Thursday, August 9, 2012

Aterek-Aisunam

pada masanya, anak-anak kecil bergegas memakai baju koko atau mukena barunya. berlarian menuju masjid tercinta yang terselimuti jingganya kanvas langit senja. bedug mulai ditabuh. speaker berulang kali di tes,"tes..tes..satu..dua..satu..dua."
dan tinggal beberapa hari lagi, saya akan melihat fenomena itu lagi, jika Allah berkehendak. Setelah perjuangan sepuluh hari terakhir, dimana setoran tilawah digeder-geder, itikaf menjadi hal yang dinanti-nanti. maka setelah itu, di rumah sudah pasti akan ada kulit ketupat yang siap untuk diisikan beras, artinya, lebaran semakin mendesak keluar.

tentang lebaran, tentang mudik. sebelumnya saya tidak bisa terima hipotesis ibu saya yang menyatakan bahwa saya tidak pandai dalam permudikan.Saya yang masih kecil (?) dari awal sejarah mudik, hingga beberapa tahun lalu -menolak keras kalau hal ini terjadi sampai sekarang- selalu tertidur sepanjang perjalanan. Saya mulai menguji coba dan bereksperimen dengan hipotesis ibu saya (?)

ternyata, dalam catatan perjalanan hidup seorang detin nitami, tidak banyak momen romantis saat dalam perjalanan. Kecuali jika dalam perjalanan dengan teman-teman, yang itupun dipaksakan untuk tidak tidur, dengan alasan : m-a-l-u. Selebihnya, saya rasa tidak ada yang cukup menarik perhatian dalam perjalanan panjang selain, tidur.

satu jam awal, saya yang dengan kondisi baru mandi, segar, masih menikmati pemandangan jalanan yang monoton. Saat posisi kepala semakin nyaman dengan kursi, otot-otot mata saya mulai relaksasi, pusat rasa kantuk di otak saya aktif sekatif-aktifnya, dan akhirnya, tertidur. 

saya mulai semakin meyakini hipotesis ibu saya, saat saya berpergian dengan mobil, dengan angkot -tertidur dalam angkot (?)- dengan bis, dengan kereta, bahkan dengan pesawat yang notabene tidak setiap waktu saya bisa naiki, saya tetap tidur.

mungkin di dunia ini banyak hal yang mudah dilakukan, seperti membalikkan telapak tangan atau merangsang saya untuk tertidur. saya tidak pernah butuh obat tidur, saya tidur kapanpun saya mau...dan dimanapun -,-
tapi semakin dewasanya saya, saya mengurangi intensitas tersebut -pembelaan diri-
kalau dulu naik kereta, beberapa hal yang bisa saya lakukan adalah tidur, atau melihat barang bawaan orang lain, atau mengumpulkan tiket kereta yang orang buang sembarangan lalu mengumpulkannya ke dalam tas. Tas menjadi tidak jelas fungsinya :( sekarang, saya jadi senang naik kereta, sambil membaca buku, memberi garis bawah atau stabilo pada kata-kata yang menjadi inspirasi, kemudian merenung seperti seorang penyair yang hendak menuangkan kata, merenung......merenung....merenung...........kemudian tidur. aaaaakk &*^%$#@!*()&^

haha, interupsi! kalimat terakhir tidak (kurang) benar :p saya akan merenung, merefleksikan hari-hari saya kebelakang yang memang kering prestasi. Lalu mengajak ngobrol diri sendiri, terkadang seperti orang gila yang manggut-manggut sendiri.

memang kurang jelas korelasi antara kereta dan penyakit tidur. karena di kereta indonesia jarang ditemukan lalat tsetse. Dan sebagian kecil waktu saya memang habis di kereta. Ah, Saya memang manusia kereta.

sleep in the train :D

jadi, hipotesis ibu saya hanya berlaku sementara. saat ada eksperimen lebih lanjut yang menggugurkan si hipotesis. ternyata saya bisa tidak tertidur, kalau menemukan hal yang menyenangkan,
mungkin salah satunya, berbincang selama perjalanan, bersama.... kamu (?)

0 comments:

Post a Comment

comment this post