Showing posts with label Curhatan. Show all posts
Showing posts with label Curhatan. Show all posts

Tuesday, July 1, 2014

spectrum Laila


Saya -pada jamannya- adalah gadis polos (?) sehingga saya membiarkan diri saya dimasuki berbagai informasi kehidupan. 

Saya adalah wanita yang tidak pandai bergaul, tapi kadang mudah melebur~ terbawa arus, karena kebodohan dan kemiskinan prinsip yang dianutnya. Beberapa tahun lalu, kehidupan di mata saya adalah tentang bagaimana saya lulus ke jenjang pendidikan yang memadai. Kerja. Punya uang. Selesai.

Beberapa tahun yang lalu saya mengamati pola kehidupan sekitar saya. Murid-murid berkelas, strata sosial menengah ke atas. Berbanding dengan kelompok-kelompok minimalis, serba sederhana. Mereka semua -tentu saja- memilih untuk bergerombol, membentuk kelompok; strategi untuk dapat memenuhi kebutuhan Maslow,"merasa dianggap eksistensi hidupnya". Kemudian, satu kesimpulan yang saya dapat; saya pun harus masuk dalam kelompok, karena saya memiliki "kebutuhan dasar" yang sama; rasa nyaman.

Manusia dengan sendirinya akan mencari "kelompok" yang membuat dirinya menjadi nyaman. Ada beberapa kemungkinan dari proses seseorang memilih suatu kelompok. Ada yang mempertahankan pemikirannya hingga kelompok sebelumnya mengikuti dirinya. Ah, ini sungguh "kharismatik". Ada yang memaksakan untuk meninggalkan pemikirannya karena tidak cocok dengan pemikiran kelompok yang ada, menyerah begitu saja  tanpa mengkritisi dan membiarkan dirinya "jatuh". Ini sungguh menyedihkan. Ada yang mencari, terus mencari, hingga akhirnya menemukan, dimana ia harus berlabuh. Ini namanya perjuangan.

Singkat cerita, saya pun mencari. Secara garis besar, memang selalu ada banyak blok. Blok depan-blok belakang, sayap kanan-sayap kiri. Karena jika sebelah saja, burungpun tidak akan bisa terbang. *terus kenapa* 

Kemudian, sekelompok orang yang saya namakan Spectrum Laila, karena terdiri dari wanita-wanita perkasa   -meskipun tidak ada satupun diantara mereka yang bernama Laila- yang menarik perhatian saya. 

Petualangan pun dimulai.

Saya seperti masuk dalam istana yang dicat warna-warni. Penuh warna. Di samping kiri ada Kemewahan tak terjaga, menggoda. Begitu mudah diraih, begitu mudah untuk dirasakan. Di samping kanannya, banyak bebatuan, pualam, dan membentang hingga balkon istana, terlihat sulit dan banyak larangan serta perintah.....

ah sudahlah, ini bukan kisah barbie dan istananya.

Tapi, Spectrum Laila memperlihatkan jalan itu dengan ramah tamah. Mereka tidak hanya berbicara, mereka menunjukannya dengan keteladanan. Saya terpesona, dan hampir-hampir terjerumus oleh cahayanya. Saya dengan kebodohan dan kemiskinan prinsip, diperkenalkan tentang makna diri. Mereka adalah guru kehidupan, yang membawa gelap kepada terang, menjadi tangan-tangan bertitah-penyambung kebahagiaan yang dijanjikan...

Spectrum Laila adalah mereka, Kakak-kakak kelas saya yang dengan wajah bercahaya, senyum menentramkan, dan perhatian yang mendamaikan, memperkenalkan saya pada sesuatu yang membuat saya mengerti tujuan untuk apa saya hidup. Saya yang terombang ambing pada kelompok-kelompok yang hanya sekedar berkelompok, akhirnya ditunjukkan sesuatu yang mengajarkan bahwa segala sesuatunya harus memiliki tujuan, sebab Tuhan tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia, termasuk dalam berkelompok. Sebatas kesamaan hobi? tapi ada sesuatu yang lebih dari sekedar kesamaan. Itulah tujuan.

Spectrum Laila mengajarkan saya tentang kebahagiaan, kenyamanaan. Sesuatu yang hanya bisa didapatkan jika saya tahu fungsi diri. Bagaimana saya bisa bahagia -dalam jangka panjang, bahkan hakiki- bila saya tidak tahu siapa diri saya, apa fungsi diri saya.

Dan  kebaikan hati para spectrum Laila harus menjadi tugas berulang bagi setiap yang merasakan. Sebab nikmat yang ditawarkan terlalu besar untuk dirasakan sendiri. Spectrum Laila menyebarkan sesuatu yang akhirnya saya tahu bagaimana satu kata itu disebut. 

itulah dakwah.

Sebab dakwah melahirkan ukhuwah, dan dari ukhuwah tercipta kenyamanan, kesejukan hati. Yang sampai detik ini terus saya syukuri. Bertemu kawan-kawan hebat dengan tujuan hidupnya yang hebat pula. Semuanya serba kebaikan. Menggerakan hidup saya dari gelap kepada terang, memotivasi saya untuk ikut membangun mimpi-mimpi kebaikan.

