Sunday, March 24, 2013

The Amazing of Mentor and Mentoring

kalian tau ga kenapa mentoring itu harus melingkar? Kenapa harus lingkaran? Kenapa ga kotak? Elips? Segitiga?”


Lingkaran itu istimewa. Tidak menyudut, seimbang segala sisi, diagonalnya tak terhingga. Dalam pelaksanaannya, komposisi mentoring memang terdiri dari mentor dan mentee (adik mentor). Tapi, dalam penyampaian ilmu, tidak selamanya mentor menggurui mentee.  Idealnya, konsep mentoring tidak berlangsung dalam satu arah. Bisa jadi, mentor belajar dari mentee, bahkan mentee lebih pandai dari mentor. Dalam lingkaran mentoring atau halaqoh, seimbang segala sisi maksudnya tidak ada perbedaan kasta atau kedudukan. Kelompok akan duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Tidak ada yang saling menyudutkan atau terkucilkan. Informasi berjalan dua arah, semua : sama-sama belajar.

Bundar, lingkaran itu istimewa. Pernah bertanya,  kenapa namanya Konferensi Meja Bundar? Padahal pada kenyataanya mejanya berbentuk lonjong.#eaa.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”-Q.S An-Nahl : 125 | sebab kita adalah da’i sebelum menjadi apapun, nahnu du’at qobla kulli syai’ | tugas kita adalah menyampaikan kebenaran
.
Bagaimana mau menyampaikan kebenaran jika ruhiyahnya saja kering? Bagaimana mau menuangkan air ke dalam gelas, jika isi tekonya saja kosong? | itulah fungsi mentoring | Mengupgrade ruhiyah, mengisi air dalam teko | sebab mentoring adalah proses tarbiyah (pembinaan/pendidikan) | Tarbiyah memang bukan segalanya, tapi segalanya berawal dari tarbiyah, kata Hasan Al Banna.

Perlu manajemen yang baik untuk menjadi seorang mentor idaman. Setidaknya ada 5 fase yang harus dilewati, menurut Wheeler & Cooper, yang diberi nama “Five Phase Mentoring Relationship Model”.

Phase one : purpose. Why I want to be a mentor? | niat. Kembali lagi pada tujuan awal. Mengapa ingin menjadi mentor? | Fase ini adalah fase permulaan dimana ‘suara hati’ seseorang mulai menunjukkan keingan untuk menjadi mentor. | mulailah dari bersyukur. Tularkan kebersyukuran mengenal tarbiyah kepada mereka yang belum mengenal.

Phase two : Engagement. Finding and Being a Mentor : how do I begin? | banyak mentor yang mengalami kesulitan ketika memulai. Wajar, jam terbang akan menjawab semua permasalahan | kadang, kesulitan terberat dirasakan ketika pijakan kaki yang pertama.

Phase three : Planning. Developing your mentoring action plan. How can I achieve my goals? How will we work together? | life is never flat, so does mentoring. Yang datar itu membosankan. Mentor harus mengasah kreativitasnya, menyusun “rencana” agar goal dari mentoring berjalan dengan baik.

Phase four : Emergence. Engaging in the conversation. What we are learning? | itu sebabnya, selain menjadi mentor, kita tetap wajib untuk dimentor. Dari sanalah kita mempersiapkan dan tetap belajar.

Phase five : Completion. Celebrating accomplishment. What are my next steps? | ini proses mengembangkan. Eksekusi dari planning phase 3. Mentor yang baik senantiasa berpikir “what next? What next? What next?” | Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (QS. Al Insyirah: 7)

Serangkaian fase tersebut harus memiliki efek kepada mentee. Proses penerimaan pesan berperan penting dalam “bagaimana mentee mengartikan pesan”. Tugas kita sederhana : menyampaikan. Jika kata-kata sudah terlontarkan, mentee akan secara berbeda-beda  mengartikan maknanya. Jadi jelas, tugas kita adalah memastikan pesan yang disampaikan dipahami dengan arti yang sebenarnya oleh mentee, menjadikannya satu frekuensi. itulah pentingnya proses penyampaian-penerimaan pesan dengan baik.

Mentor yang baik akan berusaha menyampaikan pesan kepada mentee, yang asalnya dia hanya sekedar awareness dengan kebaikan, menjadi interest. Mereka mulai menyenangi nilai-nilai islam. Lalu mentee akhirnya dapat memutuskan untuk bertindak (decision), hingga akhirnya benar-benar menerapkan perintahNya dan menjauhi laranganNya (action). Proses dari hanya sekedar awareness hingga akhirnya menciptakan manusia-manusia yang siap action terhadap perintah Tuhannya, adalah serangkaian proses luar biasa, dan itu ada dalam mentoring.

Nah, bagaimana seharusnya komunikasi dalam kelompok mentoring? | dua hal yang harus diperhatikan adalah karakteristik kelompok (situasional) dan karakteristik anggota (personal)| dalam mentoring, menghidupkan suasana kelompok yang kondusif adalah hal yang penting. Setiap anggota memiliki warna tersendiri, cara menyikapinya berbeda-beda, tapi percayalah, pelangi indah karena keberagaman warnanya.

Goal yang ingin dicapai dari mentoring adalah perubahan positif, dari segi kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik (perbuatan). Semuanya bisa mengalami akselerasi melalui mentoring, insyaAllah. Bagaimana agar semuanya dapat tercapai?

Hidupnya ruhiah | adalah penting bagi seorang mentor untuk mengisi ruhiyah sebelum menyampaikan kebaikan, tialawah, perbanyak amalan yaumian. Itu sebabnya, punya adik binaan adalah upaya kita tetap menjaga diri dalam kebaikan.
Penempatan Amanah yang tepat | setiap anggota punya kelebihan yang berbeda. Perlakukan mereka sesuai dengan kelebihannya. Itulah keutamaan mentoring, mengembangkan kapasitas dan potensi masing-masing, karena setiap orang memiliki amalan terbaiknya masing-masing.
Panggilan yang Baik,  Berlaku lemah lembut, Memerhatikan tugas sebagai murabbi, Tak pilih kasih |Buktikan Rasa Sayang itu, Egaliter, sama-sama belajar , Pendampingan, Tabayyun, Amal Jamai , dan Hindari tergesa-gesa, terakhir : Pastikan saling 3T -Ta’aruf (mengenal), tafahum(memahami), takaful(empati).

