Friday, August 16, 2013

Holofrasis

Saya pernah berpikir tidak ingin menjadi apa-apa. Tidak menjadi kamu. Tidak menjadi dia. Tidak menjadi mereka. Tidak juga menjadi SailorJupiter, yang akhir-akhir ini entah kenapa kangen film Sailormoon. Lalu sebenarnya saya ingin jadi apa?!

Baru saja tadi saya melamun sembari mengelap pegangan tangga. Saya berpikir, saya ini siapa, saya bisanya apa. Banyak banget orang yang serba lebih dari saya. Terus, saya merasa menjadi sebatas butiran detergen, atau serpihan biji rambutan.

Ah, Kenapa sering banget ngerasa gagal? Usaha, gagal, usaha lagi, gagal lagi. Mungkin indikasi bahwa kemampuan ada dibawah rata-rata

Mendadak saya berpikir ingin menjadi siapa saja. Menjadi kamu. Menjadi dia. Menjadi mereka, bahkan menjadi anggota baru ksatria Sailor, saya menamai SailorSaturnus. Siapa saja, asal bukan saya.

Hahaha, lucu ya, lari dari masalah. Lari, lari,lari..*hosh..hoshh..hosshh

Saya dengar bisik-bisik samar sekilas, katanya, "disaat ada orang di luar sana yang ingin memiliki apa yang kamu punya, kamu memilih untuk berpikir kamu tidak punya apa-apa"

Lha, tadi kan saya lagi ngelap. Sendirian.

Tuesday, August 13, 2013

Friday, August 2, 2013

FLASH-BACK

Tiba-tiba teringat masa-masa pengumuman SNMPTN tahun 2011, setalah baca tulisan seseorang yang menceritakan kegagalannya di SBMPTN 2013 kemarin. Terus, jadi ingin cerita, hehe.

2011. bener-bener jadi tahun pembelajaran buat saya. Awalnya saya ikut tes semacam  PMDK yang ada di UI, apa namanya ya saya lupa :D Seleksi ini terbatas kuota , Alhamdulillah saya termasuk dalam kuota itu. Saya pilih FKG UI (karena saya sadar diri lah ya, ga yakin bisa tembus FK UI). Waktu pengisian formulir, tertera pilihan nominal uang yang harus dibayar untuk biaya semester. Dan dengan bodohnya,  saya mikir bahwa nominal akan mempengaruhi keputusan diterima atau tidak. Jadi dengan seenak jidat saya tulis 4 juta persemester. Tanpa bincang-bincang dengan orang tua, oh ayolah, bocah tak tahu diri. Tapi akhirnya diizinkan, fyuuuh. Terus saya mikir, kalau saya keterima, saya pasti harus ngekos. Biaya di Jakarta bukan tidak murah, belum lagi biaya kuliah sehari-hari. Gila!!

Waktu saya main ke Jakarta untuk menjenguk saudara, saya sempatkan main ke Salemba dengan Teteh saya. Saya foto-foto gedung FK UI, dan tentu saja FKG UI. Dari pandangan pertama, If I have to be honest, oke, saya gak jatuh cinta. Meskipun gedung FK UI mirip SMA 3 Bandung, tapi saya semacam enggak sreg sama suasana Jakarta yang kayanya bukan saya banget.

H- Beberapa JAM (JAM YAAA JAAAAM!!) pengumuman seleksi PMDK UI, it was CANCELLED, dan diberitahukan bahwa seleksi akan diintegrasikan dengan SNMPTN Undangan, semacam tes masuk dengan menggunakan nilai rapot SMA, sebuah kebijakan maha dahsyat dari pemerintah yang perdana dikeluarkan tahun 2011. Bagi yang sudah terdaftar PMDK UI, tinggal melakukan konfirmasi apakah mau dilanjutkan. Setelah berdiskusi dengan orang tua, akhirnya saya memutuskan PMDK UI saya cancel, lalu memutuskan memilih jurusan baru di SNMPTN Undangan. Goodbye Jakarta, Goodbye FKG UI.

