Friday, January 25, 2013

CONFUSIUS

setelah berjam-jam menaiki bus yang lumayan nyaman (jika dan hanya jika dibandingkan dengan bus Indonesia) membawa kami menyebrangi perbatasan malaysia-singapore. Tepat ketika langit mulai menjadi gelap, kami sampai di pemberhentian.

oo..semua hape lost signal, simcard yang digunakan masih simcard malaysia yang tidak aktif di luar negara. Bagaimana cara menelepon Uwa. Segera saya, mama, dan makcik Hasina berkeliling mencari tukang jual pulsa. Sayang, tidak seperti di jalanan Bandung, yang seringkali ditemukan penjual eceran pulsa, kali ini, dari toko ke toko kami masuki, sepanjang jalan kebanyakan toko makanan..lalu ingat sebenarnya perut lapar sangat. ribuan kilo jalan yang kami tempuh (tidak dalam jarak yang sebenarnya) akhirnya tersesatlah kami dalam sebuah mall, berkeliling..aaahh, kenapa sulit mencari toko jual simcard. Bertanya sana sini dengan modal bahasa Inggris yang belepotan, memimpin arah dua orang ibu-ibu yang hanya menguntit di belakang dan memberi semangat >> ibu dan makcik -_-

akhirnya  sebelum memutuskan untuk menyerah, saya menghampiri satpam di meja costumer service, satpam, bukan wanita cantik berpakaian seksi seperti di pusat perbelanjaan kebanyakan.
 "where can i buy a simcard?"
"bxnjdklslkemmso"
"seveneleven? i've just been there , they don't sell it."
"xxxyyyzzzzabcd"
"i've walked so much far, and i'm tired already. show me the nearest store." (niatnya kalau jauh, mau pinjem telepon selular bapak satpam aja. saya mau nelepon saudara saya pak, atau nasib kami tidur malam itu tidak jelas)
"------xxxnmkajskdelemma" << akhirnya menuntun kami menjajaki toko penjual simcard.Thanks God, it still open, he said.

di sebuah toko elektronik beratmosfir cina, dengan penjual cina yang abusetdeh logat inggrisnya.
"singsing honghong langfiu chiiaaang"
"i wanna buy the cheapest simcard" << to the point banget : ga punya duit
"hialuuung fangfang liungsen hosyang hosyang"
"ten dollar??? is there any simcard..heem, about five dollar only?"
"cepawo ceci we caniiiiii"

kaluar dengan muka lega, sesegera mungkin menelopn Uwa.
"Wa...ini detin lalalala dududududu kami ada di.........(buta arah).............Golden"
"ya, uwa kesana ya."
--15 menit kemudian--
"Golden yang mana sih? ko Uwa nyari kalian ga ada? sekarang dimana? Jalan apa neng? Uwa udah di Mesjid Sultan"
"Ophir road."
"bentar uwa cari."
---15 menit kemudian--
"Uwa ga nemu. coba detin cari Mesjid Sultan, semua orang di situ pasti tau."

"excuse me, do you know where is Sultan Mosque?"
membuka gadget >>google maps >> menunjuk arah, dengan mimik muka -kayanya sih disitu, gue ga yakin-
bertanya pada 3 orang dengan melakukan hal yang sama, oh come on, jaman canggih ya, nanya alamat buka google map.

bondong-bondong kami berenam : saya, mama, mamak asmah, mami hajra, makcik Hasina, bang Bidin, mendorong-dorong koper menyusuri jalanan Singapore di malam hari dengan muka penuh minyak dan lelah yang tampak menguasai, yang jika tersenyumpun terlihat seperti seorang idiot.

desperate. di negeri orang, yang baru pertama kali kami jamah, dengan tanpa pemandu, tak seorangpun tahu..oh Allah, dimanakah mesjid sultan ituuu. hiks.

"Wa, ga nemu juga nih. sekarang kita di Beach road. harus kemana?"
"bentar uwa cari"
--15 menit kemudian--
"Uwa ga nemu" #hasyaaaaahhhh -___-
"Uwa kesini naik apa? sama siapa?"
"MRT, sendiri"
--MashaAllah, saya lupa, uwa baru beberapa bulan di sana, bahasa inggrisnya pun mana lancar. Saya pikir Uwa jemput sama tante. oalaaah, tante lagi kerja shift malem. mana naik MRT pulak, jalan kaki muterin jalanan Singapore buat bertemu kami? oh no kidding.mau berapa abad baru bertemu-__- well, sometimes you can feel so "small"

problem solving and decision making mu buruk det -,- gini aja lama banget mutusinnya. kasian yang lain nunggu berjam-jam, saling mencari. ah ribet. naik taksi aja deh, suruh Uwa tunggu di suatu tempat.
oke kesepakatan : kami naik taksi, Uwa tunggu di Raffles Hospital.

