Tuesday, December 25, 2012

Sementara


“Selamat hari ibu, untuk ibu dan seluruh calon ibu di dunia J
--kemudian liat kalender, oh nona, ini tanggal 26 Desember -__-

*****

Saya ingat benar bagaimana mama memberi saya nasihat lewat mencontohkan. Bagaimana saat mendengar adzan, mama selalu menyegerakan menunaikan sholat. Saat maghrib tiba, ayah dan saya sudah di rumah. Ayah akan pergi ke masjid, mama dan saya berjamaah. Lalu, selepas sholat, ayah pulang, mengambil kacamatanya, membuka alqurannya. Lalu mama melakukan hal yang sama. Jika saya malas dan langsung melepas mukena, mama akan berkata..”eh eh..mau kemana?”

Saya beruntung, tak seharipun rumah yang saya huni sepi dengan lantunan alquran. Tak seharipun.

Saya juga ingat bagaimana sewaktu kecil ayah saya mengajarkan saya sholat. Subuh, saya yang masih TK ayah bangunkan. Kaki saya ayah tarik, diolahragakan, katanya, biar saya tinggi (takdir memutuskan saya tidak tinggi -__-) lalu, menggendong saya di punggungnya, menuju kamar mandi. Saya masih terkantuk-kantuk, ayah basuh wajah saya dengan air. Lalu melihat saya melakukan wudhu. Setelahnya, menggendong saya lagi untuk kemudian membiarkan saya sholat subuh.

Saya beruntung, pendidikan akhirat saya diperhatikan penuh oleh orang tua saya.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?
dan sementara, orang di luar sana.....

******
Lalu, pelajaran dan hikmah ini saya petik dari perjalanan saya sewaktu saya melancong ke Singapore. Di sana, saya bertemu dengan satu keluarga dengan 3 anak yang masih dalam usia golden age, sang ibu bekerja dan ayahnya pun bekerja. Di Singapore, gaji dihitung perjam, jadi bisa saja seharian bekerja. Saat mama dan saya sholat, anak-anak melihat saja. Mama ajak, ayo sholat, rupanya mereka tak ada mukena. Mama ngaji, mereka memperhatikan, rupanya mereka tak punya iqra. Kata orang tuanya, nanti saja SD diajarkan sholat-mengaji.

Bocah-bocah itu jelas kurang perhatian. Dan ketika bertemu orang baru, mereka akan meluapkan segala bentuk pencarian perhatian. Saya maklum, psikologis anak-anak selalu mencari kenyamanan. Maka saya jadi sasaran empuk untuk ditarik-tarik tangannya, diduduki kakinya, dinaiki punggungnya, digenggam jemarinya, ditangisi jika saya cuek. Arrgh! Pusing.

3 anak yang hiperaktif dalam waktu 4 hari bersama, cukup sukses membuat saya menangis. Bukan karena pikiran saya capek, atau badan saya yang remuk dihantam bocah, tapi saya menangis sejadi-jadinya karena saya takut. Saat itu, saya menangis di bahu ibu saya. Anak-anak kebingungan, “aunty.. crying”  

Saya takut, kalau nanti saya diamanahi anak oleh Allah, akan seperti apa saya mengurusnya? Saya takut kalau saya tidak bisa menjadi ibu yang baik. Saya takut kalau saya hanya mencari kepuasan materi, lalu lupa peran diri sebagai ibu. Saya takut kalau anak-anak saya tumbuh tanpa tangan saya di setiap prosesnya. Bisakah saya seperti mama dan ayah saya dalam mendidik saya, bahkan jauh lebih hebat dari mereka?

Sementara orang-orang selalu berfokus mencari-cari, menerka-nerka, siapakah pendamping hidupnya? Siapa pasangan tulang rusuknya? Tapi pernahkah berfikir, setelah itu, kau akan jadi apa? Seberat apa peranmu? Disaat masa kecil saya diwarnai perhatian dan didikan orang tua, ada banyak orang di luar sana yang bahkan orang tuanya saja tidak tahu perihal urusan akhirat, bagaimana mereka mau mendidik anak-anaknya?

Saya menangis, saat itu meminta doa pada ibu saya, “ma, doain anak-anak detin sholeh sholehah”. Dan doa itu bisa tercapai dengan ikhtiar kita menjadi anak yang berbakti terlebih dahulu, supaya anak-anak kita mencontoh ibunya kelak. Fokus kita seharusnya bukan galau lagi mencari pasangan. Yang baik akan dapat yang baik. Berkaca selama ini, bahwa saya harusnya malu, bergalau-galau mencari teman hidup, tapi bakti pada ibu yang dibawah kakinya ada surga, seringkali terbengkalai.



Surga itu ada di bawah telapak kaki ibu, dan salah satu kuncinya ada pada ayah. Menjadi ibu yang di kakinya ada surga, mendapatkan calon ayah yang memegang kunci, memandu seluruh anggota keluarganya, menuju surgaNya. Mimpi apa yang lebih indah dari ini? Surga itu di bawah kaki ibu, bukan dibawah kaki perempuan. Bermimpilah menjadi seorang ibu, bukan sebatas perempuan-- karir, dan apapun itu namanya.

Friday, December 21, 2012

Kepada Tangan-Tangan Kami


Bismillah.

Bukan hal mudah untuk memutus mata rantai, memang. Menyambungnya dengan suatu kait baru. Maka kemudian, alurnya akan kembali rapi, tertata. Itu adalah semangat awal dari kepengurusan ini.

Telah sampai amanah ini di kepengurusan baru FOSIKAGI-Lembaga Dakwah Fakultas : Forum Silaturahmi Mahasiswa Muslim Kedokteran Gigi- angkatan 2011 sebagai penggerak utama. Berkaca dari satu tahun kepengurusan yang lalu, dimana saya menjadi salah satu pengurus, membuat saya ingin menata ulang semua hal ihwal di dalam fosi.

Saya masuk sebagai mahasiswa baru, yang sedari SMA sudah akrab dan di-akrab-i oleh suasana keislaman, karena SMA saya terhitung baik rohisnya. Tiba-tiba sedikit kaget dengan suasana kampus yang memang sangat individual. Saat SMA mungkin kita masih disuapi dengan makanan tarbiyah, saat kita ‘lapar’ kakak-kakak kita sudah punya stok makanan tarbiyah untuk disuapkan pada kita. Tapi hal itu sangat jauh berbeda dengan dunia kampus : kalau kita tidak mencari makanan sendiri, kita bisa mati kelaparan. Tidak banyak orang yang bisa survive dalam pencarian ini. Maka, satu persatu bisa saja gugur di jalan ini. Saya tidak mau ini terjadi, setidaknya tidak pada diri saya dan orang-orang yang saya sayangi.

Setahun sudah berlalu, saat saya masih jadi mahasiswi manis-- yang kemudian merasakan, mengapa dakwah ini terasa seperti sebuah Event Organizer, sebatas menjalankan proker yang copy paste dari turunan kakak seperjuangan. Selama program terlaksana, maka tugas sudahlah usai. Sebatas itu? Lalu apa bedanya organisasi dakwah dengan organisasi lain –semacam BEM dan kawan-kawannya kalau begitu?

Dakwah harus punya goal, tujuan. Output yang dihasilkan harus bisa dioptimalisasikan. Bukan sebatas proses terlaksana, tapi output jadi kalang kabut tidak karuan. Alur yang saya rasakan dari fosi ini masih seperti benang kusut. Jadi tugas kita adalah membuat alur kembali.

Saya merasa miris melihat mahasiswa baru 2012 yang masih banyak terlantar selama 5 bulan ini belum tersentuh dengan agenda tarbiyah. Fosikagi sepi gaungnya. Tapi saya tidak bisa berbuat banyak, karena saya bukan yang terlibat dalam pembentukan konsep –lagi-lagi saya hanya sebatas seorang EO. Saya tidak bisa menyalahkan kepengurusan tahun lalu, tidak bisa menyalahkan system, tidak bisa menyelahkan teman-teman yang lain. Karena yang salah adalah diri sendiri, kenapa tahu keadaan begini, tidak berbuat apa-apa?

Dari Allah, kepada tangan-tangan kami. Semangat yang saya lihat dari teman-teman 2011 lain di kepengurusan tahun ini semoga bisa membawa fosi lebih hidup lagi. Dakwah tidak boleh mati, kalaupun redup, kewajiban kita untuk menerangkannya kembali.

Bukan hal muluk-muluk yang saya inginkan untuk fosi. Saya tidak ingin acara besar –yang didanai besar—yang dengan sukses menyita tenaga, pikiran, emosi bahkan waktu untuk hal yang tidak punya tujuan jelas. Tugas kita cukup ber amal makruf nahyi munkar. Tinggal dikemas seunik mungkin untuk bisa sampai di hati mereka yang belum tersentuh.

Kalau boleh saya berkeinginan, maka hal yang paling ingin saya lakukan dalam jangka satu tahun kepengurusan ini adalah menguatkan internal fosi. Bagaimana cara menyatukan semangat-semangat –yang sampai detik ini sangat saya kagumi—dari teman-teman saya. Modal komitmen mereka sudah bulat, meskipun ilmu dan pengalaman mereka masih belum sedalam pengurus LDF fakultas tetangga. Saya dengan senang hati mendoakan, semoga Allah membukakan pintu hati teman-teman saya –dan juga saya—membuatnya terang benderang dengan cahaya ilmu tentangNya.
Dan itu semua bisa didapat dengan mentoring. Satu agenda khusus yang menurut saya adalah obat ampuh untuk berbagai permasalahan. Mungkin tahun lalu, masih banyak pengurus yang belum mentoring, atau mentoringnya tidak berjalan baik. Maka sekarang, saatnya kita membuat semua pengurus mentoring. Satu kendala yang fakultas kami miliki : kekurangan mentor. Tapi toh Allah beri jalan, kami bisa meminta mentor dari FKDF –LDF se univ-  Tiada kesulitan, tanpa kemudahaan bersamanya.

