Sunday, December 7, 2014

Televisi

Siapa dia?

Bukan bukan bukan. Saya bukan dia. Bukan bayangannya, bukan kembarannya, bukan reinkarnasinya, bukan arwahnya, bukan baunya, buka khasnya, bukan waktunya, bukan tempatnya, bukan gembiranya, bukan lucunya, bukan cahayanya.

Saya, diatas lamunan lalu tersadar.  Ternyata ini bukan sinetron atau film layar lebar.

Jadi siapa dia?

kita hidup di dua masa berbeda. Dan tentu saja, siapapun orang yang berpikir kami sama, rasanya perlu cuci otak.

Sunday, November 16, 2014

Mungkin ini Benar

Mungkin ini benar.
Aku akan berpura-pura, seolah semua ini adalah sebuah keniscayaan. Waktu yang bergulir dan jarak yang terbentang kini memanggil-manggil kita.
Putaran jarum dan aba-aba peluit di seperempat abad mulai meredam menghalus dan sekarang menyapa.

Mungkin ini benar.
Aku akan berpura-pura, seolah memasuki warmhole yang aku tertawai, haha itu lucu. Satu kedipan, sudah cukup untuk terbang ke masanya. Dan kita adalah astronot kehidupan yang mencari-cari kehidupan lain. Sebab kita jenuh jika hidup hanya sendiri.

Mungkin ini benar.
Aku akan berpura-pura, seolah ketukan palu Tuhan menukik pelan di arteri nasib. Halus. Skenario maha dahsyat. Serasa sebuah pentas  Dramaturgi dan kita mengambil banyak peran. Sesulit apapun nada nya, seberat apapun gelombangnya, kita tahu bahwa tujuannya begitu indah.

Mungkin ini benar.
Aku akan berpura-pura, seolah kita berada dalam diam.... menyaksikan proses reaksi fusi bintang-bintang...

Tetapi benarkah?
Iya, mungkin ini benar.

Monday, October 27, 2014

Bimsalabim

Kendatipun hidup adalah pilihan (dan semua orang bebas memilih) saya masih belum siuman dan sadar sepenuhnya dari kebingungan. Saya bingung atas pilihan sebagian orang untuk memilih menjalakan hidup menjadi sosok yang sinis, eksotis, dan "disegani".

Jikansemua orang bebas memilih, lalu mengapa semua orang tidak memilih untuk menjadi pribadi yang murah senyum, lucu, dan bikin kangen seperti saya ini ??!?

#ngikikikikik....

Kalau ada orang sinis dan jauh dari kesan ramah, saya sering berspekulasi macam-macam;
dia banyak hutang?
Hidupnya tidak bahagia?
Dia membujang sampai tua?
Dia belum mandi?
Dia tidak pernah makan brokoli goreng?
Dia kebelet pipis?
Dia sariawan?
Dia giginya kuning?
Waktu SD matematikanya tidak pernah 100?
Dia tidak punya teman?

Bila jawabannya ya, wajar hidupnya sinis.

Saya pikir, orang sini adalah cerita lama dari dongeng sebelum tidur. Hanya muncul sebagai pengimbang alur cerita. Karena kurang seru jika ada Cinderella kalau tidak ada ibu tiri, putri tanpa nenek lampir (?) Si bawang putih tanpa bawang merah, dan gula tanpa merica (?)

Tapi, ternyata di luar cerita edisi happily ever after itu, orang sinis memang banyak berkeliaran di dunia ini. Dan itu mengingatkan saya pada seseorang yang mengeluarkan saya dari kelas matematika dengan tidak terhormat.

Pada akhirnya......semua orang akan berpisah. Yang tinggal menetap hanya sebatas "kesan". Apa yang mereka ingat dari diri kita?

Monday, October 13, 2014

Ini Gigi.

Ada satu bagian dari tubuh manusia yang paling keras, yang kalau dibakar dan dikubur sekalipun, dia tidak terurai menjadi butiran debu. Satu bagian tubuh ini menjadi identitas personal setiap manusia karena kemungkinan sama dengan orang lain adalah satu banding semilyar (sotoy, tapi ya intinya langka). Dia yang selama bertahun-tahun kebelakang ini sering saya otak-atik. Sebut saja dia Gigi.

Anggap saja quote "Lebih baik sakit hati daripada sakit gigi" adalah sebuah arti denotasi murni, meskipun "hati" bisa jadi polisemi. Ngomong-ngomong, gigi manusia (yang sangat mengagumkan bagi orang semacam saya) adalah ciptaan Tuhan yang berbentuk kecil (tentu saja) dan... sakit jika berlubang. Ada banyak iklan pasta gigi yang menganjurkan untuk sikat gigi minimal 2x sekali. Pesan saya, ikutilah nasihatnya. Bukan karena biaya iklannya mahal, tapi karena ini demi kesehatan Anda sendiri.

Saya menjadi semacam geli sendiri, sekaligus miris, melihat medical record saya tentang kondisi gigi saya. Karena kelenjar ludah dan kekerasan gigi sifatnya diturunkan, mau dikata apa lagi jika kenyataannya kekuatan struktur gigi saya tidak begitu baik. Tetangga saya (tidak saya sebutkan tetangga yang sebelah mana) tidak begitu memperhatikan kesehatan giginya. Jarang sikat gigi, sehingga lukisan kuning kecoklatan terpampang nyata dan menempel erat di lapisan giginya. Jangan dibayangkan. Tapi, giginya kuat mengunyah makanan keras. Secara alamiah, gigi saya terlahir dengan bentuk yang kecil-kecil, namun memesona *ngekngekngek*sayangnya, ia rapuh. Saya tidak berani (mungkin hampir tidak pernah) menggigit apel bulat dalam satu gigitan. Mesti dipotong-potong dahulu. Kalau lihat kawan yang makan apel dengan lahap, rasanya...."how lucky you are..."

dibanding berobat ke dokter umum, saya jauh lebih banyak menghabiskan uang ke dokter gigi untuk kesehatan gigi saya. Saya mulai rutin ke dokter gigi sejak SMP. Mulai dari tambal sana sini sampai cabut! saya jorok? mungkin. Tapi kondisi air liur saya bisa saja dipersalahkan, meskipun kenyataannya saya memang jorok dan malas. Kondisi gigi saya yang sedikit tidak rapi meningkatkan resiko gigi berlubang. Makanan dengan mudah terselip dan sulit dibersihkan. Tambal, Ortho (behel), Perawatan Saluran Akar, semuanya saya jalani. Demi gigi saya yang memesona ini.