taksi kok tidak bersahabat, penuh semua. akhirnya saya tanya Bapak-bapak yang lagi nongkrong, dimana Raffles Hospital, jauh atau dekat, kira-kira kami bisa jalan atau cukup jauh?
"sorry, i dont know"<< oh meeeen.
ada dua orang pria mata sipit, mirip artis korea (?) sedang berjalan sambil memakan sejenis hotdog. Saya potong perjalanan mereka,bertanya dimana Raffles Hospital. si-pria-kaos-putih menutup mata, meletakkan telunjuk di dahinya, berucap..hmmmmm.
"there" << menunjuk satu arah.
"is it far?"
"far enough. just take a taxi.."
"can you help me....looking for the taxi?
sambil melahap hotdognya, si-pria-kaos-putih dan si-pria-kaos-abu, berjalan menyebrang jalanan besar dua arah. melambai-lambaikan tangan pada setiap taxi yang lewat. berlari sana-sini di setiap arah jalan. berhasil menyetop satu taxi berwarna silver.

mamak asmah berkata, "noo.. it's expensive. the silver one is expensive."
kemudian taksipun pergi meninggalkan.
si-pria-kaos-putih melongo. "noo, maam, it's cheap. do you see that lamp? (menunjuk tulisan  TAXI) it shows it is cheap.
si duo pria kembali berlari sana-sini, kami terpukau, berdiri dan duduk di tempatnya masing-masing, memperhatikan mereka berlarian.

alhamdulillah, mereka berhasil memberhentikan dua buah taksi. berbicara pada supir, meyuruh mengantar kami ke Raffles Hospital.
"thankyou so much."
dan ketika hendak menderek koper gaban itu, si-pria-kaos-putih bergegas mengambil koper, menaikkannya ke bagasi, diikuti si-pria-kaos-abu. Semua koper. sementara sopir taksi hanya duduk santai di dalam mobil. #hasyaaah.
"go in"
"thank you so much. really, big thanks"
"it's oke."
"hei anak muda, baik sekali..nanti semoga diganti dengan yang lebih baik ya." sambil senyum, kata mamak asmah kepada pemuda.
mereka melongo. mana ngerti.

-------
dan sampailah kami bertemu Uwa, menggelikan, Raffles Hospital tidak jauh dari tempat dimana kami menyetop taksi, hanya di bawa berputar sedikit.

ahhh...a simple hello could lead to a million things. Menjumpai orang baik, yang membantu orang-orang yang hampir gila, desperate, kesulitan. membantu sampai finsih, benar-benar finish itu...selalu mengukir kesan tersendiri di memori insan bernama manusia. Selalu. Because sometimes,the smallest things take up the most room in your heart.

perjuangan masih berlanjut.Menyusuri MRT, sebelum akhirnya sampai di gate Pasir Ris. Tempat dimana apartemen tante terletak. haaah, malam yang panjang..

well, someday you will look back to this moment, and realize how far you have gone.

Sunday, January 20, 2013

Diorama


Melancong yuk.  Saya mau jalan-jalan ke masa dimana saya masih jadi gadis imut berseragam putih-biru, masa-masa SMP. Nostalgia ini disponsori oleh ke-excited-an saya terhadap sebuah novel yang kembali saya baca setelah bertahun-tahun lalu sering saya baca, kemudian sang novel dipinjam oleh oknum yang tidak jelas identitasnya (?) lalu hilang.

Novel pertama yang saya baca, kalau boleh saya bilang, cukup berat untuk dijadikan bacaan anak kelas 1 SMP. itu buku kakak saya. Ceritanya saya ingin sok gaul nan keren, baca novel biar terlihat sedikit intelek. Cover bukunya pink, bergambar sketsa seorang wanita berjilbab panjang memegang kusen jendela. Yang menarik perhatian saya, selain judulnya yang unik, juga karena tebal bukunya tidak terlalu membuat anak kecil ketakutan ketika harus membacanya, hanya sekitar 300an lembar. 

