Thursday, November 28, 2013

Mercusuar

Lampu mercusuar berkedip di matamu..
Ombak datang, dan halau saja.
Lampu mercusuar temaram di tanganmu..
Gerimis menimpa, dan berteduh saja.
Lalu,
Lampu mercusuar tenggelam di hari-hariku,
Hari dimana aku adalah ombak dan gerimismu,
Waktu dimana aku adalah mercusur itu.

------
Mercusuar diam di pinggiran ombak
Menanti layar dan jangkar
Menerka
Siapa dahulu yang kemudian berlabuh.

Wednesday, November 13, 2013

cenayang

Ada beberapa alasan orang mengatakan, jika ingin dihargai orang, maka hargai orang terlebih dahulu. Sepakat sih. Tapi ada beberapa pengecualian khusus untuk saya, yang mungkin setelah Anda baca, Anda akan berpikir untuk.......tidak berpikir apa-apa (?)

Saya percaya ada banyak jenis makanan enak di dunia ini. Daging salah satunya. Saya percaya, -misalnya- sate sapi atau ayam itu enak. Tapi seumur hidup saya, saya tidak pernah makan sate. Atau -misalnya lagi- bakso isi daging iti surga makanan, nendang enaknya! Tapi -sekali lagi- seumur hidup saya tidak pernah makan bakso isi daging. Saya tidak makan ayam dalam bentuk ayam (?) Saya cuma mau makan daging yg sudah diolah kebentuk lain. Misalnya diolah jd nugget, fillet, jd daging kebab, dll. Yang penting bentuknya udah bukan daging asli (?) lagi. Padahal logikanya, ya sama-sama daging. Saya tidak makan ikan yang banyak tulangnya. Atau kalau secara sengaja maupun tidak sengaja  saya menemukan banyak tulang ikan dalam tumpukan nasi saya, kemungkinan besar kegiatan makan saya akan terhenti. Ya Tuhan, saya banyak maunya.

Seringkali ibu saya kebingungan kalau masak untuk saya. Tapi sederhana saja, ibu saya cukup masak sayur -apapun- dan saya akan bahagia. Masalahnya, ibu saya suka jadi kebingungan, sayur apalagi yang harus dimasak buat saya. Dari lodeh, sayur asem, sop, kangkung, bayam, soto, rawon, dll dll berbelas-belas tahun lamanya selalu bergilir ibu saya masak.......hingga bosan.

Iya iya, saya banyak maunya.

Jadi anehnya, secara semena-mena, saya memutuskan untuk sakit hati jika melihat makanan hasil karya saya tidak dimakan orang yang jadi naracoba untuk makan makanan saya. Sekalipun makanan itu saya beli dari warung nasi padang, kalau saya yang beli, saya akan merasa itu adalah masakan hasil saya *like a boss -,-* meskipun kadang (read : sering) saya tidak memakan apa yang orang lain masak, dengan alasan yang mungkin dianggap layak terima : maaf, saya tidak makan itu.

Saya akan murka, seperti yang biasa saya lakukan kepada Ayah saya (?) Secara turun temurun, mungkin sifat memilih makanan itu diturunkan Ayah (yang sialnya) ke saya (dan bukan ke kakak saya, huft) Saya curiga, jangan-jangan ibu saya itu seorang cenayang. Kenapa dia mampu membaca situasi dengan jitu. Kenapa feeling "hari ini masak apa ya" -nya hampir selalu tepat dengan kondisi perut kami yang sedang ingin makan apa. Dan kenapa masakan ibu saya selalu bisa diterima mulut Ayah dan saya yang sebenarnya pilih-pilih makanan? Iya, mungkin ibu saya adalah cenayang.

Ibu saya pernah meninggalkan rumah selama satu bulan lamanya. Selama sebulan lamanya -yang bagi saya rasanya seperti satu tahun!- saya harus mencoba memeriksa apakah saya seorang cenayang juga, atau bukan. Kasusnya, saya berhadapan dengan Ayah, yang kadang sulit ditebak, mau makan apa sebenarnya beliau. Dan bodohnya, saya seringkali salah masak masakan. Dan ujung-ujungnya, saya harus makan sendiri. Hiks. Ditolak. Oh jelas saya murka. Piring yang sudah saya siapkan, seperti di sinetron-sinetron, akan saya banting (?) secara tidak manusiawi, prang prang prang. Bukan karena saya suka suara piring, tapi saya hanya mau menunjukkan, ini loh Ayah sayang, saya lagi marah nih Yah. Yang kemudian Ayah akan sok-sok -an baik macam sedang ngerayu orang. Maaf, anak gadismu tidak mempan dirayu, kira2 begitu jawabannya.

Atau ketika saya masak (sesungguhnya jarang sekali masak) dan Ayah memuji hasil masakan saya, Oh meeen! Rasanya seperti minum air es di suhu 40 derajat celcius. Nyeees! Orang yang tidak banyak suka masakan orang kecuali masakan mama, seperti Ayah ini, bisa suka masakan saya itu ajaib untuk level orang yang tidak pandai masak macam saya. Huahahaha.

Dan saya jadi harap-harap cemas. Di kehidupan mendatang (?) Saya berharap bisa hidup damai dengan orang-orang yang memakan apa saja. Atau kalau tidak, saya akan memutar otak 4x lebih berat dibanding saat ini untuk menentukan "ya Tuhan, saya harus masak apa". Kan kasian, saya bisa jadi cepat tua.

Masak adalah pekerjaan yang sangat misterius untuk saya. Sambil melihat dan memandangi orang memakan masakan itu, saya seringkali berkomat kamit "semoga enak semoga enak" meskipun tidak jarang yang mengernyitkan mata, lalu senyum terpaksa, "enak kok", uuummm,,, buat saya senyum terpaksa itu adalah pekerjaan bodoh.

Dicoba dan latihan terus saja, belajar masak, supaya senyum orang2 yang makan makanan kita tidak lagi senyum sinting untuk menghindari murkanya saya. Haha. Yang penting, makanlah dengan ikhlas, hahaha.

Oya, dan saya tidak pandai membuat closing suatu tulisan. Sebenarnya ingin diakhiri dari tadi, bahkan dari awal menulis judul. Tapi jadinya malah sepanjang dan setidak penting ini.

Tuhkan, Anda pada akhirnya akan memutuskan untuk tidak berpikir apa-apa. Hmmm.

Saturday, October 19, 2013

Melukis Stratosfer

Secara tiba-tiba, semua tenaga dalam diri dikuasai oleh imajinasi. Ketika berfikir bahwa bumi dalam segala ruang dan waktunya menjadi sedemikian kerdil.
Ketika terbang menjadi mungkin, menembus Stratosfer, bersama balon udara, kita meninggi..semakin meninggi..

Kita meninggi, menyaksikan betapa kerdilnya Bumi ini. Bersama kawan yang berangkulan, kita saling berbisik dalam hati, sepersekian detik. Lalu kita tertawa dalam hal yang sama. Kita menangis dalam hal yang sama. Kita adalah aku dan aku adalah kita. Melaju meninggi, meninggalkan Bumi dan pijakan, mewarnai Stratosfer kita, ah ya, kita begitu muda.

Perbekalan habis, aku kemudian terjun. Aku merindui semak belukar di halaman Bumiku. Aku melaju terjun lebih cepat dari kecepatan suara yang kita perbisikan tempo silam.

Sesampainya di Bumi, Relativitas Umum menawarkan diri untuk menjelajah masa lalu. Melalui wormholes itu, aku membenamkan diri pada dinansti lorong waktu. Aku mencari jejak tertawa dan menangis kita. Terdampar di kenangan lampau, ketika kita terbang meninggi.

Semakin pulih, aku kemudian membisikkan ini padamu. Maaf, jika harus jatuh sendiri, meninggalkan Stratosfer, menelantarkan kuas kuas lukis kita. Aku tak bisa selamanya berpijak dalam imajinasi, karenanya aku memilih jatuh.

Di semak belukar halaman Bumiku, aku berkeliling, menjelajahi keindahan bawah Atmosfer yang menentramkan. Dan aku aman.

Tak ingin berlama-lama, terbang dalam angan-angan yang menjadikan hati  kita meninggi, kawan.
Mengajakmu bersama, terbang dalam keindahan iman, yang menjadikan budi kita meninggi, kawan.

Aku ingin bersama. Tak peduli jika lorong waktu itu ada atau tiada.
------

Bagaimana caranya aku ungkapkan ini?

Penumbra

Menyadari kehadiran adalah hal terlangka yang bisa kita harapkan,
Dalam sudut dan posisi kita melihat, sepintas saja kita rasakan.

Selebihnya, kita lupakan.

Jika Bumi menyadari bahwa dirinya ada dipertengahan Bulan dan Matahari --meski tak banyak orang mengetahui...

Maka,
Aku adalah Bumi ketika tata surya menghadapi Penumbra,

Aku ada diantaramu -dan tak tersadari-
Dipertengahan Matahari, dalam perpanjangan bayang-bayang Bulan...

