Wednesday, July 26, 2017

Demi Masa

Keinginan untuk kembali itu selalu ada, tapi dalam porsi yang naik turun. Benar adanya bahwa salah satu kebutuhan manusia adalah eksistensi, keinginan untuk diakui. Terlalu banyak keinginan, terlalu sedikit kemampuan, terutama hampir tidak ada pembuktian. Saya punya banyak keinginan, semuanya saya paparkan mentah-mentah. Iya mentah, bahkan belum sempat diolah otak sudah saya sajikan. Dia -yang lebih dewasa- cuma mendengarkan, karena menurut dia -- dan (sepertinya) disetujui semua pakar psikologi-- wanita hanya butuh didengarkan.

Minggu ini saya sakit. Sakit yang menyebabkan saya sulit beraktifitas seperti biasa, bahkan sulit jalan dan berkendara. Secara otomatis, saya tidak bisa kerja klinik. Di saat sakit seperti ini justru keinginan untuk kerja pasien semakin membara. Padahal dua minggu sebelum saya sakit, saya hampir tidak kerja pasien. Ini membuat saya frustasi.

Ketika Allah uji kita dengan sakit, waktu seolah-olah berjalan lambat sambil menertawakan. Dengan nada mengejek, waktu bertanya, apa yang kamu lakukan di waktu sehatmu? Saya seperti berada dalam sebuah bus, duduk terpaku melihat pemandangan di luar sana, melihat orang bekerja hilir mudik, menyaksikan orang-orang bertansformasi menjadi manusia yang lebih arif. Sebuah kerugian yang besar ketika kita tidak benar-benar memanfaatkan waktu dikala Allah beri kita sehat.

Saya tidak terbiasa sakit sehingga tidak bisa melakukan banyak hal, saya justru terbiasa sehat sehingga sebenarnya bisa melakukan banyak hal, tetapi seringkali malah berleyah-leyeh.

Waktunya merenungi seberapa besar kesalahan, kebodohan, dan kejumawaan diri. Tidak ada waktu yang lebih baik untuk melihat siapa diri kita selain pada waktu Allah beri ujian, karena pada waktu itulah, kita kembali diingatkan bahwa kita adalah hamba yang tidak memiliki apa-apa, selain apa yang Allah beri. Dan Allah dapat mengambil apa-apa yang telah Ia beri, untuk melihat kualitas diri hamba-Nya.

Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasehati supaya menaati kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran Q.S Al Ashr 1-3)

Friday, June 9, 2017

Ikan Salmon

Yang paling sulit adalah memulai. Dan yang paling berat adalah mengakhiri. Sulit, karena kita takut untuk memulai, dan berat karena kita menyesal telah mengakhiri. Jadi sebenarnya manusia tidak pernah benar-benar siap. Kata siapa? kata saya.

Sulit untuk memulai, seperti yang biasanya terjadi. Yang sesungguhnya sudah terjadi sejak saya mulai bisa berpikir logis dan independen. Tidak lagi memutuskan sesuatu berdasarkan instruksi orang yang lebih tua. Karena ada masa dimana kita menjadi dewasa dan keputusan pilihan adalah sepenuhnya menjadi milik kita. Seperti keputusan : apakah kita siap.

Kita tidak pernah benar-benar siap (sekali lagi, itu kata saya. Iya sih, saya sotoy). Kita cenderung berpikiran positif seolah-olah kita siap, meskipun sebenarnya ada bisikan syaithaniradzim mengatakan kita tidak bisa siap. Siap untuk apa? ya untuk apa saja. Siap mengambil keputusan, siap menghadapi cobaan, siap menerima tantangan.