Yah, judul novel pertama yang saya baca adalah “Diorama Sepasang AlBanna”. Jadi, latarbelakang, maksud dan tujuan yang sebenarnya saya tidak sedang membuat proposal (?) bermula ketika saya sedang belajar untuk ujian Dental Science Program, dalam case ada istilah dilatasi vascular bla bla bla bla… dan saya seketika ingat judul buku “Dilatasi Memori” seri ke 2 dari Diorama. Saya sempet cari e-book nya siapa tahu ada, sayang tidak dapat, atau lebih tepatnya tidak ngerti cara mendonlotnya. Akhirnya tadi pagi ketika saya bersilaturahim-lari minggu pagi bareng temen-temen SD, yang niatnya untuk membakar lemak tubuh, karena ibu saya berkata, "de, ko gendutan? makan aja ya?"---hati panas, ah masa ma??? ciyuss??miyapaahh??? frustasi---, lari sekitar 5 menit, sisanya jalan santai, lalu setelah itu makan bubur dan minum 500ml susu murni. Iya, iya..saya tau saya tau...anda akan berpikir, input lebih besar dari output, apa tetap akan diberi nama olahraga? saya sendiri ragu. hiks.

Nah, lupakan sejenak dengan olahraga semi gagalnya, kembali pada pernovelan. Saya jadi ingat kalau Hilda dulu beli buku Diorama dan Dilatasi atas recommend dari saya. Akhirnya, saya pinjem novel ini tadi pagi. Nah kan, silaturahim selalu membawa rezeki J


cover buku Diorama Sepasang AlBanna


Dalam waktu 4 jam, saya lahap isi novel karya Ari Nur itu. Dan setelahnya saya baru sadar sepenuhnya maksud dari novel tersebut. Dulu jaman saya masih mirip Dulce Maria nya Carita de Angel (?) saya belum ngerti maksud utama novel ini, yah namanya juga anak SMP. Sekedar ngerti ini novel roman, kisah cinta, dsb dsb. Tapi, kesan pertama selalu menempel menancap mengakar meng-adhesi-kohesi (?) di hati. kesan pertama buku ini waktu itu : ceritanya bagus.

Sadar ga sadar, saya ngerasa banyak kesamaannya dengan Inda Maharani (Rani), pemeran utama dalam novel. Seorang wanita asal kampung, yang serba biasa-biasa saja. Mencari penghidupan di ibukota sebagai arsitek junior di sebuah biro arsitektur ternama di Jakarta. Bertemu dengan seorang Ryan Fikri, seorang eksekutif muda, bos Rani, yang jenius, tampan, cool, arogan, dan sombong.  

Ryan yang kering ruhiyahnya, setelah sebelumnya menghilang dan menenggelamkan diri dari dunia dakwah, seakan menemukan telaga di tengah padang pasir ketika bertemu Rani. Memang bukan selera eksekutif muda, wanita pas-pasan, tampil ke lapangan dengan jilbab lebar dan kaos kedodoran. Tidak menunjukan smart, ataupun classy. Tapi Rani membawa idealisme yang terpupuk baik dalam dirinya. Ia menumbuhkan sebuah kehidupan tanpa menghancurkan kehidupan yang sudah ada. Di biro tempatnya bekerja, yang jauh dari kesan agamis, suasana penuh sekularisme, kemewahan, dan profit oriented.

Novel tentang kisah cinta para AlBanna, para pembangun. Ah Rani, wanita sederhana, bahkan sangat sederhana mampu menarik hati seorang Ryan. Di sisi lain, yang paling ditunjukkan dalam novel ini adalah tentang dakwah fardhiyah, tarbiyah islamiah…yang zzzzzzzzz banget waktu saya baca SMP, setelah saya baca lagi tadi, subhanallah, ceritanya mirip dengan cerita yang saya inginkan di masa depan nanti *hatsyaaahh.

Tentang membangun sebuah biro arsitektur independen, berbasis islam, dengan maksud mencetak arsitek muslim berkualitas dan berdaya saing dunia. Kisah Rani yang seorang aktivis dakwah kampus, merindukan jalan kembali, masa-masa dimana ia bebas berdakwah, dan tentang Ryan yang mantan ketua bidang kaderisasi dakwah kampus yang hanya bertahan 2 tahun untuk kemudian tenggelam bersama keterpurukan latarbelakang keluarga.

Mirip. Tentang saya yang sederhana dan biasa-biasa saja, seperti halnya Rani. Memiliki seorang Ryan yang tampan, jenius adalah harapan dan impian  meski dingin dan arogan. Tentang visi misi hidupnya, mirip. Tentang keinginan mendirikan sebuah usaha yang bergerak berbasis islam, menggerakkan roda-roda mesin para muslim yang sempat terhenti, menciptakan lapangan kerja, membentuk idealisme yang berfokus pada Illah, memiliki power untuk menggerakan, mengonsep, membuat kebijakan. Mirip mirip mirip.

