Thursday, November 28, 2013

Mercusuar

Lampu mercusuar berkedip di matamu..
Ombak datang, dan halau saja.
Lampu mercusuar temaram di tanganmu..
Gerimis menimpa, dan berteduh saja.
Lalu,
Lampu mercusuar tenggelam di hari-hariku,
Hari dimana aku adalah ombak dan gerimismu,
Waktu dimana aku adalah mercusur itu.

------
Mercusuar diam di pinggiran ombak
Menanti layar dan jangkar
Menerka
Siapa dahulu yang kemudian berlabuh.

Wednesday, November 13, 2013

cenayang

Ada beberapa alasan orang mengatakan, jika ingin dihargai orang, maka hargai orang terlebih dahulu. Sepakat sih. Tapi ada beberapa pengecualian khusus untuk saya, yang mungkin setelah Anda baca, Anda akan berpikir untuk.......tidak berpikir apa-apa (?)

Saya percaya ada banyak jenis makanan enak di dunia ini. Daging salah satunya. Saya percaya, -misalnya- sate sapi atau ayam itu enak. Tapi seumur hidup saya, saya tidak pernah makan sate. Atau -misalnya lagi- bakso isi daging iti surga makanan, nendang enaknya! Tapi -sekali lagi- seumur hidup saya tidak pernah makan bakso isi daging. Saya tidak makan ayam dalam bentuk ayam (?) Saya cuma mau makan daging yg sudah diolah kebentuk lain. Misalnya diolah jd nugget, fillet, jd daging kebab, dll. Yang penting bentuknya udah bukan daging asli (?) lagi. Padahal logikanya, ya sama-sama daging. Saya tidak makan ikan yang banyak tulangnya. Atau kalau secara sengaja maupun tidak sengaja  saya menemukan banyak tulang ikan dalam tumpukan nasi saya, kemungkinan besar kegiatan makan saya akan terhenti. Ya Tuhan, saya banyak maunya.

Seringkali ibu saya kebingungan kalau masak untuk saya. Tapi sederhana saja, ibu saya cukup masak sayur -apapun- dan saya akan bahagia. Masalahnya, ibu saya suka jadi kebingungan, sayur apalagi yang harus dimasak buat saya. Dari lodeh, sayur asem, sop, kangkung, bayam, soto, rawon, dll dll berbelas-belas tahun lamanya selalu bergilir ibu saya masak.......hingga bosan.

Iya iya, saya banyak maunya.

Jadi anehnya, secara semena-mena, saya memutuskan untuk sakit hati jika melihat makanan hasil karya saya tidak dimakan orang yang jadi naracoba untuk makan makanan saya. Sekalipun makanan itu saya beli dari warung nasi padang, kalau saya yang beli, saya akan merasa itu adalah masakan hasil saya *like a boss -,-* meskipun kadang (read : sering) saya tidak memakan apa yang orang lain masak, dengan alasan yang mungkin dianggap layak terima : maaf, saya tidak makan itu.

Saya akan murka, seperti yang biasa saya lakukan kepada Ayah saya (?) Secara turun temurun, mungkin sifat memilih makanan itu diturunkan Ayah (yang sialnya) ke saya (dan bukan ke kakak saya, huft) Saya curiga, jangan-jangan ibu saya itu seorang cenayang. Kenapa dia mampu membaca situasi dengan jitu. Kenapa feeling "hari ini masak apa ya" -nya hampir selalu tepat dengan kondisi perut kami yang sedang ingin makan apa. Dan kenapa masakan ibu saya selalu bisa diterima mulut Ayah dan saya yang sebenarnya pilih-pilih makanan? Iya, mungkin ibu saya adalah cenayang.