Setelah kenyamanan itu terasa, pada akhirnya semua akan bersyukur karena mengenal mentoring J
Selamat belajar menjadi mentor yang baik. Kita sama-sama sedang belajar. Berilah bekas pada hati mereka.

“…dan berbicaralah kepada mereka dengan pembicaraan yang berbekas pada jiwa mereka” (Q.S Annisa : 63)
Semangat untuk terus mentoring J sebab satu orang dalam barisan dakwah itu sangatlah mahal, ketidakhadiranmu akan menjadi beban untuk saudaramu.

wallahualam bi shawab.

sumber : 
Alquran,
catatan materi "Komunikasi dalam Lingkaran Dakwah" oleh teh Avi (fisip 2008) di acara Semen Base (sekolah mentor dasar) FOSIKAGI,
catatan liqo.




Monday, March 4, 2013

SCKKA

Bismillaahirrohmaanirrohiim
Alhamdulillaahirobbil ‘aalamiin 

Hamdan Yuuwaafii ni’amahu wayukaafii maziidah. Yaa robbana lakal hamdu kamaa yambaghii lijalaali wajhika wa’adhiimi sulthoonik. Wa shollal loohu ‘alaa sayyidina muhammaddin wa’alaa aalihii wa shohbihii ajma’iin.


akhirnya,langkah awal sudah terlewati. sekarang tinggal bagaimana mengolahnya. 
banyak orang bilang, yang sulit itu adalah memulainya. Tapi kebanyakan orang lupa, bahwa lebih sulit lagi untuk istiqomah mempertahankannya. Terlebih mengembangkannya.

ada sekelompok orang yang sama-sama mencari makna hidup. Melewati fase pencarian, kemudian menetap. Berharap ada penerangan datang menembus hatinya, entah lewat perantara siapa. Dan sungguh beruntung jikalau kamilah perantara tersebut. Ya, karena sejatinya kami berlomba dalam kebaikan. Menjadi perantara-perantara firman Allah, sunnah Rasulullah, agar tegak, agar terang benderang hidup seseorang, karena hidayah telah turun.

semoga Allah berkenan menjaga kami senantiasa dalam kebenaran. Semoga Allah menyibukkan kami selalu dalam kebaikan, sehingga keburukan dan kefuturan tidak lagi punya waktu untuk menyisip diantara waktu-waktu kami. Semoga kerja-kerja dalam amal Jama'i kami penuh berkah, tiada lain karena Allah semata.

dauroh pelantikan fosikagi 2012-2013 :)


mengutip arti dari doa Rabithoh.. 
Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati kami ini telah berkumpul karena cinta kepada-Mu, bertemu karena taat kepada-Mu, bersatu karena dakwah-Mu, dan saling mengikat janji untuk membela syariat-Mu. Karena itu, kuatkanlah ikatan kesatuannya, kekalkanlah kecintaanya, tunjukilah jalannya, penuhilah ia dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup. Lapangkanlah dadanya dengan pancaran iman kepada-Mu dan tawakal yang baik kepada-Mu. Hidupkanlah ia dengan mengenal-Mu dan matikanlah dengan meraih syahadah di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pelindung dan penolong. Ya Allah, kabulkanlah permohonan kami ini. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada junjungan kami, Muhammad SAW, juga segenap keluarga dan sahabatnya.
Semoga ukhuwah kami ini akan berlangsung hingga tak mengenal bilangan usia….aamiin

anauhibbukumfillah,

detinnitami.

Tuesday, February 12, 2013

Lautan


Ada hikmah di balik mogoknya motor. Singkat cerita ya kurang lebih begitu. Siang itu, saya harus ke kampus padahal masih libur. Sehari sebelumnya, hujan besar, jalanan depan rumah banjir semata kaki. Khawatir hari itu kembali hujan, ibu saya sempat melarang. Tapi mana mungkin saya tinggalkan kegiatan hari itu; mengurusi kegiatan kemahasiswaan, janji bertemu teman, dan liqo.  Dan karena motornya mogok, saya harus pergi menggunakan angkutan umum.

Selesai semua agenda, hujan membasahi jatinangor. Untung sedia payung. Saya berjalan bersama Hansya menelusuri gerbang keluar Unpad. Lalu menaiki angkot, menuju rumah. Hujan belum juga berhenti. Makin lama makin deras. Saya sms ayah saya untuk menjemput di depan komplek perumahan, karena angkot tidak masuk jalur perumahan, sedang rumah saya jauh dari pintu awal komplek.

Saya tinggal di komplek Kencana, komplek perumahan yang terdiri dari sekitar 16 blok.  Cukup luas, dengan dua pintu keluar utama, orang sekitar menyebutnya “Pintu Satu” yang dekat arah Dangdeur dan “Pintu Dua” yang dekat arah Majalaya. Satu persatu penumpang angkot turun, bersisa 5 orang penumpang, satu ibu-ibu, empat remaja putri.

*****
From me,
To : Ayah (work)
Ayah jemput detin dong, udah di dangdeur ya.

From me,
To : Mama (work)
Ma, suruh Ayah jemput detin ya

From Ayah,
To : Detin Cute
Yah, nti klo udah smp pemasaran and hujan raat. Banjir,
Tunggulah dulu

Kringkringkring..
incoming call from Mama (work)
“ade udah dimana? Hujan besar de, banjir dalem di pemasaran.”
“banjir banget? Detin udah di deket rel kereta.”
“yaudah, coba ntar pelan-pelan kesana”
“oke”
Disconnect.

