Saturday, October 19, 2013

Melukis Stratosfer

Secara tiba-tiba, semua tenaga dalam diri dikuasai oleh imajinasi. Ketika berfikir bahwa bumi dalam segala ruang dan waktunya menjadi sedemikian kerdil.
Ketika terbang menjadi mungkin, menembus Stratosfer, bersama balon udara, kita meninggi..semakin meninggi..

Kita meninggi, menyaksikan betapa kerdilnya Bumi ini. Bersama kawan yang berangkulan, kita saling berbisik dalam hati, sepersekian detik. Lalu kita tertawa dalam hal yang sama. Kita menangis dalam hal yang sama. Kita adalah aku dan aku adalah kita. Melaju meninggi, meninggalkan Bumi dan pijakan, mewarnai Stratosfer kita, ah ya, kita begitu muda.

Perbekalan habis, aku kemudian terjun. Aku merindui semak belukar di halaman Bumiku. Aku melaju terjun lebih cepat dari kecepatan suara yang kita perbisikan tempo silam.

Sesampainya di Bumi, Relativitas Umum menawarkan diri untuk menjelajah masa lalu. Melalui wormholes itu, aku membenamkan diri pada dinansti lorong waktu. Aku mencari jejak tertawa dan menangis kita. Terdampar di kenangan lampau, ketika kita terbang meninggi.

Semakin pulih, aku kemudian membisikkan ini padamu. Maaf, jika harus jatuh sendiri, meninggalkan Stratosfer, menelantarkan kuas kuas lukis kita. Aku tak bisa selamanya berpijak dalam imajinasi, karenanya aku memilih jatuh.

Di semak belukar halaman Bumiku, aku berkeliling, menjelajahi keindahan bawah Atmosfer yang menentramkan. Dan aku aman.

Tak ingin berlama-lama, terbang dalam angan-angan yang menjadikan hati  kita meninggi, kawan.
Mengajakmu bersama, terbang dalam keindahan iman, yang menjadikan budi kita meninggi, kawan.

Aku ingin bersama. Tak peduli jika lorong waktu itu ada atau tiada.
------

Bagaimana caranya aku ungkapkan ini?

Penumbra

Menyadari kehadiran adalah hal terlangka yang bisa kita harapkan,
Dalam sudut dan posisi kita melihat, sepintas saja kita rasakan.

Selebihnya, kita lupakan.

Jika Bumi menyadari bahwa dirinya ada dipertengahan Bulan dan Matahari --meski tak banyak orang mengetahui...

Maka,
Aku adalah Bumi ketika tata surya menghadapi Penumbra,

Aku ada diantaramu -dan tak tersadari-
Dipertengahan Matahari, dalam perpanjangan bayang-bayang Bulan...

Friday, October 11, 2013

paacion


akhir-akhir ini saya jarang ngepel blog ini, karena sibuk dengan perhelatan dunia (?) sibuk mencari emmm...uuuhhh...yaaahhh..katakanlah passion saya itu apa *terdengar keren, ya? engga sih, biasa aja.

akhir-akhir ini, meskipun saya bukan artis, tapi saya meresa super lelah. Saya merasa setiap hari saya bekerja, tapi kenapa yang saya rasakan hasilnya hanya sedikit.Terus, lelah saya yang perpeluh-peluh itu kemana? *lebay* dari senin sampai senin lagi, rasanya waktu saya diseok-seok. dikoyak-koyak. Sampai waktu buat gunting kuku pun gak ada (?) Tapi kenapa, perasaan saya ikut lelah? Kenapa, kepuasan bekerja itu minim sekali? Huft. 

terus saya merenung, semakin lama semakin ngantuk dalam. Saya kenapa? Kenapa saya?
alhasil, saya menyadari ada yang tidak beres dari alur saya bekerja. Ada hati yang tertinggal ketika saya bekerja. Ada semangat yang hilang ketika saya bekerja. Kenapa? Lelah itu tidak dibarengi passion. 

Kalau saya membayangkan film-film zombie, Saya suka sedih, kenapa ada karakter zombie dalam perfilman ini. hiks. Atau kenapa orang-orang Voodoo mau beranggapan mayat bisa hidup lagi, atas dasar perdukunan, dan secara keroyokan menyerang manusia. Ya gapapa, namanya juga film. 
Tapi, zombie yang tidak bisa bertindak sesuai keinginannya, atau hanya dikendalikan oleh "majikan"nya, nyatanya merupakan analogi yang paling sreg untuk seseorang yang bekerja bukan dengan hatinya. Dengan kata lain, -baiklah, kita sebut saja  saya adalah zombie....yang masih beriman pada Allah dan rasulnya (?) 

