Friday, February 26, 2016

Addie

Ada beberapa reality show yang dikemas dengan apik menyajikan tontonan yang menarik, beberapa lainnya hanya menampilkan tayangan yang terlalu dibuat-buat. Reality show Indonesia misalnya, masih banyak yang hanya menawarkan suguhan komedi yang garing dan hambar, lelucon yang didapat dari ejekan karena sifat atau rupa salah satu pemain. Ngomong-ngomong soal reality show, sebenarnya salah satu yang saya suka tonton adalah MasterChef US.

Dari sekian banyak episode MasterChef Junior US season4, ada satu episode yang sangat saya suka. Sebentar, sebelum saya bahas tentang episodenya, saya mau membeberkan alasan saya sangat menyukai reality show yang satu ini. Pertama, MasyaAllah...... usia 8-12 tahun, anak-anak.... usia dimana saya masih ingusan dan cuma bisa main-main pasir di depan rumah orang yang sedang dibangun atau mengoyak-ngoyak kotoran di selokan, mereka sudah hafal di luar kepala bahan-bahan makanan yang bahkan belum pernah saya lihat. Mereka bahkan lihai memotong makanan seolah pisau yang tajam adalah sahabat karib, sedangkan di usia itu, saya masih merasa pisau adalah benda yang tabu dan keramat, berbahaya dan harus dihindari anak-anak. Kedua, saya sangat suka pesan-pesan moral yang disampaikan para juri, terutama Gordon Ramsay, bagaimana mereka mendidik peserta dengan cara-cara yang sangat children-friendly.

Dalam beberapa episode, juri membagi peserta mejadi dua kelompok dan keduanya harus bersaing dengan dipimpin seorang kapten tim. Pemenang MasterChef Junior US season 4, Addison, bocah 9 tahun, sering menjadi kapten tim karena memenangkan tantangan pada babak sebelumnya. Kalau saya lihat, Addison memiliki kemampuan leadership yang paling bagus dibandingkan peserta lainnya.  Cara Gordon Ramsay menyadarkan Addison saat timnya mengalami kemuduran dan hilang fokus dalam memasak adalah dengan bertanya "Addie, apa yang akan kamu lakukan jika semangat tim baseballmu mulai menurun?" Karena Addison adalah seorang kapten tim baseball di sekolahnya, dia tahu bagaimana menyemangati rekan timnya. "Saya akan terus menyemangati dan memberi arahan dengan baik, Chef" Addison sudah pandai mengatur strategi sebagai seorang kapten tim, dan itu adalah pola yang terbentuk dari kebiasaannya memimpin sebuah tim baseball. Dia mendelegasikan tugas dengan sangat baik, membagi peran pada anggota lain sesuai kelebihan mereka.

Hal unik yang ingin saya ekspose adalah tentang pola kebiasaan yang terbentuk dalam diri seorang anak. Waktu dulu saat saya masih muda beda dan berbahaya *?!*%$^*, saya sempat baca buku The Leader in Me- nya Stephen Covey. Jelas, pembiasaan pembentukan sikap kepemimpinan pada anak sejak dini akan memudahkan mereka membentuk diri mereka di kemudian hari. Addison jadi mengingatkan saya tentang buku itu lagi, dan berpikir apa nanti anak saya sebaiknya ikut baseball dan dia jadi kapten tim nya? tuh kan, saya emang gak kreatif. Tapi semua peserta MasterChef Junior tetap mengiris-iris hati saya, membuat saya iri dengki, karena di usia kepala dua ini saya cuma bisa masak itu dan itu *nunjuk makanan yang itu lah pokonya*

Nanti kalau saya punya anak, saya akan ajak dia nonton MasterChef Junior. Menunjukkan kalau di usia anak-anak pun potensi seseorang harus sudah bisa digali. Padahal emaknya sekarangpun belum menggali apa-apa tentang dirinya. Mohon maaf nak, Mak mu ini insyaAllah akan mendidikmu dengan sekuat tenaga. Dan pertanyaan yang dari dulu hingga sekarang tidak bosan-bosan mereka -orang-orang yang dijumpai dimanapun kapanpun siapapun- adalah "Detin udah isi?" bffzzzzzzz. InsyaAllah di waktu yang tepat adalah jawaban paling bijaksana. Ya kan?