Saya daftar. Tersedia 6 pilihan untuk 2 universitas yang berbeda. Saya pilih Unpad, jurusan kedokteran, dan ITB jurusan FTTM. Sisanya saya kosongkan. Sedikit PD, ya karena nilai Rapot saya gak jelek-jelek amat, even ketika di ranking, saya termasuk 3 besar di angkatan yang mau daftar ke FK Unpad. You know how it feels? Bikin saya jadi tak tahu diri. Ya gimana engga, saya nyantei dong, ngerasa aman, dengan opini bahwa FK Unpad gak mungkin cuma ambil 1 orang dari SMA 3. Yang lain ribet Bimbel, saya juga bimbel sih, di 2 tempat malah, tapi ya sekenanya saja.

Pengumanan undangan datang juga. Dengan bodohnya, saya lupa nomer ujian saya, dan nomer ujian itu ada di kosan, sedang saya lagi di rumah. Jadi malam itu saat orang lain sudah ber-alhamdulillah ria, saya gak tau nasib saya. Sampai akhirnya besok paginya saya ke kosan, ambil kartu nomer ujian, dan gak ada warnet yang buka pagi-pagi. Akhirnya, saya telepon Teteh saya, minta dilihatkan di website. Teteh saya lama sekali menelepon baliknya. Ternyata, teteh menelepon mama dulu, dan mengabarkan bahwa saya tidak lolos undangan. Teteh gak tega kalau dia yang ngomong langsung ke saya. Akhirnya saya terima telepon dari mama, dan dengan berat hati saya harus menerima, saya tidak diterima di kedua pilihan itu.

Saya sesek. Banget. Saya lihat teman-teman saya diterima di ITB, padahal saya juga daftar di ITB. Saya baru tahu belakangan, bahwa ternyata Unpad hanya mengambil sedikit dari jatah Undangan, dan FK Unpad hanya mengambil 1 orang lewat jalur murni SNMPTN Undangan, dan ITB mendahulukan mereka yang memilih ITB di pilihan pertama. Dan sejak saat itu, banyak kata “kalau” memenuhi otak saya. Kalau saja saya tidak mau jadi dokter. Kalau saja saya tahu Unpad ambil sedikit dari undangan. Kalau saja saya tahu ITB memprioritaskan yang pilihan pertama. Kalau saja saya jadikan ITB pilihan pertama. Kalau saja….kalau saja…kalaaauuuu…… lalu saya Runtuh, Roboh, Semacam udah ngelayang di udara, dan gak mau hidup.

Saya nangis 2 hari 2 malam. Sampai mata saya bengkak. I was totally afraid, karena SNMPTN tulis diadakan 2 minggu setelah pengumuman undangan. Saya mengutuki diri. Kenapa sombong? Saya benci diri sendiri, karena menganggap remeh sesuatu. Padahal sesuatu itu menentukan masa depan saya. Saya marah, kenapa gak dari dulu belajarnya, kenapa kalau bimbel cuma main-main? kenapa engga mempersiapkan kemungkinan terburuk jika tidak diterima? But time cannot be reduced, waktu tidak pernah bisa ditarik mundur. I was on the  Injury time,  Jatah waktu hanya 2 minggu untuk mempersiapkan apa yang belum dipersiapkan.

Akhirnya saya daftar ujian tulis, pilihan pertama FK Unpad, pilihan kedua FKG Unpad. Saya sama sekali engga ambil ujian mandiri atau ujian swasta satu pun, karena saya gak mau kuliah di swasta, disamping biayanya  emang mahal. Dalam 2 minggu itu, saya merasa menjadi super sholehah. Haha. Mama saya kadang menemani saya di kosan. Menenangkan saya, yang pada waktu itu belajarnya udah macem orang gila. Berhenti cuma untuk sholat, ke kamar mandi. Even sometimes I forget to eat.  Dalam minggu –minggu itu, saya rasa itulah sholat terkhusyu yang pernah saya lakukan (hehe). Terbangun sepertiga malam, dzikir panjang banget, sujud lama banget, baca quran jadi serba hobi. Karena saya tahu saya lagi sakit batin, yang obat penenangnya cuma satu : dekat dengan Allah.