Friday, October 11, 2013

paacion


akhir-akhir ini saya jarang ngepel blog ini, karena sibuk dengan perhelatan dunia (?) sibuk mencari emmm...uuuhhh...yaaahhh..katakanlah passion saya itu apa *terdengar keren, ya? engga sih, biasa aja.

akhir-akhir ini, meskipun saya bukan artis, tapi saya meresa super lelah. Saya merasa setiap hari saya bekerja, tapi kenapa yang saya rasakan hasilnya hanya sedikit.Terus, lelah saya yang perpeluh-peluh itu kemana? *lebay* dari senin sampai senin lagi, rasanya waktu saya diseok-seok. dikoyak-koyak. Sampai waktu buat gunting kuku pun gak ada (?) Tapi kenapa, perasaan saya ikut lelah? Kenapa, kepuasan bekerja itu minim sekali? Huft. 

terus saya merenung, semakin lama semakin ngantuk dalam. Saya kenapa? Kenapa saya?
alhasil, saya menyadari ada yang tidak beres dari alur saya bekerja. Ada hati yang tertinggal ketika saya bekerja. Ada semangat yang hilang ketika saya bekerja. Kenapa? Lelah itu tidak dibarengi passion. 

Kalau saya membayangkan film-film zombie, Saya suka sedih, kenapa ada karakter zombie dalam perfilman ini. hiks. Atau kenapa orang-orang Voodoo mau beranggapan mayat bisa hidup lagi, atas dasar perdukunan, dan secara keroyokan menyerang manusia. Ya gapapa, namanya juga film. 
Tapi, zombie yang tidak bisa bertindak sesuai keinginannya, atau hanya dikendalikan oleh "majikan"nya, nyatanya merupakan analogi yang paling sreg untuk seseorang yang bekerja bukan dengan hatinya. Dengan kata lain, -baiklah, kita sebut saja  saya adalah zombie....yang masih beriman pada Allah dan rasulnya (?) 

20 tahun lebih saya bernafas, baru sekarang-sekarang menyadari sebenarnya apa passion saya, yaaaeeelllaaaahhh..
dan belakangan menjadi miris melihat adik-adik dari SD sampai SMA nanti harus dicekoki sistem pendidikan yang tidak mengantarkan mereka menemukan apa passion mereka. Anak-anak Indonesia harus melewati fase mencari jati diri di usia yang hampir tak muda lagi. Mereka masih harus dicekoki angka-angka dan cacing-cacing integral -bertahun-tahun- padahal passionnya adalah mengobati orang, mereka masih  harus menghitung dimana kedudukan bola saat t=0,5 s dilempar dengan sudut elevasi 37derajat dengan kecepatan awal 10 m/s, padahal passionnya adalah bermain piano. mereka masih harus menghafal cara amoeba hidup atau bagaimana katak bernafas, padahal passion mereka adalah memanage keuangan. Yang semuanya harus mereka kuasai kalau mereka mau dicap sebagai "anak pintar".

Sistem memang menyistem kita (?) mau bagaimana lagi? Kalau disadarkan sejak dini tentang passionnya apa, ya Alhamdulillah, atau diusia yang sudah kepala dua macam saya, semoga belum terlambat. Tapi banyak orang yang tidak peduli dengan passion, yang penting mereka bekerja..bekerja..dan bekerja.. yang penting mereka bisa semua mata pelajaran, lulus kuliah, menikah, bekerja, gaji besar, hidup tak kekurangan, dan yeah...terserahlah.

sekali lagi, apa bedanya sama zombie?

saya tidak tahu bagaimana sistem pendidikan yang akan diterapkan di Indonesia 20 tahun lagi seperti apa. Yang jelas, sekarang, waktu anak-anak harus dihabiskan dengan sekolah lanjut les bimbel, lanjut kerjakan pr, dan besok paginya begitu lagi. Meskipun saya adalah korban dari sistem yang demikian. Saya bukan calon ibu yang menganjurkan anak saya menjadi bodoh dalam pelajaran *naudzubillah* tapi, berpuluh tahun lagi, saya harus menghadapi fenomena ini lagi. Jika sistem menginginkan anak saya menghafal bagaimana sistem reproduksi ikan atau menghitung resultan gaya gravitasi benda a terhadap benda b, maka saya harus mengusahakan dia untuk mengerti, bukan bisa. Paham, mengapa ilmu itu harus dipelajari. Selebihnya, potensi utama -yang menjadikan dia manusia- yang harus digali. Kalau suka musik, asah kemampuannya. Kalau suka sastra, belikan buku-bukunya. Kalau suka olahraga, temani latihannya. Kalau suka masak, ajari bumbu-bumbunya. Kalau suka sosial, bantu ia mengabdi. Kalau suka akademik, biarkan dia bereksperimen. Kalau suka politik, em..susah juga sih.

Yang jelas, masih banyak orang yang gurita jabatan. Yang bekerja diluar jalur kemampuan dirinya. Tidak sesuai kata hati, yang penting bisa hidup dan beli makan. miris.

jangan sampai generasi keterunan saya, mirip emaknya yang gak bisa apa-apa, yang gak suka baca. Semoga Allah pasangkan orang yang gak suka baca dengan orang yang hobi baca, atau pemilik buku bacaan yang banyak. aamiin

ga jelas ya, ini tulisan maksudnya apa.
yaudahlah.


Friday, August 16, 2013

Holofrasis

Saya pernah berpikir tidak ingin menjadi apa-apa. Tidak menjadi kamu. Tidak menjadi dia. Tidak menjadi mereka. Tidak juga menjadi SailorJupiter, yang akhir-akhir ini entah kenapa kangen film Sailormoon. Lalu sebenarnya saya ingin jadi apa?!

Baru saja tadi saya melamun sembari mengelap pegangan tangga. Saya berpikir, saya ini siapa, saya bisanya apa. Banyak banget orang yang serba lebih dari saya. Terus, saya merasa menjadi sebatas butiran detergen, atau serpihan biji rambutan.

Ah, Kenapa sering banget ngerasa gagal? Usaha, gagal, usaha lagi, gagal lagi. Mungkin indikasi bahwa kemampuan ada dibawah rata-rata

Mendadak saya berpikir ingin menjadi siapa saja. Menjadi kamu. Menjadi dia. Menjadi mereka, bahkan menjadi anggota baru ksatria Sailor, saya menamai SailorSaturnus. Siapa saja, asal bukan saya.

Hahaha, lucu ya, lari dari masalah. Lari, lari,lari..*hosh..hoshh..hosshh

Saya dengar bisik-bisik samar sekilas, katanya, "disaat ada orang di luar sana yang ingin memiliki apa yang kamu punya, kamu memilih untuk berpikir kamu tidak punya apa-apa"

Lha, tadi kan saya lagi ngelap. Sendirian.

Tuesday, August 13, 2013

Friday, August 2, 2013

FLASH-BACK

Tiba-tiba teringat masa-masa pengumuman SNMPTN tahun 2011, setalah baca tulisan seseorang yang menceritakan kegagalannya di SBMPTN 2013 kemarin. Terus, jadi ingin cerita, hehe.

2011. bener-bener jadi tahun pembelajaran buat saya. Awalnya saya ikut tes semacam  PMDK yang ada di UI, apa namanya ya saya lupa :D Seleksi ini terbatas kuota , Alhamdulillah saya termasuk dalam kuota itu. Saya pilih FKG UI (karena saya sadar diri lah ya, ga yakin bisa tembus FK UI). Waktu pengisian formulir, tertera pilihan nominal uang yang harus dibayar untuk biaya semester. Dan dengan bodohnya,  saya mikir bahwa nominal akan mempengaruhi keputusan diterima atau tidak. Jadi dengan seenak jidat saya tulis 4 juta persemester. Tanpa bincang-bincang dengan orang tua, oh ayolah, bocah tak tahu diri. Tapi akhirnya diizinkan, fyuuuh. Terus saya mikir, kalau saya keterima, saya pasti harus ngekos. Biaya di Jakarta bukan tidak murah, belum lagi biaya kuliah sehari-hari. Gila!!

Waktu saya main ke Jakarta untuk menjenguk saudara, saya sempatkan main ke Salemba dengan Teteh saya. Saya foto-foto gedung FK UI, dan tentu saja FKG UI. Dari pandangan pertama, If I have to be honest, oke, saya gak jatuh cinta. Meskipun gedung FK UI mirip SMA 3 Bandung, tapi saya semacam enggak sreg sama suasana Jakarta yang kayanya bukan saya banget.

H- Beberapa JAM (JAM YAAA JAAAAM!!) pengumuman seleksi PMDK UI, it was CANCELLED, dan diberitahukan bahwa seleksi akan diintegrasikan dengan SNMPTN Undangan, semacam tes masuk dengan menggunakan nilai rapot SMA, sebuah kebijakan maha dahsyat dari pemerintah yang perdana dikeluarkan tahun 2011. Bagi yang sudah terdaftar PMDK UI, tinggal melakukan konfirmasi apakah mau dilanjutkan. Setelah berdiskusi dengan orang tua, akhirnya saya memutuskan PMDK UI saya cancel, lalu memutuskan memilih jurusan baru di SNMPTN Undangan. Goodbye Jakarta, Goodbye FKG UI.