20 tahun lebih saya bernafas, baru sekarang-sekarang menyadari sebenarnya apa passion saya, yaaaeeelllaaaahhh..
dan belakangan menjadi miris melihat adik-adik dari SD sampai SMA nanti harus dicekoki sistem pendidikan yang tidak mengantarkan mereka menemukan apa passion mereka. Anak-anak Indonesia harus melewati fase mencari jati diri di usia yang hampir tak muda lagi. Mereka masih harus dicekoki angka-angka dan cacing-cacing integral -bertahun-tahun- padahal passionnya adalah mengobati orang, mereka masih  harus menghitung dimana kedudukan bola saat t=0,5 s dilempar dengan sudut elevasi 37derajat dengan kecepatan awal 10 m/s, padahal passionnya adalah bermain piano. mereka masih harus menghafal cara amoeba hidup atau bagaimana katak bernafas, padahal passion mereka adalah memanage keuangan. Yang semuanya harus mereka kuasai kalau mereka mau dicap sebagai "anak pintar".

Sistem memang menyistem kita (?) mau bagaimana lagi? Kalau disadarkan sejak dini tentang passionnya apa, ya Alhamdulillah, atau diusia yang sudah kepala dua macam saya, semoga belum terlambat. Tapi banyak orang yang tidak peduli dengan passion, yang penting mereka bekerja..bekerja..dan bekerja.. yang penting mereka bisa semua mata pelajaran, lulus kuliah, menikah, bekerja, gaji besar, hidup tak kekurangan, dan yeah...terserahlah.

sekali lagi, apa bedanya sama zombie?

saya tidak tahu bagaimana sistem pendidikan yang akan diterapkan di Indonesia 20 tahun lagi seperti apa. Yang jelas, sekarang, waktu anak-anak harus dihabiskan dengan sekolah lanjut les bimbel, lanjut kerjakan pr, dan besok paginya begitu lagi. Meskipun saya adalah korban dari sistem yang demikian. Saya bukan calon ibu yang menganjurkan anak saya menjadi bodoh dalam pelajaran *naudzubillah* tapi, berpuluh tahun lagi, saya harus menghadapi fenomena ini lagi. Jika sistem menginginkan anak saya menghafal bagaimana sistem reproduksi ikan atau menghitung resultan gaya gravitasi benda a terhadap benda b, maka saya harus mengusahakan dia untuk mengerti, bukan bisa. Paham, mengapa ilmu itu harus dipelajari. Selebihnya, potensi utama -yang menjadikan dia manusia- yang harus digali. Kalau suka musik, asah kemampuannya. Kalau suka sastra, belikan buku-bukunya. Kalau suka olahraga, temani latihannya. Kalau suka masak, ajari bumbu-bumbunya. Kalau suka sosial, bantu ia mengabdi. Kalau suka akademik, biarkan dia bereksperimen. Kalau suka politik, em..susah juga sih.

Yang jelas, masih banyak orang yang gurita jabatan. Yang bekerja diluar jalur kemampuan dirinya. Tidak sesuai kata hati, yang penting bisa hidup dan beli makan. miris.

jangan sampai generasi keterunan saya, mirip emaknya yang gak bisa apa-apa, yang gak suka baca. Semoga Allah pasangkan orang yang gak suka baca dengan orang yang hobi baca, atau pemilik buku bacaan yang banyak. aamiin

ga jelas ya, ini tulisan maksudnya apa.
yaudahlah.


Friday, August 16, 2013

Holofrasis

Saya pernah berpikir tidak ingin menjadi apa-apa. Tidak menjadi kamu. Tidak menjadi dia. Tidak menjadi mereka. Tidak juga menjadi SailorJupiter, yang akhir-akhir ini entah kenapa kangen film Sailormoon. Lalu sebenarnya saya ingin jadi apa?!

Baru saja tadi saya melamun sembari mengelap pegangan tangga. Saya berpikir, saya ini siapa, saya bisanya apa. Banyak banget orang yang serba lebih dari saya. Terus, saya merasa menjadi sebatas butiran detergen, atau serpihan biji rambutan.

