?"---hati panas, ah masa ma??? ciyuss??miyapaahh??? frustasi---, lari sekitar 5 menit, sisanya jalan santai, lalu setelah itu makan bubur dan minum 500ml susu murni. Iya, iya..saya tau saya tau...anda akan berpikir, input lebih besar dari output, apa tetap akan diberi nama olahraga? saya sendiri ragu. hiks.

Nah, lupakan sejenak dengan olahraga semi gagalnya, kembali pada pernovelan. Saya jadi ingat kalau Hilda dulu beli buku Diorama dan Dilatasi atas recommend dari saya. Akhirnya, saya pinjem novel ini tadi pagi. Nah kan, silaturahim selalu membawa rezeki J


cover buku Diorama Sepasang AlBanna


Dalam waktu 4 jam, saya lahap isi novel karya Ari Nur itu. Dan setelahnya saya baru sadar sepenuhnya maksud dari novel tersebut. Dulu jaman saya masih mirip Dulce Maria nya Carita de Angel (?) saya belum ngerti maksud utama novel ini, yah namanya juga anak SMP. Sekedar ngerti ini novel roman, kisah cinta, dsb dsb. Tapi, kesan pertama selalu menempel menancap mengakar meng-adhesi-kohesi (?) di hati. kesan pertama buku ini waktu itu : ceritanya bagus.

Sadar ga sadar, saya ngerasa banyak kesamaannya dengan Inda Maharani (Rani), pemeran utama dalam novel. Seorang wanita asal kampung, yang serba biasa-biasa saja. Mencari penghidupan di ibukota sebagai arsitek junior di sebuah biro arsitektur ternama di Jakarta. Bertemu dengan seorang Ryan Fikri, seorang eksekutif muda, bos Rani, yang jenius, tampan, cool, arogan, dan sombong.  

Ryan yang kering ruhiyahnya, setelah sebelumnya menghilang dan menenggelamkan diri dari dunia dakwah, seakan menemukan telaga di tengah padang pasir ketika bertemu Rani. Memang bukan selera eksekutif muda, wanita pas-pasan, tampil ke lapangan dengan jilbab lebar dan kaos kedodoran. Tidak menunjukan smart, ataupun classy. Tapi Rani membawa idealisme yang terpupuk baik dalam dirinya. Ia menumbuhkan sebuah kehidupan tanpa menghancurkan kehidupan yang sudah ada. Di biro tempatnya bekerja, yang jauh dari kesan agamis, suasana penuh sekularisme, kemewahan, dan profit oriented.

Novel tentang kisah cinta para AlBanna, para pembangun. Ah Rani, wanita sederhana, bahkan sangat sederhana mampu menarik hati seorang Ryan. Di sisi lain, yang paling ditunjukkan dalam novel ini adalah tentang dakwah fardhiyah, tarbiyah islamiah…yang zzzzzzzzz banget waktu saya baca SMP, setelah saya baca lagi tadi, subhanallah, ceritanya mirip dengan cerita yang saya inginkan di masa depan nanti *hatsyaaahh.

Tentang membangun sebuah biro arsitektur independen, berbasis islam, dengan maksud mencetak arsitek muslim berkualitas dan berdaya saing dunia. Kisah Rani yang seorang aktivis dakwah kampus, merindukan jalan kembali, masa-masa dimana ia bebas berdakwah, dan tentang Ryan yang mantan ketua bidang kaderisasi dakwah kampus yang hanya bertahan 2 tahun untuk kemudian tenggelam bersama keterpurukan latarbelakang keluarga.

Mirip. Tentang saya yang sederhana dan biasa-biasa saja, seperti halnya Rani. Memiliki seorang Ryan yang tampan, jenius adalah harapan dan impian  meski dingin dan arogan. Tentang visi misi hidupnya, mirip. Tentang keinginan mendirikan sebuah usaha yang bergerak berbasis islam, menggerakkan roda-roda mesin para muslim yang sempat terhenti, menciptakan lapangan kerja, membentuk idealisme yang berfokus pada Illah, memiliki power untuk menggerakan, mengonsep, membuat kebijakan. Mirip mirip mirip.

Ah Rani, Ryan….. kita adalah seorang AlBanna, yang sedang berkelana untuk satu tujuan yang sama…

Terimakasih atas kisahnya, Ari Nur dan dioramanya :)

Thursday, January 3, 2013

Dari Individu ke Masyarakat


Bismillahirrahmaanirrahiim.