Tiap hari tambahan di GO, pulang bimbel lanjut belajar di kosan, sampai ngundang temen yang udah lulus undangan, yang master matematika, biologi, kimia, fisika untuk datang ke kosan, ngajarin saya.

Finally, Hari H tiba!!

Semua perasaan campur aduk. Saya tegang luar biasa, deg-degan setengah mati. Saya ingat saya duduk di kursi pertama, paling pojok kanan depan. Dan hari pertama ujian tulis, saking tegangnya, saya sampai ke WC 3 kali -_- Just a moment before the test begin, saya izin ke toilet, karena saya gak bakal bisa mikir kalau saya nahan buang air kecil -_- padahal kondisi peserta ujian sudah steril, sudah tidak boleh keluar masuk lagi. Tapi saya mohon-mohon ke petugas pengawas, supaya saya diizinkan ke toilet. Akhirnya saya diizinkan. Hahaha. I will never ever forget that embarassing moment.

Ujian selesai. Saatnya menanti hasil pengumuman. Dari awal saya sudah pesimis dengan hasil ujian, karena ngerjain gak maksimal. Padahal setelah pulang, dan mengerjakan ulang soal itu, saya bisa. Tapi waktu ujian, blank…..panic attack, and I hate it a lot!

Sore hari, saya duduk di lantai, bersandar di kaki mama yang duduk di kursi. I asked her, “ ma, kira-kira detin keterima di mana?” dan tanpa sadar, mama jawab “Kedokteran gigi”, refleks saya kaget, dan mama juga kaget dengan jawabannya sendiri. “Iiih…kenapa? FK dooong!” saya bilang begitu. Dan mama saya cepat-cepat beristigfar, katanya mama sendiri gak tau kenapa jawab itu.

Dan pengumuman akhirnya resmi dibuka. Saya nyalakan laptop dan internet di rumah. saya ingat waktu itu menuju magrib, ayah menyuruh saya untuk sholat dulu. Ayah pergi ke masjid, saya dan mama berjamaah. Selesai sholat, teteh dan abang ipar saya telepon, they wondered about the result. Kami jawab kami belum buka website nya. Sedikit gangguan, mungkin karena banyak orang yang mengakses. Akhirnya abang yang minta untuk membuka, saya ingat waktu itu abang masih di Amerika, menelepon dari Golden, dan bilang akses internet disana lancar jaya. Abang bilang, “Selamat de, keterima di FKG Unpad”.

Saya sujud syukur, dan gak tau harus bilang apa. Mama justru nanya, “sedih gak de? Ga apa-apa di FKG?” dan kalimat itu justru yang bikin saya sedih. Tanpa mama sadar, saya menyesal sudah mengecewakannya. Demi Allah, yang buat saya sedih bukan saya tidak diterima di FK, tapi karena mama sedih mengira saya sedih gagal di pilihan pertama. Demi Allah, saya sedih kalau melihat mama sedih. Dan mama sedih kalau lihat saya sedih, kami saling tahu, lalu kami memutuskan diam. Sampai akhirnya ayah pulang dari masjid, dan bertanya, “Gimana hasilnya de?” mama yang menjawab.

Ada banyak hikmah untuk saya. Allah punya maksud yang kadang perlu waktu lama sampai maksud tersebut dimengerti oleh kita. Saya membayangkan ulang, flashback dan berandai-andai, jika saya keterima di FKG UI dulu, otomatis biaya pengeluaran semakin besar, dibanding dengan masuk di FKG Unpad, biaya semester 2 juta, daaaan tidak perlu ngekos :D karena jarak rumah ke jatinangor lumayan dekat. Allah tahu yang terbaik.