Semangat untuk membuat mentoring menjadi candu bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu, butuh kesabaran. Tapi percayalah, siapapun yang membaca ini. Bahwa ada keindahan tersendiri dalam mentoring yang tidak bisa kita dapat dari kegiatan lain. Saya memang bukan sosok ideal yang berhak menasehati ini itu. Saya banyak cacatnya, tapi setidaknya saya punya keinginan. Keinginan saya sederhana. Saya hanya ingin melihat mereka, teman-teman saya, merasakan apa yang saya rasakan : indahnya mentoring.


Sunday, December 9, 2012

correctamundo

Ketika masanya kita bertemu dalam jalan buntu  yang tidak lagi saling menghubungkan hati
Membangun jalan baru bukankah adalah ikhtiar yang akhirnya kita tempuh?
di persimpang jalan, kiri dan kanan adalah keniscayaan yang harus kita pilih
ternyata, air yang mengalir deras dari dua arah, akan bertemu di satu titik, menciptakan tumbukan besar yang kadang saling meniadakan.
Menghentikan laju air. Riaknya memencar, dan justru menghancurkan.
Maka, sebaiknya diredam saja. Emosi dan prasangka kita, disembunyikan saja.
Kita sama-sama tahu,
Bahwa ternyata, kita adalah sepasang bilangan prima yang tidak bisa dibagi,
Kecuali oleh keras kepala kita sendiri.
Iya, kan?

tidak lagi menjadi layak untukku membuatmu meyakini apayang aku katakan atau memercayai apa yang aku lakukan
sebab aku takut jika  kata-kataku hanyalah angin yang tak bermassa di pikiranmu.
sebatas itu.

kepada kamu dengan penuh permohonan.
jauhi prasangka, 
dan mari kita bangun saja jalan baru kita
bukan sekedar jalanan biasa, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkan hati kita,
 satu sama lain...
....lagi.



Saturday, December 1, 2012

bertarbiyah-lah, mengapa berhenti?

jika gelas dibiarkan kosong, diam-diam debu akan mulai  menghampiri, menempel di permukaan
jika gelas dibiarkan berisi air menggenang, lama-lama airnya kian menjadi kotor
maka, alirkan terus airnya...isi terus gelasnya..

kadang, ketika ada di pertigaan jalan, kebebasan memilih arah dikembalikan pada masing-masing diri sebagai 'pengemudi'. Tapi apapun arah yang dipilih, kemanapun jalan yang dituju, pastikanlah bahwa kita tahu dan siap atas konsekuensinya.

Kembali diingatkan bahwan di arah manapun ladangnya, bibit-bibit dakwah harus tetap tersebar.

tapi bagaimana caranya mau menyebarkan bibit bila bibitnya saja tidak ada.Bagaimana mau mengalirkan air jika airnya saja tidak tersedia.

tarbiyah hadir untuk memenuhi persediaan bibit-bibit unggul, untuk mengisi teko yang kemudian dengannya ia mengalirkan air, membuat aliran yang menjernihkan.
tarbiyah membuat seseorang merasa terkayakan ruhiyahnya.
tarbiyah membuat seseorang mengetahui untuk apa sebenarnya ia hidup
tarbiyah membentuk karakter seseorang
tarbiyah membuat hidupmu hidup

bertarbiyahlah, mengapa berhenti?
 sadarlah bahwa kesempatan yang Allah beri, waktunya tidak terulang lagi
takdir seseorang memengaruhi takdir orang  lain. Maka buatlah alasan untuk menjadi seseorang yang baik kehidupannya, sehingga membaikkan pula kehidupan orang lain. Takdir adalah permainan waktu, dan waktu adalah permainan kesempatan. Jika Allah telah memberimu hidayah lewat pembinaan, jangan pernah mau untuk melepasnya.

yakinlah bahwa terdapat balasan bagi orang-orang yang berbuat.
Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan (Q.S Al-An'am:132)
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik ,dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S An Nahl 97)
tarbiyah adalah sarana untuk mewariskan yang terbaik bagi generasi mendatang.
maka, bertarbiyahlah, mengapa berhenti?

doakan terus teman-teman kita yang sedang berhenti, untuk sekedar beristirah saja, lalu tetap melanjutkan perjalanan ini.
mendoakan orang lain sebenarnya adalah sarana layaknya mengamini doa diri sendiri....


Thursday, November 1, 2012

Bundotigoanak

aah..saya rindu menulis dengan normal.

~
apa rasanya kalau kamu adalah seseorang yang setelah otaknya hampir mau demonstrasi karena protes atas kebijakan kerja rodi menghafal, tau-taunya hasil ujian dapat rantai karbon? bisa metana, etana, propana, atau na-na-na-na yang lain. *naudzubillah.
maka serentak, saat itu juga kita akan merasa menjadi manusia paling malang, paling sedih, paling mau-mati-aja- di dunia. Rubuh, tidak percaya, kecewa, berharap oh ini pasti mimpi pasti mimpi pasti mimpi....

tapi ternyata, itu hanyalah ujian dunia kelas teri, atau mungkin kelas plankton kalau pembandingnya -salah satunya- adalah ujian untuk ibu yang satu ini.

*prolognya udah cukup bagus belum? kalau belum, berarti lagi-lagi saya gagal bikin prolog -__-*

terceritakan dari kisah nyata. kisah dari pengalaman hidup wanita muda, yang kita beri inisial nita, atau tami, bagus yang mana? nitami aja lah ya. ah, jangan, lebih baik sebut diri saja...baiklah wanita itu adalah saya.
Saya memiliki seorang kakak, sebut saja Dian, karena namanya sampai saat ini memang demikian. Dian ini dulunya bekerja di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta. Karena domisili Bandung, maka tentu saja Dian harus menyewa kamar kost, karena tidak memungkinkan untuk pulang-pergi *yaiyalah.

beberapa kali saya mengunjungi kosan kakak saya. sebuah rumah sederhana, sekitar 5-7 menit berjalan kaki menuju tempat kerja. rumah yang dulunya adalah "rumah" (?) maksudnya bukan bangunan yang disengajakan dibangun untuk keperluan kosan. satu ruang tamu, satu ruang keluarga, satu dapur, dua wc, satu tempat cuci baju, empat kamar tidur. Dua dari empat kamar tidur ini, disewakan untuk umum. tiga orang yang menempati dua kamar, satu kamar diisi kakak saya, satu kamar lagi diisi oleh dua teman kakak saya. Kamar satunya dipakai si Ibu, dan kamar satunya lagi dibiarkan kosong, untuk jadi kamar tamu.
~
dengan perawakan "muda", semampai, langsing, saya tidak akan mengira bahwa usianya sudah berkepala enam. saya pikir dia empat sampai lima puluhan tahun.Ibu kos ini, memang sangat awet muda.
kakak saya sering menceritakan kisah hidup (?) si Ibu kos pada kami. Saya dan mama juga pernah mendengar langsung dari mulut Si Ibu, jadi begini ceritanya....*siap-siap benerin posisi badan.*

ibu kos ini adalah gadis desa dari Kalimantan. Cantik bukan tampan main. Menikah dengan seorang tentara angkatan udara. diboyonglah ia ke ibu kota. membeli sebuah rumah sederhana. melahirkan tiga orang anak cantik-cantik dan tampan.
sudah sering ditinggal suami dinas berbulan-bulan semenjak menikah.
ketika usia anak-anak masih kecil-kecil, sang suami harus kembali pergi dinas kenegaraan. Ibu kos kembali menunggu *haha geli ya bahasanya
tapi, lama nian ia menunggu, tapi suaminya tak kunjung kembali. tidak ada kabar dari pemerintah.
katanya, misi negara itu sangat rahasia.Orang awam macam Ibu kos tidak bisa bertindak apa-apa. hingga satu hari, datang kabar (semi) resmi yang menyatakan adanya kecelakaan yang menimpa kru dinas tersebut. semi resmi, karena tidak dijelaskan kronologis kejadiannya, bahkan mayatnya pun tidak dikembalikan selama sekian lama tahun.
berjuang. iya. Disaat usia masih muda, anak-anak masih sangat kecil-kecil, belum lagi wajahnya cantik, tentu saja banyak orang yang berniat meminangnya. tapi Ibu kos memilih untuk berjuang sendiri, sampai detik ini dia tidak menikah lagi.
membesarkan anak, bermodalkan berjualan kue, hingga anaknya tumbuh besar, soleh dan solehah, insyaAllah.
ketika sudah bertahun-tahun diPHPkan oleh pemerintah, akhirnya secara militer, mayat suaminya dikembalikan ke rumahnya, tanpa boleh ia membuka petinya. dia tidak bisa untuk tidak curiga tentang apa sebenarnya yang ada dibalik peti tersebut. saya rasa ini PHP lagi namanya.
sudah mengikhlaskan sejak lama sebenarnya. dan sungguh ikhlas yang luar biasa.
anak-anaknya tumbuh. satu kuliah di STAN, satu kuliah di ITB, dan satu kuliah di FKG UI :)
yang berkuliah di FKG UI ini yang bungsu. saya belum pernah liat orangnya, tapi sudah melihat fotonya. daaaaan...subhanallah, cantiknya....jilbab panjang menjuntai, anggun, dan kakak saya bilang kulit mukanya bersih, jerawat mungkin enggan mengotorinya.
semuanya telah berumah tangga. dan semuanya sukses dalam karir.seminggu sekali mereka bergiliran menjenguk ibunya, membawa serta cucu-cucunya. saya pernah bermain bersama cucunya *penting ya det? terus kenapa?*
kamar anak-anaknya disewakan agar si Ibu tidak kesepian tinggal sendiri di rumah itu, karena diajak tinggal bersama anaknya pun ia tidak mau. ia memilih menetap di rumah yang di dinding-dindingnya banyak tertempel foto-foto kenangan dulu, ketika anaknya kecil hingga satu persatu telah menikah.

ah, banyak orang yang patut kita contoh perjalanan hidupnya. dari Ibu kos ini, saya belajar banyak tentang ikhlas, merelakan, menerima setiap takdir yang digariskan Allah untuk kita. Karena pada dasarnya, tiada ujian tanpa kita dapat melaluinya, setiap ujian didesign untuk kita sesuai kapasitas dan derajat kita di mata Allah. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Pada akhirnya, kita hanyalah tentang seberapa hebat kualitas menjalani peran diri sebagai makhluk.

kesulitan selalu datang bersama kemudahan. ia satu paket, ia bukan mainan-mainan kontemporer yang dijual secara terpisah.

