Monday, March 21, 2016

little escape

Beberapa hari sebelum menikah,  calon-saya-waktu-itu mendapat tawaran mengisi acara kemahasiswaan di Maluku pada 11 Mei 2015. Itu berarti tepat dua hari setelah hari pernikahan kami. Berhubung kami belum merencanakan apapun tentang sesuatu yang orang-orang bilang bulan madu, calon-saya-waktu-itu mengajak saya untuk sekalian jalan-jalan di Maluku. Saya yang waktu itu tidak punya pilihan apa-apa, akhirnya mengiyakan, karena sebenarnya jiwa raga saya sedang ditarik-tarik oleh deadline penyelesaian skripsi sarjana. Maklum, saya mah orangnya agak-agak ambisius mengakhiri apa yang bisa dicicil-cicil dari masa studi ini hahahaha.

Maka, dengan segala kebutaan tentang Maluku dan segala isinya, kamipun berangkat tengah malam dari bandara Soetta menuju bandara Pattimura dengan diwarnai adegan muntah-muntah sepanjang perjalanan, karena badan saya diforsir habis-habisan. Mulai dari H-2 nikah, saya masih belibet dengan penelitian, bolak-balik rumah-jatinangor, ditambah perawatan pra nikah yang membuat saya masuk angin karena harus berendem di air susu berjam-jam sampe ileran, malem sebelum nikah saya mencret-mencret sampai harus ikut ke wc tetangga karena wc di rumah penuh sama keluarga, hari H nya saya harus berdiri dengan tegar diatas sepatu ber-hak 12cm tipis yang tidak pernah saya gunakan sebelumnya selama hidup saya, alhamdulillah semuanya lancar.

Sesampainya di Bandara Pattimura, ada perwakilan panitia acara yang sudah menunggu kami. Acara diadakan di Masohi, Maluku Tengah, Kepulauan Seram. Perjalanan dari bandara menuju kesana? Beuh. Panjang.

Diawali dengan perjalanan dari bandara menuju pelabuhan Tulehu, Ambon, menggunakan mobil yang disediakan panitia sekitar 30 menit. Sepanjang perjalanan terlihat rumah-rumah penduduk yang masih berkubu-kubu sesuai agama. Mayoritas penduduk kota Ambon adalah penganut kristiani, sepanjang jalan kita akan melihat kayu berbentuk salib setinggi 2 meter dipancangkan di depan setiap rumah mereka.  Beberapa meter kemudian kita akan melihat kumpulan rumah tanpa salib, itu pertanda pemukiman warga muslim. Beberapa ratus meter kemudian perumahan kristiani, lalu perumahan muslim lagi. Jadi semuanya sudah ada wilayahnya masing-masing. Ambon sering dilanda konflik agama, sampai terjadi kerusuhan. Pemerintah Ambon berupaya untuk terus meningkatkan kehidupan toleransi beragama. Kepala daerah Ambon dan wakilnya selalu berbeda agama mungkin sebagai representasi  agama penduduknya. Kalau kepala daerahnya muslim, wakilnya kristiani, kalau kepala daerahnya kristiani, wakilnya muslim. Haha unik ye.

 Lanjut naik kapal cepat dari pelabuhan Tulehu, Ambon, menuju pelabuhan Amahai  yang jam keberangkatannya hanya 2 kali dalam sehari, yaitu pukul 9 pagi dan 3 sore dengan lama perjalanan 3 jam, kalau ketinggalan, akses lain menuju Masohi adalah menggunakan Ferry dengan perjalanan yang lebih lama yaitu  5 jam!
di belakang : kapal cepat dari Tulehu - Amahai











Sampai di pelabuhan Amahai, ke pusat kabupaten Masohi harus menggunakan kendaraan sekitar 1 jam. Kita bisa sewa mobil yang ada di daerah pelabuhan. Tapi berhubung kami dijemput oleh panitia, jadilah kita naik mobil panitia. Dan sampailah kami di Kabupaten Masohi, Maluku Tengah. Kota yang....tenang... (atau sepi ya?). “saking sepinya Masohi, kabar pemilihan presiden kemarin saja kami tidak tahu” kata supir yang mengantar.