Ah, Kenapa sering banget ngerasa gagal? Usaha, gagal, usaha lagi, gagal lagi. Mungkin indikasi bahwa kemampuan ada dibawah rata-rata

Mendadak saya berpikir ingin menjadi siapa saja. Menjadi kamu. Menjadi dia. Menjadi mereka, bahkan menjadi anggota baru ksatria Sailor, saya menamai SailorSaturnus. Siapa saja, asal bukan saya.

Hahaha, lucu ya, lari dari masalah. Lari, lari,lari..*hosh..hoshh..hosshh

Saya dengar bisik-bisik samar sekilas, katanya, "disaat ada orang di luar sana yang ingin memiliki apa yang kamu punya, kamu memilih untuk berpikir kamu tidak punya apa-apa"

Lha, tadi kan saya lagi ngelap. Sendirian.

Tuesday, August 13, 2013

Friday, August 2, 2013

FLASH-BACK

Tiba-tiba teringat masa-masa pengumuman SNMPTN tahun 2011, setalah baca tulisan seseorang yang menceritakan kegagalannya di SBMPTN 2013 kemarin. Terus, jadi ingin cerita, hehe.

2011. bener-bener jadi tahun pembelajaran buat saya. Awalnya saya ikut tes semacam  PMDK yang ada di UI, apa namanya ya saya lupa :D Seleksi ini terbatas kuota , Alhamdulillah saya termasuk dalam kuota itu. Saya pilih FKG UI (karena saya sadar diri lah ya, ga yakin bisa tembus FK UI). Waktu pengisian formulir, tertera pilihan nominal uang yang harus dibayar untuk biaya semester. Dan dengan bodohnya,  saya mikir bahwa nominal akan mempengaruhi keputusan diterima atau tidak. Jadi dengan seenak jidat saya tulis 4 juta persemester. Tanpa bincang-bincang dengan orang tua, oh ayolah, bocah tak tahu diri. Tapi akhirnya diizinkan, fyuuuh. Terus saya mikir, kalau saya keterima, saya pasti harus ngekos. Biaya di Jakarta bukan tidak murah, belum lagi biaya kuliah sehari-hari. Gila!!

Waktu saya main ke Jakarta untuk menjenguk saudara, saya sempatkan main ke Salemba dengan Teteh saya. Saya foto-foto gedung FK UI, dan tentu saja FKG UI. Dari pandangan pertama, If I have to be honest, oke, saya gak jatuh cinta. Meskipun gedung FK UI mirip SMA 3 Bandung, tapi saya semacam enggak sreg sama suasana Jakarta yang kayanya bukan saya banget.

H- Beberapa JAM (JAM YAAA JAAAAM!!) pengumuman seleksi PMDK UI, it was CANCELLED, dan diberitahukan bahwa seleksi akan diintegrasikan dengan SNMPTN Undangan, semacam tes masuk dengan menggunakan nilai rapot SMA, sebuah kebijakan maha dahsyat dari pemerintah yang perdana dikeluarkan tahun 2011. Bagi yang sudah terdaftar PMDK UI, tinggal melakukan konfirmasi apakah mau dilanjutkan. Setelah berdiskusi dengan orang tua, akhirnya saya memutuskan PMDK UI saya cancel, lalu memutuskan memilih jurusan baru di SNMPTN Undangan. Goodbye Jakarta, Goodbye FKG UI.

Saya daftar. Tersedia 6 pilihan untuk 2 universitas yang berbeda. Saya pilih Unpad, jurusan kedokteran, dan ITB jurusan FTTM. Sisanya saya kosongkan. Sedikit PD, ya karena nilai Rapot saya gak jelek-jelek amat, even ketika di ranking, saya termasuk 3 besar di angkatan yang mau daftar ke FK Unpad. You know how it feels? Bikin saya jadi tak tahu diri. Ya gimana engga, saya nyantei dong, ngerasa aman, dengan opini bahwa FK Unpad gak mungkin cuma ambil 1 orang dari SMA 3. Yang lain ribet Bimbel, saya juga bimbel sih, di 2 tempat malah, tapi ya sekenanya saja.

