Friday, August 2, 2013

FLASH-BACK

Tiba-tiba teringat masa-masa pengumuman SNMPTN tahun 2011, setalah baca tulisan seseorang yang menceritakan kegagalannya di SBMPTN 2013 kemarin. Terus, jadi ingin cerita, hehe.

2011. bener-bener jadi tahun pembelajaran buat saya. Awalnya saya ikut tes semacam  PMDK yang ada di UI, apa namanya ya saya lupa :D Seleksi ini terbatas kuota , Alhamdulillah saya termasuk dalam kuota itu. Saya pilih FKG UI (karena saya sadar diri lah ya, ga yakin bisa tembus FK UI). Waktu pengisian formulir, tertera pilihan nominal uang yang harus dibayar untuk biaya semester. Dan dengan bodohnya,  saya mikir bahwa nominal akan mempengaruhi keputusan diterima atau tidak. Jadi dengan seenak jidat saya tulis 4 juta persemester. Tanpa bincang-bincang dengan orang tua, oh ayolah, bocah tak tahu diri. Tapi akhirnya diizinkan, fyuuuh. Terus saya mikir, kalau saya keterima, saya pasti harus ngekos. Biaya di Jakarta bukan tidak murah, belum lagi biaya kuliah sehari-hari. Gila!!

Waktu saya main ke Jakarta untuk menjenguk saudara, saya sempatkan main ke Salemba dengan Teteh saya. Saya foto-foto gedung FK UI, dan tentu saja FKG UI. Dari pandangan pertama, If I have to be honest, oke, saya gak jatuh cinta. Meskipun gedung FK UI mirip SMA 3 Bandung, tapi saya semacam enggak sreg sama suasana Jakarta yang kayanya bukan saya banget.

H- Beberapa JAM (JAM YAAA JAAAAM!!) pengumuman seleksi PMDK UI, it was CANCELLED, dan diberitahukan bahwa seleksi akan diintegrasikan dengan SNMPTN Undangan, semacam tes masuk dengan menggunakan nilai rapot SMA, sebuah kebijakan maha dahsyat dari pemerintah yang perdana dikeluarkan tahun 2011. Bagi yang sudah terdaftar PMDK UI, tinggal melakukan konfirmasi apakah mau dilanjutkan. Setelah berdiskusi dengan orang tua, akhirnya saya memutuskan PMDK UI saya cancel, lalu memutuskan memilih jurusan baru di SNMPTN Undangan. Goodbye Jakarta, Goodbye FKG UI.

Saya daftar. Tersedia 6 pilihan untuk 2 universitas yang berbeda. Saya pilih Unpad, jurusan kedokteran, dan ITB jurusan FTTM. Sisanya saya kosongkan. Sedikit PD, ya karena nilai Rapot saya gak jelek-jelek amat, even ketika di ranking, saya termasuk 3 besar di angkatan yang mau daftar ke FK Unpad. You know how it feels? Bikin saya jadi tak tahu diri. Ya gimana engga, saya nyantei dong, ngerasa aman, dengan opini bahwa FK Unpad gak mungkin cuma ambil 1 orang dari SMA 3. Yang lain ribet Bimbel, saya juga bimbel sih, di 2 tempat malah, tapi ya sekenanya saja.

Pengumanan undangan datang juga. Dengan bodohnya, saya lupa nomer ujian saya, dan nomer ujian itu ada di kosan, sedang saya lagi di rumah. Jadi malam itu saat orang lain sudah ber-alhamdulillah ria, saya gak tau nasib saya. Sampai akhirnya besok paginya saya ke kosan, ambil kartu nomer ujian, dan gak ada warnet yang buka pagi-pagi. Akhirnya, saya telepon Teteh saya, minta dilihatkan di website. Teteh saya lama sekali menelepon baliknya. Ternyata, teteh menelepon mama dulu, dan mengabarkan bahwa saya tidak lolos undangan. Teteh gak tega kalau dia yang ngomong langsung ke saya. Akhirnya saya terima telepon dari mama, dan dengan berat hati saya harus menerima, saya tidak diterima di kedua pilihan itu.