Senyum itu ibadah. Ada orang yang sulit senyum karena giginya rusak. Ada orang yang berkali-kali difoto tanpa memperlihatkan gigi. Percayalah, desain senyum yang indah akan meningkatkan kualitas hidup Anda. Dan sekalipun kekuatan gigi adalah turunan dan diluar kendali Anda, ada banyak variabel lain yang bisa Anda jaga, misalnya makanan. Dan beruntunglah kalian yang dikaruniai gigi yang sehat, sebab tidak semua orang bisa merasakannya. Ada orang yang perlu penjagaan ekstra semacam saya untuk bisa menghadirkan senyum sehat.

Orang tua saya mengupayakan yang terbaik untuk kesehatan gigi saya. Dan secara mengagumkan, saya terdampar di wahana belajar ini. Tentang gigi dan wajah. Semakin belajar, semakin merasa tidak ada apa-apanya. Apalah kita ini, hanya butiran molekul fosfat. Sekali pun, tidak bisa menentang takdir berkaitan penyakit. Jadi percayalah jika menjaga kebersihan gigi adalah upaya pencegahan paling mudah sebelum sakit gigi yang katanya lebih sakit dari sakit hati itu terjadi.

Sunday, October 12, 2014

Sunday, October 5, 2014

null

Rata-rata orang sukses adalah para penggila buku. Bagi mereka buku adalah candu. Bila dielaborasi, katakanlah nafas dan aliran darah. Buku adalah telaga. Buku adalah kawan, ia menjadi lembaran-lembaran sakral yang dapat menyembuhkan dahaga.
dan di malam yang random ini, 00:09 WIB dimana jari-jari saya masih berusaha mengetik di atas keyboard lenovo S650 yang terlalu kecil untuk ukuran jempol saya yang menawan ini. Malam hening, dan jam dinding warna merah di kamar saya, mesinnya terlalu  berisik berputar. Selebihnya, saya hanya mendengar nafas saya sendiri.
Saya bukan tukang begadang yang baik. Bisa dikatakan saya adalah tukang tidur yang kelebihan skill. Terlalu expert. Jarang saya bis melek lebih dari jam 21.00, seperti malam random ini.
Harus ada yang dikhawatirkan jika saya berkontemplasi tengah malam begini. Karena saya kadang kadang bisa jadi selucu power ranger yang bisa berubah wujud sekali gerakan tangan. Saya bisa jadi 180 derajat berubah sikap setelah merenung, meskipun beberapa saat setelahnya 360 derajat kembali tercapai. Termasuk malam ini. Ah, Bonny menyaksikan kegundahan ini. Dengan jepit merah yang saya pasang di telinganya, Bonny seolah olah adalah seorang gadis jelita yang dengan manis menyaksikan keuringan saya. Meskipun  kenyatannya ia adalah seorang pria. Tapi tidak mungkin saya tidur dengan pria. Jadi saya berusaha sekuat tenaga untuk metransformasi Bonny menjadi sefeminim dan seanggun saya, *PLAKKK. Oh ya, Bonny adalah boneka pemberian yang menggemaskan, membuat saya langsung memeluk dan menikamnya begitu melihatnya.
Saya butuh segera tidur, agar saya bisa kembali normal. Dan disaat buku adalah barang pusaka nan berharga bgi mereka yang panjang lebar saya sebutkan di atas, bagi saya buku adalah obat. Obat tidur alami saya.
Maafkan saya yang tidak bisa diandalkan ini. Tapi saya butuh tidur, dan setelah berhari hari saya meninggalkanmu, menelantarkanmu, akhirnya kamu bisa ada di tangan saya kembali...sebagai obat tidur.
Akhirnya! selain bunyi mesin jam dan nafas sendiri, saya mendengar suara keponakan saya yang tengah malam begini merengek. Hari ini Idul Adha, dia berkunjung ke rumah. Dan.. ya Tuhan, dia cantik. Maksud saya, benar-benar cantik sekali. Bahkan Ayah sekarang sudah berpaling hati. Wanita cantik memang sering mengusik perhatian lelaki. Danisha adalah Ratu dan saya adalah Upik Abu. Ah Danisha, aunty sayang kamuu.
Nah, kalau tulisan ini belum cukup random untuk melukiskan kondisi saya malam ini, saya tidak  akan memberi judul Malam Random.
Ah ya, air di rumah saya mati sejak pagi. Dan stawberi yang sejak 3 minggu lalu saya perjuangkan untuk tetap berada dalam kulkas harus menemui ajalnya dalam kondisi busuk. Padahal hari ini saya ingin membuatkannya jus strawberi campur potongan mangga, resep hasil merampok jajanan kawan minggu lalu. Dan Menteri HAM, penjual buah musiman di  komplek kami akhir-akhir ini sedang menjual mangga murah. Saya sebenarnya tidak hafal siapa menteri HAM saat ini, tapi Mama berhasil meyakinkan saya bahwa bapak penjual mangga itu terlalu mirip dengan bapak Menteri.
Sudah. Saya mau melanjutkan hidup.