Ah Rani, Ryan….. kita adalah seorang AlBanna, yang sedang berkelana untuk satu tujuan yang sama…

Terimakasih atas kisahnya, Ari Nur dan dioramanya :)

Thursday, January 3, 2013

Dari Individu ke Masyarakat


Bismillahirrahmaanirrahiim.

……al Insanu madaniyyun bith tabh’i…...
Manusia adalah bermasyarakat secara tabi’atnya.

Manusia diciptakan dengan fitrah bermasyarakat.

“wahai manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…..” (Q.S Al-Hujurat : 13)

…menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku… memang pada dasarnya manusia hidup berkelompok, membentuk komunitas sesuai dengan jati dirinya, menemukan zona yang dirasa nyaman untuknya. Untuk itu, manusia akan senantiasa melakukan pengenalan dengan dunia sosial dimana dia hidup. Tidak ada manusia yang bisa survive hidup sendiri. Orang jomblo pun butuh orang lain *untuk menghapus kejombloannya. *Ah, fokus det, fokuuss.

Pengenalan.  Kenal—mengenal-dikenal. Untuk menuju “berkelompok” manusia harus melawati proses mengenal orang lain. Taaruf. Proses saling mengenal tidak hanya sebatas, oke-saya-tahu-nama-Anda—Anda-tahu-nama-saya. Ada 3 tahap yang harus dilewati agar proses Taaruf kita sempurna ; pertama, taaruf Jasadiyah : kita tidak bisa mengelak bahwa untuk mengenal, kita wajib -pake banget- untuk tahu wujud orang yang ingin dikenal seperti apa. Saat kita mengenal, kita harus tahu seperti apa wajah Ina dan seperti apa wajah Ani, karena Ina bukanlah Ani dan Ani bukanlah Ina (?) di tahap ini, kita akan mulai mengetahui siapa namanya, pekerjaannya apa, umurnya berapa, dsb, dsb. Segala yang berhubungan dengan dirinya, kita tahu, entah secara superfisial, maupun mendalam.

Kedua, adalah taaruf fiqriyah. Saat kita sudah mengenal jasadiyah, otomatis, kita akan lebih sering berinteraksi. Menuangkan pola pikir dalam percakapan. Bertukar pandangan. Maka saat proses itu berlangsung, secara sadar maupun tidak sadar, sebenarnya kita sedang mengenal seseorang secara fiqriyah. Saat berhasil melewati tahap ini, kita bisa membuktikan bahwa serigala akan berkumpul dengan serigala lainnya, bukan dengan harimau-kambing-kucing-ayam-kerbau-sapi. Kita akan mampu menilai, bahwa ternyata sekelompok orang disatukan oleh kesamaan pola pikir mereka. Jarang sih ya, orang sholeh berkelompok dengan tukang mabuk. Secara sendirinya, mereka akan memisahkan diri, mengeliminasi diri, menjadi bagian marginal yang menyusut mencari pribadi-pribadi lain yang dirasa sama….secara fiqriyah.

Ketiga, adalah taaruf qolbiyah. Inilah pengikat segala jenis taaruf. Saling mengenal secara batin, dari hati ke hati. Qalbu kita memiliki radar sendiri, memiliki kecenderungan sendiri. Bagaimana kita yang sudah menyatu hatinya dengan orang sholeh, akan merasakan kerinduan tersendiri untuk kembali berkumpul, pun dengan orang pecinta geng motor -misalnya, mereka akan merindukan perkumpulan dengan kelompok mereka. Itu fitrah. Saat kita sudah mengenal seseorang secara qolbiyah, kita sudah tidak perlu lagi menanyakan : kamu orangnya gimana sih? Karena keterikatan hati kita sudah mampu menilai, oh ternyata orang ini sifatnya begini begini begini, istilahnya tafahum. Kita bisa merasakan karakter orang tersebut. Inilah pentingnya menjaga keterikatan hati lewat pengenalan. Untuk masuk dalam kehidupan seseorang adalah dengan menyentuh hatinya, dan hati hanya bisa disentuh oleh hati.

Lalu setelah taaruf-tafahum, kita memasuki fase Ta’awun. Tolong menolong. Kita yang sudah saling mengenal saudara kita akan cenderung lebih memprioritaskan dalam tolong menolong, dalam bekerja sama. Ruh manusia itu ibarat pasukan yang berkelompok-kelompok. Dengan kesadaran ini, kerja-kerja kita seharusnya tersalurkan menjadi sebuah ikatan yang mengumpulkan “kayu-kayu” terserak.