Ada yang sangat berbeda dari seminar-seminar yang biasa saya ikuti di Bandung *maklum, anaknya dulu pemburu sertifikat gitu deh hahaha* dibanding dengan di Maluku. Setelah suami selesai mengisi acara tentang dakwah kampus untuk Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) wilayah Maluku, sesi pertanyaan dibuka. Kalau biasanya di Bandung hanya tiga sampai empat tangan yang terangkat untuk bertanya, disana.... hampir semua tangan terangkat. Sambil ribut teriak “saya dulu..saya dulu. Heyyy moderator! Lihat saya dulu...” sang moderator dengan tenangnya berkata, “tenang saudaraku..kita ulangi, semua tangan di bawah. Hai kamu! Turunkan dulu tanganmu. Hitungan ketiga baru kalian angkat tangan.” Hampir semua tangan kembali terangkat, baik pria maupun wanita. Beberapa pria sampai maju ke depan podium, mengerumuni moderator yang sampai harus turun panggung hanya untuk memilih siapa yang mendapat kesempatan bertanya. Bayangkan. Akhirnya sang moderator mengeluarkan kalimat saktinya, “Saudaraku.. adab lebih utama daripada ilmu! Ta’limul adab qobla anta ta’limul ilmi! Jaga adab! Jaga adab!Tenang semuanya..tenang!” lima belas menit terbuang hanya untuk berunding bagaimana teknis yang tepat untuk sesi pertanyaan. Di depan sana, suami saya malah asyik menyantap kue-kuenya.
Setelah selesai acara, kami bingung hendak kemana. Hari itu, kami baru menikah 2 hari yang lalu. Tanpa perencanaan untuk “jalan-jalan-pasca-nikah”. Salah seorang panitia wanita menghampiri karena mungkin kasian liat muka saya : pengantin-baru-butuh-liburan. Dia menyarankan untuk berkunjung ke Pantai Ora, di pulau Seram, dekat dengan Masohi . karena tidak punya opsi lain, dan berhubung sedang ada di Masohi, maka dengan semena-mena saya mengiyakan tawarannya. Karena kami bukan backpacker, jadi kami harus menyewa satu mobil dengan harga 1,5 juta untuk sehari. Pingin nangis berbie.

Kami berangkat ditemani 2 orang pemandu, Matu dan Bonang. Sebelum berangkat, ternyata ada 3 orang backpacker lain yang ingin ambil keuntungan dan keberuntungan dengan menumpang mobil sewaan kami.  Jangan berharap terlalu tinggi pada petualang seperti mereka, didesak bagaimanapun juga mereka akan teguh bersikukuh pantang mundur untuk mengeluarkan biaya transportasi seminim-minimnya dengan berbagai macam alasan, seperti alasan mereka hanya ikut perginya saja, pulangnya tidak ikut. Jadi mereka hanya menyumbang 100ribu perorang. Jadilah kami yang bayar 1,2juta sisanya. “ikan-ikan dan semua di Masohi  ini murah Caca (panggilan kakak untuk wanita di Ambon) yang mahal cuma satu, TRANSPORTASI.” Kata Matu.  Lumayanlah, perjalanan 3 jam menuju dari Masohi menuju Pantai Ora lebih ramai dan seru.
saya-suami-Matu-dan-kawanan-orang-orang-itu
Setelah sampai di perbatasan, kami harus menyebrang menggunakan perahu kecil untuk sampai di Pantai Ora. Harganya lupa berapa, kalau gak salah 300ribu untuk menyebrang--yang kalau saya pejamkan sebelah mata, jaraknya cuma segede upil. Deket banget, tapi gak mungkin dong berenang nyebrang pulau. Saat pulang, orang yang sama akan menjemput kami kembali menyebrang, jadi uangnya dibayarkan setelah kembali dari Pantai Ora.
menyebrang pulau 


