Monday, January 30, 2017

Oklusi

Malam berganti pagi, matahari kembali bekerja. Seluruh pergerakan alam beserta isinya terasa sangat teratur, mengikuti pola pengulangan. Mereka memiliki periodisitas sendiri, sifat perulangan yang tetap. Tapi dalam keteraturan itu, ada hal kecil, rumit, kompleks, dalam sebuah sistem yang selalu berubah setiap waktu: cuaca, rintik hujan, gerak awan. Fenomena chaos, ketidakteraturan. Seringkali kita melihat chaos sebagai sebuah keteraturan pula, "keteraturan yang tidak memiliki periodisitas", itulah alasan mengapa sains selalu meyakini bahwa alam beroperasi menurut keteraturan (meskipun ada ketidakteraturan di dalamnya).

Untuk dapat meyakini sebuah keteraturan dalam penciptaan yang kompleks (dan semuanya memiliki tujuan) yang membuat kita berdecak kagum dan jatuh cinta, paling mudah adalah melalui alam semesta tempat kita hidup dan -tentu saja- diri kita sendiri. Di tahun 1920an, Karl Lashley meneliti tentang bagaimana otak tikus yang tidak peduli diambil bagian mananya, tidak dapat menghilangkan ingatan untuk melakukan tugas-tugas rumit yang pernah dipelajari tikus itu sebelum operasi. Ilmuan lain meyakini bahwa ingatan terekam bukan di dalam neuron-neuron, melainkan di dalam pola impuls saraf yang merambah seluruh otak. Kemampuan mengagumkan manusia untuk mengambil informasi yang diperlukan dari gudang ingatan sangat besar, membuat manusia tidak perlu bersusah payah dan berlama-lama melakukan sorting mencari suatu file alfabetis raksasa dalam otak untuk sampai pada suatu jawaban.

*tarik nafas dulu...berat bahasanya.

Inilah yang membuat semakin kita mempelajari alam semesta melalui sains, semakin kita elus dada -karena ada pengaturan yang begitu luar biasa. Semakin kita mempelajari tubuh kita, bagaimana mereka bekerja secara involunter, mekanisme keteraturan yang rumit dan kompleks, semakin kita tahu ilmu kita belum ada apa-apanya. Dan sekali ada hal yang mengganggu keteraturan tersebut melebihi batas yang dapat diterima tubuh, bencana datang.

Ada satu konsep keteraturan tubuh yang dikuasai oleh para dokter gigi melebihi seluruh tenaga kesehatan lainnya. "Oklusi" hubungan gig gigi rahang atas dan rahang bawah yang tersusun secara pas, fit, presisi, sedemikian rupa, membuat gigi-gigi tersebut dan sistem pendukungnya dapat menjalankan fungsinya dengan sangat tepat.



Karena etiologi apapun, kecelakaan lalu lintas (yang persentase nya mengerikan) mengakibatkan deformitas atau kerusakan pada area wajah, faktor usia, prilaku, genetik, dll membuat sistem pendukung gigi tidak mampu lagi menopang gigi. Prognosis mempertahankan gigi menjadi hopeless sehingga pencabutan gigi tersebut adalah jalan keluar terakhir yang dapat dilakukan, gigi-gigi "berpindah tempat" atau goyang karena tidak ada yang menyangga, atau patahnya tulang rahang, dapat menyebabkan kontak gigi hancur berantakan. Oklusi, satu-satunya kunci pengembalian fungsi.

Di suatu ketika, saya memiliki kesempatan untuk melihat kasus-kasus luar biasa di RSHS selama putaran Bedah Mulut. Berbagai macam jenis pasien mulai dari cabut gigi sampai tumor ganas rongga mulut berlimpah ruah disana. Jika ada  pasien yang datang dengan keluhan "hancurnya" daerah wajah, salah seorang residen (dokter yang belajar ambil spesialis) berkata pada saya, bahwa dokter gigi bedah mulut harus lebih mahir dari dokter bedah plastik, karena hanya dokter gigi yang mengetahui konsep oklusi dengan lebih baik. Lalu saya berpikir, sehebat apa oklusi sampai mempengaruhi kehidupan seseorang?

Secara teori, sebuah tambalan pada gigi yang berlebihan sedikit apapun (misalnya terlalu "menggunung") akan berakibat panjang lebar. Ketika makan, akan terasa seperti ada yang mengganjal, yang jika dibiarkan bertahun-tahun akan menyebabkan sakit saat membuka mulut, dan bukaan mulut jadi lebih kecil.

Ternyata teori diatas bukanlah sekedar teori. Ia nyata. Dan hal itu terjadi pada ayah saya sendiri.

Ayah saya, 57 tahun, menderita (suspek) periodontitis agresif, dimana gigi-giginya perlahan mengalami goyang dan akan copot dengan sendirinya. Banyak sekali (orang Indonesia khususnya) yang mengalami periodontitis-radang pada jaringan pendukung gigi- (kronis, meskipun bukan agresif) sehingga tujuan WHO, pada usia 60 masih tersisa 20 gigi sulit tercapai. Akhirnya rencana perawatan pada ayah saya adalah dilakukan splinting, untuk memfiksasi gigi-gigi yang goyang tersebut, menggunakan kawat dan komposit. meskipun dilakukan oleh residen, hasilnya? Sulit luar biasa mengembalikan konsep oklusi pada rahang yang telah kehilangan cukup banyak gigi ditambah gigi yang tersisa mengalami kegoyangan. Belum lagi, tambalan komposit untuk memfiksasi gigi yang goyang tersebut mengganjal karena hilangnya kunci oklusi, sehingga oklusinya berubah-ubah. Ini menyebabkan ayah saya sampai tidak bisa makan karena gigi-giginya tidak berkontak dengan benar.