Friday, October 19, 2012

Khalasa


ketika saya mulai menulis ini, langit sedang bersahabat. tidak terik, juga tidak terlihat muram. teduh. orang-orang bergegas menjemput rezekinya. semua berdamai pada alam, maka alam berdamai dengan semua. langit mengintip, lega, katanya.


ketika saya baru akan selesai menulis ini, dunia jadi kacau balau. orang-orang mulai naik pitam, udara memanas, ubun-ubun mereka mendidih. satu membentak, lainnya menggertak. kerut di atas mata saling beradu. Berbicara tidak lagi berlandaskan kebenaran, sebab agama sudah jadi komoditi yang diperjualbelikan. 

perang-perang dingin terjadi. kita bertempur dengan kebekuan hati masing-masing.


ketika saya benar-benar telah selesai menulis ini, saya merasa benar-benar muak oleh manusia-manusia yang ributnya lebih menyebalkan dari getah pohon yang menempel di lengan baju. 



******

banyak yang ternyata lupa kesederhanaan.
semuanya cari eksistensi. kebaikan tidak lagi jadi urusan antara dirinya dan tuhannya. sekarang, orang lain pun harus tahu.
padahal ikhlas bukan lagi bernilai ikhlas bila ia telah sampai pada bibir-bibir yang melisankan. Ikhlas bukan lagi bernilai ikhlas bila niatnya bukan lagi berlandaskan Tuhan.
popularitas yang kini diagungkan tanpa sadar telah dituhankan : menjadi tuhan-tuhan kecil.

sebagian haus pujian. Yang lainnya kikir memuji, merasa diri dewa dewi? 

dari mana lagi kita harus belajar ikhlas? bicara kebenaran saja harus diumbar-umbarkan. 

media publik yang ada dijadikan sasaran alasan, menipu diri, katanya menyebarkan kebaikan, faktanya sebatas pencitraan.
saya benar-benar ingin tertawa.

~
ternyata menertawakan diri sendiri

ikhlas bersemayam di hati, hati pemiliknya yang bersih, yang setidaknya mau berkaca jika hatinya mulai menjadi keruh. dan mau meminta hati yang baru, jika yang lama ternyata sudah mati

ah,

sebaiknya saya mulai menulis kembali, biar langit bersahabat lagi.

Friday, October 12, 2012

CONTDRO


jika saja bulan kalah bersaing dengan kegelapan yang menyelimuti malam, maka tidak akan ada mimpi yang menaungi tidur melepas kelam. aku berjungkit melihat ke luar jendela, hitam..sedikit pekat. bayangan wajah rembulan tertutup malu pada kuasa bentangan atap bumi.
kalanya ada dia bersembunyi di balik resahnya langit. Mengumpulkan sedikit keberanian untuk menerangi malam esok, esok, esoknya lagi…
ia bermuram durja pada kemilau bintang. menyiratkan ketidakingintahuannya pada apa yang terjadi di bumi, ketidakmampuannya memberi manfaat selayaknya ia seharusnya ada. maaf, ucapnya. maaf jika harus menunda sebuah peran, menghalau celah hadirnya cahaya kehidupan.
layaknya penerang, seharusnya bulan mengayomi banyak insan. Aku melihatnya kini resah, kembali menekan urat menahan amarah. Ia cemburu pada yang ada. tapi entah pada siapa. mungkin pada bintang. karena sejatinya, bulan tak akan pernah bisa menjadi kilauan gemintang..

aku bukan bulan…
tapi, rasanya, resahku ada padanya.

Wednesday, October 10, 2012

tuts


Yang paling saya sukai dari proses menulis adalah kebersamaan waktu dengan perasaan. Saya membuka laptop, membiarkan jemari saya menari di atas keyboardnya. Saya sejenak melupakan dunia luar. Selama menulis, saya akan bersama pikiran dan imajinasi saya. imajinasidetin.

Seringkali, selepas ashar adalah waktu paling menyenangkan untuk berimajinasi. Lalu tanpa sadar, langit sudah memadamkan pedarnya. Mentari sudah singgah di bagian bumi lain. dan jendela kamar akan memberi sinyal, berhenti sejenak, magrib telah tiba.

Saya menulis, sebatas saya ingin melakukannya...

Saya hanya ingin menulis, mengungkapkan apa yang saya rasa. Terlepas dari ketidaksukaan siapupun terhadap apa yang saya sampaikan, apa yang saya ungkapkan, apa yang saya isyaratkan.
Saya hanya ingin menulis karena ruang di hati saya tidak cukup luas untuk menyimpannya sendiri.

Saya hanya ingin menulis, menggambarkan pola pikir, menuangkannya dalam kata yang semua orang punya hak untuk mengartikannya. Ia begitu global, ia punya seribu makna. Ia mengikat, mencitra, menganalogi bahkan menuduh dan mencaci. Kalian bebas mengartikannya, sebab saya tak mampu menghadirkan nada di dalamnya. Ia hanya mengalir,mengikuti arus perasaan yang menjalar melalui pembuluh-pembuluh dan desah nafas.

Saya hanya ingin menulis, terlepas dari kebosanan siapapun terhadap tema, alur, diksi, bahkan arti yang saya bawa. Sebab tangan saya bukanlah tangan Taufik Ismail, lidah saya bukanlah lidah Soetomo, otak saya bukanlah otak Khalil Gibran dan jiwa saya bukanlah jiwa para pemegang pena emas.

Saya hanya ingin menulis, untuk meyakinkan diri bahwa saya hanyalah manusia biasa. Yang dari kata-katanya terkadang muncul kebajikan dan kebermanfaatan, terkadang muncul kebodohan dan kesia-siaan.
Karena bagi saya, inilah tempat dimana saya bisa bermain dengan perasaan sendiri. Mencoba memahaminya dari sudut pandang orang lain. sebab apa yang saya tulis adalah apa yang saya pikirkan. Ia mendeskripsikan diri ini begitu akurat. Saya akan tahu kapan saya belajar, bersosial, mencari pengalaman, menggalau, senang, gelisah, marah, sedih, sombong, angkuh, iri, berharap, bermimpi…. 

Saturday, October 6, 2012

pieroctobref


Demi Tuhan pemilik Ar-Rasyi, cabut, buang, atau jauhkan sifat sombong, dengki, sifat ingin dipuji, sifat merasa diri lebih baik dari dalam diri ini.

Saya mulai lelah dipermainkan oleh si kecewa karena kebodohan si tinggi hati.

Demi Tuhan pemilik Ar-Rasyi, ajarkan saya untuk memperkuat doa, mengisi amunisi....
 karena lelah-lelah, rasa rendah diri, kejenuhan, bosan, keluhkesah, telah mendadak menggerogoti hati.

Didik pribadi ini agar mengencangkan sabuk ikatan imannya, menggantungkan harap padaMu saja, bukan pada makhluk, bukan pada ciptaan, bukan pada manusia.

Jangan menyerah pada kefuturan. Jangan menyerah pada kefuturan. Jangan menyerah pada kefuturan

Terakhir,
Allah.. tetapkan hatiku dalam genggamMu..sibukkan daku dalam kebaikan selalu...
Allahumma aamiin...

Tuesday, September 4, 2012

zimzimzim

saat itu, usia saya masih belia, masih banyak digandrungi kaum muda (?) sebut saja saya, si anak ayam baru keluar kandang, lepas asuhan emaknya, hidup di kegelapan zaman jahiliyah. 
awal masuk SMA, saya bersama gerombolan anak bau kencur yang mulutnya tidak bisa ditutup lebih lama dari lima menit, gentayangan mencari cenayang yang bisa menenangkan arwah ke-berisik-an dan ke-tidak-mau-diam-an kita.

lima tahun lalu, saya adalah bocah yang tidak kenal apa itu mentoring. hingga tahun berikutnya, Allah mempertemukan seorang teteh yang ikhlas saya bully untuk menjadi seorang mentor. mulai dari awal, si teteh  kesusahan mengumpulkan kami satu kelompok karena jadwal kami sudah mirip jadwal artis. beliau yang jauh-jauh dari ITB yang sebenarnya tidak jauh dari sekolah kami datang menghampiri. lambat laun, karena beliau mampu mengikat hati, akhirnya kami yang menghampirinya, jauh-jauh dari sekolah yang sebenarnya tidak jauh dari ITB datang ke Salman untuk memulai curhat berjamaah. curhat?

kalau kami mentoring, bocah-bocah tak tahu diri ini suka merampok jam luang si teteh. mahasiswa tingkat 4 harusnya fokus TA, tapi, hari jumat atau sabtu, biasanya kami memenjarakan teteh di penjara melingkar dari bada dzuhur SAMPAI jam 5 sore. mabok ga tuh mentoring selama itu? engga dong. satu jam teori, sisanya curhat, yeah.


saat masih imutimut

akhirnya, masa bakti kami di SMA selesai. kami harus melanjutkan perjuangan mencari ilmu di perguruan tinggi masing-masing. dan tibalah mentoring wada' dengan teteh, sebelum akhirnya ditransfer ke kampus masing-masing meskipun sebagian masih ada yang di sekolah. 

akhirnya, setelah sekian lama tidak bertemu, dapat kabar mengejutkan jiwa raga, penantian berita tentang pernikahan teteh datang juga. 



mungkin angin terlalu besar, atau terjadi badai katrina, hingga berita ini sampai di kami terlalu mepet. banyak yang sudah ada janji terlebih dahulu, sehingga tidak semua dari kami bisa hadir :(

we love you, teh Nisaul Makhmudah
Barakallahu laka wa baaraka'alaika wa jama'a bainakuma fi khair


dari adik -adik mentor mu yang cantiknya sampai ke selubung myelin (?)
detinnitami :)

Tuesday, August 28, 2012

Hayat


Namanya Hayat. Gadis cantik lagi pintar. Untuk gadis seusianya, hidup di bawah bayang-bayang paham wanita Iran benar-benar mengerikan, paham bahwa seorang gadis tidak perlu menuntut ilmu terlalu tinggi, mereka hanya perlu mengatur  kepastian esok dapurnya  bisa berasap.