Sunday, September 14, 2014

Greimas

Ia berdiri dengan kegagahan pusat peradaban dunia dan citarasa kebudayaan dua benua. Reruntuhan bangunan bersejarah bersanding dengan pembangunan peradaban modern.
Ia membelah asia dan eropa dengan keartistikan pesona berjuta sejarah.
Di tanahnya terbenam kekhalifahan terakhir, bergulir revolusi hingga demokrasi.. Intrik tradisi dan inovasi mewarnai sendi-sendi kebijakannya...
Ia bahkan dipercaya, lambat laun akan kembali menyusun puzzle kedigdayaannya yang terberai. Kharismanya laksana magnet yang senantiasa menarik kekuatan yang terserak...

Apa itu alasan saya ingin menginjakan kaki di tanah turki?

Heu, Itu terlalu puitis untuk jadi jawaban saya T.T

Jadi?

Kenapa saya ingin (sekali) melihat peradaban turki?

Sederhana.

Ini semua karena Aisha Greimas.

Novel yang saya baca sewaktu SMP itu sanggup menyihir saya untuk terus membayangkan wajah dibalik cadar dalam cover Ayat Ayat Cinta.

Saya terlalu ngefans dengan sosok Aisha Greimas. Penulis berhasil menggambarkan karakter kecantikan seorang gadis keturunan Jerman-Turki-Palestina itu. (Dan kekaguman itu buyar hancur luluh lantah oleh kekecewaan film nya yang diangkat ke layar lebar)

Sewaktu masih senang dengan kealayan dan kehidupan dihiasi menulis pesan singkat dengan huruf besar kecil (ya Tuhan, pada zaman nya itu ngehits banget), saya sudah jatuh cinta kepada Turki! sejak umur 14 tahun.

Saya jatuh cinta dengan pribadi Aisha. Jatuh hati pada latar belakang hidupnya. Ia mewarisi kecantikan wajah Jerman dari Ayahnya dan kelembutan hati Turki dari Ibunya serta kebesaran jiwa Palestina dari neneknya. Saya tersihir.
(Sekali lagi, jangan bayangkan film nya, fokuslah pada novelnya, heu)

Seketika itu juga, saya mulai mencari tahu tentang Turki, Jerman, dan Palestina. Semakin tahu tentang keistimewaan Turki dan sejarah Ustmani nya, semakin saya ingin terbang kesana....mencari sosok Aisha Greimas (?)

Sederhana, kan?

Alasan yang sama bila ditanya "kenapa dukung Jerman di piala dunia?"

Sejak Piala Dunia 2010, saya sudah dukung Jerman. Alasannya hanya karena Aisha punya darah Jerman (dan saya senang sekali Jerman berhasil keluar jadi pemenang di World Cup 2014 ini)

Palestina? Dia selalu menjadi doa doa yang terlantun. Betapa kagum nya saya dengan kekuatan jiwa dan keberanian warga Palestina.. Semoga Allah merahmati dan membebaskan tanah mereka..

Ah ya, harus ada memori spesial yang terukir teruntuk Turki, negara yang selalu membayangi saya akan sosok Aisha sejak 8 tahun silam..

Tuesday, August 12, 2014

dan jika waktu

Agustus 2014. 21 tahun 3 bulan usia saya.

Saya tidak tahu ada dalam fase apa sebenarnya usia 21 tahun itu. Fase mencari atau menemukan atau menjalankan? Tapi, dalam fase apapun saya -seharusnya- berada, saya mensyukuri nikmat Allah yang Allah beri pada saya selama 21 tahun saya hidup.

Disaat sebagian orang memutuskan untuk menikmati indahnya dunia, pertemanan, dan lingkungan belajar kehidupan, saya secara anomali -namun benar menurut sebagian orang- memutuskan sejak lama untuk mengambil sebuah keputusan besar.

Keputusan menemukan dan ditemukan. Bukannya tidak mau lama berlayar mencari kesempurnaan versi makhluk, hanya saja berlayar tak tahu arah seringkali hanya akan berakhir pada kebuntuan. Apalagi singgah di banyak tempat, bermukim sementara, lalu bila tidak sesuai kehendak hati, pergi meninggalkan.

Saya tidak ingin banyak terlibat dalam lingkaran permainan, maka sedari awal saya berusaha untuk berhenti mencari dan berusaha teguh ikhtiar agar jiwa jiwa perindu kebaikan dengan mudah saling bertemu. Menemukan dan ditemukan.

Jalan masih panjang. Akhir tidak pernah ada yang mampu menaksir. Jika Allah berkehendak memampukan, semoga setiap keputusanNya menjadi kebahagiaan bagi setiap kita yang menerima. Jika kekuatan ini bersumber dari Illahi, maka celoteh mereka biarkan redup seiring waktu. Biarkan setiap prosesnya menjadi keindahan tersendiri; semoga mimpi kian terealisasi.

Dan jika waktu berbicara siap atau tidak siap, mampu atau tidak mampu, bumipun akan bertanya, kapankah kiranya tiba waktu itu?




Sunday, July 13, 2014

Tuesday, July 1, 2014

spectrum Laila


Saya -pada jamannya- adalah gadis polos (?) sehingga saya membiarkan diri saya dimasuki berbagai informasi kehidupan. 

Saya adalah wanita yang tidak pandai bergaul, tapi kadang mudah melebur~ terbawa arus, karena kebodohan dan kemiskinan prinsip yang dianutnya. Beberapa tahun lalu, kehidupan di mata saya adalah tentang bagaimana saya lulus ke jenjang pendidikan yang memadai. Kerja. Punya uang. Selesai.

Beberapa tahun yang lalu saya mengamati pola kehidupan sekitar saya. Murid-murid berkelas, strata sosial menengah ke atas. Berbanding dengan kelompok-kelompok minimalis, serba sederhana. Mereka semua -tentu saja- memilih untuk bergerombol, membentuk kelompok; strategi untuk dapat memenuhi kebutuhan Maslow,"merasa dianggap eksistensi hidupnya". Kemudian, satu kesimpulan yang saya dapat; saya pun harus masuk dalam kelompok, karena saya memiliki "kebutuhan dasar" yang sama; rasa nyaman.