Saya daftar. Tersedia 6 pilihan untuk 2 universitas yang berbeda. Saya pilih Unpad, jurusan kedokteran, dan ITB jurusan FTTM. Sisanya saya kosongkan. Sedikit PD, ya karena nilai Rapot saya gak jelek-jelek amat, even ketika di ranking, saya termasuk 3 besar di angkatan yang mau daftar ke FK Unpad. You know how it feels? Bikin saya jadi tak tahu diri. Ya gimana engga, saya nyantei dong, ngerasa aman, dengan opini bahwa FK Unpad gak mungkin cuma ambil 1 orang dari SMA 3. Yang lain ribet Bimbel, saya juga bimbel sih, di 2 tempat malah, tapi ya sekenanya saja.

Pengumanan undangan datang juga. Dengan bodohnya, saya lupa nomer ujian saya, dan nomer ujian itu ada di kosan, sedang saya lagi di rumah. Jadi malam itu saat orang lain sudah ber-alhamdulillah ria, saya gak tau nasib saya. Sampai akhirnya besok paginya saya ke kosan, ambil kartu nomer ujian, dan gak ada warnet yang buka pagi-pagi. Akhirnya, saya telepon Teteh saya, minta dilihatkan di website. Teteh saya lama sekali menelepon baliknya. Ternyata, teteh menelepon mama dulu, dan mengabarkan bahwa saya tidak lolos undangan. Teteh gak tega kalau dia yang ngomong langsung ke saya. Akhirnya saya terima telepon dari mama, dan dengan berat hati saya harus menerima, saya tidak diterima di kedua pilihan itu.

Saya sesek. Banget. Saya lihat teman-teman saya diterima di ITB, padahal saya juga daftar di ITB. Saya baru tahu belakangan, bahwa ternyata Unpad hanya mengambil sedikit dari jatah Undangan, dan FK Unpad hanya mengambil 1 orang lewat jalur murni SNMPTN Undangan, dan ITB mendahulukan mereka yang memilih ITB di pilihan pertama. Dan sejak saat itu, banyak kata “kalau” memenuhi otak saya. Kalau saja saya tidak mau jadi dokter. Kalau saja saya tahu Unpad ambil sedikit dari undangan. Kalau saja saya tahu ITB memprioritaskan yang pilihan pertama. Kalau saja saya jadikan ITB pilihan pertama. Kalau saja….kalau saja…kalaaauuuu…… lalu saya Runtuh, Roboh, Semacam udah ngelayang di udara, dan gak mau hidup.

Saya nangis 2 hari 2 malam. Sampai mata saya bengkak. I was totally afraid, karena SNMPTN tulis diadakan 2 minggu setelah pengumuman undangan. Saya mengutuki diri. Kenapa sombong? Saya benci diri sendiri, karena menganggap remeh sesuatu. Padahal sesuatu itu menentukan masa depan saya. Saya marah, kenapa gak dari dulu belajarnya, kenapa kalau bimbel cuma main-main? kenapa engga mempersiapkan kemungkinan terburuk jika tidak diterima? But time cannot be reduced, waktu tidak pernah bisa ditarik mundur. I was on the  Injury time,  Jatah waktu hanya 2 minggu untuk mempersiapkan apa yang belum dipersiapkan.

Akhirnya saya daftar ujian tulis, pilihan pertama FK Unpad, pilihan kedua FKG Unpad. Saya sama sekali engga ambil ujian mandiri atau ujian swasta satu pun, karena saya gak mau kuliah di swasta, disamping biayanya  emang mahal. Dalam 2 minggu itu, saya merasa menjadi super sholehah. Haha. Mama saya kadang menemani saya di kosan. Menenangkan saya, yang pada waktu itu belajarnya udah macem orang gila. Berhenti cuma untuk sholat, ke kamar mandi. Even sometimes I forget to eat.  Dalam minggu –minggu itu, saya rasa itulah sholat terkhusyu yang pernah saya lakukan (hehe). Terbangun sepertiga malam, dzikir panjang banget, sujud lama banget, baca quran jadi serba hobi. Karena saya tahu saya lagi sakit batin, yang obat penenangnya cuma satu : dekat dengan Allah.

Tiap hari tambahan di GO, pulang bimbel lanjut belajar di kosan, sampai ngundang temen yang udah lulus undangan, yang master matematika, biologi, kimia, fisika untuk datang ke kosan, ngajarin saya.

Finally, Hari H tiba!!

Semua perasaan campur aduk. Saya tegang luar biasa, deg-degan setengah mati. Saya ingat saya duduk di kursi pertama, paling pojok kanan depan. Dan hari pertama ujian tulis, saking tegangnya, saya sampai ke WC 3 kali -_- Just a moment before the test begin, saya izin ke toilet, karena saya gak bakal bisa mikir kalau saya nahan buang air kecil -_- padahal kondisi peserta ujian sudah steril, sudah tidak boleh keluar masuk lagi. Tapi saya mohon-mohon ke petugas pengawas, supaya saya diizinkan ke toilet. Akhirnya saya diizinkan. Hahaha. I will never ever forget that embarassing moment.

Ujian selesai. Saatnya menanti hasil pengumuman. Dari awal saya sudah pesimis dengan hasil ujian, karena ngerjain gak maksimal. Padahal setelah pulang, dan mengerjakan ulang soal itu, saya bisa. Tapi waktu ujian, blank…..panic attack, and I hate it a lot!

Sore hari, saya duduk di lantai, bersandar di kaki mama yang duduk di kursi. I asked her, “ ma, kira-kira detin keterima di mana?” dan tanpa sadar, mama jawab “Kedokteran gigi”, refleks saya kaget, dan mama juga kaget dengan jawabannya sendiri. “Iiih…kenapa? FK dooong!” saya bilang begitu. Dan mama saya cepat-cepat beristigfar, katanya mama sendiri gak tau kenapa jawab itu.

Dan pengumuman akhirnya resmi dibuka. Saya nyalakan laptop dan internet di rumah. saya ingat waktu itu menuju magrib, ayah menyuruh saya untuk sholat dulu. Ayah pergi ke masjid, saya dan mama berjamaah. Selesai sholat, teteh dan abang ipar saya telepon, they wondered about the result. Kami jawab kami belum buka website nya. Sedikit gangguan, mungkin karena banyak orang yang mengakses. Akhirnya abang yang minta untuk membuka, saya ingat waktu itu abang masih di Amerika, menelepon dari Golden, dan bilang akses internet disana lancar jaya. Abang bilang, “Selamat de, keterima di FKG Unpad”.

Saya sujud syukur, dan gak tau harus bilang apa. Mama justru nanya, “sedih gak de? Ga apa-apa di FKG?” dan kalimat itu justru yang bikin saya sedih. Tanpa mama sadar, saya menyesal sudah mengecewakannya. Demi Allah, yang buat saya sedih bukan saya tidak diterima di FK, tapi karena mama sedih mengira saya sedih gagal di pilihan pertama. Demi Allah, saya sedih kalau melihat mama sedih. Dan mama sedih kalau lihat saya sedih, kami saling tahu, lalu kami memutuskan diam. Sampai akhirnya ayah pulang dari masjid, dan bertanya, “Gimana hasilnya de?” mama yang menjawab.

Ada banyak hikmah untuk saya. Allah punya maksud yang kadang perlu waktu lama sampai maksud tersebut dimengerti oleh kita. Saya membayangkan ulang, flashback dan berandai-andai, jika saya keterima di FKG UI dulu, otomatis biaya pengeluaran semakin besar, dibanding dengan masuk di FKG Unpad, biaya semester 2 juta, daaaan tidak perlu ngekos :D karena jarak rumah ke jatinangor lumayan dekat. Allah tahu yang terbaik.

Dan sekarang, saat saya duduk menuju tingkat 3, saya semakin menyadari perbedaan profesi antara dokter dan dokter gigi, yang dulu saya pikir dokter umum lebih bergengsi dibanding dokter gigi. Semakin dewasa, semakin mengerti dunia dokter gigi, semakin sadar, kami memiliki kompetensi sendiri, yang dokter umum tidak bisa melakukannya, begitupun mereka, profesi yang dokter gigi tidak bisa lakukan. Semua tentang spesialisasi profesi, yang punya jalurnya masing-masing. Maka, dokter dan dokter gigi adalah saling melengkapi. Jadi saya tidak perlu iri, karena saya punya spesialisasi tersendiri. And now, I do love FKG :)  Lagi-lagi Allah tahu yang terbaik.

Kita tidak boleh terpuruk dalam perasaan gagal, Allah hanya membelokkan jalan kita, tapi tujuanNya tetap sama, memberi yang terbaik untuk hambaNya.

Selamat menjadi bangga dengan diri sendiri, dimanapun, siapapun, dan kapanpun :)

Monday, July 8, 2013

tongkosong

Ada orang yang jika berbicara, semua hal yang  terlintas di pikirannya akan ikut dibicarakan, sampai mulut berbusa, menyambung satu topik dan menyerempet topik-topik lain. Ada orang yang ketika berbicara, dengan semangat berapi-api berpetir-petir, tapi ditengah-tengah kehilangan kosakata, bingung mau melanjutkan apa. Ada orang yang ketika berbicara, kata-katanya tenang mencerminkan ketinggian ilmunya, seolah di otaknya ada brangkas kata yang tersusun rapi.