Disana kami menginap satu malam. Pantainya masyaAllah cantik. Kami bisa melihat trumbu karang dan ikan-ikan hanya dengan berjalan kaki 2 meter dari pantai. Kamar-kamar yang langsung di atas laut sudah penuh terisi, jadi kami terpaksa ambil kamar di pinggir pantai.
tempat kami menginap
pantainya sepi, kecil,benar-benar terisolasi dari bisingnya dunia. tempat yang tepat untuk menenangkan pikiran yang kusut. Disana kami bertemu pasangan lain, sama-sama sedang bulan madu, sisanya ada satu keluarga dan orang bule. Pantai ini dikelilingi gunung. Desainnya mirip-mirip Maldives, padahal saya belum pernah ke Maldives, tapi kata mbah google sih gitu. Karena dikelilingi gunung, jadilah pantai rasa gunung. jadi hawa nya udara gunung tapi pemandangannya pantai. Terimakasih Allah, Allah ngerti banget kulit saya gak bersahabat sama udara pantai.
sunset
maklum, baru nikah







begitulah cerita jalan-jalan-pasca-nikah kami. Semoga jalan-jalan selanjutnya lebih greget. Semoga cepet lulus koas, biar waktu buat jalan-jalannya banyak. aamiin.

Friday, February 26, 2016

Addie

Ada beberapa reality show yang dikemas dengan apik menyajikan tontonan yang menarik, beberapa lainnya hanya menampilkan tayangan yang terlalu dibuat-buat. Reality show Indonesia misalnya, masih banyak yang hanya menawarkan suguhan komedi yang garing dan hambar, lelucon yang didapat dari ejekan karena sifat atau rupa salah satu pemain. Ngomong-ngomong soal reality show, sebenarnya salah satu yang saya suka tonton adalah MasterChef US.

Dari sekian banyak episode MasterChef Junior US season4, ada satu episode yang sangat saya suka. Sebentar, sebelum saya bahas tentang episodenya, saya mau membeberkan alasan saya sangat menyukai reality show yang satu ini. Pertama, MasyaAllah...... usia 8-12 tahun, anak-anak.... usia dimana saya masih ingusan dan cuma bisa main-main pasir di depan rumah orang yang sedang dibangun atau mengoyak-ngoyak kotoran di selokan, mereka sudah hafal di luar kepala bahan-bahan makanan yang bahkan belum pernah saya lihat. Mereka bahkan lihai memotong makanan seolah pisau yang tajam adalah sahabat karib, sedangkan di usia itu, saya masih merasa pisau adalah benda yang tabu dan keramat, berbahaya dan harus dihindari anak-anak. Kedua, saya sangat suka pesan-pesan moral yang disampaikan para juri, terutama Gordon Ramsay, bagaimana mereka mendidik peserta dengan cara-cara yang sangat children-friendly.

Dalam beberapa episode, juri membagi peserta mejadi dua kelompok dan keduanya harus bersaing dengan dipimpin seorang kapten tim. Pemenang MasterChef Junior US season 4, Addison, bocah 9 tahun, sering menjadi kapten tim karena memenangkan tantangan pada babak sebelumnya. Kalau saya lihat, Addison memiliki kemampuan leadership yang paling bagus dibandingkan peserta lainnya.  Cara Gordon Ramsay menyadarkan Addison saat timnya mengalami kemuduran dan hilang fokus dalam memasak adalah dengan bertanya "Addie, apa yang akan kamu lakukan jika semangat tim baseballmu mulai menurun?" Karena Addison adalah seorang kapten tim baseball di sekolahnya, dia tahu bagaimana menyemangati rekan timnya. "Saya akan terus menyemangati dan memberi arahan dengan baik, Chef" Addison sudah pandai mengatur strategi sebagai seorang kapten tim, dan itu adalah pola yang terbentuk dari kebiasaannya memimpin sebuah tim baseball. Dia mendelegasikan tugas dengan sangat baik, membagi peran pada anggota lain sesuai kelebihan mereka.

Hal unik yang ingin saya ekspose adalah tentang pola kebiasaan yang terbentuk dalam diri seorang anak. Waktu dulu saat saya masih muda beda dan berbahaya *?!*%$^*, saya sempat baca buku The Leader in Me- nya Stephen Covey. Jelas, pembiasaan pembentukan sikap kepemimpinan pada anak sejak dini akan memudahkan mereka membentuk diri mereka di kemudian hari. Addison jadi mengingatkan saya tentang buku itu lagi, dan berpikir apa nanti anak saya sebaiknya ikut baseball dan dia jadi kapten tim nya? tuh kan, saya emang gak kreatif. Tapi semua peserta MasterChef Junior tetap mengiris-iris hati saya, membuat saya iri dengki, karena di usia kepala dua ini saya cuma bisa masak itu dan itu *nunjuk makanan yang itu lah pokonya*