Manusia dengan sendirinya akan mencari "kelompok" yang membuat dirinya menjadi nyaman. Ada beberapa kemungkinan dari proses seseorang memilih suatu kelompok. Ada yang mempertahankan pemikirannya hingga kelompok sebelumnya mengikuti dirinya. Ah, ini sungguh "kharismatik". Ada yang memaksakan untuk meninggalkan pemikirannya karena tidak cocok dengan pemikiran kelompok yang ada, menyerah begitu saja  tanpa mengkritisi dan membiarkan dirinya "jatuh". Ini sungguh menyedihkan. Ada yang mencari, terus mencari, hingga akhirnya menemukan, dimana ia harus berlabuh. Ini namanya perjuangan.

Singkat cerita, saya pun mencari. Secara garis besar, memang selalu ada banyak blok. Blok depan-blok belakang, sayap kanan-sayap kiri. Karena jika sebelah saja, burungpun tidak akan bisa terbang. *terus kenapa* 

Kemudian, sekelompok orang yang saya namakan Spectrum Laila, karena terdiri dari wanita-wanita perkasa   -meskipun tidak ada satupun diantara mereka yang bernama Laila- yang menarik perhatian saya. 

Petualangan pun dimulai.

Saya seperti masuk dalam istana yang dicat warna-warni. Penuh warna. Di samping kiri ada Kemewahan tak terjaga, menggoda. Begitu mudah diraih, begitu mudah untuk dirasakan. Di samping kanannya, banyak bebatuan, pualam, dan membentang hingga balkon istana, terlihat sulit dan banyak larangan serta perintah.....

ah sudahlah, ini bukan kisah barbie dan istananya.

Tapi, Spectrum Laila memperlihatkan jalan itu dengan ramah tamah. Mereka tidak hanya berbicara, mereka menunjukannya dengan keteladanan. Saya terpesona, dan hampir-hampir terjerumus oleh cahayanya. Saya dengan kebodohan dan kemiskinan prinsip, diperkenalkan tentang makna diri. Mereka adalah guru kehidupan, yang membawa gelap kepada terang, menjadi tangan-tangan bertitah-penyambung kebahagiaan yang dijanjikan...

Spectrum Laila adalah mereka, Kakak-kakak kelas saya yang dengan wajah bercahaya, senyum menentramkan, dan perhatian yang mendamaikan, memperkenalkan saya pada sesuatu yang membuat saya mengerti tujuan untuk apa saya hidup. Saya yang terombang ambing pada kelompok-kelompok yang hanya sekedar berkelompok, akhirnya ditunjukkan sesuatu yang mengajarkan bahwa segala sesuatunya harus memiliki tujuan, sebab Tuhan tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia, termasuk dalam berkelompok. Sebatas kesamaan hobi? tapi ada sesuatu yang lebih dari sekedar kesamaan. Itulah tujuan.

Spectrum Laila mengajarkan saya tentang kebahagiaan, kenyamanaan. Sesuatu yang hanya bisa didapatkan jika saya tahu fungsi diri. Bagaimana saya bisa bahagia -dalam jangka panjang, bahkan hakiki- bila saya tidak tahu siapa diri saya, apa fungsi diri saya.

Dan  kebaikan hati para spectrum Laila harus menjadi tugas berulang bagi setiap yang merasakan. Sebab nikmat yang ditawarkan terlalu besar untuk dirasakan sendiri. Spectrum Laila menyebarkan sesuatu yang akhirnya saya tahu bagaimana satu kata itu disebut. 

itulah dakwah.

Sebab dakwah melahirkan ukhuwah, dan dari ukhuwah tercipta kenyamanan, kesejukan hati. Yang sampai detik ini terus saya syukuri. Bertemu kawan-kawan hebat dengan tujuan hidupnya yang hebat pula. Semuanya serba kebaikan. Menggerakan hidup saya dari gelap kepada terang, memotivasi saya untuk ikut membangun mimpi-mimpi kebaikan.

Terima kasih Spectrum Laila. Mereka-mereka yang namanya tidak perlu disebut, sebab bukan dengan pujian mereka menerima balasan, tapi dengan pahala yang mengalir terus menerus.

Ingin rasanya menjadi seperti Spectrum Laila, memperkenalkan manis dan indahnya ukhuwah. Demi Allah, ukhuwah itu indah. 

Sepanjang tulisan ini, tidak ada satu katapun yang mendeskripsikan keindahannya. Ia hanya bisa dirasakan...