Hari itu, segalanya terasa lebih berat. Ayahnya sakit, ibunya harus mengantar ayahnya menemui dokter. Dengan segala tanggung jawab yang melekat, Hayat disuruh menjaga rumah dan adik-adiknya serta dilarang pergi ke sekolah, sekalipun ia telah berteriak bahwa hari itu ia ada ujian penting. Hayat tidak melupakan tugasnya untuk memberi pakan sapi dan ayam ternak keluarganya, memeras susu sapi untuk adiknya, menimba air, dan membereskan rumah.

Dengan segala payah yang ada, satu per satu pintu rumah ia ketuk untuk sekadar menitipkan adiknya yang bayi selama satu jam, sebab ia harus mengikuti ujian. Tapi justru, satu per satu pula kekecewaan ia dapatkan. Sebagian telah pergi ke ladang, sebagian justru menasihatinya untuk tidak perlu bersekolah, gadis seusianya harusnya sudah dilamar. Terpaksa Hayat membawa adik yang paling kecilnya ke sekolah, meminta izin pada penjaga ujian untuk membawa serta Nabat saat ujian. Jelas permintaannya ditolak. Ujian akan tetap dimulai beberapa menit lagi. Hayat dipastikan telat.

Kecerdasaan memang menjadi bagian dirinya, terberkahilah ia. Dengan mengaitkan tali temali, ia membuat ayunan di pepohonan besar dekat jendela kelas, talinya dikaitkan pada kursi Fatimeh, dan bila adiknya menangis, seseorang hanya perlu menarik talinya, maka ayunan itu akan bergerak naik turun. Hati penjaga ujian luluh, tangannya sendirilah yang menarik ulur temalinya. Dengan sisa waktu yang serba sedikit, Hayat mencoba memenuhi keinginannya untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.

Semangatnya memang sempat kering, sekering tanah Iran yang mengerikan. Tapi harapannya kembali bersinar, mematuk dan membangkitkan kembali semangat para kaum Hawa di seluruh muka bumi yang sempat mati suri, untuk menjadi Hayat-Hayat lain yang bermekaran.

Friday, August 24, 2012

The Third Day

Director : Mohammad Hossein Latifi
Stars : Puria Purksorkh (as Reza), Baran Kosari (as Samireh) and Hamed Behdad (as Foad)
Reza dan Samireh

Heart Touching. Unpredictable ending.

Di hari ketiga, barulah Reza menghampiri rumahnya yang kini porak-poranda terhujani bom-bom tak mengenal tuan, rumah dimana tanahnya menyimpan rahasia, bahwa adiknya yang pincang, ia kubur hidup-hidup untuk menyelamatkan nyawa sang adik dari teror membabi buta tentara musuh dalam perang Iran-Iraq.

Samireh, sang adik, menunggu dengan bekal beberapa mili air dan kentang dalam tanah. Menunggu janji abangnya untuk menyelamatkannya, membawanya ke tempat yang lebih aman. Rumah itu menjadi tujuan pengintaian, sebab perapiannya masih panas. Bukti bahwa beberapa saat, baru saja ada yang menyalakannya. Seseorang pastilah bersembunyi.

Cinta dan ambisi memang tidak bisa hidup berdampingan. Cinta bukan ambisi dan ambisi tidak melahirkan cinta. Tapi seorang Foad menginginkan keduanya dalam sekali waktu. Cintanya pada Samireh yang begitu dalam tidak bisa ia dapatkan ketika ia mengejar ambisinya untuk menjadi pemimpin tentara musuh. Karena ambisinya, kaki kekasihnya harus terpisah dari tubuhnya, karena ambisinya, orang tua sang kekasih harus mengakhirkan nafas duniawinya, karena ambisinya, maaf tidak bisa terlontarkan dari mulut sang kekasih, apapun cara yang ia tempuh.

Di hari ketiga, Reza kehilangan satu adiknya lagi, Rasool. Barak pengungsian di luluh lantahkan, penghuninya menemui ajalnya. Tinggal ia dan beberapa orang lainnya yang masih bertahan untuk menjemput Samireh.
Tidak ingin kehilangan, Foad mendatangi rumah itu. berjumpa dengan Samireh yang sudah merasa aman untuk keluar dari tanah yang menguburnya. Perjumpaan dengan sang kekasih yang kini sorot matanya menyiratkan kebencian, padahal dulu, mereka adalah guru di sekolah yang sama, dan Foad pernah mengajukan lamaran pada Reza untuk Samireh.

Cinta tidak untuk dipaksakan. Samireh, Reza, dan orang Iran yang masih bersisa memilih untuk menghadapi Foad dan pasukannya. Dengan kepungan di segala arah, Reza dengan gagah berani menepati janjinya dan melindungi sang adik. Hingga samireh harus merelakan, Reza dan yang lainnya berani untuk mati.

Danau-danau Iran dan rerumputannya menjadi saksi, kala itu mengantarkan Samireh seorang diri merasakan pahitnya kehilangan.

Monday, August 20, 2012

Banaspati


Jangan menoreh pada keasingan zaman, saat kau menjadi pendamba angan-angan

Jangan mengobar-kobarkan api, jika kau setia pada sekam
Jangan mencoba membudaki bumi, ketika kau tak ramah pada alam

Ini Buminya manusia.
Tempat kediaman para Camar
Tempat berteduh para Berang-berang

Tempat berpinak anak Mahoni
Tempat berpulang nenekmoyang Asam Kandis

Apa nian nasib penghuni hutan
dibumihanguskan 
dibuat mati tak wajar
Apa nasib kayu angin, kayu apu, kayu itam, kayu lanang, kayu nasi, kayu putih, kayu rapet, kayu sapi, kayu secang, kayu urip.

Mereka bukan kebetulan ditumbuhkan di Bumi,
Tempat yang kini dipenuhi jiwa-jiwa hamba yang seronok penguasaan.
Sekali waktu ia ambil apa yang menyesakkan perut bumi bertahun silam
Jangan lagi tanyakan siapa atau mengapa
Memang masa untuknya memuntahkan sisa-sisa kebencian 

Ini Buminya manusia
Tempat kediaman para Camar
Tempat berteduh para Berang-berang

siapa kita?
Penghuni macam apa?

Thursday, August 16, 2012

Nomenclatur Ngelantur


Setiap Ramadhan punya cerita. Unik dan berbeda. Sarat kesan, asli, tak mengada-ada. Ia terjadi pada setiap kita. Dimulai saat diri mengikrarkan tekad untuk menyambut ramadhan dengan iman dan suka cita.
Inilah Ramadhan saya. sejak awal meniatkan diri untuk berpuasa penuh, setiap tahun, berganti edisi, namun tetap dengan segenap keistimewaan yang melekat erat padanya.

Inilah Ramadhan saya. Manusia itu spesial, makanya diberi nama. Anda akan memberi nama pada hewan peliharaan bukan hanya karena Anda berperikehewanan, tapi juga karena Anda sayang padanya. Bahkan saya menamai pensil-pensil saya, bukan hanya karena saya menyayanginya, juga karena saya tidak mau kehilangannya… (males beli lagi). (gapunya uang) (mending beli semangka)

Maka Ramadhan yang teristimewa pun, masing-masing punya ‘nama’. 
Belasan tahun yang lalu, menahan dahaga adalah ujian paling berat. Melihat air es lama-lama bisa membuatnya gerah. Bocah itu menamakan Ramadhan di usia dininya sebagai Ramadhan Uji Coba.

Ramadhan berganti Ramadhan. Sampailah kita pada Ramadhan dua tahun yang lalu. Beritikaf dan berbakti sosial ramai-ramai. Ramadhan cikal bakal mengenal manisnya cinta manusia karena Allah. Menggenapkan segala titik-titik yang ada di sepanjang garis lurus yang kokoh bernama ukhuwah islamiyah. Maka, Ramadhan kali itu saya beri nama Ramadhan Ukhuwah.

Ramadhan tahun lalu,ramadhan untuk merenda mimpi baru. Mengisi buku harian dengan menulis besar-besar “detin ingin sukses, detin mau sukses, detin harus sukses.” Menambahkan : ayo jadi anak yang sholehah, pelajar yang baik, istri yang berbakti, ibu yang teladan, dokter gigi yang cekatan. Maka Ramadhan kali itu diberi nama, Ramadhan Mimpi.

Tahun ini, pasti ada sesuatu yang baru. Dan itu terasa ketika Ramadhan hendak pamit meninggalkan. Di penghujung bulan suci, saya mulai merasa ada satu tema di Ramadhan kali ini. Entah karena seringkali dicekoki materi tentang al-quran, entah karena target tilawah yang ditingkatkan, entah karena melihat tulisan dan tayangan yang mengenyuhkan. Semuanya, serasa satu tema. Yaitu Al-Quran. Jadi Ramadhan tahun ini namanya, Ramadhan Al-Quran.

Saya tidak bermuluk-muluk, saya cuma ingin bercengkrama lebih akrab dengan al-quran.  Mengenalnya lebih dalam. Ta’aruf, lalu melamar. (???) ini quran atau jodoh -___-  baiklah, selama ini saya hanya bertemu dengannya sekali-sekali,sekali selepas magrib, selebihnya dia manis tertutup, tersimpan di tas yang saya bawa kemana-mana. Aneh, selalu dibawa tapi jarang dibuka. Grrrr

Kali ini ditegur habis-habisan. Habis saya sama teguran. Teguran menghabisi saya. saya teguran habis-habis. Tegur-tegur habis sama saya.  Habis-habis saya sama tegur. Aaaaakk, saya kenapa…  Ramadhan tahun ini, saya merasa dapat ilham (siapa diaaa??? Anak tetangga? :O ). Hidayah itu turun begitu saya menyadari di luar sana banyak sekali orang yang sedang tertatih-tatih berbanjir  peluh (?) menghafal alquran.