Pengumanan undangan datang juga. Dengan bodohnya, saya lupa nomer ujian saya, dan nomer ujian itu ada di kosan, sedang saya lagi di rumah. Jadi malam itu saat orang lain sudah ber-alhamdulillah ria, saya gak tau nasib saya. Sampai akhirnya besok paginya saya ke kosan, ambil kartu nomer ujian, dan gak ada warnet yang buka pagi-pagi. Akhirnya, saya telepon Teteh saya, minta dilihatkan di website. Teteh saya lama sekali menelepon baliknya. Ternyata, teteh menelepon mama dulu, dan mengabarkan bahwa saya tidak lolos undangan. Teteh gak tega kalau dia yang ngomong langsung ke saya. Akhirnya saya terima telepon dari mama, dan dengan berat hati saya harus menerima, saya tidak diterima di kedua pilihan itu.

Saya sesek. Banget. Saya lihat teman-teman saya diterima di ITB, padahal saya juga daftar di ITB. Saya baru tahu belakangan, bahwa ternyata Unpad hanya mengambil sedikit dari jatah Undangan, dan FK Unpad hanya mengambil 1 orang lewat jalur murni SNMPTN Undangan, dan ITB mendahulukan mereka yang memilih ITB di pilihan pertama. Dan sejak saat itu, banyak kata “kalau” memenuhi otak saya. Kalau saja saya tidak mau jadi dokter. Kalau saja saya tahu Unpad ambil sedikit dari undangan. Kalau saja saya tahu ITB memprioritaskan yang pilihan pertama. Kalau saja saya jadikan ITB pilihan pertama. Kalau saja….kalau saja…kalaaauuuu…… lalu saya Runtuh, Roboh, Semacam udah ngelayang di udara, dan gak mau hidup.

Saya nangis 2 hari 2 malam. Sampai mata saya bengkak. I was totally afraid, karena SNMPTN tulis diadakan 2 minggu setelah pengumuman undangan. Saya mengutuki diri. Kenapa sombong? Saya benci diri sendiri, karena menganggap remeh sesuatu. Padahal sesuatu itu menentukan masa depan saya. Saya marah, kenapa gak dari dulu belajarnya, kenapa kalau bimbel cuma main-main? kenapa engga mempersiapkan kemungkinan terburuk jika tidak diterima? But time cannot be reduced, waktu tidak pernah bisa ditarik mundur. I was on the  Injury time,  Jatah waktu hanya 2 minggu untuk mempersiapkan apa yang belum dipersiapkan.

Akhirnya saya daftar ujian tulis, pilihan pertama FK Unpad, pilihan kedua FKG Unpad. Saya sama sekali engga ambil ujian mandiri atau ujian swasta satu pun, karena saya gak mau kuliah di swasta, disamping biayanya  emang mahal. Dalam 2 minggu itu, saya merasa menjadi super sholehah. Haha. Mama saya kadang menemani saya di kosan. Menenangkan saya, yang pada waktu itu belajarnya udah macem orang gila. Berhenti cuma untuk sholat, ke kamar mandi. Even sometimes I forget to eat.  Dalam minggu –minggu itu, saya rasa itulah sholat terkhusyu yang pernah saya lakukan (hehe). Terbangun sepertiga malam, dzikir panjang banget, sujud lama banget, baca quran jadi serba hobi. Karena saya tahu saya lagi sakit batin, yang obat penenangnya cuma satu : dekat dengan Allah.

Tiap hari tambahan di GO, pulang bimbel lanjut belajar di kosan, sampai ngundang temen yang udah lulus undangan, yang master matematika, biologi, kimia, fisika untuk datang ke kosan, ngajarin saya.

Finally, Hari H tiba!!

Semua perasaan campur aduk. Saya tegang luar biasa, deg-degan setengah mati. Saya ingat saya duduk di kursi pertama, paling pojok kanan depan. Dan hari pertama ujian tulis, saking tegangnya, saya sampai ke WC 3 kali -_- Just a moment before the test begin, saya izin ke toilet, karena saya gak bakal bisa mikir kalau saya nahan buang air kecil -_- padahal kondisi peserta ujian sudah steril, sudah tidak boleh keluar masuk lagi. Tapi saya mohon-mohon ke petugas pengawas, supaya saya diizinkan ke toilet. Akhirnya saya diizinkan. Hahaha. I will never ever forget that embarassing moment.

Ujian selesai. Saatnya menanti hasil pengumuman. Dari awal saya sudah pesimis dengan hasil ujian, karena ngerjain gak maksimal. Padahal setelah pulang, dan mengerjakan ulang soal itu, saya bisa. Tapi waktu ujian, blank…..panic attack, and I hate it a lot!