Friday, June 27, 2014

Muawiyah

semua nya kebingungan, mengapa Hasan bin Ali menyerahkan posisi Khalifah setelah menjabat hanya 6 bulan selepas pembunuhan Ayahnya, Ali bin Abi Thalib…..
……
Hasan mengundurkan dari dari jabatan khalifah dan menyerahkannya kepada Muawiyah, Gubernur Syam, demi persatuan umat. Perpecahan dan penghasutan terjadi di kalangan umat Islam. Dan Hasan mencoba mengamalkan sabda Rasul, "Anakku ini (Hasan) adalah seorang sayyid. Melalui dia, Allah akan mendamaikan dua kelompok besar dari kaum muslimin" -karena cmiiw, Ada dua kelompok penghasut ketika khalifah Ali menjabat, dan Muawiyah termasuk yang tidak mau berbaiat kepada Ali jika pembunuh Utsman bin Affan tidak segera di qishas-
dan pembahasan menjadi meleber~
kembali pada Muawiyah. 
saat pengangkatan Muawiyah dari Bani Umayyah sebagai khalifah, masih banyak sahabat Rasul yang lain yang lebih paham agama dan lebih dahulu masuk Islam, diantaranya ada Abdullah bin Umar, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Amr, Abdurrahman bin Auf, dll.
lalu mengapa Muawiyah?
Sebagian ulama sepakat atas bolehnya mengangkat seseorang pemimpin yang masih ada orang yang lebih baik darinya. Keberadaan orang yang lebih baik tidak meghalangi terpilihnya seseorang menjadi pemimpin selama ia memenuhi syarat sebagai pemimpin. Keutamaan hanya dianggap sebagai nilai tambah dalam pemilihan, bukan syarat sah dalam kepemimpinan. 
meskipun banyak sahabat senior yang lebih dekat hidupnya dengan Rasulullah, lebih ahli dalam urusan agama dll, Muawiyah diangkat menjadi khalifah karena kapasitasnya sebagai seorang pemimpin.
Muawiyah adalah Gubernur Syam pada masa Umar bin Khathab sampai masa Utsman bin Affan. Dialah pendiri proyek pembentukan armada laut pertama dalam Islam pada masa kekhalifahan Utsman. Umar bin Khathab menilai Muawiyah sebagai seorang yang tanggung jawab, mampu membentuk pasukan perang dengan baik, mampu beradaptasi dan berpolitik dengan setiap orang. 
Jadi, mengapa Muawiyah?
—————————
tidak ada yang benar-benar meyakinkan saya dalam kriteria calon presiden negeri tempat saya hidup saat ini. Saya bukan orang yang ahli dalam perpolitikan, saya hanya melihat dari sisi saya sebagai warga negara yang berhak memilih siapa pemimpinnya. 
sama halnya seperti Muawiyah terpilih. Banyak yang jauuuuuh lebih baik pemahaman agamanya (atau bahkan pengetahuan politiknya) dari dua calon yang ada. Tapi kita tetap harus memilih satu orang yang cakap secara kapasitas. Sebab sulit menuntut mereka menjadi sesempurna impian siang bolong kita, simsalabim, semua rakyat sejahtera, perut kenyang, dan harta melimpah— tanpa perlu banyak kartu, tanpa ada kebocoran di banyak bidang (?)
kita sering bertanya, “kenapa Mr. X tidak maju jadi calon? Dia jauh lebih baik dari Om Bowo dan Mas Joko. Aku cuma mau milih kalau si Mr. X jadi calonnya” Hap, tetot. Saya rasa, kita tidak perlu bersikap sepesimis itu. 
Dan dari dua calon presiden yang ada, saya akan memilih orang yang saya rasa lebih mumpuni kapasitasnya dalam memimpin wilayah dalam skala besar. Cakap dalam politik dan pertahanan negara. 
dan tentu saja, dia - atau pihak pendukungnya- adalah orang-orang yang berafiliasi pada Islam. Campur aduk dunia politik, memang.. tapi saya tetap yakin, masih ada orang-orang berniat bersih untuk memperjuangakan daulah yang menegakkan syariat islam. Siapapun mereka…

"Pemimpin kalian yang terbaik adalah pemimpin yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian; berhubungan baik dengan kalian dan kalian berhubungan baik dengan mereka. Pemimpin terburuk adalah pemimpin yang kalian benci dan mereka membenci kalian; kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian!" Shahih Bukhari dan Muslim.

Saturday, May 17, 2014

Saling

".....saling menjaga. Saling menasehati.

Kita tidak tahu bagaimana dunia luar mewarnai kita. Tetap dalam barisan, agar kita aman terjaga. Kuatkan pijakan, lalu bercahaya.

Setelah bekerja, menikah, dan berkeluarga... jangan tinggalkan dakwah. Jangan pendekkan jilbabmu"

Sunday, May 11, 2014

Final Project

Sudah berjam-jam, hari ini saya duduk di hadapan laptop kesayangan. Laptop yang saya beli -tentu saja uang Ayah- sewaktu kelas 1 SMA dulu. Laptop yang sekarang mengalami degradasi mental dan kelumpuhan batre permanen membuat saya semakin mencintainya. Laptop yang 3 tahun lamanya menemani kesendirian dan kejombloan di kamar kosan Jalan Jawa no. 54. Laptop yang kemarin akhirnya mengalami pemugaran, dan kembali bisa difungsikan sedikit lebih layak lagi. Saya tahu seringkali saya berbuat dzolim padanya; ditinggal tidur, seharian lupa di matikan, di turn-off-kan dengan paksa, atau sedikit dibanting kalau ada indikasi lemah otak alias loading kebangetan. Maaf ya sayang. Terlebih lagi, saya minta maaf karena hingga detik ini, 6 tahun kebersamaan kita, rupanya saya belum memberimu nama. Hiks.

Saya memikirkan nama yang baik untuk si laptop. Tapi setelah mau diberikan nama, saya pikir nama itu bagusnya disimpan buat nama anak saya saja. Terlalu bagus untuk ukuran laptop. Dan hah! Baiklah, saya tidak cukup kreatif untuk mencarikan nama, jadi yasudahlah, saya akan memanggilnya dengan panggilan mesra ; topan. Singkatan dari lapTOP AN(tara kita saja yang tau apa kepanjangannya).

Dan kenapa malah bahas laptop ya -,-

Ngomong-ngomong, tahun ini, saya akan memperkerjakan Topan dengan sedikit rodi. Saya akan mulai mengerjakan skripsi (ciee). Sudah berkali-kali saya menyuruh Topan untuk kerja rodi, serodi otak saya yang gak maju-maju untuk dapat referensi. Huft.

Hari ini, bermenit-menit lamanya saya memandangi layar Topan. Putih, Bersih sekali. Ms. Word 2010.

Akhirnya saya berani menuliskan judul yang bergentayangan di imajinasi saya. Berkali kali keyboard ditekan, berkali-kali pula backspace dipencet-pencet. Delete!