Hujan masih terus mengguyur. Jalanan banjir.
Ibu-ibu penumpang angkot, tinggal di blok 10 perum Kencana. Kebetulan tukang angkotnya hendak pulang ke arah Majalaya. Si Ibu-ibu menawarkan jika mengantar masuk ke perumahan, ongkos akan ditambah. Kebetulan kelima orang penumpang semua tinggal di Kencana.  Satu orang tinggal di blok 1, si ibu beserta 2 orang anak perempuannya di blok 10 dan saya di blok 12. Akhirnya supir angkot setuju. Masuk melalui Pintu Satu, nanti keluar di Pintu Dua, lanjut kea rah Majalaya.

Connect to Mama (Work)
“Ma, angkotnya masuk perum. Ga usah jemput”
“Alhamdulillah hehehe. Ntar turun di deket Lapang Liga aja.”
“oke”
Disconnect.

Melewati pemasaran…lulus.
Begitu belok ke Jalan Teratai Raya, yang menghubungkan pintu satu dan pintu dua, Nampak lautan. Banyak orang mendorong motornya. Tukang becak menarik becak dengan upah pasti diatas 15.000 meskipun dekat. Jalanannya berlubang di banyak titik. Sisa 4 orang penumpang, 1 orang sudah turun di blok 1. Karena takut angkotnya mogok, si Ibu-ibu menasehati agar belok ke blok 5 saja, Jalan Suplier. Supir menurut, karena dia tidak tahu medan di  wilayah itu.

Ooooh..setelah masuk blok 5..ternyata jalan ditutup.muter-muter sana-sini. Banyak mobil mengantre, membunyikan klakson. Penduduk sekitar tidak bergeming. Gerbang jalan tetap di tutup. Kami putar arah, setau saya masih ada jalan tembus dari blok 5, keluar Jalan Dahlia. Sebenarnya agak kurang setuju dengan usulan si ibu untuk  belok ke blok 5, pertama, karena ternyata si Ibu dan 2 anaknya ini tidak hapal jalanan blok 5. Jadi, otomatis semua bertanya pada  saya. Kedua, ironisnya, 19 tahun lebih saya tinggal di Kencana, saya ingat-tidak-ingat dengan seluk beluk Kencana, karena cukup luas dan karena saya bukan tukang Becak. TK-SD-SMP saya jadi anak rumahan, yang bermain hanya sekitar rumah, menelusuri perumahan hanya saat Ramadhan, selepas Kuliah Subuh. SMA jadi anak kosan, dan kuliah jadi rider amatiran. Juga karena kemampuan geografis saya buruk, yang bahkan pernah keukeuh bilang bahwa Riau ada di Kalimantan, ditambah, jalanan banyak yang ditutup, penghuni angkot marah-marah, si ibu mengutuk menyumpah serapahi warga yang menutup jalan, supir angkot kesal, saya jadi stress. Dan memilih berdoa saja.

Sudahlah, terjang saja banjir di Teratai Raya, karena itu jalan utama, tidak mungkin ditutup. Tapi Si Ibu kekeuh takut angkotnya mogok -,- jadi dia berinisiatif lagi untuk belok ke blok 6. Beberapa mobil juga ikut belok ke blok 6 karena ada beberapa bapak-bapak berdiri di gerbang bblok 6 dan menganjurkan lewat sana saja. Kami masuk…beberapa belokan, jalannya di tutup. Kami terus mencari jalan lain.
Saya ingat ada jalan lain, dan ternyata tinggal sekali belok menuju keluar…..jalannya ditutup -,- antrian mobil panjang. Semua membunyikan klakson. Debat dengan warga, semua isi angkot marah-marah. Saya mengambil payung, berinisiatif melihat apa yang terjadi di depan, angkot kami antre di agak belakang. Setidaknya bertanya pada warga, apa tidak bisa dibuka sebentar, ini jalan umum, sudah mencari-cari jalan sejak tadi, semua ditutup. Tapi si ibu-ibu melarang saya keluar. Oh baiklah, satu persatu mobil mundur, mencari jalan lain. Kami terpaksa ikut mundur. Padahal sudah dekat, tinggal sekali belok. Hiks.

Warga menutup jalan karena khawatir jika mobil masuk, air akan membludah, memasuki rumah mereka. Baru pertama kali pengalaman seperti ini. Rumah saya di blok 12, jarang banjir besar, juga bukan jalan alternative dari Teratai Raya untuk menuju blok lain. Jadi tidak banyak dilewati. Satu kali pun, belum pernah jalanan di rumah saya di tutup.

“ini jadi harus lewat mana jadinya?” Tanya supir.

Semua esmoseeh.

Semua berpendapat. Akhirnya kami memutuskan lewat Gradiul, jalan besar yang kemungkinan tidak ditutup.  Menabrak penutup jalan yang hanya sebuah kayu di atas sejenis grobak angkut semen (apa itu namanya -,-.) Dan waaaw. Banjir hampir masuk ke dalam angkot. Subhanallah.

Saking heboh dengan dalamnya banjir, tempat seharusnya saya turun, terlewati. Kalau turun di situ, meskipun bukan dekat Lapang Liga seperti yang ibu saya sarankan, banjirnya tidak terlalu dalam. Tapi karena kelewat, sadar sudah lumayan jauh, dengan kondisi Gradiul yang banjir besar, saya berencana turun di jalan Tanjung. Si ibu bersama dua anaknya turun di belokan blok 10, Jalan Bakung, member 25ribu untuk 3 orang pada supir angkot. Ah, gawat, uang di dompet saya Cuma ada 50.000 satu lembar, 100.000 satu lembar, koin 500 rupiah, dan 2000 dua lembar. Kalau dikasih 50.000, nanti takut dimahalin. Grasak-grusuk, mencari di setiap saku tas. Akhirnya menemukan 4000 di sela-sela tas. Total, berarti punya 8000. Akhirnya saya turun di Jalan Tanjung, karena tidak mungkin angkot memutar balik untuk mengantar saya ke dekat Lapang Liga. Kasihan juga supirnya, sudah tampak stress. Saya turun, dengan membayar seadanya, 8000.