Sore hari, saya duduk di lantai, bersandar di kaki mama yang duduk di kursi. I asked her, “ ma, kira-kira detin keterima di mana?” dan tanpa sadar, mama jawab “Kedokteran gigi”, refleks saya kaget, dan mama juga kaget dengan jawabannya sendiri. “Iiih…kenapa? FK dooong!” saya bilang begitu. Dan mama saya cepat-cepat beristigfar, katanya mama sendiri gak tau kenapa jawab itu.

Dan pengumuman akhirnya resmi dibuka. Saya nyalakan laptop dan internet di rumah. saya ingat waktu itu menuju magrib, ayah menyuruh saya untuk sholat dulu. Ayah pergi ke masjid, saya dan mama berjamaah. Selesai sholat, teteh dan abang ipar saya telepon, they wondered about the result. Kami jawab kami belum buka website nya. Sedikit gangguan, mungkin karena banyak orang yang mengakses. Akhirnya abang yang minta untuk membuka, saya ingat waktu itu abang masih di Amerika, menelepon dari Golden, dan bilang akses internet disana lancar jaya. Abang bilang, “Selamat de, keterima di FKG Unpad”.

Saya sujud syukur, dan gak tau harus bilang apa. Mama justru nanya, “sedih gak de? Ga apa-apa di FKG?” dan kalimat itu justru yang bikin saya sedih. Tanpa mama sadar, saya menyesal sudah mengecewakannya. Demi Allah, yang buat saya sedih bukan saya tidak diterima di FK, tapi karena mama sedih mengira saya sedih gagal di pilihan pertama. Demi Allah, saya sedih kalau melihat mama sedih. Dan mama sedih kalau lihat saya sedih, kami saling tahu, lalu kami memutuskan diam. Sampai akhirnya ayah pulang dari masjid, dan bertanya, “Gimana hasilnya de?” mama yang menjawab.

Ada banyak hikmah untuk saya. Allah punya maksud yang kadang perlu waktu lama sampai maksud tersebut dimengerti oleh kita. Saya membayangkan ulang, flashback dan berandai-andai, jika saya keterima di FKG UI dulu, otomatis biaya pengeluaran semakin besar, dibanding dengan masuk di FKG Unpad, biaya semester 2 juta, daaaan tidak perlu ngekos :D karena jarak rumah ke jatinangor lumayan dekat. Allah tahu yang terbaik.

Dan sekarang, saat saya duduk menuju tingkat 3, saya semakin menyadari perbedaan profesi antara dokter dan dokter gigi, yang dulu saya pikir dokter umum lebih bergengsi dibanding dokter gigi. Semakin dewasa, semakin mengerti dunia dokter gigi, semakin sadar, kami memiliki kompetensi sendiri, yang dokter umum tidak bisa melakukannya, begitupun mereka, profesi yang dokter gigi tidak bisa lakukan. Semua tentang spesialisasi profesi, yang punya jalurnya masing-masing. Maka, dokter dan dokter gigi adalah saling melengkapi. Jadi saya tidak perlu iri, karena saya punya spesialisasi tersendiri. And now, I do love FKG :)  Lagi-lagi Allah tahu yang terbaik.

Kita tidak boleh terpuruk dalam perasaan gagal, Allah hanya membelokkan jalan kita, tapi tujuanNya tetap sama, memberi yang terbaik untuk hambaNya.

Selamat menjadi bangga dengan diri sendiri, dimanapun, siapapun, dan kapanpun :)

Monday, July 8, 2013

tongkosong

Ada orang yang jika berbicara, semua hal yang  terlintas di pikirannya akan ikut dibicarakan, sampai mulut berbusa, menyambung satu topik dan menyerempet topik-topik lain. Ada orang yang ketika berbicara, dengan semangat berapi-api berpetir-petir, tapi ditengah-tengah kehilangan kosakata, bingung mau melanjutkan apa. Ada orang yang ketika berbicara, kata-katanya tenang mencerminkan ketinggian ilmunya, seolah di otaknya ada brangkas kata yang tersusun rapi.