Tapi ada juga yang ketika berbicara, dia akan seperti ini :

Percaya atau tidak, tapi sebaiknya percaya saja,  setiap kali saya mau bicara di depan forum, saya akan berpikir berkali-kali tentang kata-kata yang akan saya ucapkan, kira-kira benar atau tidak? Nanti kalau tidak benar, apa kata orang? semua kalimat-kalimat yang acak-acakan itu terus-terusan dirangkai sebelum diucapkan, sampai-sampai waktu untuk berbicaranya sudah kadaluarsa, dan akhirnya tidak jadi bicara.
Atau ketika ragu berpendapat dalam tulisan, setelah tulisan di posting, dibaca ulang, kira-kira benar tidak ya tulisannya, kalau salah apa pendapat orang? apa sebaiknya di hapus saja? Maka akhirnya, tulisannya kemudian saya hapus. Cupu emang.

****

Hmmm, Akhir-akhir ini, dunia makin ribut ya. Debat udah jadi hobi. Mirisnya, yang jadi lawan bukan sebenar-benar lawan. Sometimes, kita mendebat kawan kita sendiri.

Mesir bergejolak, tapi ujung-ujungnya sesama muslim main tuding. Barat seneng tuh liat kita kaya gini. Apalagi yang ngaku muslim tapi otaknya udah ga sejalan sama Islam, namanya Liberal. Orang-orang liberal banyak yang jago nulis, jago ngomong, jago argumen. Masa “matahari yang sebenarnya pemberi kehidupan” aja bisa mereka argumenkan? Belum lagi mereka men-statement-kan kalau Islam itu agama oplosan. Iya kali emang minyak goreng. Dan segala kekacauan teori-teori mereka. Mereka jago loh berargumen, meskipun argumen mereka stupid nya minta ampun.

Suatu ketika saya baca tulisan dari orang liberal. Bravo, bahasanya meyakinkan sekali. Ya orang-orang awam yang ga tau apa-apa bisa kemakan tuh sama “teori” nya doi. Tapi kalau kita kritis, akan jelas sekali terlihat subjektivitas menjadi tema besar dari tulisan sang penulis.

Semua penulis memang pada akhirnya akan membawa kepentingannya. Kepentingannya adalah tujuannya. Termasuk tulisan ini, saya punya tujuan untuk menulis, dan saya punya kepentingan mengapa saya menulis. Kepentingan menulis itu banyak, ada yang ingin menginspirasi, ada yang ingin berbagi, ada yang ingin kelihatan keren, ada yang ingin mengungkapkan perasan, ada yang ingin bersosial, berpolitik, berbisnis, bahkan ada yang ikhtiar cari jodoh lewat tulisan. Apa itu salah? Hei, Semua penulis melakukannya.

*****

Dengan argumen yang sedemikian beragam, kadang orang-orang yang tidak berilmu atau yang ilmunya salah arah alias gagal paham saja mampu mengungkapkan pendapat di khalayak. Maka, seorang saya yang dulu berpikir, “ilmu kamu masih sedikit, masih belum ngerti apa-apa, dari pada kamu salah, lebih baik kamu diam saja, wong diam itu emas” harusnya berpikir lagi.

Sampaikanlah walau hanya satu ayat. Kebenaran harus ditegakkan dengan segera, kebenaran adalah agenda yang mendesak. Kalau menunggu sampai ilmunya tinggi, siapa yang akan bertindak jika ketidakbenaran merajalela? Mereka yang jelas-jelas sudah salah paham dengan ilmunya, masih heboh berkoar-koar. Mereka toh tidak takut salah, meskipun memang salah. Memang belum tentu saya benar, tapi ketika apa yang saya ucapkan dibenarkan Alquran dan Sunah, tidak ada satu manusiapun yang bisa menyalahkannya. Termasuk oleh isme isme manapun. Jadi kiranya, saya tidak boleh lagi takut berpendapat.

Kalau pendapat saya salah?

Toh, saya manusia. Itu  ciri saya manusia, saya punya salah. Yang bikin dia bukan manusia, ya kalau dia salah, dia enjoy sama kesalahannya. Kalau pendapat saya salah, niat awal adalah belajar, saya berlindung pada Allah atas kesalahan ucapan dan pikiran. Orang akan mengkritik pendapat saya, dan dari kritik saya akan belajar apa yang benar. Jadi, meskipun ilmu saya sedikit, tapi yang sedikit itu sebaiknya dialirkan, biar tidak jadi keruh karena ditampung di otak sendiri saja.

Beda ya, antara berpendapat sama dominasi berbicara. You never learn when you talk, kata pepatah inggris. Jadi dear myself, jangan cuma berkoar-koar, tapi tidak banyak mendengarkan dan mengamati. When it happens,  you learn nothing.

Thursday, June 6, 2013

Everything Begins with Tarbiyah

*akhirnya buka blog juga* 

buka blog, cuma mau copas, hehe. takut keburu lupa, jadi langsung saja. Oke, coba-coba-coba-coba... resapi paragraf-paragraf ini..

http://2.bp.blogspot.com/-fn0wiyUtpvc/UbBXJG8_QTI/AAAAAAAAAwo/jAm3_L282o4/s400/cropped-tumblr_mfyigauukn1rta0fio1_1280.jpg
guide us..


Reviving this ummah..what does it really takes for us to do it? What is the most important element? What is it..that brought Islam to be once at the top of the world? Let's look back in the past..

Umar ibn Khattab RA knew what was most worthy and most valuable. And he wanted to give the sahabah a lesson. So they were sitting in a room, and he said:
"Taman-nau! Make a wish!"

One of the sahabah said: "I wish that this room would be filled with gold..so I can spend it in the path of Allah."

And Umar said: "Taman-nau! Make a wish!"
Another sahabah said that, "I wish that this room would be filled with jewels and gems..so that I can spend it in the path of Allah."

He said, "Make a wish!"
"O amirul mu'minin, we don't know what to say. You want to fill this room with what?"

Umar ibn Khattab said: "MY wish, is that Allah 'azza wa jall fills this room, with the likes of Abu 'Ubaidah Amr ibn Al-Jarrah (in another narration Abu 'Ubaidah and Muaz ibn Jabal), so that I can send them in the path of Allah." 

Umar (radiyaAllahu 'anhu) is telling us and telling them that your human resources are more important than your financial resources. Theyre more important than your brick and moor. They are more important than everything you have. It is your human resources that counts.

Rasulullah SAW when he passed away, he didn't leave behind any glamourous buildings. The masjid of Madina was mud and clay. The floor was merely sand. The roof were palm leaves, and it would drip water on them when it rained. Rasulullah SAW did not pave any roads. He did not establish a financial network or business. He did not leave behind even books!

All that Rasulullah SAW left behind was alQuran. And he left it behind, not in mushafs, not in books, but he left it behind engraved in the hearts of the sahabah radiyallahu 'anhum. That was the product that Rasulullah SAW left behind. That was the effort of the da'wah of Rasulullah SAW. He left behind, the Sahabah. And every blessings that we enjoy today is because of that.

The religion did not spread much in the time of Rasulullah SAW, no. It spreads in the time of Abu Bakr and Umar (radiyaAllahu 'anhuma). In the time of Khilafah Bani Umayyah and Banu 'Abbas. Rasulullah has the Sahabah that were with him. In Madina, or Makkah, their number were not many; a hundred plusplus. These are the ones who started off with him in Makkah. But every one of these men, you could just throw them anywhere in the world and leave them. Alone! And they'd take care of the religion.

Umar ibn Khattab RA is saying, "I want such men; like Abu 'Ubaydah and Muaz ibn Jabal RA so that i can send them out, fi sabiliLLAH"

So tarbiyah is the most important thing. It is more important than your buildings, more important than the institutions. The most important thing, is the Tarbiyyah! And that, is how Islam will carry on.

http://maalimfitariq.files.wordpress.com/2013/05/tarbiyah.jpg
everything begins with tarbiyah :) 

jleb. 
*tarik nafas*

*kemudian sign out*

Thursday, May 16, 2013

Kepala Dua

Dari Bahasa kepada Jiwa.
“Saya tak tahu, berapa waktu yang tersisa untuk saya. Satu jam, satu hari, satu tahun, sepuluh, lima puluh tahun lagi? Bisakah waktu yang semakin sedikit itu saya manfaatkan untuk memberi arti keberadaan saya sebagai hamba Allah di muka bumi ini? Bisakah cinta, kebajikan, maaf dan syukur selalu tumbuh dari dalam diri, saat saya menghirup udara dari Yang Maha?” - Helvy Tiana Rosa

Teruntuk Jiwa, ketahuilah bahwa Bahasa telah melantunkan sajak terindahnya sebagai hadiah doa bagi pelampauan. Waktu berbilang, satu demi satu detik berdenting, dan kumpulan hari kemudian memudar beralih, berganti wajah yang semakin mendewasa. 