Setelah kita bisa saling menolong, maka kita bisa saling Takaful, senasib sepenanggungan. Inilah hakikat UKHUWAH. Tingkatan dimana setiap muslim merasakan saudara sesama muslim sebagai satu tubuh. Disini kita bisa melihat bahwa lingkungan mencerminkan kepribadian seseorang. Teman-teman sepergaulan yang senasib sepenanggungan akan mendeskripsikan siapa kita. Beritahukan siapa temanmu, maka aku akan tahu siapa dirimu, begitu kata pepatah. Inilah ukhuwah. Ikatan ukhuwah adalah ikatan yang menjembatani keshalihan individu menuju keshalihan masyarakat.

Dari keshalihan pribadi menuju keshalihan masyarakat.

Allah menurunkan agama Islam bukan hanya untuk manusia sebagai pribadi tetapi juga untuk manusia sebagai masyarakat, karena itu Islam bukan hanya membangun keshalihan pribadi melainkan juga membangun keshalihan masyarakat. Keshalihan pribadi berhubungan dengan kedekatan seseorang denganAllah yang diwujudkan dalam ketaatan dalam beribadah (Hablum minallah). Sedang keshalihan masyarakat adalah hubungan harmonis manusia dengan sesame manusia (Hablum minannas), yang ditunjukkan dengan perilaku dan akhlak yang baik. Dua sisi keshalihan ini wajib untuk dilaksanakan secara bersamaan dan seimbang.

Keshalihan individu datang ketika seseorang mampu memurnikan tauhid kepada Allah. Dan puncak dari ketauhidan adalah IHSAN.
Ihsan berarti berlaku baik,  merasa diawasi oleh Allah dalam setiap gerak-gerik. Muruqubatullah. Seseorang yang ihsan akan melakukan aktivitas semata mencari penilaian Allah, bukan sekedar penilaian makhluk. Allah menyuruh kita untuk berbuat ihsan dalam segala hal.

“Sungguh, Allah wajibkan kamu berlaku IHSAN dalam segala hal.” (H.R Muslim)

“dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah (IHSAN) kepada kedua orang tua, kerabat karib, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (Q.S An-Nisa : 36)
Ihsan tercermin dalam perilaku, perbuatan dan perkataan. Dengan prinsip ihsan ini, kita akan memperlakukan sesama manusia sebagaimana mestinya, hablum minannas tercapai dengan baik.
Seperti halnya ihsan yang menjadi kunci keshalihan individu, maka keharmonisan hidup manusia dalam membangun peradabannya memiliki kuncinya tersendiri. 2 pilar untuk menciptakan peradaban IHSAN adalah sikap amanah dan adil.

“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu mendapatkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil…” (Q.S An-Nisa : 58)
Amanah berarti terpercaya, bertanggung jawab, sedang adil berarti meletakkan dan memberlakukan sesuatu sesuai dengan tempatnya (dalam koridor Islam).
Dengan sikap amanah dan adil, perlahan, generasi akan menyesuaikan keadaan, menyusun tumbukan batu pondasinya, menuju keshalihan sebuah peradaban. Dan itu hanya bisa dimulai dari diri sendiri, menuju generasi madani, peradaban Rabbani. Aamiin.

Kehancuran setiap bangsa terjadi manakala amanah telah dikhianati dan keadilan telah ditinggalkan.

Inilah pentingnya kita berkelompok, saling mengingatkan tujuan, menyamakan pemahaman, saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran, dan saling menjaga amanah dan rasa adil agar tetap tumbuh dalam setiap kita.

Wallahualam bishawab.

CMIIW.
Sumber :
Alquran.
Catatan pengajian persistri, oleh Ust. Jeje Zaenudin, 3 Jan 2013.
Catatan liqo.


Tuesday, December 25, 2012

Sementara


“Selamat hari ibu, untuk ibu dan seluruh calon ibu di dunia J
--kemudian liat kalender, oh nona, ini tanggal 26 Desember -__-

*****

Saya ingat benar bagaimana mama memberi saya nasihat lewat mencontohkan. Bagaimana saat mendengar adzan, mama selalu menyegerakan menunaikan sholat. Saat maghrib tiba, ayah dan saya sudah di rumah. Ayah akan pergi ke masjid, mama dan saya berjamaah. Lalu, selepas sholat, ayah pulang, mengambil kacamatanya, membuka alqurannya. Lalu mama melakukan hal yang sama. Jika saya malas dan langsung melepas mukena, mama akan berkata..”eh eh..mau kemana?”

