Monday, March 21, 2016

little escape

Beberapa hari sebelum menikah,  calon-saya-waktu-itu mendapat tawaran mengisi acara kemahasiswaan di Maluku pada 11 Mei 2015. Itu berarti tepat dua hari setelah hari pernikahan kami. Berhubung kami belum merencanakan apapun tentang sesuatu yang orang-orang bilang bulan madu, calon-saya-waktu-itu mengajak saya untuk sekalian jalan-jalan di Maluku. Saya yang waktu itu tidak punya pilihan apa-apa, akhirnya mengiyakan, karena sebenarnya jiwa raga saya sedang ditarik-tarik oleh deadline penyelesaian skripsi sarjana. Maklum, saya mah orangnya agak-agak ambisius mengakhiri apa yang bisa dicicil-cicil dari masa studi ini hahahaha.

Maka, dengan segala kebutaan tentang Maluku dan segala isinya, kamipun berangkat tengah malam dari bandara Soetta menuju bandara Pattimura dengan diwarnai adegan muntah-muntah sepanjang perjalanan, karena badan saya diforsir habis-habisan. Mulai dari H-2 nikah, saya masih belibet dengan penelitian, bolak-balik rumah-jatinangor, ditambah perawatan pra nikah yang membuat saya masuk angin karena harus berendem di air susu berjam-jam sampe ileran, malem sebelum nikah saya mencret-mencret sampai harus ikut ke wc tetangga karena wc di rumah penuh sama keluarga, hari H nya saya harus berdiri dengan tegar diatas sepatu ber-hak 12cm tipis yang tidak pernah saya gunakan sebelumnya selama hidup saya, alhamdulillah semuanya lancar.

Sesampainya di Bandara Pattimura, ada perwakilan panitia acara yang sudah menunggu kami. Acara diadakan di Masohi, Maluku Tengah, Kepulauan Seram. Perjalanan dari bandara menuju kesana? Beuh. Panjang.

Diawali dengan perjalanan dari bandara menuju pelabuhan Tulehu, Ambon, menggunakan mobil yang disediakan panitia sekitar 30 menit. Sepanjang perjalanan terlihat rumah-rumah penduduk yang masih berkubu-kubu sesuai agama. Mayoritas penduduk kota Ambon adalah penganut kristiani, sepanjang jalan kita akan melihat kayu berbentuk salib setinggi 2 meter dipancangkan di depan setiap rumah mereka.  Beberapa meter kemudian kita akan melihat kumpulan rumah tanpa salib, itu pertanda pemukiman warga muslim. Beberapa ratus meter kemudian perumahan kristiani, lalu perumahan muslim lagi. Jadi semuanya sudah ada wilayahnya masing-masing. Ambon sering dilanda konflik agama, sampai terjadi kerusuhan. Pemerintah Ambon berupaya untuk terus meningkatkan kehidupan toleransi beragama. Kepala daerah Ambon dan wakilnya selalu berbeda agama mungkin sebagai representasi  agama penduduknya. Kalau kepala daerahnya muslim, wakilnya kristiani, kalau kepala daerahnya kristiani, wakilnya muslim. Haha unik ye.

 Lanjut naik kapal cepat dari pelabuhan Tulehu, Ambon, menuju pelabuhan Amahai  yang jam keberangkatannya hanya 2 kali dalam sehari, yaitu pukul 9 pagi dan 3 sore dengan lama perjalanan 3 jam, kalau ketinggalan, akses lain menuju Masohi adalah menggunakan Ferry dengan perjalanan yang lebih lama yaitu  5 jam!
di belakang : kapal cepat dari Tulehu - Amahai











Sampai di pelabuhan Amahai, ke pusat kabupaten Masohi harus menggunakan kendaraan sekitar 1 jam. Kita bisa sewa mobil yang ada di daerah pelabuhan. Tapi berhubung kami dijemput oleh panitia, jadilah kita naik mobil panitia. Dan sampailah kami di Kabupaten Masohi, Maluku Tengah. Kota yang....tenang... (atau sepi ya?). “saking sepinya Masohi, kabar pemilihan presiden kemarin saja kami tidak tahu” kata supir yang mengantar.