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang.
-kemudian hening-

Dan hari ini, kembali satu dokumen yang berjudul "Skripsi Detin" harus puas dengan layar putih.
Semoga malam ini deretan huruf sudah bisa menghiasinya.
Saya sebagai makhluk nokturnal (what??!!) akan berusaha melewati malam dengan membaca lebih banyak jurnal.

Semoga Topan bisa jadi partner skripsi yang baik, meskipun sebenarnya saya tidak bisa banyak berharap pada Topan yang dibawa kemana-mana beratnya minta ampun dan tidak bisa hidup tanpa baterai.

Topan, semoga kamu bisa punya adik lebih cepat. Meskipun semesta sepertinya berkata untuk memperkerjakanmu saja.

Wednesday, April 16, 2014

dua


Labbaikallahumma ‘umrotan 
Kami penuhi panggilanMu ya Allah untuk melakukan umroh
Labbaik Allahumma Labbaik.. Labbaika laa syariika laka labbaik..Innalhamda wan ni’mata laka walmulk, laa syariikalak.

Setelah transit di Yaman International Airport yang tidak lebih bagus dari Stasiun kereta api Bandung, kami bermikot di atas pesawat. Sepanjang jalan di pesawat, ucapan Talbiyyah terlantun dari mulut setiap jamaah. Alhamdulillah, Allah… kami hendak memenuhi panggilanmu.
beneran, lebih bagus Stasiun Bandung.

Bukan sulap bukan sihir, jangan pernah bandingkan pramugari dan awak pesawat dari Timur Tengah dengan pramugari Garuda Indonesia. Ngambil sisa makanan yang nyelap di gigi aja di depan penumpang -,-. Saling teriak dengan bahasa arab pula. Maklum ya, jamaah haji dan umrah kan mayoritas usia sepuh yang gak bisa bahasa lain selain bahasa daerahnya dan bahasa Indonesia. Disuruh duduk aja mereka gak paham.  “Please sit down, hey you sit down!” mana pula mereka ngerti.  Dan jangan juga bandingin petugas bandara King Abdul Aziz dengan petugas bandara Seokarno Hatta. Antrian sepanjang apapun, mereka tetap santai kaya di pantai :| “kalian sendiri kan yang mau ke negara kami” kira-kira begitulah definisi ekspresi wajah mereka.


teduh kan?
Panas sekaligus sejuk. Jeddah-Mekkah memakan waktu sekitar 3 jam menggunakan bus. Pertama kali menginjakkan kaki di kota paling suci itu, Mekkah Al Muqaromah. Bangunan-bangunan di sekitar Ka’bah di desain menjulang tinggi  untuk melindungi jamaah dari terik matahari. Grand Al-Eiman Hotel, tempat kami menginap, 10 menit berjalan kaki menuju Masjidil Haram. Selesai beristirahat sebentar, kami langsung bersiap untuk berumroh. Ba’da Dzuhur kami berjalan menuju Ka’bah.
bangunan didesign tinggi dan sempit, agar jamaah terlindung dari panas. tapi agak kumuh ya -,-

Grand El Eiman Hotel
Grand El Eiman Hotel

Saya tidak perlu berpanjang lebar tentang keistimewaan bangunan persegi itu. Sederhana, namun daya tariknya sangat mempesona.

Allahumma Antas-salaam wa minkassalaam fahayyinaa robbanaa bis-salaam

Doa kami ketika melihat Ka’bah. Apa yang saya rasakan? Gak jelas. Apa karena saya banyak dosa ya, jadi gak sampai nangis atau gimanaaa gitu waktu liat Ka’bah. Gak senangis waktu di atas pesawat melantunkan Talbiyyah. Ka’bah, jauh dari keglamoran bangunan Masjidil Haram yang berlapis marmer dan keramik Thasos kualitas terbaik yang mengeluarkan dingin alami, membuat sejuk kaki para jamaah. Pertama melihat Ka’bah, tidak ada perasaan lain selain perasaan yang tidak terdefinisi itu. Serius itu Ka’bah? Yang dari saya kecil selalu ada di gambar sejadah saya?

Thawaf 7 kali putaran melewati garis Hajar Aswad, Sholat di Maqom Ibrahim 2 rakaat, Sa’i menelusuri Shafa-Marwah (catatan: Shafa ke Marwah dihitung satu balikan.Bukan dari Shafa ke Shafa baru dihitung satu. – soalnya banyak yang salah disini-  Total 7 balikan, berarti mulai dari Shafa berakhir di Marwah) , segala macam doa saya lantunkan, sampai saya curhat sama Allah. Diakhiri dengan Tahallul, pemotongan rambut oleh Mama. Selesai sudah umroh kami.



Thursday, March 20, 2014

umroh (1)

“Maka, nikmat Tuhanmu yang mana yang kamu dustakan?”

Tahun 2012 lalu, keinginan itu datang. Sambil membaca sebuah brosur, saya kemudian membayangkan bulan depan saya menginjakkan kaki di tanah itu. Seenak jidat. Sayangnya, uang bukanlah daun yang betebaran. Judulnya ibadah, supporting system nya bernama ketersediaan financial. Maka entah bagaimana caranya, dengan kondisi tabungan mahasiswa tanpa beasiswa dan tanpa usaha apa-apa, saya beranikan diri menulis mimpi di buku agenda saya :



Sekali lagi, 6 Juni 2012 lalu saya menulis ini, tanpa tahu bagaimana caranya bisa sampai melihat kiblat seluruh muslim dipenjuru dunia. 

2013, hanya butuh satu tahun saja, Allah beri saya kabar menyenangkan. Hanya butuh satu tahun saja, Allah jawab keinginan saya. Dari arah yang tidak disangka-sangka, orang tua saya mengajak saya ikut umrah.  Lebih cepat dari apa yang saya impikan. Sebelumnya saya merasa tidak mampu, tapi ternyata Allah mampukan…

Kita meminta, Allah mendengar. Masalah dikabulkan? Kita lihat nanti.