Saya beruntung, tak seharipun rumah yang saya huni sepi dengan lantunan alquran. Tak seharipun.

Saya juga ingat bagaimana sewaktu kecil ayah saya mengajarkan saya sholat. Subuh, saya yang masih TK ayah bangunkan. Kaki saya ayah tarik, diolahragakan, katanya, biar saya tinggi (takdir memutuskan saya tidak tinggi -__-) lalu, menggendong saya di punggungnya, menuju kamar mandi. Saya masih terkantuk-kantuk, ayah basuh wajah saya dengan air. Lalu melihat saya melakukan wudhu. Setelahnya, menggendong saya lagi untuk kemudian membiarkan saya sholat subuh.

Saya beruntung, pendidikan akhirat saya diperhatikan penuh oleh orang tua saya.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?
dan sementara, orang di luar sana.....

******
Lalu, pelajaran dan hikmah ini saya petik dari perjalanan saya sewaktu saya melancong ke Singapore. Di sana, saya bertemu dengan satu keluarga dengan 3 anak yang masih dalam usia golden age, sang ibu bekerja dan ayahnya pun bekerja. Di Singapore, gaji dihitung perjam, jadi bisa saja seharian bekerja. Saat mama dan saya sholat, anak-anak melihat saja. Mama ajak, ayo sholat, rupanya mereka tak ada mukena. Mama ngaji, mereka memperhatikan, rupanya mereka tak punya iqra. Kata orang tuanya, nanti saja SD diajarkan sholat-mengaji.

Bocah-bocah itu jelas kurang perhatian. Dan ketika bertemu orang baru, mereka akan meluapkan segala bentuk pencarian perhatian. Saya maklum, psikologis anak-anak selalu mencari kenyamanan. Maka saya jadi sasaran empuk untuk ditarik-tarik tangannya, diduduki kakinya, dinaiki punggungnya, digenggam jemarinya, ditangisi jika saya cuek. Arrgh! Pusing.

3 anak yang hiperaktif dalam waktu 4 hari bersama, cukup sukses membuat saya menangis. Bukan karena pikiran saya capek, atau badan saya yang remuk dihantam bocah, tapi saya menangis sejadi-jadinya karena saya takut. Saat itu, saya menangis di bahu ibu saya. Anak-anak kebingungan, “aunty.. crying”  

Saya takut, kalau nanti saya diamanahi anak oleh Allah, akan seperti apa saya mengurusnya? Saya takut kalau saya tidak bisa menjadi ibu yang baik. Saya takut kalau saya hanya mencari kepuasan materi, lalu lupa peran diri sebagai ibu. Saya takut kalau anak-anak saya tumbuh tanpa tangan saya di setiap prosesnya. Bisakah saya seperti mama dan ayah saya dalam mendidik saya, bahkan jauh lebih hebat dari mereka?

Sementara orang-orang selalu berfokus mencari-cari, menerka-nerka, siapakah pendamping hidupnya? Siapa pasangan tulang rusuknya? Tapi pernahkah berfikir, setelah itu, kau akan jadi apa? Seberat apa peranmu? Disaat masa kecil saya diwarnai perhatian dan didikan orang tua, ada banyak orang di luar sana yang bahkan orang tuanya saja tidak tahu perihal urusan akhirat, bagaimana mereka mau mendidik anak-anaknya?

Saya menangis, saat itu meminta doa pada ibu saya, “ma, doain anak-anak detin sholeh sholehah”. Dan doa itu bisa tercapai dengan ikhtiar kita menjadi anak yang berbakti terlebih dahulu, supaya anak-anak kita mencontoh ibunya kelak. Fokus kita seharusnya bukan galau lagi mencari pasangan. Yang baik akan dapat yang baik. Berkaca selama ini, bahwa saya harusnya malu, bergalau-galau mencari teman hidup, tapi bakti pada ibu yang dibawah kakinya ada surga, seringkali terbengkalai.



Surga itu ada di bawah telapak kaki ibu, dan salah satu kuncinya ada pada ayah. Menjadi ibu yang di kakinya ada surga, mendapatkan calon ayah yang memegang kunci, memandu seluruh anggota keluarganya, menuju surgaNya. Mimpi apa yang lebih indah dari ini? Surga itu di bawah kaki ibu, bukan dibawah kaki perempuan. Bermimpilah menjadi seorang ibu, bukan sebatas perempuan-- karir, dan apapun itu namanya.

Friday, December 21, 2012

Kepada Tangan-Tangan Kami


Bismillah.