Perjuangan belum selesai. Saya harus menyebrang Jalan Teratai Raya untuk bisa masuk belokan blok 12. Dan subhanallah, cetar membahana sekali, beberapa senti di atas lutut saya terbenam air. Saya berjalan melawan arus, jadi tambah berat melangkah. Beberapa anak-anak bermain air di pinggiran. Kolam renang dadakan. Anggaplah begitu -,-

Akhirnya, saya sampai juga di belokan blok 12. Terharu. Saya masuk lewat Herbras 7, banjir hanya semata kaki. Menyebrang lapang, tidak banjir sama sekali. Lalu Alhamdulillah sampai di Herbras 4, rumah saya, jalannya hanya banjir se mata kaki.

Rumah. Damai. Sudah sangat sore. Ibu dan ayah saya hanya tertawa.

Untung Alhamdulillah saya tidak bawa motor. Tidak bisa dibayangkan kalau saya terjebak banjir membawa motor. Terus mogok. Nyeeeh.

Malam hari banjir sudah surut, dan pagi-pagi Teratai Raya sudah pulih. Tapi, kalau siang hujan lagi, pasti kami dapat banjir kiriman lagi. Cukup dua hari banjir begini. Kasian orang kantoran. Ayah saya jadi pulang sebelum jam 4, takut kena banjir lagi.

nasib tinggal di Bandung coret  :--((

Semoga, pihak yang berwenang mengurusi sarana, prasarana, infrastruktur, atau apapun itu istilahnya, cepat memulihkan kondisi ini.

Sebentar lagi saya kuliah soalnya.


Monday, February 11, 2013

Eudaemonis



Setoples keripik, ditemani selimut yang cukup tebal, di bawah temaram lampu neon 14 watt, menyaksikan acara-acara di televisi, memindahkan tombol remote sesering mungkin, mencari acara yang mendidik, atau setidaknya menghibur, atau kalau tidak ada yang seperti itu, minimal yang tidak membodohi.

Di samping saya, dengan wangi nya yang khas, lengannya yang bertimbun lemak, terduduk seorang wanita tengah baya, dia ibu saya. Sambil melingkarkan satu lengan saya pada lengannya, menempelkan pipi dan hidung di lengan atasnya, menyandarkan diri di bahunya, mirip seperti seorang anak yang sedang merajuk ibundanya untuk dibelikan es krim. Saya suka suasana seperti ini. Saling mengomentari isi acara televisi. Lalu sampai pada waktunya jemari saya berhenti menekan remote. Stasiun televisi swasta menayangkan sebuah acara berita.

Berita pertama yang kami tonton sore itu sedikit membuat ibu saya menegakkan sedikit punggungnya. Sebuah berita tentang kematian seorang mahasiswi Universitas Indonesia asal Bukittinggi karena melompat dari angkutan umum. Salah satu angkot Jakarta membawanya keluar dari jalur operasi angkot tersebut seharusnya. Setelah. Saksi mata di TKP menyatakan bahwa berusaha untuk keluar dari angkot, kemudian kepalanya terbentur trotoar. Wallahualam apa yang sebenarnya terjadi dalam angkot, sehingga korban nekad untuk melompat dari dalam.

Heyaahh. Saya dan ibu saya saling menggelengkan kepala. Mengekspresikan mimik muka yang ketakutan. Kemudian, entah berapa paragraf kalimat yang keluar mulut ibu saya, menasihati..kamu de, hati-hati kalau lagi di angkot. Jangan naik angkot yang kosong, cari yang udah hampir penuh, kalau bisa ada ibu-ibunya. Dan blablablabla.

Ngeri. Kota-kota besar sudah semarak tindak kriminalitas, korbannya kebanyakan gadis yang berpergian sendiri. Wajar kalau ibu saya khawatir.

Belum sempat reda keempatian terhadap berita pertama, pembaca berita melanjutkan isi berita tentang…lagi-lagi saya harus menghembuskan nafas dengan berat…tentang pemerkosaan seorang siswa SMK oleh 6 orang pemuda. Geleng-geleng kepala lagi. Sepakat untuk terus menonton berita tersebut, dengan komat-kamit nasihat ibu saya.

Berita selanjutnya, adalah tentang pembunuhan bayi oleh pembantu rumah tangga di kawasan Jakarta. Berdalih ada perampok masuk rumah, akhirnya sang pembantu harus mengakui bahwa dia yang membunuh bayi majikannya. Haaaaaah.

Kami setia menanti iklan berakhir, kemudian berita kembali dilanjutkan.

Kali ini tentang sindikat perdagangan bayi. Bayi-bayi dijual dengan seenak jidat. Manusia kini seharga tv 21 inchi atau kulkas dengan 2 pintu, barang yang mudah diperjuabelikan. Andai bayi tersebut bisa bicara, dia akan mempertanyakan tanggung jawab orang tuanya, mengapa ia diperlakukan seperti itu.  

Berita beralih pada masalah politik yang menggunjing partai besar berwarna biru dengan lambang segitiga. Prahara di dalamnya yang tidak selesai-selesai. Dan berita KPK yang menciduk para koruptor baru, dugaan korupsi impor daging sapi, penyelewengan dana arena PON, dsb,dsb. Saya sebagai rakyat bosan dengan semua berita ini. Bosan benar, jengah.

Saya berinisiatif untuk memindahkan channel tivi. Kenapa isi semua berita demikian?