Akhirnya, akhir 2013 saya mendaftar untuk pergi ke baitullah. Tempat impian seluruh muslim untuk melengkapi rukun islam nya. Semuanya dipermudah, sampai minggu-minggu keberangkatan, semuanya berubah… ketika negara api menyarang, ketika Jowoki akhirnya nyalon presiden (?)

Saya memilih berangkat bulan Februari 2014, ketika saya sedang libur semester. Awalnya travel berangkat tanggal 3 Februari, tapi dengan semelekete, karena satu dan lain hal, travel akhirnya mundur berangkat jadi tanggal 23 Februari, sedangkan saya masuk kuliah tanggal 17 Februari. Awalnya saya berpikir, yaudah lah ya, awal-awal kuliah biasanya belum terlalu efektif. Toh tahun lalu saya juga pernah izin kuliah waktu ke Malaysia dan Singapura meninggalkan tutorial dan praktikum, tapi berjalan lancar kemudian, tanpa ketinggalan perkuliahan.

Kali ini berbeda, dengan kaget bukan main-main, ada satu blok mata kuliah yang selesai dalam waktu 2 bulan saja. 2 bulan saja. Bukan main singkatnya. 8 kali tutorial, persentase kehadiran minimal 80%. Dalam satu minggu ada 2 kali pertemuan. Dan……….. itu artinya saya akan absen dalam 4 kali pertemuan tutorial. Yang artinya lagi, saya hanya hadir 50% dari total pertemuan.  Sesingkat itu, tapi sks nya 5. Kejam.

Dengan was-was, saya menghadap dosen ketua blok ini. Meminta izin untuk meninggalkan kelas. Apa hasilnya? Saya digantungin L jawabannya “ya, kita lihat nanti”. Ini membuat saya galau luar biasa. Masalahnya, kalau saya tidak diizinkan ikut ujian, artinya saya harus mengulang blok ini, sedangkan tahun depan harusnya saya sudah masuk koas, sudah harus selesai dengan semua materi di preklinik. Jika masih ada kendala dengan urusan preklinik, klinik (koas) saya bisa ditunda jadi tahun depannya lagi, naudzubillah. Tapi bismillah, dosennya baik koo.. baik bangeeet… baik super super baiiiik *positive thinking*insyaAllah saya boleh ikut ujian akhir (aamiin, aamiin, aamiin)

Selesai dengan urusan izin kuliah (tutorial dan praktikum) *meskipun masih digantungin* maka masalah yang kedua adalah masalah “ke-cewe-an”

Kalau dilihat dari track record nya, saya adalah wanita dengan siklus menstruasi yang normal. Dari bulan ke bulan berikutnya biasanya selalu tepat waktu, maju 2-3 hari dari bulan sebelumnya. bulan Januari, saya menstruasi tanggal 16, artinya, dengan perhitungan kalender menstruasi saya akan haid lagi tanggal 14-an, dan selesai sebelum berangkat umrah. Urusan selasai. Case closed.

Saya lega ketika memilTapi, tanggal 14 Februari berlalu begitu saja. Saya mulai was-was. Tidak biasanya. Saya tunggu, barangkali mundur. Sepupu dekat saya baru saja pulang umroh, saya tanya ini dan itu, dan katanya, dia konsultasi ke dokter karena tanggal keberangkatannya adalah waktu-waktu dimana doi menstruasi. Akhirnya dokter meresepkan obat perangsang menstruasi (primolut 5 mg norethisterone).  5 hari konsumsi obat, langsung haid. Hari itu juga saya ke dokter. Tapi kata dokternya primolut itu kerjanya penahan haid. Artinya dengan meminum obat itu haid ditunda keluar, jika konsumsi obat dihentikan, maka haid akan keluar. Saya galau. Mama ikut galau. Untungnya, persediaan obatnya sedang habis, saya pergi ke klinik praktek dokter, bukan rumah sakit, jadi kata dokternya obat itu biasa di stok di bulan-bulan Haji, karena Februari bukan bulan Haji, jadi habis. Saya dibuatkan resep untuk ditebus di biofarma.

Sampai di rumah, kegalauan itu berlanjut. Mama tidak setuju saya mengonsumsi obat itu. Mungkin pikiran orang tua yang masih awam dengan kinerja obat seperti mama saya, akan berpikir macam-macam. Memiliki anak gadis, mama bilang bahwa apapun yang berhubungan dengan peranakan itu sangat berharga. Meskipun saya mahasiswa yang belajar tentang obat-obatan, sulit meyakinkan mama tentang indikasi obat atau efek samping yang akan ditimbulkan. Mama tetap bersikeras, tunggu saja, insyaAllah keluar dengan sendirinya katanya.

Tanggal 16 berlalu. Artinya, seminggu lagi saya berangkat. Saya biasa selesai menstruasi dalam waktu 6 hari. Artinya, jika sampai tanggal 18 saya tidak haid, maka umroh saya akan sedikit terganggu dengan tidak bisanya saya beribadah. Sayang sebenernya, jauh-jauh kesana, mahal-mahal kesana, dengan waktu yang sebentar, tapi gak bisa sholat di masjidil haram, hiks..

Pada akhirnya saya pasrah, hiks. Tanggal 18 akhirnya datang juga.  Saya kuliah seperti biasa. Waktu duha datang, saya ambil wudhu, sholat duha, dan berdoa sekhusyu-khusyu nya. Saya cuma minta dimudahkan  dan dilancarkan. Allah menjawab, jam 11 siang (masih inget banget, haha) tanggal 18 Februari, saya izin ke toilet, dan Alhamdulillah haid nya keluar.