……al Insanu madaniyyun bith tabh’i…...
Manusia adalah bermasyarakat secara tabi’atnya.

Manusia diciptakan dengan fitrah bermasyarakat.

“wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…..” (Q.S Al-Hujurat : 13)

…menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku… memang pada dasarnya manusia hidup berkelompok, membentuk komunitas sesuai dengan jati dirinya, menemukan zona yang dirasa nyaman untuknya. Untuk itu, manusia akan senantiasa melakukan pengenalan dengan dunia sosial dimana dia hidup. Tidak ada manusia yang bisa survive hidup sendiri. Orang jomblo pun butuh orang lain *untuk menghapus kejombloannya. *Ah, fokus det, fokuuss.

Pengenalan.  Kenal—mengenal-dikenal. Untuk menuju “berkelompok” manusia harus melawati proses mengenal orang lain. Taaruf. Proses saling mengenal tidak hanya sebatas, oke-saya-tahu-nama-Anda—Anda-tahu-nama-saya. Ada 3 tahap yang harus dilewati agar proses Taaruf kita sempurna ; pertama, taaruf Jasadiyah : kita tidak bisa mengelak bahwa untuk mengenal, kita wajib -pake banget- untuk tahu wujud orang yang ingin dikenal seperti apa. Saat kita mengenal, kita harus tahu seperti apa wajah Ina dan seperti apa wajah Ani, karena Ina bukanlah Ani dan Ani bukanlah Ina (?) di tahap ini, kita akan mulai mengetahui siapa namanya, pekerjaannya apa, umurnya berapa, dsb, dsb. Segala yang berhubungan dengan dirinya, kita tahu, entah secara superfisial, maupun mendalam.

Kedua, adalah taaruf fiqriyah. Saat kita sudah mengenal jasadiyah, otomatis, kita akan lebih sering berinteraksi. Menuangkan pola pikir dalam percakapan. Bertukar pandangan. Maka saat proses itu berlangsung, secara sadar maupun tidak sadar, sebenarnya kita sedang mengenal seseorang secara fiqriyah. Saat berhasil melewati tahap ini, kita bisa membuktikan bahwa serigala akan berkumpul dengan serigala lainnya, bukan dengan harimau-kambing-kucing-ayam-kerbau-sapi. Kita akan mampu menilai, bahwa ternyata sekelompok orang disatukan oleh kesamaan pola pikir mereka. Jarang sih ya, orang sholeh berkelompok dengan tukang mabuk. Secara sendirinya, mereka akan memisahkan diri, mengeliminasi diri, menjadi bagian marginal yang menyusut mencari pribadi-pribadi lain yang dirasa sama….secara fiqriyah.

Ketiga, adalah taaruf qolbiyah. Inilah pengikat segala jenis taaruf. Saling mengenal secara batin, dari hati ke hati. Qalbu kita memiliki radar sendiri, memiliki kecenderungan sendiri. Bagaimana kita yang sudah menyatu hatinya dengan orang sholeh, akan merasakan kerinduan tersendiri untuk kembali berkumpul, pun dengan orang pecinta geng motor -misalnya, mereka akan merindukan perkumpulan dengan kelompok mereka. Itu fitrah. Saat kita sudah mengenal seseorang secara qolbiyah, kita sudah tidak perlu lagi menanyakan : kamu orangnya gimana sih? Karena keterikatan hati kita sudah mampu menilai, oh ternyata orang ini sifatnya begini begini begini, istilahnya tafahum. Kita bisa merasakan karakter orang tersebut. Inilah pentingnya menjaga keterikatan hati lewat pengenalan. Untuk masuk dalam kehidupan seseorang adalah dengan menyentuh hatinya, dan hati hanya bisa disentuh oleh hati.

Lalu setelah taaruf-tafahum, kita memasuki fase Ta’awun. Tolong menolong. Kita yang sudah saling mengenal saudara kita akan cenderung lebih memprioritaskan dalam tolong menolong, dalam bekerja sama. Ruh manusia itu ibarat pasukan yang berkelompok-kelompok. Dengan kesadaran ini, kerja-kerja kita seharusnya tersalurkan menjadi sebuah ikatan yang mengumpulkan “kayu-kayu” terserak.