Sunday, January 10, 2016

NYC.

Aktivitas weekend saya selama empat bulan terakhir cukup melelahkan. Kesana kemari, menelusuri jalanan Bandung mencari "jodoh". Saya baru tahu, ternyata mencari rumah lebih sulit dari mencari pasangan. Puluhan rumah sudah kami lihat-lihat. Beribu-ribu kilobyte sudah kami habiskan untuk membuka setumpuk iklan jual rumah. Sampai detik saya menulis ini, saya belum berjodoh. Belum ada rumah yang membuat saya kasmaran sampai berkeinginan untuk memikirkannya siang dan malam.

Pernah ada satu hari, saya melihat iklan rumah dengan luas tanah besar namun harga miring, saya langsung jingkrak-jingkrak seperti orang yang baru dapat hadiah umroh gratis. Saya langsung suruh cowok saya telepon orang propertinya. Singkat cerita, sepulang saya klinik, sekitar jam 5 kami berangkat. Namun, harapan saya harus mati sebelum bunuh diri. Ternyata rumah yang saya sudah imajinasikan berlebihan itu sudah kosong --yang kata mas-mas propertinya-- "beberapa bulan". Saya tidak yakin "beberapa bulan" cukup mendeskripsikan dengan tepat lama waktu tumpukan debu di lantai dan langit-langit terbentuk. Karena hari mulai gelap, sialnya lampu rumah sudah tidak banyak berfungsi, jadi kami harus menelusuri rumah luas tanah besar itu dengan menggunakan senter hape. Saya tidak suka menonton film uji nyali, karena saya merasa kedamaian tidur dan ke kamar mandi sendirian saya bisa terganggu. Hari itu, saya seperti sedang syuting film horor. Saya harus akui, bulu kuduk saya merinding. Jangan tanya apa respon saya soal rumah itu. 

Seperti membuka pintu rumah yang sudah lama ditinggal kosong, membuka kembali blog ini terasa memberikan kengerian yang sama. Berbulan-bulan blog ini dibiarkan kosong, membuat saya merasa takut untuk kembali menulis sesuatu, sampah sekalipun. Berkali-kali saya mencoba menulis sesuatu, tapi saya merasa terlalu idealis. Saya berusaha menulis sesuatu dengan tema yang menarik, bahasan yang tajam, sehingga menghasilkan tulisan yang tandensius. Boro-boro bahasan yang tajam apalagi tulisan yang tandensius, mencari tema yang menarik saja cukup menghabiskan setengah jam saya melongo depan laptop.

Awalnya saya memutuskan untuk menulis hal yang tidak menarik dan tidak penting, seperti “kisah perjalanan Detin Nitami selama 2015” yang ditulis dalam bahasa formal. Tapi sepertinya itu bukan ide yang baik. Karena kata Ali r.a, jangan beri tahu tentang dirimu, temanmu tidak membutuhkannya dan musuhmu tidak mempercayainya. Jadi saya tidak akan cerita kalau saya ini baik hati, ramah, anggun, dan rendah hati *BWAKAKAKAK* saya hanya mencoba menuliskan keistimewaan 2015 bagi saya. Di dalamnya hanya ada beberapa momen-momen luar biasa yang merubah arah hidup seorang saya secara keseluruhan. 2015 adalah tahun fantastis dan tahun serba gelar baru. Saya bukan tipikal orang penggila gelar yang hobi memanjang-manjangkan nama, tapi mendapat gelar Nyonya, S.KG dan Koas dalam satu tahun adalah hal yang warbiasyaaaahhh. Sebuah komposisi yang mustahil untuk tidak bersyukur karenanya.