Nanti kalau saya punya anak, saya akan ajak dia nonton MasterChef Junior. Menunjukkan kalau di usia anak-anak pun potensi seseorang harus sudah bisa digali. Padahal emaknya sekarangpun belum menggali apa-apa tentang dirinya. Mohon maaf nak, Mak mu ini insyaAllah akan mendidikmu dengan sekuat tenaga. Dan pertanyaan yang dari dulu hingga sekarang tidak bosan-bosan mereka -orang-orang yang dijumpai dimanapun kapanpun siapapun- adalah "Detin udah isi?" bffzzzzzzz. InsyaAllah di waktu yang tepat adalah jawaban paling bijaksana. Ya kan?

Sunday, January 10, 2016

NYC.

Aktivitas weekend saya selama empat bulan terakhir cukup melelahkan. Kesana kemari, menelusuri jalanan Bandung mencari "jodoh". Saya baru tahu, ternyata mencari rumah lebih sulit dari mencari pasangan. Puluhan rumah sudah kami lihat-lihat. Beribu-ribu kilobyte sudah kami habiskan untuk membuka setumpuk iklan jual rumah. Sampai detik saya menulis ini, saya belum berjodoh. Belum ada rumah yang membuat saya kasmaran sampai berkeinginan untuk memikirkannya siang dan malam.

Pernah ada satu hari, saya melihat iklan rumah dengan luas tanah besar namun harga miring, saya langsung jingkrak-jingkrak seperti orang yang baru dapat hadiah umroh gratis. Saya langsung suruh cowok saya telepon orang propertinya. Singkat cerita, sepulang saya klinik, sekitar jam 5 kami berangkat. Namun, harapan saya harus mati sebelum bunuh diri. Ternyata rumah yang saya sudah imajinasikan berlebihan itu sudah kosong --yang kata mas-mas propertinya-- "beberapa bulan". Saya tidak yakin "beberapa bulan" cukup mendeskripsikan dengan tepat lama waktu tumpukan debu di lantai dan langit-langit terbentuk. Karena hari mulai gelap, sialnya lampu rumah sudah tidak banyak berfungsi, jadi kami harus menelusuri rumah luas tanah besar itu dengan menggunakan senter hape. Saya tidak suka menonton film uji nyali, karena saya merasa kedamaian tidur dan ke kamar mandi sendirian saya bisa terganggu. Hari itu, saya seperti sedang syuting film horor. Saya harus akui, bulu kuduk saya merinding. Jangan tanya apa respon saya soal rumah itu. 

Seperti membuka pintu rumah yang sudah lama ditinggal kosong, membuka kembali blog ini terasa memberikan kengerian yang sama. Berbulan-bulan blog ini dibiarkan kosong, membuat saya merasa takut untuk kembali menulis sesuatu, sampah sekalipun. Berkali-kali saya mencoba menulis sesuatu, tapi saya merasa terlalu idealis. Saya berusaha menulis sesuatu dengan tema yang menarik, bahasan yang tajam, sehingga menghasilkan tulisan yang tandensius. Boro-boro bahasan yang tajam apalagi tulisan yang tandensius, mencari tema yang menarik saja cukup menghabiskan setengah jam saya melongo depan laptop.

Awalnya saya memutuskan untuk menulis hal yang tidak menarik dan tidak penting, seperti “kisah perjalanan Detin Nitami selama 2015” yang ditulis dalam bahasa formal. Tapi sepertinya itu bukan ide yang baik. Karena kata Ali r.a, jangan beri tahu tentang dirimu, temanmu tidak membutuhkannya dan musuhmu tidak mempercayainya. Jadi saya tidak akan cerita kalau saya ini baik hati, ramah, anggun, dan rendah hati *BWAKAKAKAK* saya hanya mencoba menuliskan keistimewaan 2015 bagi saya. Di dalamnya hanya ada beberapa momen-momen luar biasa yang merubah arah hidup seorang saya secara keseluruhan. 2015 adalah tahun fantastis dan tahun serba gelar baru. Saya bukan tipikal orang penggila gelar yang hobi memanjang-manjangkan nama, tapi mendapat gelar Nyonya, S.KG dan Koas dalam satu tahun adalah hal yang warbiasyaaaahhh. Sebuah komposisi yang mustahil untuk tidak bersyukur karenanya.