Seperti keribetan dalam menghadapi sesuatu, panik selalu menjadi nama tengah saya. Termasuk keribetan menghadapi ujian-ujian yang sifatnya sebenernya yaudah-sih-tinggal-belajar. Saya sih orangnya gak PeDe-an, suka jadi malu-malu gimana gitu kalau ditanya ujian lisan cuma bisa nyengir-nyengir; otak kering, tatapan kosong, kemudian membatu. Baru-baru ini, saya menghadapi ujian lisan dadakan. Dan materi ujian nya seperti telur ikan di musim kawin ikan(?) Banyak banget. Saya sampai panas dingin karena dua hari sebelumnya ternyata jadwal ujian dimajukan dan itu bentrok dengan ujian bagian lain. Kesimpulannya, saya akan menghadapi dua ujian bagian (ujian persiapan, selama 6 tahun sekolah saya belajar apa aja) dengan waktu 2 hari persiapan. Mau pingsan aja. Tapi ya begitulah kehidupan. Harus ada usaha-perjuangan-pengorbanan. Itulah yang membuat seseorang berkilau, kan? (?) Ibarat ikan salmon yang harus menetas di sungai kemudian berjuang hijrah ke lautan, dan harus berkorban melawan arus kembali ke sungai untuk bertelur. Tapi itu yang membuat ikan salmon menjadi makhluk eksklusif sekalipun bagi seorang masterchef *itu kata Gordon Ramsey.

dan kenapa saya jadi bahas ikan.

Apakah saya siap? *senyum tipis* tentu saja tidak. Apa yang saya lakukan? Membuat alasan supaya ujian yang satunya dimundurkan jadwalnya. Apakah berhasil? Ya. Apakah saya puas dan tenang? Tidak. Meskipun jadwal ujian sudah dimundurkan, dan konsekuensi untuk belajar lagi dan lagi sudah saya jalani, saya tidak pernah siap (karena saya dapat dosen penguji yang otaknya seperti perpustakaan). Bahkan saat hari H ujian, saya tidak benar-benar siap.

Mengapa saya tidak pernah siap? Karena ilmu yang ada di dunia ini begitu luas dan manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas. Semakin belajar, semakin merasa kita belum belajar. i know that i am intelligent because i know that i know nothing, kata Socrates. saya berpikiran macam-macam tentang soal yang akan diberikan, karena toh dosen penguji dapat bertanya apa saja yang relevan dengan ilmu yang dipelajari. Jadi saya belajar lagi-lagi-lagi, sampai muak. . Tapi saya tidak kunjung siap. Kenapa?

Karena saya tidak banyak melibatkan Allah dalam kesiapan ini. Saya tidak akan pernah siap, karena ilmu saya hanyalah seperti debu dibawah karpet kalau dibandingkan ilmu dan pengalaman hidup dosen penguji. Ilmu itu sangat luas. Yang perlu saya lakukan adalah meminta Allah untuk membuat hati saya siap. Kita hanya mampu berusaha ihktiar maksimal, selebihnya kita wajib tawakal. Kita baru benar-benar siap, saat Allah memampukan kita untuk siap. Dan ini berlaku untuk segala hal. Keputusan besar: menikah, memilih tempat tinggal, memilih pendidikan, menerima amanah... kita baru benar-benar siap, kalau Allah mencukupkan. If you wait until you're ready, you'll be waiting the rest of your life.

Rasulullah pun tidak benar-benar siap ketika secara tiba-tiba harus menerima wahyu dan menjadi seorang rasul. Beliau sampai menggigil pulang ke rumah. Tapi kemudian, bukankah Allah lah yang mencukupkan dan menjadikannya siap?

Qodarullah. Manusia hanyalah makhluk teramat kerdil, tapi kebanyakan dari kita justru sombong. ckck.


Monday, January 30, 2017

Oklusi

Malam berganti pagi, matahari kembali bekerja. Seluruh pergerakan alam beserta isinya terasa sangat teratur, mengikuti pola pengulangan. Mereka memiliki periodisitas sendiri, sifat perulangan yang tetap. Tapi dalam keteraturan itu, ada hal kecil, rumit, kompleks, dalam sebuah sistem yang selalu berubah setiap waktu: cuaca, rintik hujan, gerak awan. Fenomena chaos, ketidakteraturan. Seringkali kita melihat chaos sebagai sebuah keteraturan pula, "keteraturan yang tidak memiliki periodisitas", itulah alasan mengapa sains selalu meyakini bahwa alam beroperasi menurut keteraturan (meskipun ada ketidakteraturan di dalamnya).