Ibu saya pernah meninggalkan rumah selama satu bulan lamanya. Selama sebulan lamanya -yang bagi saya rasanya seperti satu tahun!- saya harus mencoba memeriksa apakah saya seorang cenayang juga, atau bukan. Kasusnya, saya berhadapan dengan Ayah, yang kadang sulit ditebak, mau makan apa sebenarnya beliau. Dan bodohnya, saya seringkali salah masak masakan. Dan ujung-ujungnya, saya harus makan sendiri. Hiks. Ditolak. Oh jelas saya murka. Piring yang sudah saya siapkan, seperti di sinetron-sinetron, akan saya banting (?) secara tidak manusiawi, prang prang prang. Bukan karena saya suka suara piring, tapi saya hanya mau menunjukkan, ini loh Ayah sayang, saya lagi marah nih Yah. Yang kemudian Ayah akan sok-sok -an baik macam sedang ngerayu orang. Maaf, anak gadismu tidak mempan dirayu, kira2 begitu jawabannya.

Atau ketika saya masak (sesungguhnya jarang sekali masak) dan Ayah memuji hasil masakan saya, Oh meeen! Rasanya seperti minum air es di suhu 40 derajat celcius. Nyeees! Orang yang tidak banyak suka masakan orang kecuali masakan mama, seperti Ayah ini, bisa suka masakan saya itu ajaib untuk level orang yang tidak pandai masak macam saya. Huahahaha.

Dan saya jadi harap-harap cemas. Di kehidupan mendatang (?) Saya berharap bisa hidup damai dengan orang-orang yang memakan apa saja. Atau kalau tidak, saya akan memutar otak 4x lebih berat dibanding saat ini untuk menentukan "ya Tuhan, saya harus masak apa". Kan kasian, saya bisa jadi cepat tua.

Masak adalah pekerjaan yang sangat misterius untuk saya. Sambil melihat dan memandangi orang memakan masakan itu, saya seringkali berkomat kamit "semoga enak semoga enak" meskipun tidak jarang yang mengernyitkan mata, lalu senyum terpaksa, "enak kok", uuummm,,, buat saya senyum terpaksa itu adalah pekerjaan bodoh.

Dicoba dan latihan terus saja, belajar masak, supaya senyum orang2 yang makan makanan kita tidak lagi senyum sinting untuk menghindari murkanya saya. Haha. Yang penting, makanlah dengan ikhlas, hahaha.

Oya, dan saya tidak pandai membuat closing suatu tulisan. Sebenarnya ingin diakhiri dari tadi, bahkan dari awal menulis judul. Tapi jadinya malah sepanjang dan setidak penting ini.

Tuhkan, Anda pada akhirnya akan memutuskan untuk tidak berpikir apa-apa. Hmmm.

Saturday, October 19, 2013

Melukis Stratosfer

Secara tiba-tiba, semua tenaga dalam diri dikuasai oleh imajinasi. Ketika berfikir bahwa bumi dalam segala ruang dan waktunya menjadi sedemikian kerdil.
Ketika terbang menjadi mungkin, menembus Stratosfer, bersama balon udara, kita meninggi..semakin meninggi..

Kita meninggi, menyaksikan betapa kerdilnya Bumi ini. Bersama kawan yang berangkulan, kita saling berbisik dalam hati, sepersekian detik. Lalu kita tertawa dalam hal yang sama. Kita menangis dalam hal yang sama. Kita adalah aku dan aku adalah kita. Melaju meninggi, meninggalkan Bumi dan pijakan, mewarnai Stratosfer kita, ah ya, kita begitu muda.

Perbekalan habis, aku kemudian terjun. Aku merindui semak belukar di halaman Bumiku. Aku melaju terjun lebih cepat dari kecepatan suara yang kita perbisikan tempo silam.

Sesampainya di Bumi, Relativitas Umum menawarkan diri untuk menjelajah masa lalu. Melalui wormholes itu, aku membenamkan diri pada dinansti lorong waktu. Aku mencari jejak tertawa dan menangis kita. Terdampar di kenangan lampau, ketika kita terbang meninggi.

Semakin pulih, aku kemudian membisikkan ini padamu. Maaf, jika harus jatuh sendiri, meninggalkan Stratosfer, menelantarkan kuas kuas lukis kita. Aku tak bisa selamanya berpijak dalam imajinasi, karenanya aku memilih jatuh.

