Tuesday, August 25, 2015

ini loh...

Wanita berpendidikan adalah kriteria yang menggiurkan. Banyak wanita yang tidak bosan bersekolah, belajar, melahap buku-buku tebal, mengikuti ujian, menyusun penelitian, mendapat gelar, kemudian bersekolah lagi, belajar lagi, melahap buku-buku (lebih) tebal lagi, dan begitu seterusnya. Wanita berpendidikan terlihat lebih sexy dibanding wanita sexy (?). Itu sebabnya, pendidikan adalah investasi jangka panjang. Ia melahirkan ilmu, sesuatu yang berbobot, istimewa, mengesankan, dahsyat dan meningkatkan derajat, harkat serta martabat. Kecuali efek kesombongan yang sebenarnya bukan anak kandung ilmu, seluruh dampak dari ilmu adalah kebajikan.

Begitupun saya, disini, terperangkap dan teriris hatinya oleh pahitnya mencari ilmu. Ilmu yang dipelajari pun sebenarnya hanyalah sepersekian dari sepersekian sepersekiannya sepersekian keseluruhan ilmu yang ada. Tapi, sudah berapa kali saya -katakanlah- diperas dan dicabik-cabik emosinya, dibuat frustasi, dan digairahkan rasa ingin banting ini itu oleh ilmu yang ingin saya perdalam ini. Sebuah proses belajar yang luar biasa memukau dari hari ke hari, dari tingkat ke tingkat, dari ujian ke ujian. Sebuah proses yang membuat saya menyadari bahwa sesuatu yang berharga itu memang SANGAT LAYAK untuk diperjuangkan. 

Kita sudahi bahasan tentang pentingnya pendidikan. Ini saatnya saya menceritakan kehidupan per-co-ass-an. Sudah 6 bulan lamanya saya berjuang untuk tetap hidup normal dan bahagia menjadi seorang koas. Koas FKG, sebuah sistem yang apa adanya, dan tidak menuntut muluk-muluk pada ambisi mahasiswanya. Mahasiswa yang berapi-api untuk cepat lulus akan cepat lulus dan mahasiswa yang ingin ngadem terus di rumah sakit, akan lambat lulus. Jadi saya sering bingung dengan teman-teman sepermainan saya yang sedang menempuh koas kedokteran umum, selalu bilang "aku lagi di stase (blablabla--hampir semua stase -,-) gak mungkin bisa izin cuti". What? Lha gue...."gak masuk sebulan juga ya terserah lo aja." (kecuali beberapa stase). Kelulusan koas bukan dilihat dari seberapa rajin datang, say hello, atau menjenguk rumah sakit. Tapi dari requirement kasus yang diberikan. Itulah mengapa angkatan 2004 masih ada yang belum lulus dokter gigi. Kebayang, 11 tahun ngapain aja? Saya sih enggak.

Menurut rencana awal, pendidikan koas diberikan dalam 3 semester. Entah ada angin apa, rencana itu seringkali molor, dan hanya seperintil makhluk yang bisa lulus hanya 3 semester. Ceritanya akan melegenda, menjadi topik gosip kami para koas yang butuh motivasi dan role model. 

Kami diharuskan mencari pasien untuk tipe kasus yang diberikan. Tidak perlu saya deskripsikan sulitnya seperti apa, karena saya bukan artis dengan follower ribuan yang sekali posting "ada yang mau jadi pasien?" 12893 comments"saya mau dong kak" muncul. Belum lagi peristiwa PHP dari pasien yang tidak jadi datang, yang ribet, yang tidak kooperatif, yang tidak mengerti keluh kesah gundah gulana hati para koas. Dan jangan lupa, pasien lebay yang baru disentuh giginya sedikit sudah teriak kesakitan, jingkrak-jingkrak seoalah-olah kami sedang menikam jantungnya, padahal giginya sedang tidak diapa-apakan. Rasanya ingin memulangkan pasien seperti itu dengan keadaan damai. Pergi ke dokter gigi juga butuh kekuatan psikologis, kan? Kami bukan algojo, kami memeriksa dengan cinta, kelembutan dan kasih sayang *pppffftttt.