Adalagi, seorang pasien wanita usia 30-an tahun sudah mengalami operasi di daerah mulutnya karena penyakit ameloblastoma (sejenis tumor di daerah mulut) sehingga sebagian rahang bawahnya -berserta gigi-giginya- harus dibuang, hemimandibulektomi. Sebelum operasi, kontak oklusi gigi-gigi difiksasi intermaksila (di"ikat" rahang atas dan rahang bawah) sehingga setelah operasi hemimandibulektomi -pengangkatan sebagian rahang itu, oklusi dari gigi yang masih tersisa bisa dipertahankan. Tetap, fokus utama penyembuhan seradikal apapun perawatannya adalah pengembalian fungsi oklusi. Sayangnya, pasien tidak kooperatif. Jika keadaan mulut sedang difiksasi intermaksila, otomatis akses untuk makan akan menjadi sulit, pasien menolak untuk dilakukan traksi intermaksila dengan karet sejak hari pertama pasca operasi, kerena pasien bertubuh gemuk dan ingin makan tanpa halangan karet (sad banget, dia pikir habis operasi langsung sembuh apa -,-)
Oklusi yang awalnya sudah difiksasi menjadi berantakan kembali. Dokter tidak bisa melakukan banyak hal setelah melakukan penjelasan pada pasien karena ini murni penolakan dari pasien. Dokter sudah marahi pasien, tapi hasilnya nihil. Dengan keterbatasan gerak rahang setelah pengangkatan sebagian rahang, sisa-sisa makanan menumpuk di bekas penjahitan, mengakibatkan luka dehisen dan prognosis dari hasil operasi jadi menyedihkan. Pasien datang kontrol dengan kodisi rahangnya jadi miring sebelah, karena dia tidak bisa memposisikan gigi-giginya pada tempatnya. Dia bilang dia sudah hati-hati saat makan, menggunakan sedotan dan hanya mengonsumsi makanan cair. Tapi faktanya, luka nya jadi infeksi kembali dan timbunan susu jadi masuk ke bekas luka. Inilah akibat pasien tidak patuh pada dokter.

Sedemikian berpengaruhnya oklusi pada kualitas hidup seseorang, karena kesulitan makan adalah sebuah kenikmatan yang menghilang. Allah menciptakan tubuh manusia sedetail mungkin dengan keteraturan yang mengagumkan, sehingga ketika ada hal yang mengganggu keteraturan itu melebihi apa yang bisa tubuh kita terima, bencana datang.

Bersyukurlah orang-orang yang masih dapat merasakan kenikmatan mengolah makanan dalam mulut. Jaga kesehatan gigi, supaya saat tua tidak menderita. Kalau perlu, hubungi saya jika butuh perawatan.....heaa tetep promosi.




Wednesday, September 7, 2016

Türkiye'ye Hoşgeldiniz!

Bandara Soekarno Hatta - Kuala Lumpur International Airport
Mencari tiket perjalanan murah memang harus ditempuh mati-matian. Termasuk transit di Malaysia selama 7 jam. Kami sampai di Malaysia pukul 18.30 waktu setempat, dan penerbangan selanjutnya pukul 2 dini hari. Jangan khawatir, karena bandara KLIA2 menyediakan banyak sekali tempat cuci mata, semacam bandara yang dijadikan mall – atau mall yang dijadikan bandara. Selama menunggu, kami memutuskan untuk makan di tempat makan yang ada fasilitas  wi-fi nya. Pilihan jatuh di Chef Chow Cafe, karena sepi. Kami beli Penang Curry Laksa. Kami menghabiskan waktu sampai jam 10 malam di Chef Chow, ngapain? Tentu saja menemani Pak Suami mengerjakan kerjaan kantornya -,- ini liburan atau pindah lapak kerja?

Selanjutnya kami naik kereta cepat ke KLIA1 seharga RM2. Sampai di KLIA1 kami menunggu keberangkatan menuju Doha pukul 2 malam.

Hamad International Airport, Doha.
that famous giant doll.
 Kami hanya transit sekitar 2 jam di Bandara ini, sedikit foto-foto lalu langsung persiapan ganti pesawat menuju Istanbul, Turki.

Türkiye'ye hoşgeldiniz!
-selamat datang di Turki-
8 Mei 2015, Attaturk International Airport, Istanbul.

Kami sampai di Istanbul sekitar jam 1 siang. Sesampainya disana beberapa orang yang belum mengurus visa dapat membuatnya di Visa on Arrival Bandara. Berhubung kami sudah membuat E-Visa, jadi kami tidak perlu mengantri lagi. Kami langsung menuju loket penjualan Istanbulkart.
Istanbulkart-Token/Jeton.
tempat jual Istanbulkart di Bandara


Mayoritas kota-kota besar di Turki memiliki kartu transportasi masing-masing yang hanya berlaku di kota tersebut. Berhubung saya cukup lama di Istanbul, saya membeli Istanbulkart karena bayar ongkos transport dengan Istanbulkart akan mendapatkan potongan atau lebih murah dibanding dengan token (tentu saja, public transportation disana tidak menerima pembayaran dengan uang tunai, kecuali taksi dan dolmus/minibus).  Kita bisa mengisi ulang Istanbulkart di tempat pemberhentian Trem/Metro  Istanbul, atau membeli Token secara langsung jika tidak punya Istanbulkart. Satu kali perjalanan dengan Trem biasanya dikenai biaya 2,25TL dengan Istanbulkart dan 4TL dengan Token. Saya membeli dua buah Istanbulkart seharga masing-masing 20TL dengan isi saldo 12TL.

Pesan : beli saja satu buah Istanbulkart, karena bisa dipakai berdua haha. Lumayan harga kartunya 8TL. (1TL=IDR5.000)

Selain mengurus Istanbulkart, kami juga mengurus masalah roaming internasional. Kalau saya sih gak masalah, tinggal nebeng wifi hotel, semua beres. Tapi buat pak suami, setiap panggilan masuk akan menjadi penting dan internet hape harus on terus. Di bandara ada yang menyewakan hape android disertai simcard istanbul dengan paket internetnya, karena mengurus nomer telepon turki tidak semudah membeli kartu sekali pakai di Indonesia. Kita harus terdaftar secara resmi di kepolisian Turki untuk bisa menggunakan nomer Turki, dan itupun dikenai biaya yang mahal, 100TL. Mantaps.

Harga sewa hape android disertai paket internet untuk 7 hari itu sekitar 80TL. Setelah dipikir-pikir, pak suami memutuskan untuk mengaktifkan roaming internasional dan paket internet internasional dari Telkomsel seharga IDR450.000 untuk 9 hari. Saya? Cukup nebeng personal hotspotnya sajah.


tempat sewa hape

Perjalanan dari Bandara ke Pusat Kota Istanbul

Transportasi dari Bandara cukup mudah. Dari terminal B, cukup naik Metro (HM1) tujuan Zeytinburu Station. Berhenti di Zeytinburu, keluar station, di depannya ada pemberhentian Trem. lanjut naik Trem (TR1) turun di Sultanahmet Trem Station.