Di semak belukar halaman Bumiku, aku berkeliling, menjelajahi keindahan bawah Atmosfer yang menentramkan. Dan aku aman.

Tak ingin berlama-lama, terbang dalam angan-angan yang menjadikan hati  kita meninggi, kawan.
Mengajakmu bersama, terbang dalam keindahan iman, yang menjadikan budi kita meninggi, kawan.

Aku ingin bersama. Tak peduli jika lorong waktu itu ada atau tiada.
------

Bagaimana caranya aku ungkapkan ini?

Penumbra

Menyadari kehadiran adalah hal terlangka yang bisa kita harapkan,
Dalam sudut dan posisi kita melihat, sepintas saja kita rasakan.

Selebihnya, kita lupakan.

Jika Bumi menyadari bahwa dirinya ada dipertengahan Bulan dan Matahari --meski tak banyak orang mengetahui...

Maka,
Aku adalah Bumi ketika tata surya menghadapi Penumbra,

Aku ada diantaramu -dan tak tersadari-
Dipertengahan Matahari, dalam perpanjangan bayang-bayang Bulan...

Friday, October 11, 2013

paacion


akhir-akhir ini saya jarang ngepel blog ini, karena sibuk dengan perhelatan dunia (?) sibuk mencari emmm...uuuhhh...yaaahhh..katakanlah passion saya itu apa *terdengar keren, ya? engga sih, biasa aja.

akhir-akhir ini, meskipun saya bukan artis, tapi saya meresa super lelah. Saya merasa setiap hari saya bekerja, tapi kenapa yang saya rasakan hasilnya hanya sedikit.Terus, lelah saya yang perpeluh-peluh itu kemana? *lebay* dari senin sampai senin lagi, rasanya waktu saya diseok-seok. dikoyak-koyak. Sampai waktu buat gunting kuku pun gak ada (?) Tapi kenapa, perasaan saya ikut lelah? Kenapa, kepuasan bekerja itu minim sekali? Huft. 

terus saya merenung, semakin lama semakin ngantuk dalam. Saya kenapa? Kenapa saya?
alhasil, saya menyadari ada yang tidak beres dari alur saya bekerja. Ada hati yang tertinggal ketika saya bekerja. Ada semangat yang hilang ketika saya bekerja. Kenapa? Lelah itu tidak dibarengi passion. 

Kalau saya membayangkan film-film zombie, Saya suka sedih, kenapa ada karakter zombie dalam perfilman ini. hiks. Atau kenapa orang-orang Voodoo mau beranggapan mayat bisa hidup lagi, atas dasar perdukunan, dan secara keroyokan menyerang manusia. Ya gapapa, namanya juga film. 
Tapi, zombie yang tidak bisa bertindak sesuai keinginannya, atau hanya dikendalikan oleh "majikan"nya, nyatanya merupakan analogi yang paling sreg untuk seseorang yang bekerja bukan dengan hatinya. Dengan kata lain, -baiklah, kita sebut saja  saya adalah zombie....yang masih beriman pada Allah dan rasulnya (?) 

20 tahun lebih saya bernafas, baru sekarang-sekarang menyadari sebenarnya apa passion saya, yaaaeeelllaaaahhh..
dan belakangan menjadi miris melihat adik-adik dari SD sampai SMA nanti harus dicekoki sistem pendidikan yang tidak mengantarkan mereka menemukan apa passion mereka. Anak-anak Indonesia harus melewati fase mencari jati diri di usia yang hampir tak muda lagi. Mereka masih harus dicekoki angka-angka dan cacing-cacing integral -bertahun-tahun- padahal passionnya adalah mengobati orang, mereka masih  harus menghitung dimana kedudukan bola saat t=0,5 s dilempar dengan sudut elevasi 37derajat dengan kecepatan awal 10 m/s, padahal passionnya adalah bermain piano. mereka masih harus menghafal cara amoeba hidup atau bagaimana katak bernafas, padahal passion mereka adalah memanage keuangan. Yang semuanya harus mereka kuasai kalau mereka mau dicap sebagai "anak pintar".