Dan 2016 sudah datang. Ekspresi “yang bener looo???” adalah gambaran paling tepat untuk menjelaskan situasi kondisi hati dan psikologis saya. Itu artinya waktu yang ada untuk menyelesaikan apa yang harus diselesaikan semakin mendesak dan.... harus diakhiri dengan akhir yang baik. Resolusi dibuat, yang menyedihkannya adalah seringkali resolusi hanya tinggal resolusi. Yang setiap akhir tahun tidak sengaja membaca hasil tulisan resolusi awal tahun diikuti pertanyaan gila “serius gue pernah nulis ini???”

Percayalah, semenjak saya menjadi sedikit intelek, saya selalu membuat resolusi awal tahun. Dan hampir semua tahun, saya tidak memenuhi target saya. Dan target itu, dengan bodohnya terus saya tingkatkan di tahun-tahun berikutnya. Ibarat saya menargetkan untuk punya uang 5 milyar (INI HANYA ILUSTRASI HAHAHA)  di tahun 2015 yang tidak saya capai, 2016 saya malah membuat target punya uang 20 milyar. Kisah nyatanya seperti ini : target 2014 saya nambah hafalan setengah juz,  kenyataannya justru saya malah mengacaukan hafalan saya yang ada. Di 2015, saya dengan pede nya menulis lagi resolusi hafalan ditambah 2 surah lagi. Padahal hutang hafalan tahun lalu nya belum dilunasi. Atau ketika menulis resolusi 2014 berat badan xx kg, di 2015 target itu ditingkatkan lagi padahal xx kg di 2014 belum tercapai, di 2015 targetnya menjadi xx-2 kg. Kenyataannya diet always starts tomorrow. Itulah arti resolusi hanya tinggal resolusi. Sebuah tindakan menyedihkan, tapi mayoritas orang melakukannya. Kamu juga ya? Haha.

Di 2016 ini, atas bimbingan Pak Ryan, saya disuruh untuk buat resolusi jangka pendek, seperti target setiap bulan—yang kemudian diubah menjadi kebiasaan, sehingga tanpa sadar di akhir tahun kebiasaan ini membawa kita pada target yang lebih besar. Ini teoritis sekali. Memang sangat teoritis sekali. Duh.

Yang terpenting, hasil musyawarah dan kesepakatan bersama Pak Ryan, kami memutuskan untuk memprioritaskan silaturahim sebagai target 2016 kami. Menjalin tali tali yang hampir terkoyak, tercampakkan, dan compang camping, karena kami adalah makhluk-makhluk yang hina dan kurang peka, sehingga silaturahim adalah tebusan dosa bagi ketidakpekaan kami selama ini. Seringkali saya ketinggalan info atau tidak peka pada momen penting seseorang. "oh dia sekarang kerja disini?" "oh dia lanjut kuliah disana?" "oh dia udah mau nikah sama si itu?" "oh dia udah lulus?" "dia sidang hari ini? oh. (yaudah)" dan yang paling parah "oh selama ini dia teh kuliah disana?" padahal temen-temen deket semasa SMA :( gak ngerti kenapa ada orang cuek parah kaya saya gini. Bawaan lahir atau gimana sih... Orang kayak saya pantesnya jangan ditemenin. Hiks. Dan hal itulah yang akan kami perbaiki di NYC -new year ciecie- ini. Begitulah. 


Wednesday, September 9, 2015

Dear, Ry.

Dear, Ry.

alhamdulillah.. it has been 4 months since we shared our togetherness. I've been being a married woman for 122 days and (ofcourse) still counting. If i have to look back to see what we've done so far, it feels so unbelievable. I am a petulant, angered girl and just want to have my own way all of the time. I grew up as a dominant person, uncompromising, and  being childish. Sometimes I'm just like a tattle tale, complaining every unappropriate conditions (and i fly off the handle) to my self. It feels like it's eating me up from the inside out. Anger has been always one of my greatest challanges.