Metro itu semacam bus, Trem itu semacam bus yang ada relnya (?) sampailah kita di Sultanahmet.
Kami langsung mencari penginapan yang sudah kami booking, dari keterangannya sih dekat dengan Blue Mosque. Kami tanya sorang pemuda Turki mungkin seumuran kang Ryan tentang arah Kucuk Ayasofya Caddesi (Kucuk=kecil, Caddesi = Jalan), dan saya sedang berdiri di depan bangunan Hagia Sophia (Ayasofya). Si pemuda terlihat tahu jalan itu, tapi dia tidak bisa berbahasa inggris. Maskipun hanya “turn right, turn left” dia tidak bisa. Akhirnya setalah puter sana puter sini, kami bertanya pada penjual makanan di cafe pinggir jalan. Dia menjelaskan dengan baik.

Pesan : tanyalah arah atau alamat pada orang yang sering berinteraksi dengan turis. Turki adalah salah satu negara yang tidak pernah dijajah oleh Inggris, oleh sebab itu hanya sedikit orang Turki yang mampu berbahasa Inggris, sekalipun mahasiswa biasanya mereka kesulitan berbahasa. Tapi Turki adalah negara turistik, orang yang mencari nafkah melalui turis seringkali lancar berbahasa Inggris. Tanyalah pada penjaga toko, rumah makan, penjual cendera mata di area yang dipadati turis. Jangan bertanya pada polisi, atau kalian akan berhadapan dengan drama pantomim.
Sampailah kami di Antique Hotel. Kami disambut oleh Mustafa, sang pemilik. Sudah pasti, Mustafa lancar berbahasa Inggris. Penginapan ini kecil, namun nyaman. Diantara semua penginapan yang kami pesan selama di Turki, Antique Hotel ini yang paling nyaman, dan tentu saja Mustafa dan istrinya ramah sekali. Istrinya tidak bisa berbahasa Inggris, dia hanya senyum-senyum dan meminta Mustafa menerjemahkan ucapannya. Dia bertanya tentang cara saya memakai jilbab, karena saya memakai “inner ninja” khas Indonesia, dan saya menjelaskannya.

kami dan pemilik penginapan




Setelah mandi dan rehat sejenak, kami berjalan-jalan sore di sekitar Masjid Sultanahmet (Blue Mosque) yang dipenuhi pengunjung, Basilica Cistern, dan Hippodrome.



Malam di Istanbul cantik sekali. Besok paginya kami harus bersiap pagi hari sekali, karena keindahan Masjid Sultanahmet sulit diabadikan waktu siang atau sore hari, manusia banjir disana. 

-bersambung-

Tuesday, June 28, 2016

Travelling ke Turki (1) : Persiapan


Mengabdikan perjalanan dan pengalaman menjelajah berbagai tempat lewat foto, video, atau tulisan sekarang menjadi viral . Sebuah momen yang sangat menyenangkan memang terlalu eksklusif jika hanya dinikmati sendiri. Perlahan mungkin saja hilang karena otak manusia toh punya kadar kadaluarsa. Mungkin itu salah satu alasan orang berbagi pengalaman melihat dunia di luar tempurungnya. Meskipun sudah banjir informasi tentang perjalanan ke Turki di internet, tapi pengalaman setiap orang tidak pernah ada yang sama. Pertanyaan klasik dari orang yang kepo tentang pengalaman backpackeran orang lain adalah : “BERAPA BUDGETNYA?”

Sebuah pertanyaan yang juga menjadi top list saya sebelum berangkat. Tentu saja, haha.

Saya penggemar Turki. Makanannya, Sejarahnya, bahkan TV series nya. Saya habiskan satu minggu streaming sinetron Turki 80 episode yang masing-masing episodenya berdurasi 2 jam, via youtube! 30 episode diantaranya tidak ada subtitle inggrisnya. Saya pura-pura mengerti saja.
Sebelum kami menikah, suami saya tahu betul saya suka Turki. Jadi, dia berbaik hati mengumpulkan sebagian rezekinya untuk mengantarkan saya melihat Turki. Alhasil, tepat 365 hari (satu tahun dikurangi 1 hari kabisat) setelah kami menikah, kami berangkat menuju Turki.

Pencarian tiket adalah hal pertama yang harus dilakukan. Berburu tiket murah adalah kewajiban bagi para istri yang semi pengangguran seperti saya dan ngebet kepingin traveling tapi dana pas-pasan. Mengikuti biro tur perjalanan adalah sebuah kemubaziran mutlak untuk mendatangi Turki jika hanya pergi berdua dengan pasangan. Percayalah. Selagi  muda dan jiwa berapi-api, backpacker adalah pilihan paling tepat. Turki adalah negara dengan pendapatan terbesarnya adalah dari sektor pariwisata, itulah mengapa Turki sangat tourist-friendly, semuanya dirancang mudah untuk para turis. Selain biaya yang sudah pasti jauh lebih murah, menikmati momen Turki semau kita tidak akan pernah didapat jika kita mengikuti tur.

Qatar Airways adalah pilihan kami. Saat itu Qatar Airways sedang membuka promo besar-besaran untuk terbang ke berbagai belahan bumi periode booking hanya dalam satu minggu, 11 Januari – 17 Januari 2016. Setelah mengetahui info ini, saya langsung terjun menyelami berbagai situs pencari penerbangan murah. Mulai dari wego, skyscanner, cheapflights, dan via. Keuntungan dan kelebihannya masing-masing situs silakan googling sendiri. Akhirnya kami membooking tiket pesawat memakai Via.com. Sudah hampir deal dengan skyscanner tapi kalau dihitung-hitung entah mengapa lebih mudah dan murah pakai Via.