Seneng banget, artinya umroh saya tidak akan terganggu. Ini masalah cewe banget, dan saya tulis disini. Siapa tau jadi info bagi para wanita yang mau umroh tapi punya masalah seperti saya. hehehe, bisa kok konsumsi obat primolut, asal orang tuanya mengizinkan haha.

Tanggal 24 saya selesai haid, bahkan saya mandi besar nya di toilet bandara Yaman, sewaktu transit  sebelum ihram di pesawat perjalanan Sanaa – King Abdul Aziz. Alhamdulillah…



  

Wednesday, February 12, 2014

Love your self

you have to love yourself before someone else can love you. The reason for this is simple - our ideal partner is a reflection of us...
Each of us has a unique belief system, a way of seeing the world that is slightly different to everyone else’s. It’s almost like our ego has a fingerprint. What turns us on, what turns us off. What we feel is important.
The types of people that come into our lives are affected by our beliefs. We meet people who have made the same sorts of choices we make. All these choices reflect our values and our way of being from day to day, minute to minute.

The problem comes when you are romantically attracted to people who are not on your wavelength. This means, people who are not right for you, but who have something that you respect, or admire, or just desire. You want to be with the other person to feel good about yourself, to fill some hole inside you or to change what other people think about you.

If you like yourself, you will like the people you naturally meet, and they will like you. If you don’t like yourself, you will waste energy trying to get with people who aren’t like you, or you will settle for being with someone you don’t like.

Once you accept yourself you will realise your true motives for wanting someone you can’t have. If you want to be with them to compensate for your own shortcomings, you will no longer want them. If you want them because you want to be like their ideal partner, then you will become that person. So there is never a need to change yourself for someone else.

Accept yourself, and you will like the potential partners you can get.
Improve yourself, and you will get the partner you want.

Sunday, February 9, 2014

HOPE

So what exactly does having hope get you?

Hope is one of the most powerful emotions we have. Hope is what gets us out of bed in the morning when our lives seem to be falling apart. Hope keeps pushing forward because it believes you can reach your goal. Hope is the fire that burns inside us when we know tomorrow won’t be any better than today, but it is one step closer to a day that will be good. Hope is a key component that allows us to dare to dream and move toward freedom.

And my hope....

I have so many hopes for these recent years. I've just met the special thing which changes my whole life. I'm glad and thankful to God because He has shown me the precious vision, a great mision, a strong desire, a wonderful journey, various obstacles, and a gorgeous partner.

I wrote my hope down, because i know, Hope is a dream that doesnt sleep :)

God, I sincerely thankyou for this all.
Thank God I've found him, found them, found this blassed life.

Friday, February 7, 2014

what if...

I knew I loved you before I met you-- Savage Garden.

Maybe it's intuition
But some things you just don't question
Like in your eyes, I see my future in an instant
And there it goes,
I think I found my best friend
I know that it might sound
More than a little crazy
But I believe

I knew I loved you before I met you
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life

There's just no rhyme or reason
Only the sense of completion
And in your eyes, I see
The missing pieces I'm searching for
I think I've found my way home
I know that it might sound
More than a little crazy
But I believe

I knew I loved you before I met you
I think I dreamed you into life
I knew I loved you before I met you
I have been waiting all my life

A thousand angels dance around you
I am complete now that I've found you

-------------


well, it's an old song. but sure, it is one of my favorite songs. The meaning of the lyric is so deep. 

what if it really happen in my future life? that i love someone who i had never met before...
what if it really happen in my future life? that i choose someone who i had never known before..

Thursday, February 6, 2014

Oplosan-Man

so finally, I dicided to write this. 

Honestly, during the last semester, i felt so stressed. Well, I had a super busy time with a stack of exams consecutively. So, during at that time, I wonder if I was not a human (?) beside a robot which must has a brilliant brain. I became sleepless and I had to memorize all the words in the book which I don't understand why I have to do that. Seems like a robot? I guess yes.

I have to struggle passing this semester with 31 sks. As a good human being, education should be a part in my daily life. Those who give up on education, they must live in bitterness of ignorance.

In the middle of boredom with that campus-thingy, suddenly I watched  a news from television about young men who have drunk, something called "miras oplosan" just for having fun, and…experimenting (!) They mixed some dangerous chemicals into the water, like sprintus (?) -the material which I commonly use for my lab skill class- Oh, come on, you must be kidding. Those chemicals absolutely contain a total toxic for our body.

Can you guess what is the result? Yap yap. They were collapse, fainted. Well, I am interested in comparing these two contrasting conditions. First, my condition which is stressful with all the burden of education, with the hardest way hoping everything ends as soon as possible. Meanwhile, as the opposite condition, the “Miras-men” choose to enjoy their life in the shortest way with the simplest way.

I hate those people, who I called them “crum”. Don’t they think how if they die? If they survive, how much money is needed for the treatment? If they still alive, how is their family’s feeling? still care? Or neglecting…

How many more of young people who are thinking of killing himself by drinking cheap or “oplosan” alcohol? I think that It feels better if all the men who wasted his life should be wiped out, disappeared from this earth. The Earth is already crowded by humans. The occupants should be selected, whose brains are still sane and truly appreciate the life that could live here. While others (who don't appreciate their life) should go to Mars, or wherever...please don't fill my earth with your stupidity. Do not steal the oxygen (?) if it turns out you were reluctant to live. Just go !

What kind of thinking is this?

I just don’t like them. 

Tuesday, January 21, 2014

Revolusi


Tiba pula gadis desa bangun dari tidurnya.
Lampu yang menyala, kini padam
dan jendela yang lama tertutup
kini mulai terbuka.
Ada banyak angin berhembus, debu menerpa,
ilalang sampai sudah di ubin kamarku.

Temboknya kini berwarna,
Hiasan di dinding bertengger dengan sahaja
Arlojinya itu perlahan mulai menunjukan jenjang waktu,

Katanya,

Segeralah bumi berevolusi, dua kali lagi.