Ah ya! setiap pekerjaan kami selalu diawasi oleh dokter yang berwenang. Tapi percayalah, keberuntungan selalu ada bagi mereka yang ditutori oleh dokter-dokter berhati malaikat. Beberapa dokter punya style mendidik yang berbeda, nyentrik, dan... ya begitulah. Saya sedang tidak selera membahas tentang dosen. Biarkan mereka dengan style nya, dengan tingkat kesulitan meng-acc-kan pekerjaan, dengan peraturannya. Jadi, ada koas yang cepat lulus karena selalu dapat dosen yang baik hati, ada yang pekerjaannya sulit maju karena direbetkan oleh kebijakan dosennya. Percayalah, banyak dosen yang berbeda prinsip, jadi kami harus menelan bulat-bulat didikan "dokter X inginnya gini, tapi kalau ke dokter Y harusnya kaya gitu". Kami sudah ahli untuk berbesar hati menerima perbedaan.

Kehidupan koas seperti misteri. Kadang saya butuh ketenangan untuk memikirkan masa depan saya. Saya sangat mengagumi ilmu ini, ilmu yang akan membantu meningkatkan kepercayaan diri seseorang secara drastis. Bagaimana tidak, kadang orang dengan gigi berantakan akan malu tersenyum, apalagi ditambah bau mulut. eerghhh. Dokter gigi hadir untuk memberikan senyum terbaik, kesehatan tubuh secara paripurna, dan blablabla --ini bukan promosi.

Tekanan yang didapat saat koas sangat melelahkan. Belum lagi pikiran "duh, udah nikah nih, cepet lulus doooong, plis gue pingin punya anak" selalu menghantui. Tapi saya belum kenal ada mahasiswa koas tahun awal fkg unpad yang berjuang punya anak saat koas. Jadi saya tidak punya referensi, hahaha. 

Tapi, kenapa saya tetap merasa beruntung terjerumus dalam pahitnya mencari ilmu bidang ini? Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Menikmati peran sebagai (calon) dokter gigi, bermain dengan seni, teknik, dan proses penyembuhan. Ah iya, mari kita teriakkan : sesuatu yang berharga memang sangat layak untuk diperjuangkan.

Selamat berjuang. Semoga selamat sampai tujuan.




Sunday, August 23, 2015

Friday, August 7, 2015

Wedding Vendor : Gedung

Selamat 3 bulan pernikahan!
Kali ini saya ingin berbagi pengalaman tentang proses persiapan pernikahan, khususnya tentang vendor pernikahan saya.

Hal pertama setelah proses khitbah dan menetapkan tanggal pernikahan adalah segera mencari gedung lokasi pernikahan. Saya berdomisili di Rancaekek, sehingga keluarga saya inginnya mencari gedung yang dekat dengan lokasi rumah saya. Sayangnya, tidak ada gedung besar di area sekitar rumah. Satu-satunya yang bisa dijadikan opsi adalah daerah jatinangor, dan satu-satunya gedung yang  luas sesuai versi "luas" nya saya adalah Balairung IPDN.

Akhir 2013 saya konsultasi dengan salah satu dosen di IPDN terkait peminjaman gedung, karena biasanya gedung hanya dapat digunakan untuk acara internal kampus atau ada salah satu pejabat kampus yang mau menggunakannya. Jadi ya kalau anak dosen IPDN mau menikah di gedung itu, perizinan gampang.