Saya pantengin terus harga tiket Turki dari sejak 12 Januari 2016. Penerbangan paling murah harus dimulai dari Kuala Lumpur atau Singapura. Harga tiket kalau berangkat dari Indonesia lebih mahal, bisa beda sampai 2-3 juta. Harga saat itu masih 5,5 juta PP Kuala Lumpur-Doha-Istanbul // Istanbul-Doha-Jakarta. Tangan sudah mulai gemes kepingin beli. Harga asli Qatar Airways kelas ekonomi ke Turki berkisar 10-12 Juta PP. Karena suami saya di Jakarta dan saya di Bandung, komunikasi untuk pembelian tiket kami jadi terkendala. Sebenarnya lebih asik diskusi dan menentukan pilihan bersama sambil duduk bareng minum kopi ala-ala orang pacaran. Jadi, saya menunggu kepulangan suami ke Bandung hari Sabtu, 16 Januari, satu hari sebelum periode booking berakhir.

Daaaan..... jreeengjreeeng.............. saya harus hancur sebelum berperang  mengetahui bahwa hargan promo tiket terus berubah dibanding  awal periode. Saat itu, saya harus berpuas hati mendapat tiket 6,65 juta PP perorang. Hiks. Padahal awalnya 5,5 juta. Kan lumayan sejuta. Bisa buat beli beras berkilo-kilo. Huks

Pelajaran pertama : kalau ada tiket promo, langsung hajar saja. Perihal nanti gimana, kalau ke Turki semua bisa mudah dipersiapkan.
Tiket Jakarta-Kualalumpur kami menggunakan Air Asia seharga 390ribu perorang tanpa bagasi. Sialnya, kami tidak teliti kalau itu tanpa bagasi. Tentu saja kami harus bayar bagasi di bandara dengan harga yang lebih mantap. 370ribu.

Urusan tiket selesai. Selanjutnya?

Visa.
Turki berbaik hati menawarkan visa on arrival (VoA) pada turis-turisnya. Kabar lebih baiknya lagi, kita tidak perlu mengantri di bandara turki untuk mengurusnya, karena sudah ada e-visa turki. Dalam waktu 5 menit dengan duduk santai depan laptop, e-visa sudah bisa didapat, berlaku 5 bulan untuk masa kunjungan maksimal 30 hari. E-visa Turki dapat diakses melalui http://www.evisa.gov.tr/en/

Hati-hati dalam mengisi setiap data, karena saat sudah tercetak, kita tidak bisa mengedit data yang salah. Otomatis kita harus membuat evisa yang baru, itu sama saja dengan membeli baru. Harga satu evisa adalah 25USD. Waktu itu, suami saya entah terlalu cinta dengan kota kelahirannya atau berpikir saya dilahirkan dua kali, dia mengisi data tempat lahir saya di Balikpapan padahal saya lahir di Bandung. Tidak mau pusing belakangan kalau ketahuan petugas imigrasi turki, maka saya membuat e-visa baru.


Akomodasi.
Turki adalah surganya penginapan murah.  Hotel, Hostel, Apartemen,  Pension, Airbnb bertebaran dimana-mana. Saya memulai mencocokkan itinerary yang saya buat untuk membooking hotel. Ada banyak situs online pemesanan penginapan. Agoda, hotel.com, booking.com, kayak.com, hotelcombined.com, airbnb.com, dan lain sebagainya. Awalnya kami tertarik mencoba airbnb yang bisa menyediakan dapur kecil. Setidaknya kami bisa membuat makanan sendiri untuk menghemat pengeluaran. Tapi setelah dipikir-pikir, rasanya bawa bahan makanan kesana akan cukup menyulitkan. Dan benar saja, waktu kami bahkan tidak cukup untuk memenuhi seluruh itinerary yang dibuat karena keterbatasan waktu, apalagi untuk memasak. Makanan di turki melimpah ruah, kamu tidak akan kelaparan karena dengan uang 4TL (20.000IDR) kamu sudah bisa makan kenyang.

Akhirnya lewat booking.com kami memesan hostel  dan pension.

Di istanbul, kami menginap di Antique Hostel  3 malam (72Euro/3 nights);
 di Selcuk kami menginap di Tucay Pension (33Euro/night),
dan di Goreme kami menginap di Rock Valley Hotel (24Euro/night).

*review penginapan akan dibahas kapan-kapan (kalau lagi rajin) haha.

 Di kota-kota lain kami hanya melakukan daytrip dan overnight buss. Mengambil bus malam adalah pilihan bijak.  Tempat wisata turki berada di kota yang berbeda-beda, perjalanan dari satu kota ke kota lain akan memakan banyak waktu. Selain tidak membuat mubazir waktu jalan-jalan di siang hari, pengeluaran untuk penginapan tentu akan berkurang. Penumpang akan sampai di kota tujuan pada pagi hari.

dan karena pertanyaan utama dari orang-orang kepo adalah "berapa budgetnya?" maka saya akan menguraikannya

total budget untuk persiapan :
Tiket Qatar Airways PP 2 orang : Rp 13.664.000
Tiket Air Asia CGK-KUL 2 orang : Rp 780.000
Bagasi Air Asia : Rp 370.000 (hiks)
E-Visa 2 orang : 50USD (anggap 1 USD = 13.000IDR) Rp 650.000
Akomodasi : 129 Euro (anggap 1Euro = 14.500IDR) Rp 1.870.500

total : Rp 17.334.500

Sebenarnya hanya tiga itu yang perlu dipersiapkan untuk travelling lalu. See? harga tiket memang selalu memakan porsi terbesar. Selamat berburu tiket promo J

Wednesday, April 13, 2016

mencari nafkah

Apa yang paling ditakuti seseorang ketika mereka bertambah dewasa? Beberapa orang takut pada kenyataan itu sendiri : kenyataan bahwa mereka telah dewasa. Sebagian orang  berusaha untuk bisa kembali ke waktu mereka yang sudah berlalu, dan mengatakan "andai saya dulu begini.." "andai dulu saya berbuat itu..." dan sebagian orang dewasa lainnya merasa dirinya benar-benar sudah berubah, karakternya, caranya memandang masalah, caranya bersikap--that's life.

Semua orang dewasa akan sepakat bahwa teori (tentang apapun) tidak akan seberat mempraktikannya. Sekarang saya mengerti, mengapa nilai 100 sewaktu SD adalah hal yang sepele, menghafal satu bab penuh adalah perkara remeh temeh, kamu cukup menjawab pertanyaan sesuai dengan jawabannya, dan masalah selesai. Sedangkan semakin bertambah pengalaman hidup, nilai 100 adalah hal yang hampir mustahil, karena dalam praktiknya, tidak ada yang bisa benar-benar memenuhi keseluruhan paket ekspektasi orang lain. Termasuk ekspektasi kita terhadap sesuatu yang pernah kita kagumi.