Rasulullah saw bersabda:”Bacalah al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat nanti memberi syafaat bagi orang yang membacanya.”(H. R. Muslim).

Rasulullah Saw bersabda, ”Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari al-Qur’an dan yang mengajarkannya” (H.R. Bukhari).

Rasulullah saw bersabda : ”Orang yang pandai membaca Al-Qur’an akan ditempatkan bersama kelompok para Malaikat yang mulia dan terpuji. Adapun orang yang terbata-bata dan sulit membacanya akan mendapat dua pahala.” (H.R Bukhari & Muslim).

Rasulullah Saw bersabda: ”Barangsiapa yang membaca satu huruf Kitabullah maka ia mendapat satu kebaikan, dan satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tapi alif itu satu huruf(H.R at-Tirmizi)

Rasulullah saw bersabda: ”Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah (al-Qur’an) dan mempelajarinya, melainkan ketenangan jiwa bagi mereka, mereka diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan para Malaikat yang ada di sisi-Nya.” (H.R Muslim).

Jelas kan? Intinya, saya cuma mau lebih bersahabat dengan Al-Quran. Mambacanya, menghafalnya, terpenting, mengamalkannya. Semoga Allah memberikan kemudahan. Aamiin

Pada tulisan ini, saya resmikan : detin, sahabat Quran. *prokprokprok* *gunting pita* *potong tumpeng*  sah??? SAAAAAHHH…. *tandatangan surat nikah* (?????)

Thursday, August 9, 2012

Aterek-Aisunam

pada masanya, anak-anak kecil bergegas memakai baju koko atau mukena barunya. berlarian menuju masjid tercinta yang terselimuti jingganya kanvas langit senja. bedug mulai ditabuh. speaker berulang kali di tes,"tes..tes..satu..dua..satu..dua."
dan tinggal beberapa hari lagi, saya akan melihat fenomena itu lagi, jika Allah berkehendak. Setelah perjuangan sepuluh hari terakhir, dimana setoran tilawah digeder-geder, itikaf menjadi hal yang dinanti-nanti. maka setelah itu, di rumah sudah pasti akan ada kulit ketupat yang siap untuk diisikan beras, artinya, lebaran semakin mendesak keluar.

tentang lebaran, tentang mudik. sebelumnya saya tidak bisa terima hipotesis ibu saya yang menyatakan bahwa saya tidak pandai dalam permudikan.Saya yang masih kecil (?) dari awal sejarah mudik, hingga beberapa tahun lalu -menolak keras kalau hal ini terjadi sampai sekarang- selalu tertidur sepanjang perjalanan. Saya mulai menguji coba dan bereksperimen dengan hipotesis ibu saya (?)

ternyata, dalam catatan perjalanan hidup seorang detin nitami, tidak banyak momen romantis saat dalam perjalanan. Kecuali jika dalam perjalanan dengan teman-teman, yang itupun dipaksakan untuk tidak tidur, dengan alasan : m-a-l-u. Selebihnya, saya rasa tidak ada yang cukup menarik perhatian dalam perjalanan panjang selain, tidur.

satu jam awal, saya yang dengan kondisi baru mandi, segar, masih menikmati pemandangan jalanan yang monoton. Saat posisi kepala semakin nyaman dengan kursi, otot-otot mata saya mulai relaksasi, pusat rasa kantuk di otak saya aktif sekatif-aktifnya, dan akhirnya, tertidur. 

saya mulai semakin meyakini hipotesis ibu saya, saat saya berpergian dengan mobil, dengan angkot -tertidur dalam angkot (?)- dengan bis, dengan kereta, bahkan dengan pesawat yang notabene tidak setiap waktu saya bisa naiki, saya tetap tidur.

mungkin di dunia ini banyak hal yang mudah dilakukan, seperti membalikkan telapak tangan atau merangsang saya untuk tertidur. saya tidak pernah butuh obat tidur, saya tidur kapanpun saya mau...dan dimanapun -,-
tapi semakin dewasanya saya, saya mengurangi intensitas tersebut -pembelaan diri-
kalau dulu naik kereta, beberapa hal yang bisa saya lakukan adalah tidur, atau melihat barang bawaan orang lain, atau mengumpulkan tiket kereta yang orang buang sembarangan lalu mengumpulkannya ke dalam tas. Tas menjadi tidak jelas fungsinya :( sekarang, saya jadi senang naik kereta, sambil membaca buku, memberi garis bawah atau stabilo pada kata-kata yang menjadi inspirasi, kemudian merenung seperti seorang penyair yang hendak menuangkan kata, merenung......merenung....merenung...........kemudian tidur. aaaaakk &*^%$#@!*()&^

haha, interupsi! kalimat terakhir tidak (kurang) benar :p saya akan merenung, merefleksikan hari-hari saya kebelakang yang memang kering prestasi. Lalu mengajak ngobrol diri sendiri, terkadang seperti orang gila yang manggut-manggut sendiri.

memang kurang jelas korelasi antara kereta dan penyakit tidur. karena di kereta indonesia jarang ditemukan lalat tsetse. Dan sebagian kecil waktu saya memang habis di kereta. Ah, Saya memang manusia kereta.

sleep in the train :D

jadi, hipotesis ibu saya hanya berlaku sementara. saat ada eksperimen lebih lanjut yang menggugurkan si hipotesis. ternyata saya bisa tidak tertidur, kalau menemukan hal yang menyenangkan,
mungkin salah satunya, berbincang selama perjalanan, bersama.... kamu (?)

Tuesday, August 7, 2012

GENTALA

dalam artikulasi sebuah pertemuan, ada frekuensi yang saling melemahkan.
tentang pelaku, tentang sistem, tentang para bayangkara
begitupun kesalahsasaran tentang objek yang menjadi tujuan perkara
manusia dituntut untuk menjadi hamba yang menghamba, menjadi insan yang bermanfaat
maka, sekali waktu, kita berlomba untuk menebar manfaat di muka bumi yang semakin tua dan bosan diperhambakan.
pemuda, adakalanya seperti kita, hidup dan merasa dihidupi oleh lingkungan luar,
oleh kampus, oleh organisasi, oleh kamar singgah, oleh tempat perkumpulan teman-teman dekat.
hingga dua puluh empat jam habis tersita dengan segudang aktivitas, kadang lupa bahwa diri punya tempat pulang bernama rumah.
dimana ibu merindu, ayah menunggu, adik kakak sanak saudara berharap mendengar monodrama tentang pagi hingga kembalimu.
kita merasa repot, merasa sibuk,
haa, sibuk bermanfaat untuk orang lain, untuk yang di kampus sana, di organisasi sana, di tempat perkumpulan sana.
terkadang,  ibu ayah saja masih terbengkalai
boleh jadi kita berlomba menjadi sebaik-baik manusia : yang paling bermafaat
tapi ada pemahaman yang harus kita pertanyakan, tentang objek yang menjadi tujuan utama
sudikah, bila yang terdekat terlalaikan haknya untuk diberi manfaat?
di batas waktu untuk mereka yang serba terhimpit, serba sempit, serba sedikit
seyogyanya kita meluangkan diri memenuhi tuntutan kebermanfaatan
untuk orang-orang terkasih terlebih dahulu
merekalah yang seharusnya merasakan hadirnya kita, lebih dari siapapun.

kita bukan gentala,
kita adalah nahkoda, kita adalah masinis, kita adalah pilot
kita yang menentukan, kemana saja arah kendaraan iman akan dimanfaatkan.

Saturday, July 14, 2012

baladabollybolly

Perkenalkan, saya adalah korban film bollywood. Sejak kecil, saya dan Inggi, sepupu saya suka mengoleksi film-film yang dibintangi Shahrukh Khan, Kajol Devgan, Rani Mukherjee, Salman Khan, Amir Khan, Preity Zinta, Aishwarya Rai, Amisha Patel, Juhi Cawla, Madhuri Dixit, Kareena Kapoor besarta Kapoor family, dan sederet artis bollywood jaman 'agak dulu' yang ngetren tahun90an -awal tahun2000an.

Saya ingat saya pernah berlari dengan semangat khas anak kecil lomba balap karung agustusan untuk menemui om saya yang sedang menawarkan film india teranyar pada waktu itu, judulnya Chori-Chori Chupke Chupke. Saya suka film india dengan tanpa alasan yang jelas. terlebih ketika melihat film Shahrukh Khan jaman duluuu banget, Jaman rambutnya masih gondrong. ceritanya si Shahrukh jadi bisu gegara dicekokin bara panas ke mulutnya oleh para pembunuh orang tuanya. Itu film... asliii rame banget, sayang saya ga inget judulnya.

Saya memfavoritkan film Lagaan. Karya Amir Khan, dan dibintangi oleh Amir sendiri. Berkisah tentang perjuangan rakyat india, pada sebuah desa dibawah jajahan Inggris, saling beradu permainan kasti. Para konglomerat Inggris yang kesehariannya memang berlatih kasti harus dipaksa mengakui kekalahan pada Amir en de geng. Lalu putri konglomerat inggris jatuh hati pada amir, sayang, amir sudah memiliki kekasih hati. Hiiiks. 

Dan masih banyak lagi judul film india yang saya sukai. Kalau jaman 2010 keatas, ada film Slumdog Millionaire, Three Idiots, Taare Zameen Par, dan kawan-kawannya.

Saya ingat, waktu SMA, saya harus mengorbankan tidur jam 1 malam setiap malam rabu untuk melihat film india di salah satu stasiun tv swasta. Dan saya ternyata punya teman satu kelas yang juga gila bollywood, maka keesokan harinya, saya dan dia akan menjadi alien yang sedang berdiskusi tentang rencana pembangunan rumah (?) Kami akan berkicau seperti semalam baru saja menonton konser artis luar negeri, padahal hanya menonton film yang sebenarnya sudah kami tonton berulang kali. Bahagia itu memang sederhana (?)