And.... I marry a person who truly, deeply, amazingly understand and accept my whole anger and weakness. You told me -dispite my repulsive mood- that you would do anything you could for me. You heal my anger, you taught me to be a real lady. That mood, don't let it become a cancer that grows with each passing day. I hate the feeling of being angry, especially for no particular reason. Your patience gradually remove any wedge of confusion that has created misunderstanding. You are kind to me most of the time, and you treat me reasonably decently even when you dont like my tempered mood. You said that I deserve to be treated well even when I make mistakes, and even if I make them a lot. That's why, the more I make mistake, the more I feel I love you. It's your way to taught me of learning from the mistakes.

So hi, you.. thakyou for being so patience. This awareness of our differences, since we come from two different cultures, and were raised very differently, yet we have the same strong willingness and vision of living a life. Well, I need to cosider myself as a lucky one.

Since we have been mostly long distance relationship,it's crazy how much i miss you. Everytime you go abroad or go somewhere for the sake of work, I always wait your words "Thak God I've foud you" sent to my Line, a moment before the plane take off.

Thankyou for being an example of what unrequited love looks like. A role model in so many ways. You gave me the opportunity to strive to be the talented person I am today and beyond. Thankyou for saying that I am not as weird as I thought I was; for silently saying that you will always be with me and I dont have to go through this life alone. You kind of love that runs so deep and become apart of my blood. Moving thru my body as the very essence of life itself.

But I think at least you deserve to know that somebody was once madly in love with you. Well, it's me.

I hope you enjoy my soulful writing as much as I do, although sometimes I think you've read everything i write.

Dear, Ry... Happy 4th monthiversary. Thankyou for saving me with your amazing love.


sincerely,

your wife.

Tuesday, August 25, 2015

ini loh...

Wanita berpendidikan adalah kriteria yang menggiurkan. Banyak wanita yang tidak bosan bersekolah, belajar, melahap buku-buku tebal, mengikuti ujian, menyusun penelitian, mendapat gelar, kemudian bersekolah lagi, belajar lagi, melahap buku-buku (lebih) tebal lagi, dan begitu seterusnya. Wanita berpendidikan terlihat lebih sexy dibanding wanita sexy (?). Itu sebabnya, pendidikan adalah investasi jangka panjang. Ia melahirkan ilmu, sesuatu yang berbobot, istimewa, mengesankan, dahsyat dan meningkatkan derajat, harkat serta martabat. Kecuali efek kesombongan yang sebenarnya bukan anak kandung ilmu, seluruh dampak dari ilmu adalah kebajikan.

Begitupun saya, disini, terperangkap dan teriris hatinya oleh pahitnya mencari ilmu. Ilmu yang dipelajari pun sebenarnya hanyalah sepersekian dari sepersekian sepersekiannya sepersekian keseluruhan ilmu yang ada. Tapi, sudah berapa kali saya -katakanlah- diperas dan dicabik-cabik emosinya, dibuat frustasi, dan digairahkan rasa ingin banting ini itu oleh ilmu yang ingin saya perdalam ini. Sebuah proses belajar yang luar biasa memukau dari hari ke hari, dari tingkat ke tingkat, dari ujian ke ujian. Sebuah proses yang membuat saya menyadari bahwa sesuatu yang berharga itu memang SANGAT LAYAK untuk diperjuangkan. 

Kita sudahi bahasan tentang pentingnya pendidikan. Ini saatnya saya menceritakan kehidupan per-co-ass-an. Sudah 6 bulan lamanya saya berjuang untuk tetap hidup normal dan bahagia menjadi seorang koas. Koas FKG, sebuah sistem yang apa adanya, dan tidak menuntut muluk-muluk pada ambisi mahasiswanya. Mahasiswa yang berapi-api untuk cepat lulus akan cepat lulus dan mahasiswa yang ingin ngadem terus di rumah sakit, akan lambat lulus. Jadi saya sering bingung dengan teman-teman sepermainan saya yang sedang menempuh koas kedokteran umum, selalu bilang "aku lagi di stase (blablabla--hampir semua stase -,-) gak mungkin bisa izin cuti". What? Lha gue...."gak masuk sebulan juga ya terserah lo aja." (kecuali beberapa stase). Kelulusan koas bukan dilihat dari seberapa rajin datang, say hello, atau menjenguk rumah sakit. Tapi dari requirement kasus yang diberikan. Itulah mengapa angkatan 2004 masih ada yang belum lulus dokter gigi. Kebayang, 11 tahun ngapain aja? Saya sih enggak.