Dan dengan tidak terasa umur manusia pun lenyap sedetik demi sedetik ditelan siang dan malam. Kiranya jika berkenan, semoga usia-lalu yang telah terlewati dan bilangan waktu-kemudian yang akan membersamai, selalu ada berkah disetiap jejak langkahnya. 

Saatnya merevolusi diri, berbenah hingga tidak mengenal lelah. Memperbaiki segala sisi dimensi diri yang perlahan rapuh terbakar percikan keburukan. Akan ada masa, dimana alam meminta kontribusi dari bertambahnya usia. Maka, belajar dan memberi adalah Bahasa yang selayaknya Jiwa miliki.

Saya tiada berucap selamat, sebab nyata bahwa umur semakin berkurang. Saya berucap semoga, sebab perjalanan waktu memberi arti untuk merancang bahagia, menambah kawan,dan merencanakan hidup mulia. 

"Count your age by friends, not years. Count your life by smiles, not tears." - John Lennon

Semoga berkah tiap langkah, istiqomah hingga husnul khatimah.
Allah, limpahi umurku dengan ketaatan. 
aamiin.

Salam, kepada Duapuluh.

Bahasa menulis untuk Jiwa, Dari doa menuju Arsyi-Nya.
Detin Nitami, Duapuluh tahun lebih satu hari :)  



Saturday, May 11, 2013

biosphere


Seorang bayi manusia dirawat oleh sekelompok kera, si bayi tumbuh selayaknya kera tumbuh. Nama bayi itu kemudian terkenal sebagai Tarzan. Cerita ini menjadi fenomenal karena dikemas oleh sentuhan magic Disney yang membawa kita pada negeri imajinasi. Bukan karena Tarzan jatuh cinta pada Jane yang membuat cerita ini istimewa, karena soal cinta, toh Belle pun bisa jatuh cinta pada Beast. Ini soal lingkungan yang menumbuhkan tingkah laku Tarzan, anak manusia dibesarkan oleh sekelompok kera.


Saya bukan peneliti yang sedang membuktikan seberapa besar determinasi lingkungan terhadap perilaku seseorang. Saya hanyalah seorang manusia biasa *hadeuuh*. Tapi saya yakin, pengaruh lingkungan sangat amat besar dalam pembentukan karakter seseorang. seperti halnya dalam film animasi *ketauan tontonannya beginian* semisal Tarzan. Karakter Alex dalam Madagascar pun rupanya mengajari kita, dimana kita hidup, disitulah karakter kita terbentuk. Alex yang sedari kecil hidup terkurung dalam kebun binatang Central Park New York, merasa diri superstar, dan bukan menjadi se-superstar sebelumnya ketika dia harus  berhadapan dengan alam bebas Madagascar. Lingkungan kebun binatang membentuk kepribadian Alex. Dan lingkungan hutan membentuk kepribadian Tarzan. Meskipun hanya dalam film, tapi saya suka cerita ini *terus kenapa?* Dalam akhir film, mereka bisa berubah selayaknya manusia dan selayaknya singa yang sebenar-benarnya, seutuhnya. Tapi satu hal, mereka harus keluar dari zona lingkungan mereka dulu, belajar bertemu orang baru, mencari jati diri, dan akhirnya memutuskan bersikap *saya bukan psikolog, tapi menurut kesotoyan saya, kayanya sih teorinya gitu *


Posisikan diri kita sebagai Tarzan-Tarzan abad 21. Masih mencari jati diri, masih galau menentukan jalan hidup, masih suka plinplan, masih suka bingung memutuskan *dan ini malah jadi curhat* buatlah satu keputusan besar : keluar dari zona nyaman. Cari lingkungan yang kece, yang membawa pada kebaikan. Bergaul dengan orang-orang yang gemar menasehati dalam kebaikan dan kesabaran… yap, buatlah keputusan besar. Orang baik selalu menerima kehadiran orang yang berniat untuk mempelajari kebaikan. *kaya ustadzah gini -,-


Saya wanita dari kampung, dan terancam berpikir kampungan tulen kalau tidak terselamatkan oleh nasib. Alkisah, kakak saya karena kesalahan sistem *maaf lagi-lagi nyalahin sistem*dia engga bisa masuk SMP negeri, sekalipun SMP Negeri di Kabupaten. Nilai Ebtanasnya kecil. Akhirnya semua kebingungan, untung saya masih TK, jadi engga ikut-ikutan bingung. SMP swasta di kabupaten Bandung Timur belum ada yang bagus, terus mahal pula. Setelah nangis berkawan bantal berhari-hari, kakak saya mendapat secercah harapan. Kebetulan tetangga kami itu kepala sekolah SMP Darul Hikam Bandung, SMP Swasta yang cukup bagus lah ya. Melepas kebuntuan, ibu saya mendaftarkan kakak saya ke SMP tersebut, yaaaaang, jauhnya bukan main dari rumah.


Biasalah ya ibu-ibu tukang gossip di warung kasak kusuk. Katanya buat apa sekolah jauh-jauh, sekolah dimana aja sama. Catat baik-baik di ingatan Anda  pembaca yang setia, di pikiran kebanyakan orang tua ternyata masih kolot dengan mengatakan “sekolah dimana saja sama”. Saya sama seklai tidak setuju. Ada faktor X yang membedakan satu sekolah dengan sekolah lain. Faktor X itu bernama lingkungan. Iya, lagi-lagi lingkungan.


Kalau saya diizinkan berandai-andai, maka saya akan berandai-andai seandainya nilai ebtanas kakak saya bagus. Ibu saya akan mendaftarkan kakak saya di SMP Rancaekek, kemudian lanjut SMA Rancaekek, dan kuliah entah dimana. Adiknya tentu akan mengikuti jejak kakaknya, SMP SMA lalu kuliah entah dimana. Selalu ada makna dibalik semua pertanda *├čini lirik lagu*Allah punya maksud yang lebih indah, diluar nalar seorang manusia. Ternyata, karena nilai ebtanas kakak saya buruk, akhirnya dia ikut berjuang bersama tetangga pulang-pergi naik kereta api berangkat subuh pulang magrib, demi pendidikan. That’s life. Show must go on.  Dan karena lingkungan, akhirnya kakak memilih untuk masuk SMA 3 Bandung. Dan seperti kebanyakan anak 3 yang lain, kakak saya melanjutkan studi ke ITB. Otomatis, teori adik mengikuti kakak itu berlaku. Akan berbeda hasilnya jika teori “sekolah dimana saja sama” masih berlaku di otak kita. Beberapa kawan kecil saya ada yang hidupnya lunta-lunta, hilang arah, berandal, cinta dunia dan bangga pada dosa, main tindik tindik tubuh mirip sapi. Kawan saya lainnya kini visioner, optimis pada masa depan yang cerah, dan menghargai hidup, dan dengan segala kesotoyan saya, lagi-lagi saya melihat mereka pada background lingkungan dimana mereka dibentuk. Padahal sama-sama hidup dibawah langit Kabupaten Bandung Timur. Lingkungan membentuk saya, membentuk Anda, membentuk semua orang. Jadi menurut saya, keputusan untuk memilih lingkungan haruslah diutamakan.


Berkawanlah. Itu salah satu prinsip menjalani hidup. Manusia butuh teman. Dan sahabat adalah deskripsi diri. Kalau mau menilai seseorang, lihat dari teman-teman terdekatnya. Lingkungan mendeskripsikan kita. Itu sebabnya Rasul mengibaratkan pertemanan dengan penjual minyak wangi dan pandai besi

Sesungguhnya kawan duduk dalam rupa orang yang shalih dan kawan duduk dalam rupa orang yang suka maksiat adalah seumpama tukang minyak wangi dan pandai besi. Tukang minyak wangi boleh jadi akan mencipratkan minyak wangi ke badanmu, atau engkau membeli minyak wangi dari dia, atau engkau mendapatkan bau harum dari dirinya. Adapun pandai besi boleh jadi memercikkan api ke bajumu atau engkau mendapati bau busuk dari dirinya.” (Mutaffaq ‘alaih). 

Seseorang itu bergantung pada agama  sahabatnya. Karena itu, hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia bersahabat.” (HR Abu Dawud).
Terimakasih untuk mereka yang menyadarkan saya teori ini. Selektif memilih adalah modal awal dalam berkawan. Pandai-pandai membawa diri, sebab kita tidak pernah tahu bagaimana arus akan membawa kita. Butuh gaya yang besar untuk memulai. Momen inersia manusia untuk bergerak itu sepertinya luar biasa besar. Benda akan cenderung mempertahankan posisi diamnya, itu kata guru fisika. Tapi, daya tarik lingkungan yang baik –harusnya- memberikan dorongan yang lebih kuat, sehingga kita bisa memutuskan untuk beranjak dari lingkaran gelap, menuju cahaya yang terang benderang. Percayalah, bahwa tidak ada yang kekal di dunia, orang jahat sejahat-jahatnya bisa menjadi baik sebaik-baiknya, dan orang baik bisa berubah 180derajat menjadi orang jahat sejahat-jahatnya. Lingkungan merubah mereka. Lingkungan merubah kita…

sekian

Salam Hangat & Jabat Erat.
DN


Sunday, March 24, 2013

The Amazing of Mentor and Mentoring

kalian tau ga kenapa mentoring itu harus melingkar? Kenapa harus lingkaran? Kenapa ga kotak? Elips? Segitiga?”