Kalau gerimis datang, ketika saya masih mengayuh sepeda mini untuk mengelilingi komplek perumahan, saya dan teman-teman akan berteduh. Tapi saya tidak bisa menahan diri untuk tidak menari di bawah hujan. Saya ingat tarian chak dhoom dhoom di film dil to pagal hai, anak-anak menari di bawah hujan. Selagi saya tidak bisa bermain di film itu, karena saya bukan artis, karena saya tidak mirip artis, karena saya tidak tinggal di india, dan karena saya buruk dalam menari, maka saya mengizinkan tarian tersebut saya rusak sesuka hati saya. Yang jelas, teman saya jadi ikut membasahi dirinya, dan menari, memegang pohon, ketika saya memiringkan badan ke kanan, dia memiringkan badan ke kiri. Seperti bermain cilukbaa. Oh, India sekali.

tarian chak dhoom dhoom *HAHA*

Cukup, cukup. Karena setelah kegilaan itu, saya harus menghadapi ibu saya, menjelaskan bahwa anaknya heroik sekali, menerjang hujan demi cepat pulang, padahal.... ya begitulah.

Tuesday, July 10, 2012

trisula


Biarkan saja..
Biarkan perkutut dan belalang saling berkasih-kasih
Saling bersahutan, girang gemirang.
Biarkan saja, seruling ditiupkan di tengah-tengah perkumpulan wanita-wanita tua,
Yang  saling menyisir rambut-rambut halus sembari mendendangkan suka duka masa silam
Bercerita, berkisah..
Biarkan saja.
Biarkan saja, bakul-bakul terisi penuh butir-butir penghidupan mereka,
Tanah menyerap berkah hujan, petak-petak sawah menyuburkan perut-perut orang cinta kesederhanaan.
Kerbau miliki tuannya, tuan miliki kerbaunya.
Cinta miliki tempatnya, kasih tempati jiwanya.
Biarkan,
Biarkan, anak-anak berlari mengejar ayam-ayam kampung saat langit sore mulai menyuruh ternak-ternak memasuki kandang mereka
Gadis-gadis akan menutup  jendela rumah ibunya, menyalakan lampu pekarangan, menyuguhkan air hangat dan membersihkan diri.
Biarkan..

Sementara,
Untuk khias, 
asap-asap menyebar saling menyelimuti rumah-rumah damai dalam kepenatan kota besar
Saling meniadakan aroma nafas budak-budak pesawahan yang menjaga bijih tetap mekar.
Untuk maya, 
tembok tinggi buang jauh bayang-bayang nyata, yang mencakar langit, menghujam perut bumi.
Darinya lahir percakapan kosong, senyuman dingin, cipta fatamorgana di ujung jalan beraspal.
Untuk malam, 
trisula-trisula dengan tiga mata tajam
menunggu di persimpang jalan.
ibu kehilangan anak, anak kehilangan ibu.
istri tak lagi bersuami, suami tak lagi beristri.
majikan menganjingkan manusia, majikan memanusiakan anjing.
lama-lama
Burung-burung  kian menggali kuburnya sendiri
Penat-penat bergantian memberikan salam.
Kebosanan mulai meraja,
Mengendus,
Mengakar,
Lalu masuk di portal hidup segerombol besar insani.

aku mau pulang.
disini banyak orang jahat.

Wednesday, June 27, 2012

EMBARA


Suatu hari, sesampainya di laut, kuda mencari tuannya, dan semut semut hitam besar menertawakan sikap kuda

Di pasak tiang menggantung jubah-jubah tua tak bertuan, pohon-pohon kelapa tak henti melambaikan diri dan pasir-pasir kecoklatan menggigil terhempas ombak yang membuncah ruah senja itu.  si kuda setia menjaga jubah tuannya. Yang ditunggu tak kunjung datang.

Angin malam lantas menggoda, sebab sinar matahari sudah ingin beristirahat. Desir ombak kian jelas, hingga ujung sepatu kudanya terkikis air asin itu, tapi hatinya terasa sudah lebih dahulu membeku.

“tetaplah disini menunggu kedatanganku” adalah sabda si tuan ketika terakhir kali meninggalkan kudanya sendirian. Tuan tahu akan ada badai, dia memberi kesempatan kudanya untuk memilih. Menunggunya atau mempersilakan  berlari mencari naungan.

Dan kesetiaan kini butuh pengujinya. Si kuda dengan harap-harap cemas masih menanti kembalinya si tuan. Ketika alam kian memberi isyarat, hatinya mulai goyah, kini ia payah. Hatinya bergemericik, tenggorokannya kian mencekik. Ia hampir pada putusan untuk berlari.

Namun, ia mengingat apa yang telah dilakukan dan diberikan tuannya selama ini, mengingat bagaimana ia dibesarkan dan dihidupkan, nuraninya tidak bisa bergeming, menolak fakta, apalagi membalikan sejarah. Bahwa rasa berterimakasih akan melekat erat dalam memori seseorang, butuh pengorbanan memang, bagaimana hari-hari si tuan disibukan oleh kebutuhan kudanya, namun ganjaran atas apa yang diberi adalah lebih bertingkat untuk setiap apa yang didapat kembali. Bahkan terkadang, diluar ekspektasi seorang makhluk.

Masa penantian itu berakhir sudah, saat tuannya telah kembali. Perjuangan sang kuda melawan dinginnya malam dan derasnya ombak membuahkan hasil : bahwa sang tuan kini lebih mempercayainya. Setiap kelelahan, akan ada ganjarannya. Dalam bentuk apapun. Bahwa hati nurani yang paling bening sejatinya akan menolak penghianatan. Bahwa keistiqomahan dalam segala masa, butuh sisi pengujinya…


Saturday, June 9, 2012

Mencari Pahlawan Indonesia

Tantangan adalah stimulant yang disediakan oleh Allah untuk merangsang munculnya naluri kepahlawanan dalam diri manusia.

Naluri Kepahlawanan lahir dari rasa kagum yang dalam dari kepahlawanan itu sendiri. Hal ini akan menggoda sang pengagum untuk melihat dirinya sembari bertanya, Apa engkau dapat melakukan hal yang sama? 
Naluri kepahlawanan adalah kekuatan yang mendorong munculnya potensi-potensi tersembunyi dalam diri seseorang, kekuatan yang berada dibalik pertumbuhan ajaib kepribadian seseorang.

Keberanian adalah kekuatan yang tersembunyi dalam kehendak jiwa, yang mendorong seseorang untuk maju menunaikan tugas, baik tindakan maupun perkataan, demi kebenaran dan kebaikan, atau untuk mencegah suatu keburukan dan dengan menyadari sepenuhnya semua kemungkinan risiko yang akan diterima.
Sebagian dari keberanian itu adalah fitrah yang tertanam dalam diri seseorang dan sebagian lagi biasanya diperoleh melalui latihan.
Nasehat Umar, Ajarkan sastra kepada anak-anakmu , karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.”
Roh kebenranian itu dapat mematikan semangat perlawanan musuh.

Kesabaran adalah nafas yang menentukan lama tidaknya sebuah keberanian bertahan dalam diri seorang pahlawan.
Keberanian adalah aspek ekspansif dari kepahlawanan, akan tetapi kesabaran adalah aspek defensifnya. Kesabaran adalah daya tahan psikologis yang menentukan sejauh apa kita membawa beban idealism kepahlawanan dan sekuat apa kita mampu selamat dalam menghadapi tekanan hidup.
“Sesungguhnya kesabaran itu hanya pada benturan pertama.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Qayyim berkata, “Sampai akhirnya kesabaran itu sendiri yang gagal mengejar kesabarannya.”

‘Amr bin ‘Ash memaknai keterampilan berpolitik seorang pemimpin: “jika seorang pemimpin tahu bagaimana memasuki suatu urusan, maka ia harus tahu juga bagaimana cara keluar dari urusan itu, sesempit apapun jalan keluar yang tersedia.

Strategilah yang menentukan nilai dari sebuah pekerjaan.
Nasehat Abu Bakar untuk tentara yang akan berperang, “Carilah kematian, niscaya kalian akan mendapatkan kehidupan.”

Kata Sayyid Quthb dalam sebait puisi:
Saudaraku, kalau kau teteskan air matamu
Kau basahi pula nisanku dalam sunyi
Nyalakan lilin-lilin dari tulang belulangku
Jalanlah terus ke kemenangan abadi

Imam Syahid Hasan al Banna berkata: “jangan pernah melawan sunatullah pada alam, sebab ia pasti mengalahkanmmu. Tapi, gunakan sebagiannya untuk menundukkan sebagian yang lain, niscaya kamu akan sampai tujuan.”


Harapan, seperti kata Rasulullah saw, adalah rahmat Allah bagi umatku.jika bukan karena harapan, tak kan ada orang yang mau menanam pohon dan tidak ada seorang ibu yang mau menyusui anaknya. Harapan adalah buah dari dari kepercayaan akan rahmat Allah dan juga kepada kemampuan Allah SWT melakukan semua yang Ia kehendaki. 

Krisis adalah takdir semua bangsa. Ia tidak perlu disesali. Apalagi dikutuk. Kita hanya perlu meyakini sebuah kaidah, bahwa masalah kita bukan pada krisis itu. Tapi pada kelangkaan pahlawan saat krisis itu terjadi. Itu tanda kelangsungan hidup atau kehancuran sebuah bangsa. 




 Anis Matta dalam bukunya Mencari Pahlawan Indonesia (2004). 

Saturday, June 2, 2012

Signe de l'amour


-Di Bawah Naungan Cinta-

Dalam cinta ada tanda-tanda. Orang yang cerdik mampu mengenalinya, dan orang yang cerdas mampu menunjukkannya.

Tanda pertama dalam cinta adalah pandangan mata. Melalui pandangan mata rahasia-rahasia jiwa bisa diungkap, pesan-pesan jiwa beserta kedalaman isinya bisa disingkap.
Selanjutnya, tanda-tanda jatuh cinta bisa dilihat dari sebuah percakapan. Orang-orang yang jatuh cinta akan melayani percakapan orang yang dicintainya. Ia nyaris tak mau melayani pembicaraan orang lain, selain ia yang tercinta.