Menurut rencana awal, pendidikan koas diberikan dalam 3 semester. Entah ada angin apa, rencana itu seringkali molor, dan hanya seperintil makhluk yang bisa lulus hanya 3 semester. Ceritanya akan melegenda, menjadi topik gosip kami para koas yang butuh motivasi dan role model. 

Kami diharuskan mencari pasien untuk tipe kasus yang diberikan. Tidak perlu saya deskripsikan sulitnya seperti apa, karena saya bukan artis dengan follower ribuan yang sekali posting "ada yang mau jadi pasien?" 12893 comments"saya mau dong kak" muncul. Belum lagi peristiwa PHP dari pasien yang tidak jadi datang, yang ribet, yang tidak kooperatif, yang tidak mengerti keluh kesah gundah gulana hati para koas. Dan jangan lupa, pasien lebay yang baru disentuh giginya sedikit sudah teriak kesakitan, jingkrak-jingkrak seoalah-olah kami sedang menikam jantungnya, padahal giginya sedang tidak diapa-apakan. Rasanya ingin memulangkan pasien seperti itu dengan keadaan damai. Pergi ke dokter gigi juga butuh kekuatan psikologis, kan? Kami bukan algojo, kami memeriksa dengan cinta, kelembutan dan kasih sayang *pppffftttt.

Ah ya! setiap pekerjaan kami selalu diawasi oleh dokter yang berwenang. Tapi percayalah, keberuntungan selalu ada bagi mereka yang ditutori oleh dokter-dokter berhati malaikat. Beberapa dokter punya style mendidik yang berbeda, nyentrik, dan... ya begitulah. Saya sedang tidak selera membahas tentang dosen. Biarkan mereka dengan style nya, dengan tingkat kesulitan meng-acc-kan pekerjaan, dengan peraturannya. Jadi, ada koas yang cepat lulus karena selalu dapat dosen yang baik hati, ada yang pekerjaannya sulit maju karena direbetkan oleh kebijakan dosennya. Percayalah, banyak dosen yang berbeda prinsip, jadi kami harus menelan bulat-bulat didikan "dokter X inginnya gini, tapi kalau ke dokter Y harusnya kaya gitu". Kami sudah ahli untuk berbesar hati menerima perbedaan.

Kehidupan koas seperti misteri. Kadang saya butuh ketenangan untuk memikirkan masa depan saya. Saya sangat mengagumi ilmu ini, ilmu yang akan membantu meningkatkan kepercayaan diri seseorang secara drastis. Bagaimana tidak, kadang orang dengan gigi berantakan akan malu tersenyum, apalagi ditambah bau mulut. eerghhh. Dokter gigi hadir untuk memberikan senyum terbaik, kesehatan tubuh secara paripurna, dan blablabla --ini bukan promosi.


Tapi, kenapa saya tetap merasa beruntung terjerumus dalam pahitnya mencari ilmu bidang ini? Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Menikmati peran sebagai (calon) dokter gigi, bermain dengan seni, teknik, dan proses penyembuhan. Ah iya, mari kita teriakkan : sesuatu yang berharga memang sangat layak untuk diperjuangkan.

Selamat berjuang. Semoga selamat sampai tujuan.




Sunday, August 23, 2015

Friday, August 7, 2015

Wedding Vendor : Gedung

Selamat 3 bulan pernikahan!
Kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang proses persiapan pernikahan, khususnya tentang vendor pernikahan saya.