Dan sekarang, saat saya duduk menuju tingkat 3, saya semakin menyadari perbedaan profesi antara dokter dan dokter gigi, yang dulu saya pikir dokter umum lebih bergengsi dibanding dokter gigi. Semakin dewasa, semakin mengerti dunia dokter gigi, semakin sadar, kami memiliki kompetensi sendiri, yang dokter umum tidak bisa melakukannya, begitupun mereka, profesi yang dokter gigi tidak bisa lakukan. Semua tentang spesialisasi profesi, yang punya jalurnya masing-masing. Maka, dokter dan dokter gigi adalah saling melengkapi. Jadi saya tidak perlu iri, karena saya punya spesialisasi tersendiri. And now, I do love FKG :)  Lagi-lagi Allah tahu yang terbaik.

Kita tidak boleh terpuruk dalam perasaan gagal, Allah hanya membelokkan jalan kita, tapi tujuanNya tetap sama, memberi yang terbaik untuk hambaNya.

Selamat menjadi bangga dengan diri sendiri, dimanapun, siapapun, dan kapanpun :)

Monday, July 8, 2013

tongkosong

Ada orang yang jika berbicara, semua hal yang  terlintas di pikirannya akan ikut dibicarakan, sampai mulut berbusa, menyambung satu topik dan menyerempet topik-topik lain. Ada orang yang ketika berbicara, dengan semangat berapi-api berpetir-petir, tapi ditengah-tengah kehilangan kosakata, bingung mau melanjutkan apa. Ada orang yang ketika berbicara, kata-katanya tenang mencerminkan ketinggian ilmunya, seolah di otaknya ada brangkas kata yang tersusun rapi.

Tapi ada juga yang ketika berbicara, dia akan seperti ini :

Percaya atau tidak, tapi sebaiknya percaya saja,  setiap kali saya mau bicara di depan forum, saya akan berpikir berkali-kali tentang kata-kata yang akan saya ucapkan, kira-kira benar atau tidak? Nanti kalau tidak benar, apa kata orang? semua kalimat-kalimat yang acak-acakan itu terus-terusan dirangkai sebelum diucapkan, sampai-sampai waktu untuk berbicaranya sudah kadaluarsa, dan akhirnya tidak jadi bicara.
Atau ketika ragu berpendapat dalam tulisan, setelah tulisan di posting, dibaca ulang, kira-kira benar tidak ya tulisannya, kalau salah apa pendapat orang? apa sebaiknya di hapus saja? Maka akhirnya, tulisannya kemudian saya hapus. Cupu emang.

****

Hmmm, Akhir-akhir ini, dunia makin ribut ya. Debat udah jadi hobi. Mirisnya, yang jadi lawan bukan sebenar-benar lawan. Sometimes, kita mendebat kawan kita sendiri.

Mesir bergejolak, tapi ujung-ujungnya sesama muslim main tuding. Barat seneng tuh liat kita kaya gini. Apalagi yang ngaku muslim tapi otaknya udah ga sejalan sama Islam, namanya Liberal. Orang-orang liberal banyak yang jago nulis, jago ngomong, jago argumen. Masa “matahari yang sebenarnya pemberi kehidupan” aja bisa mereka argumenkan? Belum lagi mereka men-statement-kan kalau Islam itu agama oplosan. Iya kali emang minyak goreng. Dan segala kekacauan teori-teori mereka. Mereka jago loh berargumen, meskipun argumen mereka stupid nya minta ampun.

Suatu ketika saya baca tulisan dari orang liberal. Bravo, bahasanya meyakinkan sekali. Ya orang-orang awam yang ga tau apa-apa bisa kemakan tuh sama “teori” nya doi. Tapi kalau kita kritis, akan jelas sekali terlihat subjektivitas menjadi tema besar dari tulisan sang penulis.

Semua penulis memang pada akhirnya akan membawa kepentingannya. Kepentingannya adalah tujuannya. Termasuk tulisan ini, saya punya tujuan untuk menulis, dan saya punya kepentingan mengapa saya menulis. Kepentingan menulis itu banyak, ada yang ingin menginspirasi, ada yang ingin berbagi, ada yang ingin kelihatan keren, ada yang ingin mengungkapkan perasan, ada yang ingin bersosial, berpolitik, berbisnis, bahkan ada yang ikhtiar cari jodoh lewat tulisan. Apa itu salah? Hei, Semua penulis melakukannya.