Dan 2016 sudah datang. Ekspresi “yang bener looo???” adalah gambaran paling tepat untuk menjelaskan situasi kondisi hati dan psikologis saya. Itu artinya waktu yang ada untuk menyelesaikan apa yang harus diselesaikan semakin mendesak dan.... harus diakhiri dengan akhir yang baik. Resolusi dibuat, yang menyedihkannya adalah seringkali resolusi hanya tinggal resolusi. Yang setiap akhir tahun tidak sengaja membaca hasil tulisan resolusi awal tahun diikuti pertanyaan gila “serius gue pernah nulis ini???”

Percayalah, semenjak saya menjadi sedikit intelek, saya selalu membuat resolusi awal tahun. Dan hampir semua tahun, saya tidak memenuhi target saya. Dan target itu, dengan bodohnya terus saya tingkatkan di tahun-tahun berikutnya. Ibarat saya menargetkan untuk punya uang 5 milyar (INI HANYA ILUSTRASI HAHAHA)  di tahun 2015 yang tidak saya capai, 2016 saya malah membuat target punya uang 20 milyar. Kisah nyatanya seperti ini : target 2014 saya nambah hafalan setengah juz,  kenyataannya justru saya malah mengacaukan hafalan saya yang ada. Di 2015, saya dengan pede nya menulis lagi resolusi hafalan ditambah 2 surah lagi. Padahal hutang hafalan tahun lalu nya belum dilunasi. Atau ketika menulis resolusi 2014 berat badan xx kg, di 2015 target itu ditingkatkan lagi padahal xx kg di 2014 belum tercapai, di 2015 targetnya menjadi xx-2 kg. Kenyataannya diet always starts tomorrow. Itulah arti resolusi hanya tinggal resolusi. Sebuah tindakan menyedihkan, tapi mayoritas orang melakukannya. Kamu juga ya? Haha.

Di 2016 ini, atas bimbingan Pak Ryan, saya disuruh untuk buat resolusi jangka pendek, seperti target setiap bulan—yang kemudian diubah menjadi kebiasaan, sehingga tanpa sadar di akhir tahun kebiasaan ini membawa kita pada target yang lebih besar. Ini teoritis sekali. Memang sangat teoritis sekali. Duh.

Yang terpenting, hasil musyawarah dan kesepakatan bersama Pak Ryan, kami memutuskan untuk memprioritaskan silaturahim sebagai target 2016 kami. Menjalin tali tali yang hampir terkoyak, tercampakkan, dan compang camping, karena kami adalah makhluk-makhluk yang hina dan kurang peka, sehingga silaturahim adalah tebusan dosa bagi ketidakpekaan kami selama ini. Seringkali saya ketinggalan info atau tidak peka pada momen penting seseorang. "oh dia sekarang kerja disini?" "oh dia lanjut kuliah disana?" "oh dia udah mau nikah sama si itu?" "oh dia udah lulus?" "dia sidang hari ini? oh. (yaudah)" dan yang paling parah "oh selama ini dia teh kuliah disana?" padahal temen-temen deket semasa SMA :( gak ngerti kenapa ada orang cuek parah kaya saya gini. Bawaan lahir atau gimana sih... Orang kayak saya pantesnya jangan ditemenin. Hiks. Dan hal itulah yang akan kami perbaiki di NYC -new year ciecie- ini. Begitulah. 


Wednesday, September 9, 2015

Dear, Ry.

Dear, Ry.

alhamdulillah.. it has been 4 months since we shared our togetherness. I've been being a married woman for 122 days and (ofcourse) still counting. If i have to look back to see what we've done so far, it feels so unbelievable. I am a petulant, angered girl and just want to have my own way all of the time. I grew up as a dominant person, uncompromising, and  being childish. Sometimes I'm just like a tattle tale, complaining every unappropriate conditions (and i fly off the handle) to my self. It feels like it's eating me up from the inside out. Anger has been always one of my greatest challanges.

And.... I marry a person who truly, deeply, amazingly understand and accept my whole anger and weakness. You told me -dispite my repulsive mood- that you would do anything you could for me. You heal my anger, you taught me to be a real lady. That mood, don't let it become a cancer that grows with each passing day. I hate the feeling of being angry, especially for no particular reason. Your patience gradually remove any wedge of confusion that has created misunderstanding. You are kind to me most of the time, and you treat me reasonably decently even when you dont like my tempered mood. You said that I deserve to be treated well even when I make mistakes, and even if I make them a lot. That's why, the more I make mistake, the more I feel I love you. It's your way to taught me of learning from the mistakes.