Hal pertama setelah proses khitbah dan menetapkan tanggal pernikahan adalah segera mencari gedung lokasi pernikahan. Saya berdomisili di Rancaekek, sehingga keluarga saya inginnya mencari gedung yang dekat dengan lokasi rumah saya. Sayangnya, tidak ada gedung besar di area sekitar rumah. Satu-satunya yang bisa dijadikan opsi adalah daerah jatinangor, dan satu-satunya gedung yang  luas sesuai versi "luas" nya saya adalah Balairung IPDN.

Akhir 2013 saya konsultasi dengan salah satu dosen di IPDN terkait peminjaman gedung, karena biasanya gedung hanya dapat digunakan untuk acara internal kampus atau ada salah satu pejabat kampus yang mau menggunakannya. Jadi ya kalau anak dosen IPDN mau menikah di gedung itu, perizinan gampang.

Kebetulan dosen ini tetangga saya. Saya dianggap saudaranya dalam proses perizinan. Tetangga saya ini selalu berkata “tenang aja” setiap kami tanya progres peminjaman gedung. Berbulan-bulan saya mengidam-idamkan gedung seluas itu untuk menikah. Sampai akhirnya, akhir bulan Februari 2014 (artinya sudah 3 bulan kami digantung tanpa kabar) tetangga kami mengabarkan bahwa Balairung Rudini tidak bisa dipinjamkan untuk orang internal maupun ekternal, (kecuali jabatan orang internal IPDNnya tinggi kali ya -,-). Masih tidak bisa terima, karena terlalu lama menunggu, tanpa penjelasan, dan tanpa hasil yang diperjuangkan dengan maksimal, akhirnya kami menemui teman Mama yang menjadi petinggi di IPDN. Ibu ini menjelaskan secara rinci prosedur peminjaman.

Teknisnya, apapun kegiatannya, acara internal kampus akan tetap menjadi prioritas. Dulu, ibu ini pernah mengurusi tetangganya yang juga ingin menikahkan anaknya di IPDN, tapi 2 minggu sebelum acara (which is undangan pasti sudah disebar dong) kampus mendadak mengadakan acara kuliah umum dari salah satu Gubernur untuk para Praja (mahasiswa) nya di tanggal yang sama. Akhirnya dengan berat hati, keluarga ini harus pindah tempat di gedung kecil pinggir IPDN. Untungnya, 4 hari sebelum hari H, kuliah umum dari Gubernur dibatalkan karena satu dan lain hal, dan Balairung jadi kosong pada tanggal tersebut.
Jadi, gimana gak was-was coba kalau teknisnya seperti itu???

Saya menikah bulan Mei, bulan-bulan mendekati penerimaan Praja baru, biasanya akan banyak agenda bersama di Balairung. Kecuali saya menikah di bulan November, atau waktu libur semester IPDN, otomatis gedung tidak akan digunakan untuk kegiatan kemahasiswaan.

Keluarga saya memilih untuk tidak mengambil resiko yang tidak bisa diprediksi itu. Lebih baik mencari alternatif gedung lain dan kami jadi bisa fokus tenang memikirkan persiapan yang lain. Karena bagaimanapun, gedung resepsi menjadi salah satu list persiapan ynag cukup penting yang harus dipertimbangkan.

Waktu yang tersisa hanya tinggal 2 bulan saja, saya belum mendapatkan gedung pernikahan. Setelah mendapat kabar sulitnya peminjaman gedung IPDN, saya segera survey ke gedung-gedung lain. Kurang lebih ada 15 gedung yang saya survey sana sini. Yang paling besar Pusdai, tapi sudah full booked -,-

Akhirnya, dengan izin Allah, ketemu juga satu gedung luas dan tinggi di daerah Soekarno-Hatta.


Istana Kana Kawaluyaan.

Salah satu area dekat Soekarno Hatta, namanya daerah Kawaluyaan ada satu gedung yang orang-orang bilangnya gedung Batak, karena biasa digunakan untuk acara pernikahan batak, meskipun pernikahan umum juga sering diselenggarakan.