Lingkaran itu istimewa. Tidak menyudut, seimbang segala sisi, diagonalnya tak terhingga. Dalam pelaksanaannya, komposisi mentoring memang terdiri dari mentor dan mentee (adik mentor). Tapi, dalam penyampaian ilmu, tidak selamanya mentor menggurui mentee.  Idealnya, konsep mentoring tidak berlangsung dalam satu arah. Bisa jadi, mentor belajar dari mentee, bahkan mentee lebih pandai dari mentor. Dalam lingkaran mentoring atau halaqoh, seimbang segala sisi maksudnya tidak ada perbedaan kasta atau kedudukan. Kelompok akan duduk sama rendah berdiri sama tinggi. Tidak ada yang saling menyudutkan atau terkucilkan. Informasi berjalan dua arah, semua : sama-sama belajar.

Bundar, lingkaran itu istimewa. Pernah bertanya,  kenapa namanya Konferensi Meja Bundar? Padahal pada kenyataanya mejanya berbentuk lonjong.#eaa.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”-Q.S An-Nahl : 125 | sebab kita adalah da’i sebelum menjadi apapun, nahnu du’at qobla kulli syai’ | tugas kita adalah menyampaikan kebenaran
.
Bagaimana mau menyampaikan kebenaran jika ruhiyahnya saja kering? Bagaimana mau menuangkan air ke dalam gelas, jika isi tekonya saja kosong? | itulah fungsi mentoring | Mengupgrade ruhiyah, mengisi air dalam teko | sebab mentoring adalah proses tarbiyah (pembinaan/pendidikan) | Tarbiyah memang bukan segalanya, tapi segalanya berawal dari tarbiyah, kata Hasan Al Banna.

Perlu manajemen yang baik untuk menjadi seorang mentor idaman. Setidaknya ada 5 fase yang harus dilewati, menurut Wheeler & Cooper, yang diberi nama “Five Phase Mentoring Relationship Model”.

Phase one : purpose. Why I want to be a mentor? | niat. Kembali lagi pada tujuan awal. Mengapa ingin menjadi mentor? | Fase ini adalah fase permulaan dimana ‘suara hati’ seseorang mulai menunjukkan keingan untuk menjadi mentor. | mulailah dari bersyukur. Tularkan kebersyukuran mengenal tarbiyah kepada mereka yang belum mengenal.

Phase two : Engagement. Finding and Being a Mentor : how do I begin? | banyak mentor yang mengalami kesulitan ketika memulai. Wajar, jam terbang akan menjawab semua permasalahan | kadang, kesulitan terberat dirasakan ketika pijakan kaki yang pertama.

Phase three : Planning. Developing your mentoring action plan. How can I achieve my goals? How will we work together? | life is never flat, so does mentoring. Yang datar itu membosankan. Mentor harus mengasah kreativitasnya, menyusun “rencana” agar goal dari mentoring berjalan dengan baik.

Phase four : Emergence. Engaging in the conversation. What we are learning? | itu sebabnya, selain menjadi mentor, kita tetap wajib untuk dimentor. Dari sanalah kita mempersiapkan dan tetap belajar.

Phase five : Completion. Celebrating accomplishment. What are my next steps? | ini proses mengembangkan. Eksekusi dari planning phase 3. Mentor yang baik senantiasa berpikir “what next? What next? What next?” | Maka apabila kamu telah selesai dari satu urusan maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”. (QS. Al Insyirah: 7)

Serangkaian fase tersebut harus memiliki efek kepada mentee. Proses penerimaan pesan berperan penting dalam “bagaimana mentee mengartikan pesan”. Tugas kita sederhana : menyampaikan. Jika kata-kata sudah terlontarkan, mentee akan secara berbeda-beda  mengartikan maknanya. Jadi jelas, tugas kita adalah memastikan pesan yang disampaikan dipahami dengan arti yang sebenarnya oleh mentee, menjadikannya satu frekuensi. itulah pentingnya proses penyampaian-penerimaan pesan dengan baik.

Mentor yang baik akan berusaha menyampaikan pesan kepada mentee, yang asalnya dia hanya sekedar awareness dengan kebaikan, menjadi interest. Mereka mulai menyenangi nilai-nilai islam. Lalu mentee akhirnya dapat memutuskan untuk bertindak (decision), hingga akhirnya benar-benar menerapkan perintahNya dan menjauhi laranganNya (action). Proses dari hanya sekedar awareness hingga akhirnya menciptakan manusia-manusia yang siap action terhadap perintah Tuhannya, adalah serangkaian proses luar biasa, dan itu ada dalam mentoring.

Nah, bagaimana seharusnya komunikasi dalam kelompok mentoring? | dua hal yang harus diperhatikan adalah karakteristik kelompok (situasional) dan karakteristik anggota (personal)| dalam mentoring, menghidupkan suasana kelompok yang kondusif adalah hal yang penting. Setiap anggota memiliki warna tersendiri, cara menyikapinya berbeda-beda, tapi percayalah, pelangi indah karena keberagaman warnanya.

Goal yang ingin dicapai dari mentoring adalah perubahan positif, dari segi kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotorik (perbuatan). Semuanya bisa mengalami akselerasi melalui mentoring, insyaAllah. Bagaimana agar semuanya dapat tercapai?

Hidupnya ruhiah | adalah penting bagi seorang mentor untuk mengisi ruhiyah sebelum menyampaikan kebaikan, tialawah, perbanyak amalan yaumian. Itu sebabnya, punya adik binaan adalah upaya kita tetap menjaga diri dalam kebaikan.
Penempatan Amanah yang tepat | setiap anggota punya kelebihan yang berbeda. Perlakukan mereka sesuai dengan kelebihannya. Itulah keutamaan mentoring, mengembangkan kapasitas dan potensi masing-masing, karena setiap orang memiliki amalan terbaiknya masing-masing.
Panggilan yang Baik,  Berlaku lemah lembut, Memerhatikan tugas sebagai murabbi, Tak pilih kasih |Buktikan Rasa Sayang itu, Egaliter, sama-sama belajar , Pendampingan, Tabayyun, Amal Jamai , dan Hindari tergesa-gesa, terakhir : Pastikan saling 3T -Ta’aruf (mengenal), tafahum(memahami), takaful(empati).

Setelah kenyamanan itu terasa, pada akhirnya semua akan bersyukur karena mengenal mentoring J
Selamat belajar menjadi mentor yang baik. Kita sama-sama sedang belajar. Berilah bekas pada hati mereka.

“…dan berbicaralah kepada mereka dengan pembicaraan yang berbekas pada jiwa mereka” (Q.S Annisa : 63)
Semangat untuk terus mentoring J sebab satu orang dalam barisan dakwah itu sangatlah mahal, ketidakhadiranmu akan menjadi beban untuk saudaramu.

wallahualam bi shawab.

sumber : 
Alquran,
catatan materi "Komunikasi dalam Lingkaran Dakwah" oleh teh Avi (fisip 2008) di acara Semen Base (sekolah mentor dasar) FOSIKAGI,
catatan liqo.




Monday, March 4, 2013

SCKKA

Bismillaahirrohmaanirrohiim
Alhamdulillaahirobbil ‘aalamiin 

Hamdan Yuuwaafii ni’amahu wayukaafii maziidah. Yaa robbana lakal hamdu kamaa yambaghii lijalaali wajhika wa’adhiimi sulthoonik. Wa shollal loohu ‘alaa sayyidina muhammaddin wa’alaa aalihii wa shohbihii ajma’iin.


akhirnya,langkah awal sudah terlewati. sekarang tinggal bagaimana mengolahnya. 
banyak orang bilang, yang sulit itu adalah memulainya. Tapi kebanyakan orang lupa, bahwa lebih sulit lagi untuk istiqomah mempertahankannya. Terlebih mengembangkannya.

ada sekelompok orang yang sama-sama mencari makna hidup. Melewati fase pencarian, kemudian menetap. Berharap ada penerangan datang menembus hatinya, entah lewat perantara siapa. Dan sungguh beruntung jikalau kamilah perantara tersebut. Ya, karena sejatinya kami berlomba dalam kebaikan. Menjadi perantara-perantara firman Allah, sunnah Rasulullah, agar tegak, agar terang benderang hidup seseorang, karena hidayah telah turun.

semoga Allah berkenan menjaga kami senantiasa dalam kebenaran. Semoga Allah menyibukkan kami selalu dalam kebaikan, sehingga keburukan dan kefuturan tidak lagi punya waktu untuk menyisip diantara waktu-waktu kami. Semoga kerja-kerja dalam amal Jama'i kami penuh berkah, tiada lain karena Allah semata.

dauroh pelantikan fosikagi 2012-2013 :)


mengutip arti dari doa Rabithoh.. 
Ya Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati kami ini telah berkumpul karena cinta kepada-Mu, bertemu karena taat kepada-Mu, bersatu karena dakwah-Mu, dan saling mengikat janji untuk membela syariat-Mu. Karena itu, kuatkanlah ikatan kesatuannya, kekalkanlah kecintaanya, tunjukilah jalannya, penuhilah ia dengan cahaya-Mu yang tidak pernah redup. Lapangkanlah dadanya dengan pancaran iman kepada-Mu dan tawakal yang baik kepada-Mu. Hidupkanlah ia dengan mengenal-Mu dan matikanlah dengan meraih syahadah di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pelindung dan penolong. Ya Allah, kabulkanlah permohonan kami ini. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada junjungan kami, Muhammad SAW, juga segenap keluarga dan sahabatnya.
Semoga ukhuwah kami ini akan berlangsung hingga tak mengenal bilangan usia….aamiin

anauhibbukumfillah,

detinnitami.