Oh percayalah, dahulu kala, saya adalah penggemar berat seminar motivasi, buku-buku motivasi, kalimat-kalimat motivasi, dan apapun yang berbau penyemangat hidup. Seolah saya adalah seorang pesakitan yang terus menerus butuh suplai motivasi untuk melanjutkan hidup. Dan di mata saya, para motivator adalah ibarat malaikat di muka bumi ini yang turun untuk membantu kami kami yang hina dina ini dalam menjalani kejamnya dunia.

Lalu semua kefanaan dan mata yang nanar berkaca-kaca penuh kristal melihat motivator itu hancur seketika setelah saya berfikir terlalu berlebihan. Tentang kenyataan. Tentang hal yang sebenarnya terjadi, bahwa semua orang bisa melafalkan teori tapi tidak semuanya bisa mengaplikasikannya. Lalu, mengapa di dunia ini ada banyak orang yang mengaku bahwa motivator adalah sebuah pekerjaan untuk mencari nafkah? Fyuh.

Dari sekian banyak seminar-seminar motivasi yang pernah saya ikuti, hanya ada beberapa isi seminar yang masih melekat dalam otak saya, selebihnya menguap saat saya melangkahkan kaki keluar pintu. Semangat yang terbakar di dalam gedung tiba-tiba terguyur tsunami dan seketika semua padam. Sambil senyum-senyum sendiri, saat ini saya masih kebingungan dengan orang yang mencap dirinya adalah motivator handal nomer satu seasia, motivator kelas berat paling muda pertama di Indonesia -atau apapun titelnya- sebagai profesi. Bagi saya, semua orang adalah motivator yang paling tidak bertanggung jawab untuk memotivasi dirinya sendiri. Lain halnya dengan trainer, yang dengan keilmuannya memang berprofesi untuk melatih seseorang atau kelompok tentang keilmuan tertentu.

Pernah ada seorang (yang mencap dirinya) motivator bayaran mahal (dan bahkan saya sempat datangi seminarnya-,-) dia memotivasi dalam seminar-seminarnya tentang kesuksesan finansial dan kebahagiaan hidup. Ternyata dia datang ke suami saya (ceritanya waktu itu masih calon suami) untuk meminjam uang dengan janji akan dikembalikan dalam tempo beberapa bulan. Sampai kami akhirnya menikah, hutang itu belum juga lunas dibayarkan. Suami saya sampai bosan mengingatkan dia untuk memenuhi janji. Dan dia tetap mengisi seminar-seminar kesuksesan. Akhirnya kebiasaan saya mengagumi orang-orang di depan podium itu luluh lantah. Mungkin itulah alasan mengapa beberapa isi seminar itu menguap dengan mudahnya dan tidak berefek apapun, karena yang memotivasi tidak semuanya telah melalui apa yang dimotivasikannya. Itu seperti seseorang menyuruh orang lain untuk puasa sambil menjelaskan apa keutamaan-keutamaanya padahal dia sendiri tidak berpuasa. Karena memang, lebih mudah menasehati orang lain ketimbang menasehati diri sendiri.

Beberapa seminar yang bahkan saya masih ingat detil isinya adalah dari mereka yang menceritakan perjalanan hidupnya. Kisah nyata yang mereka kaitkan dengan teori. Mereka cukup duduk santai sambil bercerita hikmah yang pernah mereka dapat dalam hidup dan satu dua tiga pendengar secara bimsalabim akan terinspirasi. Hal itu tentu jauh lebih membekas dibanding sekedar memotivasi teori. Jadi buat saya, motivator bukanlah sebuah profesi. Dan menginspirasi tidak bisa dipaksakan, itu terjadi secara naluriah, alami.

Selalu ada perbedaan dari buku-buku motivasi dengan buku-buku biografi. Buku motivasi menawarkan dari A sampai Z teori tentang kesuksesan, sedangkan buku biografi hanya menyajikan informasi dari A sampai C tentang perjalanan hidup, dan efek setelah membaca, mana yang lebih kita ingat?

Itulah mengapa Rasulullah adalah sebaik-baik motivator. Semua yang beliau ucapkan dan nasihatkan adalah apa-apa yang telah beliau lakukan. Hingga berabad-abad kini jaraknya, motivasi itu terus menerus mengalir ke semua pengikutnya. Itulah mengapa nasihatnya begitu membekas di hati umatnya. Itulah sebaik-baik motivasi : teladan.



Monday, March 21, 2016

little escape

Beberapa hari sebelum menikah,  calon-saya-waktu-itu mendapat tawaran mengisi acara kemahasiswaan di Maluku pada 11 Mei 2015. Itu berarti tepat dua hari setelah hari pernikahan kami. Berhubung kami belum merencanakan apapun tentang sesuatu yang orang-orang bilang bulan madu, calon-saya-waktu-itu mengajak saya untuk sekalian jalan-jalan di Maluku. Saya yang waktu itu tidak punya pilihan apa-apa, akhirnya mengiyakan, karena sebenarnya jiwa raga saya sedang ditarik-tarik oleh deadline penyelesaian skripsi sarjana. Maklum, saya mah orangnya agak-agak ambisius mengakhiri apa yang bisa dicicil-cicil dari masa studi ini hahahaha.

Maka, dengan segala kebutaan tentang Maluku dan segala isinya, kamipun berangkat tengah malam dari bandara Soetta menuju bandara Pattimura dengan diwarnai adegan muntah-muntah sepanjang perjalanan, karena badan saya diforsir habis-habisan. Mulai dari H-2 nikah, saya masih belibet dengan penelitian, bolak-balik rumah-jatinangor, ditambah perawatan pra nikah yang membuat saya masuk angin karena harus berendem di air susu berjam-jam sampe ileran, malem sebelum nikah saya mencret-mencret sampai harus ikut ke wc tetangga karena wc di rumah penuh sama keluarga, hari H nya saya harus berdiri dengan tegar diatas sepatu ber-hak 12cm tipis yang tidak pernah saya gunakan sebelumnya selama hidup saya, alhamdulillah semuanya lancar.