Pembunuhan, penjambretan, tindak asusila, pemerkosaan. Orang-orang nekad mencuri, melecehkan wanita, hingga merenggut nyawa, dilatarbelakangi keterdesakkan kondisi. Lingkungan yang memaksa mereka demikian, ditambah dalam diri tidak ada penyelaras emosi, tidak ada kekuatan iman, hingga mereka tidak lagi mempedulikan bahwa sejatinya tindakannya tidak pernah luput dari pandangan Tuhan. Mereka hanya perlu tahu bagaimana caranya mengisi perut, bertahan hidup, sementara dirinya tidak pernah mau beranjak dari lemahnya keinginan untuk belajar, memperbaiki taraf hidup dengan cara terhormat. Menghalalkan segala cara, mencari alternatif se-instan mungkin, berujung merugikan orang lain.

Dan sialnya lagi, ini berlangsung turun temurun.

Paradigma untuk mencari jalan instan memenuhi kebutuhan hidup seperti virus yang menginvasi satu sel, kemudian menyebar ke sel-sel lainnya, atau sekedar seperti seorang yang melihat seseorang menguap, lantas tertular untuk ikut menguap. Menular.

Kriminalitas bukan hanya dilakukan oleh kaum marginal. Para elite pun punya trackrecord dalam mewarnai data kriminalitas Negara. Ironisnya, sering kali kejahatan yang mereka lakukan lebih menyiksa banyak pihak karena meliputi urusan kemaslahatan hajat hidup banyak orang. Kamiskinan bukan selalu menjadi DNA yang menentukan tingkat kriminalitas. Ketidakpuasan terhadap apa yang dimiliki, keinginan untuk memperkaya diri, tenggelam dalam kemewahan dunia, mengatasnamakan kekuasaan, menganaktirikan kepercayaan. Kenyataannya, agama tidak pernah lepas dari segala aspek. Termasuk kontrol diri.

Manusia memang tempat salah dan lupa. Tapi kalau keseringan salah, sampai terbiasa salah yang disadari, bukan manusia namanya. Tidak ada manusia yang tidak punya khilaf, tapi tentu ada keimanan yang mendidik manusia untuk mengetahui batasan.

Solusi klasik, tapi bukan klasik namanya jika belum kunjung diterapkan. Memang pendidikan selalu menjadi setitik cahaya di ujung terowongan panjang. Pendidikan science, teknologi, pembentukan karakter, pendidikan budaya, dan agama. Media yang terus menerus menginformasikan berita kejahatan tapi lupa menarik sisi optimis bahwa di ragam belahan bumi Indonesia, masih terkubur kisah inspiratif yang belum digali media. Masyarakat dibodohi dengan berita negative, seakan Indonesia ini memuakkan karena disana sini atmosfernya selalu suram. Hingga akhirnya terbiasa dengan kabar menyedihkan, ya seperti saya ini.


banyak yang memisah-misahkan nilai. mengotak-kotakkan pemikiran. terlebih tidak punya panduan. ke laut ajeee...

padahal ada Islam. Islam itu kaffah, menyeluruh. Semua unsur harus melibatkan agama. Politik pemerintahan sekalipun. Pandangan dan pemikiran diatas jangan-jangan sebatas sekulerisme yang ingin memisahkan agama dari aktivitas kehidupan. Berakhir dengan liberalisme yang membebaskan kehidupan. Berawal keraguan berakhir ketidakyakinan. Ngeri. Yang ini lebih ngeri.



Banyak yang tidak paham dengan agamanya, mereka adalah yang tidak mengerti. Tapi lebih banyak yang salah paham dengan agamanya, mereka adalah yang menafsirkan sesuatu dengan salah. Yang salah paham atau gagal paham ini yang bahaya. merasa diri mengerti, tapi menafsirkan dengan salah.

Ah, melebar kemana-mana ini bahasan.

Saya jadi pusing dengan apa yang saya tulis. Sudahi saja.

Saya berlindung pada Allah dari ketidaktahuan dan dari pendapat yang tidak benar.

Monday, February 4, 2013

meracau


Jadi tiba-tiba bernostalgia ketika Ali bertanya di pagi cerah tapi menyengat. Pertanyaan Ali cukup memancing pikiran-pikiran yang pernah saya kubur hidup-hidup.

“Nah, apa?” Katanya.  A-P-A. APAAA?

“apa yang bisa meyakinkan saya kalau kalian memang sebuah keluarga?” kata Ali

Bocah kelas 2 SMA yang saya tidak kenal siapa namanya menjawab, “ya..karena kita satu nasib”

“saya di ITB, masa adik saya harus di sana juga? Itu maksudnya satu nasib?”

“bukan gitu kang….”

Ya..ya…yasudahlah adik baik, saya mengerti maksudmu. Bukan “nasib” kata yang cocok untuk diutarakan disini. Harusnya ada kata lain, tapi sebentar, saya cari dulu. Nanti kalau sudah ketemu, saya kasih tau.

Hatta, melanjutlah Ali memancing mereka dengan kail dan jala (?) membuat semua anak menunduk, entah lapar, mengantuk, atau berpikir. Sulit dibedakan.

Seorang anak yang lain mengacungkan lengannya, mengatakan salah satu dari sekian banyak yang ingin saya katakan. “……, ya itulah yang membedakan kita dengan organisasi lain. Keluarga”. Sayangnya Ali belum puas juga, saya juga tidak puas sebenarnya. Ya, pada akhirnya Ali lah yang harus menjelaskan maksudnya bertanya, untuk memuaskan dirinya juga, barangkali.

Dan karena saya tidak pandai mengingat apa yang dikatakan Ali, maka sekarang saya memutuskan untuk bermain dengan pikiran sendiri, saya sedang ber-senandika. Senarai panjang kata-kata yang akhirnya muncul meneror saya pada kondisi masa silam yang pernah saya pupuk dan siram baik-baik, lalu saya bakar dan bumihanguskan sendiri, kamudian saya coba Tanami lagi. Ah, ternyata saya pernah menjadi se-innocent anak kecil yang bermain dengan lego nya, mendirikan istana, dan karena bosan kemudian diacak-acak lagi.