Bukan hal mudah untuk memutus mata rantai, memang. Menyambungnya dengan suatu kait baru. Maka kemudian, alurnya akan kembali rapi, tertata. Itu adalah semangat awal dari kepengurusan ini.

Telah sampai amanah ini di kepengurusan baru FOSIKAGI-Lembaga Dakwah Fakultas : Forum Silaturahmi Mahasiswa Muslim Kedokteran Gigi- angkatan 2011 sebagai penggerak utama. Berkaca dari satu tahun kepengurusan yang lalu, dimana saya menjadi salah satu pengurus, membuat saya ingin menata ulang semua hal ihwal di dalam fosi.

Saya masuk sebagai mahasiswa baru, yang sedari SMA sudah akrab dan di-akrab-i oleh suasana keislaman, karena SMA saya terhitung baik rohisnya. Tiba-tiba sedikit kaget dengan suasana kampus yang memang sangat individual. Saat SMA mungkin kita masih disuapi dengan makanan tarbiyah, saat kita ‘lapar’ kakak-kakak kita sudah punya stok makanan tarbiyah untuk disuapkan pada kita. Tapi hal itu sangat jauh berbeda dengan dunia kampus : kalau kita tidak mencari makanan sendiri, kita bisa mati kelaparan. Tidak banyak orang yang bisa survive dalam pencarian ini. Maka, satu persatu bisa saja gugur di jalan ini. Saya tidak mau ini terjadi, setidaknya tidak pada diri saya dan orang-orang yang saya sayangi.

Setahun sudah berlalu, saat saya masih jadi mahasiswi manis-- yang kemudian merasakan, mengapa dakwah ini terasa seperti sebuah Event Organizer, sebatas menjalankan proker yang copy paste dari turunan kakak seperjuangan. Selama program terlaksana, maka tugas sudahlah usai. Sebatas itu? Lalu apa bedanya organisasi dakwah dengan organisasi lain –semacam BEM dan kawan-kawannya kalau begitu?

Dakwah harus punya goal, tujuan. Output yang dihasilkan harus bisa dioptimalisasikan. Bukan sebatas proses terlaksana, tapi output jadi kalang kabut tidak karuan. Alur yang saya rasakan dari fosi ini masih seperti benang kusut. Jadi tugas kita adalah membuat alur kembali.

Saya merasa miris melihat mahasiswa baru 2012 yang masih banyak terlantar selama 5 bulan ini belum tersentuh dengan agenda tarbiyah. Fosikagi sepi gaungnya. Tapi saya tidak bisa berbuat banyak, karena saya bukan yang terlibat dalam pembentukan konsep –lagi-lagi saya hanya sebatas seorang EO. Saya tidak bisa menyalahkan kepengurusan tahun lalu, tidak bisa menyalahkan system, tidak bisa menyelahkan teman-teman yang lain. Karena yang salah adalah diri sendiri, kenapa tahu keadaan begini, tidak berbuat apa-apa?

Dari Allah, kepada tangan-tangan kami. Semangat yang saya lihat dari teman-teman 2011 lain di kepengurusan tahun ini semoga bisa membawa fosi lebih hidup lagi. Dakwah tidak boleh mati, kalaupun redup, kewajiban kita untuk menerangkannya kembali.

Bukan hal muluk-muluk yang saya inginkan untuk fosi. Saya tidak ingin acara besar –yang didanai besar—yang dengan sukses menyita tenaga, pikiran, emosi bahkan waktu untuk hal yang tidak punya tujuan jelas. Tugas kita cukup ber amal makruf nahyi munkar. Tinggal dikemas seunik mungkin untuk bisa sampai di hati mereka yang belum tersentuh.

Kalau boleh saya berkeinginan, maka hal yang paling ingin saya lakukan dalam jangka satu tahun kepengurusan ini adalah menguatkan internal fosi. Bagaimana cara menyatukan semangat-semangat –yang sampai detik ini sangat saya kagumi—dari teman-teman saya. Modal komitmen mereka sudah bulat, meskipun ilmu dan pengalaman mereka masih belum sedalam pengurus LDF fakultas tetangga. Saya dengan senang hati mendoakan, semoga Allah membukakan pintu hati teman-teman saya –dan juga saya—membuatnya terang benderang dengan cahaya ilmu tentangNya.
Dan itu semua bisa didapat dengan mentoring. Satu agenda khusus yang menurut saya adalah obat ampuh untuk berbagai permasalahan. Mungkin tahun lalu, masih banyak pengurus yang belum mentoring, atau mentoringnya tidak berjalan baik. Maka sekarang, saatnya kita membuat semua pengurus mentoring. Satu kendala yang fakultas kami miliki : kekurangan mentor. Tapi toh Allah beri jalan, kami bisa meminta mentor dari FKDF –LDF se univ-  Tiada kesulitan, tanpa kemudahaan bersamanya.