Tanda-tanda cinta lainnya bisa dilihat dari gerakan tubuh orang-orang yang jatuh cinta. Tanda berikutnya adalah keraguan sekaligus kegembiraan yang tergambar dari wajah kala tiba-tiba bertemu dengan sang pujaan atau ada kegugupan manakala berpapasan. Juga ia mengerjakan segala perbuatan yang biasa dilakukan sang pujaan.

Amboi! Cinta telah mengubah orang yang bakhil menjadi dermawan. Cinta telah mengubah sang pendiam menjadi banyak bicaranya. Cinta telah mengubah sang penakut menjadi sang pemberani luar biasa. Cinta telah mengubah sang buruk perangai menjadi berbudi mulia. Cinta telah mengubah yang tadinya malas berhias menjadi pesolek di depan kaca. Cinta telah mengubah si miskin berlagak kaya. Cinta telah mengubah si tua berlagak muda. Cinta telah mengubah sang pecundang menjadi pemenang. Dan itulah cinta!
Sesungguhnya, cinta merupakan sesuatu yang bersemayam dalam jiwa. Bisa jadi, seseorang jatuh cinta karena suatu “sebab”. Namun cinta jenis ini tidak akan abadi. Orang yang mencintai kita dengan  suatu “sebab”, cintanya akan berpaling seiring menghilangnya “sebab” itu. —semisal, kita mencintai seseorang hanya karena keindahan fisiknya semata, seiring bertambah usianya dan meluntur kecantikkan wajahnya, cinta itu bisa saja hilang.

Adapun cinta yang kekal, yang paling utama adalah cintanya dua orang yang saling mencintai karena Allah semata…


Ibnu Hazm El Andalusy

Friday, June 1, 2012

BAHAGIA ITU SEDERHANA


Selamat siang J

Lapor, Jenderal. Hari ini aku mau berbagi kisah lagi denganmu.

Jadi begini, kalimat “bahagia itu sederhana” kini ramai mengisi hari-hariku. Awalnya aku tidak paham makna dahsyat dibalik kalimat yang tersusun dari tiga kata itu. Sampai pada waktu ketika aku harus membantu seorang teman mengatasi masalahnya, memberinya solusi, dan menawarkan pundak untuknya berbagi. Aku tidak bisa mendeskripsikan bagaimana rasa yang menguasai diri pada saat-saat seperti itu, tapi kalimat sederhana itu mampu, Jenderal. Dengarlah, rendahkan hatimu..… bahagia itu sederhana. Demikian bunyinya. Apa kamu suka? J

Laporanku sebelumnya tentang ketidakbersyukuran akan apa yang aku punya, nyata bisa diperbaiki karenanya.  Jadi, ternyata saat hujan tak mampu menyiramnya, gerimispun memadai aku korelasikan dengan bahagia itu sederhana, meskipun terdengar sedikit aneh. Tapi tak apalah.

Kita bisa mencari bahagia tidak hanya di ibu kota Kerajaan Mimpi dan Cita-Cita. Kita bisa menemuinya disudut bahkan di pelosok desa terpencil sekalipun. Semisal bahagianya ketika aku berhasil menemukan gunting kukuku lalu memotong pendek kuku jariku yang sebelumnya panjang dan kotor, ketika aku bisa mendapati salah satu jerawatku mengundurkan diri dari jabatannya di kancah mukaku, ketika mendapati kamar yang habis dibombardir bom buku dan makanan kini bersih mengkilat, ketika bisa menikmati buah semangka dingin tanpa biji malam tadi, ketika bisa bersama dengan orang tua dan melalui malam bercerita dengannya, atau ketika menyadari bahwa Allah masih menginginkanku ada dalam kebaikan… itu, membuatku gembira. Dan mereka adalah hal-hal kecil yang kadang kita lupakan.

Aku terlalu berfokus pada kebahagian “besar”, semisal cita-cita yang dibuat teoritis di atas kertas yang ditempelkan di kaca kamarku tercapai, barulah aku merasa bahagia itu ada. Ternyata, hal itu hanya akan membuat jatah umurku di dunia diisi oleh kebahagiaan sebanyak cita-cita yang tergapai saja. Lalu, setiap detiknya hambar terlalui.

Ah jenderal, aku mengerti bahwa hal besar lahir dari hal-hal kecil. Kebahagian-kebahagian yang sederhana itu membawaku untuk menikmati bahagianya bersyukur, lalu semuanya terbungkus manis dan indah selayaknya paket lebaran dari para menteri kepada presiden untuk menarik hatinya. Semuanya terbungkus rapi oleh bungkusan kebahagian tertinggi, yaitu kebahagiaan akan melekatnya iman dan islam dalam setiap nafas kita…

 Begitu kan, Jenderal?


Saturday, May 19, 2012

sumdokgi


Ketika senyum merekah di bibir mereka, adalah tanda perjuangan yang menguras rasa cinta, emosi, waktu, mimpi dan citanya. Bukanlah hal yang lumrah ketika tigaperempat windu dihabiskan untuk mempelajari ilmu yang Allah selipkan diantara tataran ilmu-ilmu lain. Ketika mereka disumpah untuk mengabdi pada rasa kemanusiaan, kehormatan diri dan profesi, dalam satu momen sejarah hidup mereka, dalam sebuah prosesi sumpah dokter gigi.

Heee. Jangan terlalu serius, hehe.
Saya tidak berniat merunutkan setiap segmen acara, setiap bait kalimat pembicara, ataupun setiap bunyi lantuan suara. Karena saya tidak digaji untuk membuat notulensi acara. Baiklah, karena saya bermurah hati, saya mau berbagi sedikit kisah kasih (?) yang saya temukan di tempat kejadian perkara ketika mba-mba, mas-mas, bapak-bapak, dan ibu-ibu sedang menjalani prosesi sumpah dokter gigi dan spesialis.

Sip. Intinya, balik lagi ke prolog. *jadi tulisan ini tak berinti -___-*

Masih lama. Masih sekitar lima tahun lagi, baru merasakan bagaimana rasanya, sumpah setia kita digemakan di ruangan besar disaksikan oleh puluhan pasang mata dan tentu saja dicatat baik-baik oleh malaikat untuk kemudian dipertanggungjawabkan setiap kata yang terucap dalam sumpah tersebut kepada Allah Azza wa Jalla.

Ketika detik-detik sumpah itu disuarakan, lalu ditutup oleh isak tangis para wisudawan saat melewati momen persembahan untuk orang tua tercinta. Ketika mereka menciumi wajah ayah bundanya, mengenang perjuangan orang tuanya membesarkan diri mereka hingga detik itu, dunia mencatatnya sebagai lulusan dokter gigi. Seluruh ruangan mengharu biru, kendatipun saya tak mengerti bagaimana kuatnya rasa bahagia itu, setidaknya saya mencicipinya sedikit, ketika tiba-tiba ternyata air mata saya ikut menetes bahagia melihat kakak-kakak di tengah ruangan sana akhirnya memulai karir hidupnya yang baru, pun ketika teringat wajah mama dan ayah di rumah, bahwa suatu hari nanti, mereka pun akan berdiri disana, memandangi putrinya dengan rasa bangga, dan diri ini akan membaur menjatuhkan rasa suka gembiranya pada bahu-bahu perjuangan ayah dan belai-belai kasih sayang mama…

---------------------------------------------------------------------------------
Lalu…byar!!! Buyar. Rasa gundah nya kini berganti setting.

Ketika ruangan telah steril dari rasa haru yang melanglang buana, kini sesi nya hepi-hepi. Foto sana foto sini, gaya sana gaya sini. Ruangan mendadak seperti sedang hujan lebat, banyak petir buatan kamera terpancar menuju mata-mata penikmat foto. Yah, bahagia.

Seorang wisudawan cantik dibalut kebaya anggun, berjalan menggendong seorang bayi kecil, mendekati seorang pria di ujung kursi sana yang sedang menikmati jamuan makan. Ceeees! Lamunan saya melayang-layang, sepertinya bahagia ya rasanya ketika disumpah menjadi seorang dokter gigi, sudah ada pasangan yang menunggui, yang ikut bahagia, merasakan perjuangan itu, karena senantiasa membersamai…

Maaf ya, jadi ga nyambung ceritanya. Jadi intinya, saya liat sudah ada yang berkeluarga saat jadi dokter gigi, terus saya jadi ingin cepet lulus. Iya begitu maksudnya. Huft. kalau tidak puas dengan ceritanya, ya itu bagus.

Sunday, May 6, 2012

Nostalgila

Widih, dahsyat! melihat foto-foto lama kembali, membuka catatan-catatan yang rapi tersimpan dalam locker otak sejak lama,dor! bercokol keluar.
Menemukan harta karun dari negeri tempat kuda delman bersahaja dipekerjakan dan batu-batu setia pada tuannya membuat undakan demi undakan, dari negeri dimana harga cumi asam manis hanya limaribu rupiah saja, dari negeri tempat bencong dengan leluasa memamerkan  jakun, bulu kaki, dan bulu dadanya, menyanyi dan menari di pinggir-pinggir pedagang  yang menjajakan batik-batik negeri atau dipinggir orang-orang yang melahap lapar makanannya, dari negeri yang katanya banyak berdiri perguruan tinggi, iya, dari Jogjakarta.