Ada yang sangat berbeda dari seminar-seminar yang biasa saya ikuti di Bandung *maklum, anaknya dulu pemburu sertifikat gitu deh hahaha* dibanding dengan di Maluku. Setelah suami selesai mengisi acara tentang dakwah kampus untuk Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK) wilayah Maluku, sesi pertanyaan dibuka. Kalau biasanya di Bandung hanya tiga sampai empat tangan yang terangkat untuk bertanya, disana.... hampir semua tangan terangkat. Sambil ribut teriak “saya dulu..saya dulu. Heyyy moderator! Lihat saya dulu...” sang moderator dengan tenangnya berkata, “tenang saudaraku..kita ulangi, semua tangan di bawah. Hai kamu! Turunkan dulu tanganmu. Hitungan ketiga baru kalian angkat tangan.” Hampir semua tangan kembali terangkat, baik pria maupun wanita. Beberapa pria sampai maju ke depan podium, mengerumuni moderator yang sampai harus turun panggung hanya untuk memilih siapa yang mendapat kesempatan bertanya. Bayangkan. Akhirnya sang moderator mengeluarkan kalimat saktinya, “Saudaraku.. adab lebih utama daripada ilmu! Ta’limul adab qobla anta ta’limul ilmi! Jaga adab! Jaga adab!Tenang semuanya..tenang!” lima belas menit terbuang hanya untuk berunding bagaimana teknis yang tepat untuk sesi pertanyaan. Di depan sana, suami saya malah asyik menyantap kue-kuenya.
Setelah selesai acara, kami bingung hendak kemana. Hari itu, kami baru menikah 2 hari yang lalu. Tanpa perencanaan untuk “jalan-jalan-pasca-nikah”. Salah seorang panitia wanita menghampiri karena mungkin kasian liat muka saya : pengantin-baru-butuh-liburan. Dia menyarankan untuk berkunjung ke Pantai Ora, di pulau Seram, dekat dengan Masohi . karena tidak punya opsi lain, dan berhubung sedang ada di Masohi, maka dengan semena-mena saya mengiyakan tawarannya. Karena kami bukan backpacker, jadi kami harus menyewa satu mobil dengan harga 1,5 juta untuk sehari. Pingin nangis berbie.

Kami berangkat ditemani 2 orang pemandu, Matu dan Bonang. Sebelum berangkat, ternyata ada 3 orang backpacker lain yang ingin ambil keuntungan dan keberuntungan dengan menumpang mobil sewaan kami.  Jangan berharap terlalu tinggi pada petualang seperti mereka, didesak bagaimanapun juga mereka akan teguh bersikukuh pantang mundur untuk mengeluarkan biaya transportasi seminim-minimnya dengan berbagai macam alasan, seperti alasan mereka hanya ikut perginya saja, pulangnya tidak ikut. Jadi mereka hanya menyumbang 100ribu perorang. Jadilah kami yang bayar 1,2juta sisanya. “ikan-ikan dan semua di Masohi  ini murah Caca (panggilan kakak untuk wanita di Ambon) yang mahal cuma satu, TRANSPORTASI.” Kata Matu.  Lumayanlah, perjalanan 3 jam menuju dari Masohi menuju Pantai Ora lebih ramai dan seru.
saya-suami-Matu-dan-kawanan-orang-orang-itu
Setelah sampai di perbatasan, kami harus menyebrang menggunakan perahu kecil untuk sampai di Pantai Ora. Harganya lupa berapa, kalau gak salah 300ribu untuk menyebrang--yang kalau saya pejamkan sebelah mata, jaraknya cuma segede upil. Deket banget, tapi gak mungkin dong berenang nyebrang pulau. Saat pulang, orang yang sama akan menjemput kami kembali menyebrang, jadi uangnya dibayarkan setelah kembali dari Pantai Ora.
menyebrang pulau 


Disana kami menginap satu malam. Pantainya masyaAllah cantik. Kami bisa melihat trumbu karang dan ikan-ikan hanya dengan berjalan kaki 2 meter dari pantai. Kamar-kamar yang langsung di atas laut sudah penuh terisi, jadi kami terpaksa ambil kamar di pinggir pantai.
tempat kami menginap
pantainya sepi, kecil,benar-benar terisolasi dari bisingnya dunia. tempat yang tepat untuk menenangkan pikiran yang kusut. Disana kami bertemu pasangan lain, sama-sama sedang bulan madu, sisanya ada satu keluarga dan orang bule. Pantai ini dikelilingi gunung. Desainnya mirip-mirip Maldives, padahal saya belum pernah ke Maldives, tapi kata mbah google sih gitu. Karena dikelilingi gunung, jadilah pantai rasa gunung. jadi hawa nya udara gunung tapi pemandangannya pantai. Terimakasih Allah, Allah ngerti banget kulit saya gak bersahabat sama udara pantai.
sunset
maklum, baru nikah







begitulah cerita jalan-jalan-pasca-nikah kami. Semoga jalan-jalan selanjutnya lebih greget. Semoga cepet lulus koas, biar waktu buat jalan-jalannya banyak. aamiin.

0 comments:

Post a Comment

comment this post