Kebetulan dosen ini tetangga saya. Saya dianggap saudaranya dalam proses perizinan. Tetangga saya ini selalu berkata “tenang aja” setiap kami tanya progres peminjaman gedung. Berbulan-bulan saya mengidam-idamkan gedung seluas itu untuk menikah. Sampai akhirnya, akhir bulan Februari 2014 (artinya sudah 3 bulan kami digantung tanpa kabar) tetangga kami mengabarkan bahwa Balairung Rudini tidak bisa dipinjamkan untuk orang internal maupun ekternal, (kecuali jabatan orang internal IPDNnya tinggi kali ya -,-). Masih tidak bisa terima, karena terlalu lama menunggu, tanpa penjelasan, dan tanpa hasil yang diperjuangkan dengan maksimal, akhirnya kami menemui teman Mama yang menjadi petinggi di IPDN. Ibu ini menjelaskan secara rinci prosedur peminjaman.

Teknisnya, apapun kegiatannya, acara internal kampus akan tetap menjadi prioritas. Dulu, ibu ini pernah mengurusi tetangganya yang juga ingin menikahkan anaknya di IPDN, tapi 2 minggu sebelum acara (which is undangan pasti sudah disebar dong) kampus mendadak mengadakan acara kuliah umum dari salah satu Gubernur untuk para Praja (mahasiswa) nya di tanggal yang sama. Akhirnya dengan berat hati, keluarga ini harus pindah tempat di gedung kecil pinggir IPDN. Untungnya, 4 hari sebelum hari H, kuliah umum dari Gubernur dibatalkan karena satu dan lain hal, dan Balairung jadi kosong pada tanggal tersebut.
Jadi, gimana gak was-was coba kalau teknisnya seperti itu???

Saya menikah bulan Mei, bulan-bulan mendekati penerimaan Praja baru, biasanya akan banyak agenda bersama di Balairung. Kecuali saya menikah di bulan November, atau waktu libur semester IPDN, otomatis gedung tidak akan digunakan untuk kegiatan kemahasiswaan.

Keluarga saya memilih untuk tidak mengambil resiko yang tidak bisa diprediksi itu. Lebih baik mencari alternatif gedung lain dan kami jadi bisa fokus tenang memikirkan persiapan yang lain. Karena bagaimanapun, gedung resepsi menjadi salah satu list persiapan ynag cukup penting yang harus dipertimbangkan.

Waktu yang tersisa hanya tinggal 2 bulan saja, saya belum mendapatkan gedung pernikahan. Setelah mendapat kabar sulitnya peminjaman gedung IPDN, saya segera survey ke gedung-gedung lain. Kurang lebih ada 15 gedung yang saya survey sana sini. Yang paling besar Pusdai, tapi sudah full booked -,-

Akhirnya, dengan izin Allah, ketemu juga satu gedung luas dan tinggi di daerah Soekarno-Hatta.


Istana Kana Kawaluyaan.

Salah satu area dekat Soekarno Hatta, namanya daerah Kawaluyaan ada satu gedung yang orang-orang bilangnya gedung Batak, karena biasa digunakan untuk acara pernikahan batak, meskipun pernikahan umum juga sering diselenggarakan.

Begitu lihat gedungnya, saya jadi nostalgia lagi dengan IPDN. Baru Istana Kana lah yang bisa saya sejajarkan luasnya dengan Balairung (untuk area Soekarno Hatta). Atapnya tinggi banget, jadi terasa adem. Jendelanya banyak, jadi terang. Parkirannya luas sekali. Dan di awal Mei masih bisa booking. Saya semacam jatuh hati sama Istana Kana. Setelah berdiskusi dengan keluarga saya maupun kang Ryan, akhirnya kami sepakat untuk memilih Istana Kana sebagai tempat resepsi pernikahan kami. Untuk harga, meskipun mahal tapi tetap worth it. Kalau Anda tertarik dan ingin tahu info lebih lanjut bisa datang sendiri ke Istana Kana atau tanya langsung ke saya hehe.


kebayang gak, 3 undak bangunan itu adalah tinggi dari atap gedung. Tinggi banget kan? 

tampak samping
parkirannya luas
tampak samping

denah Istana Kana Kawaluyaan. minta aja langsung ke pihak Istana Kana.


akhirnya, nemu juga yang sesuai dengan keinginan. Dan lokasi juga di pertengahan antara lokasi rumah dan pusat kota. Alhamdulillah :)