Semangat untuk membuat mentoring menjadi candu bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu, butuh kesabaran. Tapi percayalah, siapapun yang membaca ini. Bahwa ada keindahan tersendiri dalam mentoring yang tidak bisa kita dapat dari kegiatan lain. Saya memang bukan sosok ideal yang berhak menasehati ini itu. Saya banyak cacatnya, tapi setidaknya saya punya keinginan. Keinginan saya sederhana. Saya hanya ingin melihat mereka, teman-teman saya, merasakan apa yang saya rasakan : indahnya mentoring.


Sunday, December 9, 2012

correctamundo

Ketika masanya kita bertemu dalam jalan buntu  yang tidak lagi saling menghubungkan hati
Membangun jalan baru bukankah adalah ikhtiar yang akhirnya kita tempuh?
di persimpang jalan, kiri dan kanan adalah keniscayaan yang harus kita pilih
ternyata, air yang mengalir deras dari dua arah, akan bertemu di satu titik, menciptakan tumbukan besar yang kadang saling meniadakan.
Menghentikan laju air. Riaknya memencar, dan justru menghancurkan.
Maka, sebaiknya diredam saja. Emosi dan prasangka kita, disembunyikan saja.
Kita sama-sama tahu,
Bahwa ternyata, kita adalah sepasang bilangan prima yang tidak bisa dibagi,
Kecuali oleh keras kepala kita sendiri.
Iya, kan?

tidak lagi menjadi layak untukku membuatmu meyakini apayang aku katakan atau memercayai apa yang aku lakukan
sebab aku takut jika  kata-kataku hanyalah angin yang tak bermassa di pikiranmu.
sebatas itu.

kepada kamu dengan penuh permohonan.
jauhi prasangka, 
dan mari kita bangun saja jalan baru kita
bukan sekedar jalanan biasa, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkan hati kita,
 satu sama lain...
....lagi.



Saturday, December 1, 2012

bertarbiyah-lah, mengapa berhenti?

jika gelas dibiarkan kosong, diam-diam debu akan mulai  menghampiri, menempel di permukaan
jika gelas dibiarkan berisi air menggenang, lama-lama airnya kian menjadi kotor
maka, alirkan terus airnya...isi terus gelasnya..

kadang, ketika ada di pertigaan jalan, kebebasan memilih arah dikembalikan pada masing-masing diri sebagai 'pengemudi'. Tapi apapun arah yang dipilih, kemanapun jalan yang dituju, pastikanlah bahwa kita tahu dan siap atas konsekuensinya.

Kembali diingatkan bahwan di arah manapun ladangnya, bibit-bibit dakwah harus tetap tersebar.

tapi bagaimana caranya mau menyebarkan bibit bila bibitnya saja tidak ada.Bagaimana mau mengalirkan air jika airnya saja tidak tersedia.

tarbiyah hadir untuk memenuhi persediaan bibit-bibit unggul, untuk mengisi teko yang kemudian dengannya ia mengalirkan air, membuat aliran yang menjernihkan.
tarbiyah membuat seseorang merasa terkayakan ruhiyahnya.
tarbiyah membuat seseorang mengetahui untuk apa sebenarnya ia hidup
tarbiyah membentuk karakter seseorang
tarbiyah membuat hidupmu hidup

bertarbiyahlah, mengapa berhenti?
 sadarlah bahwa kesempatan yang Allah beri, waktunya tidak terulang lagi
takdir seseorang memengaruhi takdir orang  lain. Maka buatlah alasan untuk menjadi seseorang yang baik kehidupannya, sehingga membaikkan pula kehidupan orang lain. Takdir adalah permainan waktu, dan waktu adalah permainan kesempatan. Jika Allah telah memberimu hidayah lewat pembinaan, jangan pernah mau untuk melepasnya.

yakinlah bahwa terdapat balasan bagi orang-orang yang berbuat.
Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan (Q.S Al-An'am:132)
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik ,dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S An Nahl 97)
tarbiyah adalah sarana untuk mewariskan yang terbaik bagi generasi mendatang.
maka, bertarbiyahlah, mengapa berhenti?

doakan terus teman-teman kita yang sedang berhenti, untuk sekedar beristirah saja, lalu tetap melanjutkan perjalanan ini.
mendoakan orang lain sebenarnya adalah sarana layaknya mengamini doa diri sendiri....