Setelah kita bisa saling menolong, maka kita bisa saling Takaful, senasib sepenanggungan. Inilah hakikat UKHUWAH. Tingkatan dimana setiap muslim merasakan saudara sesama muslim sebagai satu tubuh. Disini kita bisa melihat bahwa lingkungan mencerminkan kepribadian seseorang. Teman-teman sepergaulan yang senasib sepenanggungan akan mendeskripsikan siapa kita. Beritahukan siapa temanmu, maka aku akan tahu siapa dirimu, begitu kata pepatah. Inilah ukhuwah. Ikatan ukhuwah adalah ikatan yang menjembatani keshalihan individu menuju keshalihan masyarakat.

Dari keshalihan pribadi menuju keshalihan masyarakat.

Allah menurunkan agama Islam bukan hanya untuk manusia sebagai pribadi tetapi juga untuk manusia sebagai masyarakat, karena itu Islam bukan hanya membangun keshalihan pribadi melainkan juga membangun keshalihan masyarakat. Keshalihan pribadi berhubungan dengan kedekatan seseorang denganAllah yang diwujudkan dalam ketaatan dalam beribadah (Hablum minallah). Sedang keshalihan masyarakat adalah hubungan harmonis manusia dengan sesame manusia (Hablum minannas), yang ditunjukkan dengan perilaku dan akhlak yang baik. Dua sisi keshalihan ini wajib untuk dilaksanakan secara bersamaan dan seimbang.

Keshalihan individu datang ketika seseorang mampu memurnikan tauhid kepada Allah. Dan puncak dari ketauhidan adalah IHSAN.
Ihsan berarti berlaku baik,  merasa diawasi oleh Allah dalam setiap gerak-gerik. Muruqubatullah. Seseorang yang ihsan akan melakukan aktivitas semata mencari penilaian Allah, bukan sekedar penilaian makhluk. Allah menyuruh kita untuk berbuat ihsan dalam segala hal.

“Sungguh, Allah wajibkan kamu berlaku IHSAN dalam segala hal.” (H.R Muslim)

“dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah (IHSAN) kepada kedua orang tua, kerabat karib, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (Q.S An-Nisa : 36)
Ihsan tercermin dalam perilaku, perbuatan dan perkataan. Dengan prinsip ihsan ini, kita akan memperlakukan sesama manusia sebagaimana mestinya, hablum minannas tercapai dengan baik.
Seperti halnya ihsan yang menjadi kunci keshalihan individu, maka keharmonisan hidup manusia dalam membangun peradabannya memiliki kuncinya tersendiri. 2 pilar untuk menciptakan peradaban IHSAN adalah sikap amanah dan adil.

“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu mendapatkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil…” (Q.S An-Nisa : 58)
Amanah berarti terpercaya, bertanggung jawab, sedang adil berarti meletakkan dan memberlakukan sesuatu sesuai dengan tempatnya (dalam koridor Islam).
Dengan sikap amanah dan adil, perlahan, generasi akan menyesuaikan keadaan, menyusun tumbukan batu pondasinya, menuju keshalihan sebuah peradaban. Dan itu hanya bisa dimulai dari diri sendiri, menuju generasi madani, peradaban Rabbani. Aamiin.

Kehancuran setiap bangsa terjadi manakala amanah telah dikhianati dan keadilan telah ditinggalkan.

Inilah pentingnya kita berkelompok, saling mengingatkan tujuan, menyamakan pemahaman, saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, dan saling menjaga amanah dan rasa adil agar tetap tumbuh dalam setiap kita.

Wallahualam bishawab.

CMIIW.
Sumber :
Alquran.
Catatan pengajian persistri, oleh Ust. Jeje Zaenudin, 3 Jan 2013.
Catatan liqo.


Tuesday, December 25, 2012

Sementara


“Selamat hari ibu, untuk ibu dan seluruh calon ibu di dunia J
--kemudian liat kalender, oh nona, ini tanggal 26 Desember -__-

*****

Saya ingat benar bagaimana mama memberi saya nasihat lewat mencontohkan. Bagaimana saat mendengar adzan, mama selalu menyegerakan menunaikan sholat. Saat maghrib tiba, ayah dan saya sudah di rumah. Ayah akan pergi ke masjid, mama dan saya berjamaah. Lalu, selepas sholat, ayah pulang, mengambil kacamatanya, membuka alqurannya. Lalu mama melakukan hal yang sama. Jika saya malas dan langsung melepas mukena, mama akan berkata..”eh eh..mau kemana?”