Saya pernah bosan dengan satu kondisi, sebut saja kondisi seperti ini(?). Saya pernah menyamaratakan semua nilai organisasi, yah, semuanya event organizer. terus saya bosan, berencana mengubur hidup-hidup idealisme yang dulu pernah ada, eh taunya, yang namanya pemahaman emang ga bisa sembarang di kubur, harus ada surat izinnya dulu (?)

Jadi, tolong tanggung jawab ya, Gama, gara-gara kata-kata kamu, saya jadi kepikiran ini lagi. Ini bukan judul film, bukan juga sinyal suatu telepon selular, tapi 3G, Gara-Gara Gama, saya sedikit tersentil, dia bilang, tidak seperti organisasi lain. Dan kalau boleh menambahkan, saya-anak kemarin sore- yang belum juga sembuh dari tidur indah masa lalu, ini pun tidak seperti organisasi sejenisnya, yang pernah saya kenali. Yang mungkin Ali tekankan adalah bahwa keluarga itu senang sedih dirasa bersama, saling mengingatkan dalam kebaikan, saling men-support. Hingga akhirnya, setetes demi setetes air mata para adik akhwat menjelaskan unek-unek mereka. Salah seorang dari mereka menasihati yang lainnya, katanya dalam keluarga tidak ada yang tidak istimewa, ibu selalu menganggap semua anaknya istimewa, tidak ada anak yang tidak disayang ibu. Teman-teman kita yang jarang datang, berhusnudzon lah, bukan berarti mereka tidak ingin merapat, tapi mungkin karena kita seringkali tidak mengindahkan kehadiran mereka, mereka mungkin saja merasa tidak diistimewakan, tidak dianggap penting.

ukhuwah ^^
Karena hidayah datang dari mana saja, hikmah dipetik dari siapa saja, dari mereka pun saya diingatkan kembali dengan kata-kata yang pernah didaratkan untuk saya dan teman-teman 2011 lain. Tiba-tiba saya menjadi makhluk imbesil dan justru mereka mengakselerasi kedewasaan. Ini bisa saja terjadi. Dan saya hanya sebatas imago, mereka bermetamorfosis duluan. Sampai akhirnya saya sadar kembali setelah mengoonsumsi sebungkus roti coklat keju.

Sebuah keluarga, dengan pentingnya sebuah penghargaan dari masing-masing anggota keluarga. Saling merasa dihargai. Punya tujuan yang sama,merasakan hal yang sama, kalau kakak sakit, semua ikut merasakan, kalau ibu demam, semua ikut merasakan.

Kita membangun sebuah komunitas bernama keluarga yang didalamnya tumbuh kesepahaman yang integral, meskipun berbeda cara menjalani hidup, semuanya tetap satu integritas. Mengalir bersama zaman, pragmatisme tumbuh untuk menyatakan bahwa segala sesuatu tidak tetap, melainkan tumbuh dan berubah. Kedinamisan untuk berlega hati menghargai perbedaan, menyikapi bahwa setiap orang adalah penting.

Terimakasih sudah diingatkan kembali.
Kontemplasi selesai.

Setelah berpanjang ria menulis ini, tahukah Anda, bahwa sebenarnya saya sedang menulis tentang organisasi dengan leadershipnya. Goalnya gak dapet ya? Yasudahlah, ga apa-apa.

"ibarat satu tubuh"
Dari dauroh pengurus Alfurqon 2014, pelajarannya saya ambil untuk fosikagi ya.

Terimakasih adik-adik 2014, alumni AF 2013-2009 yang sempat hadir. Titip AF ya 2014, dijaga dengan baik-baik, hikmahnya kalau belum berasa sekarang, pasti suatu saat akan benar-benar terasa.

Ohya, sampai lupa. Saya tadi kan mau ngasih tau, kata “satu nasib” kurang cocok, jadi kata yang seharusnya dipakai -minjem istilah popular- adalah “ibarat satu tubuh”.

aza aza fighting! ^^



Friday, January 25, 2013

CONFUSIUS

setelah berjam-jam menaiki bus yang lumayan nyaman (jika dan hanya jika dibandingkan dengan bus Indonesia) membawa kami menyebrangi perbatasan malaysia-singapore. Tepat ketika langit mulai menjadi gelap, kami sampai di pemberhentian.

oo..semua hape lost signal, simcard yang digunakan masih simcard malaysia yang tidak aktif di luar negara. Bagaimana cara menelepon Uwa. Segera saya, mama, dan makcik Hasina berkeliling mencari tukang jual pulsa. Sayang, tidak seperti di jalanan Bandung, yang seringkali ditemukan penjual eceran pulsa, kali ini, dari toko ke toko kami masuki, sepanjang jalan kebanyakan toko makanan..lalu ingat sebenarnya perut lapar sangat. ribuan kilo jalan yang kami tempuh (tidak dalam jarak yang sebenarnya) akhirnya tersesatlah kami dalam sebuah mall, berkeliling..aaahh, kenapa sulit mencari toko jual simcard. Bertanya sana sini dengan modal bahasa Inggris yang belepotan, memimpin arah dua orang ibu-ibu yang hanya menguntit di belakang dan memberi semangat >> ibu dan makcik -_-

akhirnya  sebelum memutuskan untuk menyerah, saya menghampiri satpam di meja costumer service, satpam, bukan wanita cantik berpakaian seksi seperti di pusat perbelanjaan kebanyakan.
 "where can i buy a simcard?"
"bxnjdklslkemmso"
"seveneleven? i've just been there , they don't sell it."
"xxxyyyzzzzabcd"
"i've walked so much far, and i'm tired already. show me the nearest store." (niatnya kalau jauh, mau pinjem telepon selular bapak satpam aja. saya mau nelepon saudara saya pak, atau nasib kami tidur malam itu tidak jelas)
"------xxxnmkajskdelemma" << akhirnya menuntun kami menjajaki toko penjual simcard.Thanks God, it still open, he said.