Sesampainya di Bandara Pattimura, ada perwakilan panitia acara yang sudah menunggu kami. Acara diadakan di Masohi, Maluku Tengah, Kepulauan Seram. Perjalanan dari bandara menuju kesana? Beuh. Panjang.

Diawali dengan perjalanan dari bandara menuju pelabuhan Tulehu, Ambon, menggunakan mobil yang disediakan panitia sekitar 30 menit. Sepanjang perjalanan terlihat rumah-rumah penduduk yang masih berkubu-kubu sesuai agama. Mayoritas penduduk kota Ambon adalah penganut kristiani, sepanjang jalan kita akan melihat kayu berbentuk salib setinggi 2 meter dipancangkan di depan setiap rumah mereka.  Beberapa meter kemudian kita akan melihat kumpulan rumah tanpa salib, itu pertanda pemukiman warga muslim. Beberapa ratus meter kemudian perumahan kristiani, lalu perumahan muslim lagi. Jadi semuanya sudah ada wilayahnya masing-masing. Ambon sering dilanda konflik agama, sampai terjadi kerusuhan. Pemerintah Ambon berupaya untuk terus meningkatkan kehidupan toleransi beragama. Kepala daerah Ambon dan wakilnya selalu berbeda agama mungkin sebagai representasi  agama penduduknya. Kalau kepala daerahnya muslim, wakilnya kristiani, kalau kepala daerahnya kristiani, wakilnya muslim. Haha unik ye.

 Lanjut naik kapal cepat dari pelabuhan Tulehu, Ambon, menuju pelabuhan Amahai  yang jam keberangkatannya hanya 2 kali dalam sehari, yaitu pukul 9 pagi dan 3 sore dengan lama perjalanan 3 jam, kalau ketinggalan, akses lain menuju Masohi adalah menggunakan Ferry dengan perjalanan yang lebih lama yaitu  5 jam!
di belakang : kapal cepat dari Tulehu - Amahai











Sampai di pelabuhan Amahai, ke pusat kabupaten Masohi harus menggunakan kendaraan sekitar 1 jam. Kita bisa sewa mobil yang ada di daerah pelabuhan. Tapi berhubung kami dijemput oleh panitia, jadilah kita naik mobil panitia. Dan sampailah kami di Kabupaten Masohi, Maluku Tengah. Kota yang....tenang... (atau sepi ya?). “saking sepinya Masohi, kabar pemilihan presiden kemarin saja kami tidak tahu” kata supir yang mengantar.

Ada yang sangat berbeda dari seminar-seminar yang biasa saya ikuti di Bandung *maklum, anaknya dulu pemburu sertifikat gitu deh hahaha* dibanding dengan di Maluku. Setelah suami selesai mengisi acara tentang dakwah kampus untuk Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) wilayah Maluku, sesi pertanyaan dibuka. Kalau biasanya di Bandung hanya tiga sampai empat tangan yang terangkat untuk bertanya, disana.... hampir semua tangan terangkat. Sambil ribut teriak “saya dulu..saya dulu. Heyyy moderator! Lihat saya dulu...” sang moderator dengan tenangnya berkata, “tenang saudaraku..kita ulangi, semua tangan di bawah. Hai kamu! Turunkan dulu tanganmu. Hitungan ketiga baru kalian angkat tangan.” Hampir semua tangan kembali terangkat, baik pria maupun wanita. Beberapa pria sampai maju ke depan podium, mengerumuni moderator yang sampai harus turun panggung hanya untuk memilih siapa yang mendapat kesempatan bertanya. Bayangkan. Akhirnya sang moderator mengeluarkan kalimat saktinya, “Saudaraku.. adab lebih utama daripada ilmu! Ta’limul adab qobla anta ta’limul ilmi! Jaga adab! Jaga adab!Tenang semuanya..tenang!” lima belas menit terbuang hanya untuk berunding bagaimana teknis yang tepat untuk sesi pertanyaan. Di depan sana, suami saya malah asyik menyantap kue-kuenya.
Setelah selesai acara, kami bingung hendak kemana. Hari itu, kami baru menikah 2 hari yang lalu. Tanpa perencanaan untuk “jalan-jalan-pasca-nikah”. Salah seorang panitia wanita menghampiri karena mungkin kasian liat muka saya : pengantin-baru-butuh-liburan. Dia menyarankan untuk berkunjung ke Pantai Ora, di pulau Seram, dekat dengan Masohi . karena tidak punya opsi lain, dan berhubung sedang ada di Masohi, maka dengan semena-mena saya mengiyakan tawarannya. Karena kami bukan backpacker, jadi kami harus menyewa satu mobil dengan harga 1,5 juta untuk sehari. Pingin nangis berbie.

Kami berangkat ditemani 2 orang pemandu, Matu dan Bonang. Sebelum berangkat, ternyata ada 3 orang backpacker lain yang ingin ambil keuntungan dan keberuntungan dengan menumpang mobil sewaan kami.  Jangan berharap terlalu tinggi pada petualang seperti mereka, didesak bagaimanapun juga mereka akan teguh bersikukuh pantang mundur untuk mengeluarkan biaya transportasi seminim-minimnya dengan berbagai macam alasan, seperti alasan mereka hanya ikut perginya saja, pulangnya tidak ikut. Jadi mereka hanya menyumbang 100ribu perorang. Jadilah kami yang bayar 1,2juta sisanya. “ikan-ikan dan semua di Masohi  ini murah Caca (panggilan kakak untuk wanita di Ambon) yang mahal cuma satu, TRANSPORTASI.” Kata Matu.  Lumayanlah, perjalanan 3 jam menuju dari Masohi menuju Pantai Ora lebih ramai dan seru.
saya-suami-Matu-dan-kawanan-orang-orang-itu
Setelah sampai di perbatasan, kami harus menyebrang menggunakan perahu kecil untuk sampai di Pantai Ora. Harganya lupa berapa, kalau gak salah 300ribu untuk menyebrang--yang kalau saya pejamkan sebelah mata, jaraknya cuma segede upil. Deket banget, tapi gak mungkin dong berenang nyebrang pulau. Saat pulang, orang yang sama akan menjemput kami kembali menyebrang, jadi uangnya dibayarkan setelah kembali dari Pantai Ora.
menyebrang pulau 