Tuesday, February 12, 2013

Lautan


Ada hikmah di balik mogoknya motor. Singkat cerita ya kurang lebih begitu. Siang itu, saya harus ke kampus padahal masih libur. Sehari sebelumnya, hujan besar, jalanan depan rumah banjir semata kaki. Khawatir hari itu kembali hujan, ibu saya sempat melarang. Tapi mana mungkin saya tinggalkan kegiatan hari itu; mengurusi kegiatan kemahasiswaan, janji bertemu teman, dan liqo.  Dan karena motornya mogok, saya harus pergi menggunakan angkutan umum.

Selesai semua agenda, hujan membasahi jatinangor. Untung sedia payung. Saya berjalan bersama Hansya menelusuri gerbang keluar Unpad. Lalu menaiki angkot, menuju rumah. Hujan belum juga berhenti. Makin lama makin deras. Saya sms ayah saya untuk menjemput di depan komplek perumahan, karena angkot tidak masuk jalur perumahan, sedang rumah saya jauh dari pintu awal komplek.

Saya tinggal di komplek Kencana, komplek perumahan yang terdiri dari sekitar 16 blok.  Cukup luas, dengan dua pintu keluar utama, orang sekitar menyebutnya “Pintu Satu” yang dekat arah Dangdeur dan “Pintu Dua” yang dekat arah Majalaya. Satu persatu penumpang angkot turun, bersisa 5 orang penumpang, satu ibu-ibu, empat remaja putri.

*****
From me,
To : Ayah (work)
Ayah jemput detin dong, udah di dangdeur ya.

From me,
To : Mama (work)
Ma, suruh Ayah jemput detin ya

From Ayah,
To : Detin Cute
Yah, nti klo udah smp pemasaran and hujan raat. Banjir,
Tunggulah dulu

Kringkringkring..
incoming call from Mama (work)
“ade udah dimana? Hujan besar de, banjir dalem di pemasaran.”
“banjir banget? Detin udah di deket rel kereta.”
“yaudah, coba ntar pelan-pelan kesana”
“oke”
Disconnect.

Hujan masih terus mengguyur. Jalanan banjir.
Ibu-ibu penumpang angkot, tinggal di blok 10 perum Kencana. Kebetulan tukang angkotnya hendak pulang ke arah Majalaya. Si Ibu-ibu menawarkan jika mengantar masuk ke perumahan, ongkos akan ditambah. Kebetulan kelima orang penumpang semua tinggal di Kencana.  Satu orang tinggal di blok 1, si ibu beserta 2 orang anak perempuannya di blok 10 dan saya di blok 12. Akhirnya supir angkot setuju. Masuk melalui Pintu Satu, nanti keluar di Pintu Dua, lanjut kea rah Majalaya.

Connect to Mama (Work)
“Ma, angkotnya masuk perum. Ga usah jemput”
“Alhamdulillah hehehe. Ntar turun di deket Lapang Liga aja.”
“oke”
Disconnect.

Melewati pemasaran…lulus.
Begitu belok ke Jalan Teratai Raya, yang menghubungkan pintu satu dan pintu dua, Nampak lautan. Banyak orang mendorong motornya. Tukang becak menarik becak dengan upah pasti diatas 15.000 meskipun dekat. Jalanannya berlubang di banyak titik. Sisa 4 orang penumpang, 1 orang sudah turun di blok 1. Karena takut angkotnya mogok, si Ibu-ibu menasehati agar belok ke blok 5 saja, Jalan Suplier. Supir menurut, karena dia tidak tahu medan di  wilayah itu.

Ooooh..setelah masuk blok 5..ternyata jalan ditutup.muter-muter sana-sini. Banyak mobil mengantre, membunyikan klakson. Penduduk sekitar tidak bergeming. Gerbang jalan tetap di tutup. Kami putar arah, setau saya masih ada jalan tembus dari blok 5, keluar Jalan Dahlia. Sebenarnya agak kurang setuju dengan usulan si ibu untuk  belok ke blok 5, pertama, karena ternyata si Ibu dan 2 anaknya ini tidak hapal jalanan blok 5. Jadi, otomatis semua bertanya pada  saya. Kedua, ironisnya, 19 tahun lebih saya tinggal di Kencana, saya ingat-tidak-ingat dengan seluk beluk Kencana, karena cukup luas dan karena saya bukan tukang Becak. TK-SD-SMP saya jadi anak rumahan, yang bermain hanya sekitar rumah, menelusuri perumahan hanya saat Ramadhan, selepas Kuliah Subuh. SMA jadi anak kosan, dan kuliah jadi rider amatiran. Juga karena kemampuan geografis saya buruk, yang bahkan pernah keukeuh bilang bahwa Riau ada di Kalimantan, ditambah, jalanan banyak yang ditutup, penghuni angkot marah-marah, si ibu mengutuk menyumpah serapahi warga yang menutup jalan, supir angkot kesal, saya jadi stress. Dan memilih berdoa saja.

Sudahlah, terjang saja banjir di Teratai Raya, karena itu jalan utama, tidak mungkin ditutup. Tapi Si Ibu kekeuh takut angkotnya mogok -,- jadi dia berinisiatif lagi untuk belok ke blok 6. Beberapa mobil juga ikut belok ke blok 6 karena ada beberapa bapak-bapak berdiri di gerbang bblok 6 dan menganjurkan lewat sana saja. Kami masuk…beberapa belokan, jalannya di tutup. Kami terus mencari jalan lain.
Saya ingat ada jalan lain, dan ternyata tinggal sekali belok menuju keluar…..jalannya ditutup -,- antrian mobil panjang. Semua membunyikan klakson. Debat dengan warga, semua isi angkot marah-marah. Saya mengambil payung, berinisiatif melihat apa yang terjadi di depan, angkot kami antre di agak belakang. Setidaknya bertanya pada warga, apa tidak bisa dibuka sebentar, ini jalan umum, sudah mencari-cari jalan sejak tadi, semua ditutup. Tapi si ibu-ibu melarang saya keluar. Oh baiklah, satu persatu mobil mundur, mencari jalan lain. Kami terpaksa ikut mundur. Padahal sudah dekat, tinggal sekali belok. Hiks.

Warga menutup jalan karena khawatir jika mobil masuk, air akan membludah, memasuki rumah mereka. Baru pertama kali pengalaman seperti ini. Rumah saya di blok 12, jarang banjir besar, juga bukan jalan alternative dari Teratai Raya untuk menuju blok lain. Jadi tidak banyak dilewati. Satu kali pun, belum pernah jalanan di rumah saya di tutup.

“ini jadi harus lewat mana jadinya?” Tanya supir.

Semua esmoseeh.

Semua berpendapat. Akhirnya kami memutuskan lewat Gradiul, jalan besar yang kemungkinan tidak ditutup.  Menabrak penutup jalan yang hanya sebuah kayu di atas sejenis grobak angkut semen (apa itu namanya -,-.) Dan waaaw. Banjir hampir masuk ke dalam angkot. Subhanallah.

Saking heboh dengan dalamnya banjir, tempat seharusnya saya turun, terlewati. Kalau turun di situ, meskipun bukan dekat Lapang Liga seperti yang ibu saya sarankan, banjirnya tidak terlalu dalam. Tapi karena kelewat, sadar sudah lumayan jauh, dengan kondisi Gradiul yang banjir besar, saya berencana turun di jalan Tanjung. Si ibu bersama dua anaknya turun di belokan blok 10, Jalan Bakung, member 25ribu untuk 3 orang pada supir angkot. Ah, gawat, uang di dompet saya Cuma ada 50.000 satu lembar, 100.000 satu lembar, koin 500 rupiah, dan 2000 dua lembar. Kalau dikasih 50.000, nanti takut dimahalin. Grasak-grusuk, mencari di setiap saku tas. Akhirnya menemukan 4000 di sela-sela tas. Total, berarti punya 8000. Akhirnya saya turun di Jalan Tanjung, karena tidak mungkin angkot memutar balik untuk mengantar saya ke dekat Lapang Liga. Kasihan juga supirnya, sudah tampak stress. Saya turun, dengan membayar seadanya, 8000.