di sebuah toko elektronik beratmosfir cina, dengan penjual cina yang abusetdeh logat inggrisnya.
"singsing honghong langfiu chiiaaang"
"i wanna buy the cheapest simcard" << to the point banget : ga punya duit
"hialuuung fangfang liungsen hosyang hosyang"
"ten dollar??? is there any simcard..heem, about five dollar only?"
"cepawo ceci we caniiiiii"

kaluar dengan muka lega, sesegera mungkin menelopn Uwa.
"Wa...ini detin lalalala dududududu kami ada di.........(buta arah).............Golden"
"ya, uwa kesana ya."
--15 menit kemudian--
"Golden yang mana sih? ko Uwa nyari kalian ga ada? sekarang dimana? Jalan apa neng? Uwa udah di Mesjid Sultan"
"Ophir road."
"bentar uwa cari."
---15 menit kemudian--
"Uwa ga nemu. coba detin cari Mesjid Sultan, semua orang di situ pasti tau."

"excuse me, do you know where is Sultan Mosque?"
membuka gadget >>google maps >> menunjuk arah, dengan mimik muka -kayanya sih disitu, gue ga yakin-
bertanya pada 3 orang dengan melakukan hal yang sama, oh come on, jaman canggih ya, nanya alamat buka google map.

bondong-bondong kami berenam : saya, mama, mamak asmah, mami hajra, makcik Hasina, bang Bidin, mendorong-dorong koper menyusuri jalanan Singapore di malam hari dengan muka penuh minyak dan lelah yang tampak menguasai, yang jika tersenyumpun terlihat seperti seorang idiot.

desperate. di negeri orang, yang baru pertama kali kami jamah, dengan tanpa pemandu, tak seorangpun tahu..oh Allah, dimanakah mesjid sultan ituuu. hiks.

"Wa, ga nemu juga nih. sekarang kita di Beach road. harus kemana?"
"bentar uwa cari"
--15 menit kemudian--
"Uwa ga nemu" #hasyaaaaahhhh -___-
"Uwa kesini naik apa? sama siapa?"
"MRT, sendiri"
--MashaAllah, saya lupa, uwa baru beberapa bulan di sana, bahasa inggrisnya pun mana lancar. Saya pikir Uwa jemput sama tante. oalaaah, tante lagi kerja shift malem. mana naik MRT pulak, jalan kaki muterin jalanan Singapore buat bertemu kami? oh no kidding.mau berapa abad baru bertemu-__- well, sometimes you can feel so "small"

problem solving and decision making mu buruk det -,- gini aja lama banget mutusinnya. kasian yang lain nunggu berjam-jam, saling mencari. ah ribet. naik taksi aja deh, suruh Uwa tunggu di suatu tempat.
oke kesepakatan : kami naik taksi, Uwa tunggu di Raffles Hospital.

taksi kok tidak bersahabat, penuh semua. akhirnya saya tanya Bapak-bapak yang lagi nongkrong, dimana Raffles Hospital, jauh atau dekat, kira-kira kami bisa jalan atau cukup jauh?
"sorry, i dont know"<< oh meeeen.
ada dua orang pria mata sipit, mirip artis korea (?) sedang berjalan sambil memakan sejenis hotdog. Saya potong perjalanan mereka,bertanya dimana Raffles Hospital. si-pria-kaos-putih menutup mata, meletakkan telunjuk di dahinya, berucap..hmmmmm.
"there" << menunjuk satu arah.
"is it far?"
"far enough. just take a taxi.."
"can you help me....looking for the taxi?
sambil melahap hotdognya, si-pria-kaos-putih dan si-pria-kaos-abu, berjalan menyebrang jalanan besar dua arah. melambai-lambaikan tangan pada setiap taxi yang lewat. berlari sana-sini di setiap arah jalan. berhasil menyetop satu taxi berwarna silver.

mamak asmah berkata, "noo.. it's expensive. the silver one is expensive."
kemudian taksipun pergi meninggalkan.
si-pria-kaos-putih melongo. "noo, maam, it's cheap. do you see that lamp? (menunjuk tulisan  TAXI) it shows it is cheap.
si duo pria kembali berlari sana-sini, kami terpukau, berdiri dan duduk di tempatnya masing-masing, memperhatikan mereka berlarian.

alhamdulillah, mereka berhasil memberhentikan dua buah taksi. berbicara pada supir, meyuruh mengantar kami ke Raffles Hospital.
"thankyou so much."
dan ketika hendak menderek koper gaban itu, si-pria-kaos-putih bergegas mengambil koper, menaikkannya ke bagasi, diikuti si-pria-kaos-abu. Semua koper. sementara sopir taksi hanya duduk santai di dalam mobil. #hasyaaah.
"go in"
"thank you so much. really, big thanks"
"it's oke."
"hei anak muda, baik sekali..nanti semoga diganti dengan yang lebih baik ya." sambil senyum, kata mamak asmah kepada pemuda.
mereka melongo. mana ngerti.

-------
dan sampailah kami bertemu Uwa, menggelikan, Raffles Hospital tidak jauh dari tempat dimana kami menyetop taksi, hanya di bawa berputar sedikit.

ahhh...a simple hello could lead to a million things. Menjumpai orang baik, yang membantu orang-orang yang hampir gila, desperate, kesulitan. membantu sampai finsih, benar-benar finish itu...selalu mengukir kesan tersendiri di memori insan bernama manusia. Selalu. Because sometimes,the smallest things take up the most room in your heart.

perjuangan masih berlanjut.Menyusuri MRT, sebelum akhirnya sampai di gate Pasir Ris. Tempat dimana apartemen tante terletak. haaah, malam yang panjang..

well, someday you will look back to this moment, and realize how far you have gone.