*****

Dengan argumen yang sedemikian beragam, kadang orang-orang yang tidak berilmu atau yang ilmunya salah arah alias gagal paham saja mampu mengungkapkan pendapat di khalayak. Maka, seorang saya yang dulu berpikir, “ilmu kamu masih sedikit, masih belum ngerti apa-apa, dari pada kamu salah, lebih baik kamu diam saja, wong diam itu emas” harusnya berpikir lagi.

Sampaikanlah walau hanya satu ayat. Kebenaran harus ditegakkan dengan segera, kebenaran adalah agenda yang mendesak. Kalau menunggu sampai ilmunya tinggi, siapa yang akan bertindak jika ketidakbenaran merajalela? Mereka yang jelas-jelas sudah salah paham dengan ilmunya, masih heboh berkoar-koar. Mereka toh tidak takut salah, meskipun memang salah. Memang belum tentu saya benar, tapi ketika apa yang saya ucapkan dibenarkan Alquran dan Sunah, tidak ada satu manusiapun yang bisa menyalahkannya. Termasuk oleh isme isme manapun. Jadi kiranya, saya tidak boleh lagi takut berpendapat.

Kalau pendapat saya salah?

Toh, saya manusia. Itu  ciri saya manusia, saya punya salah. Yang bikin dia bukan manusia, ya kalau dia salah, dia enjoy sama kesalahannya. Kalau pendapat saya salah, niat awal adalah belajar, saya berlindung pada Allah atas kesalahan ucapan dan pikiran. Orang akan mengkritik pendapat saya, dan dari kritik saya akan belajar apa yang benar. Jadi, meskipun ilmu saya sedikit, tapi yang sedikit itu sebaiknya dialirkan, biar tidak jadi keruh karena ditampung di otak sendiri saja.

Beda ya, antara berpendapat sama dominasi berbicara. You never learn when you talk, kata pepatah inggris. Jadi dear myself, jangan cuma berkoar-koar, tapi tidak banyak mendengarkan dan mengamati. When it happens,  you learn nothing.

Thursday, June 6, 2013

Everything Begins with Tarbiyah

*akhirnya buka blog juga* 

buka blog, cuma mau copas, hehe. takut keburu lupa, jadi langsung saja. Oke, coba-coba-coba-coba... resapi paragraf-paragraf ini..

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhTY5Ps1Bol5ZgPocbKbIcOJPWQm98or1JGXiNQ1WaZkv1PD3Fe0S4SOIQFTr5V3q5nNgtIXOc0tXM8-sbQAZAJndOgiMzShsUlemrxJ7altv4TBvNFHoRRDCQmbdFm_N5W_mByTyO8Gfh4/s400/cropped-tumblr_mfyigauukn1rta0fio1_1280.jpg
guide us..


Reviving this ummah..what does it really takes for us to do it? What is the most important element? What is it..that brought Islam to be once at the top of the world? Let's look back in the past..

Umar ibn Khattab RA knew what was most worthy and most valuable. And he wanted to give the sahabah a lesson. So they were sitting in a room, and he said:
"Taman-nau! Make a wish!"

One of the sahabah said: "I wish that this room would be filled with gold..so I can spend it in the path of Allah."

And Umar said: "Taman-nau! Make a wish!"
Another sahabah said that, "I wish that this room would be filled with jewels and gems..so that I can spend it in the path of Allah."

He said, "Make a wish!"
"O amirul mu'minin, we don't know what to say. You want to fill this room with what?"

Umar ibn Khattab said: "MY wish, is that Allah 'azza wa jall fills this room, with the likes of Abu 'Ubaidah Amr ibn Al-Jarrah (in another narration Abu 'Ubaidah and Muaz ibn Jabal), so that I can send them in the path of Allah." 