Saya sesek. Banget. Saya lihat teman-teman saya diterima di ITB, padahal saya juga daftar di ITB. Saya baru tahu belakangan, bahwa ternyata Unpad hanya mengambil sedikit dari jatah Undangan, dan FK Unpad hanya mengambil 1 orang lewat jalur murni SNMPTN Undangan, dan ITB mendahulukan mereka yang memilih ITB di pilihan pertama. Dan sejak saat itu, banyak kata “kalau” memenuhi otak saya. Kalau saja saya tidak mau jadi dokter. Kalau saja saya tahu Unpad ambil sedikit dari undangan. Kalau saja saya tahu ITB memprioritaskan yang pilihan pertama. Kalau saja saya jadikan ITB pilihan pertama. Kalau saja….kalau saja…kalaaauuuu…… lalu saya Runtuh, Roboh, Semacam udah ngelayang di udara, dan gak mau hidup.

Saya nangis 2 hari 2 malam. Sampai mata saya bengkak. I was totally afraid, karena SNMPTN tulis diadakan 2 minggu setelah pengumuman undangan. Saya mengutuki diri. Kenapa sombong? Saya benci diri sendiri, karena menganggap remeh sesuatu. Padahal sesuatu itu menentukan masa depan saya. Saya marah, kenapa gak dari dulu belajarnya, kenapa kalau bimbel cuma main-main? kenapa engga mempersiapkan kemungkinan terburuk jika tidak diterima? But time cannot be reduced, waktu tidak pernah bisa ditarik mundur. I was on the  Injury time,  Jatah waktu hanya 2 minggu untuk mempersiapkan apa yang belum dipersiapkan.

Akhirnya saya daftar ujian tulis, pilihan pertama FK Unpad, pilihan kedua FKG Unpad. Saya sama sekali engga ambil ujian mandiri atau ujian swasta satu pun, karena saya gak mau kuliah di swasta, disamping biayanya  emang mahal. Dalam 2 minggu itu, saya merasa menjadi super sholehah. Haha. Mama saya kadang menemani saya di kosan. Menenangkan saya, yang pada waktu itu belajarnya udah macem orang gila. Berhenti cuma untuk sholat, ke kamar mandi. Even sometimes I forget to eat.  Dalam minggu –minggu itu, saya rasa itulah sholat terkhusyu yang pernah saya lakukan (hehe). Terbangun sepertiga malam, dzikir panjang banget, sujud lama banget, baca quran jadi serba hobi. Karena saya tahu saya lagi sakit batin, yang obat penenangnya cuma satu : dekat dengan Allah.

Tiap hari tambahan di GO, pulang bimbel lanjut belajar di kosan, sampai ngundang temen yang udah lulus undangan, yang master matematika, biologi, kimia, fisika untuk datang ke kosan, ngajarin saya.

Finally, Hari H tiba!!

Semua perasaan campur aduk. Saya tegang luar biasa, deg-degan setengah mati. Saya ingat saya duduk di kursi pertama, paling pojok kanan depan. Dan hari pertama ujian tulis, saking tegangnya, saya sampai ke WC 3 kali -_- Just a moment before the test begin, saya izin ke toilet, karena saya gak bakal bisa mikir kalau saya nahan buang air kecil -_- padahal kondisi peserta ujian sudah steril, sudah tidak boleh keluar masuk lagi. Tapi saya mohon-mohon ke petugas pengawas, supaya saya diizinkan ke toilet. Akhirnya saya diizinkan. Hahaha. I will never ever forget that embarassing moment.

Ujian selesai. Saatnya menanti hasil pengumuman. Dari awal saya sudah pesimis dengan hasil ujian, karena ngerjain gak maksimal. Padahal setelah pulang, dan mengerjakan ulang soal itu, saya bisa. Tapi waktu ujian, blank…..panic attack, and I hate it a lot!

Sore hari, saya duduk di lantai, bersandar di kaki mama yang duduk di kursi. I asked her, “ ma, kira-kira detin keterima di mana?” dan tanpa sadar, mama jawab “Kedokteran gigi”, refleks saya kaget, dan mama juga kaget dengan jawabannya sendiri. “Iiih…kenapa? FK dooong!” saya bilang begitu. Dan mama saya cepat-cepat beristigfar, katanya mama sendiri gak tau kenapa jawab itu.

Dan pengumuman akhirnya resmi dibuka. Saya nyalakan laptop dan internet di rumah. saya ingat waktu itu menuju magrib, ayah menyuruh saya untuk sholat dulu. Ayah pergi ke masjid, saya dan mama berjamaah. Selesai sholat, teteh dan abang ipar saya telepon, they wondered about the result. Kami jawab kami belum buka website nya. Sedikit gangguan, mungkin karena banyak orang yang mengakses. Akhirnya abang yang minta untuk membuka, saya ingat waktu itu abang masih di Amerika, menelepon dari Golden, dan bilang akses internet disana lancar jaya. Abang bilang, “Selamat de, keterima di FKG Unpad”.