Begitu lihat gedungnya, saya jadi nostalgia lagi dengan IPDN. Baru Istana Kana lah yang bisa saya sejajarkan luasnya dengan Balairung (untuk area Soekarno Hatta). Atapnya tinggi banget, jadi terasa adem. Jendelanya banyak, jadi terang. Parkirannya luas sekali. Dan di awal Mei masih bisa booking. Saya semacam jatuh hati sama Istana Kana. Setelah berdiskusi dengan keluarga saya maupun kang Ryan, akhirnya kami sepakat untuk memilih Istana Kana sebagai tempat resepsi pernikahan kami. Untuk harga, meskipun mahal tapi tetap worth it. Kalau Anda tertarik dan ingin tahu info lebih lanjut bisa datang sendiri ke Istana Kana atau tanya langsung ke saya hehe.


kebayang gak, 3 undak bangunan itu adalah tinggi dari atap gedung. Tinggi banget kan? 

tampak samping
parkirannya luas
tampak samping

denah Istana Kana Kawaluyaan. minta aja langsung ke pihak Istana Kana.


akhirnya, nemu juga yang sesuai dengan keinginan. Dan lokasi juga di pertengahan antara lokasi rumah dan pusat kota. Alhamdulillah :) 

Friday, July 24, 2015

Jadi, Bagaimana Kami Bertemu? (3)


2 November 2014. Setelah sebelumnya memberi kabar kepada sanak saudara, kerabat orang tua, dan sahabat-sahabat lain, akhirnya hari yang ditunggu datang juga.

2 November 2014, tepat satu tahun sejak pertama kali saya mengenal sosoknya, akhirnya saya dikhitbah. Saya memilih menyelenggarakan khitbahan di aula Rumah Makan Sukahati, tidak begitu jauh dari rumah. Alasannya karena berdasarkan pengalaman khitbahan kakak saya dulu, mama lumayan kelelahan untuk menjamu tamu dengan masakan dll. Akhirnya kami putuskan untuk membeli catering Rumah Makan Sukahati yang biasa menyediakan paketan untuk nikahan atau rapat.

Rencananya sekalian mau sewa aulanya. Ternyata, saya bisa menggunakan aula nya dengan gratis, alhamdulillah. Jadilah saya memesan catering makanan untuk 60 porsi saja, tanpa tambahan lain.

Ketika sampai, ternyata ruang aula sudah dikondisikan jauh lebih bagus dari yang saya perkirakan. Semua kursinya dibungkus kain penutup, padahal saya tidak minta, dan posisi saling berhadapan untuk dua keluarga pun sudah di setting sedemikian rupa.

Deg-degan. Salting, ga paham harus ngapain. Sampai pihak keluarga pria datang.
Pembawa acara mempersilakan kedua pihak keluarga duduk di tempatnya masing-masing, saling berhadapan. Ada sekitar 60an tamu yang hadir, kebanyakan saudara dari Tangerang, kerabat Mama, dan sahabat kami berdua.


Rangkaian acaranya sederhana dan terhitung singkat. Mulai pukul 9.20 wib dan selesai sekitar pukul 10.30 wib dilanjut makan-makan dan bincang-bincang. Kurang lebih rangkaian acaranya ini,

1. Pembukaan

MC membuka acara dengan doa, sambil menjelaskan inti acara khitbah



 




   2. Pengutaraan maksud dan tujuan dari pihak pria

Dari pihak pria, yang berbicara adalah ayahnya. Beliau menjelaskan tujuan datang jauh-jauh dari Balikpapan adalah untuk meminang-kan anaknya pada saya. Tujuan-tujuan lain boleh ditambahkan, misalnya untuk silaturahim, dll.




  3. Pengenalan anggota keluarga yang hadir dari pihak pria

Sekaligus diwakilkan oleh ayahnya, mengenalkan siapa saja yang hadir dari pihak mereka.