Umar (radiyaAllahu 'anhu) is telling us and telling them that your human resources are more important than your financial resources. Theyre more important than your brick and moor. They are more important than everything you have. It is your human resources that counts.

Rasulullah SAW when he passed away, he didn't leave behind any glamourous buildings. The masjid of Madina was mud and clay. The floor was merely sand. The roof were palm leaves, and it would drip water on them when it rained. Rasulullah SAW did not pave any roads. He did not establish a financial network or business. He did not leave behind even books!

All that Rasulullah SAW left behind was alQuran. And he left it behind, not in mushafs, not in books, but he left it behind engraved in the hearts of the sahabah radiyallahu 'anhum. That was the product that Rasulullah SAW left behind. That was the effort of the da'wah of Rasulullah SAW. He left behind, the Sahabah. And every blessings that we enjoy today is because of that.

The religion did not spread much in the time of Rasulullah SAW, no. It spreads in the time of Abu Bakr and Umar (radiyaAllahu 'anhuma). In the time of Khilafah Bani Umayyah and Banu 'Abbas. Rasulullah has the Sahabah that were with him. In Madina, or Makkah, their number were not many; a hundred plusplus. These are the ones who started off with him in Makkah. But every one of these men, you could just throw them anywhere in the world and leave them. Alone! And they'd take care of the religion.

Umar ibn Khattab RA is saying, "I want such men; like Abu 'Ubaydah and Muaz ibn Jabal RA so that i can send them out, fi sabiliLLAH"

So tarbiyah is the most important thing. It is more important than your buildings, more important than the institutions. The most important thing, is the Tarbiyyah! And that, is how Islam will carry on.

http://maalimfitariq.files.wordpress.com/2013/05/tarbiyah.jpg
everything begins with tarbiyah :) 

jleb. 
*tarik nafas*

*kemudian sign out*

Thursday, May 16, 2013

Kepala Dua

Dari Bahasa kepada Jiwa.
“Saya tak tahu, berapa waktu yang tersisa untuk saya. Satu jam, satu hari, satu tahun, sepuluh, lima puluh tahun lagi? Bisakah waktu yang semakin sedikit itu saya manfaatkan untuk memberi arti keberadaan saya sebagai hamba Allah di muka bumi ini? Bisakah cinta, kebajikan, maaf dan syukur selalu tumbuh dari dalam diri, saat saya menghirup udara dari Yang Maha?” - Helvy Tiana Rosa

Teruntuk Jiwa, ketahuilah bahwa Bahasa telah melantunkan sajak terindahnya sebagai hadiah doa bagi pelampauan. Waktu berbilang, satu demi satu detik berdenting, dan kumpulan hari kemudian memudar beralih, berganti wajah yang semakin mendewasa. 

Dan dengan tidak terasa umur manusia pun lenyap sedetik demi sedetik ditelan siang dan malam. Kiranya jika berkenan, semoga usia-lalu yang telah terlewati dan bilangan waktu-kemudian yang akan membersamai, selalu ada berkah disetiap jejak langkahnya. 

Saatnya merevolusi diri, berbenah hingga tidak mengenal lelah. Memperbaiki segala sisi dimensi diri yang perlahan rapuh terbakar percikan keburukan. Akan ada masa, dimana alam meminta kontribusi dari bertambahnya usia. Maka, belajar dan memberi adalah Bahasa yang selayaknya Jiwa miliki.

Saya tiada berucap selamat, sebab nyata bahwa umur semakin berkurang. Saya berucap semoga, sebab perjalanan waktu memberi arti untuk merancang bahagia, menambah kawan,dan merencanakan hidup mulia. 

"Count your age by friends, not years. Count your life by smiles, not tears." - John Lennon

Semoga berkah tiap langkah, istiqomah hingga husnul khatimah.
Allah, limpahi umurku dengan ketaatan. 
aamiin.

Salam, kepada Duapuluh.