Saya sujud syukur, dan gak tau harus bilang apa. Mama justru nanya, “sedih gak de? Ga apa-apa di FKG?” dan kalimat itu justru yang bikin saya sedih. Tanpa mama sadar, saya menyesal sudah mengecewakannya. Demi Allah, yang buat saya sedih bukan saya tidak diterima di FK, tapi karena mama sedih mengira saya sedih gagal di pilihan pertama. Demi Allah, saya sedih kalau melihat mama sedih. Dan mama sedih kalau lihat saya sedih, kami saling tahu, lalu kami memutuskan diam. Sampai akhirnya ayah pulang dari masjid, dan bertanya, “Gimana hasilnya de?” mama yang menjawab.

Ada banyak hikmah untuk saya. Allah punya maksud yang kadang perlu waktu lama sampai maksud tersebut dimengerti oleh kita. Saya membayangkan ulang, flashback dan berandai-andai, jika saya keterima di FKG UI dulu, otomatis biaya pengeluaran semakin besar, dibanding dengan masuk di FKG Unpad, biaya semester 2 juta, daaaan tidak perlu ngekos :D karena jarak rumah ke jatinangor lumayan dekat. Allah tahu yang terbaik.

Dan sekarang, saat saya duduk menuju tingkat 3, saya semakin menyadari perbedaan profesi antara dokter dan dokter gigi, yang dulu saya pikir dokter umum lebih bergengsi dibanding dokter gigi. Semakin dewasa, semakin mengerti dunia dokter gigi, semakin sadar, kami memiliki kompetensi sendiri, yang dokter umum tidak bisa melakukannya, begitupun mereka, profesi yang dokter gigi tidak bisa lakukan. Semua tentang spesialisasi profesi, yang punya jalurnya masing-masing. Maka, dokter dan dokter gigi adalah saling melengkapi. Jadi saya tidak perlu iri, karena saya punya spesialisasi tersendiri. And now, I do love FKG :)  Lagi-lagi Allah tahu yang terbaik.

Kita tidak boleh terpuruk dalam perasaan gagal, Allah hanya membelokkan jalan kita, tapi tujuanNya tetap sama, memberi yang terbaik untuk hambaNya.

Selamat menjadi bangga dengan diri sendiri, dimanapun, siapapun, dan kapanpun :)

11 comments:

  1. Alhamdulillah.. Boleh jadi kita punya rencana baik buat kita de.... Tapi pada akhirnya, karena kasih sayang Allah pada kita, Allah memberikan rencana yang terbaik buat kita. Selamat menempuh cita-cita menjadi dentist ya. :)

    ran

    ReplyDelete
  2. yaAllah semoga saya juga bisa masuk FKG Unpad.. Aamiin

    ReplyDelete
  3. biaya kuliah di FKG UNPAD berapa kak?

    ReplyDelete
  4. Mirip dengan pengalaman saya. Pengennya di FK, keterima undangan di FKG. Allah know the best :)

    ReplyDelete
  5. semoga nyusul di tahun 2016 .. amiiin

    ReplyDelete
  6. Semoga saya menjadi mahasiswi FKG UI 2016. Terimakasi kisahnya sangat inspiratif

    ReplyDelete
  7. Semoga saya menjadi mahasiswi FKG UI 2016. Terimakasi kisahnya sangat inspiratif

    ReplyDelete
  8. Kuncinya selalu berusah mendekatkan diri pada Allah. Inspired!

    ReplyDelete
  9. Makasih bgt kk atas postingan blognya. Cerita nya mirip deh. Aku gak lulus snmptn kedokteran gara2 ku letakin pilihan 2 padahal univ itu mendahulukan pil. 1. Dan ikut sbmptn pilihan 1 fk lulusnya di Fkg. Mama jga sedih karna dikira aku sedih gak lulus di Fk.tpi aku percaya allah dah ngatur semua scr adil. Doain ya kk smoga dg berjalannya wktu smakin cinta dg FKG ^^

    ReplyDelete
  10. Makasih bgt kk atas postingan blognya. Cerita nya mirip deh. Aku gak lulus snmptn kedokteran gara2 ku letakin pilihan 2 padahal univ itu mendahulukan pil. 1. Dan ikut sbmptn pilihan 1 fk lulusnya di Fkg. Mama jga sedih karna dikira aku sedih gak lulus di Fk.tpi aku percaya allah dah ngatur semua scr adil. Doain ya kk smoga dg berjalannya wktu smakin cinta dg FKG ^^

    ReplyDelete

comment this post