So hi, you.. thakyou for being so patience. This awareness of our differences, since we come from two different cultures, and were raised very differently, yet we have the same strong willingness and vision of living a life. Well, I need to cosider myself as a lucky one.

Since we have been mostly long distance relationship,it's crazy how much i miss you. Everytime you go abroad or go somewhere for the sake of work, I always wait your words "Thak God I've foud you" sent to my Line, a moment before the plane take off.

Thankyou for being an example of what unrequited love looks like. A role model in so many ways. You gave me the opportunity to strive to be the talented person I am today and beyond. Thankyou for saying that I am not as weird as I thought I was; for silently saying that you will always be with me and I dont have to go through this life alone. You kind of love that runs so deep and become apart of my blood. Moving thru my body as the very essence of life itself.

But I think at least you deserve to know that somebody was once madly in love with you. Well, it's me.

I hope you enjoy my soulful writing as much as I do, although sometimes I think you've read everything i write.

Dear, Ry... Happy 4th monthiversary. Thankyou for saving me with your amazing love.


sincerely,

your wife.

Tuesday, August 25, 2015

ini loh...

Wanita berpendidikan adalah kriteria yang menggiurkan. Banyak wanita yang tidak bosan bersekolah, belajar, melahap buku-buku tebal, mengikuti ujian, menyusun penelitian, mendapat gelar, kemudian bersekolah lagi, belajar lagi, melahap buku-buku (lebih) tebal lagi, dan begitu seterusnya. Wanita berpendidikan terlihat lebih sexy dibanding wanita sexy (?). Itu sebabnya, pendidikan adalah investasi jangka panjang. Ia melahirkan ilmu, sesuatu yang berbobot, istimewa, mengesankan, dahsyat dan meningkatkan derajat, harkat serta martabat. Kecuali efek kesombongan yang sebenarnya bukan anak kandung ilmu, seluruh dampak dari ilmu adalah kebajikan.

Begitupun saya, disini, terperangkap dan teriris hatinya oleh pahitnya mencari ilmu. Ilmu yang dipelajari pun sebenarnya hanyalah sepersekian dari sepersekian sepersekiannya sepersekian keseluruhan ilmu yang ada. Tapi, sudah berapa kali saya -katakanlah- diperas dan dicabik-cabik emosinya, dibuat frustasi, dan digairahkan rasa ingin banting ini itu oleh ilmu yang ingin saya perdalam ini. Sebuah proses belajar yang luar biasa memukau dari hari ke hari, dari tingkat ke tingkat, dari ujian ke ujian. Sebuah proses yang membuat saya menyadari bahwa sesuatu yang berharga itu memang SANGAT LAYAK untuk diperjuangkan. 

Kita sudahi bahasan tentang pentingnya pendidikan. Ini saatnya saya menceritakan kehidupan per-co-ass-an. Sudah 6 bulan lamanya saya berjuang untuk tetap hidup normal dan bahagia menjadi seorang koas. Koas FKG, sebuah sistem yang apa adanya, dan tidak menuntut muluk-muluk pada ambisi mahasiswanya. Mahasiswa yang berapi-api untuk cepat lulus akan cepat lulus dan mahasiswa yang ingin ngadem terus di rumah sakit, akan lambat lulus. Jadi saya sering bingung dengan teman-teman sepermainan saya yang sedang menempuh koas kedokteran umum, selalu bilang "aku lagi di stase (blablabla--hampir semua stase -,-) gak mungkin bisa izin cuti". What? Lha gue...."gak masuk sebulan juga ya terserah lo aja." (kecuali beberapa stase). Kelulusan koas bukan dilihat dari seberapa rajin datang, say hello, atau menjenguk rumah sakit. Tapi dari requirement kasus yang diberikan. Itulah mengapa angkatan 2004 masih ada yang belum lulus dokter gigi. Kebayang, 11 tahun ngapain aja? Saya sih enggak.