Sunday, January 20, 2013

Diorama


Melancong yuk.  Saya mau jalan-jalan ke masa dimana saya masih jadi gadis imut berseragam putih-biru, masa-masa SMP. Nostalgia ini disponsori oleh ke-excited-an saya terhadap sebuah novel yang kembali saya baca setelah bertahun-tahun lalu sering saya baca, kemudian sang novel dipinjam oleh oknum yang tidak jelas identitasnya (?) lalu hilang.

Novel pertama yang saya baca, kalau boleh saya bilang, cukup berat untuk dijadikan bacaan anak kelas 1 SMP. itu buku kakak saya. Ceritanya saya ingin sok gaul nan keren, baca novel biar terlihat sedikit intelek. Cover bukunya pink, bergambar sketsa seorang wanita berjilbab panjang memegang kusen jendela. Yang menarik perhatian saya, selain judulnya yang unik, juga karena tebal bukunya tidak terlalu membuat anak kecil ketakutan ketika harus membacanya, hanya sekitar 300an lembar. 

Yah, judul novel pertama yang saya baca adalah “Diorama Sepasang AlBanna”. Jadi, latarbelakang, maksud dan tujuan yang sebenarnya saya tidak sedang membuat proposal (?) bermula ketika saya sedang belajar untuk ujian Dental Science Program, dalam case ada istilah dilatasi vascular bla bla bla bla… dan saya seketika ingat judul buku “Dilatasi Memori” seri ke 2 dari Diorama. Saya sempet cari e-book nya siapa tahu ada, sayang tidak dapat, atau lebih tepatnya tidak ngerti cara mendonlotnya. Akhirnya tadi pagi ketika saya bersilaturahim-lari minggu pagi bareng temen-temen SD, yang niatnya untuk membakar lemak tubuh, karena ibu saya berkata, "de, ko gendutan? makan aja ya?"---hati panas, ah masa ma??? ciyuss??miyapaahh??? frustasi---, lari sekitar 5 menit, sisanya jalan santai, lalu setelah itu makan bubur dan minum 500ml susu murni. Iya, iya..saya tau saya tau...anda akan berpikir, input lebih besar dari output, apa tetap akan diberi nama olahraga? saya sendiri ragu. hiks.

Nah, lupakan sejenak dengan olahraga semi gagalnya, kembali pada pernovelan. Saya jadi ingat kalau Hilda dulu beli buku Diorama dan Dilatasi atas recommend dari saya. Akhirnya, saya pinjem novel ini tadi pagi. Nah kan, silaturahim selalu membawa rezeki J


cover buku Diorama Sepasang AlBanna


Dalam waktu 4 jam, saya lahap isi novel karya Ari Nur itu. Dan setelahnya saya baru sadar sepenuhnya maksud dari novel tersebut. Dulu jaman saya masih mirip Dulce Maria nya Carita de Angel (?) saya belum ngerti maksud utama novel ini, yah namanya juga anak SMP. Sekedar ngerti ini novel roman, kisah cinta, dsb dsb. Tapi, kesan pertama selalu menempel menancap mengakar meng-adhesi-kohesi (?) di hati. kesan pertama buku ini waktu itu : ceritanya bagus.

Sadar ga sadar, saya ngerasa banyak kesamaannya dengan Inda Maharani (Rani), pemeran utama dalam novel. Seorang wanita asal kampung, yang serba biasa-biasa saja. Mencari penghidupan di ibukota sebagai arsitek junior di sebuah biro arsitektur ternama di Jakarta. Bertemu dengan seorang Ryan Fikri, seorang eksekutif muda, bos Rani, yang jenius, tampan, cool, arogan, dan sombong.  

Ryan yang kering ruhiyahnya, setelah sebelumnya menghilang dan menenggelamkan diri dari dunia dakwah, seakan menemukan telaga di tengah padang pasir ketika bertemu Rani. Memang bukan selera eksekutif muda, wanita pas-pasan, tampil ke lapangan dengan jilbab lebar dan kaos kedodoran. Tidak menunjukan smart, ataupun classy. Tapi Rani membawa idealisme yang terpupuk baik dalam dirinya. Ia menumbuhkan sebuah kehidupan tanpa menghancurkan kehidupan yang sudah ada. Di biro tempatnya bekerja, yang jauh dari kesan agamis, suasana penuh sekularisme, kemewahan, dan profit oriented.

Novel tentang kisah cinta para AlBanna, para pembangun. Ah Rani, wanita sederhana, bahkan sangat sederhana mampu menarik hati seorang Ryan. Di sisi lain, yang paling ditunjukkan dalam novel ini adalah tentang dakwah fardhiyah, tarbiyah islamiah…yang zzzzzzzzz banget waktu saya baca SMP, setelah saya baca lagi tadi, subhanallah, ceritanya mirip dengan cerita yang saya inginkan di masa depan nanti *hatsyaaahh.

Tentang membangun sebuah biro arsitektur independen, berbasis islam, dengan maksud mencetak arsitek muslim berkualitas dan berdaya saing dunia. Kisah Rani yang seorang aktivis dakwah kampus, merindukan jalan kembali, masa-masa dimana ia bebas berdakwah, dan tentang Ryan yang mantan ketua bidang kaderisasi dakwah kampus yang hanya bertahan 2 tahun untuk kemudian tenggelam bersama keterpurukan latarbelakang keluarga.

Mirip. Tentang saya yang sederhana dan biasa-biasa saja, seperti halnya Rani. Memiliki seorang Ryan yang tampan, jenius adalah harapan dan impian  meski dingin dan arogan. Tentang visi misi hidupnya, mirip. Tentang keinginan mendirikan sebuah usaha yang bergerak berbasis islam, menggerakkan roda-roda mesin para muslim yang sempat terhenti, menciptakan lapangan kerja, membentuk idealisme yang berfokus pada Illah, memiliki power untuk menggerakan, mengonsep, membuat kebijakan. Mirip mirip mirip.

Ah Rani, Ryan….. kita adalah seorang AlBanna, yang sedang berkelana untuk satu tujuan yang sama…

Terimakasih atas kisahnya, Ari Nur dan dioramanya :)