   4. Jawaban diterima / tidak dari pihak wanita

Kali ini yang berbicara adalah ayah saya. Padahal sebelumnya tidak pernah dibriefing dulu, haha. Tiba-tiba MC memanggil ayah untuk menjawab pinangan pihak pria.
Setelah ayah menyatakan menerima, MC bertanya pada saya sendiri, apakah menerima Ryan / tidak. Saya cuma senyum-seyum, kata MC, “jika wanita diam, artinya ‘ya’” haha. Terus agar suasana cair, MC malah balik bertanya pada Ryan, “nak Ryan, coba pastikan yang mana ananda Detin itu? Coba tunjuk dari sekian banyak wanita disini, siapa tau selama ini salah kira” hahaha. Akhirnya Ryan menunjuk saya, “yang itu...” katanya, hahaha








5.Pengenalan anggota keluarga yang hadir dari pihak wanita



Selanjutnya pengenalan anggota keluarga saya diwakilkan oleh abang ipar saya. Bang Husni memperkenalkan kami beserta keluarga-keluarga yang hadir. Bang Husni menjelaskan sifat dan sosok Ryan yang dia kenal sejak di kampus, dan menjelaskan sifat dan sosok saya selama ia kenal sebagai adik iparnya. Bang Husni bilang, dua sifat kami bisa saling melengkapi. Diakhiri dengan sabda rasul “sembunyikan lamaran dan umumkan pernikahan” untuk mengingatkan tamu udangan yang hadir agar tidak menyebarluaskan berita khitbah ini ke khalayak. *tapi itu susah banget, pasti aja ada bocornya*

 


     6.  Penyerahan simbolis hantaran dari pihak pria

Jadi pihak pria sebelumnya menyiapkan hantaran atau semacam seserahan. Hantaran yang diberikan ada parcel buah, kue kering, macam-macam bolu, jilbab, dan tentu saja Harvest ukuruan besar berukiran “Ryan dan Detin” hehe. Simbolis ini diberikan dari Ibunya Ryan ke Mama saya.



     7. Penyematan cincin

Penyematan cincin ini diberikan oleh ibunya Ryan dan disematkan di jari manis tangan kiri saya. Kamudian salam, dan jepret jepret macem artis.

 



.     8. Tausyiah dan Doa

Selanjutnya adalah tausyiah yang dibawakan oleh Ustadz kerabat ayah. Sekitar setengah jam mendengarkan tausyiah, lalu doa, dan  akhirnya acara ditutup


.      9. Penutupan

Setelah mc tutup, acara dilanjutkan dengan info-info, seperti misalnya info pendiskusian tanggal pernikahan akan dilaksanakan di rumah saya, dirundingkan oleh kedua pihak keluarga setelah acara khitbah di aula ini selesai. Sambil menunggu makanan disajikan, kami foto-foto antar keluarga. Karena statusnya saya belum jadi mahram nya Ryan, jadi kami tidak ambil foto berdua. Sesi foto pertama adalah ryan bersama keluarga intinya dan keluarga inti saya. Lalu gantian saya yang foto. Terus dengan keluarga dan teman-teman yang lain.






 10. Makan-makan

sudah siang, sudah waktunya breakfast-lunch. Karena tanggung jam 11.00 hehe. Selasai makan dan ngobrol-ngobrol, beberapa tamu pamit pulang, keluarga-keluarga dari Tangerang pun pulang karena besoknya sudah Senin dan harus bekerja. Selanjutnya ba’da dzuhur di masjid Sukahati, keluarga inti dan keluarga saya dari Kopo  serta keluarga inti ryan berangkat ke rumah saya untuk mendiskusikan tanggal pernikahan.

dimana-mana serangan foto teman-teman -,-

 









Acara khitbah selesai. Di rumah, telah ditetapkan tanggal pernikahan jatuh pada 9 Mei 2015. Keperluan-keperluan dasar dibahas, dan nasihat-nasihat juga diberikan dari para orang tua. Selanjutnya bincang-bincang, dan tidak terasa hari sudah sore menjelang magrib. Akhirnya keluarga Ryan pamit pulang. Dan.. seninnya saya UTS. Haha.