Perjuangan belum selesai. Saya harus menyebrang Jalan Teratai Raya untuk bisa masuk belokan blok 12. Dan subhanallah, cetar membahana sekali, beberapa senti di atas lutut saya terbenam air. Saya berjalan melawan arus, jadi tambah berat melangkah. Beberapa anak-anak bermain air di pinggiran. Kolam renang dadakan. Anggaplah begitu -,-

Akhirnya, saya sampai juga di belokan blok 12. Terharu. Saya masuk lewat Herbras 7, banjir hanya semata kaki. Menyebrang lapang, tidak banjir sama sekali. Lalu Alhamdulillah sampai di Herbras 4, rumah saya, jalannya hanya banjir se mata kaki.

Rumah. Damai. Sudah sangat sore. Ibu dan ayah saya hanya tertawa.

Untung Alhamdulillah saya tidak bawa motor. Tidak bisa dibayangkan kalau saya terjebak banjir membawa motor. Terus mogok. Nyeeeh.

Malam hari banjir sudah surut, dan pagi-pagi Teratai Raya sudah pulih. Tapi, kalau siang hujan lagi, pasti kami dapat banjir kiriman lagi. Cukup dua hari banjir begini. Kasian orang kantoran. Ayah saya jadi pulang sebelum jam 4, takut kena banjir lagi.

nasib tinggal di Bandung coret  :--((

Semoga, pihak yang berwenang mengurusi sarana, prasarana, infrastruktur, atau apapun itu istilahnya, cepat memulihkan kondisi ini.

Sebentar lagi saya kuliah soalnya.


Monday, February 11, 2013

Eudaemonis



Setoples keripik, ditemani selimut yang cukup tebal, di bawah temaram lampu neon 14 watt, menyaksikan acara-acara di televisi, memindahkan tombol remote sesering mungkin, mencari acara yang mendidik, atau setidaknya menghibur, atau kalau tidak ada yang seperti itu, minimal yang tidak membodohi.

Di samping saya, dengan wangi nya yang khas, lengannya yang bertimbun lemak, terduduk seorang wanita tengah baya, dia ibu saya. Sambil melingkarkan satu lengan saya pada lengannya, menempelkan pipi dan hidung di lengan atasnya, menyandarkan diri di bahunya, mirip seperti seorang anak yang sedang merajuk ibundanya untuk dibelikan es krim. Saya suka suasana seperti ini. Saling mengomentari isi acara televisi. Lalu sampai pada waktunya jemari saya berhenti menekan remote. Stasiun televisi swasta menayangkan sebuah acara berita.

Berita pertama yang kami tonton sore itu sedikit membuat ibu saya menegakkan sedikit punggungnya. Sebuah berita tentang kematian seorang mahasiswi Universitas Indonesia asal Bukittinggi karena melompat dari angkutan umum. Salah satu angkot Jakarta membawanya keluar dari jalur operasi angkot tersebut seharusnya. Setelah. Saksi mata di TKP menyatakan bahwa berusaha untuk keluar dari angkot, kemudian kepalanya terbentur trotoar. Wallahualam apa yang sebenarnya terjadi dalam angkot, sehingga korban nekad untuk melompat dari dalam.

Heyaahh. Saya dan ibu saya saling menggelengkan kepala. Mengekspresikan mimik muka yang ketakutan. Kemudian, entah berapa paragraf kalimat yang keluar mulut ibu saya, menasihati..kamu de, hati-hati kalau lagi di angkot. Jangan naik angkot yang kosong, cari yang udah hampir penuh, kalau bisa ada ibu-ibunya. Dan blablablabla.

Ngeri. Kota-kota besar sudah semarak tindak kriminalitas, korbannya kebanyakan gadis yang berpergian sendiri. Wajar kalau ibu saya khawatir.

Belum sempat reda keempatian terhadap berita pertama, pembaca berita melanjutkan isi berita tentang…lagi-lagi saya harus menghembuskan nafas dengan berat…tentang pemerkosaan seorang siswa SMK oleh 6 orang pemuda. Geleng-geleng kepala lagi. Sepakat untuk terus menonton berita tersebut, dengan komat-kamit nasihat ibu saya.

Berita selanjutnya, adalah tentang pembunuhan bayi oleh pembantu rumah tangga di kawasan Jakarta. Berdalih ada perampok masuk rumah, akhirnya sang pembantu harus mengakui bahwa dia yang membunuh bayi majikannya. Haaaaaah.

Kami setia menanti iklan berakhir, kemudian berita kembali dilanjutkan.

Kali ini tentang sindikat perdagangan bayi. Bayi-bayi dijual dengan seenak jidat. Manusia kini seharga tv 21 inchi atau kulkas dengan 2 pintu, barang yang mudah diperjuabelikan. Andai bayi tersebut bisa bicara, dia akan mempertanyakan tanggung jawab orang tuanya, mengapa ia diperlakukan seperti itu.  

Berita beralih pada masalah politik yang menggunjing partai besar berwarna biru dengan lambang segitiga. Prahara di dalamnya yang tidak selesai-selesai. Dan berita KPK yang menciduk para koruptor baru, dugaan korupsi impor daging sapi, penyelewengan dana arena PON, dsb,dsb. Saya sebagai rakyat bosan dengan semua berita ini. Bosan benar, jengah.

Saya berinisiatif untuk memindahkan channel tivi. Kenapa isi semua berita demikian?

Pembunuhan, penjambretan, tindak asusila, pemerkosaan. Orang-orang nekad mencuri, melecehkan wanita, hingga merenggut nyawa, dilatarbelakangi keterdesakkan kondisi. Lingkungan yang memaksa mereka demikian, ditambah dalam diri tidak ada penyelaras emosi, tidak ada kekuatan iman, hingga mereka tidak lagi mempedulikan bahwa sejatinya tindakannya tidak pernah luput dari pandangan Tuhan. Mereka hanya perlu tahu bagaimana caranya mengisi perut, bertahan hidup, sementara dirinya tidak pernah mau beranjak dari lemahnya keinginan untuk belajar, memperbaiki taraf hidup dengan cara terhormat. Menghalalkan segala cara, mencari alternatif se-instan mungkin, berujung merugikan orang lain.

Dan sialnya lagi, ini berlangsung turun temurun.

Paradigma untuk mencari jalan instan memenuhi kebutuhan hidup seperti virus yang menginvasi satu sel, kemudian menyebar ke sel-sel lainnya, atau sekedar seperti seorang yang melihat seseorang menguap, lantas tertular untuk ikut menguap. Menular.

Kriminalitas bukan hanya dilakukan oleh kaum marginal. Para elite pun punya trackrecord dalam mewarnai data kriminalitas Negara. Ironisnya, sering kali kejahatan yang mereka lakukan lebih menyiksa banyak pihak karena meliputi urusan kemaslahatan hajat hidup banyak orang. Kamiskinan bukan selalu menjadi DNA yang menentukan tingkat kriminalitas. Ketidakpuasan terhadap apa yang dimiliki, keinginan untuk memperkaya diri, tenggelam dalam kemewahan dunia, mengatasnamakan kekuasaan, menganaktirikan kepercayaan. Kenyataannya, agama tidak pernah lepas dari segala aspek. Termasuk kontrol diri.

Manusia memang tempat salah dan lupa. Tapi kalau keseringan salah, sampai terbiasa salah yang disadari, bukan manusia namanya. Tidak ada manusia yang tidak punya khilaf, tapi tentu ada keimanan yang mendidik manusia untuk mengetahui batasan.

Solusi klasik, tapi bukan klasik namanya jika belum kunjung diterapkan. Memang pendidikan selalu menjadi setitik cahaya di ujung terowongan panjang. Pendidikan science, teknologi, pembentukan karakter, pendidikan budaya, dan agama. Media yang terus menerus menginformasikan berita kejahatan tapi lupa menarik sisi optimis bahwa di ragam belahan bumi Indonesia, masih terkubur kisah inspiratif yang belum digali media. Masyarakat dibodohi dengan berita negative, seakan Indonesia ini memuakkan karena disana sini atmosfernya selalu suram. Hingga akhirnya terbiasa dengan kabar menyedihkan, ya seperti saya ini.


banyak yang memisah-misahkan nilai. mengotak-kotakkan pemikiran. terlebih tidak punya panduan. ke laut ajeee...

padahal ada Islam. Islam itu kaffah, menyeluruh. Semua unsur harus melibatkan agama. Politik pemerintahan sekalipun. Pandangan dan pemikiran diatas jangan-jangan sebatas sekulerisme yang ingin memisahkan agama dari aktivitas kehidupan. Berakhir dengan liberalisme yang membebaskan kehidupan. Berawal keraguan berakhir ketidakyakinan. Ngeri. Yang ini lebih ngeri.



Banyak yang tidak paham dengan agamanya, mereka adalah yang tidak mengerti. Tapi lebih banyak yang salah paham dengan agamanya, mereka adalah yang menafsirkan sesuatu dengan salah. Yang salah paham atau gagal paham ini yang bahaya. merasa diri mengerti, tapi menafsirkan dengan salah.

Ah, melebar kemana-mana ini bahasan.

Saya jadi pusing dengan apa yang saya tulis. Sudahi saja.

Saya berlindung pada Allah dari ketidaktahuan dan dari pendapat yang tidak benar.