Bahasa menulis untuk Jiwa, Dari doa menuju Arsyi-Nya.
Detin Nitami, Duapuluh tahun lebih satu hari :)  



Saturday, May 11, 2013

biosphere


Seorang bayi manusia dirawat oleh sekelompok kera, si bayi tumbuh selayaknya kera tumbuh. Nama bayi itu kemudian terkenal sebagai Tarzan. Cerita ini menjadi fenomenal karena dikemas oleh sentuhan magic Disney yang membawa kita pada negeri imajinasi. Bukan karena Tarzan jatuh cinta pada Jane yang membuat cerita ini istimewa, karena soal cinta, toh Belle pun bisa jatuh cinta pada Beast. Ini soal lingkungan yang menumbuhkan tingkah laku Tarzan, anak manusia dibesarkan oleh sekelompok kera.


Saya bukan peneliti yang sedang membuktikan seberapa besar determinasi lingkungan terhadap perilaku seseorang. Saya hanyalah seorang manusia biasa *hadeuuh*. Tapi saya yakin, pengaruh lingkungan sangat amat besar dalam pembentukan karakter seseorang. seperti halnya dalam film animasi *ketauan tontonannya beginian* semisal Tarzan. Karakter Alex dalam Madagascar pun rupanya mengajari kita, dimana kita hidup, disitulah karakter kita terbentuk. Alex yang sedari kecil hidup terkurung dalam kebun binatang Central Park New York, merasa diri superstar, dan bukan menjadi se-superstar sebelumnya ketika dia harus  berhadapan dengan alam bebas Madagascar. Lingkungan kebun binatang membentuk kepribadian Alex. Dan lingkungan hutan membentuk kepribadian Tarzan. Meskipun hanya dalam film, tapi saya suka cerita ini *terus kenapa?* Dalam akhir film, mereka bisa berubah selayaknya manusia dan selayaknya singa yang sebenar-benarnya, seutuhnya. Tapi satu hal, mereka harus keluar dari zona lingkungan mereka dulu, belajar bertemu orang baru, mencari jati diri, dan akhirnya memutuskan bersikap *saya bukan psikolog, tapi menurut kesotoyan saya, kayanya sih teorinya gitu *


Posisikan diri kita sebagai Tarzan-Tarzan abad 21. Masih mencari jati diri, masih galau menentukan jalan hidup, masih suka plinplan, masih suka bingung memutuskan *dan ini malah jadi curhat* buatlah satu keputusan besar : keluar dari zona nyaman. Cari lingkungan yang kece, yang membawa pada kebaikan. Bergaul dengan orang-orang yang gemar menasehati dalam kebaikan dan kesabaran… yap, buatlah keputusan besar. Orang baik selalu menerima kehadiran orang yang berniat untuk mempelajari kebaikan. *kaya ustadzah gini -,-


Saya wanita dari kampung, dan terancam berpikir kampungan tulen kalau tidak terselamatkan oleh nasib. Alkisah, kakak saya karena kesalahan sistem *maaf lagi-lagi nyalahin sistem*dia engga bisa masuk SMP negeri, sekalipun SMP Negeri di Kabupaten. Nilai Ebtanasnya kecil. Akhirnya semua kebingungan, untung saya masih TK, jadi engga ikut-ikutan bingung. SMP swasta di kabupaten Bandung Timur belum ada yang bagus, terus mahal pula. Setelah nangis berkawan bantal berhari-hari, kakak saya mendapat secercah harapan. Kebetulan tetangga kami itu kepala sekolah SMP Darul Hikam Bandung, SMP Swasta yang cukup bagus lah ya. Melepas kebuntuan, ibu saya mendaftarkan kakak saya ke SMP tersebut, yaaaaang, jauhnya bukan main dari rumah.


Biasalah ya ibu-ibu tukang gossip di warung kasak kusuk. Katanya buat apa sekolah jauh-jauh, sekolah dimana aja sama. Catat baik-baik di ingatan Anda  pembaca yang setia, di pikiran kebanyakan orang tua ternyata masih kolot dengan mengatakan “sekolah dimana saja sama”. Saya sama seklai tidak setuju. Ada faktor X yang membedakan satu sekolah dengan sekolah lain. Faktor X itu bernama lingkungan. Iya, lagi-lagi lingkungan.