Terima kasih Spectrum Laila. Mereka-mereka yang namanya tidak perlu disebut, sebab bukan dengan pujian mereka menerima balasan, tapi dengan pahala yang mengalir terus menerus.

Ingin rasanya menjadi seperti Spectrum Laila, memperkenalkan manis dan indahnya ukhuwah. Demi Allah, ukhuwah itu indah. 

Sepanjang tulisan ini, tidak ada satu katapun yang mendeskripsikan keindahannya. Ia hanya bisa dirasakan...

Sunday, March 11, 2012

GERIMIS


Hari itu hari kamis. Pagi gerimis. Saya tidak suka gerimis.
Tapi orang bilang cobalah menyukai apa yang tidak kamu sukai. Tapi rasanya…


Banyak orang suka gerimis, bilangnya sih romantis. Tapi saya mau jadi apatis saja,yang beranggapan bahwa gerimis adalah sebatas ketidakjelasan thermis, antara hendak turun hujan atau kembali pada terang. Gerimis adalah masa penuh penantian dan harapan dari dua pilihan yang tersedia. Tapi kebutuhan kita selalu berubah, satu saat inginkan cepat turun hujan, di saat yang lain berharap terang segera datang.

Ini, selama periode di usia seperti ini. Seperti mananti kelanjutan dari gerimis yang tidak pasti. Ayolah, kalau mau hujan, hujanlah sejadi-jadinya, cepat dan tuntaskan. Atau kalau mau terang, berhentilah membasahi bumi!! 

Begitulah, saya tidak suka menunggu, apalagi menunggu yang tidak pasti. Gerimis kecil, turun rintik saja, namun terlampau lama, seperti mempermainkan hati, iya! seperti ketidakpastian atas sebuah rasa, yang konteksnya tidak perlu dikerucutkan.

Rasanya seperti di tengah-tengah, bukan sebagai penengah tapi sebagai yang setengah-setengah. Iya,  kan? Hujan tidak, terang pun tidak. Aaaah, kembali membuat melow dengan segala ketidaktahuan apa yang harus dipikirkan, kecuali berharap semoga gerimis kali ini berakhir dengan terang secepat mungkin. Ada waktunya kapan harus hujan, tapi jangan sekarang. Lha, apa kuasamu, Det?

kita belajar dari gerimis. Rasanya dipermainkan oleh cuaca. Enak kah? Begitupun dengan keseharian, yang tidak pernah lepas dari komunikasi sebagai makhluk sosial. Jangan berikan apa-apa yang tidak pasti, jangan berikan yang setengah-setengah, baik itu janji, ucapan, harapan, atau apapun.....

Saya suka hujan, saya juga suka terang. Tapi ada porsinya. Saya suka “ya” bahkan saya suka “tidak”, tapi juga ada porsinya. Pertama, harus sesuai waktunya dan yang kedua, harus jelas kepastiannya. Dalam segala hal ya. Tidak semua orang –bahkan hampir tidak ada orang- yang suka diberi kabar abu-abu, antara ya dan tidak, antara hitam dan putih, antara benar dan salah. 

Kadang, yang dibutuhkan seseorang yang sedang menunggu hanyalah...kepastian.
Tentang suka dan tidak suka, tentang benar dan tidak benar.



I can’t understand why people love rain, because with sunshine I can feel free to enjoy the warm and do lot of outdoor activities, but sometime I say, anyone who says sunshine means everything, has never danced in the rain. It’s true that sunshine brings joyful and rain brings happiness.

See? Like and dislike are just about subjectivity. But true and false are exactly about objectivity.

Tuesday, January 10, 2012

Elo Keren?

waktu liburan ini dipakai untuk blogwalking, tumblrwalking.

banyak orang keren di luar sana ya ternyata.
semuanya berlomba-lomba jadi yang terbaik, semuanya ingin jadi bermanfaat. saling mengenalkan ke dunia, bahwa dirinya punya bibit, bobot, bebet untuk kemaslahatan banyak orang, bahwa dirinya punya potensi dan kharismatik untuk membawa orang melihatnya sebagai "orang keren".

Ya! be the best version of you. do the best you can.
sorry, versionnya saya cetak tebal. soalnya ini penting. ga semua orang punya kehebatan yang sama. setiap orang punya hebat-nya masing-masing, jangan diikur dari sudut pandang yang sempit dan parameter yang kecil. 
do the best we can :)
tiap hari, harusnya terus meng-keren-kan diri menuju kebaikan. tiap hari harusnya terus meyakinkan lingkungan, kalau indonesia ga rugi punya kamu.
itu alasan kenapa kita harus terus "bergerak" mencetak takdir sejarah yang baru.

 'Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving. 
  
 

Monday, August 15, 2011

confuse, worry, and afraid

how to begin?
i'm so afraid of something doesnt appear yet.am a sensitive girl, extremely change when people around me are different. now, i feel this. dont know what, why, and how to solve. am kinda afraid of being change. how if i change? being someone different, but in a bad way anyway. how? my false?
gue anak remaja yang masih galau,iman gue belum terlalu kenceng. kalau tiba-tiba lepas gimana? gue takut setakut-takutnya.
when none of my friends give me an advice, when there's no any tarbiah, how can i survive?