Untuk dapat meyakini sebuah keteraturan dalam penciptaan yang kompleks (dan semuanya memiliki tujuan) yang membuat kita berdecak kagum dan jatuh cinta, paling mudah adalah melalui alam semesta tempat kita hidup dan -tentu saja- diri kita sendiri. Di tahun 1920an, Karl Lashley meneliti tentang bagaimana otak tikus yang tidak peduli diambil bagian mananya, tidak dapat menghilangkan ingatan untuk melakukan tugas-tugas rumit yang pernah dipelajari tikus itu sebelum operasi. Ilmuan lain meyakini bahwa ingatan terekam bukan di dalam neuron-neuron, melainkan di dalam pola impuls saraf yang merambah seluruh otak. Kemampuan mengagumkan manusia untuk mengambil informasi yang diperlukan dari gudang ingatan sangat besar, membuat manusia tidak perlu bersusah payah dan berlama-lama melakukan sorting mencari suatu file alfabetis raksasa dalam otak untuk sampai pada suatu jawaban.

*tarik nafas dulu...berat bahasanya.

Inilah yang membuat semakin kita mempelajari alam semesta melalui sains, semakin kita elus dada -karena ada pengaturan yang begitu luar biasa. Semakin kita mempelajari tubuh kita, bagaimana mereka bekerja secara involunter, mekanisme keteraturan yang rumit dan kompleks, semakin kita tahu ilmu kita belum ada apa-apanya. Dan sekali ada hal yang mengganggu keteraturan tersebut melebihi batas yang dapat diterima tubuh, bencana datang.

Ada satu konsep keteraturan tubuh yang dikuasai oleh para dokter gigi melebihi seluruh tenaga kesehatan lainnya. "Oklusi" hubungan gig gigi rahang atas dan rahang bawah yang tersusun secara pas, fit, presisi, sedemikian rupa, membuat gigi-gigi tersebut dan sistem pendukungnya dapat menjalankan fungsinya dengan sangat tepat.



Karena etiologi apapun, kecelakaan lalu lintas (yang persentase nya mengerikan) mengakibatkan deformitas atau kerusakan pada area wajah, faktor usia, prilaku, genetik, dll membuat sistem pendukung gigi tidak mampu lagi menopang gigi. Prognosis mempertahankan gigi menjadi hopeless sehingga pencabutan gigi tersebut adalah jalan keluar terakhir yang dapat dilakukan, gigi-gigi "berpindah tempat" atau goyang karena tidak ada yang menyangga, atau patahnya tulang rahang, dapat menyebabkan kontak gigi hancur berantakan. Oklusi, satu-satunya kunci pengembalian fungsi.

Di suatu ketika, saya memiliki kesempatan untuk melihat kasus-kasus luar biasa di RSHS selama putaran Bedah Mulut. Berbagai macam jenis pasien mulai dari cabut gigi sampai tumor ganas rongga mulut berlimpah ruah disana. Jika ada  pasien yang datang dengan keluhan "hancurnya" daerah wajah, salah seorang residen (dokter yang belajar ambil spesialis) berkata pada saya, bahwa dokter gigi bedah mulut harus lebih mahir dari dokter bedah plastik, karena hanya dokter gigi yang mengetahui konsep oklusi dengan lebih baik. Lalu saya berpikir, sehebat apa oklusi sampai mempengaruhi kehidupan seseorang?

Secara teori, sebuah tambalan pada gigi yang berlebihan sedikit apapun (misalnya terlalu "menggunung") akan berakibat panjang lebar. Ketika makan, akan terasa seperti ada yang mengganjal, yang jika dibiarkan bertahun-tahun akan menyebabkan sakit saat membuka mulut, dan bukaan mulut jadi lebih kecil.