Kalau saya diizinkan berandai-andai, maka saya akan berandai-andai seandainya nilai ebtanas kakak saya bagus. Ibu saya akan mendaftarkan kakak saya di SMP Rancaekek, kemudian lanjut SMA Rancaekek, dan kuliah entah dimana. Adiknya tentu akan mengikuti jejak kakaknya, SMP SMA lalu kuliah entah dimana. Selalu ada makna dibalik semua pertanda *ßini lirik lagu*Allah punya maksud yang lebih indah, diluar nalar seorang manusia. Ternyata, karena nilai ebtanas kakak saya buruk, akhirnya dia ikut berjuang bersama tetangga pulang-pergi naik kereta api berangkat subuh pulang magrib, demi pendidikan. That’s life. Show must go on.  Dan karena lingkungan, akhirnya kakak memilih untuk masuk SMA 3 Bandung. Dan seperti kebanyakan anak 3 yang lain, kakak saya melanjutkan studi ke ITB. Otomatis, teori adik mengikuti kakak itu berlaku. Akan berbeda hasilnya jika teori “sekolah dimana saja sama” masih berlaku di otak kita. Beberapa kawan kecil saya ada yang hidupnya lunta-lunta, hilang arah, berandal, cinta dunia dan bangga pada dosa, main tindik tindik tubuh mirip sapi. Kawan saya lainnya kini visioner, optimis pada masa depan yang cerah, dan menghargai hidup, dan dengan segala kesotoyan saya, lagi-lagi saya melihat mereka pada background lingkungan dimana mereka dibentuk. Padahal sama-sama hidup dibawah langit Kabupaten Bandung Timur. Lingkungan membentuk saya, membentuk Anda, membentuk semua orang. Jadi menurut saya, keputusan untuk memilih lingkungan haruslah diutamakan.


Berkawanlah. Itu salah satu prinsip menjalani hidup. Manusia butuh teman. Dan sahabat adalah deskripsi diri. Kalau mau menilai seseorang, lihat dari teman-teman terdekatnya. Lingkungan mendeskripsikan kita. Itu sebabnya Rasul mengibaratkan pertemanan dengan penjual minyak wangi dan pandai besi

Sesungguhnya kawan duduk dalam rupa orang yang shalih dan kawan duduk dalam rupa orang yang suka maksiat adalah seumpama tukang minyak wangi dan pandai besi. Tukang minyak wangi boleh jadi akan mencipratkan minyak wangi ke badanmu, atau engkau membeli minyak wangi dari dia, atau engkau mendapatkan bau harum dari dirinya. Adapun pandai besi boleh jadi memercikkan api ke bajumu atau engkau mendapati bau busuk dari dirinya.” (Mutaffaq ‘alaih). 

Seseorang itu bergantung pada agama  sahabatnya. Karena itu, hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia bersahabat.” (HR Abu Dawud).
Terimakasih untuk mereka yang menyadarkan saya teori ini. Selektif memilih adalah modal awal dalam berkawan. Pandai-pandai membawa diri, sebab kita tidak pernah tahu bagaimana arus akan membawa kita. Butuh gaya yang besar untuk memulai. Momen inersia manusia untuk bergerak itu sepertinya luar biasa besar. Benda akan cenderung mempertahankan posisi diamnya, itu kata guru fisika. Tapi, daya tarik lingkungan yang baik –harusnya- memberikan dorongan yang lebih kuat, sehingga kita bisa memutuskan untuk beranjak dari lingkaran gelap, menuju cahaya yang terang benderang. Percayalah, bahwa tidak ada yang kekal di dunia, orang jahat sejahat-jahatnya bisa menjadi baik sebaik-baiknya, dan orang baik bisa berubah 180derajat menjadi orang jahat sejahat-jahatnya. Lingkungan merubah mereka. Lingkungan merubah kita…

sekian

Salam Hangat & Jabat Erat.
DN