Tapi ada juga yang ketika berbicara, dia akan seperti ini :

Percaya atau tidak, tapi sebaiknya percaya saja,  setiap kali saya mau bicara di depan forum, saya akan berpikir berkali-kali tentang kata-kata yang akan saya ucapkan, kira-kira benar atau tidak? Nanti kalau tidak benar, apa kata orang? semua kalimat-kalimat yang acak-acakan itu terus-terusan dirangkai sebelum diucapkan, sampai-sampai waktu untuk berbicaranya sudah kadaluarsa, dan akhirnya tidak jadi bicara.
Atau ketika ragu berpendapat dalam tulisan, setelah tulisan di posting, dibaca ulang, kira-kira benar tidak ya tulisannya, kalau salah apa pendapat orang? apa sebaiknya di hapus saja? Maka akhirnya, tulisannya kemudian saya hapus. Cupu emang.

****

Hmmm, Akhir-akhir ini, dunia makin ribut ya. Debat udah jadi hobi. Mirisnya, yang jadi lawan bukan sebenar-benar lawan. Sometimes, kita mendebat kawan kita sendiri.

Mesir bergejolak, tapi ujung-ujungnya sesama muslim main tuding. Barat seneng tuh liat kita kaya gini. Apalagi yang ngaku muslim tapi otaknya udah ga sejalan sama Islam, namanya Liberal. Orang-orang liberal banyak yang jago nulis, jago ngomong, jago argumen. Masa “matahari yang sebenarnya pemberi kehidupan” aja bisa mereka argumenkan? Belum lagi mereka men-statement-kan kalau Islam itu agama oplosan. Iya kali emang minyak goreng. Dan segala kekacauan teori-teori mereka. Mereka jago loh berargumen, meskipun argumen mereka stupid nya minta ampun.

Suatu ketika saya baca tulisan dari orang liberal. Bravo, bahasanya meyakinkan sekali. Ya orang-orang awam yang ga tau apa-apa bisa kemakan tuh sama “teori” nya doi. Tapi kalau kita kritis, akan jelas sekali terlihat subjektivitas menjadi tema besar dari tulisan sang penulis.

Semua penulis memang pada akhirnya akan membawa kepentingannya. Kepentingannya adalah tujuannya. Termasuk tulisan ini, saya punya tujuan untuk menulis, dan saya punya kepentingan mengapa saya menulis. Kepentingan menulis itu banyak, ada yang ingin menginspirasi, ada yang ingin berbagi, ada yang ingin kelihatan keren, ada yang ingin mengungkapkan perasan, ada yang ingin bersosial, berpolitik, berbisnis, bahkan ada yang ikhtiar cari jodoh lewat tulisan. Apa itu salah? Hei, Semua penulis melakukannya.

*****

Dengan argumen yang sedemikian beragam, kadang orang-orang yang tidak berilmu atau yang ilmunya salah arah alias gagal paham saja mampu mengungkapkan pendapat di khalayak. Maka, seorang saya yang dulu berpikir, “ilmu kamu masih sedikit, masih belum ngerti apa-apa, dari pada kamu salah, lebih baik kamu diam saja, wong diam itu emas” harusnya berpikir lagi.

Sampaikanlah walau hanya satu ayat. Kebenaran harus ditegakkan dengan segera, kebenaran adalah agenda yang mendesak. Kalau menunggu sampai ilmunya tinggi, siapa yang akan bertindak jika ketidakbenaran merajalela? Mereka yang jelas-jelas sudah salah paham dengan ilmunya, masih heboh berkoar-koar. Mereka toh tidak takut salah, meskipun memang salah. Memang belum tentu saya benar, tapi ketika apa yang saya ucapkan dibenarkan Alquran dan Sunah, tidak ada satu manusiapun yang bisa menyalahkannya. Termasuk oleh isme isme manapun. Jadi kiranya, saya tidak boleh lagi takut berpendapat.

Kalau pendapat saya salah?

Toh, saya manusia. Itu  ciri saya manusia, saya punya salah. Yang bikin dia bukan manusia, ya kalau dia salah, dia enjoy sama kesalahannya. Kalau pendapat saya salah, niat awal adalah belajar, saya berlindung pada Allah atas kesalahan ucapan dan pikiran. Orang akan mengkritik pendapat saya, dan dari kritik saya akan belajar apa yang benar. Jadi, meskipun ilmu saya sedikit, tapi yang sedikit itu sebaiknya dialirkan, biar tidak jadi keruh karena ditampung di otak sendiri saja.

Beda ya, antara berpendapat sama dominasi berbicara. You never learn when you talk, kata pepatah inggris. Jadi dear myself, jangan cuma berkoar-koar, tapi tidak banyak mendengarkan dan mengamati. When it happens,  you learn nothing.