Ternyata teori diatas bukanlah sekedar teori. Ia nyata. Dan hal itu terjadi pada ayah saya sendiri.

Ayah saya, 57 tahun, menderita (suspek) periodontitis agresif, dimana gigi-giginya perlahan mengalami goyang dan akan copot dengan sendirinya. Banyak sekali (orang Indonesia khususnya) yang mengalami periodontitis-radang pada jaringan pendukung gigi- (kronis, meskipun bukan agresif) sehingga tujuan WHO, pada usia 60 masih tersisa 20 gigi sulit tercapai. Akhirnya rencana perawatan pada ayah saya adalah dilakukan splinting, untuk memfiksasi gigi-gigi yang goyang tersebut, menggunakan kawat dan komposit. meskipun dilakukan oleh residen, hasilnya? Sulit luar biasa mengembalikan konsep oklusi pada rahang yang telah kehilangan cukup banyak gigi ditambah gigi yang tersisa mengalami kegoyangan. Belum lagi, tambalan komposit untuk memfiksasi gigi yang goyang tersebut mengganjal karena hilangnya kunci oklusi, sehingga oklusinya berubah-ubah. Ini menyebabkan ayah saya sampai tidak bisa makan karena gigi-giginya tidak berkontak dengan benar.

Adalagi, seorang pasien wanita usia 30-an tahun sudah mengalami operasi di daerah mulutnya karena penyakit ameloblastoma (sejenis tumor di daerah mulut) sehingga sebagian rahang bawahnya -berserta gigi-giginya- harus dibuang, hemimandibulektomi. Sebelum operasi, kontak oklusi gigi-gigi difiksasi intermaksila (di"ikat" rahang atas dan rahang bawah) sehingga setelah operasi hemimandibulektomi -pengangkatan sebagian rahang itu, oklusi dari gigi yang masih tersisa bisa dipertahankan. Tetap, fokus utama penyembuhan seradikal apapun perawatannya adalah pengembalian fungsi oklusi. Sayangnya, pasien tidak kooperatif. Jika keadaan mulut sedang difiksasi intermaksila, otomatis akses untuk makan akan menjadi sulit, pasien menolak untuk dilakukan traksi intermaksila dengan karet sejak hari pertama pasca operasi, kerena pasien bertubuh gemuk dan ingin makan tanpa halangan karet (sad banget, dia pikir habis operasi langsung sembuh apa -,-)
Oklusi yang awalnya sudah difiksasi menjadi berantakan kembali. Dokter tidak bisa melakukan banyak hal setelah melakukan penjelasan pada pasien karena ini murni penolakan dari pasien. Dokter sudah marahi pasien, tapi hasilnya nihil. Dengan keterbatasan gerak rahang setelah pengangkatan sebagian rahang, sisa-sisa makanan menumpuk di bekas penjahitan, mengakibatkan luka dehisen dan prognosis dari hasil operasi jadi menyedihkan. Pasien datang kontrol dengan kodisi rahangnya jadi miring sebelah, karena dia tidak bisa memposisikan gigi-giginya pada tempatnya. Dia bilang dia sudah hati-hati saat makan, menggunakan sedotan dan hanya mengonsumsi makanan cair. Tapi faktanya, luka nya jadi infeksi kembali dan timbunan susu jadi masuk ke bekas luka. Inilah akibat pasien tidak patuh pada dokter.

Sedemikian berpengaruhnya oklusi pada kualitas hidup seseorang, karena kesulitan makan adalah sebuah kenikmatan yang menghilang. Allah menciptakan tubuh manusia sedetail mungkin dengan keteraturan yang mengagumkan, sehingga ketika ada hal yang mengganggu keteraturan itu melebihi apa yang bisa tubuh kita terima, bencana datang.

Bersyukurlah orang-orang yang masih dapat merasakan kenikmatan mengolah makanan dalam mulut. Jaga kesehatan gigi, supaya saat tua tidak menderita. Kalau perlu, hubungi saya jika butuh perawatan.....heaa tetep promosi.