Menurut rencana awal, pendidikan koas diberikan dalam 3 semester. Entah ada angin apa, rencana itu seringkali molor, dan hanya seperintil makhluk yang bisa lulus hanya 3 semester. Ceritanya akan melegenda, menjadi topik gosip kami para koas yang butuh motivasi dan role model. 

Kami diharuskan mencari pasien untuk tipe kasus yang diberikan. Tidak perlu saya deskripsikan sulitnya seperti apa, karena saya bukan artis dengan follower ribuan yang sekali posting "ada yang mau jadi pasien?" 12893 comments"saya mau dong kak" muncul. Belum lagi peristiwa PHP dari pasien yang tidak jadi datang, yang ribet, yang tidak kooperatif, yang tidak mengerti keluh kesah gundah gulana hati para koas. Dan jangan lupa, pasien lebay yang baru disentuh giginya sedikit sudah teriak kesakitan, jingkrak-jingkrak seoalah-olah kami sedang menikam jantungnya, padahal giginya sedang tidak diapa-apakan. Rasanya ingin memulangkan pasien seperti itu dengan keadaan damai. Pergi ke dokter gigi juga butuh kekuatan psikologis, kan? Kami bukan algojo, kami memeriksa dengan cinta, kelembutan dan kasih sayang *pppffftttt.

Ah ya! setiap pekerjaan kami selalu diawasi oleh dokter yang berwenang. Tapi percayalah, keberuntungan selalu ada bagi mereka yang ditutori oleh dokter-dokter berhati malaikat. Beberapa dokter punya style mendidik yang berbeda, nyentrik, dan... ya begitulah. Saya sedang tidak selera membahas tentang dosen. Biarkan mereka dengan style nya, dengan tingkat kesulitan meng-acc-kan pekerjaan, dengan peraturannya. Jadi, ada koas yang cepat lulus karena selalu dapat dosen yang baik hati, ada yang pekerjaannya sulit maju karena direbetkan oleh kebijakan dosennya. Percayalah, banyak dosen yang berbeda prinsip, jadi kami harus menelan bulat-bulat didikan "dokter X inginnya gini, tapi kalau ke dokter Y harusnya kaya gitu". Kami sudah ahli untuk berbesar hati menerima perbedaan.

Kehidupan koas seperti misteri. Kadang saya butuh ketenangan untuk memikirkan masa depan saya. Saya sangat mengagumi ilmu ini, ilmu yang akan membantu meningkatkan kepercayaan diri seseorang secara drastis. Bagaimana tidak, kadang orang dengan gigi berantakan akan malu tersenyum, apalagi ditambah bau mulut. eerghhh. Dokter gigi hadir untuk memberikan senyum terbaik, kesehatan tubuh secara paripurna, dan blablabla --ini bukan promosi.


Tapi, kenapa saya tetap merasa beruntung terjerumus dalam pahitnya mencari ilmu bidang ini? Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Menikmati peran sebagai (calon) dokter gigi, bermain dengan seni, teknik, dan proses penyembuhan. Ah iya, mari kita teriakkan : sesuatu yang berharga memang sangat layak untuk diperjuangkan.

Selamat berjuang. Semoga selamat sampai tujuan.




Sunday, August 23, 2015

Friday, August 7, 2015

Wedding Vendor : Gedung

Selamat 3 bulan pernikahan!
Kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang proses persiapan pernikahan, khususnya tentang vendor pernikahan saya.

Hal pertama setelah proses khitbah dan menetapkan tanggal pernikahan adalah segera mencari gedung lokasi pernikahan. Saya berdomisili di Rancaekek, sehingga keluarga saya inginnya mencari gedung yang dekat dengan lokasi rumah saya. Sayangnya, tidak ada gedung besar di area sekitar rumah. Satu-satunya yang bisa dijadikan opsi adalah daerah jatinangor, dan satu-satunya gedung yang  luas sesuai versi "luas" nya saya adalah Balairung IPDN.

Akhir 2013 saya konsultasi dengan salah satu dosen di IPDN terkait peminjaman gedung, karena biasanya gedung hanya dapat digunakan untuk acara internal kampus atau ada salah satu pejabat kampus yang mau menggunakannya. Jadi ya kalau anak dosen IPDN mau menikah di gedung itu, perizinan gampang.