Tidak pernah ke Jogjakarta dengan rencana liburan, selalu karena ada agenda hal perihal lain. diantaranya karena studi banding, atau karena perlombaan. Melihat foto yang satu ini, mengingatkan saya pada salah satu kejadian dan pengalaman paling menyenangkan selama sembilan belas tahun saya menghirup oksigen.
Hari itu, saya dipanggil teman saya untuk diikutsertakan dalam perlombaan tahunan Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, yaitu NOMS (National Olympiade of Medical Science) –perlombaan medical science lingkup Nasional. Bengong! BINGO! Medical science? Are you kidding me??? Saya, seorang yang buta masalah dunia per-biologi-an apalagi per-kedokteran pada saat itu cuma bisa nanya, is that serious?
Jadi ternyata, perlombaan ini tidak murni 100% mengenai biologi kedokteran, sekitar 10% diantaranya membahas kimia dan 10% lagi membahas fisika. Saya yang notabene dulu di SMA adalah orang yang ikut (-ikutan) olimpiade fisika, diajak guru pembina, Bu Budi, untuk ikut lomba ini.
National Olympiad of Medical Science 2011
Syukur alhamdulillah ada yang mau menerima saya sebagai anggota kelompok, haha (padahal dipasang-pasangin sama Bu Budi sih -__-) saya sekelompok dengan Della dan Agustina. Mereka berdua memang spesialisasi olimpiade biologi. Setau saya, semua yang ikut memang ahli biologi (mungkin kecuali saya, marcel, tuba yang dari fisika dan gema yang dari kimia, tapi mereka semua kecuali saya udah master tingkat langit ketujuh)

Singkat cerita, SMAN 3 Bandung mengirimkan banyak tim. Seleksi awal dilaksanakan. Oh, biadab! sungguh terlalu. Seleksi awalnya bukan secara tim, melainkan individu. Setiap individu dari masing-masing tim akan di tes mengisi soal pilihan ganda sendiri-sendiri, yang nantinya nilainya akan diakumulasikan dengan anggota satu tim lainnya. Parahnya, itu soal tipe minus, kalau salah minus, kalau tak diisi kosong, kalau diisi ya dapat poin. Kalau sampai saya memberikan skor akhir minus, mau dibawa kemana pertanggungjawaban saya pada kelompok saya??? huuuh. Allah menakdirkan soal-soal yang saya isi benar. Keajaiban! Akhirnya tim saya lolos seleksi awal.

Ada lima tim dari SMAN 3 Bandung yang lolos ke Jogjakarta. Sekitar tiga hari kami menginap di Jogja. Kami pergi membawa amanah besar, sebab tahun lalu, SMAN 3 Bandung menjadi juara umum, dan membawa pulang piala bergilir. Tahun itu, harusnya kami mempertahankan piala besar itu menetap di ruang dimana piala-piala dikoleksi di sekolah kami.


dendra yang terobsesi membawa balik piala bergilir


pria-pria galauu




suasana di kereta
Sesampainya di stasiun Jogja, saya bingung, lho ini sebenarnya lomba atau pengajian? Kami pergi ke mushola stasiun untuk sholat ashar, kemudian membuka almatsurat dan membacanya bersama-sama. SUBHANALLAH! Ternyata MAYORITAS –tidak semua- dari kami yang lolos adalah anak DKM! Bravoooo!
membaca almatsurat selepas ashar :')

Mari saya perkenalkan mereka. Mereka semua calon orang-orang sukses, sungguh, insyaAllah
Tim 1 : tuba (STEI ITB), dendra (STEI ITB), Nucifera (SF ITB)
Tim 2 : Astika (FK Unpad), Iqbal (masih kelas 3), Marcel (FTSL ITB)
Tim 3 : Juan (HI Unpad), Citra (FK Unpad), Candra (STEI ITB)
Tim 4 : Della (FTI ITB), Agustina (masih kelas 3), detin (FKG Unpad)
Tim 5 : Lisha (FK Unpad), Gema (FTMD ITB), Fitri (Teknik Mesin National University of Singapore)
Aaaaah, keren kan merekaaaa..
Kami menginap di penginapan langganan SMA 3 kalau ikut NOMS (katanya), lupa apa nama penginapannya, tapi bagus hehe.

lobby nya kali ya
Nah, seleksi berikutnya, menjawab soal dengan batas waktu sekian detik di layar yang akan menghilang dengan sendirinya jika waktunya habis. Alhamdulillah saya setim dengan wanita lemah lembut cangkang keok, anggun gemulai bak putri solo. Mereka mengerti bahwa kompetensi saya bukan di biologi, saya akan menjawab sebisa saya, terutama dalam soal hitungan. Ketika ada soal biologi yang sulit, mereka akan mendiskusikannya berdua, saya manggut-manggut saja, giliran ada soal hitungan saya belepotan ngitung.

Dari lima puluh tim (kalau ga salah) yang lolos ke Jogjakarta senasional, akan diseleksi menjadi duabelas tim saja. Setelah ikhtiar dimaksimalkan kami tawakal, karena soalnya isian, bukan PG jadi ga bisa ngasal.  Lalu menunggu pengumuman membuat perut mulas. Tau? Tim kami pesimis lolos. Apalagi saya, mental awal aja datang kesana untuk memenuhi tuntutan tim, bukan karena ada passion untuk menang, sama sekali tidak. Sebab, Bu Budi sudah mendesain dua kelompok teratas (kelompoknya tuba sama marcel) sebagai tim unggulan, ya mungkin sisanya hanya beruntung lolos seleksi awal saja hahaha *miris* iya lah, secara, tim 1 tuba, nuci, dendra masteeer biologi semua, tim 2 marcel, astika, iqbal pinternya ga kebayang lagi.

Pengumuman ditempel di mading sore harinya, semua berkerumun, anak sekolah lain ada yang memanggil-manggil teman satu timnya melaporkan bahwa mereka lolos, ada juga yang dengan berbesar hati menerima nomor timnya tidak ada di list mading.

Suer, saya asli sakit perut mendengar bahwa ternyata : yang lolos itu adalah dua tim terakhir!! Tim yang sama sekali tidak pernah dibayangkan akan lolos dua belas besar. Artinya, tim saya lolos!! ALLAHUAKBAR!! Terlihat wajah kecewa jelas di wajah Bu Budi, mungkin beliau berfikir kami tidak bisa banyak diharapkan -___-. Apa ini? Ada konspirasi apa? mengapa dua tim jagoan tidak lolos??? Kenapa oh kenapa? Saya ingat sekali wajah dendra yang membawa misi kemenangan sejak keberangkatan ternyata gagal meraihnya. Cupp cup cupp.. dia jadi galau.

Nah, masalahnya, tim saya lolos. Itu masalah buat saya. mendadak ingin pulang saja. Ingin mengurung diri di kamar mandi, sebab seleksi selanjutnya adalah cepat tepat, dan ada bagian saat kita presentasi sendiri-sendiri dari satu kasus yang diberikan. Matilah kau det, mau ngomong apa nanti.

Malam harinya sebelum esok tanding, kami pergi "refreshing" sekadar mencari makan di pinggir jalan  Jogja


suasana makan-makan :)
suasana naik becak malam hari
Add caption

setelah pulang, di kamar, satu kamar diisi oleh dua orang, saya satu kamar dengan Astika. Beliau yang sudah ahli dalam biologi membantu saya menurunkan panas demam saya akan kekhawatiran nasib harga diri saya besok. Saya seperti tong kosong, tidak tahu menahu masalah biologi. Akhirnya pembagian bab diberikan, saya kebagian peredaran darah dan eeem apa ya lupa. Dengan buku campbell di tangan, semalaman saya belajar peredaran darah dan embel-embelnya. Saya sempat berbicara pada tika “Tik, bisa ga kamu aja yang gantiin aku besok? Aku ga siap, ga tau apa-apa” Tika bilang, saya pasti bisa.


 Yipppiiii. Entah kenapa, saya ingin mempelajari jantung lebih dalam saat membaca campbell. Akhirnya saya mendengarkan kuliah dari Tika tentang jantung, sesekali membaca keras-keras isi buku sampai tidak nafsu makan malam. Kami sholat Isya berjamaah (saya, tika, juan, citra, yang memang sudah biasa kalau nginep bareng di AF, berjamaah) kemudian malam harinya tahajud bareng tika. Aaah, so sweeeet :’)
ruang kamar saya

Hari berikutnya benar-benar tiba. khawatir binti degdegan. Cepat tepat, babak awal dimulai. Dengan sangat menyesal, saya tidak bisa membantu banyak, sebab soal-soalnya terdengar seperti soal yang turun dari planet merkurius, panas membara, suhunya tak pantas ada di bumi ini. Enyahkan!
when you can't say any single word





Alhasil, dari empat kelompok, (ada tiga sesi, satu sesi empat kelompok, dipilih satu kelompok terbesar nilainya, sehingga total ada tiga kelompok yang maju ke babak final) kelompok kami mendapat nilai terendah di babak cepat tepat. Maaf yaaa : (((

Berikutnya, babak presentasi, satu kelompok diberi kasus, untuk didiskusikan bersama tim, membuat alur, untuk kemudian dipresentasikan di depan juri dan penonton. Aduh, beri aku muka kulit badak!!!!

Akhirnya, tiba saatnya tim kami menerima kasus. Ketika melihat laptop, SUBHANALLAH!!!!!!!!!!!! Kasusnya tentang JANTUNG!!!!! Saya sempet shock. Sebab malam hari itu selain jantung, saya tidak belajar apa-apa lagi.  setidaknya saya tahu lah sedikit meski tidak se expert dua teman saya lainnya.

Waktu presentasi mulai. Saya bagian pembukaan, memberi salam, memperkenalkan diri kami pada juri, kemudian menjelaskan anatomi jantung. Seingat dan sebisa saya saja, benar-benar mengalir, meski mungkin tidak berbobot (?) dilanjutkan dengan presentasi dua teman saya lainnya yang meneruskan presentasi saya, tentang mekanisme kerja, tentang segala macam tek tek bengek nya.

DAAAAN, APAAAAA????? Alhamdulillah, kelompok kami mendapat nilai tertinggi dalam presentasi. Allahuakbar!!!! Ini keajaiban, tapi sayang, nilai kami tertinggal jauh dengan tim dari Jogja (kalau ga salah) saat cepat tepat tadi. Akhirnya, perjuangan kami berhenti sampai situ.dan tim kami yang satunya lagi pun tidak lolos tiga besar. Apa boleh buat, kami sudah berusaha, namun Allah yang menentukan hasilnya 

Meski tidak bisa membawa piala bergilir pulang, kami sudah senang mendapat pengalaman berharga luar biasa ini. Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran. Bahwa tidak ada yang tidak mungkin dan pertolongan Allah itu selalu dekat :’)
Miss that moment so bad!
terakhir, ini foto empat akhwat Furqoners yang sama-sama bermimpi menjadi seorang dokter. juan-detin-tika-citra