Sistem memang menyistem kita (?) mau bagaimana lagi? Kalau disadarkan sejak dini tentang passionnya apa, ya Alhamdulillah, atau diusia yang sudah kepala dua macam saya, semoga belum terlambat. Tapi banyak orang yang tidak peduli dengan passion, yang penting mereka bekerja..bekerja..dan bekerja.. yang penting mereka bisa semua mata pelajaran, lulus kuliah, menikah, bekerja, gaji besar, hidup tak kekurangan, dan yeah...terserahlah.

sekali lagi, apa bedanya sama zombie?

saya tidak tahu bagaimana sistem pendidikan yang akan diterapkan di Indonesia 20 tahun lagi seperti apa. Yang jelas, sekarang, waktu anak-anak harus dihabiskan dengan sekolah lanjut les bimbel, lanjut kerjakan pr, dan besok paginya begitu lagi. Meskipun saya adalah korban dari sistem yang demikian. Saya bukan calon ibu yang menganjurkan anak saya menjadi bodoh dalam pelajaran *naudzubillah* tapi, berpuluh tahun lagi, saya harus menghadapi fenomena ini lagi. Jika sistem menginginkan anak saya menghafal bagaimana sistem reproduksi ikan atau menghitung resultan gaya gravitasi benda a terhadap benda b, maka saya harus mengusahakan dia untuk mengerti, bukan bisa. Paham, mengapa ilmu itu harus dipelajari. Selebihnya, potensi utama -yang menjadikan dia manusia- yang harus digali. Kalau suka musik, asah kemampuannya. Kalau suka sastra, belikan buku-bukunya. Kalau suka olahraga, temani latihannya. Kalau suka masak, ajari bumbu-bumbunya. Kalau suka sosial, bantu ia mengabdi. Kalau suka akademik, biarkan dia bereksperimen. Kalau suka politik, em..susah juga sih.

Yang jelas, masih banyak orang yang gurita jabatan. Yang bekerja diluar jalur kemampuan dirinya. Tidak sesuai kata hati, yang penting bisa hidup dan beli makan. miris.

jangan sampai generasi keterunan saya, mirip emaknya yang gak bisa apa-apa, yang gak suka baca. Semoga Allah pasangkan orang yang gak suka baca dengan orang yang hobi baca, atau pemilik buku bacaan yang banyak. aamiin

ga jelas ya, ini tulisan maksudnya apa.
yaudahlah.


Friday, August 16, 2013

Holofrasis

Saya pernah berpikir tidak ingin menjadi apa-apa. Tidak menjadi kamu. Tidak menjadi dia. Tidak menjadi mereka. Tidak juga menjadi SailorJupiter, yang akhir-akhir ini entah kenapa kangen film Sailormoon. Lalu sebenarnya saya ingin jadi apa?!

Baru saja tadi saya melamun sembari mengelap pegangan tangga. Saya berpikir, saya ini siapa, saya bisanya apa. Banyak banget orang yang serba lebih dari saya. Terus, saya merasa menjadi sebatas butiran detergen, atau serpihan biji rambutan.

Ah, Kenapa sering banget ngerasa gagal? Usaha, gagal, usaha lagi, gagal lagi. Mungkin indikasi bahwa kemampuan ada dibawah rata-rata

Mendadak saya berpikir ingin menjadi siapa saja. Menjadi kamu. Menjadi dia. Menjadi mereka, bahkan menjadi anggota baru ksatria Sailor, saya menamai SailorSaturnus. Siapa saja, asal bukan saya.

Hahaha, lucu ya, lari dari masalah. Lari, lari,lari..*hosh..hoshh..hosshh

Saya dengar bisik-bisik samar sekilas, katanya, "disaat ada orang di luar sana yang ingin memiliki apa yang kamu punya, kamu memilih untuk berpikir kamu tidak punya apa-apa"

Lha, tadi kan saya lagi ngelap. Sendirian.

Tuesday, August 13, 2013