Saya beruntung, tak seharipun rumah yang saya huni sepi dengan lantunan alquran. Tak seharipun.

Saya juga ingat bagaimana sewaktu kecil ayah saya mengajarkan saya sholat. Subuh, saya yang masih TK ayah bangunkan. Kaki saya ayah tarik, diolahragakan, katanya, biar saya tinggi (takdir memutuskan saya tidak tinggi -__-) lalu, menggendong saya di punggungnya, menuju kamar mandi. Saya masih terkantuk-kantuk, ayah basuh wajah saya dengan air. Lalu melihat saya melakukan wudhu. Setelahnya, menggendong saya lagi untuk kemudian membiarkan saya sholat subuh.

Saya beruntung, pendidikan akhirat saya diperhatikan penuh oleh orang tua saya.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?
dan sementara, orang di luar sana.....

******
Lalu, pelajaran dan hikmah ini saya petik dari perjalanan saya sewaktu saya melancong ke Singapore. Di sana, saya bertemu dengan satu keluarga dengan 3 anak yang masih dalam usia golden age, sang ibu bekerja dan ayahnya pun bekerja. Di Singapore, gaji dihitung perjam, jadi bisa saja seharian bekerja. Saat mama dan saya sholat, anak-anak melihat saja. Mama ajak, ayo sholat, rupanya mereka tak ada mukena. Mama ngaji, mereka memperhatikan, rupanya mereka tak punya iqra. Kata orang tuanya, nanti saja SD diajarkan sholat-mengaji.

Bocah-bocah itu jelas kurang perhatian. Dan ketika bertemu orang baru, mereka akan meluapkan segala bentuk pencarian perhatian. Saya maklum, psikologis anak-anak selalu mencari kenyamanan. Maka saya jadi sasaran empuk untuk ditarik-tarik tangannya, diduduki kakinya, dinaiki punggungnya, digenggam jemarinya, ditangisi jika saya cuek. Arrgh! Pusing.

3 anak yang hiperaktif dalam waktu 4 hari bersama, cukup sukses membuat saya menangis. Bukan karena pikiran saya capek, atau badan saya yang remuk dihantam bocah, tapi saya menangis sejadi-jadinya karena saya takut. Saat itu, saya menangis di bahu ibu saya. Anak-anak kebingungan, “aunty.. crying”  

Saya takut, kalau nanti saya diamanahi anak oleh Allah, akan seperti apa saya mengurusnya? Saya takut kalau saya tidak bisa menjadi ibu yang baik. Saya takut kalau saya hanya mencari kepuasan materi, lalu lupa peran diri sebagai ibu. Saya takut kalau anak-anak saya tumbuh tanpa tangan saya di setiap prosesnya. Bisakah saya seperti mama dan ayah saya dalam mendidik saya, bahkan jauh lebih hebat dari mereka?

Sementara orang-orang selalu berfokus mencari-cari, menerka-nerka, siapakah pendamping hidupnya? Siapa pasangan tulang rusuknya? Tapi pernahkah berfikir, setelah itu, kau akan jadi apa? Seberat apa peranmu? Disaat masa kecil saya diwarnai perhatian dan didikan orang tua, ada banyak orang di luar sana yang bahkan orang tuanya saja tidak tahu perihal urusan akhirat, bagaimana mereka mau mendidik anak-anaknya?

Saya menangis, saat itu meminta doa pada ibu saya, “ma, doain anak-anak detin sholeh sholehah”. Dan doa itu bisa tercapai dengan ikhtiar kita menjadi anak yang berbakti terlebih dahulu, supaya anak-anak kita mencontoh ibunya kelak. Fokus kita seharusnya bukan galau lagi mencari pasangan. Yang baik akan dapat yang baik. Berkaca selama ini, bahwa saya harusnya malu, bergalau-galau mencari teman hidup, tapi bakti pada ibu yang dibawah kakinya ada surga, seringkali terbengkalai.



Surga itu ada di bawah telapak kaki ibu, dan salah satu kuncinya ada pada ayah. Menjadi ibu yang di kakinya ada surga, mendapatkan calon ayah yang memegang kunci, memandu seluruh anggota keluarganya, menuju surgaNya. Mimpi apa yang lebih indah dari ini? Surga itu di bawah kaki ibu, bukan dibawah kaki perempuan. Bermimpilah menjadi seorang ibu, bukan sebatas perempuan-- karir, dan apapun itu namanya.