Disana kami menginap satu malam. Pantainya masyaAllah cantik. Kami bisa melihat trumbu karang dan ikan-ikan hanya dengan berjalan kaki 2 meter dari pantai. Kamar-kamar yang langsung di atas laut sudah penuh terisi, jadi kami terpaksa ambil kamar di pinggir pantai.
tempat kami menginap
pantainya sepi, kecil,benar-benar terisolasi dari bisingnya dunia. tempat yang tepat untuk menenangkan pikiran yang kusut. Disana kami bertemu pasangan lain, sama-sama sedang bulan madu, sisanya ada satu keluarga dan orang bule. Pantai ini dikelilingi gunung. Desainnya mirip-mirip Maldives, padahal saya belum pernah ke Maldives, tapi kata mbah google sih gitu. Karena dikelilingi gunung, jadilah pantai rasa gunung. jadi hawa nya udara gunung tapi pemandangannya pantai. Terimakasih Allah, Allah ngerti banget kulit saya gak bersahabat sama udara pantai.
sunset
maklum, baru nikah







begitulah cerita jalan-jalan-pasca-nikah kami. Semoga jalan-jalan selanjutnya lebih greget. Semoga cepet lulus koas, biar waktu buat jalan-jalannya banyak. aamiin.

Friday, February 26, 2016

Addie

Ada beberapa reality show yang dikemas dengan apik menyajikan tontonan yang menarik, beberapa lainnya hanya menampilkan tayangan yang terlalu dibuat-buat. Reality show Indonesia misalnya, masih banyak yang hanya menawarkan suguhan komedi yang garing dan hambar, lelucon yang didapat dari ejekan karena sifat atau rupa salah satu pemain. Ngomong-ngomong soal reality show, sebenarnya salah satu yang saya suka tonton adalah MasterChef US.

Dari sekian banyak episode MasterChef Junior US season4, ada satu episode yang sangat saya suka. Sebentar, sebelum saya bahas tentang episodenya, saya mau membeberkan alasan saya sangat menyukai reality show yang satu ini. Pertama, MasyaAllah...... usia 8-12 tahun, anak-anak.... usia dimana saya masih ingusan dan cuma bisa main-main pasir di depan rumah orang yang sedang dibangun atau mengoyak-ngoyak kotoran di selokan, mereka sudah hafal di luar kepala bahan-bahan makanan yang bahkan belum pernah saya lihat. Mereka bahkan lihai memotong makanan seolah pisau yang tajam adalah sahabat karib, sedangkan di usia itu, saya masih merasa pisau adalah benda yang tabu dan keramat, berbahaya dan harus dihindari anak-anak. Kedua, saya sangat suka pesan-pesan moral yang disampaikan para juri, terutama Gordon Ramsay, bagaimana mereka mendidik peserta dengan cara-cara yang sangat children-friendly.

Dalam beberapa episode, juri membagi peserta mejadi dua kelompok dan keduanya harus bersaing dengan dipimpin seorang kapten tim. Pemenang MasterChef Junior US season 4, Addison, bocah 9 tahun, sering menjadi kapten tim karena memenangkan tantangan pada babak sebelumnya. Kalau saya lihat, Addison memiliki kemampuan leadership yang paling bagus dibandingkan peserta lainnya.  Cara Gordon Ramsay menyadarkan Addison saat timnya mengalami kemuduran dan hilang fokus dalam memasak adalah dengan bertanya "Addie, apa yang akan kamu lakukan jika semangat tim baseballmu mulai menurun?" Karena Addison adalah seorang kapten tim baseball di sekolahnya, dia tahu bagaimana menyemangati rekan timnya. "Saya akan terus menyemangati dan memberi arahan dengan baik, Chef" Addison sudah pandai mengatur strategi sebagai seorang kapten tim, dan itu adalah pola yang terbentuk dari kebiasaannya memimpin sebuah tim baseball. Dia mendelegasikan tugas dengan sangat baik, membagi peran pada anggota lain sesuai kelebihan mereka.

Hal unik yang ingin saya ekspose adalah tentang pola kebiasaan yang terbentuk dalam diri seorang anak. Waktu dulu saat saya masih muda beda dan berbahaya *?!*%$^*, saya sempat baca buku The Leader in Me- nya Stephen Covey. Jelas, pembiasaan pembentukan sikap kepemimpinan pada anak sejak dini akan memudahkan mereka membentuk diri mereka di kemudian hari. Addison jadi mengingatkan saya tentang buku itu lagi, dan berpikir apa nanti anak saya sebaiknya ikut baseball dan dia jadi kapten tim nya? tuh kan, saya emang gak kreatif. Tapi semua peserta MasterChef Junior tetap mengiris-iris hati saya, membuat saya iri dengki, karena di usia kepala dua ini saya cuma bisa masak itu dan itu *nunjuk makanan yang itu lah pokonya*

Nanti kalau saya punya anak, saya akan ajak dia nonton MasterChef Junior. Menunjukkan kalau di usia anak-anak pun potensi seseorang harus sudah bisa digali. Padahal emaknya sekarangpun belum menggali apa-apa tentang dirinya. Mohon maaf nak, Mak mu ini insyaAllah akan mendidikmu dengan sekuat tenaga. Dan pertanyaan yang dari dulu hingga sekarang tidak bosan-bosan mereka -orang-orang yang dijumpai dimanapun kapanpun siapapun- adalah "Detin udah isi?" bffzzzzzzz. InsyaAllah di waktu yang tepat adalah jawaban paling bijaksana. Ya kan?

Sunday, January 10, 2016

NYC.

Aktivitas weekend saya selama empat bulan terakhir cukup melelahkan. Kesana kemari, menelusuri jalanan Bandung mencari "jodoh". Saya baru tahu, ternyata mencari rumah lebih sulit dari mencari pasangan. Puluhan rumah sudah kami lihat-lihat. Beribu-ribu kilobyte sudah kami habiskan untuk membuka setumpuk iklan jual rumah. Sampai detik saya menulis ini, saya belum berjodoh. Belum ada rumah yang membuat saya kasmaran sampai berkeinginan untuk memikirkannya siang dan malam.