Kebetulan dosen ini tetangga saya. Saya dianggap saudaranya dalam proses perizinan. Tetangga saya ini selalu berkata “tenang aja” setiap kami tanya progres peminjaman gedung. Berbulan-bulan saya mengidam-idamkan gedung seluas itu untuk menikah. Sampai akhirnya, akhir bulan Februari 2014 (artinya sudah 3 bulan kami digantung tanpa kabar) tetangga kami mengabarkan bahwa Balairung Rudini tidak bisa dipinjamkan untuk orang internal maupun ekternal, (kecuali jabatan orang internal IPDNnya tinggi kali ya -,-). Masih tidak bisa terima, karena terlalu lama menunggu, tanpa penjelasan, dan tanpa hasil yang diperjuangkan dengan maksimal, akhirnya kami menemui teman Mama yang menjadi petinggi di IPDN. Ibu ini menjelaskan secara rinci prosedur peminjaman.

Teknisnya, apapun kegiatannya, acara internal kampus akan tetap menjadi prioritas. Dulu, ibu ini pernah mengurusi tetangganya yang juga ingin menikahkan anaknya di IPDN, tapi 2 minggu sebelum acara (which is undangan pasti sudah disebar dong) kampus mendadak mengadakan acara kuliah umum dari salah satu Gubernur untuk para Praja (mahasiswa) nya di tanggal yang sama. Akhirnya dengan berat hati, keluarga ini harus pindah tempat di gedung kecil pinggir IPDN. Untungnya, 4 hari sebelum hari H, kuliah umum dari Gubernur dibatalkan karena satu dan lain hal, dan Balairung jadi kosong pada tanggal tersebut.
Jadi, gimana gak was-was coba kalau teknisnya seperti itu???

Saya menikah bulan Mei, bulan-bulan mendekati penerimaan Praja baru, biasanya akan banyak agenda bersama di Balairung. Kecuali saya menikah di bulan November, atau waktu libur semester IPDN, otomatis gedung tidak akan digunakan untuk kegiatan kemahasiswaan.

Keluarga saya memilih untuk tidak mengambil resiko yang tidak bisa diprediksi itu. Lebih baik mencari alternatif gedung lain dan kami jadi bisa fokus tenang memikirkan persiapan yang lain. Karena bagaimanapun, gedung resepsi menjadi salah satu list persiapan ynag cukup penting yang harus dipertimbangkan.

Waktu yang tersisa hanya tinggal 2 bulan saja, saya belum mendapatkan gedung pernikahan. Setelah mendapat kabar sulitnya peminjaman gedung IPDN, saya segera survey ke gedung-gedung lain. Kurang lebih ada 15 gedung yang saya survey sana sini. Yang paling besar Pusdai, tapi sudah full booked -,-

Akhirnya, dengan izin Allah, ketemu juga satu gedung luas dan tinggi di daerah Soekarno-Hatta.


Istana Kana Kawaluyaan.

Salah satu area dekat Soekarno Hatta, namanya daerah Kawaluyaan ada satu gedung yang orang-orang bilangnya gedung Batak, karena biasa digunakan untuk acara pernikahan batak, meskipun pernikahan umum juga sering diselenggarakan.

Begitu lihat gedungnya, saya jadi nostalgia lagi dengan IPDN. Baru Istana Kana lah yang bisa saya sejajarkan luasnya dengan Balairung (untuk area Soekarno Hatta). Atapnya tinggi banget, jadi terasa adem. Jendelanya banyak, jadi terang. Parkirannya luas sekali. Dan di awal Mei masih bisa booking. Saya semacam jatuh hati sama Istana Kana. Setelah berdiskusi dengan keluarga saya maupun kang Ryan, akhirnya kami sepakat untuk memilih Istana Kana sebagai tempat resepsi pernikahan kami. Untuk harga, meskipun mahal tapi tetap worth it. Kalau Anda tertarik dan ingin tahu info lebih lanjut bisa datang sendiri ke Istana Kana atau tanya langsung ke saya hehe.


kebayang gak, 3 undak bangunan itu adalah tinggi dari atap gedung. Tinggi banget kan? 

tampak samping
parkirannya luas
tampak samping

denah Istana Kana Kawaluyaan. minta aja langsung ke pihak Istana Kana.


akhirnya, nemu juga yang sesuai dengan keinginan. Dan lokasi juga di pertengahan antara lokasi rumah dan pusat kota. Alhamdulillah :)