Pernah ada satu hari, saya melihat iklan rumah dengan luas tanah besar namun harga miring, saya langsung jingkrak-jingkrak seperti orang yang baru dapat hadiah umroh gratis. Saya langsung suruh cowok saya telepon orang propertinya. Singkat cerita, sepulang saya klinik, sekitar jam 5 kami berangkat. Namun, harapan saya harus mati sebelum bunuh diri. Ternyata rumah yang saya sudah imajinasikan berlebihan itu sudah kosong --yang kata mas-mas propertinya-- "beberapa bulan". Saya tidak yakin "beberapa bulan" cukup mendeskripsikan dengan tepat lama waktu tumpukan debu di lantai dan langit-langit terbentuk. Karena hari mulai gelap, sialnya lampu rumah sudah tidak banyak berfungsi, jadi kami harus menelusuri rumah luas tanah besar itu dengan menggunakan senter hape. Saya tidak suka menonton film uji nyali, karena saya merasa kedamaian tidur dan ke kamar mandi sendirian saya bisa terganggu. Hari itu, saya seperti sedang syuting film horor. Saya harus akui, bulu kuduk saya merinding. Jangan tanya apa respon saya soal rumah itu. 

Seperti membuka pintu rumah yang sudah lama ditinggal kosong, membuka kembali blog ini terasa memberikan kengerian yang sama. Berbulan-bulan blog ini dibiarkan kosong, membuat saya merasa takut untuk kembali menulis sesuatu, sampah sekalipun. Berkali-kali saya mencoba menulis sesuatu, tapi saya merasa terlalu idealis. Saya berusaha menulis sesuatu dengan tema yang menarik, bahasan yang tajam, sehingga menghasilkan tulisan yang tandensius. Boro-boro bahasan yang tajam apalagi tulisan yang tandensius, mencari tema yang menarik saja cukup menghabiskan setengah jam saya melongo depan laptop.

Awalnya saya memutuskan untuk menulis hal yang tidak menarik dan tidak penting, seperti “kisah perjalanan Detin Nitami selama 2015” yang ditulis dalam bahasa formal. Tapi sepertinya itu bukan ide yang baik. Karena kata Ali r.a, jangan beri tahu tentang dirimu, temanmu tidak membutuhkannya dan musuhmu tidak mempercayainya. Jadi saya tidak akan cerita kalau saya ini baik hati, ramah, anggun, dan rendah hati *BWAKAKAKAK* saya hanya mencoba menuliskan keistimewaan 2015 bagi saya. Di dalamnya hanya ada beberapa momen-momen luar biasa yang merubah arah hidup seorang saya secara keseluruhan. 2015 adalah tahun fantastis dan tahun serba gelar baru. Saya bukan tipikal orang penggila gelar yang hobi memanjang-manjangkan nama, tapi mendapat gelar Nyonya, S.KG dan Koas dalam satu tahun adalah hal yang warbiasyaaaahhh. Sebuah komposisi yang mustahil untuk tidak bersyukur karenanya.

Dan 2016 sudah datang. Ekspresi “yang bener looo???” adalah gambaran paling tepat untuk menjelaskan situasi kondisi hati dan psikologis saya. Itu artinya waktu yang ada untuk menyelesaikan apa yang harus diselesaikan semakin mendesak dan.... harus diakhiri dengan akhir yang baik. Resolusi dibuat, yang menyedihkannya adalah seringkali resolusi hanya tinggal resolusi. Yang setiap akhir tahun tidak sengaja membaca hasil tulisan resolusi awal tahun diikuti pertanyaan gila “serius gue pernah nulis ini???”

Percayalah, semenjak saya menjadi sedikit intelek, saya selalu membuat resolusi awal tahun. Dan hampir semua tahun, saya tidak memenuhi target saya. Dan target itu, dengan bodohnya terus saya tingkatkan di tahun-tahun berikutnya. Ibarat saya menargetkan untuk punya uang 5 milyar (INI HANYA ILUSTRASI HAHAHA)  di tahun 2015 yang tidak saya capai, 2016 saya malah membuat target punya uang 20 milyar. Kisah nyatanya seperti ini : target 2014 saya nambah hafalan setengah juz,  kenyataannya justru saya malah mengacaukan hafalan saya yang ada. Di 2015, saya dengan pede nya menulis lagi resolusi hafalan ditambah 2 surah lagi. Padahal hutang hafalan tahun lalu nya belum dilunasi. Atau ketika menulis resolusi 2014 berat badan xx kg, di 2015 target itu ditingkatkan lagi padahal xx kg di 2014 belum tercapai, di 2015 targetnya menjadi xx-2 kg. Kenyataannya diet always starts tomorrow. Itulah arti resolusi hanya tinggal resolusi. Sebuah tindakan menyedihkan, tapi mayoritas orang melakukannya. Kamu juga ya? Haha.

Di 2016 ini, atas bimbingan Pak Ryan, saya disuruh untuk buat resolusi jangka pendek, seperti target setiap bulan—yang kemudian diubah menjadi kebiasaan, sehingga tanpa sadar di akhir tahun kebiasaan ini membawa kita pada target yang lebih besar. Ini teoritis sekali. Memang sangat teoritis sekali. Duh.

Yang terpenting, hasil musyawarah dan kesepakatan bersama Pak Ryan, kami memutuskan untuk memprioritaskan silaturahim sebagai target 2016 kami. Menjalin tali tali yang hampir terkoyak, tercampakkan, dan compang camping, karena kami adalah makhluk-makhluk yang hina dan kurang peka, sehingga silaturahim adalah tebusan dosa bagi ketidakpekaan kami selama ini. Seringkali saya ketinggalan info atau tidak peka pada momen penting seseorang. "oh dia sekarang kerja disini?" "oh dia lanjut kuliah disana?" "oh dia udah mau nikah sama si itu?" "oh dia udah lulus?" "dia sidang hari ini? oh. (yaudah)" dan yang paling parah "oh selama ini dia teh kuliah disana?" padahal temen-temen deket semasa SMA :( gak ngerti kenapa ada orang cuek parah kaya saya gini. Bawaan lahir atau gimana sih... Orang kayak saya pantesnya jangan ditemenin. Hiks. Dan hal itulah yang akan kami perbaiki di NYC -new year ciecie- ini. Begitulah.